KEPEMIMPINANNYA MUSA DALAM KITAB KELUARAN

 

Rode Sri Rahayu

STT Sangkakala Salatiga

 

ABSTRAK

Dalam buku Charisma and Authority in Israelite Society Rodney R. Hutton menyelidiki tentang kepemimpinan dalam sejarah Israel.[1] Di bagian pendahuluan bukunya Hutton membahas 3 tipe kepemimpinan berdasarkan teori Max Weber yaitu kepemimpinan traditional yang hidup dalam “community” (kelompok masyarakat kecil dan erat hubungannya), kepemimpinan legal atau rational yang hidup dalam “society” (kelompok masyarakat yang mempunyai tatanan yang rumit dan dapat berlangsung oleh karena adanya kesepakatan dalam tata hidup bersama), kepemimpinan karismatis yang tak terikat oleh struktur masyarakat dalam bentuk “community” atau “society”.[2] Kepemimpinan karismatis diberikan kepada pribadi yang ingin mengupayakan struktur baru baik didukung ataupun tidak didukung oleh kekuasaan yang diakui oleh masyarakat.[3] Namun Hutton berpendapat bahwa karisma tak dapat dilepaskan begitu saja dengan institusi.[4] Karisma mempunyai hubungan yang kompleks dengan institusi.[5]

Kata Kunci: kepemimpinan umum, kepemimpinan Musa, kitab Keluaran

 

Pendahuluan

 Dalam kaitan dengan kepemimpinan Musa, Hutton mengangkat permasalahan: apakah kekuasaan Musa itu karismatis atau institusi.[6] Hutton mengungkapkan bahwa para ahli mula-mula umumnya menekankan aspek karismatik pada Musa dan menganggapnya sebagai pendiri agama yang karismatis, cikal bakal nabi yang karismatis, dll.[7] Tetapi akhir-akhir ini para ahli mulai mengangkat aspek institusional dari peran Musa.[8] Selanjutnya Hutton menuliskan:

“One can only use the language of paradox to describe Moses’ symbolic function: he is “nonrepeatable archetype” who is “paradigmatically unique.” His persona symbolizes the convergence of the forces of “charisma” and “institution.”[9]

 Jadi topik Musa dan perannya sebagai pemimpin merupakan suatu topik yang menarik untuk diselidiki dan diselusuri.

George W. Coats mengungkapkan bahwa pemimpin Kristen masa kini dapat mempelajari pola kepemimpinan Musa bagi pelayanannya.[10]

 Dalam menyelidiki Musa berdasarkan ilmu kepemimpinan, penulis mendasarkan ilmu kepemimpinan yang ditulis oleh Kartini Kartono.[11] Memang penulis dengan sengaja memilih ilmu kepemimpinan umum dalam meneliti topik ini, sehingga dalam pembahasan tentang peran Musa sebagai pemimpin dapat dimunculkan aspek-aspek kepemimpinan yang khas dari Alkitab, khususnya kitab Keluaran.

Kemampuan atau Kecakapan Khusus Merupakan Hal Utama Bagi Kepemimpinan Umum

Dalam mendefinisikan seorang pemimpin Kartini Kartono menuliskan:

“Seorang PEMIMPIN adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu.”[12]

Selanjutnya Kartini Kartono mengungkapkan 3 teori tentang kemunculan seorang pemimpin, yaitu:[13]

1.     Teori genetis yang berpendapat bahwa seorang pemimpin itu tidak dibuat, tetapi dilahirkan dengan bakat-bakat tertentu untuk menjadi seorang pemimpin.

2.     Teori sosial yang berpendapat bahwa seorang pemimpin harus disiapkan, dididik dan dibentuk.

3.     Teori ekologis yang berpendapat bahwa seorang pemimpin sukses adalah seorang lahir dengan bakat-bakat kepemimpinan, lalu mendapat persiapan dan pembinaan untuk menjadi pemimpin yang sesuai dengan tuntutan lingkungan atau ekologisnya.

Penjelasan Kartini Kartono tentang seorang pemimpin menekankan mutlaknya kepemilikan akan kecakapan atau kemampuan tertentu seseorang pemimpin. Kecakapan atau kemampuan kepemimpinan ini dapat saja dimiliki seseorang melalui bawaan genetis, pendidikan ataupun keduanya.

Panggilan Ilahi Merupakan Hal Utama Kepemimpinan Alkitabiah

Jika seseorang menyelusuri kepemimpinan Musa dalam kitab Keluaran, ia akan menemukan ada hal lain yang penting bagi seorang pemimpin, yaitu panggilan Ilahi. Kepemimpinan Alkitabiah menekankan mutlaknya panggilan Ilahi bagi seorang pemimpin. Panggilan Ilahi inilah yang melahirkan atau menyebabkan munculnya seorang pemimpin. Kepemimpinan Alkitabiah tak dapat dilepaskan dari rencana Allah bagi seseorang ataupun umat Allah.

Keluaran 3 mengungkapkan panggilan Allah bagi Musa untuk menjadi seorang pemimpin, khususnya ayat 11 yang mengungkapkan: “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” Allah memanggil Musa untuk memimpin orang Israel keluar dari perbudakan Mesir. Panggilan dan penjabaran tugas kepemimpinan yang jelas bagi Musa.

 Dalam rencana-Nya Allah mempersiapkan dan memanggil Musa untuk menjadi seorang pemimpin. Sebelum memanggil Musa sebagai seorang pemimpin, Allah telah mempersiapkan Musa jauh sebelumnya. Dalam rencana-Nya

Allah menyelamatkan Musa dari perintah Firaun untuk membunuh seluruh bayi laki-laki orang Ibrani, bahkan Musa diangkat sebagai anak oleh puteri Firaun (Kel. 2).

W.H. Grispen mengungkapkan bahwa Musa kecil ini mendapat pendidikan terbaik Mesir dalam pelbagai ilmu sebagai hak yang diterimanya sebagai anak puteri Firaun.[14] Allah dalam rencana-Nya mempersiapkan Musa dengan hal-hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin. James Nohnberg mengungkapkan bahwa Musa adalah “a Hebrew Egyptian and an Egyptian Hebrew”[15] Dualitas ini merupakan bagian persiapan Allah untuk Musa sebagai pemimpin yang membebaskan bangsa Israel dari kekuasaan bangsa Mesir. Bahkan pelarian di Midian sesudah membunuh orang Mesir harus dilihat sebagai bagian persiapan Allah bagi Musa (Kel. 2:11-22). Panggilan Ilahi itu juga lebih kuat dan mengalahkan keraguan dan kelemahan pribadi Musa (Kel. 3-4).

Allah menolong Musa untuk mengatasi keraguan dan kelemahannya dengan pelbagai perlengkapan yang dibutuhkannya sebagai seorang pemimpin.

Allah memperkenalkan Diri-Nya sebagai AKU ADALAH AKU (Kel. 3:14). Allah memberikan Musa kemampuan untuk melakukan pelbagai mujizat (Kel. 4:2-9). Allah memberikan Harun untuk menjadi pendamping dan juru bicara Musa (Kel. 4:14-16).

Kepemimpinan Alkitabiah bersumberkan pada panggilan Ilahi. Allah memanggil seseorang untuk menjadi seorang pemimpin. Allah yang memanggil itu, Allah yang menyertai dan memperlengkapi pemimpin yang dipilih dan dipanggil-Nya itu.

Hutton mengungkapkan tentang Musa sebagai berikut: “He is the leader of Israel by divine appointment, yet leads at the people’s request.”[16] Jabatan Musa sebagai pemimpin merupakan panggilan dan pengangkatan Ilahi, tetapi panggilan Ilahi dalam diri Musa terwujud melalui peran kepemimpinan bagi bangsa Israel. Bangsa Israel merasakan dan mengalami manfaat yang besar dari ketaatan Musa terhadap Allah yang memanggilnya sebagai seorang pemimpin.

Kepemimpinan Umum Bergantung Pada Sifat, Kebiasaan, atau Kepribadian Khas Seseorang.

Kartini Kartono juga menyatakan bahwa seorang pemimpin mempunyai sifat, kebiasaan, atau kepribadian khas yang semuanya itu mewarnai perilaku dan gaya kepemimpinan seseorang.[17] Ia menyebutkan adanya 8 tipe kemimpinan yang ada, yaitu:[18]

1.     Tipe “Deserter” (Pembelot) yang mempunyai karakteristik, seperti bermoral rendah, tidak mempunyai rasa keterlibatan, tanpa pengabdian dan sukar diramalkan.

2.     Tipe Burokrat yang mempunyai karakteristik, seperti patuh terhadap peraturan dan norma, terorganisir, tepat dan cermat.

3.     Tipe Misionaris yang mempunyai karakteristik, seperti terbuka, penolong, lembut hati, ramah tamah.

4.     Tipe “Developer” (Pembangun) yang mempunyai karakteristik, seperti kreatif, dinamis, inovatif dan mau mendelegasikan.

5.     Tipe Otokrat yang mempunyai karakteristik, seperti keras, diktatoris, mau menang sendiri, keras kepala dan sombong.

6.     Tipe “Benevolent Autocrat” (Otokrat yang bajik) yang mempunyai karakteristik, seperti tertib, ahli dalam mengorganisir dan mau terlibat langsung.

7.     Tipe”Compromiser” yang mempunyai karakteristik, seperti tanpa pendirian, mudah berubah-ubah dan berpandangan pendek.

8.     Tipe Eksekutif yang mempunyai karakteristik, seperti bermutu tinggi, motivator, berpandangan jauh dan tekun.

Kepemimpinan Alkitabiah Tak Semata-mata Bergantung Pada Sifat, Kebiasaan, atau Kepribadian Khas Seseorang

Dalam menafsirkan Kel. 2 Coats mengungkapkan tindakan Musa menolong mereka yang tertindas, baik orang Ibrani sendiri (Kel. 2:11-15a) maupun orang Midian (Kel. 2:15b-22).[19] Hal ini menunjukkan bahwa Musa adalah seorang pribadi yang mau membela mereka yang tertindas.[20] Kel. 32-34 Musa sebagai pemimpin yang berjuang dan berpihak kepada orang yang dipimpinnya.

Musa berdoa syafaat untuk bangsa Israel yang telah memberontak, agar mereka mendapat pengampunan dari Allah. Walaupun ada kisah-kisah yang dapat memberikan petunjuk tentang sifat atau kepribadian Musa, namun tidaklah untuk mengkategorikan tipe kepemimpinan Musa. Brian Bitt menyatakan: “Though he performs many ‘signs and wonders’, promulgates and administers divine law, and leads the people from Egypt to Kadesh, Sinai, and the Plains of Moab, Moses rarely seems to act on his own initiative.”[21] Kepemimpinan Musa lebih bergantung pada kehendak, rencana dan norma-norma Allah. Kepemimpinan Musa bukan semata-mata bergantung pada sifat, kebiasaan, atau kepribadian khas Musa.

Kepemimpinan Alkitabiah bukanlah kepemimpinan yang mandiri (tergantung semata-mata pada diri sang pemimpin), tetapi lebih berupa kepemimpinan teokratis, di mana sang pemimpin tunduk kepada Allah, sang Pemimpin Utama.

Para ahli Perjanjian Lama menghadirkan Musa dalam pelbagai peran, seperti nabi, imam, raja, hakim, pengantara perjanjian, utusan karismatis, pendiri iman, pemimpin umat dan “inspired shepherd”.[22] Kepemimpinan Musa dapat disebut sebagai kepemimpinan teokratis, di mana Musa sebagai pemimpin bangsa Israel harus tunduk kepada Allah, sang Pemimpin Utama dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

Kepemimpinan Umum Terkait Erat Dengan Kekuasaan, Kewibawaan dan Kemampuan.

 Kartini Kartono menyatkan bahwa ada tiga hal penting yang harus selalu ada dalam kepemimpinan, yaitu:[23]

1.     Kekuasaan yang meliputi kekuatan, otoritas dan legalitas yang memberikan wewenang kepada pemimpin untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu.

2.     Kewibawaan yang berkaitan kelebihan atau keunggulan yang menyebabkan seorang pemimpin mampu mengatur orang lain, sehingga orang tersebut patuh pada pemimpin dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.

3.     Kemampuan yang meliputi kesanggupan dan kecakapan ketrampilan teknis maupun sosial yang dianggap melebihi dari kemampuan anggota biasa.

Kekuasaan dan kewibawaannya sebagai pemimpin tidak berasal dari pribadi Musa sendiri, tetapi bersumber pada Allah yang memilih dan memanggilnya sebagai pemimpin umat.[24] Kemampuan supranatural (seperti tulah dan menyeberangi laut Tengah) tentu tak mungkin bersumber pada dirinya, tetapi berasal dari Allah. Dalam kaitan dengan tulah-tulah kepada Mesir James D. Newsome menyatakan: “Moses is portrayed not just as God’s agent but as the actual embodiment of the divine presence.”[25]

Kitab Keluaran menempatkan Musa sebagai “Divine Substitute”.[26] Keluaran 4:16 dan 7:1 menempatkan Musa dalam status Allah.[27]

Dalam Keluaran 4:16 Musa ditempatkan sebagai Allah bagi Harun, sedangkan dalam Kel. 7:1 Musa ditempatkan sebagai Allah bagi Firaun. Herring juga membahas Musa sebagai “Divine Substitute” berdasarkan Kel. 32- 34[28]

Muka Musa yang bercahaya dan reaksi bangsa Israel seperti reaksi Israel terhadap teophani (penampakan Allah) menempatkan Musa sebagai “Divine Substitute”.[29]

Kepemimpinan Umum Menyadari Adanya Kecocokan Antara Pemimpin dan Zamannya

 Kartini Kartono mengungkapkan bahwa pemimpin dengan segenap kelebihan dan kekurangannya itu merupakan fungsi dari situasi khusus.[30] Pemimpin muncul oleh karena sifatnya serasi tepat dan bisa diterima oleh kelompok yang dipimpinnya.[31] Pemimpin harus cocok dengan situasi dan zamannya.[32]

Kepemimpinan Alkitabiah Juga Menyadari Adanya Kecocokan Antara Pemimpin dan Zamannya.

 Peran Musa dalam kehidupan Israel mempunyai sifat umum dan khusus. Bersifat umum, karena karakteristik peran tertentu dapat dilihat pada tokoh-tokoh Perjanjian Lama lainnya. Bersifat khusus, karena karakteristik perannya bersifat khusus untuk Musa dan tak dapat dikenakan kepada tokoh-tokoh lainnya. Musa mempunyai keunikan peran yang tak dapat diulang oleh pemimpin lainnya.

Peran Musa yang jelas adalah memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian dan mengajar bangsa Israel hukum dan peraturan yang Allah berikan kepada umat-Nya ini.

Coats menyatakan bahwa Musa dapat disebut “the Liberator” (peristiwa Keluaran), “the Shepherd” (padang gurun) dan “the Lawagiver” (gunung Sinai).[33] Sebagai Pembebas (“the Liberator”) Musa bukanlah membebas bangsa Israel dari kekuasaan Mesir dengan kemampuannya, tetapi Pembebas Sejati bangsa Israel adalah Allah sendiri. Musa adalah alat atau instrumen Allah dalam membebaskan umat-Nya. Sebagai Gembala (“the Shepherd”) Musa memimpin bangsa Israel di padang gurun dengan kemampuannya untuk mencukupi segala kebutuhan mereka dan menjaga kesejahteraan mereka, tetapi Musa adalah alat Allah untuk memimpin dan memelihara umat-Nya di padang gurun. Sebagai Pemberi Hukum (“the Lawagiver”) Musa mengajarkan hukum dan peraturan yang ia terima dari Allah.

Jelas ada kecocokan antara peran Musa sebagai pemimpin dengan kebutuhan umat yang dipimpinnya dalam eranya. Hal penting yang harus diingat bahwa dalam menjalankan pelbagai peran ini Musa hanya alat atau instrumen Allah. Seorang pemimpin menjalankan dalam peran yang ditetapkan oleh Allah yang memilih, memanggil dan memperlengkapinya untuk memenuhi kebutuhan umat dalam era tertentu. Hal ini menyebabkan adanya kecocokan antara pemimpin yang dipilih dan kebutuhan umat dalam era tertentu.

APLIKASI

1.     Kepemimpinan Musa yang bersumber pada panggilan Ilahi merupakan tipe kepemimpinan yang cocok bagi kepemimpinan Kristiani. Panggilan Ilahi menjadi pemimpin merupakan hal mutlak untuk seseorang yang mau (“berambisi”) menjadi pemimpin Kristiani. Tanpa panggilan Ilahi itu, jabatan kepemimpinan hanyalah suatu prestasi yang diraih oleh upaya seseorang yang menginginkan kedudukan atau jabatan itu. Jabatan dan kedudukan seorang pemimpin Kristiani adalah suatu anugerah (pemberian) Allah yang diberikan kepada seseorang untuk mengerjakan rencana-Nya bagi umat dalam era tertentu.

2.     Allah yang memanggil seseorang untuk menjadi pemimpin, Allah juga yang memperlengkapi pemimpin itu dengan pelbagai kemampuan yang dibutuhkan.  Persiapan dan perlengkapan Allah dapat terjadi pada seseorang sebelum atau sesudah ia dipilih oleh Allah menjadi seorang pemimpin.. Ia harus juga menyakini bahwa Allah akan memperlengkapi segala yang ia butuhkan dalam menjalani peran sebagai seorang pemimpin. Allah yang memanggil, Allah yang mempersiapkan, memperlengkapi dan bahkan memampukan seorang menjadi pemimpin.

3.     Kepemimpinan Alkitabiah adalah kepemimpinan teokratik di mana sang pemimpin tunduk kepada Allah, sang Pemimpin Utama. Pemimpin Kristiani bukanlah penguasa atau TUAN bagi orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin Kristiani harus senantiasa menyadari bahwa ia sedang menjalankan kepemimpin Allah melalui dirinya. Sebagai pemimpin umat, ia harus senantiasa taat dan tunduk kepada Allah yang merupakan Pemimpin Utama. Seorang pemimpin Kristiani harus senantiasa sadar bahwa ia ada di bawah kendali Allah yang memilih dan memanggilnya.

4.     Pemimpin dilahirkan dan berperan dalam eranya yang khusus. Tak ada seorang pemimpin yang dapat cocok dalam segala era. Seorang pemimpin dipilih, dipersiapkan dan dipanggil oleh Allah untuk menjalankan perannya yang khusus dalam zamannya. Seorang pemimpin tak hanya siap untuk menjalankan perannya sebagai pemimpin, tetapi ia harus siap juga untuk berkata bahwa peran dan eranya telah selesai serta siap digantikan oleh pemimpin lain yang dipanggil Allah untuk menjalankan peran yang khusus dan khas dalam era yang berbeda pula.

Daftar Pustaka

Rodney R.Hutton, Chharis and Authority in Israel Society

George W.Coats, The Moses Tradition. JSOT.Suplemen Series 161,1993 hal 114

Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta Rajawali Press 1990)

W.H Grispen, Exodus (Grand Rapiels, MI: Zondervan Publisting Hause, 1982) hal 41

James Nohinberg, Like Unto Moses. The Constituting Of an Interpretation Indiana Studies In Biblical Literature (Blooming Ton: Indiana University Press, 1995)hal 135

Briant Bitt, Rewriting Moses. The Narative Eclipse Of The Text JOST Suplement Series 402 (London:T&T Clark International ,2004 George W.Coats, Moses Heroic Man , Man Of God JOST Sup Series 57 (Sheffield:JOST Press,1988) hal 34

James D.Newsome, Exodus (Louisville, Kentucy, Geneva Press,1998)hal 26-27

Stephen L.Herring, Moses as Drivine Substitute in Exodus, “Criswell Teological Review, N.S 9/2(Spring 2012) hal 53-68


 



[1]        Rodney R. Hutton, Charisma and Authority in Israelite Society (Minneapolis: Fortress Press, 1994.

[2]        Ibid., 3-4.

[3]        Ibid., 4.

[4]        Ibid,, 5-9

[5]        Ibid,, 8.

[6]        Ibid., 18.

[7]        Ibid,, 20.

[8]        Ibid., 20.

[9]        Hutton, 31

[10]       George W. Coats, The Moses Tradition. JSOT Supplement Series 161 (Sheffield: JSOT Press, 1993), 114

[11]       Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: Rajawali Press, 1990)

[12]       Ibid,, 35.

[13]       Ibid., 29.

[14]       W.H. Grispen, Exodus (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1982)., 41.

[15]       James Nohrnberg, Like Unto Moses: The Constituting of an Interpretation Indiana Studies in Biblical Literature (Bloomington: Indiana University Press, 1995), 135.

[16]       Hutton, 40.

[17]       Kartono, 29-30.

[18]       Ibid,, 30-31.

[19]       Coats, The Moses Tradition, 105.

[20]       Ibid,, 107.

[21]       Brian Bitt, Rewriting Moses. The Narrative Eclipse of the Text.JSOT Supplement Series 402 (London: T & T Clark International, 2004), 5

[22]       George W. Coats, Moses. Heroic Man, Man of God. JSOT Sup. Series 57 (Sheffield: JSOT Press, 1988), 34.

[23]       Kartono, 31.

[24]       Coats, Moses. Heroic Man, Man of God, 72.

[25]       James D. Newsome, Exodus (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 1998), 26-27.

[26]       Stephen L. Herring, “Moses as Divine Substitute in Exodus,” Criswell Theological Review, n.s. 9/2 (Spring 2012), 53-68.

[27]       Ibid,, 67.

[28]       Ibid,, 54.

[29]       Ibid,, 54-55, 62-67.

[30]       Kartono, 56.

[31]       Ibid., 56-57.

[32]       Ibid., 57.

[33]       Coats, Moses. Heroic Man, Man of God, 157-166