PENINGKATANN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MELALUI PENGGUNAAN MEDIA BOX KARDUS

BAGI SISWA KELAS IV SDN 1 NGILEN TAHUN 2016/2017

 

Bambang Santoso

SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan dan hasil belajar lompat jauh gaya jongkok melalui penggunaan media box kardus pada siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017. Penelitian dilaksanakan di SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017 dengan jumlah siswa 14 anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan pelaksanaan tindakan sebanyak 2 siklus. Setiap siklus tindakan terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes dan nontes. Pengumpulan data dengan teknik tes diambil dari hasil tes unjuk kerja. Adapun teknik nontes datanya diambil dari pengamatan proses pembelajaran. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik deskriptif komparatif. Data hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan peningkatan keaktifan belajar siswa. Pada kondisi awal keaktifan belajar siswa “kurang aktif” meningkat menjadi “aktif” pada kondisi akhir. Peningkatan juga terjadi pada hasil belajar siswa. Pada kondisi awal ketuntasan belajar siswa adalah 35,71% meningkat menjadi 85,71% pada kondisi akhir.

Kata Kunci : keaktifan belajar, hasil belajar, lompat jauh gaya jongkok, media box kardus

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan. Pendidikan jasmani merupakan alat untuk mencapai pendidikan jasmani dan olah raga di sekolah sebelum mendapatkan format yang tepat, karena selalu menyesuaikan perubahan kurikulum. Pada kurikulum KBK (Kurikulum Bebasis Kompetensi) diharapkan dapat menggali potensi yang ada untuk dikembangkan, belum bisa dilihat hasilnya dari kurikulum KBK. Ada bentuk kurikulum baru yang disebut KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang sekarang sedang dilaksanakan.

Keadaan siswa SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran pada dasarnya senang terhadap pembelajaran pendidikan jasmani dan olah raga, terutama pada cabang permainan. Pada cabang atletik, anak kurang menyenangi dengan alasan tidak menyenangkan. Karena pembelajaran atletik di SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran kurang mendapat tanggapan yang positif dari para siswa, maka prestasi pada cabang atletik khusus pada nomor lompat jauh belum bisa optimal. Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor penyebab yaitu: (1) Terbatasnya kemampuan guru pendidikan jasmani, (2) Terbatasnya alat bantu dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani.

Pembelajaran di SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran siswa kelas IV tersebut mengalami kesulitan dalam melakukan tehnik lompat jauh gaya jongkok. Sebagian besar siswa baru menguasai cara melompat. Mereka belum mampu melakukan gerakan secara keseluruhan terbukti dari hasil evaluasi, dari siswa kelas IV yang berjumlah 14 anak yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan, baru 5 siswa (35,71%) yang dapat mencapai nilai KKM 75 dan sisanya masih 9 siswa (64,29%) yang masih belum mencapai nilai KKM yang ditentukan.

Dengan keadaan seperti ini tentu dibutuhkan penggunaan alat bantu pembelajaran sebagai suatu pendekatan alternatif dalam mengajaran pendidikan jasmani. Guru harus mempunyai kemampuan untuk memodifikasi keterampilan yang hendak diajarkan dengan harapan sesuai dengan tingkat kemampuan dan perkembangan siswa. Dalam hal ini guru harus kreatif, inovatif dalam menciptakan proses pembelajaran bagi siswa. Sehingga akan tercipta pembelajaran yang aktif bagi siswa dan menyenangkan tanpa meninggalkan tujuan pembelajaran itu sendiri.

Salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang dapat digunakan dalam hal ini adalah pendekatan pembelajaran dengan menggunakan alat bantu berupa bok kardus, yaitu suatu pendekatan pembelajaran untuk membantu siswa untuk mempelajari keterampilan dasar dalam mempelajari teknik dasar lompat jauh.

