MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA

MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CONTECTUAL TEACHING

AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS III

 

Dwi Sindra Apriska

Y. Haris Nusarastriya

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model Contextual Teaching And Learning (CTL) dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri Watu Agung 01 Tuntang Kabupaten Semarang. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tes, non tes, dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas 3 SD Negeri Watu Agung 01 Tuntang Kabupaten Semarang setelah menggunakan model pembelajaran CTL. Hal ini dilihat dari hasil perbandingan antar siklus yakni skor rata-rata pada kondisi pra siklus sebesar 61,5, siklus I meningkat menjadi 72,5 dan pada siklus ke II meningkat menjadi 85. Adapun ketuntasan belajar klasikal pada pra siklus 45%, siklus I meningkat menjadi 75%, dan pada siklus II meningkat menjadi 90%. Skor terendah pada pra siklus sebesar 40, pada siklus I meningkat menjadi 50 dan pada siklus II meningkat menjadi 100 dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 67. Dengan demikian menunjukkan bahwa melalui model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SD Negeri Watu Agung 01 Tuntang Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2016/2017.

Kata kunci: Model Pembelajaran CTL, hasil belajar IPA.

 

PENDAHULUAN

IPA adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Hal ini mampu sejalan dengan kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006) bahwa “IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secra sistematis, sehingga bukan hanya penugasan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta,konsep atau prinsip saja tetapi juga merupakan proses suatu penemuan”. Maka dari itu, dalam proses pembelajaran IPA diharpkan dapat menciptakan pembelajaran yang empirik dan faktual. Dengan ini harapan untuk peserta didik bukan hanya mengerti apa yang ia pelajari melainkan juga memahaminya sehingga mampu menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuai kurikulum KTSP lingkup materi IPA yang diajarkan di SD antara lain: (1) makhluk hidup dan proses kehidupannya, yaitu mnusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan,sera kesehatan. (2) benda atau materi, sifat-sifat serta kegunaanya meliputi: cair, padat, dangas.(3) energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya, dan pesawat sederhana. (4) bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya dan benda-benda langit lainnya. Untuk dapatmemahami materi-materi tersebut perlu diciptakan kondisi pembelajaran IPA di SD yang dapat mendorong peserta didik untuk aktif dan ingin tahu. Maka dari itu,diperlukannya strategi pembelajaran yang baik didalam kegiatan belajar mengajar. Ada banyak faktor yan dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran, diantaranya adalah pendidik, pesertadidik, tujuan, materi, metode, dan evaluasi.

Pembelajaran IPA sering dihadapkan pada masalah dimana peserta didik tidak dapat memahami materi yang telah dipelajari sebelumnya. Akibatnya,tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan tidak dapat tercapai secara maksimal. Hal ini terbukti dari pengamatan yang telah dilakukan penulis dikelas (observasi) peserta didik kelas 3 SD Negeri 01 Watu Agung Tuntang saat pembelajaran IPA. Dari hasil ulangan tersebut didapat dari 20 peserta didik hanya 9 anak yang mendapatkan nilai diatas KKM yaitu 67. Sedangkan sisanya 11 peserta didik mendapatkan nilai dibawah KKM yaitu 67 dan dinyatakan belum tuntas. Dengan demikian,hal tersebut akan mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran pada materi selanjutnya.

Berdasarkan latar belakang masalah peneliti tertarik mengadakan Penelitian Tinddakan Kelas judul: “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Contextual Teachig And Learning (CTL) Pada Siswa Kelas III SDN Negeri Watu Agung 01 Tuntang Kabupaten Srmarang Tahun Pelajaran 2016/2017.”

BAHAN DAN METODE

Hasil Belajar

Menurut Gagne & Briggs (Suprihatiningrum, 2013:37) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa. Hamalik (2013: 30) mendefinisikan bahwa hasil belajar bukan merupakan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. Bukti bahwa seorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar, karena dapat menjadi petunjuk untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan seorang soswa dalam kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan dengan melihat perubahan tingkah laku secara keseluruhan.

Metode

Pembelajaran dalam dunia pendidikan bertujuan untuk membuat siswa agar lebih pandai dan memiliki kreativitas yang dapat digunakan sebagai bekal setelah selesai menenmpuh jenjang pendidikan.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode berarti cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki (KBBI edisi keempat, h. 910).

Cara seorang guru menyajikan suatu pembelajaran supaya dapat diterima siswa dengan mudah sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran disebut dengan metode mengajar. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rahyubi (2012: 236) bahwa metode adalah suatu cara yang dapat dilakukan untuk menggelar aktivitas belajar mengajar agar berjalan dengan baik.

Mendukung pendapat tersebut , Darmadi (2010: 42) berpendapat bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.

Berdasarkan beberpa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode merupakan suatu cara sistematis yang digunakan untuk menunjang proses pembelajaran guna mewujudkan tujuan pembelajaran yag akan dicapai.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tes, non tes, dan observasi. Sebelum isntrumen diugunakan, peneliti melakukan uji validasi dan reliabilitas instrument penelitian. Uji validasi dilakukan bertujuan untuk menguji butir instrument tersebut sudah valid untuk mengukur indikatornya.

Uji validitas ini menggunakan program SPSS 16.0 for windows. Penerapan butir soal yang valid kemudian digunakan sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono (2011:373) taraf signifikan 5% dilihat dari jumlah siswa (responden). Semakin banyak jumlah siswa, semakin rendah taraf signifikannya. Dari 30 soal instrument hasil belajar diperoleh 15 soal yang memiliki koefisien korelasi diatas 0,05 dan mewakilkan setiap indicator yang ingin dicapai.

Uji reliabilitas berujuan untuk mengetahui pengukuran yang dilakukan dalam penelitian ini dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Instrument dikatakan Menurut Naniek, dkk (2012: 346) “semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1), makin tinggi pula keajegan/ ketepatannya”. Berdasarkan hasil uji instrument aktivitas belajar diketahui bahwa nilai Cronbach’s Alpha (r) sebesar 0.844, maka instrument tersebut dinyatakan sangat reliable sehingga instrument hasil belajar dinyatakan valid.

Metode Contextual Teaching And Learning (CTL)

Menurut Suprijono (2009:79-80) Contextual Teaching And Learning (CTL) merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasu dunia nyata dan menorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan merekan sebagaianggota keluarga dan masyarakat. Sedangkan menurut Johnson(2010:67) mendefinisikan bahwa pengertian pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut: “Contextual Teaching And Learning (CTL) atau disebut sebut sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka,yaitu dengan konteks keadaan pribadi,sosial,dan budaya mereka.

Dari beberapa pendapat tersebut,dapat disimpulkan bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkan materi tersebut didalam kehidupan sehari-hari mereka. Menurut Trianto (2010:111) langkah-langkah Contextual Teaching And Learning (CTL) dalam kelas secara garis besar adalah sebagai berikut: 1)Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara kerja sendiri,menemukan sendiri,pengetahuan dan keterampialn barunya, 2)Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik, 3)Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya, 4)Ciptakan belajar secara berkelompok sehingga terbentu “masyarakat belajar”, 5)Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, 6)Melakukan refleksi pada setiap akhir pertemuan, 7)Lakukan penilain yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Kelebihan metode CTL yakni sebagai berikut: 1)pembelajaran menjadi lebih bermakna dan lebih nyata. Siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalama belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting bagi siswa sebab materi dapat dikaitan dengan kehidupan nyata, 2)Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme,yang dimana siswa dituntut u tuk menemukan pengetahuannya sendiri, 3)Kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, 4)Kelas didalam pembelajaran kontekstual bukan sebagai tempat utu memperoleh informasi,akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan merekan di lapangan, 5)Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa,bukan hasil pemberian dari guru, 6)Penerapan pembelajarn CTL dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna.

Kekurangan metode CTL sebagai berikut: 1)diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran kontekstual berlangsung, 2)jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif, 3)Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam dalam metode CTL,guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi, 4)Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa unuk menyadari strategi-strategi belajar mereka sendiri.

Metode Ceramah

Menurut Sanjaya (2014: 147) metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa.

Jacobsen (dalam Yamin, 2013: 151) metode ceramah merupakan metode pengajaran yang cukup paradoksal. Namun demikian, ceramah merupakan metode yang paling banyak mendapatkan kritikan dibandingkan dengan metode-metode pembelajaran lainnya, namun metode ceramah menjadi metode yang sering digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran.

Menurut Sannjaya (2014: 148) bahwa kelebihan metode ceramah yaitu sebagai berikut: 1) Ceramah merupakan metode yang murah dan mudah untuk dilakukan 2)Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. 3) Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. 4) Melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas, oleh karena sepenuhnya kelas merupakan tanggung jawab guru memberikan ceramah. 5)Organisasi kelas dengan menggunankan metode ceramah dapat menjadi lebih sederhana.

Menurut Masitoh (2009: 159) kekurangan metode ceramah diantaranya yaitu: 1) Siswa dapat menjadi jenuh terutama kalau guru tidak pandai menjelaskan. 2) Dapat menimbulkan verbalisme pada siswa 3) Materi ceramah terbatas pada yang diingat guru. 4) Bagi siswa yang keterampilan mendengarnya kurang akan dirugikan. 5) Siswa dijejali dengan konsep yang belum tentu dapat diingat. 6) Informasi yang disampaikan mudah using dan ketinggalan zaman. 7) Tidak merangsang berkembangnya kreatifitas siswa 8) Terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru kepada siswa.

 

UJI VALIDITAS dan RELIABILITAS

Uji Validitas Tes

Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan sesuai instrumen. Sebuah instrument dinyatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto 2006:168).

Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang dinilai (Nana Sudjana, 2010).

Uji coba soal evaluasi siklus 1 dan siklus 2 dilaksanakan pada bulan Maret 2017 di SD Negeri Watu Agung 01 Tuntang Kabupaten Semarang. Instrumens soal evaluasi siklus 1 dan siklus 2 berjumlah 30 butir dan jumlah peserta didik 20. Dari hasil test uji coba instrument soal evaluasi siklus 1 dan siklus 2 yang dialaksanakan di kelas III SD Negeri Watu Agung 01 Tuntang Kabupaten Semarang tersebut maka dapat diukur ke validitasnya menggunakan SPSS 16 for windows dengan menggunakan Coreected Item-Total Correlation yang merupakan korlasi antar skor item dengan total skor item. Untuk menguji item intrument soal evaluasi siklus 1 dan siklus 2 diambil berdasarkan keputusan variable menggunakan r Product Moment. Taraf signifikan 5% dilihat dari jumlah jumlah siswa (responden) (Sugiyono 2011:373). Semakin banyak jumlah peserta didik maka semakin rendah tarah signifikannya. Uji soal evaluasi siklus 1 dan siklus 2 terhadap 20 peserta didik maka taraf signifikannya >0.4044 maka instrument dikatakan valid, sedangkan <0.4044 maka instrument dikatakan tidak valid. Pada soal evaluasi siklus 1 dan 2 yang terdiri dari 30 soal yang valid adalah 16 butir soal sedangkan yang tidak valid sebanyak 14 butir, hanya 15 butir soal yang valid dijadikan soal evaluasi siklus 1. Pada soal evaluasi siklus 2 soal yang valid adalah 17 butir soal sedangkan yang tidak valid sebanyak 13 butir, hanya 15 butir soal yang valid dijadikan soal evaluasi siklus 2.

Uji Reliabilitas

Realibilitas adalah konsistensi skor, dan stabilitas data dari instrumen penelitian (Fraenkel 1993:146) sedangkan menurut Sugiyono (2007:364) realibiltas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan.

Pengujian realibilitas menggunakan progam SPSS 16 for windows. Reliabilitas instrument menggunakan kriteria yang menunjukkan derajat relabilitas instrument sebagai berikut

Indeks

Interpretasi

r ≤ 0.2

reliabilitas sangat rendah

0.2 < r ≤ 0.40

reliabilitas rendah

0.40 < r ≤ 0.60

reliabilitas sedang

0.60 < r ≤ 0.80

reliabilitas tinggi

0.80 < r ≤ 1.00

reliabilitas sangat tinggi

 

Menurut Naniek, dkk (2012: 346) “semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1), semakin tinggi pula keajegan/ketepatannya”. Berdasarkan uraian diatas, suatu instrumen dikatakan reliable memiliki rentang indeks > 0,60. Hasil uji reliabilitas instrument siklus 1 dan siklus 2 menujukan indeks.886 pada siklus 1 dan.887 pada siklus 2 yang menujukkan memiliki tingkat reliabilitas sangat tinggi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Pra Siklus

Berdasarkan tabel destribusi skor IPA kondisi Pra Siklus, data hasil pra siklus menunjukkan sebagian besar perserta didik belum mancapai kentutasan belajar. Peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar dengan KKM ≥67 hanya sebanyak 9 peserta didik atau sebesar 45% sedangkan peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar sebanyak 11 pseserta didik atau sebesar 55%, dengan ketercapaian nilali tertinggi adalah 75 sedangkan nilai terendah 40.

Skor hasil pra siklus ini disebabkan karena saat mengajar pembelajaran IPA, guru masih menggunakan model konvensional, dimana metode ceramah masih mendominasi saat proses kegiatan pembelajaran. Penyampaian materi masih cenderung membuat anak untuk menghafal, sehingga membuat pembelajaran menjadi kurang menarik bagi siswa yang berakibat bosan, tidak aktif, kurang memperhatikan saat pelajaran, dan malas mengerjakan tugas yang diberikan guru pada saat pembelajaran. Maka peneliti mengambil Penelitian Tindakan Kelas pada siklus 1.

Deskripsi Hasil Siklus 1

Berdasarkan destribusi skor IPA kondisi Siklus 1, data hasil uji tes siklus 1 menunjukkan sebagian besar perserta didik mancapai kentutasan belajar dan ada beberapa peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar. Peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar dengan KKM ≥67 sebanyak 15 peserta didik atau sebesar 75% sedangkan peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar hanya sebanyak 5 pseserta didik atau sebesar 25%, dengan ketercapaian nilali tertinggi adalah 95 sedangkan nilai terendah 50.

Berdasarkan data diatas menunjukkan perbandingan dari hasil pembelajaran IPA saat pra siklus yang hanya mencapai ketuntasan belajar dengan KKM ≥67 hanya 45% sedangkan pserta didik yang belum memenuhi kriteria ketuntasan belajar sebanyak 55%, setelah melakukan perbaikan belajar pada siklus 1 yang mencapai ketuntasan belajar dengan KKM ≥67 sebanyak 75% sedangkan yang belum tuntas sebanyak 25%.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama proses pembelajaran tindakan siklus 1 di kelas III SD Negeri Watuagung 01 Kabupaten Semarang prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik diketahui nilai yang dicapai: nilai terendah 50, nilai tertinggi 95. Dengan demikian dapat disimpulkan perbaikan pembelajaran yang dilakukan di siklus 1 dengan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) sudah ada kemajuan, tetapi belum dapat muntaskan semua hasil belajar peserta didik. Karena itu, di rencanakan perbaikan pembelajaran siklus 2.

Deskripsi Hasil Siklus 2

Berdasarkan destribusi skor IPA kondisi Siklus 2, data hasil uji soal siklus 2 menunjukkan seluruh perserta didik mancapai kentutasan belajar. Peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar dengan KKM ≥67 sebanyak 18 peserta didik atau sebesar 90% sedangkan peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar ada 2 peserta didik atau sebesar 10%, dengan ketercapaian nilali tertinggi adalah 100 sedangkan nilai terendah 65.

Berdasarkan data diatas menunjukkan perbandingan dari hasil pembelajaran IPA saat siklus 1 yang mencapai ketuntasan belajar dengan KKM ≥67 sebanyak 75% dan yang belum mencapai ketuntasan belajar sebanyak 25%, sedangkan pada siklus 2 peserta didik yang memenuhi kriteria ketuntasan belajar sebanyak 90% dan yang tidak tuntas 10%.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama proses pembelajaran tindakan siklus 2 di kelas III SD Negeri Watuagung 01 Kabupaten Semarang prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik diketahui nilai yang dicapai: nilai terendah 65, nilai tertinggi 100. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebanyak 18 peserta didik yang melakukan perbaikan pembelajaran di siklus 2 dengan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) sudah mencapai KKM dan peserta didik 90% tuntas dalam melakukan perbaikan belajar.

Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan data hasil pada pra siklus, siklus 1, dan siklus 2 diatas menunjukkan peningkatan dari pra siklus yang tuntas hanya 9 peserta didik atau 55% dan yang tidak tuntas sebanyak 11 peserta didik atau 55% dengan nilai tertinggi 75 dan terendah 40. Pada siklus 1 hasil belajar siswa mengalami peningkatan terlihat pserta didik yang tuntas sebanyak 15 atau 75% dan yang belum tuntas hanya 5 peserta didik atau 25% dengan nilai tertinggi 95 dan terendah dengan nilai 50, sedangkan pada siklus 2 mengalami peningkatan hasil belajar yang signifikan yaitu dimana peserta didik tuntas 18 peserta didik atau 90% dan yang tidak tuntas 2 peserta didik atau 10% dengan nilai tertinggi 100 dan terendah 65. Tujuan penelitian yang dicapai selama ini dilaksanakan sudah tercapai dilihat dari persentase ketuntasan mencapai 90% yang melebihi dari 85% oleh karena itu, proses perbaikan pembelajaran dianggap selesai.

Kesimpulan

Berdasarkan dari penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di SD Negeri Watu Agung 01 Kabupaten Semarang dapat disimpulkan yaitu sebelum menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) pada saat pra siklus dari 20 peserta didik terdapat 11 peserta atau 55% yang belum mencapai KKM atau belum tuntas, sedangkan hanya 9 peserta didik yang sudah tuntas atau 45%. Kemudian setelah melaksanakan perbaikan belajar untuk meningkatkan hasil belajar pada siklus 1 peserta didik yang belum tuntas hanya 5 peserta didik atau 25%, sedangkan pserta didik yang tutas diatas KKM sebanyak 15 pserta didik atau 75%. Pada siklus 2 semua pserta didik berhasil mendapatkan nilai di atas KKM, brati pada siklus 2 ini yang belum tuntas hanya 2 peserta didik atau 10%, sedangkan peserta didik yang tuntas 18 peserta didik atau 90%. Dari analisis data pra siklus sampai siklus 2 telah terbukti bahwa model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di kelas III SD Negeri Watuagung 01 Semester 2 Tahun Pelajaran 2016/2017.

Saran

Dari kesimpulan diatas beberapa saran ditujukkan:a)Bagi Guru memiliki peserta didik yang mepunyai karakteristik yang berbeda-beda hendaknya guru mencari cara atau strategi tepat dalam pembelajaran sehingga peserta didik semangat dan termotivasi untuk belajar dan dapat meningkatkan prestasi siswa sehingga tujuan pembelajaran tercapai dengan sangat baik.b)Bagi Sekolah setelah melakukan penelitian, peneliti berharap sekolah dapat mengembangkan pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) untuk mata pelajaran lainnya dan dapat meningkatkan hasil pembelajaran peserta didik.c)Bagi peserta didik SD Negeri Watu Agung 01 Kabupaten Semarang diharapkan setelah diadakan penelitian tentang model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) peserta didik diharapkan mampu mengembangkan diri dalam menyampaikan pendapat, bekerja kelompok, berdiskusi, dan aktif. Diharapkan juga untuk terus belajar untuk menggapai cita-citanya.d)Bagi peneliti yanga akan melakukan penelitian menggunakan model pembelajaran model Contextual Teaching And Learning (CTL) diharapkan memperhatikan karateristik setiap peserta didik saat penelitian agar peserta didik tidak merasa bingung saat pembelajaran berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi    AksarDimyati dan Mudjiono. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Gunarso, S. D. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Khoriyah, Mutik Atul. 2011. “Penerapan Model Contextual Teaching            And Learning (CTL) untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Siswa Kelas III E MIN           Malang1”.Malang. Skripsi Jurusan            Kependidikan Sekolah Dasar       dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negri Malang.    

Naniek Sulistya Wardani, M. P. (2012). Asesmen Pembelajaran SD. Salatiga: Widya Sari Press Salatiga.

Priyanto. 2010. Metode Perhitungan Penelitian Tindakan Kelas Kuantitatif. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional

Rusman. 2013. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta:

Sapriati A, dkk. 2008. Pembelajaran IPA di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto. 2015. Metodologi Penelitian & Inovasi Pendidikan. Salatiga: Satya Wacana University Press.

Sudjana, D. N. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Wardani, Naniek Sulistya. 2010. Pengembangan model pembelajaran aktif (Hasil Penelitian). Salatiga: Widya Sari Press

Winkel, WS (2007). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia