KOMPARASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT DAN GROUP INVESTIGATION

DITINJAU DARI HASIL BELAJAR IPA

Siti Ulfa Rohimatunnisa

Mawardi

Program Studi PGSD-FKIP, Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) lebih tinggi secara signifikan dari model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) ditinjau dari hasil belajar IPA pada siswa kelas 5 SD Gugus Diponegoro 2 Cepogo, Boyolali. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperimental. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 5A SD Negeri Randu (SD Inti), dan SD Jelok 1 (SD Imbas) sebagai kelompok eksperimen 1, dan kelas 5B SD Negeri Randu (SD Inti) dan SD Negeri Candigatak 1 (SD imbas) sebagai kelompok eksperimen 2. Variabel dalam penelitian ini terdiri atas model TGT dan GI sebagai variabel bebas, hasil belajar sebagai variabel terikat, dan pretest sebagai variabel kovariat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen soal tes dan lembar observasi. Teknik analisis data hasil penelitian ini menggunakan teknik deskriptif dan teknik statistik ANCOVA. Berdasarkan uji ANCOVA yang telah dilakukan terhadap nilai posttest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 diperoleh hasil nilai F sebesar 27,308, pada taraf signifikansi/probabilitas 0,000; oleh karena nilai probabilitas tersebut < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya hasil belajar IPA menggunkan model TGT lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan hasil pembelajaran menggunakan model GI . Perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan tersebut didukung oleh perbedaan rerata dua sampel penelitian, dimana rerata hasil belajar pada penerapan model pembelajaran TGT sebesar 85,89, sedangkan rerata hasil belajar pada penerapan model pembelajaran GI sebesar 79,12. Maknanya adalah bahwa perlakuan pembelajaran dengan model TGT memberikan dampak pada hasil belajar yang lebih tinggi daripada model pembelajaran GI. Saran yang penulis ajukan berkenaan dengan hasil penelitian ini adalah guru dapat memilih model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam pembelajaran IPA sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Kata kunci: Teams Games Tournament, Group Investigation, hasil belajar

PENDAHULUAN

Menurut Trianto (2010: 136) IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis penerapannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur. Menurut Widayanti&Slameto (2016:185) menyatakan IPA sebagai kumpulan dari pengetahuan yang disusun hasil dari percobaan dan pengamatan secara teratur sehingga saling berkaitan sebagai suatu kesatuan yang utuh. IPA merupakan pengetahuan yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsi-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Sulistyorini, 2007: 39). Dengan demikian IPA pada hakikatnya adalah ilmu untuk mencari tahu, memahami alam semesta secara sistematik dan mengembangkan pemahaman dan penerapan konsep untuk dijadikan sebagai suatu produk. sehingga IPA bukan hanya merupakan kumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep, prinsip, melainkan suatu proses penemuan dan pengembangan.

Salah satu komponen yang turut serta memberikan pengaruh terhadap kesuksesan suatu proses pembelajaran adalah penerapan model pembelajaran yang relevan dengan bidang kajian yang dibelajarkan. Suprijono (2011: 58) menegaskan pembelajaran yang dapat memacu siswa berinteraksi dengan baik dengan siswa lainnya, dapat dilakukan guru dengan cara menerapkan model pembelajaran kooperatif. Oleh karena itu diperlukan penggunaan model pembelajaran yang bervariasi untuk membuat peserta didik lebih tertarik dalam pelajaran yang diajarkan sehingga model pembelajaran mempuyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar diataranya adalah model pembelajaran kooperatif tipe tipe Teams Games Tournament (TGT) dan Group Investigation (GI).

Menurut Trianto (2010: 61) TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5-6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku bangsa atau ras yang berbeda. TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan adanya kerjasama antar anggota kelompok untuk mencapai tujuan belajar. Hal yang menarik dari TGT dan yang mebedakannya dengan tipe pembelajaran kooperatif yang lain adalah turnamen. Didalam turnamen, siswa yang berkemampuan akademiknya sama akan saling berlomba untuk mendapatkan skor tetinggi dii meja turnamennya. Hal ini tentu akan memotivasi siswa sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Selain model pembelajaran kooperatif tipe TGT, ada model pembelajaran yang memiliki potensi hampir sama dengan model TGT yaitu model kooperatif tipe GI merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif dimana guru dan siswa bekerja sama membangun pembelajaran. Siswa harus aktif dalam beberapa aspek selama proses belajar berlangsung, sedangkan fungsi kelompok sebagai sarana berinteraksi dalam membentuk suatu konsep belajar.