Model pembelajaran dengan pendekatan alat bantu dirancang dengan teliti agar bisa mengembangkan belajar siswa dan dilakukan dengan baik dan dapat dipelajari langkah demi langkah. Alat bantu berupa bok kardus dalam pelaksanaan pembelajaran diharapkan membuat siswa lebih mudah menerima materi ajar, dan dapat mengubah suasana menjadi lebih rileks dan menyenangkan bahkan siswa saling berlomba memakai dan melewati alat bantu tersebut. Hal ini akan membantu meningkatkan keaktifan belajar siswa terhadap materi lompat jauh gaya jongkok. Dengan meningkatnya eaktifan belajar siswa, diyakini akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Akhirnya peneliti menetapkan judul penelitian tindakan ini yaitu “Peningkatann Keaktifan Dan Hasil Belajar Lompat Jauh Gaya Jongkok Melalui Penggunaan Media Box Kardus Bagi Siswa Kelas IV SDN 1 Ngilen Tahun 2016/2017”.

Rumusan Masalah

Dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan masalah adalah:

1.     Apakah penggunaan media box kardus dapat meningkatkan keaktifan belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017?

2.     Apakah penggunaan media box kardus dapat meningkatkan hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian adalah:

1.     Meningkatkan keaktifan belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017 melalui penggunaan media box kardus.

2.     Meningkatkan hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017 melalui penggunaan media box kardus.

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1.       Manfaat Bagi Guru

a.     Meningkatkan kreatifitas guru dalam membuat dan mengembangkan media pembelajaran.

b.     Bahan masukan bagi guru dalam memilih alternatif pembelajaran.

c.     Meningkatkan kualitas guru secara profesional dalam pengembangan media pembelajaran.

2.       Manfaat Bagi Siswa

a.     Motivasi siswa untuk aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran Penjaskes, sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan.

b.     Meningkatkan minat dan kemampuan lompat jauh gaya jongkok serta mendukung prestasi.

3.       Manfaat Bagi Sekolah

a.     Sebagai pedoman dan pengetahuan pada pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan.

b.     Sebagai data inventaris siswa yang berprestasi dalam cabang atletik.

KAJIAN TEORI

Pengertian Lompat Jauh

Lompat jauh adalah salah satu nomor lompat dari cabang atletik. Dalam olahraga atletik dikenal beberapa jenis nomor lompat, yaitu lompat jauh, lompat jangkit (lompat tiga), lompat tinggi, dan lompat gala. Pada lompat jauh unsur-unsur yang dilakukan adalah awalan, tumpuan atau tolakan, melayang (gaya), dan mendarat. Dari keempat unsur di atas, semua erat hubungannya dengan aktivitas tungkai. Kekuatan tungkai sangat menentukan hasil lompatan dari lompat jauh. Semakin kuat tungkai seseorang, semakin kuat pula langkah dan lompatannya, dengan asumsi kekuatan otot dan koordinasi gerakan yang baik.

Menurut Bollesteros (1979) dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Ade Mardiana, Purwadi, Wira Indra Satya, 2010: 2.58-2.59) mengemukakan bahwa “Lompat jauh adalah hasil dari kecepatan horizontal yang dibuat sewaktu awalan dengan gaya vertical yang dihasilkan dari kekuatan kaki tolak. Hasil dari kedua gaya menentukan parabola titik gravitasi.”

Ada beberapa teknik dalam melakukan lompat jauh yaitu awalan, tumpuan, melayang, dan mendarat.

Lompat Jauh Gaya Jongkok

Cara melakukan lompat jauh gaya jongkok ini adalah setelah mengambil ancang-ancang dengan jarak kurang lebih 30-40 meter, kemudian lari secepat mungkin, menjelang tiga per empat langkah sebelum balok tumpuan harus konsentrasi untuk dapat melakukan tumpuan pada balok tumpuan.

Tumpuan menggunakan kaki yang dominan dan titik berat badan terletak di depan dan badan condong ke depan. Kemudian kaki tumpu menumpu secara tepat pada balok tumpu dan tubuh akan melayang di udara, pada saat itu kaki sedikit ditekuk sehingga posisi badan berada dalam posisi sikap jongkok, kemudian julurkan kaki ke depan diikuti ayunan tangan ke atas depan dan dijulurkan ke depan untuk keseimbangan waktu mendarat dengan tumit terlebih dahulu yang mengenai tanah dan kedua kaki rapat, lutut ditekuk.

Media Pembelajaran/Alat Peraga

Dalam Djamarah dan Aswin (1995: 121) media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.

 Menurut Heinich, dkk dalam Sri Anitah, dkk (2008: 6.3) media merupakan alat bantu saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara”, yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receIer). Heinich mencontohkan media ini seperti film, televisi, diagram, bahan tercetak (printer materials).

Lebih lanjut Schramm (Sri Anitah W, dkk) mengemukakan bahwa media merupakan teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sedangkan menurut Briggs dalam Sri Anitah W, dkk (2008: 6.4) bahwa media adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, slide dan sebagainya.

Mendukung pernyataan tersebut di atas Rossi dan Breidle dalam Wina Sanjaya (2006: 163) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televise, Koran, buku, majalah, dan sebagainya.

Pendapat tersebut di atas dipertegas oleh Gerlach dan Ely dalam Wina Sanjaya secara umum media meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Keaktifan Belajar

Keaktifan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keaktifan belajar siswa dikelas. Menurut Depdikbud (1996: 24 –25), aktif adalah giat (bekerja, berusaha), sedangkan keaktifan adalah suatu keadaan atau hal dimana siswa aktif. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik dan relatif tetap, serta ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.

Keaktifan belajar siswa dapat dilihat dari keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar yang beraneka ragam. Paul B. Diedrich dalam Oemar Hamalik (2005: 172) membagi kegiatan belajar siswa dalam 8 kelompok, yaitu: Visual Activeties (kegiatan-kegiatan visual), Oral Activities (kegiatan-kegiatan lisan), Listening Activities (kegiatan-kegiatan mendengarkan), Writing Activities (kegiatan-kegiatan menulis), Drawing Activities (kegiatan-kegiatan menggambar, Motor Activities (kegiatan-kegiatan motorik), Mental Activities (kegiatan-kegiatan mental), dan Emotional Activities (kegiatan-kegiatan emosional).

Menurut Mayer (dalam Jamal Ma’mur Asmani, 2011: 67), siswa yang aktif tidak hanya sekedar hadir dikelas, menghafalkan, dan akhirnya mengerjakan soal diakhir pelajaran. Siswa dalam pembelajaran harus terlibat aktif, baik secara fisik maupun mental sehingga terjadi interaksi yang optimal antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa lainnya.

Hasil Belajar

Menurut Mulyono Abdurrahman (2003:37) “Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”. Dalam kegiatan pembelajaran tujuan yang ingin dicapai ditentukan sebelumnya. Anak yang dikatakan berhasil adalah mereka yang dapat mencapai tujuan-tujuan pelajaran yang telah ditentukan sebelumnya.

Dimyati dan Mujiono (2006:3) memaparkan bahwa “Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar”. Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pengajaran dan kemampuan mental siswa. Setelah selesai mempelajari materi, diadakan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya, sebelum dilanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Sudjana (2002:37) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa atau mahasiswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Kerangka Berpikir

Hasil evaluasi belajar siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran menunjukkan bahwa keaktifan dan hasil belajar siswa tentang lompat jauh gaya jongkok masih rendah, untuk itu harus diadakan perbaikan pembelajaran.

Permasalahan yang umum terjadi dalam pembelajaran penjaskes adalah kurangnya sarana dan peran aktif siswa dalam kegiatan belajar. Selain itu proses pembelajaran kurang mengoptimalkan penggunaan modifikasi alat bantu pembelajaran yang dapat memancing peran aktif siswa.

Pengaruh alat bantu pembelajaran terhadap anak-anak sangat penting karena dengan menggunakan alat bantu dapat memberikan berbagai macam pengalaman bagi seorang anak. Dengan menggunakan alat bantu dalam pembelajaran secara terus menerus secara maksimal maka anak akan dapat mengolah dan menerima secara optimal, sehingga terjadi perubahan sikap. Dengan menggunakan modifikasi alat bantu bok kardus dalam suatu proses pembelajaran lompat jauh gaya jongkok akan dapat membantu dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan karena alat bantu bok kardus mampu merancang siswa aktif melakukan gerakan dan tingkat keseriusan siswa akan lebih tinggi, karena siswa merasa senang, lebih berfariasi, dan tidak menimbulkan rasa jenuh.

Pemanfaatan alat bantu sederhana bok kardus sebagai sarana membantu guru dalam menjelaskan tehnik dasar lompat jauh gaya jongkok pada siswa. Diharapkan melalui alat bantu sederhana tersebut, guru dapat memperlihatkan dan memberikan penjelasan yang detail tentang tehnik dasar lompat jauh gaya jongkok.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah disusun, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:

1.     Penggunaan media box kardus dapat meningkatkan keaktifan belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017.

2.     Penggunaan media box kardus dapat meningkatkan hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 tepatnya dimulai bulan Agustus sampai dengan November 2016. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora tahun pelajaran 2016/2017. Jumlah subyek dalam penelitian ini yaitu 14 orang siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan.

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini ada beberapa dua teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu teknik tes dan non tes. Terdapat tiga data kualitatif dalam penelitian ini, yaitu: 1) Data tentang keaktifan belajar siswa pada pra siklus; 2) Data tentang keaktifan belajar siswa pada siklus I; dan 3) Data tentang keaktifan belajar siswa pada siklus II. Seperti halnya data kualitatif, data kuantitatif dalam penelitian ini juga ada tiga, yaitu: 1) Data tentang hasil belajar siswa pada pra siklus; 2) Data tentang hasil belajar siswa pada siklus I; dan 3) Data tentang hasil belajar siswa pada siklus II. Validitas data penelitian tindakan kelas ini diuji dengan menggunakan triangulasi data.

Data yang dianalisis meliputi data kuantitatif dan data kualitatif. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif yang bertujuan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran. Tahapan dalam tindakan menganalisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Langkah-langkah dalam siklus penelitian tindakan kelas ini terdiri dari empat tahapan, yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, dan 4) refleksi.

 

 

 

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

Pra Siklus

            Pada pembelajaran pra siklus, skor keaktifan belajar siswa 25%. Skor ini masuk kategori “kurang aktif”. Hasil belajar siswa menunjukkan perolehan nilai tes unjuk kerja pra siklus yaitu: nilai 55 sebanyak 1 anak, nilai 60 sebanyak 2 anak, nilai 65 sebanyak 3 anak, nilai 70 sebanyak 3 anak, nilai 75 sebanyak 3 anak, nilai 80 sebanyak 1 anak, dan nilai 85 sebanyak 1 anak. Rata-rata nilai tes unjuk kerja pra siklus adalah 69,29. Dari 14 siswa kelas IV yang tuntas belajar dengan KKM 75 adalah 5 anak (35,71%) dan yang tidak tuntas belajar adalah 9 anak (64,29%).

Siklus I

Pembelajaran pada siklus I dilaksanakan pada bulan September 2016. Peneliti menggunakan media alat bantu box kardus dalam pembelajaran lompat jauh gaya jongkok. Pada pembelajaran siklus I skor keaktifan belajar siswa adalah 55%. Skor ini masuk kategori “cukup aktif”. Hasil belajar siswa menunjukkan perolehan nilai tes unjuk kerja siklus I yaitu: nilai 60 sebanyak 1 anak, nilai 65 sebanyak 1 anak, nilai 70 sebanyak 2 anak, nilai 75 sebanyak 5 anak, nilai 80 sebanyak 3 anak, nilai 85 sebanyak 1 anak, dan nilai 90 sebanyak 1 anak. Rata-rata nilai tes unjuk kerja siklus I adalah 75,36. Dari 14 siswa kelas IV yang tuntas belajar dengan KKM 75 adalah 10 anak (71,43%) dan yang tidak tuntas belajar adalah 4 anak (28,57%).

Siklus II

Pembelajaran pada siklus II merupakan tindakan lanjutan dari siklus I yang dirancang untuk memperbaiki hasil belajar dari kondisi pembelajaran siklus I. Pembelajaran siklus II dilaksanakan pada bulan Oktober 2016. Pada siklus II skor keaktifan belajar siswa adalah 80%. Skor ini masuk dalam kategori “aktif”. Hasil belajar siswa menunjukkan perolehan nilai tes unjuk kerja siklus II yaitu: nilai 65 sebanyak 1 anak, nilai 70 sebanyak 1 anak, nilai 75 sebanyak 5 anak, nilai 80 sebanyak 3 anak, nilai 85 sebanyak 2 anak, nilai 90 sebanyak 1 anak, dan nilai 95 sebanyak 1 anak. Rata-rata nilai tes unjuk kerja siklus II adalah 78,93. Dari 14 siswa kelas IV yang tuntas belajar dengan KKM 75 adalah 12 anak (85,71%) dan yang tidak tuntas belajar adalah 2 anak (14,29%).

PEMBAHASAN

1.     Keaktifan Belajar

Terjadi peningkatan keaktifan belajar pada setiap siklus pembelajaran. Pada pembelajaran pra siklus, skor keaktifan belajar siswa adalah 25% (kurang aktif). Setelah peneliti menggunakan media box kardus pada pembelajaran siklus I, skor keaktifan belajar siswa meningkat menjadi 55% (cukup aktif). Pada pembelajaran siklus II skor keaktifan belajar siswa kembali meningkat menjadi 80% (aktif).

2.     Hasil Belajar

Terjadi peningkatan hasil belajar pada setiap siklus pembelajaran. Pada pembelajaran pra siklus, ketuntasan belajar siswa adalah 35,71%. Setelah peneliti menggunakan media box kardus pada pembelajaran siklus I, ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 71,43%. Pada pembelajaran siklus II ketuntasan belajar siswa kembali meningkat menjadi 85,71%.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan dari penelitian yang dilakukan sebagai berikut:

1.     Penggunaan media box kardus dapat meningkatkan keaktifan belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017.

2.     Penggunaan media box kardus dapat meningkatkan hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas IV SDN 1 Ngilen Kecamatan Kunduran Tahun Pelajaran 2016/2017.

Saran

Saran yang disampaikan bekenaan dengan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan adalah:

1.     Bagi Sekolah

Sekolah hendaknya melengkapi seluruh alat bantu pembelajaran agar guru dapat menerapkan pembelajaran yang efektif, efisien, dan menyenangkan, sehingga siswa dapat belajar dengan fokus, aktif, dan antusias yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal.

2.     Bagi Guru

Guru hendaknya dalam menyampaikan materi pembelajaran menggunakan alat bantu yang telah tersedia atau menyediakan alat bantu sendiri yang sesuai dengan materi pembelajaran, sehingga materi dapat disampaikan dengan mudah dan menyenangkan bagi siswa.

3.     Bagi Siswa

Siswa hendaknya dapat mengikuti pembelajaran secara fokus, aktif, dan lebih serius, sehingga materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru mudah diterima dan dikuasai, sehingga hasil belajar lebih meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Anitah, Sri dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Diva Press.

Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta

Djamarah, Syaiful Bahri & Zain, Aswin. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bhineka Cipta

Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara