PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN HASIL BELAJAR IPA

TENTANG PERKEMBANGBIAKAN TUMBUHAN

MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CLIS

BAGI SISWA KELAS VI SDN 2 PELEM TAHUN 2017/2018

 

Astuti Tri Lestari

SDN 2 Pelem Kecamatan Jati Kabupaten Blora

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan menerapkan model pembelajaran, dan meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar IPA materi perkembengbiakan tumbuhan dengan penerapan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) pada siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VI SDN 2 Padaan yang berjumlah 13 siswa. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data di atas meliputi observasi, tes lisan dan tes tertulis. Teknik analisis data yakni mengunakan analisis diskriptif komparatif yang dilanjutkan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar IPA materi perkembangbiakan tumbuhan pada siswa kelas VI SDN 1 Padaan dari prasiklus ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II. rata-rata nilai ulangan harian siswa meningkat dari pembelajaran pra siklus 62,31 menjadi 68,46 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 77,69 pada siklus II. Ketuntasan belajar siswa juga meningkat dari pra siklus 6 anak (46,15%) menjadi 8 anak (61,54%) pada siklus I dan 11 anak (84,62%) pada siklus II

Kata Kunci: keterampilan proses, hasil belajar, pembelajaran IPA, model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS)

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembelajaran IPA di SD hendaknya memberi kesempatan pada siswa untuk memupuk rasa ingin tahu mereka. Hal ini dapat membantu siswa untuk mengasah kemampuan bertanya dan mencari jawaban sendiri serta mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah dan kritis. Selain itu pembelajaran IPA juga perlu menekankan kepada pemberian pengalaman langsung kepada siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat memahami tentang alam sekitar mereka dan pada akhirnya mereka akan menemukan konsep tersendiri tentang materi yang telah dipelajari.

Peningkatan hasil belajar dan keterampilan proses dalam IPA memerlukan model pembelajaran yang bersifat konstruktif dalam arti siswa harus menemukan dan mengtransformasi ide dan gagasan yang dimiliki siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat memahami makna suatu informasi dalam materi IPA dengan baik. Model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir (sintak pembelajaran) yang disajikan secara khas oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas (Julianto dkk, 2011).

Selama ini pembelajaran yang digunakan bersifat konvensional. Hal ini mengakibatkan guru menjadi pusat pembelajaran. Cara ini perlu dilakukan perubahan agar siswa dapat menjadi pusat pembelajaran. Perubahan dalam proses pembelajaran dapat menjadikan siswa menjadi aktif sehingga mereka memiliki gairah untuk belajar. Selain itu siswa juga perlu diberikan kebebasan dalam menyampaikan ide atau gagasan yang mereka miliki sehingga mereka dapat berperan langsung dalam pembelajaran. Dengan demikian diharapkan pembelajaran akan lebih menarik dan menyenangkan.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada kelas VI di SDN 2 Pelem Kecamatan Jati, guru melaksanakan pembelajaran dengan model yang konvensional. Pembelajaran tersebut menyebabkan guru menjadi pusat pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan penugasan. Hal ini mengakibatkan aktivitas siswa sangat kurang. Selain itu pembelajaran yang seperti ini juga mengakibatkan hasil belajar siswa rendah. Pada materi perkembengbiakan tumbuhan, dari 17 siswa setelah dilakukan ulangan harian hanya 6 siswa atau 46,15% yang mampu mencapai nilai KKM. Rata-rata nilai ulangan harian siswa kelas VI adalah 62,31.

Berdasarkan permasalahan di atas, guru memberikan alternatif pemecahan masalah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS). Model pembelajaran ini belum pernah digunakan oleh guru di SDN 2 Pelem Kecamatan Jati, sehingga dengan dilakukannya penelitian ini diupayakan dapat membantu meningkatkan hasil belajar dan keterampilan proses siswa.

Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1.   Bagaimana model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) dapat meningkatkan keterampilan proses IPA materi perkembangbiakan tumbuhan bagi siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati pada tahun pelajaran 2017/2018?”

2.   Bagaimana model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi perkembangbiakan tumbuhan bagi siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati pada tahun pelajaran 2017/2018?”

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1.   Meningkatkan keterampilan proses IPA materi perkembangbiakan tumbuhan bagi siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati pada tahun pelajaran 2017/2018 melalui penerapan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS).

2.   Meningkatkan hasil belajar IPA materi perkembangbiakan tumbuhan bagi siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati pada tahun pelajaran 2017/2018 melalui penerapan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS).

Manfaat Penelitian

1.     Bagi siswa, meningkatnya keterampilan proses dan hasil belajar IPA materi perkembangbiakan tumbuhan

2.     Bagi Guru, dapat mengembangkan keprofesionalannya sebagai tenaga pendidik dengan menerapkan model pembelajaran yang inovatif.

3.     Bagi sekolah, dapat dijadikan acuan dalam menggunakan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) bagi guru lain sebagai upaya mengatasi masalah pembelajaran khususnya pada mata pelajaran IPA.

KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori

Keterampilan Proses

Keterampilan proses IPA merupakan keterampilan intelektual yang dimiliki dan digunakan oleh para ilmuwan dalam meneliti fenomena alam. Keterampilan proses sains yang digunakan oleh para ilmuwan dapat dipelajari oleh siswa dalam bentuk yang lebih sederhana sesuai dengan tahap perkembangan anak SD. (Samatowa, 2011: 93).

Menurut Dahar (1985: 11), Keterampilan Proses Sains (KPS) adalah kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan. KPS sangat penting bagi setiap siswa sebagai bekal untuk menggunakan metode ilmiah dalam mengembangkan sains serta diharapkan memperoleh pengetahuan baru/mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki. Pengertian tersebut menunjukkan, bahwa dengan keterampilan proses siswa berupaya menemukan dan mengembangkan konsep dalam materi ajaran. Konsep-konsep yang telah dikembangkan itu berguna untuk menunjang pengembangan kemampuan selanjutnya. Interaksi antara kemampuan dan konsep melalui proses belajar mengajar selanjutnya mengembangkan sikap dan nilai pada diri siswa, misalnya kreativitas, kritis, ketelitian, dan kemampuan memecahkan masalah (Hamalik Oemar, 2003: 149).

Abruscato Joseph (1996: 40) secara garis besar mengemukakan bahwa keterampilan proses IPA dibagi menjadi dua yaitu keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terintegrasi. Keterampilan proses dasar meliputi mengamati, penggunaan angka, klasifikasi, mengukur, mengkomunikasikan, dan prediksi. Sedangkan keterampilan proses terintegrasi yaitu mengendalikan variabel, interpretasi, merumuskan hipotesis, definisi operasional, dan eksperimen.

Keterampilan mengamati merupakan suatu keterampilan menggunakan semua panca indera untuk memperoleh data atau informasi. Dengan keterampilan mengamati ini diharapkan siswa dapat menggunakan panca inderanya dengan benar dan aman untuk memperoleh data sesuai dengan pengamatan.

Penggunaan angka meliputi pengurutan, penghitungan, penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan. Beberapa perilaku yang dikerjakan siswa pada saat menggunakan bilangan adalah: (a) penghitungan; (b) pengurutan; (c) penyusunan bilangan dalam pola-pola yang benar; (d) pengunaan keterampilan matematika yang sesuai.

Keterampilan mengklasifikasi merupakan keterampilan untuk menggolongkan obyek pengamatan atas dasar perbedaan dan persamaan sifat yang dimiliki. Suatu hasil observasi yang cermat dan benar akan sangat membantu proses klasifikasi, karena di dalamnya terkandung unsur-unsur perbedaan dan persamaan.

Kemampuan mengukur memerlukan kemampuan-kemampuan dasar yaitu: Kemampuan memilih alat ukur, Kemampuan menggunakan alat ukur, dan Kemampuan cara menerapkan perhitungan terhadap alat ukur.

Keterampilan mengkomunikasikan adalah keterampilan untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan kepada orang lain, baik secara lisan maupun tertulis. Keterampilan mengkomunikasikan tertulis dapat berbentuk tulisan, grafik, maupun gambar-gambar. Pengembangan ini memerlukan bantuan dan fasilitas dari pihak sekolah dan guru.

Keterampilan memprediksi adalah keterampilan untuk dapat memperkirakan atau meramalkan apa yang akan terjadi berdasarkan kencenderungan atau pola hubungan yang terdapat pada data yang telah diperoleh.

Menyimpulkan adalah untuk menafsirkan atau menjelaskan apa yang kita amati. Beberapa perilaku siswa adalah: (a) mengkaitkan pengamatan dengan pengalaman atau pengetahuan terdahulu; (b) mengajukan penjelasan-penjelasan untuk pengamatan-pengamatan.

Mengendalikan variabel merupakan kegiatan menentukan atau mengatur variasi/macam-macam suatu variabel penelitian. Cara mengendalikan variabel tergantung jenis variabel yang akan dikendalikan. Variabel bebas atau variabel eksperimen merupakan variabel yang nilainya atau variannya ditentukan oleh peneliti. Untuk mengendalikan variabel ini, anda harus melakukan kajian teori yang akan digunakan sebagai dasar dalam menentukan variasi nilai dari variabel. Sedangkan Variabel kontrol merupakan variabel yang nilainya disamakan.

Keterampilan menginterpretasi merupakan keterampilan untuk dapat menafsirkan data. Adapun data itu dapat ditafsirkan apabila telah ditata dalam klasifikasi yang terartur. Interpretasi data biasanya melibatkan organisasi data kedalam tabel, gambar, diagram dan grafik. Interpretasi data sangat penting untuk dikuasai karena sangat membantu kita dalam memberi makna dan pengertian yang diperoleh sehingga dapat dikomunikasikan dengan baik.

Perumusan hipotesis adalah perumusan dugaan yang masuk akal yang dapat diuji tentang bagaimana atau mengapa sesuatu terjadi. Hipotesis sering dinyatakan sebagai pernyataan jika dan maka. Hipotesis dapat dirumuskan dengan penalaran induktif berdasarkan data hasil pengamatan atau dirumuskan dengan penalaran deduktif berdasarkan teori. Penalaran induktif adalah penalaran yang dilakukan berdasarkan data atau kasus menuju ke suatu pernyataan kesimpulan umum yang dapat berbentuk hipotesis atau teori sementara. Penalaran deduktif adalah penalaran yang dilakukan berdasarkan teori menuju pernyataan kesimpulan sementara yang bersifat spesifik.

Definisi operasional adalah perumusan suatu definisi yang berdasarkan pada apa yang mereka lakukan atau apa yang mereka amati. Suatu definisi operasional mengatakan bagaimana sesuatu tindakan atau kejadian berlangsung, bukan apakah tindakan atau kejadian itu. Mendefenisikan secara operasional suatu variabel berarti menetapkan tindakan apa yang dilakukan dan pengamatan apa yang akan dicatat.

Percobaan/eksperimen adalah suatu proses yang rumit yang terdiri dari banyak komponen. Model pembelajaran CLIS juga memberikan kebebasan kepada siswa dalam mengungkapkan ide atau gagasan. Siswa akan merasa lebih dihargai karena mereka dapat mengungkapkan ide atau gagasan mereka. Selain itu siswa akan memberikan kesan bahwa dalam pembelajaran siswa tidak hanya diam dan mendengarkan penjelasan guru seperti halnya pembelajaran konvensional yang dilakukan oleh para guru selama ini.

Hasil Belajar

Menurut Abdurrahman (dalam Jihad dan Haris, 2011: 14), hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan pencapaian bentuk perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu. Dalam kegiatan pembelajaran, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran IPA

IPA merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang mempelajari, menjelaskan, serta menginvestigasi fenomena alam dengan segala aspeknya yang bersifat empiris (Sitiatava, 2013: 51). IPA sering dikategorikan pelajaran yang sukar dikuasai oleh siswa. Salah satu penyebabnya adalah cara pengajaran materi IPA yang kurang baik. Selain itu materi yang banyak dan memerlukan ingatan dan ketelitian yang tinggi ini memang banyak dikeluhkan dalam hasil belajar siswa. Banyak siswa yang kurang mendapat nilai memuaskan pada semester awal.

IPA dapat pula disebut dengan sains yang berasal dari kata bahasa inggris yaitu science. James Conant (dalam Samatowa, 2011: 1) mendefinisikan sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain yang tumbuh sebagai hasil eksperimen dan observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksperimen lebih lanjut.

Pemahaman materi sains bukan semata-mata menghafal konsep-konsep. Namun materi sains juga membutuhkan percobaan-percobaan. Untuk itu, perlu digunakan model pembelajaran sains yang menarik perhatian siswa dan mempermudah penalaran siswa untuk mempelajari sains. Ruang lingkup bahan kajian IPA meliputi aspek-aspek berikut: a) Makhluk hidup dan proses kehidupan. Aspek ini dapat meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan serta interaksinya dengan lingkungan dan kesehatan; b) Benda atau materi, sifat-sifat dan kegunaannya. Aspek ini meliputi: benda cair, benda padat, dan benda gas; c) Energi dan perubahannya. Aspek ini meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya, dan pesawat sederhana; dan d) Bumi dan alam semesta. Aspek ini meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda langit lainnya (Mulyasa dalam Julianto dkk, 2011: 5).

Menurut Mulyasa (dalam Julianto dkk, 2011: 5) tujuan pembelajaran IPA SD antara lain mengembangkan sikap ilmiah dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat; mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan; dan memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar pendidikan untuk dapat digunakan dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Model Pembelajaran Children Learning in Science (CLIS)

            Model pembelajaran CLIS merupakan model pembelajaran yang memberikan kebebasan pada siswa untuk mengungkapkan gagasan/ide tentang masalah yang disajikan serta merekonstruksi ide atu gagasan mereka berdasarkan hasil pengamatan atau percobaan yang telah dilakukan sehingga pengalaman dan pengetahuan yang mereka peroleh bermakna (Ekowati, 2012). Menurut buku Samatowa (2011: 74) dijelaskan bahwa model pembelajaran CLIS dikembangkan oleh kelompok Children’s learning in science di Inggris yang dipimpin oleh Driver. Rangkaian fase pembelajaran pada model pembelajaran CLIS oleh Driver diberi nama general structure of a constructivist teaching sequence, sedangkan Tytler menyebutnya constructivism and conceptual change views of lerning in science.

Menurut Samatowa (2011: 75) model CLIS terdiri atas lima tahapan, yaitu (a) orientasi, (b) pemunculan gagasan, (c) penyusunan ulang gagasan, (d) penerapan gagasan, serta (e) pemantapan gagasan. Pada tahap penyusunan ulang gagasan, dibagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu pengungkapan dan pertukaran gagasan, pembukaan ke situasi konflik, dan konstruksi gagasan baru.

Orientasi merupakan upaya yang dilakukan oleh guru untuk memusatkan perhatian siswa. Dalam tahap ini guru dapat menyebutkan dan mempertontonkan suatu fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang berkaitan dengan topik yang dipelajari.

Pemunculan gagasan merupakan upaya untuk memunculkan konsepsi awal siswa tentang topik yang dipelajari. Bagi guru tahapan ini merupakan upaya eksplorasi pengetahuan awal siswa. Oleh karena itu, tahapan ini juga dilakukan tanya jawab kepada semua siswa.

Penyusunan ulang gagasan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pengungkapan dan pertukaran gagasan, pembukaan ke situasi konflik, dan konstruksi gagasan baru. Pengungkapan dan pertukaran gagasan merupakan upaya untuk memperjelas dan mengungkapkan gagasan awal siswa tentang suatu topik secara umum. Pada tahap ini guru tidak membenarkan atau menyalahkan hasil diskusi siswa. Tahap pembukaan ke situasi konflik, siswa diberi kesempatan untuk mencari pengertian ilmiah yang sedang dipelajari di dalam buku teks yang kemudian mencari beberapa perbedaan konsepsi awal mereka dengan konsep ilmiah yang ada. Tahap konstruksi gagasan baru dan evaluasi dilakukan untuk mencocokkan gagasan yang sesuai dengan fenomena yang dipelajari guna mengkonstruksi gagasan baru. Siswa diberi kesempatan untuk melakukan percobaan dan observasi, kemudian mendiskusikannya dengan kelompoknya.

Penerapan gagasan, siswa diminta menjawab pertanyaan yang disusun untuk menerapkan konsep ilmiah yang telah dikembangkan siswa melalui percobaan atau observasi ke dalam situasi baru. Gagasan yang sudah direkonstruksi ini dalam aplikasinya dapat digunakan untuk menganalisis isu dan memecahkan masalah yang ada di lingkungannya.

Pemantapan gagasan, konsepsi yang diperoleh siswa perlu diberi umpan balik oleh guru untuk memperkuat konsep ilmiah tersebut. Dengan demikian diharapkan siswa memiliki konsep ilmiah yang konsisten. Pada kesempatan ini dapat juga diberi kesempatan membandingkan konsep ilmiah yang sudah disusun dengan konsep awal.

Kelebihan dari model pembelajaran CLIS adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasan yang mereka miliki yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Selain itu siswa bisa memahami konsep tentang materi yang diajarkan dengan baik karena telah melakukan kegiatan yang dapat memberikan ingatan lebih lama kepada siswa.

Kejelasan setiap tahap dalam CLIS tidak selalu mudah untuk dilakukan walaupun sudah direncanakan dengan baik. Kesulitan ini terjadi terutama dari tahap pertukaran gagasan ke tahap situasi konflik. Hal lain yang sulit yaitu perpindahan dari tahap penerapan gagasan ke tahap pemantapan gagasan. Guru terkadang lupa untuk memantapkan gagasan siswa, sehingga siswa akan kembali kepada konsepsi awal (Samatowa, 2011: 77).

Kerangka Berpikir

Sebelum dilakukan tindakan pada siklus I dan II, tingkat keterampilan proses dan hasil belajar siswa kelas VI SDN 2 Pelem pada mata pelajaran IPA materi perkembangbiakan tumbuhan masih rendah. Penerapan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) diharapkan mampu meningkatkan keterampilan proses pada pembelajaran IPA. Dengan meningkatnya keterampilan proses dalam pembelajaran IPA diharapkan hasil belajar IPA siswa kelas VI SDN 2 Pelem dapat ditingkatkan.

Hipotesis Tindakan

Dari latar belakang masalah dan kajian teori di atas, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1.   Melalui model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) dapat meningkatkan keterampilan proses IPA materi perkembangbiakan tumbuhan bagi siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati pada tahun pelajaran 2017/2018.

2.   Melalui model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi perkembangbiakan tumbuhan bagi siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati pada tahun pelajaran 2017/2018.

METODOLOGI PENELITIAN

            Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dimulai pada bulan Juli 2017 dan diakhiri pada bulan Oktober 2017. Penelitian dilakukan di SDN 2 Pelem Kecamatan Jati Kabupaten Blora. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2017/2018. Siswa tersebut berjumlah 13 anak, terdiri dari 7 laki-laki dan 6 perempuan.

            Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi pengamatan, wawancara dan diskusi, serta tes tertulis. Pengamatan dilakukan dalam kelas tempat terjadinya pembelajaran dan mencatat semua kegiatan yang ada dalam pembelajaran tersebut. Agar dapat membantu menentukan tindakan-tindakan yang akan diberikan dalam setiap siklus. Wawancara dan diskusi dilakukan dengan kolaborator. Tes dilakukan pada setiap akhir siklus untuk mendapatkan data hasil belajar siswa.

Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua siklus yang setiap siklusnya tercakup empat kegiatan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

 

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Pra Siklus

            Pada pembelajaran Pra Siklus, proses pembelajaran didominasi dengan metode ceramah. Siswa diberikan materi pelajaran secara abstrak dan siswa diminta menghafalkan konsep-konsep yang ada dalam materi pelajaran. Siswa tidak dilibatkan dalam proses penemuan konsep materi pelajaran. Kondisi pembelajaran yang demikian menyebabkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran rendah. Hasil ulangan harian yang dilakukan pada akhir siklus dapat disajikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 1. Hasil Ulangan Harian Pra Siklus

Nilai

Jumlah Siswa

Persentase

40

1

7,69%

50

3

23,08%

60

3

23,08%

70

4

30,77%

80

2

15,38%

 

            Tabel di atas menunjukkan jumlah siswa yang tuntas belajar dengan KKM 70 adalah 6 siswa atau 46,15%. Sisanya, sejumlah 7 siswa atau 53,85% nilainya masih di bawah KKM yang ditentukan. Jika dihitung, rata-rata nilai ulangan harian pada pembelajaran pra siklus adalah 62,31.

Siklus I

            Siklus I dilaksanakan pada bulan September2017. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS). Selama proses pembelajaran, peneliti dibantu teman sejawat melakukan kegiatan pengamatan untuk mendapatkan data tentang tingkat keterampilan proses belajar siswa.

            Pada pembelajaran siklus I, siswa mulai aktif terlibat dalam penemuan-penemuan konsep dari materi pelajaran yang dipelajari. Hal ini membuat pemahaman siswa semakin meningkat. Materi pelajaran yang tidak sekedar dihafalkan siswa, tetapi dimengerti, membuat kesan yang lebih mendalam pada siswa sehingga tidak mudah terlupakan. Keadaan ini sangat berpengaruh pada saat dilakukan ulangan harian pada akhir siklus. Siswa lebih tenang dalam mengerjakan soal-soal dan hasilnyapun meningkat jika dibandingkan hasil pada ulangan harian pra siklus. Berikut ini data lengkap hasil belajar pada pembelajaran siklus I:

Tabel 2. Hasil Ulangan Harian Siklus I

Nilai

Jumlah Siswa

Persentase

50

2

15,38%

60

3

23,08%

70

4

30,77%

80

3

23,08%

90

1

7,69%

 

            Tabel di atas menunjukkan jumlah siswa yang tuntas belajar dengan KKM 70 adalah 8 siswa atau 61,54%. Sisanya, sejumlah 5 siswa atau 38,46% nilainya masih di bawah KKM yang ditentukan. Jika dihitung, rata-rata nilai ulangan harian pada pembelajaran siklus I adalah 68,46.

Siklus II

            Siklus II dilaksanakan pada bulan Oktober 2017. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari siklus I, peneliti melaksanakan pembelajaran siklus II dengan pembagian kelompok secara heterogen. Hal ini berdampak positif. Siswa semakin aktif dalam pembelajaran. Dalam setiap kelompok ada leader yang membantu temannya yang kesulitan pada saat diskusi. Hampir semua siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti dan teman sejawat menunjukkan tingkat keterampilan proses belajar siswa semakin tinggi. Hasil belajar pada saat dilakukan ulangan harian di akhir siklus dapat disajikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 3. Hasil Ulangan Harian Siklus II

Nilai

Jumlah Siswa

Persentase

60

2

15,38%

70

4

30,77%

80

3

23,08%

90

3

23,08%

100

1

7,69%

 

            Tabel di atas menunjukkan jumlah siswa yang tuntas belajar dengan KKM 70 adalah 11 siswa atau 84,62%. Sisanya, sejumlah 2 siswa atau 15,38% nilainya masih di bawah KKM yang ditentukan. Jika dihitung, rata-rata nilai ulangan harian pada pembelajaran siklus II adalah 77,69.

Pembahasan

            Penelitian di atas, menghasilkan temuan-temuan penting yang muncul setelah tindakan selesai dilaksanakan. Model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) dapat meningkatkan keterampilan proses belajar siswa yang pada kondisi awal rendah menjadi tinggi pada kondisi akhir. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan yang memuaskan. Berikut ini adalah data peningkatan hasil belajar siswa dari pembelajaran pra siklus, siklus I, dan siklus II.

Tabel 4. Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Nilai

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

40

1

0

0

50

3

2

0

60

3

3

2

70

4

4

4

80

2

3

3

90

0

1

3

100

0

0

1

Rata-rata

62,31

68,46

77,69

Tuntas

6

8

11

Tidak Tuntas

7

5

2

 

            Data pada tabel di atas menunjukkan rata-rata nilai ulangan harian siswa meningkat dari pembelajaran pra siklus 62,31 menjadi 68,46 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 77,69 pada siklus II. Ketuntasan belajar siswa juga meningkat dari pra siklus 6 anak (46,15%) menjadi 8 anak (61,54%) pada siklus I dan 11 anak (84,62%) pada siklus II.

PENUTUP

Simpulan

Dari deskripsi hasil penelitian dari pembelajaran pra siklus, siklus I dan siklus II dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.   Penerapan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) dapat meningkatkan keterampilan proses IPA materi perkembangbiakan tumbuhan bagi siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati pada tahun pelajaran 2017/2018.

2.   Penerapan model pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi perkembangbiakan tumbuhan bagi siswa kelas VI SDN 2 Pelem Kecamatan Jati pada tahun pelajaran 2017/2018.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, terdapat saran yang dapat diungkapkan peneliti. Saran tersebut adalah model pembelajaran CLIS ini dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pembelajaran karena dengan menggunakan model pembelajar ini dapat meningkatkan hasil belajar dan keterampilan proses siswa serta membiasakan siswa untuk selalu mempunyai ide atau gagasan ilmiah. Selain itu pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa turut berperan aktif. Oleh karena itu guru dapat menggunakan model pembelajaran lain yang disesuaikan dengan materi pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Dahar, R.W. 1985. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Segi Pengembangan Keterampilan Proses Sains. Disertasi PPS IKIP Bandung: Tidak Diterbitkan

Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Jihad, Asep dan Haris, Abdul. 2011. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.

Julianto, dkk. 2011. Teori dan Implementasi Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surabaya: Unesa University Press.

Samatowa, Usman. 2011. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: PT. Indeks.

Sitiatava Rizema Putra. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains. Jogjakarta. DIVA Press