PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS II.A

PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI PENGUKURAN MELALUI METODE THE POWER OF TWO AND FOUR

DI SDN 020 TEMBILAHAN HILIR TAHUN PELAJARAN 2017/2018

 

Heldawati

SDN 020 Tembilahan Hilir

 

ABSTRAK

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembelajaran pada mata pelajaran matematika materi pengukuran waktu. Subyek penelitian adalah peserta didik kelas II.A SD Negeri 020 Tembilahan Hilir. Metode pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, observasi dan tes. Prosedur kerja dalam penelitian ini adalah merupakan siklus kegiatan yang terdiri dari dua siklus. Dimana tiap–tiap siklus melalui tahapan – tahapan yang harus ditempuh yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi. Kriteria ketuntasan adalah sebesar 70 dimana hasil belajar peserta didik dikatakan tuntas apabila memenuhi kriteria tersebut. Hasil penelitian pada tahap pra siklus rata-rata sebesar 59,58 dengan persentase 54,17% Ini berarti kurang memenuhi kriteria. Pada siklus I memperoleh rata–rata sebesar 76,67, dengan persentase 83,33%. Pada siklus I ini sudah memenuhi KKM tetapi kenyataan yang ada masih ada beberapa peserta didik yang masih belum tuntas sehingga perlu diadakannya siklus berikutnya. Pada siklus yang ke II adalah memperoleh nilai rata – rata sebesar 90 dengan persentase 91,67%. Artinya penelitian pada tahap ini sudah cukup sempurna karena peserta didik sudah memenuhi KKM semua. Dengan penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan inovasi bagi civitas akademik, para mahasiswa dan para pendidik agar dapat meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan strategi pembelajaran the power of two and four.

Kata kunci: Metode The Power Of Two And Four, hasil belajar.

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Berlangsung dalam interaksi antara guru dan peserta didik. Interaksi saat guru mengajar di kelas. Dalam pembelajaran, peserta didik dibantu oleh guru sebagai fasilitator dalam melibatkan diri untuk membentuk kompetensi, serta mengembangkan dan memodifikasi kegiatan pembelajaran. Kegiatan inti pembelajaran atau pembentukan kompetensi perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Hal tersebut merupakan tantangan bagi pelaku pendidikan khususnya guru Mata pelajaran matematika. Untuk itu harus dicari sebab akibatnya demi tercapainya tujuan pengajaran sekaligus meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dan salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah menerapkan metode pembelajaran The Power of Two and Four. Hal ini merupakan upaya untuk menghasilkan manusia yang berkembang penalarannya, berpendidikan dan berwawasan luas, sehingga mampu menghadapi masalah yang dihadapi dengan bijaksana. Dibutuhkan beragam metode pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan pemahaman dan hasil belajarpeserta didik.

Kenyataannya, dalam penyelenggaraan pendidikan ditemukan beberapa masalah yang kompleks yang pemecahannya tidak cukup dengan sains, tetapi juga secara filosofis. Seperti pembelajaran di kelas terkadang dijumpai gejala yang tidak seimbang dimana seorang guru sekedar menyampaikan bahan mengajar tanpa dilandasi dengan kesadaran ingin memahamkan kepada peserta didik. Belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar mengajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti, berubah pengetahuannya, kecakapan, pemahaman, sikap tingkah lakunya, dan kemampuannya. Tujuan yang ingin dicapai dalam proses tersebut meliputi aspek-aspek kognitif, efektif, psikomotor dan kemampuan interaktif. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu proses belajar mengajar secara efektif dan efisien, maka seorang pengajar biasanya akan memilih metode dan media yang secara nalar diperkirakan tepat. Metode yang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar menggunakan metode ceramah. Sehingga proses belajar mengajar cenderung monoton, dan pembelajaran hanya mengacu pada satu arah. Metode The Power of Two and Four adalah strategi yang membiasakan belajar aktif secara individu dan kelompok belajar bersama hasilnya lebih berkesan. Tugas guru dalam metode The Power of Two and Four di kelas sangatlah penting dimana guru harus berperan sebagai pengamat, sebagai model, melakukan evaluasi dan melakukan perencanaan. Keberhasilan peserta didik dalam proses belajar mengajar terletak pada kreativitas pada guru pada saat pembelajaran berlangsung. Seperti memberi perhatian, dan sportif diyakini bisa memberi motivasi, yang gilirannya akan meningkatkan prestasi peserta didik. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengelola kelas, sebagai motivator, guru perlu memberikan rangsangan dan dorongan agar peserta didik tekun dalam belajar.

Mata pelajaran matematika, merupakan mata pelajaran yang sulit bagi sebagian besar peserta didik kelas II.A SD Negeri 020 Tembilahan Hilir. Hal ini dapat diketahui dari hasil ulangan harian peserta didik yang masih rendah. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin mengetahui secara komprehensif tentang peningkatan hasil belajar peserta didik melalui penerapan pembelajaran The Power of Two and Four, untuk mengkaji lebih lanjut melalui Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas II.A Pada Mata Pelajaran Matematika Materi Pengukuran Melalui Metode The Power of two and four Di SD Negeri 020 Tembilahan Hilir Tahun Pelajaran 2017/2018”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah metode The Power Of Two And Four dapat meningkatkan hasil belajar Peserta Didik Kelas II.A pada mata pelajaran Matematika materi Pengukuran Waktu di SD Negeri 020 Tembilahan Hilir Tahun Pelajaran 2017/2018?”.

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui Peningkatan hasil belajar Peserta Didik melalui metode The Power Of Two And Four mata pelajaran Matematika materi Pengukuran Waktu pada Peserta Didik Kelas II.A di SD Negeri 020 Tembilahan Hilir Tahun Pelajaran 2017/2018.

 

Manfaat

Penelitian Tindakan Kelas yang Penulis lakukan diharapkan memberikan manfaat baik langsung maupun tidak langsung.

Manfaat Bagi Peserta Didik

Peserta Didik lebih termotivasi dalam belajar karena dikenalkan dengan Pengukuran waktu secara langsung yang pada akhirnya Peserta Didik tidak mudah lupa, paham dan mengerti sehingga hasil belajarnya meningkat.

Manfaat Bagi Guru

a.     Mendorong Guru untuk kreatif dalam proses belajar mengajar.

b.     Meningkatkan profesionalisme guru.

c.     Mendapat pengalaman baru tentang penerapan metode The Power Of Two And Four.

Manfaat Bagi Sekolah

Informasi yang didapat dari penelitian ini merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan Sekolah untuk masa-masa yang akan datang. Salah satunya dengan memberikan fasilitas dan sarana bagi pengadaan alat peraga pengajaran Matematika.

KAJIAN PUSTAKA

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah setiap perbuatan atau tingkah laku yang tampak sebagai akibat kegiatan otot yang digerakkan oleh system syaraf (dalam rangka belajar). Menurut Syaiful Bahri Djamarah hasil belajar adalah “perubahan yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dilakukan oleh individu”. Perubahan tingkah laku yang dialami oleh Peserta Didik tergantung dari apa yang ia pelajari selama kurun beberapa waktu. Out put (hasil) yang diperoleh Peserta Didik biasanya perubahan tingkah laku yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang disimbolkan dengan angka atau nilai.

Dalam penelitian ini yang dimaksud adalah hasil belajar mata pelajaran Matematika materi materi Pengukuran waktu pada Peserta Didik Kelas II.A di SD Negeri 020 Tembilahan Hilir tahun pelajaran 2017/2018, hasil belajar ini didapat dari hasi tes soal yang diberikan guru kepada peserta didik untuk menguji kemampuan kognitif peserta didik. Dalam proses belajar, individu sering mengabaikan perkembangan hasil belajar selama dalam belajarnya. Penelitian menunjukkan, bahwa pengenalan seseorang terhadap hasil atau kemajuan belajarnya adalah penting, karena dengan mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai, seseorang akan lebih berusaha meningkatkan hasil belajar selanjutnya. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal seperti di atas, kemampuan para pendidik teristimewa guru dalam membimbing belajar murid-muridnya amat dituntut. Jika guru dalam keadaan siap dan memiliki profesiensi (berkemampuan tinggi) dalam menunaikan kewajibannya, harapan terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas sudah tentu akan tercapai.

Pendidikan bertujuan antara lain mengembangkan dan meningkatkan kepribadian individu yang sedang melakukan proses pendidikan. Perkembangan kepribadian erat hubungannya dengan perubahan tingkah laku yang telah dihasilkan dan ingin mengetahui hasil perolehannya dalam suatu pendidikan dengan istilah prestasi belajar. Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai peserta didik dalam menuntut suatu belajar yang menunjukkan taraf kemampuan peserta didik dalam mengikuti program belajar dalam waktu tertentu sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan. Prestasi belajar ini sering dicerminkan sebagai nilai yang menentukan berhasil tidaknya peserta didik telah belajar. Penilaian hasil belajar adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana proses belajar dan pembelajaran telah belajar secara efektif. Keefektifan pembelajaran tampak pada kemampuan peserta didik mencapai tujuan belajar akan memberikan gambaran mengetahui keefektifan mengajarnya, apakah berhasil atau tidak. Informasi itu sampai dimana, juga penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran tersebut.

Pembelajaran Matematika

Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang amat beragam agar terjadi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa dala mempelajari matematika tersebut. Matematika yang diajarkan di jenjang persekolahan yaitu Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjut Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Umum (SMU) disebut matematika sekolah. Menurut Soedjadi, matematika sekolah adalah unsur atau bagian dari matematika yang dipilih berdasarkan atau berorientasi kepada kepentingan kependidikan dan perkembangan IPTEK. Hal tersebut menunjukkan bahwa matematika sekolah tidaklah sepenuhnya sama dengan matematika sebagai ilmu. Dikatakan tidak sepenuhnya sama karena memiliki perbedaaan antara lain dalam hal penyajiannya, pola pikirnya, keterbatasan semestanya, dan tingkat keabstrakannya.

Guru matematika yang professional dan kompeten mempunyai wawasan landasan yang dapat dipakai dalam perencanaan dan pelaksnaan pembelajaran matematika. Wawasan itu berupa dasar-dasar teori belajar yang dapat diterapkan untuk pengembangan dan perbaikan pembelajaran matematika, diantaranya yaitu:

Teori Jean Piaget

Teori ini merekomendasikan perlunya pengamatan terhadap tingkat perkembangan intelektual anak sebelum suatu bahan pelajaran matematika diberikan, terutama untuk menyesuaikan keabstrakan bahan matematika dengan kemampuan berpikir abstrak anak pada saat itu. Penerapan teori Piaget dalam pembelajaran matematika adalah perlunya keterkaitan materi baru pelajaran matematika dengan bahan pelajaran matematika yang telah diberikan.

 

 

 

Teori Vygotsky

Teori Vygotsky berusaha mengembalikan model konstruktivistik belajar mandiri dari Piaget menjadi belajar kelompok. Melalui teori ini peserta didik dapat memperoleh pengetahuan melalui kegiatan yang beranekaragam dengan guru sebagai fasilitator.

Teori George Polya (pemecahan masalah

Pemecahan masalah merupakan realisasi dari keinginan meningkatkan pembelajaran matematika sehingga peserta didik mempunyai pandangan atau wawasan yang luas dan mendalam ketika menghadapi suatu masalah.

Metode The Power of Two and Four

Seperti metode pembelajaran kooperatif lainnya, praktik pembelajaran dengan metode The Power of Two and Four diawali dengan mengajukan pertanyaan, diharapkan pertanyaan yang dikembangkan adalah pertanyaan yang membutuhkan pemikiran kritis. Mintalah kepada peserta didik secara perseorangan untuk menjawab pertanyaan yang diterimanya. Setelah semua menyelesaikan jawabannya, mintalah kepada peserta didik mencari pasangan. Individu-individu yang berpasangan diwajibkan saling menjelaskan jawaban masing-masing, kemudian menyusun jawaban baru yang disepakati bersama. The Power of Two and Four (menggabungkan 2 dan 4 kekuatan) adalah penerapan strategi pembelajaran yang membiasakan belajar aktif secara individu dan kelompok (belajar bersama hasilnya lebih berkesan). Tujuan penerapan strategi ini adalah membiasakan belajar aktif secara individu dan kelompok (belajar bersama hasilnya lebih berkesan).

Langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran Metode The Power of Two and FourProsedur pelaksanaan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

a.     Tetapkanlah satu masalah atau pertanyaan terkait dengan materi pokok (SK/KD/Indikator).

b.     Beri kesempatan pola peserta didik untuk berfikir sejenak tentang masalah tersebut.

c.     Bagikan kertas pada tiap peserta didik untuk menuliskan pemecahan masalah atau jawaban (secara mandiri) lalu periksalah hasil kerjanya.

d.     Perintahkan peserta didik bekerja berpasangan 2 orang dan berdiskusi tentang masalah tersebut.

e.     Peserta didik membuat jawaban baru atas masalah yang disepakati berdua.

f.      Selanjutnya perintahkan peserta didik bekerja berpasangan 4 orang dan berdiskusi lalu bersepakat mencari jawaban terbaik, lalu periksalah hasil kerjanya.

g.     Jawaban bersama ditulis dalam kertas atau lainnya, guru memeriksa dan memastikan setiap kelompok telah menghasilkan kesepakatan terbaiknya menjawab masalah yang dicari.

h.    Guru mengemukakan penjelasan dan solusi atas permasalahan yang didiskusikan tadi.

i.      Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.

Secara keseluruhan penerapan strategi pembelajaran The Power of Two and Four bertujuan agar membiasakan siswa belajar aktif baik secara individu maupun berkelompok dalam membantu siswa agar dapat bekerja sama dengan orang lain. Strategi pembelajaran the power of two and four memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

a.     Peserta didik tidak trlalu menggantungkan guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan dan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dan belajar dari peserta didik lain.

b.     Mengembangkan kemampuan dalam mengungkapkan ide atau gagsan kemudian membandingkannya dengan orang lain.

c.     Membantu peserta didik untuk dapat bekerja sama dengan kelompok lain.

d.     Membantu peserta didik untuk lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.

e.     Meningkatkan motivasi dan rangsangan untuk berfikir.

f.      Meningkatkan prestasi akademik serta kemampuan sosialnya

Strategi ini disamping memiliki keunggulan, strategi ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya:

a.     Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan peserta didik dalam belajar.

b.     Kadang-kadang dalam mengimplementasikan strategi tersebut, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.

c.     Peserta didik tidak bisa menggunakan waktu semaksimal mungkin dalam menyelesaikan soal.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah: “Pembelajaran Matematika kelas II.A materi pengukuran waktu menggunakan metode The Power of Two and Four dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik di SD Negeri 020 Tembilahan Hilir.”

METODE PENELITIAN

Tempat, Waktu, dan Subjek Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 020 Tembilahan Hilir Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir selama 1,5 bulan, yaitu pada bulan September s.d. bulan Oktober 2017. Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas II.A SD Negeri 020 Tembilahan Hilir tahun pelajaran 2017 / 2018 yang berjumlah 24 peserta didik, terdiri atas 12 laki-laki dan 12 perempuan. Peserta didik kelas II.A sebagian besar adalah peserta didik yang pendiam dan penurut. Di dalam kelas, peserta didik cenderung pasif dan tidak percaya diri dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Pemilihan kelas ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi belajar dalam proses pembelajaran Matematika di kelas II.A SD Negeri 020 Tembilahan Hilir.

Jenis Dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK “merupakan suatu upaya untuk memecahkan masalah, sekaligus mencari dukungan ilmiyah”. Jadi PTK merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, dilakukan untuk memecahkan masalah dari tindakan-tindakan peserta didik dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya, dan memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan.

Siklus Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas beberapa siklus. Masing-masing siklus terdiri atas empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Setiap siklus dilaksanakan disesuaikan dengan perubahan yang ingin dicapai sebagai mana langkah– langkah yang dilakukan dalam proses pelaksanaan siklus tersebut.

Teknik Pengumpulan Data

a.     Observasi

Observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang diselidiki. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang situasi belajar mengajar pada saat dilakukannya tindakan.

b.     Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Dokumentasi digunakan untuk mengetahui daftar nama peserta didik, jumlah peserta didik, dan kemampuan peserta didik.

c.     Metode Tes

Metode tes digunakan untuk mengambil data tentang hasil belajar peserta didik kelas II.A di SD Negeri 020 Tembilahan Hilir. Dengan indikator:

1.     Adanya peningkatan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Matematika.

2.     Peserta didik dapat mencapai ketuntasan nilai kognitif pada mata pelajaran Matematika.

Teknis Analisis Data

Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik, digunakan daftar nilai kognitif melalui tes evaluasi peserta didik pada akhir pembelajaran siklus. Dari data hasil tes peserta didik pada tiap siklus akan diketahui hasil persentase ketuntasan belajar peserta didik. Selanjutnya dari data tersebut diperoleh pada tiap siklus dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan menghitung percentages correction. Analisis data kuantitatif terdiri atas proses analisis untuk mengetahui tes hasil belajar peserta didik. Untuk mengetahui kemampuan kognitif peserta didik dalam menyelesaikan soal tes evaluasi, analisisnya dengan cara menghitung rata-rata nilai dan ketuntasan belajar.

Indikator Ketercapaian

          Dalam penelitian ini, peningkatan hasil belajar matematika peserta didik secara optimal ditandai dengan tercapainya ketuntasan belajar tiap individu. Dengan demikian yang menjadi tolak ukur keberhasilanpenelitian ini adalah: secara individu mencapai nilai ≥ 60 dan ketuntasan Klasikal 75%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pra Siklus

Sebelum diadakan tindakan, terlebih dahulu dilaksanakan observasi pembelajaran di kelas II.A SD Negeri 020 Tembilahan Hilir pada hari Senin tanggal 2 Oktober 2017 mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 08.10 WIB dengan materi pokok pengukuran waktu. Dari data observasi dan pembelajaran pra siklus, maka diperoleh data hasil belajar peserta didik bahwa persentase ketuntasan klasikal hanya mencapai 54,17% jauh di bawah persentase ketuntasan klasikal yang telah ditentukan yaitu 75,00%. Pada pembelajaran pra siklus, proses belajar mengajar masih menggunakan strategi konvensional, yaitu ceramah. Guru menerangkan materi dengan cara peserta didik diajak untuk membayangkan materi pelajaran tanpa alat peraga dan pendekatan pembelajaran aktif. Pada pembelajaran pra siklus juga masih menggunakan pendekatan lama yaitu teacher centered sehingga peserta didik kurang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri dan potensinya, cenderung pasif, dan malas belajar. Hal ini berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.

Siklus I

Pembelajaran siklus I ini dilaksanakan karena hasil yang diperoleh pada pembelajaran pra siklus belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan. Pada siklus ini dilakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode The Power of Two and Four sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik Kelas II.A materi pengukuran waktu. Pembelajaran siklus I dilaksanakan di SD Negeri 020 Tembilahan Hilir pada tanggal 9 Oktober 2017 mulai pukul 07.00-08.10 WIB dengan materi pokok pengukuran waktu. Pelaksanaan pembelajaran siklus I diikuti oleh seluruh peserta didik Kelas II.A yang berjumlah 24 peserta didik. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa hasil belajar siklus I sudah dinyatakan tuntas, karena nilai rata-rata kelas mencapai 76,67 dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 75,00. Sementara persentase ketuntasan klasikal hanya mencapai 83,33%. Meskipun secara rata-rata dan ketuntasan klasikal sudah dinyatakan tuntas. Tetapi untuk mencapai pembelajaran yang lebih optimal dan penggunaan metode pembelajaran yang lebih baik, maka perlu dilanjutkan pada siklus II.

Berdasarkan hasil observasi dan nilai tes akhir silkus I, ternyata dengan menggunakan pendekatan Metode The Power of Two and Four, proses pembelajaran yang berlangsung mulai terlihat efektif, hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya keaktifan peserta didik selama pembelajaran berlangsung, walaupun masih ada beberapa peserta didik yang masih pasif, dan masih banyak peserta didik yang tidak berani bertanya saat mengalami kesulitan serta merasa malu ketika diminta guru untuk membacakan hasil penemuannya. Hal ini dikarenakan peserta didik belum terbiasa menggunakan metode The Power of Two and Four, kurang jelasnya petunjuk yang disampaikan oleh guru tentang penerapan pendekatan Metode The Power of Two and Four, dan guru dalam hal bertanya dan meminta peserta didik untuk menyampaikan hasil temuannya kurang merata. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, meskipun dalam pembelajaran siklus I menunjukkan hasil belajar ranah kognitif sudah tuntas secara klasikal, namun keseriusan setiap peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar perlu ditingkatkan, supaya tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi dapat tercapai dengan maksimal.

Siklus II

Pembelajaran siklus II ini dilaksanakan karena hasil yang diperoleh pada pembelajaran siklus I ingin mendapatkan hasil yang lebih optimal. Pembelajaran siklus II ini dilaksanakan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada pada siklus I. Pembelajaran siklus II dilaksanakan di SD Negeri 020 Tembilahan Hilir pada tanggal 16 Oktober 2017 mulai pukul 07.00-08.10 WIB dengan materi pokok yang sama yaitu pengukuran waktu. Pelaksanaan pembelajaran siklus II diikuti oleh seluruh peserta didik Kelas II.A yang berjumlah 24 peserta didik. Pada siklus ini dilakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode The Power of Two and Four sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data bahwa hasil belajar siklus II sudah dinyatakan tuntas, karena nilai rata-rata kelas mencapai 90 dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 75,00 dan persentase ketuntasan klasikal sudah mencapai 91,67% di atas persentase ketuntasan klasikal yang telah ditentukan yaitu 75,00%.

Dalam penelitian pembelajaran siklus II ini, hasil belajar peseta didik sudah dinyatakan tuntas secara klasikal. Menurut peneliti peserta didik sudah cocok belajar materi pengukuran waktu dengan menggunakan pendekatan Metode The Power of Two and Four, karena proses pembelajaran yang berlangsung sudah terlihat efektif. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya keaktifan serta hasil belajar peserta didik selama pembelajaran berlangsung dibandingkan dengan pembelajaran pada siklus I.

Berdasarkan analisis data yang diperoleh bahwa nilai rata-rata hasil belajar pada pra siklus baru mencapai 69,58 dan persentase ketuntasan klasikal hanya mencapai 54,17%, naik pada siklus I menjadi 71,69 dan ketuntasan klasikal 66,67%, naik lagi pada siklus II menjadi 87,67 dan ketuntasan klasikal menjadi 91,67% seperti pada grafik 1 (diagram perbandingan hasil belajar pada pra siklus, siklus I, dan siklus II.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keberhasilan proses pelaksanaan pembelajaran melalui metode The Power of Two and Four dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi pada materi pokok pengukuran waktu di SDN 020 Tembilahan Hilir mampu meningkatkan hasil belajar dengan ditunjukkan adanya perubahan dalam proses pembelajaran yaitu kesiapan dan keaktifan pada saat proses pembelajaran, juga ditunjukkan adanya peningkatan nilai skor tes akhir dari masing-masing siklus dengan rata-rata hasil belajar pada pra siklus mencapai 59,58, siklus I 76,67, dan pada siklus II mencapai 90. Dan ketuntasan klasikal pada pra siklus mencapai 54,17%, siklus I adalah 83,33% dan mengalami peningkatan pada siklus II dengan ketuntasan 91, 67%.

Saran

Atas dasar simpulan tersebut disarankan:

a.     Proses pelaksanaan dalam pembelajaran metode The Power of Two and Four dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik sehingga perlu dikembangkan pada materi pokok yang lain.

b.     Dengan metode The Power of Two and Four guru harus mampu mengembangkan pembelajaran kreatif sehingga suasana kelas lebih kondusif, efektif dan tidak menjenuhkan.

c.     Pembelajaran dengan metode The Power of Two and Four tidak hanya dilakukan sampai selesainya penelitian saja, akan tetapi dilanjutkan dan dilaksanakan secara kontinu sebagai program untuk meningkatkan semangat dan mengurangi kejenuhan pada waktu melaksanakan pembelajaran.

d.     Peserta didik harus dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono, Cooperative Learning; Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)

Amin Suyitno,. Dasar-Dasar dan Proses Pembelajaran Matematika 1. (Semarang: UNNES, 2006)

Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006)

Gatot Muhsetyo, dkk., Materi Pokok Pembelajaran Matematika SD, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008)

http://diglib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASHO173/70652e3b.dir/doc.pdf

Junaidy Ghony, Penelitian Tindakan Kelas, (Malang: UIN Malang Press, 2008)

Junaidy Ghony, Penelitian Tindakan Kelas, (Malang: UIN Malang Press, 2008)

Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010)

M.Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT Rosdakarya, 2000)

Mas Nur Muslich, Melaksanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) Itu Mudah; Classroom Action Research, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009)

Mulyasa E, Kurikulum yang Disempurnakan Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009)

Mutadi, Pendekatan Efektif dalam Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Depag Bekerjasama dengan Ditbina Widyaiswara LAN-RI, 2007)