PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA TENTANG “IDENTIFIKASI UNSUR CERITA” MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PAIRED STORYTELLING PADA SISWA KELAS V SEMESTER 2

SD NEGERI LANJAN 02 KECAMATAN SUMOWONO

KABUPATEN SEMARANG Tahun Ajaran 2016/2017

 

Riyani

SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang

 

ABSTRAK

Tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran Bahasa Indonesia tentang “identifikasi unsur cerita” belum maksimal. Dari hasil ulangan Bahasa Indonesia ternyata hanya 6 (31,58%) dari 19 siswa Kelas V SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang yang memperoleh nilai tuntas 65. Adapun nilai rata-rata Bahasa Indonesia adalah 58,47. Untuk meningkatkan hasil belajar, guru melaksanakana penelitian tindakan kelas. Pemecahan masalah yang dilakukan guru yaitu dengan model pembelajaran Paired storytelling. Penelitian ini menggunakan jenis PTK (penelitian tindakan kelas), dilaksanakan di SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang pada bulan Februari – Maret 2017. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah: siswa Kelas V yang berjumlah 19 siswa. Hasil penelitian: (1) Penerapan model pembelajaran Paired storytelling dapat meningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia Kelas V semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Nilai hasil belajar pada Kondisi Awal rata-rata adalah 58,4. Pada Siklus I diperoleh rata-rata 65,5. Terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar 7,1. Pada siklus II hasil belajar menunjukkan rata-rata 71,3. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 5,8; (2) Penerapan model pembelajaran Paired storytelling dapat meningkatan ketuntasan belajar Bahasa Indonesia Kelas V semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Pada Kondisi Awal diperoleh ketuntasan belajar 31,58%. Pada Siklus I diperoleh ketuntasan belajar 63,16%. Terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebesar 31,58%. Pada siklus II hasil belajar menunjukkan tingkat ketuntasan 84,21%. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II dan ketuntasan belajar meningkat sebesar 21,05%. Berdasarkan indikator keberhasilan ditentukan ketuntasan belajar individu adalah 70 dan ketuntasan belajar klasikal adalah 75% maka ketuntasan dan hasil belajar siklus II ini menunjukkan ketuntasan belajar klasikal sudah tercapai

Kata kunci: hasil belajar, model pembelajaran Paired storytelling.

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis; (2) menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara; (3) memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan; (4) mengunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial; (5) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki empat keterampilan yang harus dikuasai siswa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Namun pada skripsi ini hanya akan dibahas tentang keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara menempati kedudukan yang penting karena merupakan ciri komunikatif siswa. Dikatakan demikian karena pada setiap pembelajaran siswa diharapkan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar proses pembelajaran dapat berlangsung multiarah sekaligus siswa dapat memberi informasi kepada guru jika ada materi pelajaran yang belum dipahami, namun hal ini masih jarang terjadi saat pembelajaran berlangsung.

Dalam pembelajaran di kelas guru mengajarkan Bahasa Indonesia sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar dan standar kompetensi yang telah ditentukan. Salah satu fungsi pengajar adalah penggerak terjadinya proses belajar mengajar. Sebagai penggerak, pengajar harus memenuhi beberapa kriteria yang menyatu dalam diri pengajar agar dapat menunjukan profesionalitasnya dalam membuat rancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai pada kualitas penilaiannya.

Pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tertuju pada pengembangan aspek fungsional bahasa, yaitu peningkatan kompetensi Berbahasa Indonesia. Ketika kompetensi berbahasa yang menjadi sasaran, para guru lebih berfokus pada empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Dalam Kurikulum 2004 (Depdiknas, 2004: 3) dinyatakan bahwa standar kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pemblajaran bahasa, yaitu berbahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis.

Mengacu pada penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa Pembelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun secara tertulis.

Salah satu keterampilan berbicara yang perlu dikembangkan antara lain bercerita. Kegiatan bercerita ada yang dari pengalaman pribadi atau dari suatu cerita pendek yang dibaca untuk mengetahui unsur cerita oleh siswa. Namun kemampuan bercerita tidaklah mudah, meski naskah cerpen sudah disederhanakan. Dalam survey pendahuluan, tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran “identifikasi unsur cerita” suatu cerita masih minimal. Dari hasil ulangan “identifikasi unsur cerita” Bahasa Indonesia ternyata hanya 6 orang (31,58%) dari 19 siswa Kelas V SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang yang memperoleh nilai tuntas 65. Pencapaian nilai di bawah KKM tersebut, guru melakukan perbaikan pembelajaran. Untuk itu dibutuhkan keterampilan para guru dalam menentukan dan memilih metode dan model pembelajaran.

Model pembelajaran yang dilakukan guru perlu dilakukan secara variatif agar tidak membosankan siswa. Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, guru harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.

Salah satu upaya yang dilakukan guru di Kelas V di SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang yaitu dengan cara mengimplementasikan model pembelajaran Paired storytelling. Salah satu teknik dari pembelajaran kooperatif adalah teknik mengajar Paired Storytelling adalah teknik bercerita berpasangan, yakni teknik yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar dan bahan pelajaran. Teknik ini bisa di gunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu poengetahuan sosial, agama dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif.

Metode paired storytelling (bercerita berpasangan) dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antera siswa, guru, dan bahan pengajaran. Guru yang menggunakan metode ini harus memperhatikan skemat atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pembelajaran menjadi lebih bermakna, sebagaimana tujuan paired storytelling. Dengan metoda ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi (Lia Andriani Harahap. 2017: 6).

Penelitian ini untuk mengetahui apakah model pembelajaran Paired storytelling dapat meningkatkan ketuntasan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri Lanjan 02, Sumowono, Semarang.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka agar lebih terfokus dalam menangani masalah di atas, diantaranya sebagai berikut:

1.         Apakah hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang “identifikasi unsur cerita”dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran Paired storytelling pada siswa Kelas V Semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang?

2.         Apakah ketuntasan belajar Bahasa Indonesia tentang “identifikasi unsur cerita” dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran Paired storytelling pada siswa Kelas V Semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang?Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah , maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah ;

1.       Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang “identifikasi unsur cerita” melalui model pembelajaran Paired storytelling pada siswa Kelas V Semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

2.       Meningkatkan ketuntasan belajar Bahasa Indonesia tentang “identifikasi unsur cerita” melalui model pembelajaran Paired storytelling pada siswa Kelas V Semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik ditinjau secara teoritis maupun secara praktis.

Manfaat Teoritis

a.   Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dan bahan pertimbangan bagi penelitian berikutnya.

b.   Hasil penelitian ini di harapkan dapat mengembangkan ilmu pendidikan, khususnya dalam pembentukan suasana belajar yang berbeda dengan menggunakan model pembelajaran tipe Paired storytelling.

Manfaat Praktis

a.   Bagi Siswa

1) Meningkatkan ketuntasan dan hasil belajar Bahasa Indonesia khususnya pada materi tentang “identifikasi unsur cerita”.

2) Siswa dapat meningkatkan keberanian siswa dalam mengemukakan ide, pertanyaan maupun saran.

b. Bagi Guru Mata Pelajaran

1) Guru dapat menerapkan metode pembelajaran Bahasa Indonesia dengan model pembelajaran Paired storytelling ebagai suatu alternatif yang menarik terhadap ketuntasan dan hasil belajar.

2) Dapat memotivasi untuk lebih meningkatkan keterampilan memilih metode pembelajaran yang bervariasi dan dapat memperbaiki sistem pembelajaran.

c.    Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam menambah penggetahuan dan wawasan terutama menyangkut model pembelajaran Paired storytelling.

KAJIAN TOERI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

Kajian Teori

Hasil belajar

Dalam ketuntasan belajar, dalam periode waktu tertentu dilakukan evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam menyerap pelajaran.

Menurut Gagne, hasil belajar adalah terbentuknya konsep, yaitu kategori yang kita berikan kepada stimulus yang ada di lingkungan, yang menyediakan skema-skema yang terorganisasi untuk mengasimilasi stimulus-stimulus baru dan menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori (Purwanto, 2009: 42).

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami ketuntasan belajar (Rifai dan Chatarina, 2004: 4). Aspek-aspek yang diperoleh sebagai perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang telah dipelajari.

Perubahan perilaku sebagai hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang relevan dengan tujuan pembelajaran dan sering digunakan sebagai ukuran seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang diajarkan. Menurut Gronlund dalam Purwanto (2009: 45) hasil belajar yang diukur merefleksikan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaranan yaitu tujuan yang menggambarkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Semua komponen pengajaran seperti pemilihan bahan pengajaran, kegiatan guru dan peserta didik, pemilihan sumber belajar, serta penyusunan tes bertolak dari tujuan pembelajaran, karena itu merupakan komponen yang sangat penting dalam pembelajaran.

Bloom (dalam Rifai dan Catharina, 2004: 6) mengelompokkan hasil belajar ke dalam 3 ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ketiga ranah ini menjadi obyek penilaian ketuntasan dan hasil belajar yang terdiri dari beberapa tingkatan. Ranah kognitif terdiri dari enam tingkatan yaitu: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif terdiri dari lima tingkatan yaitu: penerimaan, tanggapan, penilaian, pengorganisasian nilai, dan karakteristik nilai. Sedangkan ranah psikomotorik terdiri dari tujuh tingkatan yaitu: persepsi, kesiapan, mekanisme, respon terbimbing, kemahiran, adaptasi, dan keaslian.

Hasil belajar merefleksikan keleluasaan, kedalaman, dan kompleksitas dan digambarkan secara jelas serta dapat di ukur dengan teknik-teknik penilaian tertentu (Sugandi, 2004: 63).

Hasil belajar kognitif berupa perubahan dalam aspek kemampuan berpikir. Hasil belajar afektif berupa perubahan dalam aspek kemampuan merasakan. Sedangkan ketuntasan dan hasil belajar psikomotorik berupa sikap dan keterampilan. Hasil belajar yang diidentifikasikan dalam tulisan ini mengacu pada ranah kognitif.

Dari beberapa pendapat di atas, hasil belajar dapat disimpulkan sebagai suatu bentuk perubahan perilaku yang meliputi 3 aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik yang disebabkan karena telah menguasai bahan yang diajarkan sesuai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dalam ketuntasan belajar mengajar dan dapat diukur dengan teknik-teknik penilaian. Tes ini disusun dan dikembangkan dari pengetahuan, pemahaman, atau aplikasi suatu konsep yang dipelajari oleh siswa dalam ketuntasan belajar di kelas.

Model Pembelajaran Paired storytelling (Bercerita berpasangan)

  Salah satu teknik dari pembelajaran kooperatif adalah teknik mengajar Paired Storytelling adalah teknik bercerita berpasangan, yakni teknik yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar dan bahan pelajaran. Teknik ini bisa di gunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu poengetahuan sosial, agama dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.

  Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiaatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah pemikiran mereka akan dihargai sehinggah siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi (Anita Lie, 2007: 71).

Kerangka Pikir

Pemahaman siswa akan mata pelajaran Bahasa Indonesia yang rendah menyebabkan rendahnya tingkat pencapaian ketuntasan dan hasil belajar tentang mendengarkan dan berbicara dalam Bahasa Indonesia. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Paired storytelling.

Salah satu teknik dari pembelajaran kooperatif adalah teknik mengajar Paired Storytelling adalah teknik bercerita berpasangan, yakni teknik yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar dan bahan pelajaran. Teknik ini bisa di gunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu poengetahuan sosial, agama dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.

Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiaatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah pemikiran mereka akan dihargai sehinggah siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi (Anita Lie, 2007: 71)

     Pada kondisi awal, guru melakukan pembelajaran bersifat konvensional, guru dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, banyak peserta didik yang ketuntasan belajarnya dan hasil belajarnya rendah. Agar ketuntasan dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran meningkat, maka perlu adanya action atau tindakan yang dilakukan oleh guru/peneliti yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Paired storytelling. Pada kondisi akhir, melalui penerapan model pembelajaran Paired storytelling diharpakan dapat meningkatkan ketuntasan dan hasil belajar siswa.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Lokasi yang akan di jadikan penelitian adalah di SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah:

1.     Guru kelas V SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

2.     Siswa Kelas V semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang yang berjumlah 19 orang siswa.

Sumber Data

1.     Data Primer

Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau petugas-petugasnya) dari sumber pertanyaan (Suryabrata, 2008:84) Dalam penelitian ini, data primer yang diperoleh oleh peneliti adalah: hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SD Negeri Lanjan 02, Guru pengampu mata pelajaran, dan Siswa Kelas V.

2.     Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diterbitkan oleh organisasi yang bukan merupakan pengolahan peneliti, data tersebut biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen, misalnya data mengenai keadaan demografis suatu daerah, data mengenai produktivitas suatu sekolahan tersebut atau perguruan tinggi, dan sebagainya (Suryabrata, 2008:85). Data sekunder ini digunakan sebagai data pendukung dari data primer, misal data tentang siswa, nilai mata pelajaran siswa, dan data-data lain.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

1.    Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar siswa.

2. Alat Pengumpulan Data

Instrumen atau alat pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah lembar tes tertulis. Lembar tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa dalam pelaksanaan tindakan kelas.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi awal pembelajaran Bahasa Indonesia tentang “identifikasi unsur cerita” merupakan pembelajaran yang dilaksanakan belum menggunakan model pembelajaran Paired storytelling. Pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Hasil observasi ketuntasan dan hasil belajar sebagai berikut:

Observasi aktivitas belajar siswa dilakukan selama pembelajaran. Aspek pengamatan ketuntasan belajar siswa meliputi: (1) keikutsertaan dalam “identifikasi unsur cerita”, (2) adanya semangat kebersamaan, (3) mengajukan pertanyaan kepada guru, (4) mengulangi penjelasan guru secara singkat, (5) mensupport keberhasilan teman atau kelompok lain.

Dari 19 siswa, siswa yang mencapai ketuntasan dengan mendapatkan nilai ³ 65 sebanyak 6 anak (31,58%), sedangkan yang belum tuntas dengan mendapatkan nilai < 65 ada 13 anak (68,42%). Nilai rata-rata siswa 58,4. Dari uraian hasil data di atas terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas V di SD Negeri Lanjan 02 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masih rendah, oleh karena itu penulis melakukan penelitian untuk meningkatkan ketuntasan belajar dan hasil belajar siswa.

Deskripsi Tiap Siklus

 Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Dari 19 siswa, siswa yang mencapai ketuntasan dengan mendapatkan nilai ³ 65 sebanyak 12 anak (63,16%), sedangkan yang belum tuntas dengan mendapatkan nilai < 65 ada 7 anak (36,84%). Nilai rata-rata siswa 65,5. Dari uraian hasil data di atas terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas V di SD Negeri Lanjan 02 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia belum maksimal, oleh karena itu perlu penelitian siklus II untuk meningkatkan ketuntasan belajar dan haisl belajar siswa.

Adapun pada siklus I guru lebih baik dalam membimbing dan memotivasi siswa sehingga siswa aktif dalam pembelajaran. Dari uraian di atas, hasil pembelajaran dan ketuntasan belajar siswa dapat meningkat dengan menerapkan model pembelajaran Paired storytelling.

Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Dari 19 siswa, siswa yang mencapai ketuntasan dengan mendapatkan nilai ³ 65 sebanyak 16 anak (84,21%), sedangkan yang belum tuntas dengan mendapatkan nilai < 65 ada 3 anak (15,79%). Nilai rata-rata siswa 71,3. Dari uraian hasil data di atas terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas V di SD Negeri Lanjan 02 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia sudah maksimal, oleh karena itu penelitian siklus II untuk meningkatkan ketuntasan belajar dan haisl belajar siswa sudah berhasil.

Dari uraian di atas, hasil belajar pembelajaran dan ketuntasan belajar siswa dapat meningkat dengan menerapkan model pembelajaran Paired storytelling.

Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus

Pembahasan lebih banyak didasarkan pada hasil observasi dan refleksi pada setiap siklusnya. Kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Paired storytelling.

Siklus I

Berdasarkan nilai hasil belajar, pada Kondisi Awal diperoleh nilai rata-rata tes sebesar 58,4 dengan ketuntasan belajar klasikal 31,58%. Pada siklus I nilai rata-rata menjadi 65,5 dengan ketuntasan belajar klasikal 63,16% (12 siswa) tuntas belajar dengan mendapat nilai ³ 65. Peningkatan rata-rata nilai sebesar lah 7,1 dan peningkatan pencapaian KKM sebesar 31,58%.

Berdasarkan pertimbangan ketuntasan belajar individu adalah 65 dan ketuntasan belajar klasikal adalah 75% maka ketuntasan dan hasil belajar siklus I ini menunjukkan ketuntasan belajar klasikal belum tercapai. Maka penelitian ini dilanjutkan ke siklus II.

Peningkatan hasil belajar ini disertai meningkatnya aktivitas siswa. Siswa tampak senang dan penuh antusias kegembiraan. Dalam keterampilan berbicara ada metode paired storytelling ini dapat meningkatkan pola belajar anak, agar anak tidak takut, khawatir, malu dan punya percaya diri salah satunya metode, dimana anak diminta untuk bekerjasama atau berkelompok dalam mengerjakan tugas atau membuat suatu cerita yang nantinya akan diceritakan/di dongengkan di depan kelas. Keterampilan bercerita masuk pada mata pelajaran bahasa Indonesia, dimana keterampilan ini meminta anak untuk berani dalam bersikap dan memiliki karakter dalam dirinya, jika hanya menceritakan pengalaman – pengalam menarik saja anak tidak akan maju dan terampil.

Siklus II

Observasi siklus II terhadap ketuntasan belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran Paired storytelling dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang sama seperti siklus I. Pada siklus II model pembelajaran Paired storytelling dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang siswa sudah lebih aktif.

Pada siklus I hasil belajar diperoleh nilai rata-rata tes sebesar 65,5 dan ketuntasan belajar kelas 63,16%. Pada siklus II terjadi peningkatan nilai rata-rata menjadi 71,3 dengan ketuntasan belajar klasikal 84,21% (16 siswa) tuntas belajar dengan mendapat nilai ³ 65. Peningkatan rata-rata nilai sebesar 5,8 dan peningkatan pencapaian KKM sebesar 21,05%.

Berdasarkan pertimbangan ketuntasan belajar individu adalah 65 dan ketuntasan belajar klasikal adalah 75% maka ketuntasan dan hasil belajar siklus II ini menunjukkan ketuntasan belajar klasikal sudah tercapai. Maka penelitian ini sudah berhasil.

Selama proses bermain peran dalam “identifikasi unsur cerita”, siswa tampak terlibat secara aktif. Model pembelajaran kooperatif tipe paired storytelling ini satu upaya menciptakan suasana belajar untuk kegiatan bercerita yang koperatif interaktif, inspiratif, aktif dan menyenangkan. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri, mencoba menganalisis serta berdiskusi melalui interaksi dengan kelas maupun dengan anggota kelompok sehingga akan tercipta kegiatan pembelajaran yang bermakna. Guru menggunakan model pembelajaran ini mampu mengaktifkan suasana kelas sekaligus memotivasi siswa dalam kemandirian belajar. Model pembelajaran ini dapat digunakan untuk mengatasi rendahnya tingkat kemampuan siswa terhadap keterampilan berbicara.

Peningkatan Ketuntasan dan Hasil Belajar

Secara keseluruhan peningkatan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar hasil evaluasi tiap siklus terlihat pada diagram sebagai berikut:

Nilai rata-rata Kelas Pembelajaran Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

 

Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran Paired storytelling dapat meningkatan ketuntasan dan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa Kelas V semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.

1.     Penerapan model pembelajaran Paired storytelling dapat meningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia Kelas V semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Nilai hasil belajar pada Kondisi Awal rata-rata adalah 58,4. Pada Siklus I diperoleh rata-rata 65,5. Terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar 7,1. Pada siklus II hasil belajar menunjukkan rata-rata 71,3. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 5,8.

2.     Penerapan model pembelajaran Paired storytelling dapat meningkatan ketuntasan belajar Bahasa Indonesia Kelas V semester 2 SD Negeri Lanjan 02 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Pada Kondisi Awal diperoleh ketuntasan belajar 31,58%. Pada Siklus I diperoleh ketuntasan belajar 63,16%. Terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebesar 31,58%. Pada siklus II hasil belajar menunjukkan tingkat ketuntasan 84,21%. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II dan ketuntasan belajar meningkat sebesar 21,05%. Berdasarkan indikator keberhasilan ditentukan ketuntasan belajar individu adalah 70 dan ketuntasan belajar klasikal adalah 75% maka ketuntasan dan hasil belajar siklus II ini menunjukkan ketuntasan belajar klasikal sudah tercapai.

Implikasi

Model pembelajaran Paired storytelling ini menjadi pertimbangan guru dalam menggunakan model paired storytelling ini yaitu waktu, biaya, serta tenaga, sehingga diharapkan perlu perencanaan yang tepat agar tindakan dapat berjalan efektif dan efisien. Selain itu, pembelajaran dengan model paired storytelling terbukti dapat berjalan secara efektif dan efisien jika didukung oleh keterampilan guru dalam mengelola kelas. Berdasarkan hasil penelitian yang disimpulkan di atas, maka saran yang dapat disampaikan bagi guru, hendaknya guru dapat mensosialisasikan hasil penelitian pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Paired storytelling kepada guru-guru lainnya.

Saran

      Menurut hasil kesimpulan di atas, maka disarankan:

1.    Model pembelajaran Paired storytelling dapat meningkatkan ketuntasan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Maka pendekatan tersebut bisa digunakan sebagai acuan untuk pelaksanaan pembelajaran yang lainnya seperti pelajaran PKn dan IPS

2.    Sebaiknya guru melaksanakan refleksi tentang kelemahan penggunaan model pembelajaran Paired storytelling dalam pembelajaran, yaitu meskipun manfaatnya baik, tetapi model pembelajaran Paired storytelling membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga menyita waktu guru dalam menyiapkan pembelajaran mata pelajaran lain. Untuk itu tidak semua mata pelajaran menggunakan model pembelajaran Paired storytelling.

3.    Bagi sekolah, dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, sebaiknya sekolah memfasilitasi sarana prasarana yang mendukung untuk menciptakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif. Model pembelajaran Paired storytelling bisa dilengkapi dengan adanya sound sistem dan mukrofon yang memadai agar lebih menarik perhatian siswa.

Daftar Pustaka

Aqib, Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006.

Arini, Fitri Cahyo. 2011. Penerapan Metode Paired Storytelling untuk Meningkatkan Ketrampilan Berbicara Siswa Kelas V SD Negeri Bareng 3 Kota Malang.Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Malang.

Catharina, Tri Anni. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UNNES.

Depdiknas. 2004. KTSP. Jakarta: Depdiknas.

Fauzan, Ahmad (2014) PENGGUNAAN METODE PAIRED STORYTELLING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V MI NURUL HUDA I GAJAHREJO PURWODADI – PASURUAN. Undergraduate thesis, Uin Sunan Ampel Surabaya

Harahap, Lia Andriani.. 2017. Keterampilan Mendongeng dengan Menggunakan Metode Paired Storytelling. http://andrianiliana46.blogspot.com/2017/12/metode-paired-storytelling.html

Lie, Anita. 2007. Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang kelas. Jakarta: Grasindo.

Moleong, Lexy J. 2006. Prosedur Penelitian Kualitatif. Bandung:PT Remaja Rosda Karya.

Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rifa’i, Achmad & Catharina Tri Anni. 2004. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES.

Sanjaya., Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sugandi, Achmad. 2010. Teori Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suprijono, Agus. 2007. Proses Belajar Mengajar Teori dan Praktek. Surabaya: Unesa.

Suryabrata, Sumadi. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Umri Nur’aini, Indriyani. 2008. Bahasa Indonesia 5: untuk SD/MI kelas VI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.