SIBLING RIVALRY PADA ANAK USIA DINI

Anayanti Rahmawati

Program Studi PG-PAUD, Jurusan Ilmu Pendidikan, FKIP

Universitas Sebelas Maret Surakarta

ABSTRAK

Mempunyai anak lebih dari satu merupakan hal yang umum terjadi di Indonesia. Masyarakat Indonesia menganggap bahwa anak merupakan sumber kebahagiaan, bahkan di beberapa daerah ada anggapan “banyak anak banyak rejeki”. Konsep keluarga dengan lebih dari satu anak semakin berkembang di Indonesia karena pengaruh budaya yang memberikan penghargaan lebih pada orangtua yang mempunyai anak dengan jenis kelamin tertentu, sehingga orangtua yang belum memiliki anak dengan jenis kelamin seperti yang diharapkan dalam budaya tempat tinggalnya, akan cenderung untuk menambah anak lagi sampai mendapatkan anak dengan jenis kelamin yang diharapkan. Memiliki anak lebih dari satu mengakibatkan anak dalam keluarga mempunyai sibling dalam kehidupannya. Kehadiran sibling bagi anak memberikan pengaruh yang tidak sama. Meskipun orangtua sudah berusaha untuk melakukan pengasuhan sebaik mungkin pada anak-anaknya, namun kemungkinan terjadinya sibling rivalry terutama pada anak usia dini tidak dapat dihindari. Mengatasi sibling rivalry pada anak usia dini memerlukan penanganan khusus. Tulisan ini akan membahas mengenai sibling rivalry pada anak usia dini tentang penyebab serta cara penanganannya.

Kata kunci: sibling rivalry, anak usia dini

PENDAHULUAN

Kebanyakan keluarga mempunyai lebih dari satu anak, begitu pula yang terjadi di Indonesia. Mempunyai banyak anak merupakan hal yang wajar, bahkan orangtua merasa bangga jika memiliki anak lebih dari satu. Konsep keluarga dengan banyak anak ini semakin berkembang karena budaya tertentu memberikan penghargaan lebih pada orangtua yang memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu. Misalnya pada masyarakat Jawa yang menganut budaya patriarkhis, memberikan penghargaan ‘lebih’ pada orangtua yang mempunyai anak laki-laki karena anak laki-laki dianggap sebagai simbol penerus keluarga. Jika orangtua belum memiliki anak laki-laki maka kebanggaan sebagai orangtua terasa berkurang sehingga pada masyarakat Jawa, orangtua yang belum dikaruniai anak laki-laki akan terus berupaya untuk mendapatkan anak laki-laki meskipun sudah dikaruniai anak sebelumnya. Konsep pengaruh budaya ini ikut menyumbang terbentuknya keluarga dengan banyak anak di Indonesia.

Ketika orangtua memutuskan untuk memiliki lebih dari satu anak, maka berarti ada kehadiran sibling dalam kehidupan anak pertama. Sibling dalam konsep psikologi diartikan sebagai saudara laki-laki atau perempuan yang tinggal bersama dalam satu pengasuhan orangtua yang sama. Sibling dapat merupakan saudara kandung, saudara tiri atau saudara adopsi. Hubungan antar sibling adalah hubungan yang abadi, sibling berbagi banyak hal dengan sesama sibling dan mereka menerima atau menolak nilai-nilai yang sama dari orangtua yang sama (Bee & Boyd, 2007).

Kehadiran sibling baru dalam keluarga dapat terjadi karena berbagai sebab antara lain karena orangtua memutuskan untuk menikah lagi sehingga anak mempunyai saudara tiri atau orangtua mengadopsi anak. Namun secara umum kehadiran sibling baru umumnya terjadi ketika seorang ibu melahirkan adik baru bagi kakak.

Kehadiran adik baru bagi seorang anak pertama dalam keluarga berarti kehadiran sibling dalam hidupnya. Anggota keluarga baru dalam keluarga umumnya akan disambut dengan perasaan bahagia dan sukacita oleh seluruh anggota keluarga. Kehadiran anggota baru ini yaitu kelahiran adik baru bagi seorang kakak biasanya juga akan disambut dengan perasaan senang oleh kakak. Adik baru menarik minat kakak karena adik dianggap sebagai ‘mainan baru’ yang menyenangkan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, seringkali kakak akhirnya bosan dengan ‘mainan barunya’, adik tidak lagi di anggap sebagai mainan yang mneyenangkan. Banyak anak yang mulanya menganggap adik bayinya sebagai boneka yang manis sekarang menganggapnya sebagai pengganggu terutama kalau mereka diharapkan untuk membantu merawatnya atau kalau adik bayi mengambil milik kakaknya dan seringkali merusak (Hurlock, 1994).

Hadirnya adik baru mengubah secara cepat kehidupan seorang anak pertama menjadi seorang kakak. Lingkungan dan situasi rumah berubah, perlakuan anggota keluarga terutama ibu juga berubah. Perubahan situasi ini mempengaruhi perkembangan dan penyesuaian diri kakak. Kakak dituntut untuk melakukan penyesuaian dengan perubahan situasi ini. Penyesuaian kakak terhadap kelahiran adik dipengaruhi oleh usia, kualitas hubungan dengan ibu dan lingkungan keluarga (Papalia et al, 2002).

SIBLING RIVALRY

Penyebab Sibling Rivalry

Hak kepemilikan yang paling mendasar pada anak-anak adalah bahwa setiap anak merasa memiliki orangtuanya. Kepemilikan tersebut diartikan bahwa segala hal yang berhubungan dengan orangtua adalah milik mereka sendiri. Keseluruhan diri pribadi dan aktivitas yang dilakukan oleh orangtua dianggap sebagai milik pribadi anak oleh karena itu tidak boleh dimiliki oleh orang lain.

Hak kepemilikan orangtua secara penuh ini dialami oleh anak pertama dari sebuah keluarga. Anak pertama merupakan satu-satunya anak yang dapat merasakan perhatian penuh dari kedua orangtuanya. Namun ketika oramgtua memutuskan untuk menambah anak lagi, maka hak kepemilikan anak terhadap orangtuanya tidak lagi dapat dimilikinya secara penuh karena anak pertama harus berbagi hak kepemilikan tersebut pada sibling.

Kehadiran sibling dalam kehidupan anak pertama merubah kondisi yang sudah ada. Perubahan menuntut anak untuk berbagi dalam berbagai hal, namun yang paling berat adalah ketika anak harus berbagi perhatian dan kasih sayang orangtua mereka dengan sibling. Kondisi ini menyebabkan anak mengalami ketidaknyamanan sehingga akan memicu terjadinya sibling rivalry yaitu persaingan yang bersifat kompetitif baik dalam wujud perasaan maupun tindakan yang terjadi diantara sibling.

Dinamika Sibling Rivalry pada Anak Usia Dini

Sibling rivalry merupakan pengalaman umum yang terjadi ketika seorang ibu memiliki lebih dari satu anak (Levy dalam Paul, 2009). Kehadiran sibling bagi anak berpengaruh terhadap hubungannya dengan diri sendiri, orangtua dan interaksi antar anggota keluarga. Setiap anak mempunyai pengalaman berbeda tetapi pengalaman sebagai anak pertama adalah “unik”. Anak pertama adalah satu-satunya anak yang menerima perhatian dan cinta dari orangtua sampai lahirnya adik bayi (Hetherington & Parke, 2003).

Hadirnya adik bagi kakak merubah pola hubungan yang sudah ada selama ini. Perubahan paling kentara adalah perubahan perilaku ibu terhadap kakak. Keadaan adik yang masih bayi serta kondisinya yang masih lemah dan tidak berdaya membuat ibu memberikan perhatian yang berlebih kepada adik. Pada awalnya kakak belum merasa terganggu dengan perubahan perilaku ibu. Namun karena biasanya perubahan perilaku ibu cenderung berlangsung menetap, maka mulai timbul rasa tidak nyaman pada kakak. Salah satu bentuk rasa tidak nyaman tersebut dapat dilihat dengan munculnya emosi kakak terhadap adik yaitu munculnya emosi cemburu yang dimulai sekitar usia 2 tahun dan semakin meningkat dengan bertambahnya usia anak (Hurlock, 1994).

Sejalan dengan kondisi tersebut, adik bertambah besar dan mulai berpartisipasi penuh dalam hubungan keluarga serta menjadi lebih terlibat dalam keluarga ((Papalia et al, 2002). Karena adik lebih kecil daripada kakak, ibu tetap lebih memberi perhatian kepada adik. Kebanyakan ibu lebih sayang, perhatian, kontrol dan responsif kepada adik daripada kakak (Stocker & Plomin, 1989). Kehadiran adik merubah perilaku ibu terhadap kakak. Ibu menjadi berkurang waktunya untuk bermain bersama kakak, kurang perhatian terhadap minat kakak, lebih banyak memberi perintah, lebih banyak konfrontasi, seringkali mengggunakan hukuman fisik, kurang mengajak mengobrol dan bermain yang membantu perkembangan ketrampilan kakak (Papalia,et al, 2002).

Perbedaan perilaku ibu, membuat kakak merasa diabaikan. Berkurangnya waktu orangtua untuk kakak membuat kakak merasa diremehkan dan menjadi marah. Perasaan ini akan memicu konfrontasi antara kakak dengan orangtua dan perasaan persaingan dengan adik baru (Bee & Boyd, 2007) sehingga timbul sibling rivalry.

Sibling Kembar

Anak kembar dua, tiga, empat atau kembar berapa pun mempunyai dinamika yang hampir sama. Sejak dilahirkan, anak kembar tidak pernah merasakan menjadi anak tunggal karena mereka langsung mempunyai sibling. Mereka telah hidup bersama sibling kembarnya ketika masih dalam kandungan ibu. Sibling kembar saling belajar, mengamati dan meniru sejak masa bayi sampai dengan masa kanak-kanak bahkan kemungkinan berlanjut sampai dewasa (Borden, 2009).

Sibling kembar mempunyai usia yang sama sehingga seringkali orangtua berasumsi bahwa sibling kembar mempunyai tingkat perkembangan yang sama. Orangtua dan anggota keluarga lain seringkali mengukur dan membandingkan sibling kembar. Potensi persaingan antar sibling kembar dalam beberapa hal meningkat karena pembandingan tidak bisa dihindari (Borden, 2009).

Sibling kembar memiliki tingkat psikologis dan perkambangan yang sama, maka hubungan mereka penuh persaingan karena keinginan yang kuat untuk memiliki hal yang sama dari perhatian orangtua hingga mainan yang mereka pakai (Greer dalam Borden, 2009).

Sibling Berkebutuhan Khusus (Cacat)

Hubungan anak yang memiliki sibling berkebutuhan khusus adalah sama dengan anak yang memiliki hubungan dengan sibling yang sehat dan normal. Meskipun kehidupan keluarga yang memilki anak berkebutuhan khusus akan mempengaruhi anak sehat dalam keluarga, namun penelitian menunjukkan adanya manfaat dengan kondisi tersebut. Anak yang tinggal bersama dengan sibling berkebutuhan khusus cenderung lebih matang, bertanggung jawab, percaya diri, independen, sabar, pemurah, sensitif pada masalah kemanusiaan serta mempunyai rasa keterikatan yang lebih besar pada keluarga (Borden, 2009).

Sibling mungkin menutupi masalah tentang kondisi siblingnya yang berkebutuhan khusus karena ia tidak ingin orang lain mengetahui bahwa ia memiliki sibling berkebutuhan khusus. Orangtua dapat membantu anak memahami penyebab kekhususan sibling dengan cara memberikan informasi yang tepat dan kondisi yang menyertai keadaan khusus sibling sehingga anak dapat menerima kondisi sibling (Borden, 2009).

Penanganan Sibling Rivalry pada Anak Usia Dini

Sibling rivalry dapat terjadi karena berbagai alasan, namun seringkali penyebabnya adalah karena memperebutkan perhatian dari orangtua serta keinginan anak untuk menunjukkan power (kekuasaan) pada sibling lain.

Perebutan perhatian dari orangtua merupakan penyebab paling mendasar terjadinya sibling rivalry. Hurlock (1994) mengatakan bahwa Anak Usia Dini berada pada tahap perilaku berkuasa atau ‘merajai’, dimana pada masa ini anak berperilaku seolah-olah dirinya adalah ‘raja’ sehingga segala permintaan nya harus diperhatikan oleh orang dewasa di sekitarnya termasuk permintaan akan perhatian penuh dari orangtuanya. Kehadiran sibling dianggap kakak sebagai faktor penghalang perhatian penuh orangtua pada dirinya sehingga timbullah rasa cemburu pada kakak. Kecemburuan kakak terhadap adik akan memicu terjadinya sibling rivalry. Sibling rivalry yang terjadi karena perebutan perhatian ini dapat dikurangi dengan cara pengembangan hubungan positif ibu dan anak. Interaksi hubungan ibu dan anak yang dipenuhi dengan kehangatan akan terbawa dalam hubungan anak dengan sibling yang penuh kehangatan pula tanpa disertai dengan konflik dan rivalry (Howea & AsseebOverall, 2010). Semakin nyaman hubungan sibling dengan orangtua, semakin baik hubungan antar sibling ((Papalia et al, 2002). Frekuensi kejadian sibling rivalry dapat pula dikurangi dengan cara orangtua menghindari membandingkan antar anak, memberikan penghargaan pada prestasi yang dicapai anak dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak (Papalia et al, 2002).

Power (kekuasaan) yang ditunjukkan anak pada sibling lain yang dapat memicu terjadinya sibling rivalry pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan oleh anak dalam rangka pengukuhan agar perhatian dari orangtua tidak terbagi pada sibling. The show of power (penunjukan kekuasaan) ini biasanya dilakukan oleh kakak terhadap adik meskipun dapat pula terjadi sebaliknya. Keadaan ini dapat dikurangi dengan pemberian perhatian secara nyata dari orangtua pada anak secara intens dan rutin, melalui kata-kata dan perbuatan yang mencerminkan ungkapan rasa sayang orangtua kepada anak (Zolten & Long, 2006). Orangtua harus mampu meyakinkan bahwa semua anak mempunyai tempat istimewa di hati orangtua. Tindakan lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi the show of power pada sibling adalah dengan memberi kesempatan pada anak untuk menyatakan perasaannya pada sibling (Molgaard, 2007). Hal ini perlu dilakukan karena sibling bertemu, berinteraksi setiap hari serta berbagi dalam banyak hal dalam keluarga dan kebanyakan anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan sibling daripada dengan orangtua atau anggota keluarga lain (Hetherington & Parke, 2003).

Penggunaan sibling modelling dapat pula digunakan untuk mengurangi terjadinya sibling rivalry. Memanfaatkan kakak sebagai model bagi adik merupakan cara yang tepat, karena sibling saling bertemu setiap hari sehingga terjadi hubungan emosional. Melalui sibling modeling akan terjalin pula kehangatan (Gamble, 2010). Sibling membawa pengaruh kebaikan pada sibling lain dalam sistem keluarga (McHale et al, 2012).

PENUTUP

Sibling rivalry merupakan kejadian biasa dalam keluarga yang mempunyai anak lebih dari satu.Walaupun kehadiran adik baru sering diikuti dengan rasa persaingan antara kakak dengan adik, namun tetap masih ada rasa kasih sayang antara adik kepada kakak dan sebaliknya.

Perlunya keterlibatan semua anggota keluarga baik ayah maupun ibu serta anggota keluarga lain dalam hubungan sibling terutama ketika terjadi sibling rivalry. Kehadiran ayah, ibu maupun anggota keluarga yang lain dapat menjadi penengah ketika terjadi sibling rivalry, dengan memisahkan mereka, memberi pengertian dan masukan agar persaingan tidak berubah menjadi konflik.

Bagi orangtua, penting untuk memperlakukan anak secara adil namun tetap bersifat individual. Berlaku adil tidak berarti harus memberikan perlakuan yang sama pada semua anak. Anak akan merasa lebih dihargai ketika kita sebagai orangtua dapat memberikan perlakuan sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Bantu anak untuk memahami bahwa mereka diperlakukan berbeda karena mereka adalah individu-individu yang berbeda yang memiliki kebutuhan yang berbeda.

Untuk anak kembar, secara khusus orangtua harus berusaha menyediakan waktu berdua saja dengan masing-masing anak kembar, tidak merencanakan aktivitas yang melibatkan mereka berdua. Cara ini bisa mengurangi persaingan antar sibling kembar. Panggillah anak kembar dengan namanya bukan dengan panggilan si kembar karena panggilan si kembar mengembangkan konsep bahwa mereka adalah satu kesatuan, padahal kenyataannya anak kembar merupakan dua individu yang berbeda. Untuk mendukung individualitas saat memanggil anak kembar sebut saja nama mereka masing-masing.

Hubungan sibling adalah hubungan yang sangat dekat. Sibling bertemu, berinteraksi setiap hari serta berbagi dalam banyak hal sehingga mereka memiliki ikatan (bonding) yang kuat. Interaksi antar sibling memberikan banyak kesempatan untuk belajar sosial dan emosi yang akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lain dan teman-teman.

DAFTAR PUSTAKA

Bee, H & Boyd, D. (2007). The Developing Child. Houston Community College System: Pearson Education Inc.

Borden, M.E. (2009). Mengatasi Persaingan Kakak Beradik (edisi terjemahan). Jakarta: Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer.

Gamble, W.C. (2010). Self-representations in Early Adolescence: Variations in Sibling Similarity by Sex Composition and Sibling Relationship Qualities. Social Development, 1 (19), 148- 169.

Hetherington, E.M., and Parke, R.D. (2003). Child Psychology a Contemporary Viewpoint, (revised edition). McGraw Hill.

Hurlock, E.B. (1994). Psikologi Perkembangan, suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (edisi terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Howea, N., Karosa, L.K & AsseebOverall, J.A. (2010). Sibling Relationship Quality in Early Adolescence: Child and Maternal Perceptions and Daily Interactions, Infant and Child Development, 2 (20).

McHale, S.M., Updegraff, K.A. & Whiteman, S.D. (2012). Sibling Relationships and Influences in Chldhood and Adolescence. Journal of Marriage and Family, 74, 913-930

Molgaard, Virginia. (2007). Understanding Children, Sibling Rivalry: Iowa State University. Diperoleh dari http://www.extension.iastate.edu/Publications/PM1529I.pdf tanggal 17 November 2012

Papalia, D.E., Old, S.W., & Feldman, R.D. (2002). A Child’s World, Infancy Through Adolescence (ninth edition). McGraw Hill.

Paul, D. Benjamin. (2009). Symbolic Sibling Rivalry in Guatemala. American Anthropologist. 2 (52), 205-218

Stocker, C., Dunn, J., & Plomin, R.. (1989). Sibling Relationship: Links with Child Temperament, Maternal Behavior and Family Structure. Journal of Child Development, 3 (60), 715-727.

Zolten, K & Long, N. (2006). Sibling Rivalry Among Older Children: University of Arkansas for Medical Sciences Artwork. Diperoleh dari http:// www.parenting-ed.org. tanggal 27 November 2012