UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR

SENI BUDAYA MATERI MENGAPRESIASI KARYA SENI RUPA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

CONSTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)

PADA SISWA KELAS VIII F SMP NEGERI I ADIWERNA

SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2019/2020

 

Jaya Rudy Hartono

SMP Negeri I Adiwerna Tegal

 

ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi oleh masalah rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran Seni Budaya dan masih belum tercapainya ketuntasan belajar klasikal sebagaimana analisis nilai tes hasil belajar pada kondisi awal diketahui besarnya siswa yang tuntas belajar 31%, padahal kriteria ketuntasan belajar klasikal yang telah ditentukan adalah 85%. Tujuan penelitian adalah meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mapel Seni Budaya dengan menggunakan model pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) pada siswa kelas VIIIF SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020. Hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang berlangsung dalam 2 siklus penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata persentase aktivitas siswa pada siklus I sebesar 58% dan pada siklus II mencapai 88%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada kondisi awal persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 31%, pada siklus I sebesar 62,5% dan pada siklus II mencapai 94%. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Seni Budaya Matei Mengapresiasi Karya Seni Rupa pada Siswa Kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020” dapat diterima.

Kata Kunci:  Constextual Teaching And Learning (CTL), Mengapresiasi Karya Seni Rupa, kelas VIII SMP

 

PENDAHULUAN

Menurut Depdiknas (2006:3) tujuan diberikannya mata pelajaran Seni Budaya adalah agar siswa memiliki kemampuan untuk memahami konsep dan pentingnya seni budaya, siswa mampu menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya, siswa mampu menampilkan kreativitas melalui seni budaya, dan siswa mampu menampilkan peran serta dalam seni budaya di tingkat lokal, regional, maupun global.

Salah satu bagian dari seni budaya tersebut adalah seni rupa. Seni rupa merupakan cabang seni yang membentuk karya seni melalui media yang dapat ditangkap oleh mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan seperti ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, warna, volume, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika. Menurut Sudarmaji (1982:34) Seni rupa ialah semua manifestasi dari pengalaman mental & estetika menggunakan bidang media, garis, warna, tekstur, volume & gelap.

Pengamatan terhadap aktivitas siswa pada pembelajaran tersebut diperoleh data dari jumlah siswa 32 siswa di kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020, sebanyak 11 siswa (34,37%) siap mengikuti pembelajaran, 17 siswa (53,13%) mengobrol dan 4 siswa (12,5%) sering ijin ke belakang. Aktivitas pembelajaran yang rendah tersebut berpengaruh pada rendahnya hasil belajar, yaitu hanya 10 siswa (31%) siswa yang hasil belajar Seni Budaya mencapai KKM yang telah ditentukan guru yaitu 76. Padahal siswa dapat dinyatakan tuntas secara klasikal apabila jumlah siswa yang mencapai KKM sudah ≥ 85%.

Setelah diadakan refleksi dengan teman sejawat, ditemukan beberapa penyebab yang mengakibatkan masalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa. Di antara penyebab masalah tersebut adalah belum efektifnya proses pembelajaran.

Langkah peneliti yang dilakukan untuk memperbaiki hasil belajar siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 pada proses pembelajaran Seni Budaya adalah merubah model pembelajaran dengan menerapkan siswa aktif dalam proses pembelajaran dan guru tidak mendominasi selama berlangsungnya proses pembelajaran. Model pembelajaran yang akan digunakan peneliti adalah model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) yang akan peneliti terapkan pada proses pembelajaranStandar Kompetensi 9 “Mengapresiasi karya seni rupa”.

Model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)menurut Sugiyanto (2007:87) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.

Berdasar latar belakang di atas maka penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan peneliti di kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwena Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 adalah “ Upaya Meningkatkan Kreatifitas dan Hasil Belajar Seni Budaya Materi Mengapresiasi Karya Seni Rupa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) Pada Siswa Kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020”.

Rumusan masalah yang akan peneliti ajukan pada penelitian ini adalah (1) Bagaimana peranan Model Pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CLT) pada siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 dapat meningkatkan Aktivitas seni budaya materi Mengaprasiasikan Karya Seni Rupa. (2) Bagaimanakah model pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) pada siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwena semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 dapat meningkatkan hasil belajar (3) Bagaimana langkah-langkah penerapan model pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) sehingga dapat meningkatkan Kreatifitas dan hasil belajar siswa Kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwena Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar Seni Budaya materi Mengapresiasi Karya Seni Rupa pada Siswa Kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 setelah penerapan model pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) (2) Mengetahui besarnya peningkatan hasil belajar Seni Budaya materi Mengapresiasi Karya Seni Rupapada Siswa Kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020 setelah penerapan model pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) (3) Mengetahui langkah-langkah penerapan model pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) pada proses pembelajaran Seni Budaya materi Mengapresiasi Karya Seni Rupa sehingga dapat meningkatkan Kreatifitas dan hasil belajar Siswa Kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020

KAJIAN PUSTAKA

Aktivitas Belajar

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, aktivitas belajar adalah kegiatan mengolah pengalaman data praktik dengan cara mendengar,membaca, menulis, mendiskusikan, merefleksikan rangsangan, dan memecahkan masalah. Aktivitas merupakan penerapan pembelajaran yang mengaktifkan siswa dapat dilakukan melalui pengembangan berbagai ketrampilan belajar yaitu: (1) berkomunikasi lisan dan tertulis secara efektif; (2) berpikir logis, kritis, dan kreatif; (3) rasa ingin tahu; (4) penguasaan teknologi dan informasi; (5) pengembangan personal dan sosial; (6) belajar mandiri.

Paul B. Diedrich yang dikutip dalam Nanang hanafiah dan Cucu suhana (2010:24) menyatakan, aktivitas belajar dibagi ke dalam delapan kelompok, yaitu sebagai berikut: (1) Kegiatan-kegiatan visual (visual activities), yaitu membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. (2) Kegiatan-kegiatan lisan (oral activities), yaitu mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara diskusi dan interupsi (3) Kegiatan-kegiatan mendengarkan (listening activities), yaitu mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, atau mendengarkan radio. (4) Kegiatan-kegiatan menulis (writing activities), yaitu menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan copy, membuat outline atau rangkuman, dan mengerjakan tes serta mengisi angket. (5) Kegiatan-kegiatan menggambar (drawing activities), yaitu menggambar, membuat grafik, diagram, peta dan pola. (6) Kegiatan-kegiatan motorik (motor activities), yaitu melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, serta menari dan berkebun. (7) Kegiatan-kegiatan mental (mental activities), yaitu merenungkan mengingat, memecahkan masalah, menganalisa faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan. (8) Kegiatan-kegiatan emosional (emotional activities), yaitu minat, membedakan, berani, tenang, merasa bosan dan gugup.

Hasil Belajar

Menurut Dimyati Dan Mudjiono (2006:36) Hasil belajar ialah hasil yang dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberikan tes hasil belajar pada setiap akhir pembelajaran. Nilai yang diperoleh siswa menjadi acuan untuk melihat penguasaan siswa dalam menerima materi pelajaran. Hasil belajar ialah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.

Selanjutnya hasil belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Dari tiga pengertian hasil belajar di atas, maka dapat peneliti simpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan atau keterampilan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya yang dibuktikan dengan angka.

Menurut Sudjana (1990:22) Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar, yakni: informasi verbal, kecakapan intelektul, strategi kognitif, sikap dan keterampilan. Sementara Bloom mengungkapkan tiga tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu: kognitif, afektif dan psikomotorik.

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu: (1) Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. (2) Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran. Kedua faktor di atas sangat mempengaruhi hasil belajar siswa, jika kedua faktor tersebut dilakukan secara maksimal maka akan menghasilkan hasil belajar secara maksimal juga.

Pembelajaran Seni Rupa di SMP

Menurut Sudjarmaji (1982:33) Seni rupa adalah segala bentuk manifestasi batin serta pengalaman estetis yang melibatkan media bidang, garis, tekstur, warna, volume, serta gelap dan terang. Sementara menurut Nandawan L. Hasanah (2013:24) Seni rupa adalah ekspresi jiwa yang mempunyai unsur keindahan dan diungkapkan melalui suatu media tertentu yang bersifat nyata dan bisa dinikmati oleh kelima panca indera. Dari 2 (dua) pengertian di atas maka dapat peneliti simpulkan bahwa seni rupa adalah cabang dari seni untuk menghasilkan karya seni dengan ekspresi dan kualitas yang bisa dilihat oleh indera penglihatan dan diraba oleh indera peraba.

Pengertian Mengapresiasi Karya Seni Rupa

Pengertian apresiasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Apreiasi seni adalah penilaian baik, penghargaan, misalnya terhadap karya-karya sastra ataupun karya seni. Menurut Elliyati (2004:61) Apresiasi seni karya sastra adalah kegiatan mengakrabi karya sastra secara bersungguh-sungguh. Sehubungan dengan itu, apresiasi memerlukan kesungguhan penikmat sastra dalam mengenali, menghargai, dan menghayati, sehingga ditemukan penjiwaan yang benar-benar dalam.

Sementara menurut Aminuddin, (1987:87), Apresiasi berasal dari bahasa Inggris “appreciation” yang berarti penghargaan, penilaian, pengertian, bentuk itu berasal dari kata kedua “to aprreciate” yang berarti menghargai, menilai, mengerti. Apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.

Dari ketiga pengertian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa Apresiasi seni rupa adalah aktivitas mengindra karya seni rupa, merasakan, menikmati, menghayati dan menghargai nilai-nilai keindahan dalam karya seni serta menghormati keberagaman konsep dan variasi konvensi artistik eksistensi dunia seni rupa.

Tahapan Apresiasi Karya Seni

Tahapan apresiasi karya seni nusantara atara lain: (1) Pengamatan,

Pengamatan terhadap suatu karya seni ini tidak dilakukan dengan satu indera saja. Namun, dengan memberdayakan seluruh pribadi. Maksudnya, apresiasi ini juga dilakukan dengan ketajaman pengamatan seseorang serta pengetahuan ilmu seni. (2) Aktivitas Fisiologis adalah tindakan nyata dalam melakukan suatu pengamatan. (3) Aktivitas Psikologis merupakan persepsi dengan evaluasi yang kemudian dapat menimbulan suatu interpretas imajinatif sebagai pendorong kreativitas. (4) Aktivitas Penghayatan dapat dilakukan dengan mengamati suatu objek karya seni secara mendalam. (5) Aktivitas Penghargaan merupakan suatu evaluasi terhadap objek dengan menyampaikan saran atau kritikan.

Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning

Menurut Mulyasa (2009:55) Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga para siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, siswa akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.

Selanjutnya menurut Wina Sanjaya (2005:109), Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu model pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Tujuan dari penerapan model Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam proses pembelajaran antara lain: (1) Dapat memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atu ketrampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainnya. (2) Agar siswa dalam belajar tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adanya pemahaman (3)Melatih siswa agar dapat berpikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain (4) Untuk mengajak siswa pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari (5) Agar siswa secara individu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-informasi komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.

Kerangka Berpikir

Selama ini dalam proses pembelajaran seni budaya materi seni rupa banyak siswa tidak aktif mengikuti proses pembelajaran, karena menganggap pelajaran seni rupa pelajaran yang sulit dan rumit,sementara siswa tidak mau menanyakan kesulitan belajar pada guru, juga tidak memanfaatkan kelompok belajar untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa, ditambah model pembelajaran yang digunakan guru tidak mampu menumbuhkan minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sehinggabanyak siswa merasa bosan dalam mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung. Untuk meningkatkan hasil belajar tersebut maka peneliti akan menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Adanya kerjasama dalam memecahkan masalah bersama dan tanggungjawab yang tinggi dalam diri siswa ketika mengerjakan tugas kelompok diharapkan dapat berpengaruh meningkatkan Kreatiftas dan hasil belajar siswa pada mapel seni budaya materi Mengapresiasi Karya Seni Rupa pada siswa di kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020.

METODE PENELITIAN

Obyek Tindakan

Obyek tindakan dalam penelitian ini adalah aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran Seni Budaya siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Kabupaten Tegal pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2019/2020. Melalui Penerapan model Pembelajaran Constextual Teaching And Learning, peneliti berharap bisa meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mapel Seni Budaya materi Mengapresiasi karya seni rupa. Peneliti menetapkan ketuntasan hasil belajar siswa tersebut berdasarkan analisis ketuntasan minimal dengan aspek kompleksitas materi, daya dukung sarana dan prasarana di SMP Negeri 1 Adiwerna, serta Intake Siswa yaitu sebesar 76 secara perorangan dan ketuntasan belajar klasikal dalam kelas VIII F mencapai sama atau diatas 85%.

Setting Penelitian, Subyek dan Waktu Penelitian

Penelitian berjudul ”Upaya Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Seni Budaya Materi Mengapresiasikan Karya Seni Rupa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) pada siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna Semester genap Tahun Pelajaran 2019/2020. Diadakan di kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna, beralamat di Jalan Raya Slatan Banjaran Adiwerna Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa – Tengah.

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa Kelas VIII F Semester Genap SMP Negeri 1 Adiwerna Tahun Pelajaran 2019/2020 berjumlah 32 orang siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Diawali dengan observasi awal pada tanggal 3 Januari 2020 dan diakhiri bulan Juni 2020.

Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini dikumpulkan melalui tes, observasi, dan dokumentasi. Metode Tes dilakukan pada akhir setiap siklus baik pada siklus I dan siklus II materi teks ulasan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. Soal tes yang akan diujikan pada siswa berbentuk tes pilihan ganda yang berjumlah 20 butir soal. Adapun norma penilaiannya adalah setiap 20 butir soal dijawab dengan betul semua maka sekor 5 dengan nilai 100.

Metode Pengamatan / Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan secara sistem matis dan sengaja, yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang diselidiki.

Observasi dilakukan oleh observer bertujuan untuk mengamati hasil belajar siswa sehingga peneliti dapat mengetahui dan menganalisis tngkat ketidak tuntasan siswa dalam proses pembelajaran Seni Budaya materi mengapresiasi karya seni rupa.

Metode Dokumentasi, dilakukan dengan cara mengamati minat dan aktifitas belajar siswa dan menganalisis hasil belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran. Adapun instrument pengumpulan data dalam metode dokumentasi ini meliputi hasil kerja siswa, hasil tes siswa dan dokumentasi foto kegiatan pembelajaran di kelas.

Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan pengamatan, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya diinformasikan kepada orang lain. Dalam penelitian ini terdapat dua bentuk analisis, analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis kualitatif untuk observasi aktifitas siswa dan analisis kuantitatif untuk hasil belajar siswa.

Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Adiwerna. Sedangkan jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi: data primer dan data skunder. Data primer merupakan data yang langsung diperoleh dari subyek penelitian, tidak melalui perantara, sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa hasil belajar siswa materi materi mengapresiasi karya seni rupa.

Data sekunder adalah penelitian yang diperoleh secara tidak langsung. Data sekunder merupakan data yang diperoleh sebagai pendukung untuk kelengkapan data penelitian, data yang diambil bersumber selain dari subyek penelitian yaitu berupa data yang berasal dari pengamatan oleh peneliti maupun teman sejawat.

Indikator Keberhasilan Penelitian

Indikator (tolak ukur) keberhasilan merupakan kondisi akhir atau target yang diharapkan tercapai setelah penerapan pendekatan konstektual.

Indikator keberhasilan untuk hasil belajar dikatakan berhasil jika telah mencapai ketuntasan belajar secara individual sebesar ≥ 78%, dan ketuntasan klasikal ≥ 85% sesuai KKM yang telah ditetapkan, sementara KKM Seni Budaya kelas VIII di SMP Negeri 1 Adiwerna adalah 76.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti mengikuti prosedur penelitian yang telah ditetapkan oleh Depdiknas (2004:2). Penelitian dimulai dari perencanaan (planning), melakukan tindakan (acting), pengamatan (observasi), dan selanjutnya melakukan refleksi (feflecting).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Berdasarkan kajian empiris dan pengamatan penulis terhadap pelaksanaan pembelajaran sebelum diadakan tindakan, kegiatan pembelajaran menggunakan metode konvensional. Keadaan ini mengakibatkan aktivitas siswa pada pembelajaran Seni Budaya di kelas VIII F masih sangat rendah. Dari 32 siswa, hanya sebanyak 13 siswa (40,63%) yang siap mengikuti pembelajaran, sedangkan yang lainnya sibuk dengan kegiatannya sendiri. Aktivitas pembelajaran yang rendah tersebut berpengaruh pada rendahnya hasil belajar, yaitu hanya 31% siswa yang hasil belajar Seni Budaya-nya mencapai KKM yang telah ditentukan guru yaitu 76. Padahal siswa dapat dinyatakan tuntas secara klasikal apabila jumlah siswa yang mencapai KKM sudah ≥ 85%.

Berdasarkan hasil temuan tersebut, perlu segera dicari pemecahannya untuk meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk itu peneliti memutuskan untuk melakukan inovasi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) dalam mengatasi rendahnya permasalahan aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas VIII F di SMP Negeri 1 Adiweran tahun pelajaran 2019/2020.

Deskripsi Siklus I

Pada siklus I ini peneliti melakukan tahapan penelitian berupa perencanaan (planning), tindakan (aplication), observasi (observation) dan refleksi (reflection).

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti bersama kolaborator diketahui bahwa adanya peningkatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.

Aktivitas Belajar Siklus I

Hasil penelitian siklus I untuk aktivitas Belajar sebagai berikut: jumlah siswa yang memperhatikan saat guru menjelaskan adalah 30 siswa atau (94%), Mengajukan pertanyaan 9 siswa atau (28%), Semangat menjawab 15 siswa atau (47%), Menanggapi pendapat temen 13 siswa atau (41%) dan Antusiasi berdiskusi 26 siswa atau (81%). Rata-ata aktivitas siswa 58% hal ini menujukkan cukup aktifnya dalam aktivitas pembelajaran.

Hasil Belajar Siklus I

Hasil penelitian siklus I untuk hasil belajar siswa kelas VIII F sebagai berikut: nilai rata-rata kelas 66. Nilai tertinggi yang diperolah siswa sebesar 90 dengan nilai terendahnya adalah 55. Jumlah siswa tuntas belajar sebesar 20 dari 32 siswa atau 62,5%, sedangkan siswa belum tuntas dengan jumlah 12 siswa atau 37,5% dari 32 siswa.

Mencermati berbagai kekurangan yang telah ditemukan pada siklus I ini, maka perlu ditindak lanjuti pada siklus II. Hasil refleksi ini digunakan sebagai dasar untuk menyusun RPP dan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II

Deskripsi Siklus II

Pada siklus II ini peneliti melakukan tahapan peneliatan berupa perencanaan (planning), tindakan (aplication), observasi (observation) dan refleksi (reflection).

Aktivitas Belajar Siklus II

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti bersama kolaborator pada siklus II, diketahui bahwa adanya peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa semakin serius dalam proses pembelajaran. Keterlibatan siswa dalam kegiatan diskusi semakin bagus karena jumlah anggota tiap kelompok hanya 4 siswa. Masing-masing anggota saling berkontribusi dalam menyelesaikan tugas kelompok.

Peningkatan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran ini berdampak pada meningkatanya hasil belajar siswa sebagai berikut: bahwa jumlah siswa yang memperhatikan saat guru berpresentasi adalah 32 siswa (100%), bertanya 20 siswa (62,5%), Menjawab 32 siswa (100%), Menanggapi 25 siswa (78%) dan aktif dalam berdiskusi 32 siswa (100%).

Hasil Belajar Siklus II

Dari hasil tes dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kelas 80. Nilai tertinggi yang diperolah siswa sebesar 100 dengan nilai terendahnya adalah 60. Jumlah siswa tuntas belajar sebesar 30 dari 32 siswa atau 94%, sedangkan siswa belum tuntas dengan jumlah 2 siswa atau 6% dari 32 siswa.

Berdasarkan hasil penelitian pada siklus II ini ternyata hasil belajar Seni Budaya materi Mengapresiasi karya seni rupa kelas VIII F telah mencapai indikator keberhasilan sehingga penelitian ini tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.

Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Constextual Teaching And Learning (CTL) dalam mengapresiasi karya seni rupa dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VIII F semester 2 SMP Negeri 1 Adiwerna tahun pelajaran 2019/2020.

Hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II terlihat adanya peningkatan. Pada siklus I siswa yang mencapai KKM sebanyak 62,5% meningkat menjadi 94% pada siklus II, terjadi peningkatan sebesar 31,5%. Peningkatan pencapaian ketuntasan klasikal 85% menunjukkan bahwa siswa telah menguasai materi pelajaran dengan melibatkan siswa lebih termotivasi dalam menelaah materi mengapresiasi karya seni rupa. Diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. Memungkinkan siswa belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa pada penelitian ini dengan menggunakan metod Constextual Teaching And Learning (CTL) dapat tercapai sesuai indikator keberhasilan. Oleh karena peneliti menganggap cukup dan tidak melanjutkan siklus selanjutnya.

PENUTUP

Simpulan

Peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa pada penelitian ini dengan menggunakan metode Constextual Teaching And Learning (CTL) dalam mengapresiasi karya seni rupa siswa kelas VIII F semester 2 SMP Negeri 1 Adiwerna tahun pelajaran 2019/2020 dapat tercapai sesuai indikator. Peningkatan persentase aktivitas siswa pada siklus I sebesar 58% dan pada siklus II mencapai 88%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada kondisi awal persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 31%, pada siklus I sebesar 62,5% dan pada siklus II mencapai 94%.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dikemukakan beberapa saran antara lain:

  1. Karena dari hasil penelitian dengan penggunaan metode Constextual Teaching And Learning (CTL) terbukti telah mampu meningkatkan ketrampilan dan aktifitas siswa dalam pembelajaran, dan hasil belajar siswa maka disarankan kepada guru Seni Budaya khususnya dan semua guru pada umumnya agar menggunakan metode Constextual Teaching And Learning (CTL) di dalam kegiatan belajar mengajar.
  2. Agar pengelolaan pembelajaran dengan menggunakan metode Constextual Teaching And Learning (CTL) dapat berjalan lebih efektif maka disarankan kepada siswa selalu aktif dalam pembelajaran yang dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Aminudin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: Sinar Baru.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Reneka Cipta

Depdiknas. 2006. Kerangka Dasar Kurikulum 2004. Jakarta

Hanafiah, Nanang & Cucu Suhana. 2010. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.

Hasanah, Nandawan Libya. 2013. Memahami Dasar Warna http://www. notepedia. info/2013/05/memahami-dasar-warna. html diakses pada tanggal 4 April 2016 pk. 21. 16 WIB

Sudjana, Nana. 1990. Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran. Bandung: Fakultas Ekonomi UI.

Sudjarmaji. 1982. Pelukis dan Pematung Indonesia. Jakarta: Aris Lima

Wina Sanjaya. 2005. Pembelajaran Dalam implementasi KBK. Jakarta:Prenada Media. 2005. Cet. 1, hlm. 109.