PENERAPAN MODEL VISUALIZATION, AUDITORY, KINESTETHIC (VAK) DENGAN MULTIMEDIA DALAM PENINGKATAN

KETERAMPILAN MENYIMAK CERITA PADA SISWA KELAS V

Etika Kusumawarti1,

Tri Saptuti Susiani2,

Suhartono3

1 Mahasiswa, 2, 3 Dosen PGSD FKIP UNS

Program Studi S1 PGSD Kebumen, FKIP, Universitas Sebelas Maret

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model visualization, auditory, kinestethic (VAK) dengan multimedia, (2) meningkatkan keterampilan menyimak cerita pada siswa, serta (3) mendeskripsikan kendala dan solusi penerapan model VAK dengan multimedia dalam peningkatan keterampilan menyimak cerita pada siswa. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan secara kolaboratif dan berlangsung selama tiga siklus yang dilakukan di SD Negeri 2 Kutosari dengan jumlah siswa sebanyak 43. Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan langkah-langkah model VAK dengan multimedia yaitu (1) persiapan, penyampaian, pelatihan, penampilan hasil; (2) hasil ketuntasan siswa dalam keterampilan menyimak cerita pada siklus I mencapai 30.24%, pada siklus II meningkat menjadi 62.79%, dan pada siklus III meningkat menjadi 86.05%; (3) kendala pada penelitian ini yaitu: (a) siswa belum percaya diri dalam bertanya; (b) kegiatan bermain peran belum kondusif; dan (c) tidak semua siswa berkesempatan untuk bermain peran; solusi dari kendala tersebut yaitu (a) pemberian motivasi pad siswa; (b) bimbingan dan pemberian pesan moral saat diskusi dan bermain peran, dan pemberian pengertian pada siswa. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan model VAK dengan multimedia dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita pada siswa.

Kata Kunci: VAK, multimedia, keterampilan menyimak cerita

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu investasi sumber daya manusia yang memiliki nilai penting bagi kelanjutan kehidupan manusia di dunia. Hal itu menunjukkan bahwa kualitas pendidikan menjadi salah satu tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Tujuan pendidikan nasional memiliki makna bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa agar menjadi manusiayang berakhlak mulia dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Untuk mencapai hal tersebut perlu adanya pembelajaran yang dikemas dengan baik dan berorientasi pada siswa. Dalam pembelajaran, siswa dituntut untuk menguasai keterampilan yang ada, salah satunya yaitu keterampilan menyimak pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menyimak menurut Tarigan (2008: 31) merupakan proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh pemahaman untuk memperoleh informasi, menangkap pesan, serta memahami makna komunikasi yang disampaikan melalui bahasa lisan. Siswa yang memiliki kemampuan menyimak yang baik akan mampu mengolah informasi yang ada. Hal tersebut sesuai dengan tujuan menyimak menurut Tarigan (2008: 59) yang menyatakan bawa menyimak untuk mengumpulkan data agar seseorang dapat membuat keputusan-keputusan yang masuk akal. Untuk melatih kemampuan siswa dalam menyimak dapat dilakukan melalui proses pembelajaran.

Pembelajaran yang bermakna dan efektif sangat tergantung pada siswa, kualitas guru, dan materi pelajaran yang disampaikan. Suasana pembelajaran yang efektif dan bermakna akan tercipta apabila guru mengemas pembelajaran dengan model maupun media yang inovatif, menyenangkan, dan berorientasi pada siswa. Maka dari itu, guru sebaiknya mampu memilih model dan yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa supaya siswa aktif dan antusias dalam pembelajaran. Apabila siswa aktif dan antusias dalam pembelajaran, maka akan tercipta pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

Berkaitan dengan pembelajaran, banyak masalah yang dialami guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya tentang keterampilan menyimak , guru belum menggunakan model dan media yang berorientasi pada siswa. Proses pembelajaran yang berlangsung masih menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Hal tersebut berakibat pada keaktifan dan sikap antusias siswa dalam pembelajaran. Kondisi seperti itu yang saat ini dialami oleh siswa SD Negeri 2 Kutosari. Siswa di SD tersebut juga sulit diatur dan kurang memperhatikan guru saat proses pembelajaran berlangsung. Akibatnya, hasil nilai UTS I pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kurang memuaskan. Siswa yang belum tuntas mencapai 48.83% atau sebanyak 21 siswa belum mampu menguasai materi dengan baik. Menyikapi masalah di atas, peneliti mencoba untuk memberikan solusi dengan menerapkan model visualization, auditory, kinestethic (VAK) dengan multimedia untuk meningkatkan keterampilan menyimak pada siswa.

Model VAK menurut Shoimin (2014: 226) merupakan model pembelajaran yang mengoptimalkan tiga modalitas belajar, yaitu belajar dengan mengingat (visualization), belajar dengan mendengar (auditory), dan belajar dengan gerak atau emosi (kinestethic). Langkah-langkah penerapan model VAK adalah (1) persiapan; (2) penyampaian; (3) pelatihan; dan (4) penampilan hasil. Langkah-langkah yang digunakan oleh peneliti mengacu pada langkah-langkah yang dikemukakan oleh Shoimin (2014: 227-228). Selain menurut Shoimin, peneliti juga mengacu pada langkah-langkah yang dikemukakan oleh Hyuanita (2014: 4) dan Rose & Nicholl (2012: 145) yang kemudian disimpulkan oleh menjadi empat langkah seperti yang sudah disebutkan di atas. Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahmudah (2016). Pada penelitian yang dilakukan oleh Mahmudah, langkah-langkah yang diterapkan yaitu (1) persiapan dengan multimedia; (2) penyampaian dengan multimedia; (3) pelatihan dengan multimedia; dan (4) penampilan hasil dengan multimedia.

Model VAK memfasilitasi siswa dengan memberikan kebebasan pada siswa untuk menggunakan gaya belajar sesuai dengan karakteristik siswa yang berbeda-beda. Karakteristik siswa kelas V SD sesuai dengan pendapat Piaget adalah bahwa siswa pada usia 7-11 tahun berada pada tahap operasional konkret (Desmita, 2009: 101-104). Pada tahap ini, rasa ingin tahu siswa kuat dan fungsi ingatan, imajinasi, dan pikirannya mulai berkembang. Untuk meningkatkan keterampilan menyimak cerita pada siswa, peneliti memadukan model VAK dengan multimedia. Menurut Anitah (2010: 60) multimedia dapat diartikan sebagai berbagai jenis media yang digunakan secara berurutan untuk menyajikan suatu informasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan multimedia berupa power point atau media presentasi, video pembelajaran, dan bermain peran yang termasuk dalam multimedia interaktif.

Dari uraian di atas, dapat dirumusakan masalah pada penelitian ini yaitu: (1) bagaimana langkah-langkah penerapan model visualization, auditory, kinesthetic (VAK) dengan multimedia dalam peningkatan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN 2 Kutosari tahun ajaran 2016/2017?; (2) apakah penerapan model visualization, auditory, kinesthetic (VAK) dengan multimedia dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN 2 Kutosari tahun ajaran 2016/2017?; dan (3) apakah kendala dan solusi penerapan model visualization, auditory, kinesthetic (VAK) dengan multimedia dalam peningkatan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN 2 Kutosari tahun ajaran 2016/2017?

Tujuan penelitian ini yaitu: (1) mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model visualization, auditory, kinesthetic (VAK) dengan multimedia dalam peningkatan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN 2 Kutosari tahun ajaran 2016/2017; (2) meningkatkan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN 2 Kutosari tahun ajaran 2016/2017 dengan menerapkan model visualization, auditory, kinesthetic (VAK) dengan multimedia; dan (3) mendeskripsikan kendala dan solusi penerapan visualization, auditory, kinesthetic (VAK) dengan multimedia dalam peningkatan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V SDN 2 Kutosari tahun ajaran 2016/2017.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di SD negeri 2 Kutosari yang berlokasi di Jl. Pahlawan No. 207, Kelurahan Kutosari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen pada tahun ajaran 2016/2017. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas V di SD tersebut dengan jumlah siswa 43 yang terdiri dari 25 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif dengan guru kelas, dimana guru kelas sebagai pelaksana tindakan dan peneliti sebagai observer dengan dibantu oleh teman sejawat.

Alat pengumpulan data pada penelitian ini berupa instrumen tes yaitu lembar evaluasi dan instrumen non tes berupa lembar observasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Lembar observasi digunakan untuk mengamati kegiatan guru dan siswa dalam pembelajaran, sedangkan wawancara dan dokumentasi digunakan untuk memperkuat data pada penelitian ini. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis data kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif dalam penelitian ini menurut Miles dan Huberman (Sugiyono, 2015: 337-345) meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Data yang diperoleh pada penelitian ini akan diuji kevalidannya dengan teknik triangulasi. Triangulasi adalah suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya kebenarannya dengan menggunakan berbagai metode sehingga peneliti tidak salah dalam mengambil keputusan (Sanjaya, 2009: 112). Triangulasi yang digunakan yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dalam penelitian ini menggabungkan data dari observer, guru kelas, dan siswa, sedangkan triangulasi teknik yaitu menggabungkan data yang diperoleh dari teknik tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Indikator kinerja yang ditentukan yaitu pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan model VAK dengan multimedia dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang keterampilan menyimak cerita mencapai 85% dan respon siswa terhadap penerapan model VAK dengan multimedia mencapai 85% yang diukur melalui lembar observasi. Keterampilan menyimak juga ditargetkan mencapai 85% dengan KKM 75 yang diukur melalui hasil evaluasi.

Penelitian ini dilaksanaan dalam tiga siklus yang terdiri dari dua pertemuan pada tiap siklusnya. Sesuai dengan pendapat Arikunto (2013: 137-140), prosedur penelitian dalam PTK kolaboratif meliputi empat tahap yaitu (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian dilakukan dengan langkah awal membuat skenario dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disesuaikan dengan kurikulum di sekolah. Pelaksanaan penelitian dilakukan di bulan Februari sampai dengan bulan Maret tahun 2017.

Analisis proses pembelajaran yang menerapkan model VAK dengan multimedia terhadap guru pada siklus I, II, dan III dapat dilihat pada diagram berikut.

Jika dilihat dari diagram di atas, penerapan model VAK dengan multimedia melalui langkah persiapan, penyampaian, pelatihan, dan penampilan hasil setiap siklus selalu mengalami peningkatan. Berdasarkan tabel di atas, hasil yang diperoleh pada siklus I yaitu 74.48%, pada siklus II 84.98%, dan pada siklus III 89.76%.

Pada langkah persiapan di siklus I, guru belum menyiapkan pembelajaran dan perangkat multimedia dengan maksimal, serta guru belum memulai pembelajaran tepat waktu. Pada siklus II guru sudah menyiapkan pembelajaran dengan baik, namun masih terdapat kendala dalam perangkat multimedia yang akan digunakan. Pada siklus III, guru sudah menyiapkan pembelajaran dan perangkat multimedia dengan maksimal.

Pada langkah penyampaian di siklus I, saat guru menyampaikan materi melalui power point dan video pembelajaran, guru belum mengaktifkan siswa. Pada siklus II, guru sudah menyampaikan materi dengan bahasa yang jelas, namun belum maksimal dalam menggunakan multimedia. Selain itu, guru juga mulai mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Pada siklus III, guru sudah menyampaikan materi dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Guru juga sudah mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.

Pada langkah pelatihan di siklus I, guru belum membimbing siswa dalam berdiskusi. Guru juga belum menyampaikan petunjuk dalam bermain peran dan belum membimbing siswa dalam berlatih bermain peran. Pada siklus II, guru sudah membimbing diskusi dan berlatih bermain peran, namun guru belum menyampaikan petunjuk bermain peran dengan jelas. Pada siklus III, guru sudah maksimal dalam membimbing kegiatan diskusi dan berlatih bermain peran. Guru juga sudah menyampaikan petunjuk dalam bermain peran dengan bahasa yang jelas.

Pada langkah penampilan hasil di siklus I, guru sudah membimbing kegiatan presentasi, namun guru belum membimbing siswa dalam menanggapi presentasi. Guru belum maksimal membimbing siswa dalam bermain peran. Guru juga belum membimbing siswa dalam menyimpulkan materi. Pada siklus II, guru membimbing kegiatan presentasi dengan baik meskipun belum maksimal. Guru juga sudah membimbing siswa dalam bermain peran. Guru belum membimbing siswa membuat kesimpulan pada siklus II pertemuan pertama, namun guru sudah membimbing siswa dalam membuat kesimpulan materi pada siklus II pertemuan kedua. Pada siklus III, guru membimbing kegiatan presentasi, tanggapan presentasi, bermain peran, dan membuat kesimpulan materi dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.

Selain menganalisis proses pembelajaran terhadap guru, juga menganalisis proses pembelajaran yang menerapkan model VAK dengan multimedia terhadap siswa pada siklus I, II, dan III. Berikut hasil analisis perbandingan antara siklus I, II, dan III.

Berdasarkan diagram di atas, diketahui bahwa proses pembelajaran di siklus I, II, dan III selalu mengalami peningkatan. Hasil yang diperoleh pada siklus I yaitu 62.67%, pada siklus II 78.39%, dan pada siklus III 86.20%.

Pada langkah persiapan di siklus I, siswa belum maksimal dalam menyiapkan pembelajaran dan memulai pembelajaran tidak tepat waktu. Pada siklus II, siswa sudah menyiapkan pembelajaran dan tepat waktu dalam memulai pembelajaran. Pada siklus III persiapan siswa dalam pembelajaran sudah baik dan lancar.

Pada langkah penyampaian di siklus I, siswa masih pasif dalam pembelajaran. Pada siklus II, siswa mulai percaya diri dalam mengajukan pertanyaan seputar materi yang belum dipahami. Pada siklus III, siswa sudah aktif dalam pembelajaran. Siswa juga sudah mencatat hal-hal penting dalam pembelajaran.

Pada langkah pelatihan di siklus I, siswa masih pasif dalam berdiskusi. Siswa juga belum berlatih bermain peran. Pada siklus II, siswa sudah berdiskusi dan berlatih bermain peran meskipun belum maksimal. Pada siklus III, siswa berdiskusi dengan penuh tanggung jawab, siswa juga sudah berlatih bermain peran dengan tertib.

Pada langkah penampilan hasil di siklus I, siswa belum percaya diri dalam mempresentasikan hasil diskusi dan bermain peran. Pada siklus II, siswa belum berani menanggapi hasil presentasi. Siswa sudah berani bermain peran tanpa naskah. Pada siklus III, siswa sudah melaksanakan presentasi dan menanggapi hasil presentasi dengan percaya diri. Siswa juga sudah bermain peran dengan percaya diri dan penuh ekspresi.

Hasil keterampilan menyimak cerita siswa juga diukur melalui evaluasi yang dilaksanakan di akhir setiap pertemuan. Hasil keterampilan menyimak cerita setiap pertemuan berbeda-beda. Berikut perbandingan hasil keterampilan menyimak cerita pada siklus I, II, dan III.

Dari diagram di atas, dapat diketahui bahwa ketuntasan hasil keterampilan menyimak cerita siswa selalu mengalami peningkatan di setiap siklus. Pada siklus I persentase siswa yang tuntas yaitu 30.24%, pada siklus II 62.79%, dan pada siklus III 86.05%. Hasil akhir pada siklus III sudah mencapai target yang ditentukan. Dari diagram juga dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang belum tuntas selalu berkurang di setiap siklus. Pada siklus I persentase siswa yang belum tuntas 69.77%, pada siklus II 37.21%, dan pada siklus III 13.95%.

Berdasarkan uraian di atas tentang analisis penerapan langkah-langkah model VAK dengan multimedia terhadap guru maupun siswa dan hasil keterampilan menyimak cerita pada siklus I, II, dan III, dapat disimpulkan bahwa baik proses pembelajaran maupun hasil keterampilan menyimak cerita pada siswa selalu pengalami peningkatan. Berikut akan disajikan diagram peningkatan serta pembahasannya.

Materi yang dibahas yaitu tentang mengidentifikasi unsur-unsur cerita. Setiap pertemuan di masing-masing siklus menggunakan cerita yang berbeda-beda. Pada siklus I pertemuan pertama cerita yang digunakan berjudul “Bawang Merah dan Bawang Putih”, sedangkan pada siklus I pertemuan kedua yaitu “Malin Kundang”. Hasil observasi terhadap guru di siklus I belum mencapai target. Hasil yang diperoleh adalah 74.48%. Hasil observasi terhadap siswa pada siklus I juga belum mencapai target. Hasil yang diperoleh yaitu 62.67%. Pada siklus I, pembelajaran sudah menerapkan model VAK dengan multimedia, namun guru belum sepenuhya melaksanakan langkah pembelajaran. terdapat beberapa langkah yang terlewatkan. Siswa juga masih pasif dan belum melaksanakan kegiatan bermain peran dengan lancar. Selain kegiatan pembelajaran di atas, hasil keterampilan siswa dalam menyimak cerita juga belum mencapai target. Hasil yang diperoleh yaitu hanya 30.24% dan tentu hasil tersebut masih jauh dari target yang ingin dicapai yaitu 85%.

Mengacu pada hasil observasi dan nilai keterampilan menyimak cerita siswa, peneliti dan guru melaksanakan kegiatan refleksi untuk mengkaji kembali kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Peneliti dan guru menemukan kendala yang dapat menghambat proses pembelajaran. Kendala yang muncul pada siklus I yaitu: (1) pembelajaran kurang efektif karena waktu pretest dan penyiapan multimedia terlalu lama; (2) siswa kurang aktif untuk bertanya, berpendapat, dan menanggapi hasil diskusi; (3) gangguan pada perangkat multimedia sehingga siswa merasa kesulitan dalam membuat naskah dialog; (4) rasa canggung dan belum percaya dirinya siswa dalam bermain peran; dan (5) hasil belajar siswa dalam meringkas cerita belum maksimal. Berdasarkan kendala tersebut, solusi yang diterapkan yaitu (1) melaksanakan pretest sehari sebelum tindakan dimulai dan menyiapkan multimedia sebelum pembelajaran dimulai; (2) pemberian motivasi oleh guru supaya siswa aktif dalam pembelajaran; (3) memilih perangkat multimedia yang berfungsi dengan baik dan mengeceknya terlebih dahulu sebelum digunakan dalam pembelajaran; (4) pemberian motivasi dan penghargaan pada siswa; dan (5) menceritakan kembali secara singkat cerita yang disimak supaya siswa lebih memahami isi cerita.

Pada siklus II pertemuan pertama, cerita yang digunakan yaitu “Danau Toba” dan pada pertemuan kedua yaitu “Timun Mas”. Hasil yang diperoleh pada observasi terhadap guru yaitu 84.98%, sedangkan hasil observasi terhadap siswa yaitu 78.39%. Meskipun terdapat peningkatan dari siklus I, namun hasil pada siklus II ini belum mencapai target. Hasil keterampilan menyimak cerita pada siswa juga belum mencapai target. Hasil yang diperoleh yaitu 62.79%. Pada siklus II sudah mulai terlihat peningkatan pada proses pembelajaran. Peneliti juga menerapkan solusi dari masalah yang muncul pada siklus I. Pada siklus II, guru sudah menggunakan multimedia dengan baik dan mudah dipahami siswa meskipun belum maksimal. Guru juga sudah membimbing siswa dalam berlatih dan memerankan tokoh. Pada siklus II, siswa mulai terlihat aktif dan percaya diri dalam bermain peran. Selain itu siswa juga sudah berani bermain peran tanpa naskah.

Masih terdapat kendala pada siklus II. Kendala yang ditemukan yaitu (1) adanya gangguan pada multimedia; (2) guru lupa menayangkan power point sehingga keadaan kelas menjadi kurang kondusif; (3) siswa belum aktif dalam pembelajaran dan kegiatan bermain peran belum maksimal karena siswa masih merasa malu; (4) kesulitan siswa dalam membuat tema; (5) masih terdapat siswa yang belum mencatat kesimpulan. Solusi yang diterapkan dari kendala tersebut yaitu (1) memilih perangkat multimedia yang masih berfungsi dengan baik; (2) koordinasi antara peneliti dan guru sebelum pembelajaran dimulai; (3) pemberian motivasi dan penghargaan kepada siswa; (4) memaksimalkan langkah penyampaian dan lebih menggali pengetahuan siswa seputar tema; dan (5) melaksanaan pengawasan saat siswa mencatat kesimpulan materi.

Pada siklus III pertemuan pertama cerita yang digunakan yaitu “Legenda Batu Menangis”, sedangkan pada pertemuan kedua yaitu “Cindelaras”. Hasil yang diperoleh terhadap observasi guru yaitu 89.76%, sedangkan hasil observasi terhadap siswa yaitu 86.20%. Hasil pada siklus III mengalami peningkatan dari siklus II dan hasil tersebut sudah mencapai indikator kinerja dalam penelitian ini, yaitu 85%. Selain kegiatan guru dan siswa, hasil keterampilan menyimak cerita pada siswa juga meningkat. Hasil yang diperoleh yaitu 86.05% dan hasil tersebut sudah mencapai target. Pada siklus III, semua langkah sudah diterapkan dengan sangat baik sesuai dengan skenario dan RPP. Guru menerapkan upaya perbaikan berdasarkan kendala yang muncul di setiap pertemuan. Siswa juga sudah aktif dalam pembelajaran. Hal tersebut dibuktikan dengan siswa yang sudah berani menanggapi kegiatan presentasi. Siswa juga sudah memerankan tokoh dengan percaya diri dan ekspresif.

Dari keseluruhan kendala yang muncul pada setiap siklus, beberapa kendala sudah dapat diatasi dengan baik. Akan tetapi masih terdapat kendala yang muncul pada siklus III. Kendala yang muncul yaitu (1) siswa kurang percaya diri dalam menyampaikan pertanyaan dan bermain peran; (2) kegiatan diskusi dan bermain peran belum berlangsung dengan kondusif; dan (3) tidak semua kelompok memiliki kesempatan untuk bermain peran.

Berdasarkan kendala yang muncul pada setiap siklus, kendala yang muncul pada penelitian ini juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh Oktifiani (2016). Dalam penelitiannya, kendala yang ditemukan yaitu siswa belum percaya diri dalam menyampaikan pertanyaan dan siswa gaduh saat kegiatan kinestethic. Kelemahan model VAK menurut Chandra (2013: 23) juga ditemukan dalam penelitian ini. Penerapan model VAK dengan multimedia membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga tidak semua siswa memiliki kesempatan untuk bermain peran. Selain itu, kekurangan bermain peran menurut Sadiman, dkk. (2014: 80-81) juga ditemukan dalam penelitian ini yaitu bermain peran hanya melibatkan beberapa siswa saja padahal keterlibatan seluruh siswa sangat penting supaya proses belajar bisa lebih efektif dan efisien.

Dari penjelasan di atas, peneliti mencoba memberikan solusi untuk mengatasi kendala yang masih muncul yaitu: (1) pemberian motivasi dan penghargaan supaya siswa lebih percaya diri; (2) pembimbingan kegiatan diskusi dan pemberian pesan moral untuk menghargai siswa lain yang sedang bermain peran; dan (3) pemberian pengertian bahwa siswa yang tampil bermain peran sudah dapat mewakili seluruh siswa di kelas. Melalui solusi di atas, peneliti berharap kendala yang muncul dapat diminimalkan dan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.

Berdasarkan penjelasan di atas tentang hasil observasi guru dan siswa, hasil keterampilan menyimak cerita pada siswa, serta kendala yang masih muncul pada siklus III, dapat disimpulkan bahwa penerapan model VAK dengan multimedia dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita pada siswa. Hasil dalam penelitian ini memperkuat pendapat Herdian (Shoimin, 2014: 266) yang menyatakan bahwa pembelajaran akan efektif apabila ketiga modalitas gaya belajar (visualization, auditory, kinestethic) dimanfaatkan dan dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki siswa. Terbukti dengan hasil keterampilan menyimak cerita pada siswa yang selalu mengalami peningkatan dengan menerapkan model yang memfasilitasi siswa dengan ketiga modalitas tersebut. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Singaravelu (2014: 55-55) yang menyatakan bahwa penggunaan multimedia lebih efektif dibandingkan dengan metode belajar yang konvensional.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Langkah-langkah penerapan model visualization, auditory, kinestethic (VAK) dengan multimedia dalam peningkatan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V SD Negeri 2 Kutosari tahun ajaran 2016/2017 yaitu: (1) persiapan; (2) penyampaian; (3) pelatihan; dan (4) penampilan hasil; (2) Penerapan model visualization, auditory, kinestethic (VAK) dengan multimedia dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V SD Negeri 2 Kutosari tahun ajaran 2016/2017. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil keterampilan menyimak cerita siswa pada setiap siklusnya. Hasil keterampilan menyimak cerita pada siklus I mencapai 30.62%, pada siklus II meningkat menjadi 62.79%, dan pada siklus III meningkat lagi menjadi 86.05%; (3) Kendala yang terdapat pada penerapan model visualization, auditory, kinestethic (VAK) dengan multimedia dalam peningkatan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V SD Negeri 2 Kutosari tahun ajaran 2016/2017 dalam penelitian ini yaitu (1) siswa kurang percaya diri dalam menyampaikan pertanyaan dan bermain peran; (2) kegiatan diskusi dan bermain peran belum berlangsung dengan kondusif; dan (3) tidak semua kelompok memiliki kesempatan untuk bermain peran. Berdasarkan kendala yang muncul, solusi yang diterapkan yaitu (1) pemberian motivasi dan penghargaan supaya siswa lebih percaya diri; (2) pembimbingan kegiatan diskusi dan pemberian pesan moral untuk menghargai siswa lain yang sedang bermain peran; dan (3) pemberian pengertian bahwa siswa yang tampil bermain peran sudah dapat mewakili seluruh siswa di kelas.

Peneliti memberikan saran sebagai berikut: (1) bagi siswa, siswa sebaiknya lebih disiplin, aktif, kreatif, dan percaya diri dalam belajar dan menyampaikan pendapat atau ide dalam proses pembelajaran untuk menambah pemahaman dan pengetahuan seputar materi yang dipelajari supaya hasil belajar dapat meningkat, serta siswa juga diharapkan mampu menerapkan pengalaman belajarnya dalam kehidupan sehari-hari; (2) bagi guru, guru sebaiknya memperhatikan langkah-langkah model VAK dengan multimedia, lebih maksimal dalam membimbing siswa untuk lebih berani dan percaya diri dalam berpendapat, serta selalu memberikan pesan moral terkait dengan kedisiplinan siswa dalam pembelajaran supaya pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal; (3) bagi sekolah, sebaiknya lebih melengkapi sarana dan prasarana yang menunjang proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia supaya hasil belajar lebih optimal dan tercipta pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna; dan (4) bagi peneliti, sebaiknya melakukan persiapan yang lebih maksimal terkait dengan penerapan model VAK dengan multimedia supaya pembelajaran dapat berlangsung dengan kondusif serta hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk memberikan informasi terkait pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model VAK dengan multimedia.

DAFTAR PUSTAKA

Anitah, S. (2010). Media Pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka.

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Chandra, A.B.Y. (2013). Penerapan Model Pembelajaran Quantum Tipe VAK dengan Media Audio Visual untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPA Kelas V.C SD Hj. Isriati Baiturrahman. Skripsi Tidak Dipublikasikan, Universitas Negeri Semarang, Semarang.

Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hyuanita, J. (2012). Model Pembelajaran Visual, Auditori, Kinestetik (VAK). Di peroleh dari http://janghyunita.blogspot.co.id/2012/10/model-pembelajaran-visual-auditori.html pada tanggal 29 Oktober 2016.

Mahmudah, N. (2016). Penerapan Model Visualization, Auditory, Kinestethic (VAK) dengan Multimedia dalam Peningkatan Hasil Belajar IPS pada Siswa Kelas IV SD Negeri Gadungrejo Tahun Ajaran 2015/2016. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Oktafiani, O. (2016). Penerapan Model Visualization Auditory Kinestethic (VAK) dengan Multimedia dalam Peningkatan Hasil Belajar IPS tentang Perkembangan Teknologi pada Siswa Kelas IV SDN 5 Kebumen Tahun Ajaran 2015/2016. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Rose, C. & Nicholl, M.J. (2012) Accelerated Learning For The 21st Century. Bandung: Nuansa

Sadiman, A., Rahardjo, Haryono, & Harjito. (2014). Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali Pers.

Sanjaya, W. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana.

Shoimin, A. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Singaravelu, G. (2014). Efficacy Of Multimedia Package In Communicative Skill In English. I-manager’s Journal on English Language Teaching. 4, (4). 50-55.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Tarigan, H.G. (2008). Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa