PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR KEWIRAUSAHAAN

MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TGT

PADA SISWA KELAS XI BUSANA 1 SMKN 2 BLORA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Yustinus Prima Kristiawan

Guru SMKN 2 Blora

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pada mata pelajaran kewirausahaan dengan penerapan pembelajaran koopertaif model Teams Games Tournament (TGT) di SMK Negeri 2 Blora. Peningkatan kompetensi siswa dapat dilihat dari keaktifan siswa dan nilai siswa. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan desain PTK model DDAER yang dilakukan sebanyak dua siklus. Alur penelitian tindakan kelas terdiri dari Diagnosis masalah, Perancangan tindakan, Pelaksanaan Tindakan dan Observasi kejadian, Evaluasi, dan Refleksi. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 2 Blora. Subjek dalam penelitian adalah 29 siswa kelas XI Busana 1. Untuk memperoleh data pada ranah kognitif menggunakan tes objektif pilihan ganda dan untuk memperoleh data pada ranah afektif dalam melihat keaktifan siswa menggunakan lembar observasi. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keaktifan siswa mengalami peningkatan 58.62% pada siklus pertama menjadi 93.11% pada siklus kedua. Keaktifan yang diukur terkait dengan keaktifan siswa dalam mempelajari materi secara individu, menulis, berdiskusi, aktif mengemukakan pendapat, dan menyampaikan hasil diskusi. Kompetensi siswa pada ranah kognitif dapat dilihat dari nilai rata- rata siswa yang mengalami peningkatan dari 62,20 pada pra siklus, meningkat menjadi 64,40 pada siklus 1, dan pada siklus kedua meningkat menjadi 69,65. Dilihat dari ketuntasan belajar siswa berdasarkan KKM mengalami peningkatan 65,52% pada siklus pertama menjadi 100% atau 29 pada siklus kedua. Dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi pada mata pelajaran kewirausahaan dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) di SMK Negeri 2 Blora.

Kata kunci: keaktivan belajar belajar, prestasi belajar, model pembelajaran TGT, kewirausahaan

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pendidikan merupakan modal dasar untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh sejauh mana peserta didik mampu mengembangkan potensi, memahami ilmu pengetahuan yang mereka pelajari dan memiliki pengalaman belajar yang berharga sehingga mampu melakukan sesuatu yang penting bagi kehidupannya. Siswa yang belajar lebih efektif akan secara aktif mampu menganalisa, menerapkan teori, dan mampu menekankan pada keterlibatan secara dinamis sehingga memiliki pemahaman tentang pengetahuan ekonomi (kewirausahaan) yang dipelajari dalam konteks yang lebih luas akan membangkitkan minat siswa yang lebih baik serta mampu meningkatkan pemahaman yang lebih dalam (Vivienne, 2008). Pemberian materi kewirausahaan pada program SMK Negeri 2 Blora bertujuan selain untuk membekali kemampuan kognitif yaitu peserta didik mempunyai mindset keilmuan kewirausahaan, juga siswa diharapkan mampu menjadi insan-insan yng produktif. Pembelajaran kewirausahaan secara intensif dan alamiah dapat mengembangkan soft skills seperti kemampuan komunikasi dan kemampuan bekerja sama. Keberanian seseorang untuk mendirikan usaha sendiri (wirausaha) seringkali terdorong oleh motivasi dari guru melalui pembelajaran yang praktis dan menarik, sehingga dapat membangkitkan minat siswa untuk mencoba berwirausaha. Hal-hal inilah yang menjadi pijakan penting bagi tenaga pendidikan di SMK yang mengenalkan kewirausahaan bagi siswa, lebih-lebih dengan program Pemerintah SMK Negeri 2 Blora memberi peluang bagi sekolah untuk mewujudkan entrepreneur-entrepreneur muda.

Proses pembelajaran Kewirausahan di sekolah selama ini umumnya masih didominasi oleh kegiatan siswa mengasyiki buku bacaan dari pada mengeksplorasi berbagai objek dan gejala yang ada. Cara belajar tersebut lebih mengarah kepada belajar dengan sistem satu arah (one way) dan kurang bervariasi. Hal ini akan mengakibatkan susasana belajar menjadi membosankan dan tidak dapat mengembangkan potensi siswa secara lengkap. Cara belajar yang berorientasi kepada buku akan membawa siswa sekedar menerima informasi, mengingat dan menghafal.

Sistem pembelajaran di SMK yang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), membawa iklim belajar bukan hanya berkutat pada aspek produk belajar semata, tetapi lebih menekankan pada aspek proses belajar. Proses belajar yang baik, yaitu mampu mengembangkan: sikap ilmiah, proses ilmiah, dan produk ilmiah, maka dengan sendirinya diharapkan akan memicu hasil belajar siswa yang lebih tinggi.

Berdasarkan hasil pra-survei terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas XI jurusan Busana 1 pada mata pelajaran Kewirausahaan SMKN 2 Blora TahunPelajaran 2014/2015 dilihat dari kategori ketuntasan belajar yang telah ditetapkan pihak sekolah adalah 70. Prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa hasil belajar Kewirausahaa siswa XI jurusan Busana 1 sebagian besar masih rendah, yaitu sebesar 61,12% tergolong kategori belum tuntas. Selain hasil belajar yang rendah, pengalaman selama ini menunjukkan, bahwa pada diri siswa SMK XI jurusan Busana 1, khususnya dalam mengikuti pelajaran Kewirausahaan di SMK Negeri 2 Blora banyak yang kurang termotivasi, karena semasa di SMP mereka lebih banyak belajar dengan cara menghafal. Pengalaman empiris yang sama juga dilaporkan oleh (Djohar, 1992), kurangnya minat siswa belajar lebih dipicu oleh sistem belajar di sekolah yang belum mampu membangkitkan minat belajar.

Kurangnya motivasi siswa dalam belajar dan rendahnya hasil belajar Kewirausahaan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai variabel yang esential, seperti kesulitan siswa memahami konsep Kewirausahaan, cara verbal guru mengajar Kewirausahaan, penggunaan media belajar, berbagai sistem pembelajaran Kewirausahaan, dan sebagainya. Berbagai faktor tersebut apabila diaplikasikan di dalam proses belajar mengajar KKPI di sekolah, maka akan meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Adanya berbagai alternatif di atas, maka variabel sistem pembelajaran Kewirausahaan paling mendesak untuk dibenahi. Dalam hal ini pembelajaran Kewirausahaan yang dimaksud adalah pembelajaran kooperatif, khususnya tipe TGT ( Team Games Tournament). Menurut Qadriyah (2003), pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran motivasional yang diyakini mampu meningkatkan motivasi siswa maupun hasil belajar siswa, karena pembelajaran ini berorientasi kepada siswa (student oriented), yang melibatkan siswa secara emosional dan sosial dalam belajar. Penggunaan metode pembelajaran kooperatif memungkinkan tercipta suasana interaksi siswa yang kooperatif. Antarsiswa akan memungkinkan menjadi sumber belajar bagi sesamanya, dan siswa akan merasa lebih mudah belajar sehingga guru dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan belajar.

Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah dan lingkup penelitian ini, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

1. Apakah penerapan model pembelajaran TGT ( Team Games Tournament) dapat meningkatkan keaktifan dalam pembelajaran Kewirausahaan pada siswa kelas XI jurusan Busana 1 pada mata pelajaran Kewirausahaan SMKN 2 Blora TahunPelajaran 2014/2015?

2. Apakah penerapan model pembelajaran TGT ( Team Games Tournament) dapat meningkatkan prestasi dalam pembelajaran Kewirausahaan pada siswa kelas XI jurusan Busana 1 pada mata pelajaran Kewirausahaan SMKN 2 Blora TahunPelajaran 2014/2015?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini antara lain untuk meningkatkan:

1. Meningkatkan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran Kewirausahaan melalui pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT).

2. Meningkatkan prestasi belajar Kewirausahaan melalui pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT).

Manfaat Penelitian

Manfaat hasil penelitian ini secara umum adalah untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran Kewirausahaan di SMK Negeri 2 Blora. Secara khusus dapat diuraikan manfaat hasil penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Kewirausahaan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT).

2. Bagi siswa, melalui pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT). dapat digunakan untuk melatih keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman di kelas dalam rangka menjadi sumber belajar sesamanya.

3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan acuan dalam menciptakan suasana sekolah yang berdampak kepada motivasional siswa berkaitan dengan aktivitasnya belajar di sekolah.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas XI jurusan Busana 1 pada mata pelajaran Kewirausahaan SMKN 2 Blora TahunPelajaran 2014/2015.

2. Pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI jurusan Busana 1 pada mata pelajaran Kewirausahaan SMKN 2 Blora TahunPelajaran 2014/2015.

KAJIAN TEORI

Pengertian Kewirausahaan

lmu pengetahuan telah dan akan terus berkembang dengan sangat cepat pada abad ini. Perkembangan ini sangat besar pengaruhnya bag kehidupan kita termasuk dalam pekerjaan yang ada. Secara umum, mata pelajaran wirausaha sangat diperlukan untuk memperkuat perekonomian Indonesia. Selanjutnya, agar kita dapat memahami jiwa dan semangat kewirausahaan, terlebih dahulu harus mengetahui pengertian yang berkenaan dengan kewirausahaan dan wirausaha. Kewirausahaan berasal dari istilah entrepreneurship, sedangkan wirausaha berasal dari kata entrepreneur. Kata entrepreneur, secara tertulis digunakan pertama kali oleh Savary pada tahun 1723 dalam bukunya “Kamus Dagang’.

Entrepreneur adalah orang yang membeli barang dengan harga pasti, meskipun orang itu belum mengetahui berapa harga barang (atau guna ekonomi) itu akan dijual. Banyak orang yang memberi pengertian entrepreneur dan entrepreneurship, di antaranya sebagai berikut. Ada yang mengartikan sebagai orang yang menanggung risiko Ada yang mengartikan sebagai orang yang memobilisasi dan mengalokasikan modal Ada yang mengartikan sebagai orang yang menciptakan barang baru Ada yang mengartikan sebagai orang yang mengurus perusahaan Dengan demikian, sebenarnya apa yang dimaksud dengan kewirausahaan dan wirausaha itu? Agar lebih jelas dan ada pegangan, di bawah ini diuraikan beberapa pengertian kewirausahaan dan wirausaha, sebagai berikut: Kewirausahaan adalah mental dan sikap jiwa yang selalu aktif berusaha meningkatkan hasil karyanya dalam arti meningkatkan penghasilan. Kewirausahaan adalah suatu proses seseorang guna mengejar peluang-peluang memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui inovasi, tanpa memperhatikan sumber daya yang mereka kendalikan (Robin, 2006:46).

Kewirausahaan adalah proses dinamis untuk menciptakan tambahan kemakmuran. Kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal jasa dan risiko, serta menerima balas jasa, kepuasan, dan kebebasan pribadi. Sedangkan menurut Prawirokusumo (2006:56), Wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup. Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Adapun sayarat-syarat menjadi seorang wirausaha adalah : Tidak konsumtif dan boros, harus mengutamakan keberhasilan, harus mampu bergaul dan bersifat lues, harus mampu mengorganisasi diri, harus berwatak baik dan tinggi, harus trampil, berfikir positif, ulet dalam arti analisis harus tepat, sistematis dan metodologis, harus mempunyai semangat tinggi, berani dan bertanggung jawab. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha Suryana(2006:58). Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing. Menurut Zimmerer (1996:51), nilai tambah tersebut dapat diciptakan melalui cara-cara sebagai berikut:

1. Pengembangan teknologi baru (developing new technology),

2. Penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge),

3. Perbaikan produk (barang dan jasa) yang sudah ada (improving existing products or services),

4. Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (finding different ways of providing more goods and services with fewer resources).

Walaupun di antara para ahli ada yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran pengusaha kecil, namun sebenarnya karakter wirausaha juga dimiliki oleh orang-orang yang berprofesi di luar wirausaha. Karakter kewirausahaan ada pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan dan tantangan, apapun profesinya.

Mata pelajaran kewirausahaan diberikan pada jenjang SMK adalah bertujuan untuk membentuk manusia secara utuh (holistik), sebagai insan yang memiliki karakter, pemahaman dan ketrampilan sebagai wirausaha. Dan meningkatkan jumlah para para wirausaha yang berkualitas mewujudkan kemampuan dan kemantapan para wirausaha untuk menghasilkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, membudayakan semangat sikap, prilaku, dan kemampuan kewirausahaan di kalangan pelajar dan masyarakat yang mampu, handal dan unggul.

Keaktifan Belajar

(Aunurrahman 2009: 119) dikutip dari Keaktifan siswa dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar yang harus dipahami, disadari dan dikembangkan oleh setiap guru dalam proses pembelajaran. Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosi dan fisik.Siswa merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu. Daya keaktifan yang dimiliki anak secara kodrati itu akan dapat berkembang ke arah yang positif saat lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk perkembangan keaktifan itu Sedangkan menurut (Sudjana,2001:72), keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dilihat dalam (1) turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya; (2) terlibat dalam pemecahan masalah; (3) bertanya kepada siswa lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya; (4) berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah; (5) melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal; serta (6) menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperoleh.

(Em Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja 2004: 36) keaktifan berasal dari kata aktif yang artinya giat bekerja, giat berusaha, mampu bereaksi dan beraksi, sedangkan arti kata keaktifan adalah kesibukan atau kegiatan.Sedangkan menurut (Mulyasa, 2008: 158) Dalam mengkategorikan keaktifan, dapat ditinjau dari dua hal yaitu keaktifan dapat digolongkan menjadi keaktifan jasmani dan keaktifan rohani. Keaktifan jasmani maupun rohani meliputi (1) keaktifan indera yaitu pendengaran, penglihatan, peraba dan lain-lain; (2) keaktifan akal; serta (3) keaktifan ingatan. Keaktifan juga termasuk dalam sumber pembelajaran yang merupakan kombinasi antara suatu teknik dengan sumber lain.

Prestasi Belajar

Belajar merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu sangat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarga sendiri.

Winkel (1989:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya”.

Prestasi belajar dapat diukur dengan penilaian. Penilaian atau evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu (Nana Sudjana, 2009: 111).Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai melalui pengukuran dan penilaian terhadap penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa melalui proses belajar mengajar yang dinyatakan dalam simbul, angka, huruf atau kode.

Prestasi merupakan faktor penting untuk menentukan tingkat pengetahuan siswa. Prestasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai akhir penyajian materi mata pelajaran yang diberikan dengan memberikan latihan untuk dikerjakan di kelas dengan tujuan untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa dengan cara memberikan soal-soal pada siswa.

Pendekatan Kooperatif Model TGT ( Team Games Tournament )

Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif mode TGT sebagai berikut:

1. Kelompokkan siswa dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga sampai dengan lima orang. Anggota-anggota kelompok dibuat heterogen meliputi karakteristik kecerdasan, kemampuan awal matematika, motiviasi belajar, jenis kelamin, atupun latar belakang etnis yang berbeda.

2. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan presentasi guru dalam menjelaskan pelajaran berupa paparan masalah, pemberian data, pemberian contoh. Tujuan peresentasi adalah untuk mengenalkan konsep dan mendorong rasa ingin tahu siswa.

3. Pemahaman konsep dilakukan dengan cara siswa diberi tugas-tugas kelompok. Mereka boleh mengerjakan tugas-tugas tersebut secara serentak atau saling bergantian menanyakan kepada temannya yang lain atau mendiskusikan masalah dalam kelompok atau apa saja untuk menguasai materi pelajaran tersebut. Para siswa tidak hanya dituntut untuk mengisi lembar jawaban tetapi juga untuk mempelajari konsepnya. Anggota kelompok diberitahu bahwa mereka dianggap belum selesai mempelajari materi sampai semua anggota kelompok memahami materi pelajaran tersebut.

4. Siswa memainkan pertandingan-pertandingan akademik dalam tournament mingguan dan teman sekelompoknya tidak boleh menolong satu sama lain. Pertandingan indiviidual ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaaan siswa terhadap suatu konsep dengan cara siswa diberikan soal yang dapat diselesaikan dengan cara menerapkan konsep yang dimiliki sebelumnya.

5. Hasil pertandingan selanjutnya dibandingkan dengan rata-rata sebelumnya dan poin akan diberikan berdasarkan tingkat keberhasilan siswa mencapai atau melebihi kinerja sebelumnya. Poin ini selanjutnya dijumlahkan untuk membentuk skor kelompok.

6. Setelah itu guru memberikan pernghargaan kepada kelompok yang terbaik prestasinya atau yang telah memenuhi kriteria tertentu. Penghargaan disini dapat berupa hadiah, sertifikat, dan lain-lain.

Gagasan utama dibalik model TGT adalah untuk memotiviasi para siswa untuk mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang disajikan oleh guru. Jika para siswa menginginkan agar kelompok mereka memperoleh penghargaan, mereka harus membantu teman sekelompoknya mempelajari materi yang diberikan. Mereka harus mendorong teman meraka untuk melakukan yang terbaik dan menyatakan suatu norma bahwa belajar itu merupakan suatu yang penting, berharga dan menyenangkan.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester II Tahun Pelajaran 2014/2015 pada bulan Januari 2015 sampai bulan Maret 2015. Pemilihan waktu ini menyesuaikan dengan jadwal materi pelajaran Kewirausahaan pada siswa kelas XI jurusan Busana 1 SMKN 2 Blora.

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas XI jurusan Busana 1 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 29 siswa, terdiri dari 29 siswa perempuan. Objek penelitian tindakan kelas ini adalah peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa pada mata pelajara Kewirausahaan dengan penerapan metode TGT.

Sumber data penelitian ini meliputi hasil tes tertulis pada mata pelajaran Kewirausahaan pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa angka yaitu nilai hasil evaluasi pembelajaran Kewirausahaan, sedangkan data kualitatif berupa informasi tentang keefektifan pembelajaran di dalam kelas ketika guru melaksanakan pembelajaran dengan metode TGT untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar pada siswa kelas XI jurusan Busana 1 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah buku daftar nilai matematika siswa. Disamping itu diperoleh melalui tes praktik.

Validasi data nilai praktik kemampuan menerapkan model pembelajaran model TGT untuk meningkatkan pemahaman konsep dalam pembelajaran Kewirausahaan , baik kondisi awal, siklus I, maupun siklus II diperoleh dengan teknik observasi. Supaya data tersebut valid, peneliti membandingkan hasil observasinya dengan hasil observasi teman sejawat. Validasi data hasil pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Kewirausahaan untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar pada mata pelajaran Kewirausahaan, baik kondisi awal, siklus I, maupun siklus II diperoleh dengan teknik tes. Supaya data yang diperoleh valid perlu dilakukan validasi isi.

Analisis data kemampuan penerapan model TGT untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar pada mata pelajaran Kewirausahaan pada siswa kelas XI jurusan Busana 1 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015 pada setiap siklus dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif komparatif dan dilanjutkan dengan reflektif. Analisis data dalam penelitian ini dihitung rata-ratanya dengan bobot yang sama yaitu data kemampuan kondisi awal sebelum pelaksanaan PTK, data kemampuan pada siklus I, kemampuan pada siklus II.

Indikator kinerja pada penelitian tindakan kelas ini adalah: 1) Nilai rata-rata hasil belajar Kewirausahaan pada kelas XI jurusan Busana 1 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015 mencapai nilai Kriteri Ketuntasan Minimal yang ditetapkan (KKM) yaitu 65).2) Minimal 75% siswa kelas XI jurusan Busana 1 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015 tuntas belajar pada mata pelajaran Kewirausahaan.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Model penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 4 (empat) komponen yaitu 1) perencanaan; 2) pelaksanaan tindakan; 3) observasi; dan 4) refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Pra Siklus

Pada kondisi awal ini nilai rata-rata siswa hanya 62,20. Nilai ini masih jauh di bawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan dalam pembelajaran matematika yaitu 65. Hanya 11 siswa atau 37,93% dari total 29 siswa yang mencapai nilai KKM, masih ada 18 siswa atau 62,07% yang nilainya di bawah KKM. Ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar mata pelajarran Kewirausahan pada siswa kelas XI jurusan Busana 1 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal siswa tersebut antara lain: motivasi, intelegensi, kebiasaan dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor guru sebagai fasilitator kegiatan belajar, strategi pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum dan lingkungan.

Deskripsi Hasil Siklus I

Hasil pengamatan pada siklus I siswa terlihat belum aktif dan beberapa siswa yang terlihat kurang fokus dalam pembelajaran. Setelah guru memberi motivasi, siswa mengikuti pelajaran dengan baik. Motivasi siswa dalam menerima penjelasan guru sudah cukup tinggi. Siswa saling bekerjasama dengan temannya, yang diam dan pasif terus berupaya untuk bisa. Demikian upaya guru dalam memotivasi para siswa. Ternyata upaya ini cukup berhasil, siswa berusaha untuk aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Hasil belajar pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 64,40. Jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 19 siwa atau 65,52%. Sementara itu 10 siswa atau 34,48% masih belum tuntas belajar.

Deskripsi Hasil Siklus II

Pada kegiatan pembelajaran siklus II, secara umum siswa dapat menerapkan metode pembelajaran TGT dengan baik. Siswa juga tampak semakin percaya diri, hal ini karena siswa telah melaksanakan diskusi dengan tema sebelumnya. Bila dibandingkan dengan penampilan kegiatan pembelajaran pada siklus I, interaksi siswa lebih baik.

Hasil belajar pada siklus II, nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 69,65. Jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 29 siswa atau 100%. .

Pembahasan

Setelah dilakukan tidakan padapembelajaran siklus I dan siklus II, terjadi peningkatan pemahaman konsep pada siswa kelas XI jurusan Busana 1 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar siswa ketika dilakukan tes di akhir setiap siklus. Pada kondisi awal, rata-rata nilai tes siswa adalah 62,20. Nilai ini masih jauh dibawah KKM yang ditentukan yaitu 65. Pada siklus I, setelah dlakukan tindakan dengan menerapkan model pembelajaran TGT pada pembelajaran Kewirausahaan, nilai rata-rata tes siswa adalah 64,40. Walaupun sudah terjadi peningkatan, tetapi masih belum mencapai KKM yang ditentukan. Hal ini dikarenakan siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran TGT. Untuk itu perlu dilakukan lagi tindakan pada siklus II. Hasil belajar pada siklus II kembali meningkat dengan perolehan nilai rata-rata tes siswa 69,65. Dengan perolehan nilai rata-rata tes tersebut, indikator kinerja minimal nilai rata-rata tes mencapai nilai KKM sudah dapat terpenuhi.

Pada indikator kedua, yaitu minimal 75% siswa tuntas belajar juga terpenuhi. Pada kondisi awal, jumlah siswa yang tuntas belajar adaalah 11 siswa (34,38%). Pada siklus I meningkat menjadi 19 siswa (65,52%). Pada siklus II kembali meningkat menjadi 29 siswa (100%) siswa tuntas belajar.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar mata pelajaran Kewirausahaan pada siswa kelas XI jurusan Busana 1 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015. Hal itu dapat dilihat dari hasil penelitian berupa peningkatan hasil belajar dan tingkat ketuntasan belajar siswa. Pada kondisi awal, hasil belajar siswa rata-ratanya 62,20 meningkat menjadi 69,65 pada kondisi akhir. Tingkat ketuntasan belajar siswa juga meningkat dari 37,93% pada kondisi awal menjadi 100% pada kondisi akhir.

Saran

1. Bagi Guru

a. Guru dalam melaksanakan pembelajaran hendaknya mendorong siswa untuk senantiasa bersemangat dan bermotivasi tinggi.

b. Dalam proses pembelajaran, guru harus mempersiapkan sarana dan strategi pembelajaran yang tepat.

2. Bagi siswa

a. Dengan pembelajaran yang menggunakan media/alat peraga atau metode pembelajaran tertentu, hendaknya siswa dapat memanfaatkannya dengan baik sehingga kemampuan siswa dapat meningkat.

b. Dalam menggunakan media /alat peraga atau metode pembelajaran tertentu hendaknya siswa lebih berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

3. Bagi Sekolah

Sekolah hendaknya mendorong guru untuk mengembangkan kreasinya dalam pembelajaran dengan menggunakan media / alat peraga atau strategi pembelajaran yang tepat dan inovatif, karena inti sekolah sebagai penjamin mutu pendidikan di tingkat yang paling dasar sangat mendesak dan perlu mendapat perhatian serius. Disaat hampir semua guru sudah menikmati tunjangan guru, sekolah mempunyai kewajiban untuk mengubah pola pikir guru yang masih sebagian mapan dengan model tradisionalnya.

DAFTAR PUSTAKA

Baedowi. 2007. Kebijakan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: DPN Staf

Hamalik, Oemar. 2003. Media Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Ibrahim, M. dkk., 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

John W. Santrock. 2008. Psikologi Pendidikan, alih bahasa Tri Wibowo B S. Jakarta : Kencana

KBBI, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Nur, Muhammad. 1996. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya.

Sardiman, A.M 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo

Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar. Bandung: Sinar Baru Aglesindo

Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual operasional. Malang: Bumi Aksara

Winkel, W. 1989. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia