MENINGKATKAN DISIPLIN DAN TANGGUNG JAWAB

MELALUI SANKSI BERJENJANG PADA SISWA KELAS IV

SD NEGERI II GAMBIRANOM KECAMATAN BATURETNO

KABUPATEN WONOGIRI

SEMESTER ITAHUN PELAJARAN 2012/2013.

 

Bambang Purwanto

Guru SDN II Gambiranom Baturetno

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom Semester I tahun pelajaran 2012/2013 melalui sanksi berjenjang. Metode penelitiannya mengunakan Metode Tindakan Kelas sebanyak 2 siklus. Setting tempat di SDN II Gambiranom, waktunya pada semester I tahun pelajaran 2012/2013. Subyek penelitian siswa kelas IV sebanyak 20 siswa. Teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi dan wawancara. Hasil Penelitian menunjukkan pada kondisi pra siklus tingkat kedisiplinan siswa kelas IV SDN II Gambiranom rendah dengan nilai rata-rata 5,2 dalam kategori D (kurang), dan tingkat tanggungjawab siswa pun rendah, dengan nilai rata-rata 4,9 (dalam kategori rendah). Siklus I dilaksanakan dengan memberikan pengarahan dan pemberian sanksi pelanggaran disiplin dengan 8 indikator. Setelah dilakukan pengamatan dan wawancara berhasil meningkatkan kedisiplinan siswa rata-ratanya menjadi 6,9 (cukup) dan tanggungjawabnya menjadi 6,1 (cukup). Karena sampai dengan siklus I belum memenuhi indicator keberhasilan maka penelitian dilanjutkan ke siklus II, yakni dengan memberikan sanksi yang lebih berat (berjenjang) agar siwa merasa jera. Berdasarkan hasil penilaian sikap siswa ternyata ringkat kedisiplinan siswa meningkat menjadi 8,6 (dalam katagori sangat baik). Sedangkan pada tingkat tanggung jawab siswa mencapai nilai 8,5 (sangat baik)

Kata Kunci: disiplin, tanggungjawab, sanksi berjenjang

 

PENDAHULUAN

Siswa kelas IV SDN II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013 tingkat kedisiplinan dan tanggungjawabnya masih rendah. Faktor penyebabnya antara lain: lemahnya perhatian orang tua kepada anaknya dikarenakan orang tua selalu sibuk dengan urusan ekonomi, orang tua yang otoriter, keluarga yang home broken, pengaruh pergaulan dilingkungan sekitar anak, adanya perkembangan media elektronik, kurang demokratisnya pendekatan dari orang tua maupun guru yang ada disekolah. Berdasarkan hal tersebut maka guru berupaya memberikan pembinaan dan memberikan sanksi berjenjang dengan harapan dapat merubah sikap siswa dari kurang disiplin dan kurang bertanggung jawab menjadi anak yang berdisiplin dan bertanggung jawab.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka dalam penelitian ini dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: (1) Apakah dengan melalui sanksi berjenjang dapat meningkatkan disiplin siswa, pada siswa Kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013? (2) Apakah melalui sanksi berjenjang dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa, pada siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013 ?

Adapun tujuan penelitian ini yaitu: melalui pemberian sanksi berjenjang dapat: (1). Meningkatkan sikap disiplin siswa Kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013 (2) Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013

Dalam arti yang luas disiplin mencakup setiap macam pengaruh yang ditujukan untuk membantu siswa agar mereka dapat mamahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan yang mungkin ingin ditujukan siswa terhadap lingkungannya. Dengan disiplin siswa diharapkan bersedia untuk tunduk dan mengikuti peraturan tertentu dan mejauhi larangan tertentu. Kesedian semacam ini harus dipelajari dan harus secara sabar diterima dalam rangka memelihara kepentingan bersama atau memelihara kelancaran tugas di sekolah, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Jadi menegakkan desiplin tidak bertujuan untuk” mengurangi kebebasan dan kemerdekaan peserta didik akan sebaliknya ingin memberikan kemerdekaan yang lebih besar kepada peserta didik dalam batas batas kemampuannya. Akan tetapi jika kebebasan peserta didik terlampau dikurangi, dikekang dengan peraturan maka peserta didik akan berontak dan mengalami frustasi dan kecemasan” (Drs. Ahmad Rohani HM dkk, ; 126)

 Sesuai dengan pendapat tersebut desiplin yang dilaksanakan disekolah terhadap siswa, siswa akan belajar hidup dengan pembiasaan yang baik, positif dan bermanfat bagi dirinya dan lingkungannya baik pada saat bersekolah maupun untuk bekal hidup dikemudian hari. Tetapi pendekatan dengan penegakan disiplin tersebut janganlah sampai membuat siswa tertekan, dan penerapannya harus pula demokratis dalam artian mendidik.

Namun demikian mulianya tujuan penegakan disiplin seringkali tidak mendapat respons yang positif dari siswa hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yaitu: a) kepemimpinan guru atau kepala sekolah yang otoriter yang menyebabkan sikap siswa yang agresif ingin brontak akibat kekangan dan perlakuan yang tidak manusiawi, b) kurang diperhatikannya kelompok minoritas baik yang berada diatas rata-rata maupun yang berada dibawah rata-rata dalam berbagai aspek yang ada hubungannya dengan kehidupan di sekolah, c) siswa kurang dilibatkan dan diikutsertakan dalam tanggung sekolah, d) latar belakang kehidupan keluarga dan e) sekolah kurang mengadakan kerja sama dan saling melepas tanggung jawab. Diantara penyebab pelanggaran tersebut pelanggaran yang umum sering terjadi karena 1) kebosanan siswa dalam kelas, dikarenakan yang dikerjakan siswa monoton tidak ada variasai dalam proses pembelajaran. 2) Siswa kurang mendapat perhatian dan apresiasi yang wajar bagi mereka yang berhasil. Untuk mengatasi hal ini seorang guru sebagai pendidik harus memilih strategi, metoda dan berbagai pendekatan yang bervariasi agar tujuan yang telah direncanakan dapat tercapai.

 Dalam rangka meningkatkan disiplin dan rasa tanggung jawab siswa di sekolah, seorang guru harus menyatakan peraturan dan konsekuensinya bila siswa melanggarnya ”konsekuensi ini dilakukan secara bertahap dimulai dari peringatan, teguran, memberi tanda cek, disuruh menghadap Kepala Sekolah dan atau dilaporkan kepada orang tuanya tentang pelanggaran yan dilakukannya di sekolah ”, (Drs. Ahmad Rohani HM dkk, 1991; 131).

Sesuai dengan pendapat ini bahwa pendidikan bertujuan untuk menumbuhkan perilaku dan sikap mental dengan melatih serta mengembangkannya ke arah nilai sikap yang positif. Untuk membina, menumbuhkan sikap mental dan perilaku yang baik ini, maka alat pendidikan seperti menerapkan disiplin, memberi tugas dan tanggung jawab kepada siswa sesuai dengan kemampuannya perlu dilakukan.

 Pembinaan mental dan sikap ini dapat dilakukan melalui sanksi yang berjenjang. Dengan demikian bekal pendidikan yang berisi penambahan pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai serta sikap-sikap haruslah darahkan untuk ”……….4. Mengembangkan sikap sikap yang cocok untuk tuntutan hidup dan kehidupan kini, disini dan akan datang seperti sikap-sikap: hemat, sederhana, disiplin, selalu berikhtiar, menghargai waktu, berorientasi pada masa depan, berusaha mengatasi alam, misalnya menggunakan payung bila hujan, percaya pada diri sendiri, bekerja untuk menaikkan prestasi, meminta upah atau bayaran bila telah selesai menunaikan tugas dan sebagainya” (Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Usaha Nasional,1980; 224)

 Pembiasaan dengan disiplin di sekolah akan mempunyai pengaruh yang positif bagi kehidupan peserta didik di masa yang akan datang. Pada mulanya memang disiplin dirasakan sebagai suatu aturan yang mengekang kebebasan peserta didik. Akan tetapi bila aturan ini dirasakan sebagai suatu yang memang seharusnya dipatuhi secara sadar untuk kebaikan diri sendiri dan kebaikan bersama, maka lama kelamaan akan menjadi suatu kebiasaan yang baik menuju ke arah disiplin diri sendiri (self discipline).

 Disiplin tidak lagi merupakan suatu yang datang dari luar yang memberikan keterbatasan tertentu akan tetapi disiplin telah merupakan aturan yang datang dari dalam dirinya sebagai suatu hal yang wajar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman utama dalam pelaksanaan disiplin akan memberikan kerangka dalam keteraturan hidup selanjutnya. ”Disiplin diri sendiri hanya akan tumbuh dalam suatu suasana di mana antara guru dan para peserta didik terjalin sikap persahabatan yang berakar pada dasar saling hormat menghormati dan saling mempercayai,” (Drs Ahmad Rohani HM dkk,1991;134). Jadi sesuai dengan pendapat ini berarti disiplin harus diterapkan dalam kerangka dan batas yang demokratis serta pedagogis.

Dalam buku” On Becoming A Personal Excellent”, tahun 2006, hal 104, oleh Drs. Waidi, MBA.Ed, yang dikutif dari buku ” Quantum Teaching, Dobbi Deporter dkk, menyebutkan bahawa salah satu keberhasilan mendidik siswa adalah dengan cara memberinya tanggung jawab” Demikian juga Soemarno Soedarsono dalam bukunya” Character Building” mengatakan bahwa karakter seseorang dapat dibentuk dengan pemberian tanggung jawab.

 Tanggung jawab merupakan indikator penting bahwa seseorang memiliki nilai lebih: kualitas merupakan dambaan banyak orang. Dalam setiap tindakan apabila tidak dilandasi tanggung jawab biasanya seseorang akan ceroboh. Lebih jauh Soemarno Soedarsono mengatakan bahwa tanggung jawab merupakan hal yang sangat urgen dalam pembentukan watak seseorang. Oleh karena itu sudah saatnya dunia pendidikan kita harus merubah orientasinya dari orientasi kognitif ke arah orientasi afektif (tanggung jawab) atau dari orientasi kecerdasan intlektual (IQ) ke arah kecerdasan spiritual (SQ) dan emosional (ESQ).­­

Sesuai dengan pendapat ini berarti, tingkah laku apapun yang dilakukan siswa baik didalam kelas maupun di luar kelas yang bersifat positif perlu diberikan aspresiasi.Disamping memberikan penghargaan dalam interaksi dikenal pula hukuman atau sanksi. Hukuman atau sanksi serta penghargaan, apresiasi yang diberikan kepada siswa harus didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: a. Penghargaan atau hukuman diberikan atas dasar fungsi yang sebenarnya artinya pada situasi tertentu penghargaan atau hukuman perlu diberikan secara tepat. b. Penghargaan atau hukuman diberikan disesuaikan dengan tingkah laku dan kepribadian siswa. c. Penghargaan atau hukuman harus dikaitkan dengan tujuan yang jelas artinya diarahkan untuk mempermudah proses pendidikan.

Jadi dalam memberikan sanksi atau hukuman kepada siswa dapat menekan tingkah laku yang kurang baik. Sedangkan apresiasi atau penghargaan dapat menumbuhkan sikap dan perilaku yang dapat diulang pada situasi dan kondisi yang tepat. Dengan demikian apapun bentuk dan model intraksi edukatif disekolah pada umumnya untuk mencapai tujuan pendidikan. Sesuai dengan pendapat bahwa,” intraksi belajar mengajar pada hakekatnya bermaksud mengantarkan siswa mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya” (Suprayekti, M.Pd, 2003; 6)

Sikap disiplin dan bertanggung jawab siswa sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Bukan semat-mata dipengaruhi oleh faktor internal. Hal ini sesuai dengan pendapat ahli filsafat John Locke (1632 – 1704) mengajarkan” bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan terutama pendidikan. Beliau berkesimpulan bahwa tiap individu lahir sebagai kertas putih dan lingkungan tersebutlah yang akan ”menulisi” kertas putih tersebut” (Tim Dosen IKIP Malang,1980,12).

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas, yang dilaksanakan 2 siklus. Setting tempatnya di SDN II Gambiranom Kecamatan bauretno. Waktu Penelitian Semester I tahun pelajaran 2012/2013. Sunyek penelitiannya adalah siswa kelas IV SDN II Gambiranom sebanyak 20 siswa. Teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi dan wawancara. Observasi dilaksanakan secara langsung pada obyek yang diamati yaitu siswa itu sendiri. Sedangkan wawancara yang peneliti lakukan adalah dengan siswa yang berkaitan dengan disiplin yang dilaksanakan di sekolah dan rasa tanggung jawab setelah diadakannya sanksi berjenjang. Alat pengumpulan datanya adalah lembar pengamatan dan lembar wawancara. Indikator keberhasilan peneltian yang ditentukan adalah: Penelitian ini dinyatakan berhasil apabila disiplin dan tanggung jawab siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013 mengalami peningkatan hingga menjadi kategori baik. Prosedur penelitiannya meliputi 4 langkah: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

HASIL PENELITIAN

Pra Siklus

Siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013 tingkat kedisiplinannya rendah Demikian juga sikap tanggung jawabnya juga rendah. Rendahnya kedisiplinan dan tanggungjawab siswa dalam penelitian ini dilihat dari banyaknya siswa yang datang terlambat ke sekolah, setiap upacara bendera tidak disiplin, banyaknya siswa tidak mengerjakan tugas tugas rumah dan sekolah, kurang menghormati antara teman dan guru, tidak melaksanakan tugas piket dengan teratur, tidak terbiasanya mengantre pada saat menyetor tugas, menyontek pada saat ulangan, di dalam kelas selalu mengganggu teman, berpakian kurang rapi, tidak terbiasa membuang sampah pada tempatnya, di kelas tidak tertib dan lain-lain.

Hasil pengamatan dengan pedoman pengamatan yang telah disusun sebelum melakukan penelitian dapat diketahui .bahwa tingkat disiplin siswa sangat rendah dibawah nilai rata-rata standar (kurang atau D) = 4,0 – 5,4). Nilai rata rata tersebut adalah 5,2. Begitu pulai nilai rata rata rasa tanggung jawab siswa dengan rata rata katagori D yaitu dengan nilai 4,9. Dan kalau digabung antara sikap disiplin dan rasa tanggung jawab maka nilainya rata rata 5,1 (D). Dengan kondisi tersebut penulis bermaksud untuk meningkatkan kedisilinan dan tanggungjawab siswa melalui pembinaan dan pemberian sanksi berjenjang.

Siklus I

Tindakan siklus I merupakan kegiatan perbaikan atau peningkatan. Pra siklus, oleh karena itu maka tidakan siklus I ini bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan serta tanggung jawab siswa. Tindakan siklus I dilaksanakan dengan cara memberikan pengarahan kepada siswa agar terbiasa berperilaku disiplin dan tanggung jawab atas segala tugas dan kewajiban di sekolah. Setelah dilakukan pembinaan dan pengarahan selanjutnya dibuat peraturan berupa sanksi bagi yang masih melanggar tata tertib atau peraturan sekolah, karena hanya dengan sikap disiplin dan rasa tanggung jawab yang tinggi kualitas pendidikan di sekolah akan tercapai. Untuk mencapai kualitas pendidikan yang lebih baik maka, dalam menerapan disiplin dan tanggung jawab siswa, perlu diterapkan sanksi berjenjang bagi siswa yang melanggar. Disini peneliti menentukan tingkatan sanksi yang akan diterapkan bagi siswa yang melanggar yaitu: (1) Sanksi berupa teguran atau peringatan; (2) Sanksi Berdiri di depan kelas sambil membaca; (3) Sanksi membersihkan halaman sekolah; (4) Sanksi membersihkan wc dan kamar mandi; (5) Sanksi fisik jongkok bangun didepan kelas dengan hitungan sendiri; (6) Sanksi fisik Berlari dihalaman sekolah; (7) Sanksi pemanggilan siswa oleh kepala sekolah; (8) Sanksi pemanggilan orang tua siswa.

Pemahaman kepada siswa dilakukan selama satu minggu. Memasuki tahap pelaksanan tindakan ini bagi siswa yang melanggar setiap indicator-indikator yang telah ditetapkan dalam pedoman pengamatan akan dikenakan sanksi berjenjang sesuai dengan sanksi- sanksi tersebut diatas. Dengan ketentuan pelanggaran pertama diterapkan sanksi tingkat I, melanggar yang ke II diterapkan sanksi yang ke II dan seterusnya. Disini peneliti juga memberikan motivasi dan apresiasi bagi anak yang tidak melanggar, dengan tujuan bagi anak yang melanggar agar termotivasi untuk mencontoh temannya yang tidak melanggar ketentuan. Dalam melaksanakan pengamatan, peneliti menggunakan pedoman observasi dan pedoman konversi nilai sebagai berikut.

Sangat baik (A) = 8,5 – 10                                        

Baik (B) = 7,0 – 8,4

Cukup(C) = 5,5 – 6,9

Kurang (D) = 4,0 – 5,4

Sangat kurang (E) = 0.0 – 3,9”, (Drs. Safari, MA; 2003, 54)

Pada siklus I ini diketahui bahwa pada katagori tingkat disiplin siswa rata rata mencapai nilai cukup yaitu 6,9, kalau ditinjau secara rinci maka pada poin kebiasan mengantre dengan nilai cukup (6,8) dan pulang dengan tertib dengan nilai rata rata (6,6). Jadi nilainya masih rendah yaitu nilai cukup (C). Sedangkan pada katagori rasa tanggung jawab siswa mencapai nilai cukup (C) yaitu rata rata nilainya 6,7 dan kalau dilihat secara rinci maka, pada poin menyerahkan tugas tepat waktu masih rendah dengan nilai (C) yaitu nilainya 6,3 pada poin mandiri dengan nilai (C) yaitu nilainya 6,8. Serta pada poin mengerjakan tugas rumah dengan nilai (D) yaitu 5,4, Kalau digabungkan antara tingkat disiplin dan rasa tanggung jawab maka nilainya rata rata 6,8 (cukup). Berdasarkan hasil refleksi dinyatakan bahwa meskipun ada peningkatan kedisiplinan dan tanggungjawab siswa namun masih ada beberapa asek yang masih sangat rendah tingkat kedisiplinan serata tanggung jawabnya. Oleh karena itu maka dalam siklus II akan diberikan pembinaan yang difokuskan pada aspek-aspek yang paling rendah nilainya dan diberikan sanksi berjenjang yang lebih bersifat mendidik.

Siklus II

Berdasarkan kelemahan atau kekurangan yang terjadi pada siklsu I maka pada siklus II ini akan diberikan pembinaan dan sanksi berjenjang yang lebih bersifat mendidik. Penerapan sanksi berjenjang dalam rangka meningkatkan disiplin dan rasa tanggung jawab siswa disekolah pada siklus II ini mengambil hal hal penting yang dipandang perlu dalam rangka meningkatkan kualitas rasa disiplin dan rasa tanggung jawab siswa disekolah. Hal yang dipandang perlu adalah memperbaiki teknik pemberian sanksi berjenjang demi kesempurnaan hasil yang diharapkan. Dari katagori sikap disipin siswa secara umum terjadi peningkatan, namun ada beberapa poin yang masih pelu mendapat perhatian yaitu pada poin mengerjakan tugas rumah. Sedangkan untuk point pulang dengan tertib sudah cukup bagus. Pada katagori rasa tanggung jawab tedapat poin yang perlu mendapat perhatian yaitu mengerjakan tugas rumah.

Hasil pengamatan siklus II diperoleh datat tingkat disiplin siswa mencapai rata rata 8,6 (sangat baik/A). Sedangkan pada tingkat tanggung jawab siswa mencapai nilai 8,5 (sangat baik/A). Dalam indicator keberhasilan penelitian ini telah ditentukan bahwa penelitian dianggap berhasil jika tingkat disiplin dan tanggung jawab siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013 mengalami peningkatan hingga mencapai nilai rata-rata dalam kategori baik (7,0 – 8,4). Penelitian ini telah berhasil mencapai nilai rata-rata di atas indicator yang ditentukan.

PEMBAHASAN

Pra Siklus

Pada kondisi pra siklus tingkat kedisiplinan dan tanggung jawab siswa masih rendah. Hal ini dapat diketahui dari sikap dan perilaku sehari-hari di sekolah. Contoh perilaku kurang disiplin diantaranya banyaknya siswa yang datang terlambat, kurang tertib berpakaian, suka berebut tempat terdepan ketika antre masuk ruang kelas dll. Sikap kurangnya tanggung jawab siswa daapt dilihat dari sikap siswa yang sering terlambat mengumpulkan tugas-tugas sekolah baik PR maupun tugas lain, juga sering membuang sampah di sembarang tempat dll. Setelah dilakukan pengamatan dengan instrument yang telah disiapkan diperoleh data nilai rata-rata kedisiplinan siswa baru mencapai 4,9 atau dalam kategori kurang. Dan nilai rata-rata tanggungjawab siswa baru mencapai 5,2 atau dalam kategori kurang. Jika kedua sikap tersebut dirata-rata maka nilai kedisiplinan dan tanggungjawab siswa kelas IV SDN II Gambiranom tersebut baru mencapai 5,1 (kurang).

Berdasarkan keadaan tersebut maka peneliti mengadakan pembinaan bagi siswa kelas IV tentang kedisiplinan dan tanggungjawab serta pemberian sanksi bagi siswa yang melanggar. Seminggu setelah pembinaan kemudian diadakan pengamatan terhadap perilaku siswa di sekolah, dengan menggunakan instrument yang sama dengan yang digunakan pada pra siklus, diperoleh data nilai rata-rata kedisiplinan siswa menjadi 6,9 (cukup). Dan rata-rata nilai tanggungjawabnya menjadi 6,7 (cukup). Secara kuantitas sampai dengan siklus I tingkat kedisiplinan siswa mengalami kenaikan sebesar 2,0 yaitu dari rata-rata 4,9 (kurang) pada awal siklus menjadi 6,9 (cukup) pada siklus I. Secara kualitas mengalami peningkatan bari kategori kurang menjadi kategori cukup. Demikian juga dalam sikap tanggungjawab juga mengalami kenaikan secara kuntitas meningkat sebesar 1,5 yaitu dari rata-rata 5,2 (cukup) menjadi 6,7 (cukup), dan secara kualitas mengalami peningkatan dari kategori kurang menjadi cukup. Dari hasil rata-rata kedua sikap tersebut mengalami kenaikan secara kuantitas sebesar 1,7 yaitu dari rata-rata 5,1 (kurang) menjadi 6,8 (cukup), secara kualitas mengalami peningkatan dari kategori kurang ke kategori cukup.

Siklus I

Karena pemberian tindakan siklus I belum mampu mencapai indicator keberhasilan yang ditentukan maka penelitian dilanjutkan ke siklus II. Tindakan siklus II merupakan perbaikan dari tindakan siklus I oleh karena itu pada siklus II dilaksanakan dengan strategi yang sama namun materi pembinaannya difokuskan pada indikator yang paling rendah dicapai siswa. Setelah diadakan pengamatan dengan menggunakan instrument yang sama, diperoleh hasil rata-rata tingkat kedisiplinan siswa menjadi 8,6 (sangat baik). Dengan demikian maka dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan secara kuantitas sebesar 1,8 atau dari 6,8 pada siklus I menjadi 8,6 pada siklus II. Secara kualitas mengalami peningkatan dari kategori cukup menjadi sangat baik. Demikian juga tingkat tanggungjawab siswa secara kuantitas mengalami kenaikan 1,8 yaitu dari 6,7 pada siklus I menjadi 8,5 pada siklus II, dan secara kualitas mengalami kenaikan dari kategori cukup menjadi sangat baik.

Siklus II

Penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam II siklus ini telah mengalami peningkatan dari siklus ke siklus berikutnya, dan hingga siklus II mengalami peningkatan yang benar-benar signifikan hingga mampu mencapai indicator keberhasilan penelitian yang ditentukan. Dalam pembahasan tiap siklus ini akan ditampilkan hasil pengamatan padamsikluspertama dan hasil pengamatan pada siklus ke dua. Peningkatan secara kuantitas dari pra siklus hingga siklus II untuk tingkat kedisiplinan siswa sebesar 3,7 atau dari rata-rata 4,9 menjadi 8,6, secara kualitas mengalami peningkatan dari kategori kurang menjadi sangat baik. Demkian juga sikap tanggung jawab siswa mengalami peningkatan secara kuantitas sebesar 3,3 atau dari rata-rata 5,2 pada pra siklus menjadi 8,5 pada siklus II, dan secara kualitas mengalami peningkatan dari kategori kurang ke kategori sangat baik. Dari kedua sikap (disiplin dan tanggung jawab siswa) rata-ratanya mengalami kenaikan 3,4 yaitu dari 5,1 pada pra siklus menjadi 8,5 pada siklus II, secara kualitas mengalami peningkatan dari kategori kurang manjadi sangat baik.. Dengan demikian maka tebuktilah hipotesis penelitian ini yang berbunyi: (1) Dengan melalui sanksi berjenjang dapat meningkatkan disiplin siswa, pada siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013; (2) Dengan melalui sanksi berjenjang dapat meningkatkan tanggung jawab siswa pada siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013; (3) Setelah sanksi berjenjang diterapkan sikap dan perilaku siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013 dapat berubah dari yang tidak baik (negatif) dapat menjadi berperilaku yang baik (positif).

SIMPULAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa melalui pemberian sanksi berjenjang dapat meningkatakan kedisiplinan siswa Kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013, sebesar 3,4 yaitu dari 5,1 pada pra siklus menjadi 8,5 pada siklus II, atau dari kategori kurang manjadi sangat baik. Melalui pemberian sanksi berjenjang dapat meningkatakan tanggung jawab siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013 sebesar 3,3 atau dari rata-rata 5,2 pada pra siklus menjadi 8,5 pada siklus II atau dari kategori kurang menjadi kategori sangat baik. Melalui penerapan sanksi berjenjang kepada siswa kelas IV SD Negeri II Gambiranom tahun pelajaran 2012/2013 sikap dan pola tingkah laku siswa mengalami perubahan dari yang kurang berdisplin menjadi berdisiplin serta bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA

Ari Pudjiastuti, M.Pd, Dra, (Widyaiswara P4TK PKN dan IPS, Malang), Instrumen Penelitian, Diklat KTI 2007

Ahmad Rohani HM, DRS, dkk, Pengelolaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 1990

Depdiknas Dirjen Pendasmen, Direktorat Tenaga Kependidikan, Jakarta, 2003

Safari, MA, Drs, Evaluasi Pembelajaran, Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendasmen, Direktorat Tenaga Kependidikan, 2003

Sofiyah Ramdhani ES, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Karya Agung, Surabaya, 2002

Suprayekti, M.Pd, Dra, Intraksi Belajar Mengajar, Depdiknas Dirjen Pendasmen, Direktorat Tenaga Kependidikan, Jakarta 2003

Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Dasar-Dasar Pengantar Kependidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1981

UU RI No.20 Th. 2003. Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional, Asa Mandiri, 2006

Waidi, MBA.Ed, Drs, ON Becoming A Personal Excellent, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2006