UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MATERI KOORDINAT CARTESIUS MELALUI METODE DEMONSTRASI DAN TANYA JAWAB SISWA KELAS VI SEMESTER II

SDN BOGEM, JAPAH, BLORA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

 

Suprapto

SDN Bogem, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora

 

ABSTRAK

Kegiatan belajar dan mengajar untuk pelajaran Matematika di Sekolah Dasar tidak perlu ditakuti atau menganggap sesuatu itu sulit sebelum dipelajari. Untuk menimbulkan semangat dalam belajar Matematika di Sekolah Dasar guru perlu menyampaikan materi efektif dengan tujuan mudah diterima oleh siswa secara nyata (realistis). Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan rasa antusias siswa agar lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran,Untuk memperbaiki proses Pembelajaran yang ada SDN Sambongrejo, Untuk mengidentifikasi dan menganaisis masalah-masalah dalam pembelajaran serta merancang perbaikan melalui Penelitian Tindakan Kelas PTK),Untuk memperoleh informasi sejauh mana Teori Bruner dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi menentukan letak titik dalam sistem koordinat kartesius.Pada siklus 1, 4 siswa memperoleh nilai diatas 75 atau lebih dan ketuntasan mencapai 88%. Jadi masih ada 25% siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM sekolah. Pada siklus 2, siswa yang memperoleh nilai diatas 75 mencapai 27 siswa. Ini berarti prosentase ketuntasan secara klasikal mencapai lebih mencapai 100% yang artinya proses pembelajaran telah tuntas secara klasikal. Dari hasil ini, indikator keberhasilan yang berbunyi: meningkatnya jumlah siswa yang mencapai batas tuntas belajar pada ulangan harian minimal 10% telah tercapai. Dan meningkatnya kompetensi guru dalam proses pembelajaran minimal 15% juga tercapai.

Kata Kunci: Demonstrasi, Tanya Jawab, Titik Koordinat Cartesius

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi dimasa depan diperlukan penguasaan matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Pembelajaran matematika di sekolah dasar bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

1.     Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan maslaah.

2.     Menggunakan penalaran pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dengan membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3.     Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4.     Mengkomunikasikan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjalaskan atau masalah.

5.     Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Identifikasi Masalah

1.     Tingkat pemahaman materi pelajaran matematika masih rendah khususnya dalam menentukan letak titik koordinat.

2.     Siswa kurang aktif dalam menentukan letak titik koordinat.

3.     Kurangnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal tentang letak titik koordinat.

4.     Kurangnya kemampuan siswa dalam merespon pertanyan guru.

Analisis Masalah

1.     Tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran matematika kurang karena guru terlalu tergesa-gesa dalam menyampakan materi seharusnya dalam penyampaian guru jangan terlalu cepat.

2.     Siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran karena guru kurang tepat dalam memilih metode pembelajaran seharusya guru memilih metode yang tepat sehingga siswa akan tertartik pada materi tersebut.

3.     Kurangnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal karena siswa mudah putus asa seharusnya guru memantau siswa selama mengerjakan soal.

4.     Kurangnya kemampuan siswa dalam merespon pertanyaan guru karena pertanyaan kurang menarik dan guru kuang memberi motivasi siswa.

Rumusan Masalah

1.     Apakah melalui teori Bruner dapat meningkatkan kreatifitas belajar siswa tentang titik koordinat kartesius?

2.     Bagaimana cara penerapan teori Bruner dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan kreatifitas belajar siswa tentang titik koordinat kartesius.

Tujuan Penelitian

1.     Meningkatkan rasa antusias siswa agar lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.

2.     Untuk memperbaiki proses Pembelajaran yang ada SDN Bogem.

3.     Untuk mengidentifikasi dan menganaisis masalah-masalah dalam pembelajaran serta merancang perbaikan melalui Penelitian Tindakan Kelas PTK).

4.     Untuk memperoleh informasi sejauh mana Teori Bruner dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi menentukan letak titik dalam sistem koordinat kartesius.

Manfaat Penelitian

Bagi Siswa

Penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan kesulitan dalam pembelajaran tentang menentukan letak titik dalam sistem koordinat kartesius.

Bagi Guru

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai contoh dalam meningkatkan anak didiknya. Penelitian ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya karena sasaran akhir PTK adalah perbaikan pembelajaran.

Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran dalam menentukan kebijakan-kebijakan sekolah dengan skala prioritas dalam pembelajaran.

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Teori Belajar Brunner

Tahap pertama anak belajar konsep adalah berhubungan dengan benda-benda real atau mengalami peristiwa di dunia sekitarnya. Pada tahap ini anak masih dalam gerak refleks dan coba-coba belum harmonis. Ia memanipulasikan, menyusun, menjejerkan, mengutak atik, dan bentuk-bentuk gerak lainnya (serupa dengan tahap sensori motor dari peaget).

Pada tahap ini, anak telah mengubah, menandai, dan menyimpan peristiwa atau benda dalam bentuk bayangan mental. Dengan kata lain anak dapat membayangkan kembali atau memberikan gambaran dalam pikirannya tentang benda atau peristiwa yang dialami atau dikenalnya pada tahap enaktif, walaupun peristiwa itu telah berlalu atau benda real itu tidak lagi berada dihadapannya (tahap praoperasi dari peaget).

Pada tahap terakhir ini anak dapat mengutamakan bayangan mental tersebut dalam bentuk simbol dan bahasa. Apabila ia berjumpa dengan suatu simbol, maka bayangan mental yang ditandai oleh simbol itu akan dapat dikenalnya kembali. Pada tahap ini anak sudah mampu memahami simbol-simbol dan menjelaskan dengan bahasanya. (Serupa dengan tahap operasi konkret dengan formal dari peaget).

Metode Demonstrasi (Demonstration Method)

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajara yang relevan dengan pokok bahasan atau meteri yang sedang disajikan. Muhibbin Syah (2000).

Kerangka Berpikir

Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan (Suriasumantri, 1986). Kriteria pertama agar suatu pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis.

Kerangka berpikir yang digunakan peneliti antara lain memuat (1) Variabel-variavbel yang akan diteliti harus dijelaskan dan (2) diskusi dalam kerangka berpikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan/hubungan antarvariabel yang diteliti dan ada teori yang mendasar.

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian

Subyek Penelitian

Subyek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VI SDN Bogem Kecamatan Japah Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 27 Siswa, terdiri dari 18 siswa putra dan 9 siswa putri.

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kelas VI semester II SDN Bogem tahun pelajaran 2016/2017. Alasan pemilihan tempat penelitian di SDN Bogem karena lokasi penelitian berada pada lokasi peneliti bekerja.

Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2017 dan Siklus II dilaksanakan pada tanggal 18 April 2017.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Siklus 1

Pelaksanaan proses perbaikan pembelajaran siklus 1 peneliti dilaksanakan pada hari Senin, 21 Maret 2017 pukul 07.00-08.10 WIB, dengan dibantu teman sejawat yang bertindak sebagai pengamat. Berikut adalah data-data hasil pengamatan pembelajaran Siklus I.

Analisis Hasil Tes Formatif Siswa Siklus 1

No

Perolehan Nilai

Jumlah Anak

Persentase

Keterangan

1

95-104

10

31%

Tuntas

2

85-94

10

31%

Tuntas

3

75-84

3

25%

Tuntas

4

65-74

2

6%

Belum Tuntas

5

55-64

2

6%

Belum Tuntas

6

45-64

0

0%

7

35-44

0

0%

Jumlah Anak

27

100%

 

 

 

 

Siklus II

Tabel 12  Analisis Hasil Tes Formatif Siswa Siklus II

No

Perolehan Nilai

Jumlah Anak

Persentase

Keterangan

1

95-104

15

55%

Tuntas

2

85-94

9

33%

Tuntas

3

75-84

3

12%

Tuntas

4

65-74

0

0%

5

55-64

0

0%

6

45-64

0

0%

7

35-44

0

0%

Jumlah Anak

27

100

 

PEMBAHASAN

Perbandingan Hasil Tes Formatif Siswa Tiap Siklus

Pembelajaran

Jumlah Siswa

Rata-rata

Banyak Siswa

Persentase

Tuntas

Belum Tuntas

Pembelajaran Awal

27

64,93

19

8

70%

Siklus I

27

77,86

23

4

88%

Siklus II

27

85,36

32

0

100%

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa data-data yang diperoleh dari pembelajaran awal, siklus I dan siklus II, tindakan kelas yang dilakukan dengan pembelajaran menggunakan penerapan metode demonstrasi dan tanya jawab pada setiap sklus dapat ditarik kesimpulan.

1.     Dengan memilih model pembelajaran yaitu metode demonstrasi dan tanya jawab dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika.

2.     Metode demonstrasi dan tanya jawab dapat meningkatkan ketuntusan belajar siswa dan meningkatkan pemahaman siswa.

Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari setiap siklus, mengingat penelitian hanya berjalan dua siklus maka perlu suatu tindak lanjut dan langkah nyata dalam pembelajaran matematika agar tujuan dari pendidikan/kompetensi yang diharapkan tercapai yaitu:

1.     Pilihan modal pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa, materi dan lingkungan.

2.     Lakukan motivasi-motivasi dalam pembelajaran agar siswa tidka bosan.

3.     Tumbuhkan motivasi dalam setiap pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Andayani, dkk, 2008. Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta: Universitas Terbuka.

Hermawan, Asep Herly, dkk, 2008. Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Mikarsa, Heri Lestari, dkk. 2007. Pendidikan Anak di SD. Jakarta: Univeritas Terbuka.

Sumantri, Mulyani, dkk. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wiranatapyra, Udin, dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Karso, dkk. 2004. Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka.

Karim, A. Muchtar, dkk. 2004. Pendidikan Matematika II. Jakarta: Universitas Terbuka.

Muhsetyo, Gatot, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka.