PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPS

MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)

BAGI SISWA KELAS VI SDN PELEMSENGIR KECAMATAN TODANAN KABUPATEN BLORA TAHUN 2012/2013

Dasro

Guru SD Negeri Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora

ABSTRAK

Latar belakang penelitian ini berangkat dari rendahnya hasil belajar siswa kelas VI SDN Pelemsengir pada mata pelajaran IPS, yang disebabkan guru kurang inovatif dalam kegiatan pembelajaran, Dari refleksi pembelajaran, dalam pra siklus diketahui sebesar 75% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Oleh karena itu, peneliti menawarkan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase keterlaksanaan aktivitas siswa yang semula 15% pada siklus I meningkat menjadi 40% dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 80%.Untuk hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, pada kondisi awal (pra siklus) nilai rata-rata siswa hanya 58.Pada siklus I meningkat menjadi 70 dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 80 dan semua siswa tuntas belajar. Dari hasil penelitian diperoleh data adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa selama siklus I dan siklus II, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) pada mata pelajaran IPS dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VI SDN Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora Tahun 2012/2013.

Kata Kunci: Model Contextual Teaching and Learning (CTL), IPS, Keaktifan,hasil belajar

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Belajar adalah sebuah proses perubahan tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Perubahan tingkah laku akan terjadi apabila proses pembelajaran dilakukan secara optimal melalui pembelajaran yang bermakna. Salah satu pelajaran yang dianggap sulit dan membosankan oleh peserta didik adalah IPS. Padahal, materi dalam pelajaran IPS sifatnya berkembang mengikuti perkembangan zaman dan merupakan sebuah kajian yang memusatkan perhatiannya pada aktivitas manusia.

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran IPS hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Guru harus memasukkan situasi sehari-hari dalam situasi pembelajaran sehingga terbentuk masyarakat belajar.Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran IPS di kelas VI SDN Pelemsengir, menunjukkan bahwa pada pelajaran IPS, guru masih cenderung kurang inovatif dalam melakukan pembelajaran, sehingga pembelajaran kurang aktif dan menyenangkan. Kondisi tersebut menyebabkan banyak siswa kurang memahami materi selama pembelajaran sehingga banyak siswa yang belum dapat mencapai KKM yang diharapkan. Hal ini dapat diketahui dari data hasil belajar siswa, sebanyak 15 dari 20 siswa di kelas tersebut (75) yang nilainya kurang dari KKM, sedangkan KKM untuk mata pelajaran IPS adalah 75.

Oleh karena itu, sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran IPS, maka peneliti mengajukan tindakan perbaikan dengan menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL).

Melalui model Contextual Teaching and Learning (CTL) diharapkan siswa termotivasi untuk belajar lebih aktif, dapat bersosialisasi dengan temannya (masyarakat belajar), bertukar pikiran sehingga pengetahuan siswa berkembang dan siswa lebih senang belajar.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut diatas dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS bagi siswa kelas VI SDN Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2012/2013?

Tujuan Penelitian

Melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS bagi siswa kelas VI SDN Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2012/2013.

KAJIAN TEORI

Keaktifan

Secara harfiah keaktifan berasal dari kata aktif yang berarti sibuk, giat (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 17). Aktif mendapat awalan ke- dan –an, sehingga menjadi keaktifan yang mempunyai arti kegiatan atau kesibukan. Jadi, keaktifan belajar adalah kegiatan atau kesibukan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun di luar sekolah yang menunjang keberhasilan belajar siswa.

Keaktifan tersebut tidak hanya keaktifan jasmani saja, melainkan juga keaktifan rohani. Menurut Sriyono, dkk (1992: 75) keaktifan jasmani dan rohani yang dilakukan peserta didika dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut:

1. Keaktifan indera; pendengaran, penglihatan, peraba, dan sebagainya. Peserta didik harus dirangsang agar dapat menggunakan alat inderanya sebaik mungkin. Mendikte dan menyuru mereka menulis sepanjang jam pelajaran akan menjemukan. Demikian pula dengan menerangkan terus tanpa menulis sesuatu di papan tulis. Maka pergantian dari membaca ke menulis, menulis ke menerangkan dan seterunya akan lebih menarik dan menyenangkan.

2. Keaktifan akal; akal peserta didik harus aktif atau dikatifkan untuk memecahkan masalah, menimbang, menyusun pendapat dan mengambil keputusan.

3. Keaktifan ingatan; pada saat proses belajar mengajar peserta didik harus aktif menerima bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru, dan menyimpannya dalam otak. Kemudian pada suatu saat ia siap dan mampu mengutarakan kembali.

4. Keaktifan emosidalam hal ini peserta didik hendaklah senantiasa berusaha mencintai pelajarannya, karena dengan mencintai pelajarannya akan menambah hasil belajar peserta didik itu sendiri.

Hasil Belajar

Menurut Sudjana (2005:3) hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris. Untuk memperoleh hasil belajar, dilakukan evaluasi atau penilaian yang merupakan tindak lanjut atau cara mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga sikap dan keterampilan.

Belajar merupakan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya. Belajar juga akan lebih baik kalau subyek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik. Di samping definisi tersebut, ada beberapa pengertian lain yang cukup banyak, baik dilihat secara mikro maupun secara makro. Dilihat dalam arti luas, belajar diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Relevan dengan ini, maka ada pengertian bahwa belajar adalah “Penambahan pengetahuan (Sadirman, 1990: 22-23).

Menurut peneliti, belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Jadi hakikat belajar adalah perubahan.

Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa “suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan mengajar dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat dicapai “ (Djamarah dkk, 2006: 105).

Pengertian IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi. Puskur (Kasim, 2008:4).

Nursid Sumaatmadja (Supriatna, 2008:1) mengemukakan bahwa “Secara mendasar pengajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya”. IPS berkenaan dengan cara manusia menggunakan usaha memenuhi kebutuhan materinya, memenuhi kebutuhan budayanya, kebutuhan kejiwaannya, pemanfaatan sumber yang ada dipermukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya, dan lain sebagainya yang mengatur serta mempertahankan kehidupan masyarakat manusia.

S.Nasution (dalam Suhanaji dan Waspodo, 2003:4) mendefinisikan bahwa IPS adalah pelajaran (bidang studi) yang merupakan suatu fusi atau paduan dari sejumlah mata pelajaran sosial. Dapat juga dikatakan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu-ilmu sosial.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan IPS adalah disiplin-displin ilmu sosial ataupun integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, dan antropologi yang mempelajari masalah-masalah sosial.

Mata pelajaran IPS disekolah dasar marupakan program pengajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi dimasyarakat, memilki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS disekolah diorganisasikan secara baik.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, tujuan pendidikan IPS adalah: 1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, 2) Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu inkuiri, memecahkan masalah, dan ketrampilan dalam kehidupan sosial, 3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan 4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional dan global.

Sedangkan tujuan khusus pengajaran IPS disekolah dapat dikelompokkan menjadi empat komponen yaitu:1.Memberikan kepada Siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang dan masa akan datang.2.Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan (skill) untuk mencari dan mengolah informasi.3.Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat.4.Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian/berperan serta dalam bermasyarakat.

Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning) adalah “konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment)”.

Model Pembelajaran CTL menurut Sanjaya (2006) menyatakan bahwa belajar dalam CTL bukan hanya sekadar duduk, mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung. Lebih jauh ia mengupas bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajarinya dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga siswa didorong untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Sedangkan Blanchard (Trianto, 2007) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya.

Sementara Trianto (2007) berpendapat pula mengenai CTL adalah pembelajaran yang terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga dan warga masyarakat. Sejalan dengan hal di atas, Muslich (2007) menjelaskan bahwa landasan filosofi CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal tetapi mengkonstruksi atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta yang mereka alami dalam kehidupannya. Dengan mengacu pada beberapa pendapat di atas, pembelajaran CTL merupakan suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks di mana materi tersebut digunakan dengan menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Materi pelajaran akan bermakna bagi siswa jika mereka mempelajari materi tersebut melalui konteks kehidupan mereka.

Jadi pengertian CTL dari pendapat para tokoh-tokoh diatas dapat kita simpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Hipotesis Tindakan

Melalui Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS bagi siswa kelas VI SDN Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora tahun pelajaran 2012/2013.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting dan Subjek Penelitian

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di kelas VI SD Negeri Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora selama 4 bulan yaitu dari bulan Januari sampai dengan bulan April 2013. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial bagi siswa kelas VI SD Negeri Pelemsengir. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora tahun 2012/2013. Siswa kelas VI tersebut berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi untuk mengumpulkan data kondisi awal, teknik observasi untuk data aktivitas belajar, dan teknik tes tertulis untuk mengumpulkan data hasil belajar. Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan adalah dokumen daftar nilai, lembar observasi aktivitas belajar dan butir soal tes tertulis.

Validasi Data dan Analisis Data

Validasi data dilakukan agar memperoleh data yang valid. Data aktivitas yang diperoleh melalui observasi divalidasi dengan mellibatkan observer teman sejawat yang dikenal dengan berkolaborasi, sedangkan data yang diperoleh melalui tes divalidasi dengan menyusun kisi-kisi sebelum butir soal dibuat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif dilanjutkan dengan refleksi.

Prosedur Tindakan

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari empat tahapan. Tahap pertama membuat perencanaan tindakan, tahap kedua melakukan tindakan sesuai yang direncanakan, tahap ketiga melakukan pengamatan terhadap tindakan yang dilakukan, tahap keempat melakukan analisis deskriptif komparatif dan refleksi terhadap hasil pengamatan tindakan.

HASIL TINDAKAN

Setelah diadakan tindakan kelas baik tindakan pada siklus I maupun pada siklus II diperoleh data hasil pengamatan yaitu adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar IPS bagi siswa kelas VI SD Negeri Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora pada tahun 2012/2013.

Keaktifan Belajar IPS Pra Siklus,Siklus I dan Siklus II

Pada kondisi awal (pra siklus) saat pembelajaran masih banyak siswa yang pasif.Hanya sebagian kecil siswa yang berani bertanya.Dari 20 anak hanya ada 3 orang (15%) siswa yang berani bertanya.Maka dari itu dalam pra siklus ini dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa dalam belajar masih rendah.

Pada siklus I dalam proses pembelajaran terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa.Hal ini terlihat dengan miningkatnya jumlah siswa yang berani bertanya.Yang semula hanya 3 siswa (15%),dalam siklus I ada 8 orang (40%) yang berani bertanya.Dalam pembelajaran siklus I terdapat peningkatan keaktifan belajar siswa.

Saat pelaksanaan siklus II dalam proses pembelajaran sebagian besar siswa sudah mulai berani bertanya.Dalam siklus II ini hanya ada 4 siswa (20%) yang belum terlibat secara aktif dalam pembelajaran.Sedangkan 16 siswa yang lain sudah terlibat secara aktif dalam pembelajaran.Jadi dalam siklus II ini terjadi peningkatan yang signifikan dalam keaktifan belajar siswa.Hal ini terbukti dengan keaktifan belajar siswa mencapai 80%.

Hasil Belajar IPS Pra Siklus,Siklus I dan Siklus II

Hasil belajar dalam pra siklus sebagian besar siswa masih rendah.Sehingga belum bisa mencapai nilai yang sudah ditentukan dalam Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75.Hal ini terbukti dengan rata-rata hasil belajar dalam pra siklus hanya 58.

Pada siklus I Melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar IPS bagi siswa kelas VI SD Negeri Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2012/2013.Hal ini terbukti dari rata-rata nilai yang mengalami peningkatan.Dari semula nilai rata-rata pra siklus 58,pada siklus I menjadi 70.Pada Siklus II terjadi peningkatan hasil belajar siswa.Yang semula pada siklus I nilai rata-ratanya 70,mengalami peningkatan menjadi 80.pada siklus II ini semua siswa nilainya tuntas KKM. Melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar IPS bagi siswa kelas VI SD Negeri Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora dari kondisi awal hasil belajar IPS rata-rata 58 ke kondisi akhir rata-rata 80 sehingga terdapat peningkatan sebesar 38%.

PENUTUP

Simpulan

Melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) baik secara teoritis maupun empirik dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS bagi siswa kelas VI SD Negeri Pelemsengir Kecamatan Todanan Kabupaten Blora pada Tahun Pelajaran 2012/2013.

Saran

Saran bagi siswa pembelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS. Saran bagi teman sejawat dimohon agar guru model pembelajaran yang variatif yang sesuai dengan materi yang disampaikan dalam pembelajaran IPS seperti penerapan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS. Saran bagi sekolah agar melengkapi alat peraga yang masih kurang lengkap. Saran bagi perpustakaan dimohon agar laporan hasil penelitian yang dibuat oleh peneliti disimpan di perpustakaan agar guru yang lain dapat membacanya.

DAFTAR PUSTAKA

___. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.

Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Dakar. 1998. Teori-teori Belajar. Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas. 2007. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar TK, SD/MI. Jakarta: Depdiknas.

Dimyati. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hermawan, Asep Herry. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Hisnu Tantya.2008 Ilmu Penngetahuan Sosial Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Mulyadi. 2011. Paedagogik Khusus Model Pembelajaran Inovatif di Sekolah Dasar/MI. Surakarta: FKIP-UMS.

Supriadi, Dedi. 1997. Aktivitas Kebudayaan dan Perkembangan Iptek. Bandung: Alpabeta.

Trianto. 2007. Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Surabaya: Prestasi Pustaka Publiser