Dilihat dari sintaknya, model pembelajaran TGT & GI memang tidak sama, namun mempunyai satu sisi persamaan, yaitu pembelajaran dititikberatkan pada aktivitas siswa untuk berkolaborasi atau bekerja sama. Mencermati berbagai potensi kedua model pembelajaran dan hasil penelitian yang menunjukkan keampuhan kedua model secara empirik, tentu saja membingungkan guru dalam memilih model pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran karena ke dua model tersebut sama-sama mempunyai potensi dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA.

Permasalahan dalam penelitian ini berkaitan dengan hasil belajar IPA menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT apakah lebih tinggi secara signifikan dripada model pembelajaran kooperatif tipe GI pada siswa kelas 5 SD Gugus Diponegoro 2.

TINJAUAN PUSTAKA

Hakikat Ilmu Pengetahan Alam (IPA) di SD

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan atau sains yang semula berasal dari bahasa inggris science. Kata science sendiri berasal dari bahasa latin scientia yang berarti saya tahu. Science terdiri dari social science dan natural science. Wahyana (Trianto,2010: 136) IPA adalah sesuatu kumpulan pengetahuan yang tersusun sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Menurut Kardi dan Nur (Trianto, 2010: 136) IPA atau ilmu kealaman adalah ilmu tentang dunia zat, baik makhluk hidup maupun benda mati yang diamati. Sedangkan menurut Sulistyorini (2007: 39) IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang alam sekitar baik benda hidup maupun benda mati dengan cara percobaan dan pengamatan secara langsung yang dilakukan oleh individu. Pembelajaran IPA di lingkungan sekolah dasar perlu diberi wadah yang cukup besar untuk mengembangkan potensi alamiah dari diri siswa. Potensi yang dimilki siswa akan berpengaruh dalam kehidupan sehari-harinya, karena mata pelajaran IPA berkaitan dengan gejala alam dan lingkungan sekitar. Siswa mampu mengembangkan lagi ilmu yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya melalui pendidikan pembelajaran IPA di lingkungan sekolah yang didasarkan pada teori-teori yang sudah ada.

Komparasi Model Pembelajaran Tipe Teams Games Tournament VS Group Investigation

Menurut Arends (2005: 121) TGT adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang menekankan adanya kerjasama anggota kelompok untuk mencapa tujuan bersama. Model pembelajaran kooperatif tige TGT ini cocok diterapkan, karena dalam pelaksanaannya tidak memerlukan fasilitas pendukung yang harus tersedia seperti peralatan khusus. Selain mudah diterapkan dalam penerapannya TGT juga melibatkan aktivitas seluruh siswa ntuk memperoleh konsep yang diinginkan.

Pembelajaran IPA dengen menggunakan model Group Investigation merupakan salah satu inovasi pembelajaran yang inovatif. Menurut Trianto (2007: 59) dasar-dasar model GI dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh Shlomo dan Yael di Universitas Tel Aviv. Model Group Investigation merupakan perencanaan pengaturan kelas yang umum di mana para siswa bekerja dalam kelompok kecil menggunakan pertanyaan kooperatif, diskusi kelompok, serta perencanaan dan proyek kooperatif. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok. Kelompok ini kemudian memilih topik dari materi yang akan dipelajari oleh seluruh kelas, kemudian siswa melakukan diskusi kelompok, dan melakukan kegiatan yang diperlukan untuk mempersiapkan laporan kelompok. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil penemuan mereka didepan kelas.

Joyce, Weil dan Calhoun (2016: 102-121) menyatakan bahwa komponen-komponen sebuah model pembelajaran terdiri dari komponen sintagmatik, prinsip reaksi, sistem sosial, daya dukung, serta dampak instruksional dan pengiring.Dampak instruksional merupakan hasil belajar siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran sedangkan dampak pengiring adalah kemampuan lain yang muncul dari suasana pembelajaran yang dialami siswa diluar arahan dari guru Berikut akan dipaparkan dampak instruksional dan dampak pengiring dari model Teams Games Tournamentdan Group Investigation. (lihat tabel 1)

Tabel 1 Dampak Model TGT & GI

Dampak

Teams Games Tournment

Group Investigation

Instruksional

1. Mampu mendefinisikan makna gaya dalam kehidupan sehari-hari

2. Mampu mendefinisikan pegaruh gaya terhadap benda yang ada di lingkungan sekitar

3. Mampumenyebutkan macam-macam gaya berdasarkan sumber tenaganya

1. Mampu mendefinisikan makna gaya dalam kehidupan sehari-hari

2. Mampu mendefinisikan pegaruh gaya terhadap benda yang ada di lingkungan sekitar

3. Mampumenyebutkan macam-macam gaya berdasarkan sumber tenaganya

Pengiring

1. Tanggung Jawab

2. Kerjasama

3. Toleransi

4. Aktif

5. Percaya diri

6. Berpikir Kritis

7. Sportif

1. Rasa ingin tahu tinggi

2. Demokratis

3. Tanggung Jawab

4. Kerjasama

5. Toleransi

6. Percaya diri

Hasil Belajar

Hasil belajar sangat penting untuk diketahui, baik secara perseorangan maupun secara kelompok, karena disamping sebagai salah satu indikator keberhasilan belajar siswa dalam mata pelajaran tertentu, juga sebagai sarana memotivasi siswa bagi siswa yang menempuh pendidikan di lembaga tersebut. Menurut Arikunto (2002: 132) hasil belajar adalah hasil yang dicapai sesorang setelah melakukan kegiatan belajar dan merupakan penilaian yang dicapai seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana bahan pelajaran atau materi yang diajarkan sudah diterima siswa. Menurut Morgan (Suprijono, 2009: 3) hasil belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman.

Menurut Bloom (Suprijono, 2009: 6) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Purwasari (2013: 5) hasil belajar merupakan hasilyang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Sedangkan menurut Sjukur (2012: 372) hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik.Winkel (Setyorini, 2014:8) juga berpendapat bahwa hasil belajar merupakan salah satu bukti yang menunjukkan kemampuan atau keberhasilan seseorang yang melakukan proses belajar sesuai bobot atau nilai yang berhasil diraihnya.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perwujudan dari bakat, kemampuan, dan cita-cita yang diperoleh dari usaha yang telah dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya atau hasil yang dapat dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Sebagian besar guru melakukan penilaian hasil belajar dari segi kognitif, yaitu melalui tes tertulis maupun lisan, baik tes formatif maupun tes sumatif.

Keefektifan model pembelajaran dalam penelitian ini dapat dilihat dari ketuntasan perolehan hasil belajar IPA pada materi gaya dan pengaruhnya dengan menggunakan model TGTdan GI. Pengukuran hasil belajar tersebut diperoleh dengan menggunakan teknik tes berupa tes sumatif dalam bentuk pilihan ganda.

METODE

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Quasi Eksperimental. Sugiyono, (2014: 116) menyatakan bahwa eksperimen kuasi dapat digunakan apabila mengalami kesulitan dalam mendapatkan kelompok kontrol yang benar-benar dapat mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhinya. Desain yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group Design. Terdapat dua kelompok eksperimen, yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 (gambar 1)dipilih tidak secara random, tetapi matching only (Gay, 1987: 277).

Penelitian dilakukan di SD Gugus Diponegoro 2 yang terletak di wilayah Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel, yaitu variabel bebas (X1), variabel terikat (Y), dan variabel kovariat (X2). Variabel bebas (independent) merupakan tindakan yang mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat (dependent). Variabel kovariat adalah variabel yang digunakan untuk mengontrol/memfilter semua perlakuan tidak terkontrol terhadap variabel terikat.Dalam penelitian ini digunakan pretest sebagai variabel kovariat (X2). Penerapan model pembelajaran TGT dan GI merupakan variabel bebas (X1), sedangkan hasil belajar IPA merupakan variabel terikat (Y).

Populasi dalam penelitian ini meliputi siswa kelas 5 SD Gugus Diponegoro 2 Cepogo, Boyolali sejumlah 130 siswa. Sampel yang diambil adalah kelompok eksperimen 1 (37 siswa) dan eksperimen 2 (32 siswa) yang tersebar di SD Negeri Randu, SD Negeri Jelok 1, dan SD Negeri Candigatak 1. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrumen tes sebanyak 25 soal, yang telah diuji reliabilitasnya sebesar 0.90. Angka koefisien reliabilitas Alpha ini berada pada kategori reliabel. Hasil uji validitas item 25 soal tersebut bergerak antara 0,30 sd 0,633. Pengumpulan data juga menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.

Teknik analisis data hasil penelitian ini dianalisis dengan teknik deskriptif dan teknik statistik inferensial ANCOVA. Teknik statistik ANCOVA dilakukan jika memenuhi uji prasyarat: a) uji normalitas, b) uji homogenitas, dan c) uji homogenitas koefisien regresi linear data. Analisis of Covariance dapat digunakan untuk membandingkan rerata prestasi belajar antar kelompok dengan mengontrol pengaruh variabel kovariat.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Komparasi Tingkat Hasil Belajar IPA menggunakan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (Eksperimen 1 ) & Group Investigation (Eksperimen 2 )

Tabel 2 Komparasi Tingkat Hasil Belajar

Kelompok

Hasil Posttest

Eksperimen 1

85,89

Eksperimen 2

79,12

Selisih

6.77

Berdasarkan table 2, Skor rata-rata kelas eksperimen 1 sebesar 85,89, dan skor rata-rata kelas eksperimen 2 sebesar 79,12. Selisih skor rata-rata antara kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2sebesar 6,77, dimana skor rata-rata kelompok eksperimen 1 lebih unggul dari kelompok eksperimen 2.

Hasil Uji ANCOVA

Berdasarkan uji normalitas yang menunjukkan data berdistribusi normal, uji himogenitas yang menunjukkan varian data homogen, dan uji homogenitas koefisien regresi linear yang menunjukkan kedua model beregresi linear maka dapat dikatakan uji prasarat terpenuhi. Uji analisis berikutnya adalah ANCOVA atau uji kombinasi analisis regresi dan varians.(lihat tabel 3).

Tabel 3 Ringkasan Hasil Uji ANCOVA

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:posttest

Source

Type I Sum of Squares

Df

Mean Square

F

Sig.

Partial Eta Squared

Corrected Model

1042,197a

2

521,098

19,646

,000

,373

Intercept

472523,188

1

472523,188

17814,616

,000

,996

Pretest

317,868

1

317,868

11,984

,001

,154

Model_Pembelajaran

724,329

1

724,329

27,308

,000

,293

Error

1750,615

66

26,524

Total

475316,000

69

Corrected Total

2792,812

68

a. R Squared = ,373 (Adjusted R Squared = ,354)

Pada varian model pembelajaran, diperoleh nilai F hitung sebesar 27,308 dengan signifikansi 0,000. Karena nilai 0,000 lebih kecil dari a= 0,05, maka nilai F signifikan. Artinya bahwa dampak pembelajaran TGT lebih tinggi secara signifikan dari pembelajaran GI.Berdasarkan uji ANCOVA yang telah dilakukan terhadap nilai posttest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 diperoleh hasil signifikansi/probabilitas 0,000 atau < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya hasil belajar IPA menggunkan model TGT lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan hasil pembelajaran menggunakan model GI pada siswa kelas 5 SD Gugus Diponegoro 2.

Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar IPA menggunakan model pembelejaran TGT lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran GI pada kelas 5 SD Gugus Diponegoro 2 Cepogo, Boyolali. Hasil uji hipotesis menggunakan teknik ANCOVA seperti telah dilakukan terhadap nilai pretest dan posttest kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 diperoleh hasil signifikansi/probabilitas 0,000 < 0,05, oleh karena nilai probabilitas lebih kecil dari nilai Alpha (a= 0,05), maka H0 ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan nilai probabilitas tersebut, dapat diartikan bahwa hasil belajar IPA menggunakan model TGT lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan model pembelajaran GI..

Signifikansi perlakukan dimana hasil belajar IPA yang signifikan pada siswa kelas 5 SD Gugus Diponegoro 2 dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran TGTlebih tinggi dari model pembeljaran GI didukung oleh rerata dari dua sampel dimana rerata hasil belajar pada penerapan model pembelajaran TGT sebesar 85,89 sedangkan rerata hasil belajar pada penerapan model pembelajaran GI sebesar 79,12. Maknanya adalah bahwa perbedaan rerata hasil belajar dan signifikansi perlakuan membuktikan bahwa model pembelajaran TGT memberikan dampak lebih tinggi daripada model pembelajaran GI.

Keampuhan model pembelajaran TGT memberikan dampak lebih tinggi terhadap hasil belajar dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran GI. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Arends (2005: 121) TGTadalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang menekankan adanya kerjasama anggota kelompok untuk mencapa tujuan bersama. Model pembelajaran kooperatif tige TGTini sangat cocok diterapkan, karena dalam pelaksanaannya tidak memerlukan fasilitas pendukung yang harus tersedia seperti peralatan kusus. Selain mudah diterapkan dalam penerapannya TGTjuga melibatkan aktivitas seluruh siswa ntuk memperoleh konsep yang diinginkan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Eka Rizky Widayanti & Slameto (2016: 182-195) dalam penelitiannya telah membuktikan bahwa model TGT efektif dalam pembelajaran IPA. Begitu pula hasil penelitian yang dilakukan oleh Putu Citra Arni Kusumaningrum, Desak Putu Parmiti, Made Citra Wibawa(2014), penelitiannya berhasil menunjukkan bahwa terdapat berbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar IPA.

Dukungan terhadap temuan hasil penelitian ini, tidak hanya Eka Rizky Widayanti & Slameto (2016); Putu Citra Arni Kusumaningrum, Desak Putu Parmiti, Made Citra Wibawa; (2014) keampuhan model pembelajaran TGT juga telah dibuktikan Sejalan dengan Komang Sudamayanto, I Wayan Darsana, I Ketut Adnyana Putra (2014). I Kt.Agus.Budiastawa Putra, Ni Nym.Kusumariyatni, I Md. Citra Wibawa (2014). Putu Citra Arni Kusumaningrum, Desak Putu Parmiti, Made Citra Wibawa (2014). Hasil penelittiannya menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar IPA.

Selain hasil penelitian yang dilakukan oleh Eka Rizky Widayanti & Slameto, Putu Citra Arni Kusumaningrum, Desak Putu Parmiti, Made Citra Wibawa Komang Sudamayanto, I Wayan Darsana, I Ketut Adnyana Putra, Kt.Agus.Budiastawa Putra, Ni Nym.Kusumariyatni, I Md. Citra Wibawa, hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh I Pt Ariadi, Ndara T. Renda, Ni Wyn Rati (2014), yang menunjukkan bahwa model pembelajaran GI ampuh dalam meningkatkan hasil belajar IPA. (2014), A.A.Ayu Nevi Yuli Yunita, Ni Nyoman Ganing, I Wayan Rinda Suardika (2014), hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa model GI berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar IPA.Supriyati & Mawardi (2015), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model GI efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPA. Begitu pula hasil yang dilakukan oleh Budi Arga Asmara, Ngadino, Lies Lestari (2014) bahwa model GI dapat meningkatkan hasil belajar IPA.

Hasil penelitian ini dapat memperkuat hasil penelitian mengenai keampuhan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah penelitian yang telah dilakukan olehM.E.Adnyana, N.P. Ristiati, I G.A.N. Setiawan (2014)hasil penelitiannya menunjukkan bahwa model TGT mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar IPA. Vina Anggaraeni&Wasitohadi (2014), simpulan penelitiannya bahwa model TGT ampuh dalam meningkatkan hasil belajar IPA.

Temuan keampuhan model pembelajaran TGTdimungkinkan karena dilaksanakannya sintak/langkah-langkah TGT khususnya pada sintaks kedua, ketiga, dan keempat. Adapun isi sintak tersebut adalah diskusi kelompok, kemudian siswa melakukan permainan untuk menjawab pertanyaan dalam kelompok, dan siswa melakukan turnamen untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan sintaksnya, model pembelajaran TGT mempunyai kelebihan seperti yang dikemukakan oleh Winaputra (2001: 10), bahwa model Teams Games Tournament mempunyai kelebihan yaitu; lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas, mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu, Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam, Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa, Mendidik siswa untuk berlatih bersoaialisasi dengan orang lain, Motivasi belajar lebih tinggi, Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.

Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah salah satu tipe pembelajaran yang mudah diterapkan, melibatkan seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. Langkah pertama yang dilakukan dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran TGT iniadalahclass precentation . Langkahkeduaadalahteams, pada tahap ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Tahap selanjutnya adalah games, pada tahap gamessiswa dalam kelompok melakukan permainan yang melibatkan seluruh anggota kelompok, sehingga setip siswa harus terlibat aktif dalam permainan. Tahapselanjutnyaadalahtournament,Padatahapini guru menempatkan siswa ke dalam meja turnamen, siswa ditempatkan dalam meja turnamen sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, selanjutnya siswa menjawab pertanyaan yang dibacakan oleh guru. Tahap terakhir yaitu team recognition, pada tahap ini siswa dan guru melakukan penghitungan skor yang telah di peroleh setiap kelompok, dan kelompok yang mendapatkan skor terbanyak akan mendapatkan reward.

PENUTUP

Simpulan

Hasil belajar IPA pada siswa kelas 5 SD Gugus Diponegoro 2 dalam pembelajaran menggunakan model TGT lebih tinggi secara signifikan dari model GI. Simpulan ini didasarkan temuan probabilitas uji ANCOVA 0,000 < 0,05, berarti ditolak, Ha diterima. Signifikansi didukung juga oleh rerata dari dua sampel hasil posttes pembelajaran TGT sebesar 85,89 dan GI sebesar 79,12.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka terdapat beberapa saran yaitu:

1. Bagi guru, hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipeTGT lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaranGI pada mata pelajaran IPA, maka guru dapat menerapkan model pembelajaranTGT pada mata pelajaran IPA kelas 5 SD.

2. Bagi peneliti yang lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi penelitian berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, Vian & Wasitohadi. 2014. Upaya Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas 5 Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Di Sekolah Dasar Virgo Maria 1 Ambarawa. Satya Widya. 30 (2): 121-136.

Arends, I. R. 2005. Learning To Teach (Belajar Untuk Mengajar). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Asmara, Budi Arga , Ngadino , Lies Lestari. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) Terhadap Hasil Belajar IPA Materi Sumber Daya Alam. Didaktika Dwija Indria. 3( 3): 168 – 172.

Gay, 1987 Gay, L.R 1987. Educational Research. New York: Merrill and Macmillan Pub. and Co.

Isjoni, H. 2009. Pembelajaran Kooperatif, Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik, Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Joyce, B., Calhoun, E., & Weil, M. 2016. Models of Teaching (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kusumaningrum, Putu Citra Arni, Desak Putu Parmiti, Made Citra Wibawa. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar IPA Pada Siswa Kelas V Gugus XV Kecamatan Buleleng. MIMBAR PGSD. 2 (1): 1-10.

Purwasari, Yosi. 2013. Meningkatkan Hasil Belajar Ipa tentang Perubahan Kenampakan Permukaan Bumi dan Benda Langit melalui Peta Pikiran pada Anak Kesulitan Belajar Kelas IV SD 13 Balai-Balai Kota Padang Panjang. Tersedia pada http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu. 1 (1): 536-548.

Putra, I Kt. Agus Budiastawa, Ni Nym. Kusmariyatni, I Md. Citra Wibawa. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Terhadap Hasil Belajar IPA Pada Siswa Kelas IV Gugus VIII Kecamatan Kubutambahan. E-Journal MIMBAR PGSD. 2 (1): 151-163.

Renda, I Pt Ariadi, Ndara T., Ni Wyn Rati. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran GITerhadap Hasil Belajar IPA Pada Siswa Kelas IV. E-Journal MIMBAR PGSD. 2 (1): 1-10.

Ristiati, M.E.Adnyana, N.P., I G.A.N. Setiawan. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Teams Games Tournament Terhadap Hasil Belajar Biologi dan Kecerdasan Emosional Siswa. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA. 4 (1): 168-180.

Sudamayanto, Komang, I Wayan Darsana, I Ketut Adnyana Putra. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Game Tournamnet Berbantuan Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD N 1 Mundeh Kangin. E-Journal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD. 2 (1): 1-10.

Sugiyanto. 2010. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Pustaka.

Sugiyono, (2014: Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sjukur, Sulihin B. 2012. Pengaruh Blended Learning Terhadap Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar Siswa Tingkat SMK. Journal Pendidikan Vokasi. 2 (3): 368-378

Sulistyorini, Sri. 2007. Model Pembelajaran IPA Sekolah Dasar. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Supriyati & Mawardi. 2015. Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dan Inquiry. Scholaria. 5 (2): 80-96.

Trianto, 2007. Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Trianto.2010.Model Pembelajaran Terpadu: Konsep Strategi Dan Implementasinya Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Jakarta: Bumi Aksara.

Widayanti, Eka Rizki & Slameto. 2016. Pengaruh Penerapan Metode Teams Games Tournament Berbantuan Permainan Dadu Terhadap Hasil Belajar IPA. Scholaria. 6 (3): 182-195.

Yunita ,A.A.Ayu Nevi Yuli, Ni Nyoman Ganing, I Wayan Rinda Suardika. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Berbantuan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SDN 21 Dauh Puri. E-Journal MIMBAR PGSD. 2 (1): 126-138.