Perjalanan Ki Ageng Pandanaran dan Legenda Kota Salatiga (Kajian Teologi Sastra)

Cover Dalam – Perjalanan Ki Ageng Pandanaran dan Legenda Kota Salatiga (Kajian Teologi Sastra)
Isi – Perjalanan Ki Ageng Pandanaran dan Legenda Kota Salatiga (Kajian Teologi Sastra)
Judul Buku:
Perjalanan Ki Ageng Pandanaran dan Legenda Kota Salatiga (Kajian Teologi Sastra)
Nama Penulis:
Tri Widiarto Soemardjan
ISBN:
978-602-6977-60-1
Sinopsis:
Buku dengan judul Perjalanan Ziarah Ki Ageng Pandanaran (Interpretasi Teologi Sastra) merupakan ringkasan hasil atau produk dari disertasi penulis dengan judul yang sama pada Program Studi Pendidikan Doktor Teologi, Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta, dan Sandwich Ph.D pada School of Malay Language, Literature, and Culture Studies, National University of Malaysia. Dalam penulisan disertasi ini penulis dibimbing oleh dua promotor akademik yaitu: Pdt. Dr. Abdon Amtiran dan Pdt. Dr.Donna Sampaleng
Tujuan utama penulisan buku ini adalah mengkaji secara kritis perjalanan ziarah Ki Ageng Pandanaran dari Semarang menuju Bayat-Klaten, dari segi Teologi Sastra, Sejarah dan Nilai Pendidikan. Perlu difahami bahwa Ki Ageng Panadanaran adalah Bupati Semarang pada masa kekuasaan Kerajaan Demak, seorang bupati dan saudagar yang kaya raya dan sukses dalam pemerintahannya secara duniawi, tetapi setelah bertemu dengan Sunan Kalijaga penasehat agama Islam Kerajaan Demak, Ki Ageng Pandanaran berubah total menjadi sosok muslim yang taat serta meninggalkan semua kekayaan dan jabatan duniawi. Dalam proses perjalanan ziarah tersebut
Langkah selanjutnya Ki Ageng Pandanaran mengadakan perjalanan ziarah (syiar Agama Islam) dari Semarang menuju Bayat-Klaten. Adapun jalur ziarah yang dilalui adalah Semarang-Kabupaten Semarang- Salatiga-Boyolali dan Bayat Klaten. Dalam perjalanan ziarah tersebut Ki Ageng Pandanaran ditemani oleh salah satu istrinya yang setia yaitu Nyi Ageng Pandanaran (Ki Ageng Panadanaran memiliki delapan istri tetapi hanya satu istri yang bersedia mengikuti perjalanan ziarahnya). Dalam perjalanan ziarah tersebut nampak sekali segi-segi teologi sastra, sejarah dan nilai pendidikan.
Menurut kitab Babad Walisongo, perjalanan ziarah KI Ageng pandanaran dimulai dari Semarang pada tahun 1512 M, banyak terjadi hambatan dan rintangan dalam perjalanan ziarah tersebut, tetapi semua hambatan dan rintangan dapat diatasi dengan baik, sehingga perjalanan ziarah tersebut sampai pada tujuannya yaitu desa Bayat di Gunung Jabalkat Klaten, kemudian Ki Ageng dan Nyi Ageng Pandanaran menetap disana dan mendirikan masjid serta mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat, hingga pada akhirnya mereka berdua meninggal dan dikuburkan di komplek masjid tersebut.
Buku ini mencoba mengupas lebih lanjut tentang perjuangan perjalanan ziarah tersebut di tiga kota yang dilalui yaitu Kabupaten Semarang,Salatiga dan Boyolali. Penulis sengaja meneliti di tiga kota tersebut, karena di tiga kota tersebut peristiwa yang terjadi saling berkaitan, atau dapat disebut ada kontinuitas historisnya. Salatiga sebagai pusat kejadian tersebut, yaitu ketika terjadi perampokan terhadap Nyi Ageng Pandanaran di Desa Bancaan Salatiga, yang telah merubah total kehidupan Nyi Ageng Pandanaran menjadi wanita muslim yang sejati, yamg tidak terikat lagi oleh kekayaan duniawi, sehingga dapat mengikuti perjalanan ziarah suaminya dengan sempurna.
Merujuk pemahaman diatas maka buku ini memiliki judul utama Perjalanan Ziarah Ki Ageng Pandanaran.
Pada hakekatnya setiap penelitian tentang cerita rakyat atau legenda di dalamnya mengandung makna teologi sastra berusaha mengungkapkan bagaimana sesuatu fenomena kehidupan itu terjadi serta asal mulanya serta nilai-nilai teologis yang ada. Oleh karena itu jika muncul gejala baru yang serupa, seseorang senantiasa berusaha mengenalnya dengan melacak latar belakang sejarahnya. Kesadaran semacam itu lazim dilakukan setiap orang. Namun pada prinsipnya tidak mudah untuk mengidentifikasi asal usul dan peristiwa masa lampau, termasuk dalam hal ini perjalanan ziarah KI Ageng Pandanaran. Hal ini dapat dimaklumi karena peristiwa-peristiwa masa lampau tidak dapat diulang (no repite history). Disamping itu juga disebabkan oleh karena minimnya pengetahuan manusia akan peristiwa masa lampau itu.
Merujuk pemahaman tersebut maka legenda sebagai produk masa lampau perlu digali kembali, agar menjadi terang. Jika terdapat gejala serupa orang akan dapat memenuhi harapannya untuk menghubungkan setiap peristiwa sekarang dengan asal-usulnya atau geneologinya.
Kepuasan meneropong peristiwa sekarang melalui studi legenda itu, akan mendorong orang untuk menagambil segala pelajaran dari legenda itu. Legenda seringkali memotret jaman tertentu dan akan menjadi refleksi jaman tertentu pula. Oleh karena itu legenda sebagai cerita pengalaman kolektif masyarakat rupanya dapat membawa banyak hikmat dan suri teladan, berupa tradisi-tradisi, nilai-nilai luhur dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurut Sartono Kartodirdjo legenda sebagai ceritera pengalaman kolektif, secara inhern mencakup nasib bersama, keunggulan dan kemerosotan, kemenangan dan kekalahan, yang semuanya secara kumulatif menciptakan a sense of belonging bagi warga komunitas. Sekaligus bersama dengan rasa kebersamaan itu menimbulkan solidaritas, kesadaran semacam itu modal utama untuk menimbulkan rasa gotong royang dalam masyarakat.
Menyadari ada manfaatnya studi legenda seperti di depan, maka perlu diadakan penelusuran kembali tentang perjalanan ziarah Ki Ageng Pandanaran. Banyak masyarakat termasuk masyarakat Salatiga sendiri kurang dapat memberikan makna penting perjalanan ziarah tersebut. Hal ini disebabkan gelapnya pengetahuan untuk merekam yang terjadi lebih dari 500 tahun yang lalu. Padahal Salatiga pada waktu itu telah memberikan pelajaran yang manis bagi Nyai Ageng Pandanaran, sehingga terwujud nama Salatiga.
Dalam penelitian legenda ini, penulis berusaha sedapat mungkin menulis legenda yang belum pernah dipublikasikan atau diteliti, meskipun tidak dapat dipungkiri ada beberapa legenda yang ditulis ulang oleh penulis, karena sifatnya sebagai legenda utama dalam buku ini. Secara rinci legenda yang belum pernah dipublikasikan (menurut pemahaman penulis) adalah sbb: (1) Legenda di Kabupaten Semarang ialah: Legenda Terjadinya Dusun Nogosaren, Legenda Terjadinya Dusun Mulungan, Legenda Terjadinya Dusun Karangbawang dan Legenda Terjadinya Dusun Gejayan. (2) Legenda di Kota Salatiga, ialah: legenda Terjadinya Dusun Sawo dan Legenda Terjadinya Kali Prambanan. Adapun legenda yang ditulis ulang oleh penulis, dan merupakan legenda utama dalam pembahasan buku ini adalah Legenda perjalanan ziarah Ki Ageng Pandanaran. Meskipun ditulis ulang tetapi ada beberapa temuan-temuan baru yang diungkapkan dalam buku ini.
Ada pula legenda-legenda yang sudah dipublikasikan, tetapi hanya berupa fragmen- fragmen yang tidak lengkap dan belum diteliti secara mendalam, dalam buku ini oleh penulis dikaji ulang karena legenda tersebut berkaitan dengan perjalanan Ki Ageng Pandanaran. Legenda tersebut adalah Legenda Terjadinya Dukuh Watu Bengkah, Sucen,Kedung Lengkong dan Legenda Asal Mula Nama Gunung Tugel, keduanya di Kabupaten Boyolali.
Ada juga satu legenda yang sangat terkenal dan sudah banyak dikaji oleh beberapa penulis, yaitu Legenda Kyai Kebo Kanigoro. Dalam buku ini tetap dikaji oleh penulis karena, ada hal hal baru yang belum diungkapkan yaitu, peran Ki Ageng Pandanaran sebagai mediator antara Sultan Demak dengan Kyai Kebo Kanigoro dalam menyelesaikan konflik perbedaan ajaran Islam yang dianut keduanya; akhirnya Kyai Ageng Kebo Kanigoro dapat menyelamatkan diri di desa Pojok Boyolali dan dimakamkan di desa tersebut.
Dari pengantar tersebut, jelaslah bahwa peranan Ki Ageng Pandanaran sangat besar dalam mmewujudkan benih-benih nilai multikultural pada jamannya.
Buku ini ditulis berdasarkan data dari: (1) kajian pustaka dan (2) data lapangan hasil wawancara dan pengamatan serta disusun dengan menggunakan kaidah-kaidah penelitian dan penulisan ilmiah.
Karya ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran akan diterima dengan senang hati.