PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGHITUNG

DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

MELALUI METODE DEMONSTRASI KELAS III SEMESTER 2

SDN 2 JENGGAWUR TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Sri Subekti

Guru SDN 2 Jenggawur Kecamatan Banjarmangu

ABSTRAK

Kemampuan menghitung di SDN 2 Jenggawur masih rendah, hanya 1 siswa atau 10% yang memiliki kemampuan menghitung tinggi dan prestasi belajar matematika nilai rata-rata baru 62,5. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghitung dan prestasi belajar. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas III SDN 2 Jenggawur semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015. Subyek penelitian 10 siswa terdiri dari laki-laki 5 siswa dan perempuan 5 siswa. Penelitian dilakukan selama 2 (dua) siklus dengan prosedur umum meliputi tahapan planning, acting, observing, dan reflecting. Teknik pengumpulan data melalui metode observasi dan tes. Instrumen pengambilan data dengan lembar pengamatan untuk mengetahui kemampuan menghitung dan butir soal tes prestasi untuk prestasi belajar siswa.Teknik analisis data dengan menggunakan metode deskripsi komparatif yaitu membandingkan pra siklus dan antar siklus. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil pada siklus I kemampuan menghitung 6 siswa atau 60% kategori tinggi, kemampuan menghitung 2 siswa atau 20% kategori sedang, kemampuan menghitung 2 siswa atau 20% kategori rendah. Siklus II: kemampuan menghitung 8 siswa atau 80% kategori tinggi, kemampuan menghitung 2 siswa atau 20% kategori sedang, kemampuan menghitung 0 siswa atau 0% kategori rendah. Pada siklus I Prestasi belajar rata-rata 69,1 dengan ketuntasan belajar 50%. Pada siklus II Prestasi belajar rata-rata 78,6 dengan ketuntasan belajar 80%. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan menghitung dan prestasi belajar.

Kata Kunci: kemampuan menghitung, prestasi belajar, metode demonstrasi

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Proses pembelajaran yang masih monoton dan konvensional kurang menggairahkan siswa untuk belajar, maka seorang guru perlu inovasi dan kreasi dalam pembelajarannya. Dalam proses pembelajaran, seorang guru tidak akan terlepas dari berbagai masalah. Salah satu masalah yang dihadapi pada saat ini adalah bagaimana menciptakan suatu kondisi lingkungan belajar yang bermakna bagi siswa. Kewajiban pembelajaran sehari-hari, masih banyak guru yang kurang professional dalam menunaikan tugas dan fungsinya. Kurangnya profesional tersebut sering kali tidak disadari oleh para guru, bahkan masih banyak diantaranya yang menganggap hal biasa dan wajar. Padahal, sekecil apapun kesalahan yang dilakukan guru, khususnya dalam proses pembelajaran, akan berdampak negatif terhadap perkembangan siswa.

Guru yang professional selalu berupaya agar mereka dapat memilki kemampuan yang sesuai dengan yang telah dirumuskan. Akan tetapi dalam proses pelaksanaan belajar mengajar guru selalu menghadapi berbagai masalah yang dapat menghambat tercapainya pembelajaran. Berbagai masalah tersebut dapat timbul dari sekolah maupun luar sekolah. Masalah yang timbul dari sekolah: materi pembelajaran, waktu yang tersedia, pencapaian target, keadaan guru, kemampuan menghitung belajar siswa dan lain-lain. Masalah dari luar sekolah adanya pengaruh perkembangan tehnologi modern. Misalnya televisi, HP, play station yang membuat siswa malas belajar dan cenderung bermain, sehingga kemampuan menghitung belajar berkurang.

Guru harus peka terhadap masalah yang terjadi baik yang timbul dari sekolah maupun luar sekolah. Karena mata pelajaran matematika adalah salah satu mata pelajaran yang memerlukan perhatian khusus. Dengan melihat kenyataan seperti ini peneliti menyadari bahwa rata-rata anak sekolah sekarang enggan berfikir, kurang antusias, maunya praktis, cepat dan instan. Itu semua pengaruh adanya berbagai media hiburan yang bersifat kurang mendidik.

Meskipun pada kenyataannya kemajuan tehnologi sangat membantu kegiatan manusia, tapi banyak manusia yang salah menerapkannya. Seperti halnya dalam mendampingi putra putrinya dalam belajar, orang tua seharusnya tau kapan waktunya menonton televisi sehingga tidak mengganggu waktu belajar mereka. Akibatnya putra-putrinya tidak antusias lagi dengan pelajaran di sekolah.

Seperti yang terjadi di tempat peneliti mengajar pada kelas III Sekolah Dasar Negeri 2 Jenggawur Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara pada Semester II Tahun pelajaran 2014/2015 pada ulangan Matematika, kompetensi dasar mengenal pecahan sederhana dan membandingkan pecahan sederhana, hasil belajar sangat jauh dengan yang diharapkan. Dari 10 siswa yang mendapatkan nilai tinggi hanya 1 siswa atau 10%, 5 siswa kategori sedang atau 50% data tersebut menunjukan ketidakberhasilan dalam pembelajaran karena masih ada 4 siswa atau 40% yang belum berhasil.

Agar kondisi seperti ini tidak dapat berdampak buruk terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar siswa berikutnya, maka peneliti mencoba melakukan perbaikan melalui Peneliti Tindakan Kelas (PTK).

Berdasarkan identifikasi, analisis, dan konsultasi dengan observer ditentukan rumusan masalah tersebut diatas yang menjadi fokus perbaikan dalam pembelajaran Matematika kompetensi dasar “ mengenal pecahan sederhana dan membandingkan pecahan sederhana dengan indikator membuktikan pecahan sederhan dapat dirumuskan masalahnya untuk menjadi fokus perbaikan pembelajaran”. Apakah metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan menghitung dan prestasi belajar pada mata pelajaran Matematika pada siswa kelas III SD Negeri 2 Jenggawur Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara?.

Sejalan dengan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan mengitung dan prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode demonstrasi kompetensi dasar “mengenal pecahan sederhana” dan untuk mengetahui peningkatan menghitung belajar siswa pada kompetensi dasar “mengenal pecahan sederhana”.

Secara umum penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, yaitu meningkatkan kemampuan menghitung siswa dalam proses pembelajaran mata pelajaran Matematika, meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran mata pelajaran matematika, dan meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Manfaat perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini bagi guru, yaitu memperbaiki kinerja guru dalam perbaikan pembelajaran, guru dapat berkembang secara professional, guru lebih percaya diri, dan guru mendapatkan kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan sendiri.

LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Kemampuan Menghitung

Kemampuan berasal dari kata “mampu” yang artinya kuasa atau berada. Kata mampu yang mendapat awalan ke- dan akhiran –an akan menjadi kata kemampuan yang selanjutnya memiliki arti kesanggupan, kecakapan, kekuatan, atau kekayaan. (Hasan Alwi,2005: 707).

Menurut Riyanto (2001) berhitung secara harfiah berarti cara menghitung dengan menggunakan angka-angka. Sedangkan menurut Masykur dan Fatharani (2008) kemampuan berhitung adalah penguasaan terhadap ilmu hitung dasar yang merupakan bagian dari matematika yang meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menghitung adalah kesanggupan anak dalam penguasaan ilmu hitung yang meliputi penjumlahan, pengurangan, dan pembagian terhadap bilangan-bilangan tertentu dengan aspek atau indikator: a) Menunjukkan menghitung; b) Menyebutkan urutan bilangan; c) Menjumlahkan angka dan benda; d) Mengurangkan angka dan benda; e) Memasangkan lambang bilangan dengan benda; f) Menghitung benda; g) Membandingkan benda; h) Mengenal konsep bilangan; i) Membuat urutan bilangan; j) Menghubungkan lambang bilangan dengan benda.

Prestasi Belajar

Menurut Darsono (2005:27) prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh dari belajar yang berupa perubahan perilaku yang relatif tetap. Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport. Muhibbin Syah (2004: 141) menjelaskan “prestasi belajar adalah setiap macam kegiatan belajar menghasilkan sesuatu perubahan yang khas yaitu hasil belajar”.

Selanjutnya Winkel (1996:162) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar/kemampuan seseorang siswa dalam melakukan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapai. Sedangkan menurut Arif Gunarto (1993:77) mengemukakan bahwa prestasi adalah usaha maksimal yang dicapai seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.

Prestasi belajar merupakan suatu gambaran dari penguasaan kemampuan para peserta didik sebagaimana telah ditetapkan untuk suatu pelajaran tertentu .Setiap usaha yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru sebagai pengajar maupun oleh peserta didik sebagai pelajar bertujuan untuk mencapai prestasi setinggi–tingginya.

Metode Demonstrasi

Menurut Muhibbin Syah (2006: 208) demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.

Sedangkan Menurut Moedjiono, (2005) metode demonstrasi adalah adanya seorang guru, orang luar yang diminta untuk memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas.

Metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dengan mempertunjukan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu untuk menunjukan proses tertentu. Keunggulan metode demonstrasi yaitu siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, guru dapat membuktikan teorinya, dan siswa dapat mengamati suatu objek.

Hipotesis Tindakan

Pembelajaran menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan menghitung belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika. Pembelajaran menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.

Metode Penelitian

Tempat penelitian ini adalah kelas III semester 2 SDN 2 Jenggawur, Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara tahun 2014/2015. Subyek penelitiannya adalah siswav kelas III. Karakteristik siswa: kurang berkemampuan menghitung terhadap pelajaran matematika, kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran matematika, dan prestasi belajar siswa rendah. Jumlah siswa 10 siswa, laki-laki 5 siswa , dan perempuan 5 siswa.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang pelaksanaannya melalui proses pengkajian berdaur terdiri atas 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi(reflecting). Hasil dari refleksi terhadap tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama digunakan untuk memperbaiki tindakan berikutnya.

Pengumpulan data menggunakan tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar siswa terhadap materi pembelajaran, obserfasi untuk mengamati kemampuan menghitung siswa untuk belajar dalam proses pembelajaran. Data kuantitatif akan diolah melalui analisis deskriptif, sedangkan data kualitatif akan diolah dalam bentuk paparan (narasi) untuk menggambarkan kualitas pembelajaran.

Prosedur Pelaksanaan

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus. Prosedur umum penelitian ini melalui tahapan planning, acting, observing, dan reflecting.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Kondisi awal

Pembelajaran mata pelajaran matematika yang dilakukan peneliti pada umumnya masih monoton dan konvensional kurang menggairahkan siswa untuk belajar, masih banyak anak-anak yang suka bermain sendiri. Metode yang digunakan ceramah sehingga anak merasa bosan. Proses pembelajaran ini berakibat kemampuan berhitung rendah.

Hal ini ditunjukkan hasil pengamatan dari 10 siswa hanya 1 siswa atau 10% yang kemampuan menghitung tinggi. Kondisi rendahnya kemampuan menghitung berdampak juga pada rendahnya prestasi belajar. Hal ini ditunjukkan pada nilai tes prestasi belajar prasiklus menunjukkan banyak siswa yang belum tuntas atau yang mendapatkan nilai yang lebih besar dari KKM 70 ada 3 siswa dengan ketuntasan belajar 30%, nilai tertinggi 90, nilai terendah 45, dengan rentang nilai 10-100 dengan nilai rata-rata 62,5.

Siklus I

Pengamatan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan menghitung siswa dalam proses pembelajaran mata pelajaran matematika. Setelah melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus I, diperoleh data sebagai berikut:

1. Kemampuan menghitung

Data tentang kemampuan menghitung diambil setelah melakukan pembelajaran pada akhir siklus I. Instrumen data berupa lembar pengamatan yang terdiri dari 10 indikator . Dari data diperoleh kemampuan menghitung skor 8 -10 kategori tinggi, skor 4-7 kategori sedang, skor 1-3 kategori rendah.

Pada siklus I diperoleh hasil, siswa memiliki kemampuan menghitung tinggi 6 siswa atau 60 %, siswa memiliki kemampuan menghitung sedang 2 siswa atau 20% dan siswa memiliki kemampuan menghitung rendah 2 siswa atau 20%. Ini berarti ada kenaikan kemampuan menghitung tinggi dari pra siklus 1 siswa menjadi 6 siswa.

2. Tes Prestasi Belajar

Setelah pembelajaran berlangsung 3 kali pertemuan maka dilakukan tes tertulis.. Hasil tes diperoleh data sebagai berikut: Pada tes prestasi belajar siklus I hasil nilai tertinggi 90 nilai terendah 50 dan nilai rata–rata 69,1. Ketuntasan belajar 50% atau 5 siswa.

Diskusi refleksi pada siklus I dengan hasil analisis dan diskusi secara kolaboratif diperoleh data sebagai berikut: Berdasarkan kriteria keberhasilan, maka: 1) Kemampuan menghitung baru mencapai 6 siswa yang tinggi atau 60%. 2) Prestasi belajar mata pelajaran matematika nilai rata-rata baru mencapai 69,1 dengan ketuntasan belajar 50% sehingga belum berhasil karena kriteria keberhasilan nilai rata-rata 75 atau 75%. Keputusan refleksi bersama kolaborator, maka kekurangan yang yang segera diperbaiki dan melanjutkan ke siklus II.

Siklus II

Pengamatan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan menghitung siswa dalam proses pembelajaran mata pelajaran matematika. Setelah melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus I, diperoleh data sebagai berikut:

1. Kemampuan menghitung

Data tentang kemampuan menghitung diambil setelah melakukan pembelajaran pada akhir siklus II. Instrumen data berupa lembar pengamatan yang terdiri dari 10 indikator . Dari data diperoleh kemampuan menghitung skor 8 -10 kategori tinggi, skor 4-7 kategori sedang, skor 1-3 kategori rendah.

Pada siklus II diperoleh hasil, siswa memiliki kemampuan menghitung tinggi 8 siswa atau 80%, siswa memiliki kemampuan menghitung sedang 2 siswa atau 20% dan siswa memiliki kemampuan menghitung rendah 0 siswa atau 0%. Ini berarti ada kenaikan kemampuan menghitung tinggi dari siklus I ada 6 siswa menjadi 8 siswa pada siklus II.

2. Tes Prestasi Belajar

Setelah pembelajaran berlangsung 3 kali pertemuan maka dilakukan tes tertulis.. Hasil tes diperoleh data sebagai berikut: Pada tes prestasi belajar siklus II hasil nilai tertinggi 95 nilai terendah 50 dan nilai rata–rata 78,6. Ketuntasan belajar 80% atau 8 siswa.

Diskusi refleksi pada siklus II dengan hasil analisis dan diskusi secara kolaboratif diperoleh data sebagai berikut: Berdasarkan kriteria keberhasilan, maka: 1) Kemampuan menghitung sudah mencapai 8 siswa yang tinggi atau 80%. 2) Prestasi belajar mata pelajaran matematika nilai rata-rata mencapai 78,6 dengan ketuntasan belajar 80% sehingga sudah berhasil karena kriteria keberhasilan nilai rata-rata 75 atau 75%. Keputusan refleksi bersama kolaborator, maka perbaikan pembelajaran dihentikan pada siklus II.

Pembahasan

Pada pengamatan pra siklus kemampuan menghitung tinggi hanya 10% atau 1 siswa dari 10 siswa, kemampuan menghitung sedang 40% atau 4 siswa dan kemampuan menghitung rendah 50% atau 5 siswa. Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi kemampuan menghitung mengalami peningkatan. Kemampuan menghitung tinggi 60% atau 6 siswa dari 10 siswa, kemampuan menghitung sedang 20% atau 2 siswa dan kemampuan menghitung rendah 20% atau 2 siswa.

Kemampuan menghitung belum mencapai indikator keberhasilan. Pada siklus II penerapan metode demonstrasi dengan penekanan/perubahan menambah kegiatan untuk meningkatkan kemampuan menghitung dan pembimbingan secara lebih merata. Hasil pengamatan pada siklus II adalah sebagai berikut, kemampuan menghitung tinggi 80% atau 8 siswa dari 10 siswa, kemampuan menghitung sedang 20% atau 2 siswa, dan kemampuan menghitung rendah 0% atau 0 siswa.

Berdasarkan data di atas pada siklus I ada kenaikan kemampuan menghitung dari 1 siswa pada pra siklus menjadi 6 siswa pada siklus I. Pada siklus II ada kenaikan kemampuan menghitung dari 6 siswa pada siklus I menjadi 8 siswa pada siklus II. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan menghitung dari 1 siswa menjadi 8 siswa

Dilihat dari daya serap siswa, hasil pembelajaran pada siklus pertama terjadi peningkatan prestasi siswa. Pada prasiklus 3 siswa (30%) yang tuntas belajar dan pada siklus pertama 5 siswa (50%) yang tuntas belajar. Respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi pada mata pelajaran Matematika kompetensi dasar “mengenal pecahan sederhana dan membandingkan pecahan sederhana” pada siklus pertama mengalami peningkatan pada siklus awal. Peningkatan daya serap ini merupakan bukti bahwa belajar/pembelajaran akan lebih jelas lengkap dan menarik kemampuan menghitung siswa.

Dilihat dari ketuntasan belajar ada peningkatan, yaitu 30% pada prasiklus menjadi 60% pada siklus pertama. Peningkatan ketuntasan belajar ini karena peneliti menggunakan metode pembelajaran demonstrasi. Walaupun terjadi peningkatan ketuntasan belajar namun belum sesusai indikator kinerja sehingga perlu dibuktikan lagi melalui tindakan pada siklus kedua.

Hasil pembelajaran pada siklus kedua juga terjadi peningkatan prestasi siswa dan menghitung siswa. Pada siklus pertama 5 siswa (50%) yang tuntas belajar dan pada siklus kedua 8 siswa (80% ) yang tuntas belajar. Dari data tersebut diatas tinggal 2 siswa (20%) yang belum tuntas belajar. Artinya sudah 80% siswa sudah menguasai materi yang berkaitan dengan pecahan, terbukti pada siklus kedua mereka dapat mengerjakan ulangan harian dengan baik. Selain itu, pada siklus kedua juga terdapat peningkatan respon siswa yang cukup tinggi terhadap penggunaan metode demonstrasi dibandingkan pada siklus pertama.

Prestasi belajar mata pelajaran matematika yang diukur melalui tes prestasi menunjukkan hasil pada pra siklus rerata 62,2 dan ketuntasan 30%. Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi ada peningkatan. Pada siklus I rerata 69,1 dan ketuntasan 50%. Dari hasil refleksi hasil tersebut masih belum mencapai indikator keberhasilan. Dengan memperbaiki kekurangan yang ada pada siklus I, maka dilaksanakan siklus II. Hasil tes prestasi pada siklus II rerata 78,6 dan ketuntasan 80%.

Hasil tes prestasi belajar diperoleh pra siklus nilai rata-rata 62,2, pada siklus I rata-rata 69,1 dan siklus II rata-rata 78,6. Dengan demikian pembelajaran dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar pada pra siklus 62,2% menjadi 69,1% dan siklus II 69% menjadi 79,9%. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkkan prestasi belajar dari rerata 62,1 menjadi 69,1. Ketuntasan belajar pada pra siklus 30%, pada siklus I 50% dan pada siklus II 80%. Ini berarti pada siklus I ada peningkkatan ketuntasan belajar dari 30% menjadi 50%, sedangkan pada siklus II meningkat dari 50% menjadi 80%. Pembelajaran dengan menerapkan metode demonstrasi dapat meningkatkan ketuntasan belajar dari 30% menjadi 80%.

Penerapan model pembelajaran demonstrasi berdampak perubahan situasi kelas dan siswa. Perubahan kondisi siswa antara lain aktif, kreatif, disiplin, kondisi kelas kondusif, menyenangkan, tertib. Pada siklus I proses pembelajaran menjadi lebih baik karena pembelajaran metode demonstrasi. Hal ini menyebabkan kemampuan menghitung dan prestasi belajar menjadi meningkat.

Dari uraian di atas maka dapat diperoleh hasil penelitian bahwa penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan menghitung dari 1 siswa (10%) pada prasiklus menjadi 8 siswa (80%) pada siklus II dapat meningkatkan prestasi belajar rata-rata 62,2 menjadi 78,6 dan ketuntasan belajar dari 30% menjadi 80%.

Penutup

Simpulan

Berdasarkann hasil analisa dan pembahasan maka dapat di simpulkan sebagai berikut: 1) penerapan metode demntrasi dapat meningkatkan kemampuan menghitung mata pelajaran matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Jenggawur semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 pra siklus ada 1 siswa atau 10% , siklus I ada 6 siswa atau 60% dan siklus II ada 8 siswa atau . 80%. 2) Penerapan metode demontrasi dapat meningkatkan prestasi belajar pelajaran matematika rerata pada pra siklus 62,2 dengan ketuntasan belajar 30% meningkat pada siklus I rerata 69,1 dengan ketuntasan belajar 50% dan siklus II rerata 78,6 dengan ketuntasan belajar 80%.

Saran

Berdasarkan simpulan di atas, dapat disarankan bahwa pada pembelajaran matematika dapat menggunakan metode demonstrasi untuk meningkatkan kemampuan menghitung dan prestasi belajar siswa. Guru diharapkan mampu menciptakan suasa pembelajaran yang kondusif, menyenangkan dengan memilih dan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan sehingga pencapaian prestasi belajar lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Darsono. Max. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.

Handayani dkk. 2008. Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta: Universitas Terbuka.

Hermawan, Asep Herry. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran I. Jakarta: Universitas Terbuka.

Mudjiono, 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud

Gatot, Muh Setyo dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung Remaja Rosda Karya Terbuka.

Wardani, IGAK. Dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

Winkel, 2005. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi