Logika Imago Dei Antara Kejatuhan, Penebusan, dan Pemulihan Manusia
Cover Dalam – Logika Imago Dei Antara Kejatuhan, Penebusan, dan Pemulihan Manusia
Isi – Logika Imago Dei Antara Kejatuhan, Penebusan, dan Pemulihan Manusia
Judul Buku:
Logika Imago Dei Antara Kejatuhan, Penebusan, dan Pemulihan Manusia
Nama Penulis:
Henry Ekacahya Putra
ISBN:
(sedang dalam proses)
Sinopsis:
Di tengah kemajuan peradaban modern, manusia justru semakin kehilangan arah tentang dirinya sendiri. Ia mampu menciptakan teknologi, membangun peradaban, dan menaklukkan alam, tetapi tetap bergumul dengan kekosongan, keterasingan, dan krisis identitas yang mendalam. Pertanyaan terbesar pun muncul kembali: siapakah manusia sebenarnya?
Logika Imago Dei Antara Kejatuhan, Penebusan, dan Pemulihan Manusia lahir dari pergumulan tersebut. Buku ini mengajak pembaca menelusuri makna manusia sebagai gambar dan rupa Allah—sebuah konsep yang bukan sekadar doktrin teologis, melainkan fondasi eksistensial bagi identitas, tujuan, dan relasi manusia dengan Sang Pencipta. Melalui perjalanan dari penciptaan, kejatuhan, hingga penebusan, buku ini menunjukkan paradoks manusia: ciptaan yang mulia namun jatuh, gambar Allah yang hidup dalam distorsi, makhluk yang merindukan kebenaran tetapi sering tersesat dalam kebohongannya sendiri.
Dengan pendekatan yang berakar pada Injil Perjanjian Baru, diperkaya dialog dengan pemikiran teologis klasik dan kontemporer, serta refleksi akademik yang relevan, buku ini menghadirkan pembahasan yang teologis sekaligus dekat dengan realitas kehidupan. Imago Dei dipahami bukan sekadar konsep abstrak, tetapi realitas yang menyentuh pergumulan manusia modern—tentang makna hidup, relasi, moralitas, kebebasan, dan krisis identitas di era globalisasi dan teknologi.
Pusat seluruh pembahasan buku ini adalah Kristus. Sebagai gambar Allah yang sempurna, Kristus menjadi kunci untuk memahami siapa manusia sebenarnya sekaligus jalan pemulihan bagi gambar Allah yang rusak akibat dosa. Di dalam Dia, manusia tidak hanya menemukan jawaban tentang identitasnya, tetapi juga harapan untuk dipulihkan.
Namun perjalanan ini bukan perjalanan yang nyaman. Injil menyingkap bahwa manusia tidak menemukan dirinya melalui kekuasaan, pencapaian, atau pengakuan dunia, melainkan melalui penyerahan diri dan relasi dengan Allah. Untuk menjadi manusia yang utuh, manusia harus terlebih dahulu menyadari kerusakannya; untuk dipulihkan, ia harus mengakui bahwa ia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
Ditulis secara reflektif, teologis, dan eksistensial, buku ini mengundang pembaca bukan hanya untuk memahami doktrin tentang manusia, tetapi juga untuk melihat dirinya sendiri dalam terang Allah. Pada akhirnya, Imago Dei menjadi undangan untuk menemukan kembali identitas sejati manusia—bukan dalam dunia yang terus berubah, tetapi di dalam Kristus, tempat logika ilahi tidak hanya menjelaskan hidup, melainkan juga mengubahnya.
