UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR LOGIS MELALUI APE BENTUK GEOMETRI PADA ANAK KELOMPOK B

DI TK MARSUDISIWI 1 MAJENANG SEMESTER II TAHUN 2018/2019

 

Tukimin

TK Marsudisiwi 1 Majenang

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Meningkatkan kemampuan berpikir logis anak Kelompok B TK Marsudisiwi 1 Majenang tahun 2018/2019 melalui APE Bentuk Geometri, (2) Mengetahui bagaimana proses peningkatan kemampuan berpikir logis anak Kelompok B TK Marsudisiwi 1 Majenang tahun 2018/2019 melalui APE Bentuk Geometri. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir logis anak Kelompok B TK Marsudisiwi 1 Majenang tahun 2018/2019 melalui APE Bentuk Geometri. Langkah penelitian diawali identifikasi masalah dan mengumpulkan data. Semua data dan informasi yang didapat merupakan pengamatan sehari-hari. Kemudian diadakan tindakan perbaikan siklus 1, lalu di observasi dan direfleksi, kemudian melakukan perbaikan siklus 2. Hasil penelitian tindakan kelas (PTK) ini dapat disimpulkan bahwa melalui APE Bentuk Geometri dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis anak Kelompok B TK Marsudisiwi 1 Majenang. Pada pra siklus keberhasilan pembelajaran baru mencapai 25 %, siklus pertama keberhasilan pembelajaran mencapai 65 % kemudian pada siklus kedua meningkat menjadi 85 %.

Kata Kunci: kemampuan berpikir logis, APE geometri, anak TK

 

PENDAHULUAN

Masa kanak-kanak awal terjadi pada rentang usia 2 – 6 tahun, masa ini sekaligus merupakan masa prasekolah, dimana anak umumnya masuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak. Anak usia Taman Kanak-kanak dalam rentangan usia 4-5 atau 6 tahun berada dalam masa usia emas (golden age) segala sesuatunya sangat berharga, baik fisik, emosi dan intelektualnya.

Menurut Agung Triharso, (2013:46) Anak usia TK berada pada tahapan praoperasional kongkret yaitu tahap persiapan kearah pengorganisasian yang konkret dan berpikir intuitif dimana anak mampu mempertimbangkan besar, bentuk, dan benda –benda didasarkan interpretasi dan pengalamannya ( persepsinya sendiri). Sedangkan menurut Florence Beetlestone (2012: 20) bahwa Piaget memandang pemikiran anak-anak sebagai berbeda secara kualitatif dengan orang dewasa.

Menurut Permendikbud nomor 137 tentang kurikulum 2013 PAUD kemampuan kognitif terdiri dari 3 tingkat pencapaian perkembangan yaitu kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berpikir logis dan kemampuan berpikir simbolik. Setandar tingkat pencapaian perkembangan kemampuan berpikir logis umur 5-6 tahun terdiri dari: 1) Mengenal perbedaan berdasarkan ukuran:“lebih dari”; “kurang dari”; dan “paling/ter”. Menunjukkan inisiatif dalam memilih tema permainan (seperti: ”ayo kita bermain pura-pura seperti burung”).2) Menyusun perencanaan kegiatan yang akan dilakukan. 2) Mengenal sebab-akibat tentang lingkungannya (angin bertiup menyebabkan daun bergerak, air dapat menyebabkan sesuatu menjadi basah). 3) Mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran (3 variasi). 4) Mengklasifikasikan benda yang lebih banyak ke dalam kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis, atau kelompok berpasangan yang lebih dari 2 variasi. 5) Mengenal pola ABCD-ABCD. 6) Mengurutkan benda berdasarkan ukuran dari paling kecil ke paling besar atau sebaliknya.

Di TK Marsudisiwi 1 Majenang, pembelajaran kognitif terutama dalam berpikir logis mengenal dan mengelompokkan bentuk geometri hasilnya belum sesuai yang diharapkan. Banyak anak yang belum memahami dan menyebutkan bentuk geometri dengan benar, karena pembelajaran tentang bentuk geometri dianggap kurang menyenangkan. Dalam mengenal dan mengelompokkan bentuk–bentuk geometri diperlukan alat peraga edukatif yang memudahkan anak mengenal dan memahami bentuk bentuk geometri. Namun APE bentuk-bentuk geometri di TK ini masih sangat terbatas. Dalam memahami bentuk geometri tidak hanya cukup diceritakan saja, tapi memerlukan benda yang nyata yang dapat dikenal anak secara langsung.

Pembelajaran di TK Marsudisiwi 1 Majenang dalam mengenal bentuk-bentuk geometri, anak-anak kurang bersemangat, kurang motivasi dan kelas jadi tidak hidup, anak–anak banyak yang mengajak cepat istirahat. Diantara 20 anak hanya 5 anak yang sudah memahami tentang bentuk geometri dengan nilai BSH (Berkembang Sesuai Harapan). Dengan demikian baru 25 % (5 anak) dari jumlah anak yang berhasil dalam pembelajaran kognitif. Sedangkan yang diharapkan keberhasilan pembelajaran kognitif dalam mengenal geometri minimal 80 % atau 16 anak.

Untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak, pada tahun 2019 TK Marsudisiwi 1 Majenang menambah inventaris berbagai APE berbentuk geometri, diantaranya bentuk dasar geometri (Basic Shape), Puzle bentuk geometri, Bentuk pecahan lingkaran, dan Kereta geometri. Maka dari itu pada tahun ajaran 2018/2019 ini penulis melakukan penelitian tindakan kelas di Kelas B TK Marsudisiwi 1 Majenang menggunakan APE bentuk–bentuk Geometri untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah melalui APE bentuk geometri dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis anak kelompok B TK Marsudisiwi 1 Majenang ? (2) Bagaimanakah proses peningkatan kemampuan berpikir logis anak kelompok B TK Marsudisiwi 1 Majenang melalui APE bentuk geometri?

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk meningkatan kemampuan berpikir logis anak Kelompok B TK Marsudisiwi 1 Majenang melalui APE bentuk geometri. (2) Untuk mengetahui bagaimana proses peningkatan kemampuan kognitif anak melalui Alat Permaina Edukatif ( APE) bentuk geometri.

 

 

 

KAJIAN PUSTAKA

Kemampuan

Kemampuan dapat diartikan sebagai potensi seseorang yang dapat melakukan dan menyelesaikan suatu hal dengan baik. Menurut Wijaya (1992: 8) kemampuan merupakan perilaku yang disyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.

Menurut Shallay dalam Irina V. Sokolova (2008:142) kemampuan adalah pengetahuan mengenai area yang di dalamnya seorang individu bekerja dan memerlukan ketrampilan untuk memproses informasi secara kreatif dalam menghasilkan berbagai respon yang baru dan sesuai. Dengan bahasa yang lebih sederhana kemampuan seseorang mengenai suatu obyek sebelum mereka memunculkan gagasan baru mengenai subyek tersebut.

Kognitif

Kognitif adalah salah satu perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengetahuan yakni semua proses psikologi yang berkaitan dengan bagaimana individu (http:TatangJM.wordpres.com.1/…./kognitif). Sedang menurut Gagne (1984) dalam Sujiono, (2007: 120) kognitif adalah cara atau cepat lambatnya individu bertingkah laku bertindak didalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi.

Menurut Minnet dalam Winda Gunarti (2002:24) perkembangan kognitif merupakan perkembangan dari pikiran. Pikiran merupakan bagian otak bagian yang digunakan untuk bernalar, berpikir, dan memahami sesuatu. Setiap hari pemikiran anak akan berkembang ketika mereka belajar tentang orang- orang yang ada disekitarnya, belajar berkomunikasi dan mencoba mendapatkan pengalaman lainnya.

Menurut Utami (2013:83) kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga menghasilkan pengetahuan. Kognisi mencakup berbagai aktivitas mental seperti memperhatikan, mengingat, melambangkan, mengelompokkan, merencanakan, menalar, memecahkan masalah, menghasilkan dan membayangkan.

Menurut Musfiroh, (2008:3.32) kemampuan kognitif juga termasuk didalamnya kemampuan klasifikasi dan serial dapat dirangsang dengan mengelompokkan benda berdasarkan ciri-ciri tertentu, seperti mengumpulkan daun, balok, berdasarkan ukuran, mengelompokkan lego berdasarkan bentuk, dan mengelompokkan karet berdasarkan warna.

Tahap perkembangan Kognitif

Menurut Aisyiah ( 2008: 5.7) Piaget mengkategorikan mengenai perilaku kedalam 4 tahap perkembangan kognitif, yaitu: sensorimotorik ( lahir sampai 2 tahun), praoperasional, 2 tahun sampai 8 tahun, kongkret operasional, 8 sampai 11 tahun, dan formal operasional umur 11 sampai dewasa. Tahap tahap ini tidak pernah dapat dilewati / diloncati anak karena keberhasilan dalam setiap tahap dibangun dari ketercapaian tahap sebelumnya.

Menurut Mirroh Fikriyati (2013: 48) pendapat Piaget pada tahap Sensorimotor yaitu mulai dari bayi bergerak dari tindakan reflek instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui pemngkoordinasian pengalaman – pengalaman sensor dengan tindakan fisik.

Kemampuan Berpikir Logis

Perkembangan Kognitif anak sesuai Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak dalam Permendikbud N0.137 tahun 2018 (Cep Unang Wardaya: 2018 ) terdiri dari 3 lingkup perkembangan yaitu belajar dan pemecahan masalah, berpikir logis dan berpikir simbolik.

Alat Permainan Edukatif (APE)

. Menurut Ismail, (2012: 8) pengertian alat permainan edukatif atau biasa disebut dengan APE adalah alat bantu yang digunakan dalam proses belajar yang diadakan di kelas. PAUD dan TK sangat membutuhkan alat peraga edukatif ini yang bisa saja terbuat dari bahan kayu, plastik ataupun kertas. Menurut Mayke,(2011:81) alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan.

Menurut Ismail, (2012: 6) Permainan edukatif seperti yang dibangun sebagian besar pakar pendidikan anak memiliki makna sebagai bentuk kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kesenangan atau kepuasan dari alat atau cara pendidikan yang digunakan dalam kegiatan bermain, yang disadari atau tidak memiliki muatan pendidikan yang dapat merangsang terbentuknya totalitas kepribadian anak mulai dari perkembangan fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional. Artinya permainan kegiatan mendidik yang dilakukan dengan menggunakan cara atau alat permainan yang bersifat mendidik.

Sedangkan menurut Suyadi (2014:183) konsep dasar yang digagas Montessori adalah bermain bagi anak sama halnya dengan bekerja bagi orang dewasa, artinya pekerjaan anak adalah bermain, tegasnya anak-anak bermain-main dengan sungguh-sungguh. Sedangkan menurut Mayke S. Tedjasaputra, (2001) melalui bermain, anak juga dapat memahami hubungan antara dirinya dengan lingkungan sekelilingnya, baik dengan lingkungan sosial maupun lingkungan alam sekitar, sehingga ia dapat bergaul dan memahami peraturan atau tata cara pergaulan.

Bentuk Geometri

Bentuk geometri sering dibahas dalam konsep matematika. Menurut Azizah Muiz (2013:137) dalam Konsep matematika anak usia dini hingga sekolah menengah berdasarkan The National Council Teachers of Mathematics (NCTM) tahun 2000 terdapat lima konsep yang dipelajari oleh anak, yaitu: bilangan dan operasi bilangan, aljabar, geometri, pengukuran, analisis data serta probabilitas (Henniger, 2009). Sebelum anak mempelajari konsep matematika tersebut, anak perlu untuk diberikan pengalaman matematika permulaan yaitu mencocokan, korespondensi satu-satu, klasifikasi, membandingkan, mengurutkan atau seriasi. Pengalaman matematika permulaan ini merupakan keterampilan dasar dalam untuk memahami konsep matematika selanjutnya.

Macam – macam APE Geometri, Manfaatnya dan Cara Bermainnya

Menurut Boven (2012:1-8) macam macam APE Geometri yaitu diantaranya: (1) Kereta Geometri, (2) Puzzle Bentuk Knob Geometri, (3) Pecahan Lingkaran, (4) Puzzle Pecahan Geometri, (5) Basic Shape A, (6) Basic Shape B, (7) Basic Shape C, (8) Puzzle Geometri.

Kerangka Pikir

Berdasarkan penelitian yang diperoleh mengembangkan kemampuan kognitif berpikir logis memerlukan berbagai kegiatan, alat peraga atau media kreatif sehingga memperoleh kemampuan berpikir logis yang maksimal, misalnya dengan menggunakan APE Bentuk geometri. Kerangka pikir ini didasarkan pada kondisi awal pembelajaran sebelum diterapkan penggunaan APE bentuk geometri kemampuan berpikir logis tentang bentuk geometri masih rendah, kemudian diberikan pembelajaran dengan APE bentuk geometri yang menarik dan menyenangkan bagi anak.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir tersebut dapat dirumuskan hipotesis tindakan: Melalui APE bentuk geometri dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak di TK Marsudisiwi 1 Majenang tahun pelajaran 2018/2019. Dengan bermain APE geometri anak akan dapat mengenal bentuk geometri, menyusun bentuk geometri menjadi berbagai bangunan, mengenal konsep lebih besar, lebih kecil, menyusun dari yang terkecil atau yang terbesar, mengklasifikasikan bentuk dan warna, dan sebagainya.

[Type a quote from the document or the summary of an interesting point. You can position the text box anywhere in the document. Use the Text Box Tools tab to change the formatting of the pull quote text box.]

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kognitif berpikir logis anak TK Marsudisiwi 1 Majenang tahun pelajaran 2018/2019. Dalam penelitian kualitatif mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan segi “proses dari pada hasil” artinya hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses (Meleong, 1997:7).

Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelas B TK Marsudisiwi 1 Majenang Desa Majenang Kecamatan Sokodono Kabupaten Sragen.

Waktu Penelitian

Penelitian di TK Marsudisiwi 1 Majenang, Desa Majenang Kecamatan Sokodono Kabupaten Sragen pada bulan Januari 2019 sampai bulan Juni 2019.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ditetapkan pada anak Kelompok B TK Marsudisiwi 1 Majenang desa Majenang Kecamatan Sokodono Kabupaten Sragen dengan jumlah anak didik 20 anak, terdiri dari 8 anak laki-laki, 12 anak perempuan. Dengan 2 pendidik, yang berkualifikasi SI dan SMA.

 

 

Sumber Data

Sumber data dari Penelitian ini adalah anak didik, guru, kepala Sekolah TK Marsudisiwi 1 Majenang dan dokumen pembelajaran.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan prosedur kerja dari Hopkins mengambarkan penelitian tindakan sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral. Setiap langkah memiliki empat tahap, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

Pengamatan / Observasi

Pengamatan yang peneliti lakukan adalah pengamatan berperan serta secara pasif. Pengamatan itu dilakukan terhadap guru ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas maupun kinerja siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Pengamatan dilakukan oleh peneliti dengan melakukan pengamatan langsung pada kegiatan anak. Dalam posisi itu, peneliti dapat secara lebih leluasa melakukan pengamatan terhadap aktivitas belajar-mengajar siswa dan guru di kelas.

Kajian dokumen

Kajian juga dilakukan terhadap berbagai dokumen atau arsip yang ada, seperti Kurikulum, RKM, Rencana Kegiatan Harian yang dibuat guru, buku atau materi pelajaran, hasil unjuk kerja anak, dan buku penilaian yang dibuat guru.

Instrumen pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Lembar Observasi, (2) Lembar Wawancara.

Keabsahan Data

Suatu informasi yang akan dijadikan data penelitian perlu diperiksa validitasnya/keabsahannya sehingga data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dijadikan sebagai dasar yang kuat dalam menarik simpulan. Digunakan untuk memeriksa validitas data antara lain adalah triangulasi dan review informan kunci.

Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksanaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembandingan data itu (Lexy J. Moleong, 1995: 178). Teknik triangulasi yang digunakan antara lain berupa triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data. Misalnya, untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak dalam menyebutkan hasil penjumlahan dan faktor-faktor penyebabnya, peneliti melakukan hal-hal berikut: (1) memberikan tugas permainan APE bentuk geometri tentang menyebutkan bentuk geometri, mengelompokkan bentuk geometri, membedakan bentuk geometri dan ciri-ciri bentuk geometri kepada anak selanjutnya menganalisis dan mengidentifikasi kesulitan mereka (2) melakukan wawancara dengan guru untuk mengetahui pandangan guru tentang hambatan-hambatan yang dialami anak tentang menyebutkan bentuk geometri, mengelompokkan bentuk geometri, fasilitas pembelajaran yang dimiliki atau tidak dimiliki sekolah, kegiatan bermain di kelas, penilaian yang dilakukan guru, dan sebagainya.

 

Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis data-data yang telah berhasil dikumpulkan antara lain dengan teknik deskriptif komparatif (statistik deskriptif komparatif) dan teknik analisis kritis. Teknik statistik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif, yakni dengan membandingkan hasil antarsiklus. Peneliti membandingkan hasil sebelum penelitian dengan hasil pada akhir setiap siklus. Teknik analisis kritis berkaitan dengan data kualitatif. Teknik analisis kritis mencakup kegiatan untuk mengungkap kelemahan dan kelebihan kinerja siswa dan guru dalam proses belajar mengajar, kesulitan anak dalam mengenal bentuk geometri berdasarkan kriteria normatif yang diturunkan dari kajian teoretis maupun dari ketentuan yang ada.

Indikator Keberhasilan

Dalam penelitian diperlukan indikator keberhasilan kinerja yang menjadikan tolok ukur keberhasilan penelitian. Indikator kinerja merupakan rumusan kinerja yang dijadikan acuan dalam menentukan keberhasilan penelitian. Anak dikatakan tuntas apabila memenuhi penilaian BSB dan BSH dengan prosentase 80 %.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Pra Siklus

            Sebelum dilakukan tingdakan penelitian diadakan pretest dengan tujuan untuk mengetahui kompetensi anak dalam bidang kemampuan kognitif berpikir simbolik terutama mengenal bentuk geometri. Dalam kegiatan ini anak melakukan kegiatan bermain dengan APE geometri dengan mengelompokkan bentuk geometri, menyebutkan bentuk-bentuk geometri dan menyebutkan benda- benda yang berbentuk geometri serta menjiplak bentuk geometri. Adapun hasil belajar anak kurang begitu tampak berhasil sebagaimana tergambar pada data berikut:

Berdasarkan laporanobservasi diatas, peneliti dan guru merasa perlu melakukan perbaikan untuk meningkatkan kemampuan kognitif berpikir logis anak pada saat kegiatan, karena pada prosentase indikator keberhasilan kemampuan berpikir logis anak terlihat tingkat ketidak tuntasan anak lebih besar yaitu 75% daripada tingkat ketuntasan yang hanya 25%. Pelaksanaannya disepakati pada hari Selasa sampai Kamis, tanggal 5 sampai 7 April 2019

Deskripsi Hasil Siklus Pertama

Siklus Pertama Hari ke-1

Penulis melakukan observasi terhadap kegiatan anak dalam bermain dengan APE Bentuk geometri. Setelah diadakan observasi diperoleh hasil sebagai berikut: 1) anak sudah cukup mampu dalam menyebutkan bentuk-bentuk geometri, 2) anak sudah cukup mampu mengelompokkan benda menurut bentuk geometri, 3) Anak belum dapat mengelompokkan geometri berdasarkan warna, 4) Anak belum dapat mengelompokkan geometri berdasarkan ukuran. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi kemampuan kognitif anak yang meningkat dari pra siklus yang hanya 25 % setelah diadakan perbaikan pada siklus I menjadi 55%

Berdasarkan laporan observasi, kemampuan kognitif anak sudah meningkat dibandingkan dengan keadaan pada pra siklus. Hal tersebut terlihat dari hasil ketuntasan anak yang pada pra siklus hanya 30% meningkat menjadi 50%, tetapi belum memenuhi syarat ketuntasan yaitu 80 %, sehingga perlu diadakan perbaikan di siklus I hari berikutnya. Pelaksanaannya disepakati pada hari Selasa tanggal 5 April 2019.

Siklus Pertama Hari ke-2

Penulis melakukan observasi terhadap kegiatan anak dalam bermain dengan APE Bentuk geometri. Setelah diadakan observasi diperoleh hasil sebagai berikut: 1) anak cukup mampu menyebutkan bentuk-bentuk geometri, 2) masih ada anak yang belum dapat mengelompokkan geometri berdasarkan bentuk geometri 3) Anak belum dapat mengelompokkan benda berdasarkan warna, 4) Anak belum dapat mengelompokkan geometri berdasarkan ukuran. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi kemampuan kognitif berpikir logis anak yang meningkat dari pra siklus yang hanya 30% setelah diadakan perbaikan pada siklus I hari ke-2 menjadi 55%

Berdasarkan laporanobservasi diatas, kemampuan kognitif anak sudah meningkat dibandingkan dengan keadaan pada pra siklus. Hal tersebut terlihat dari hasil ketuntasan anak yang pada pra siklus hanya 30% Siklus I hari pertama meningkat menjadi 50%, dan Siklus I hari ke-2 menjadi 55%, tetapi belum memenuhi syarat ketuntasan yaitu 80 %, sehingga perlu diadakan perbaikan di siklus I hari hari ke-3. Pelaksanaannya disepakati pada hari Kamis tanggal 6 April 2019.

Siklus Pertama Hari ke-3

Penulis melakukan observasi terhadap kegiatan anak dalam bermain dengan APE Bentuk geometri. Setelah diadakan observasi diperoleh hasil sebagai berikut: 1) anak sudah mampu dalam menyebutkan bentuk-bentuk geometri, 2) anak sudah cukup mampu mengelompokkan benda berdasarkan bentuk geometri, 3) anak sudah mampu mengelompokkan benda geometri menurut warna, 4) anak sudah cukup mampu mengelompokkan benda geometri menurut ukuran. Pada Siklus I hari ke-3 ini sudah banyak peningkatan. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi kemampuan kognitif anak pada siklus I hari ke-3 meningkat menjadi 65% atau 13 anak.

Berdasarkan laporanobservasi diatas, kemampuan kognitif anak sudah meningkat dibandingkan dengan keadaan Sikluus I hari ke-2. Hal tersebut terlihat dari hasil ketuntasan anak yang pada pra siklus hanya 30% Siklus I hari pertama meningkat menjadi 50%, dan Siklus I hari ke-2 menjadi 55%, siklus I hari ke 3 menjadi 65 %, tetapi belum memenuhi syarat ketuntasan yaitu 80 %, sehingga perlu diadakan perbaikan di siklus II hari hari ke-I. Pelaksanaannya disepakati pada hari Selasa tanggal 11 April 2019.

Deskripsi Hasil Siklus Kedua

Siklus II hari Ke-1

Penulis melakukan observasi terhadap kegiatan anak dalam bermain dengan APE Bentuk geometri. Setelah diadakan observasi diperoleh hasil sebagai berikut: 1) anak sudah mampu dalam menyebutkan bentuk-bentuk geometri, 2) anak cukup mampu mengelompokkan benda berdasarkan bentuk geometri, 3) anak cukup mampu mengelompokkan bentuk geometri berdasarkan warna. 4) anak cukup mampu mengelompokkan bentuk geometri berdasarkan ukuran. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi kemampuan kognitif anak yang meningkat dari pra siklus yang hanya 25% setelah diadakan perbaikan pada siklus I menjadi 65 % dan pada siklus II hari ke-1 sudah 70 % atau 15 anak, namun hasilnya belum mencapai 80%.

Berdasarkan laporan observasi diatas, kemampuan kognitif anak sudah meningkat dibandingkan dengan keadaan Siklus I hari ke-3. Hal tersebut terlihat dari hasil ketuntasan anak yang pada pra siklus hanya 25% Siklus I hari pertama meningkat menjadi 50%, dan Siklus I hari ke-2 menjadi 55%, siklus I hari ke 3 menjadi 65 %,dan Siklus II kari ke-1 70 %, tetapi belum memenuhi syarat ketuntasan yaitu 80 %, sehingga perlu diadakan perbaikan di siklus II hari hari ke-2. Pelaksanaannya disepakati pada hari Selasa, tanggal 12 April 2019.

Siklus II hari Ke-2

Penulis melakukan observasi terhadap kegiatan anak dalam bermain dengan APE Bentuk geometri. Setelah diadakan observasi diperoleh hasil sebagai berikut: 1) anak sudah mampu dalam menyebutkan bentuk-bentuk geometri, 2) anak sudah cukup mampu mengelompokkan benda berdasarkan bentuk geometri, 3) anak sudah mampu mengelompokkan benda geometri menurut warna, 4) anak sudah cukup mampu mengelompokkan benda geometri menurut ukuran. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi kemampuan kognitif anak yang meningkat dari pra siklus yang hanya 25% setelah diadakan perbaikan pada siklus I menjadi 65 % dan pada siklus II hari ke-1 sudah 70 % atau 15 anak, Siklus II harike-2 75 %, namun hasilnya belum mencapai 80%.

Berdasarkan laporan observasi diatas, kemampuan kognitif anak sudah meningkat dibandingkan dengan keadaan Siklus II hari ke-1. Hal tersebut terlihat dari hasil ketuntasan anak yang pada pra siklus hanya 30% Siklus I menjadi 65 %,dan Siklus II kari ke-1 70 %, Siklus II hari ke-2, 75 % atau 15 anak tetapi belum memenuhi syarat ketuntasan yaitu 80 %, sehingga perlu diadakan perbaikan di siklus II hari hari ke-3. Pelaksanaannya disepakati pada hari Kamis, tanggal 13 April 2019.

Siklus II hari Ke-3

Penulis melakukan observasi terhadap kegiatan anak dalam bermain dengan APE Bentuk geometri. Setelah diadakan observasi diperoleh hasil sebagai berikut: 1) anak sudah mampu dalam menyebutkan bentuk-bentuk geometri, 2) anak sudah cukup mampu mengelompokkan benda berdasarkan bentuk geometri, 3) anak sudah mampu mengelompokkan benda geometri menurut warna, 4) anak sudah cukup mampu mengelompokkan benda geometri menurut ukuran. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi kemampuan kognitif berpikir logis anak yang meningkat dari pra siklus yang hanya 25% setelah diadakan perbaikan pada siklus I menjadi 65 %, pada siklus II hari ke-1 sudah 70 % atau 15 anak, Siklus II harike-2 75 %, dan pada siklus II hari ke 3 menjadi 85 % atau 17 anak. Hal ini sudah melebihi Indikator keberhasilan 80%.

Berdasarkan laporan observasi diatas, kemampuan kognitif berpikir logis anak sudah meningkat dibandingkan dengan keadaan Siklus II hari ke-1. Hal tersebut terlihat dari hasil ketuntasan anak yang pada pra siklus hanya 25% Siklus I menjadi 65 %,dan Siklus II kari ke-1 70 %, Siklus II hari ke-2, 75 % dan Siklus II hari ke-3 menjadi 85% atau 17 anak sehingga sudah memenuhi syarat ketuntasan yaitu 80 %, sehingga tidah perlu diadakan perbaikan di siklus selanjutnya dan penelitian ini dicukupkan pada siklus ke II.

Pembahasan

Siklus I

Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh peneliti pada siklus I, peneliti mengambil langkah awal dengan melakukan apersepsi yang sesuai dengan kegiatan bermain menggunakan APE bentuk geometri. Pada akhir kegiatan peneliti melakukan evaluasi dan hasilnya sudah ada peningkatan kemampuan berpokir logis anak dibandingkan hasil kegiatan pada pra siklus. Namun peningkatan ini belum signifikan karena anak belum dapat menggunakan APE bentuk geometri sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari indikator ketuntasan pada pra siklus yang hanya 25 % atau 5 anak setelah diadakan perbaikan pada siklus I prosentase keberhasilan kemampuan berpikir logis anak meningkat menjadi 65% atau 13 anak, tetapi belum memenuhi syarat ketuntasan yaitu 80 %.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam meningkatkan kemampuan berpikir logis anak melalui bermain APE bentuk Geometri pada siklus I berdasarkan indikator ketuntasan 80% dinyatakan belum berhasil dan harus dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya.

Siklus II

Berdasarkan analisis yang dilakukan pada siklus II setelah melakukan apersepsi yang sesuai dengan materi pembelajaran, kegiatan bermain menggunakan APE bentuk geometri dilakukan dengan menambah variasi bentuk dan warna bentuk geometri agar anak tertarik serta tidak merasa bosan saat bermain. Setelah peneliti mengadakan evaluasi hasil kegiatan terdapat peningkatan yang signifikan. Pada siklus II ini hasil pembelajaran yang diperoleh sudah optimal dan sudah sesuai dengan indikator ketuntasan yang ditetapkan.

Hal ini dapat dilihat pada prosentase indikator keberhasilan pada siklus II sudah mencapai 85% atau 17 anak, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam upaya meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui APE bentuk geometri pada siklus II berdasarkan indikator ketuntasan 80 % bisa dikatakan memuaskan dan penelitian dikatakan berhasil dan berhenti pada siklus ini.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Melalui bermain dengan APE bentuk geometri dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis anak terutama dalam menyebutkan bentuk-bentuk geometri, mengelompokkan benda berdasarkan bentuk geometri, mengelompokkan benda geometri berdasarkan warna, dan mengelompokkan benda geometri berdasarkan ukuran. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil ketuntasan anak pada pra siklus hanya 25% atau 5 anak, setelah diadakan perbaikan pada siklus I hasilnya meningkat menjadi 65% atau 13 anak dan pada siklus II hasilnya sudah maksimal yaitu 85 % atau 17 anak, dengan syarat ketuntasan 80 %.
  2. Pengembangan kemampuan berpikir logis melalui APE bentuk geometri dapat berhasil karena pembelajaran yang menyenangkan, guru yang kreatif dan didukung sarana APE yang bervariasi.

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis memberikan saran sebagai tindak lajut bagi peningkatan mutu kualitas pendidikan. Saran saran tersebut sebagai berikut:

Saran untuk Guru TK

  1. Guru hendaknya mengetahui masalah yang timbul dalam pembelajaran kognitif terutama tentang berpikir logis.
  2. Guru hendaknya meningkatkan kinerjanya dalam mendidik agar semua kompetensi anak didik dapat tercapai dengan baik.
  3. Guru hendaknya memberikan solusi dalam masalah pembelajaran dengan kegiatan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan dan bervariasi.

Saran bagi Sekolah

  1. Sekolah hendaknya menjadi tempat yang menarik dan menyenangkan bagi anak dalam berbagai kegiatan bermain maupun belajar.
  2. Sekolah hendaknya memberikan fasilitas, sarana dan prasarana yang dibutuhkan anak secara memadai untuk keberhasilan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Ade Dwi Utami, dkk (2013). Pendidikan Anak Usia Dini Konsorsorium Sertifikasi 2013

Agung Triharso (2013). Permainan Kreatif & Edukatif untuk Anak Usia Dini, Penerbit Andi Yogyakarta.

Andang Ismail.( 2011). Alat Peraga APE, Syibyan Yogyakarta

Azizah Muis, dkk. (2013). Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Negeri Jakarta.

Boven, (2012) Alat Peraga Edukatif Untuk PAUD . Boventoys.

Cep Unang Wardaya.dkk ( 2016) Media Pembelajaran ( Modul PKB).Bandung. PPPPTK dan PLB.

Florence Beetlestone (2012).Creative Learning. Bandung. Nusa Media

Hartono.(2011). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Guru Kelas PAUD, UNS

http:TatangJM.wordpres.com.1/…./kognitif diakses tanggal 22 Mei 2019 pukul 20.00

Irina V. Sokolova (2008). Kepribadian anak. Sehatkah Kepribadian Anak Anda?. Penerbit Kata Hati. Jogjakarta.

  1. Lexy Moleong (1997). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung Remaja Rosdakarya

Mayke S. Tedjasaputra (2007). Bermain, Mainan dan Permainan. PT Grasindo

Michael L. Henniger (2009) Teaching Young Children: An Introduction. Western Washington University, Woodring College of Education

Mirroh Fikriyati (2013).Usia Emas ( Golden Age ), Laras Media Prima, Yogyakarta.

Siti Aisyiah. (2008). Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan anak UsiaAnak Usia Dini. Departemen pendidikan Nasional. Universitas Terbuka.

Sujiono, Bambang (2007). Metode Pengembangan Fisik, Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Suyadi (2014).Teori Pembelajaran Anak Usia Dini.Bandung. PT Remaja Rosdakarya

Tadkiroatun Musfiroh.(2008). Pengembangan Kecerdasan Majemuk, Universitas Terbuka.

Winda Gunarti. (2008). Metode pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini Departemen Pendidikan Nasional.

Wijaya A, Cece, 1992. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya