PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU

DALAM PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

MELALUI SUPERVISI KLINIS DI SD NEGERI 1 BANJAREJO KECAMATAN BANJAREJO KABUPATEN BLORA

SEMESTER 1 TAHUN 2018/2019

 

Sucipto

Kepala Sekolah SDN 1 Banjarejo Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora

 

ABSTRAK

Penelitian tindakan sekolah ini menggunakan 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari satu pertemuan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dari penelitian ini adalah guru dan siswa SDN 1 Banjarejo, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. Supervisi klinis dapat meningkatkan motivasi guru dalam kemampuan menggunakan media pembelajaran. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami penggunaan media sesuai kebutuhan pembelajaran, apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan dalam menggunaan media pembelajaran kepada para guru.Supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam penggunaan media pembelajaran. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa Kemampuan guru dalam menggunakan Media Pembelajaran meningkat. Guru lebih menguasai indikator dalam penguasaan Media Pembelajaran. Guru dapat memilih media yang tepat dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru lebih terbuka saat mendapatkan permasalahan khususnya dalam penentuan Media Pembelajaran.Berdasarkan peningkatan kemampuan menggunaan media pembelajaran melalui supervisi klinis, kemampuan guru dalam menggunaan media pembelajaran menigkat sehingga dapat mempengaruhi hasil nilai siswa dalam pembelajaran tahun 2018.

Kata kunci: Media Pembelajaran, Supervisi Klinis

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Guru sebagai pendidik dan pengajar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Pada setiap inovasi pendidikan khususnya dalam perubahan kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikan selalu saja bermuara pada guru. Hal ini menunjukkan betapa eksisnya peran guru dalam dunia pendidikan.

Di dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sisdiknas Bab XI Pasal 39 ayat (1), dijelaskan tenaga kependidikan bertugas melaksanakan adminsitrasi, pengelolaan, pengembangan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan dan satuan pendidikan.

Guru memiliki posisi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pendidikan. Guru berada pada lini paling depan dalam keterlaksanaan proses pembelajaran di sekolah. Guru merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas kualitas dan kebermaknaan proses pembelajaran di dalam kelas. Oleh karena itu, kinerja guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan sebuah proses pembelajaran.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, diharapkan kinerja guru semakin meningkat dan baik.

Dalam kaitan dengan proses belajar mengajar hendaknya guru dapat mengarahkan dan membimbing siswa untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar sehingga tercipta suatu interaksi yang baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Hal ini senada juga ditulis Madri M dan Rosmawati, bahwa terjadinya proses pembelajaran itu ditandai dengan dua hal yaitu: (1) siswa menunjukkan keaktifan, seperti tampak dalam jumlah curahan waktu untuk melaksanakan tugas ajar, (2) terjadi perubahan perilaku yang selaras dengan tujuan pengajaran yang diharapkan (2004: 274).

Pada kenyataannya dari hasil temuan di lapangan masih banyak guru yang belum optimal dalam penggunaan media dalam pembelajaran. Kondisi tersebut juga terjadi di di SDN 1 Banjarejo Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora. Dari 8 (delapan) guru, 6 (enam) orang diantaranya selalu menggunakan Media Pembelajaran dengan media ceramah, tanya jawab, diskusi dan diakhiri dengan pemberian tugas. Pemberian materi juga lebih terpusat pada guru. Kemampuan guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran melalui pemilihan metode, media, alat peraga, maupun sumber belajar belum optimal. Dengan kondisi demikian, jika dibiarkan maka akan menghambat proses pembelajaran dimana hasil belajar tidak akan dicapai dengan maksimal.

Tugas guru adalah mendiagnosis kebutuhan belajar, merencanakan pelajaran, memberikan presentasi, mengajukan pertanyaan, dan mengevaluasi pengajaran. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat yang kritis bagi kegiatan intruksional yang efektif agar seorang guru berhasil mengelola kelas hendaklah ia mampu mengantisipasi tingkah laku siswa yang salah dan mencegah tingkah laku demikian agar tidak terjadi.

Berdasarkan hal di atas sudah seharusnya dalam proses belajar mengajar seorang guru mampu memilih dan menggunakan Media Pembelajaran yang sesuai, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien sesuai tujuan yang diharapkan. Peranan guru dalam menentukan Media Pembelajaran sangatlah penting, sehingga guru hanya sebagai fasilitator saja. Kondisi tersebut tentu menjadi keprihatinan tersendiri bagi kepala sekolah. Oleh karena itu, pada tahap awal peneliti yang sekaligus kepala sekolah di SDN 1 Banjarejo Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora berupaya melakukan upaya pendekatan dengan sesama guru melalui perbincangan untuk mengetahui hal-hal yang menjadi kendala oleh guru dalam memilih Media Pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan pembelajaran.

Dari hasil wawancara tersebut, dihasilkan suatu kesimpulan bahwa kesulitan guru dalam memilih didasari oleh sulitnya menentukan materi dengan kegiatan pembelajaran yang tepat. Selain itu kondisi siswa yang motivasinya rendah menjadi kendala tersendiri dalam mengaplikasikan Media Pembelajaran tertentu pembelajaran yang belum memenuhi semua kebutuhan pembelajaran.

Mengacu pad hasil di atas, maka guru dan peneliti melakukan kesepakatan untuk memperbaiki kondisi yang ada melalui kegiatan supervisi yaitu supervisi klinis. Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkat laku mengajar tersebut (John J. Bolla dalam Ngalim Purwanto 2009: 91). Dengan adanya pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah diharapkan member dampak terhadap terbentuknya sikap professional guru.

Bertitik tolak dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan Penelitian Tindakan Sekolah dengan judul “Peningkatan Keterampilan Guru dalam Penggunaan Media Pembelajaran melalui Supervisi Klinis di SD Negeri 1 Banjarejo Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora Semester 1 Tahun 2018/2019”.

Identifikasi Masalah

Mengacu pada latar belakang masalah diatas, kondisi yang terjadi di SDN 1 Banjarejo dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Sebagian besar guru di SDN 1 Banjarejo belum mampu menggunakan Media Pembelajaran yang
  2. Pemilihan Media Pembelajaran sering tidak sesuai dengan materi yang diajarkan, sehingga hasilnya kurang optimal.
  3. Sebagian besar guru SDN 1 Banjarejo mengalami kesulitan dalam penguasaan matode pembelajaran karena kurangnya pengetahuan tentang hal itu.
  4. Pelatihan tentang penerapan Media Pembelajaran sudah dilakukan namun kurang diaplikasikan sehingga hasilnya menjadi kabur.

Pembatasan Masalah

Dari permasalahan yang muncul di SDN 1 Banjarejo, agar hasil penelitian tindakan sekolah ini lebih maksimal maka permasalahan yang akan dibahas dibatasi pada: upaya meningkatkan kemampuan guru dalam penggunaan Media Pembelajaran melalui supervisi klinis.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan, yaitu: bagaimanakah upaya meningkatkan kemampuan guru dalam penggunaan Media Pembelajaran melalui supervisi klinis?

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: untuk mengetahui upaya peningkatan kemampuan guru dalam penggunaan Media Pembelajaran melalui supervisi klinis.

 

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:

Bagi Sekolah

  1. Memberikan sumbangan pemikiran bagi sekolah-sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
  2. Menambah pengetahuan dan ketrampilan guru-guru sehingga dapat dimanfaatkan untuk aktifitas pembelajaran, yang akhirnya dapat meningkatkan mutu sekolah.

Bagi Guru

  1. Meningkatkan hubungan sosial positif antar pribadi guru dengan guru dan guru dengan kepala sekolah.
  2. Meningkatkan kemampuan guru dalam penggunaan Media Pembelajaran.
  3. Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan Media Pembelajaran.

Bagi Masyarakat

Memberikan masukan dan pengetahuan bagi masyarakat secara umum dan orang tua siswa mengenai penerapan Media Pembelajaran, bahwa guru telah berupaya mengoptimalkan hasil kegiatan belajar-mengajar dengan memanfaatkan alat peraga.

KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori

Kemampuan Guru SD dalam Kegiatan Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Dengan demikian, guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritasnya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat (Depdiknas, 2002: 1).

Dalam proses belajar mengajar menggambarkan adanya satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara siswa yang belajar dengan guru yang mengajar, antara kedua kegiatan ini terjadi interaksi yang sangat menunjang.

Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Artinya guru bukan saja harus pintar tapi juga pandai mentrasfer ilmunya kepada peserta didik.

Salah satu kemampuan/kompetensi yang sangat menentukan keberhasilan dari kegiatan pembelajaran adalah mampu mengelola program kegiatan belajar mengajar. Pengelolaan tersebut dapat dilakukan dengan memilih dan menerapkan Media Pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin medium yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar”. Atau dengan kata lain media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan.

Menurut Gearlach & Ely (dalam Fathurrohman, 2007:65) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun suatu kondisi yang membangun suatu kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau konsep.

Menurut Hamdani (2011) media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim atau penerima pesan. Menurut Criticos (dalam Daryanto, 2018) media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Menurut AECT (Association of Education and Communication Technology) dalam Rahadi (2003) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Menurut Daryanto (2018) media pembelajaran merupakan sarana perantara dalam proses pembelajaran.

Burhanuddin (2009) menyatakan media sebagai suatu alat yang dapat digunakan sebagai pembawa pesan atau materi pelajaran dalam suatu kegiatan pembelajaran yang dimaksudkan untuk memudahkan siswa memahami materi pelajaran.

Suparman (dalam Fathurrohman, 2007:65), mendefinisikan media merupakan alat yang digunakan untuk menyalurkan pesan atau informasi dari pengirim kepada penerima pesan. Dalam aktivitas pembelajaran, media dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik.

Supervisi Klinis

Pengertian Supervisi

Supervisi adalah usaha dari pertugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran atau media serta evaluasi pengajaran (Piet A. Sahertian, dkk, 2000: 17).

Supervisi juga didefinisikan sebagai segala bantuan dari para pemimpin sekolah, yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya di dalam mencapai tujuan-ujuan pendidikan (Ngalim Purwanto, 2009: 76).

Hasil Penelitian yang Relevan

Salah satu tugas kepala sekolah adalah supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Jika kepala sekolah sebagai supervisor dapat melakukan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya dengan baik melaksanakan supervisi pendidikan secara efektif dan proporsional maka logikanya pemberian supervisi oleh kepala sekolah akan meningkatkan kinerja guru.

Berkaitan dengan hasil penelitian yang relevan berkaitan dengan upaya peningkatan kemampuan profesionalisme guru melalui supervisi klinis, salah satu peneliti yang menerapkan supervisi klinis adalah Amidon, Shin, dan Martin. Bluberg dan Amidon menemukan bahwa guru lebih menyukai dan menghargai penerapan komunikasi tidak langsung yang merupakan unsur penting dalam supervisi klinis.

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Banjarejo Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora.

Waktu

Penelitian ini berlangsung pada semester I yang dimulai dari bulan Agustus hingga bulan Oktober 2018.

Subyek Penelitian

Subyek yang diteliti pada pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah ini, adalah sebagai berikut:kepala sekolah (dirinya sendiri), guru kelas IV, V, dan VI yaitu: Guru kelas IV, guru kelas V, dan guru kelas VI, dan siswa.

Tindakan

Tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengguakan Media Pembelajaran pada guru kelas IV, V, dan VI adalah melalui Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) melalui teknik supervisi klinis.

Langkah-langkah yang digunakan sebagai prosedur penelitian tindakan, mengacu pada pendapat yang dikemukakan oleh Kemmis dan M. Taggart, dengan menggunakan model spiral. Langkah-langkah tersebut meliputi: perencanaan (planning), pelaksanaan (action), observasi (observing), dan refleksi (reflection).

Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi yang masing-masing secara singkat diuraikan sebagai berikut:

Observasi

Media observasi ini digunakan untuk memperoleh data proses pembelajaran dengan variabel kemampuan guru dalam menentukan Media Pembelajaran yang terdiri dari lembar rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru, lembar pelaksanaan penilaian oleh guru, lembar penilaian keterampilan melaksanakan hubungan pribadi, lembar aktifitas siswa dalam pembelajaran.

Wawancara

Kegiatan wawancara, dilakukan dengan cara wawancara tidak terstruktur dilakukan secara mendalam. Maksudnya, wawancara tidak dilakukan secara formal dan ketat, melainkan secara akrab, sehingga guru merasa tidak diwawancarai dan data yang diperoleh lebih akurat.

Hal yang dibicarakan dalam wawancara antara peneliti (supervisor) dengan guru adalah tentang penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Wawancara dilakukan dengan tujuan memperoleh informasi yang akurat tentang penggunaan alat peraga dan hasilnya.

Dokumentasi

Dokumentasi merupakan kegiatan penelitian dengan mengamati berbagai dokumen yang berkaitan dengan topik dan tujuan penelitian. Data dalam penelitian yang dihimpun melalui dokumentasi adalah hasil kegiatan belajar pembelajaran sebelum dan setelah kegiatan supervisi terhadap penggunaan Media Pembelajaran, dokumentasi sekolah, data guru dan profil sekolah.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan dengan melakukan analisis SWOT, yang terdiri dari unsur-unsur S-Strength (kekuatan), W-Weaknesses (kelemahan), O-Opportuniy (kesempatan), T-Threat (ancaman). Empat hal tersebut dilihat dari sudut kepala sekolah yang melaksanakan dan guru yang dikenai tindakan (Suharsimi Arikunto, 2008: 7).

Melalui penerapan teknik analisis SWOT, kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri peneliti dan subjek tindakan diidentifikasi secara cermat sebelum mengidentifikasi yang lain.

Unsur kesempatan dan ancaman diidentifikasi dari luar peneliti dan juga luar dini guru (subyek yang dikenai tindakan). Melalui pemanfaatan unsur ini, peneliti mempertimbangkan faktor dari luar peneliti sendiri maupun guru sebagai subyek tindakan yang bisa dimanfaatkan dan dipertimbangkan karena bisa memberikan dampak yang kurang baik terhadap tindakan tanpa harus mengubah situasi asli yang tidak mengandung resiko.

HASIL PENELITIAN

Pelaksanaan supervisi klinis pada dasarnya difokuskan pada perbalikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis intelektual yang Intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan mengadakan modifikasi rasional.

Berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan supervisi klinis di SD Negeri 1 Banjarejo Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora, target yang diharapkan adalah kemampuan guru dalam menggunakan Media Pembelajaran dengan asumsi bahwa melalui penerapan media yang tepat maka proses ekplorasi, elaborasi dan konfirmasi dalam kegiatan inti pembelajaran dapat dioptimalkan sehingga prestasi belajar siswa menjadi meningkat.

Dasar pertimbangan pengembangan profesionalisme guru pada indikator tersebut karena guru merupakan ujung tombak dalam peningkatan kualitas pembelajaran dan penanam nilai-nilai dasar pada pendidikan sekolah dasar yang selanjutnya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan anak didiknya di masa yang akan datang.

Dari hasil pelaksanaan supervise klinis pada studi awal, siklus I, dan siklus II, berikut ini tabel tingkat kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajara berdasarkan persentase indikator yang dikuasai:

Rata-rata Nilai Kemampuan Guru Kelas IV, V, dan VI dalam Menggunakan Media Pembelajaran pada Studi Awal, Siklus I da Siklus II

Pelaksanaan Pengamatan Persentase Kemampuan Menggunakan

Media Pembelajaran

Guru Kelas IV Guru Kelas V Guru Kelas VI
Pra Siklus 1,83 2,00 2,33
Siklus I 2,55 2,67 2,67
Siklus II 3,67 3,67 3,50

Keterangan score:

A          : 3,28 – 4,00      : Sangat Memuaskan

B          : 2,78 – 3,27      : Memuaskan

C          : 2,38 – 2,77      : Kurang

 

Melalui pencapaian tersebut, maka tujuan dari supervisi klinis yang antara lain membantu guru mengembangkan kompetensinya, dapat tercapai dengan optimal. Hal tersebut juga dikemukakan oleh guru setelah pelaksanaan observasi, sebagai berikut:

  1. Berkaitan dengan kemampuan guru dalam menggunakan Media Pembelajaran, guru kelas IV menyatakan sebagai berikut:
  2. Melalui latihan, bimbingan dan dukungan pada kegiatan supervisi kemampuan kami dalam menggunakan alat peraga menjadi lebih maksimal. (wawancara tanggal 26 Oktober 2018)
  3. Guru kelas V, memberikan penyataan berkaitan dengan kemampuan dalam menggunakan media pembalajaran sebagai berikut:
  4. Beberapa indikator yang semula kurang kami pahami, saat ini sudah bisa dipahami dengan baik. Kami juga bisa menerapkan seluruh media yang sudah tercatat dalam RPP. (wawancara tanggal 28 Oktober 2018).
  5. Dan guru kelas VI, memberikan pernyataan tentang kemampuan menyusun RPP sebagai berikut:
  6. Beberapa media baru kami terapkan, dan hal tersebut ternyata hasilnya luar biasa terhadap peningkatan keaktifan dan motivasi siswa untuk belajar. Ini tentu sangat positif karena kelas VI merupakan masa-masa menjelang ujian nasional yang butuh kesungguhan siswa dalam memahami materi. (wawancara tanggal 28 Oktober 2018).

Dari hasil wawancara tersebut, maka secara garis besar melalui kegiatan supervisi klinis diperoleh catatan sebagai berikut:

  1. Kemampuan guru dalam menggunakan Media Pembelajaran meningkat.
  2. Guru lebih menguasai indikator dalam penguasaan Media Pembelajaran.
  3. Guru dapat memilih media yang tepat dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  4. Guru lebih terbuka saat mendapatkan permasalahan khususnya dalam penentuan Media Pembelajaran.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Mengacu pada hasil penelitian tindakan sekolah melalui kegiatan pembinaan akademik, disimpulkan sebagai berikut:

  1. Keberhasilan sebuah kegiatan pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor yang dating dari guru, siswa, maupun kepala sekolah sebagai pemimpin di Salah satu peranan kepala sekolah dalam kegiatan pembelajaran adalah melakukan upaya perbaikan pembelajaran guru dengan menerapkan pendekatan supervisi, diantaranya supervisi klinis.
  2. Media Pembelajaran merupakan salah satu komponen yang sangat mempengaruhi keberhasilan kegiatan belajar mengajar, karena di dalamnya memuat strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan esifien.
  3. Peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan Media Pembelajaran melalui supervisi klinis merupakan salah satu solusi yang cukup efektif. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil akhir penelitian dimana guru dapat menguasai indikator yang ada dalam menentukan Media Pembelajaran dan mencari media yang benar-benar tepat dan sesuai dengan tujuan pembelajaran serta kondisi lingkungan kelas dan lingkungan sekolah itu sendiri yang selanjutnya memberikan manfaat bagi peningkatan prestasi belajar siswa dan peningkatan mutu sekolah.

Saran-saran

Berkaitan dengan hasil penelitian di atas, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut:

Bagi Guru

Kemampuan menggunakan Media Pembelajaran merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru karena akan sangat membantu dalam mencapai target pembelajaran. Jadi sangat bijaksana jika guru berusaha mencari masukan tentang berbagai Media Pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan kegiatan yang akan dilakukan tanpa meninggalkan faktor siswa, lingkungan, dukungan media, dan sumber belajar agar hasilnya lebih maksimal.

 

 

 

Bagi Komite Sekolah

Sebaiknya komite sekolah memfasilitasi sekolah dengan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan profesionalisme guru sehingga mutu sekolah dapat terus ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, 2005. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya

Dedi Supriadi, 2002. Laporan Akhir Tahun Bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Artikel. Jakarta: Kompas

Depdiknas, 2002. Kurikulum dan HAsil Belajar Kompetensi Dasar. Jakarta: Balitbangdiknas

Depdiknas, 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Em Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja, 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Difa Publisher

  1. La Solo, 1983. Pendekatan dan Teknik-teknik Supervisi Klinis. Jakarta: Departemen P dan K, Ditjen Pend. Tinggi (PPLPTK)

Nana Sudjana, 2005. Strategi Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Ngalim Purwanto, 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Piet A. Sahertian, 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengambangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta

Samuel Smith, mengjarkan-matematika-sebuah-pemikiran.html diakses dari http://chamisah.blogspot.com

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta