MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU

DALAM MENYUSUN ADMINISTRASI PEMBELAJARAN

MELALUI KEGIATAN WORKSHOP

DAN METODE FOCUS GROUP DISCUSION

DI SMK NEGERI 3 SUKOHARJO TAHUN 2019

 

Harno

Kepala SMK Negeri 3 Sukoharjo

 

ABSTRAK

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Penggunaan kegiatan workshop dalam upaya meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019. (2) Penggunaan bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discusion dalam upaya menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019. (3) Penggunaan kegiatan workshop dan bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discusion dalam upaya meningkatkan kemampuan guru menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019. Penelitian ini mengambil lokasi di SMK Negeri 3 Sukoharjo. Penelitian ini dilakukan dari tanggal bulan Januari 2019 sampai dengan Maret 2019. Subyek dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah seluruh guru SMK Negeri 3 Sukoharjo yang berjumlah 75 orang. Teknik pengumpulan data dengan observasi dan dokumentasi. Analisis data dengan menggunakan analisis diskriptif komparatif dan analisis kritis. Prosedur penelitian dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) terdiri dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Hasil yang dicapai dari kegiatan workshop dan Focus Group Discusion dilihat dari kelengkapan perangkat pembelajaran pada semester II ini semua guru sebanyak 75 orang guru atau 100% guru telah membuat perangkat pembelajaran berupa silabus, RPP dan modul. Sedangkan dilihat dari kualitas pembelajaran sebanyak 46 orang guru atau 61% guru mendapatkan nilai A (Sangat Baik), 27 orang guru atau 36% mendapatkan nilai B (Baik) dan 2 orang guru atau 3% mendapatkan nilai C (Cukup). Dengan demikian sebagai besar guru telah mendapatkan nilai A (Sangat Baik) dan nilai B (Baik).

Kata Kunci: Workshop, Metode Focus Group Discusion, dan Administrasi Pembelajaran

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pendidikan adalah proses merubah manusia menjadi lebih baik, lebih mahir dan lebih terampil. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya dibutuhkan strategi yang disebut dengan strategi pembelajaran. Dalam strategi pembelajaran terkandung tiga hal pokok yakni perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Perencanaan program berfungsi untuk memberikan arah pelaksanaan pembelajaran sehingga menjadi terarah dan efisien. Salah satu bagian dari perencanaan pembelajaran yang sangat penting dibuat oleh guru sebagai pengarah pembelajaran adalah Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan modul.

Silabus memberikan arah tentang apa saja yang harus dicapai guna menggapai tujuan pembelajaran dan cara seperti apa yang akan digunakan. Selain itu silabus juga memuat teknik penilaian seperti apa untuk menguji sejauh mana keberhasilan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah instrument perencanaan yang lebih spesifik dari silabus. Sementara modul pembelajaran digunakan untuk menyampaikan materi kepada peserta didik dalam kurun waktu tertentu misalnya dalam satu semester ganjil/genap atau bahkan bisa 1 tahun.

Melihat pentingnya penyusunan perencanaan pembelajaran ini, guru semestinya tidak mengajar tanpa adanya rencana. Namun sayang perencanaan pembelajaran yang mestinya dapat diukur oleh kepala sekolah ini, tidak dapat diukur oleh kepala sekolah karena hanya direncanakan dalam pikiran sang guru saja. Akibatnya kepala sekolah sebagai pembuat kebijakan di sekolah tidak dapat mengevaluasi kinerja guru secara akademik. Kinerja yang dapat dilihat oleh kepala sekolah hanyalah kehadiran tatap muka, tanpa mengetahui apakah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sudah sesuai dengan harapan atau belum, atau sudahkah kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa terkuasai dengan benar. Berdasarkan hasil supervisi pada semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 di SMK Negeri 3 Sukoharjo didapatkan data bahwa hanya 75% guru yang menyusun silabus, RPP dan modul dan secara kualitas silabus, RPP dan modul yang baik baru mencapai angka 50% dari silabus, RPP dan modul yang dibuat oleh guru

Menghadapi keadaan sebagaimana dijelaskan di atas, maka permasalahan kurang lengkapnya administrasi pembelajaran akan menjadi masalah yang selalu ada pada setiap diadakannya supervisi kelas. Untuk mengatasi agar tidak ditemukan permasalahan guru tidak membuat perangkat pembelajaran dan tingkat akurasi kebenarannya tinggi maka timbul pemikiran untuk mengadakan kegiatan workshop dan dilanjutkan dengan bimbingan kelompok melalui metode Focus Group Discusion. Dimana dalam kegiatan tersebut guru berkumpul bersama-sama dengan dipimpin oleh para ahli dan guru senior yang telah mampu menyusun dengan baik administrasi pembelajaran. Beberapa hal yang dipersiapkan oleh kepala sekolah untuk melaksanakan kegiatan kegiatan ini adalah dengan menugaskan guru untuk membentuk kelompok kerja guru dengan metode Focus Group Discusion dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. Setelah itu kepala sekolah akan melakukan supervisi terhadap hasil yang telah dicapai.

Kegiatan yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagaimana perencanaan di atas dimaksudkan agar guru-guru mempunyai kesiapan dalam menyusun administrasi pembelajaran dan sudah sesuai dengan rambu-rambu penyusunan administrasi pembelajaran yang benar. Dengan dibentuknya bimbingan kelompok guru dimaksudkan agar guru tidak mendapatkan kesulitan dalam melakukan pengembangan dan pembaharuan profesi pendidikan serta kemudahan dalam menyusun kelengkapan adminsitrasi pembelajaran sesuai tanggung jawabnya.

Perumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian tindakan sekolah ini sebagai berikut:

  1. Apakah melalui kegiatan workshop dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019?
  2. Apakah melalui bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discusion dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019?
  3. Apakah melalui kegiatan workshop dan bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discusion dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019?

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari diadakannya Penelitian Tindakan Sekolah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui kegiatan workshop dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019.
  2. Untuk mengetahui bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discusion dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019.
  3. Untuk mengetahui kegiatan workshop dan bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discusion dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019.

Manfaat Penulisan

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini sebagai berikut:

Bagi Guru

  1. Sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas melalui kelengkapan administrasi
  2. Sebagai kontrol kedisiplinan dalam kedinasan, khususnya kelengkapan administrasi mengajar.

Bagi Kepala Sekolah

  1. Sebagai wahana peningkatan profesionalisme kepala sekolah
  2. Meningkatkan kompetensi supervisi.
  3. Bagi Sekolah
  1. Meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademis.
  2. Meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan profesionalisme guru.

Kajian Teori

Workshop

Secara umum, arti workshop adalah suatu pertemuan dimana sekelompok orang yang memiliki minat, keahlian, dan profesi di bidang tertentu terlibat dalam diskusi dan kegiatan intensif pada subjek atau proyek tertentu.

Pendapat lain mengatakan pengertian workshop adalah suatu kegiatan dimana beberapa orang yang ahli di bidang tertentu berkumpul dengan sekelompok orang dengan latar belakang profesi yang sama dan melakukan interaksi satu sama lain untuk membahas masalah tertentu. Pada praktiknya, kegiatan workshop biasanya lebih fokus mengupas secara tuntas masalah tertentu dan disertai dengan pelatihan kepada peserta.

 

Bimbingan Kelompok

Teknik pembelajaran kelompok adalah salah satu strategi belajar mengajar, dimana suatu kelompok dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari 3 sampai 5 anggota, mereka bekerja bersama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan oleh instruktur.

Metode Focus Group Discusion

Focus Group Discusion (FGD) secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Irwanto (2006: 1-2), mendefinisikan bahwa Focus Group Discusion (FGD) adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok.

Sesuai namanya, pengertian Focus Group Discussion mengandung tiga kata kunci: a. Diskusi (bukan wawancara atau obrolan); b. Kelompok (bukan individual); c. Terfokus/Terarah (bukan bebas). Artinya, walaupun hakikatnya adalah sebuah diskusi, Focus Group Discussion tidak sama dengan wawancara, rapat, atau obrolan beberapa orang di kafe-kafe. Focus Group Discussion bukan pula sekadar kumpul-kumpul beberapa orang untuk membicarakan suatu hal.

Perangkat Pembelajaran

Sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintahan Nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses merupakan standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendiddikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksanaanya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Perencanan proses pembelajaran meliputi silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Model Pembelajaran Inovatif

Pengertian model pembelajaran

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.

Macam-macam model pembelajaran

1) Pembelajaran Kooperatif

Cooperative Learning adalah metode pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam penyelesaian tugas saling bekerja sama dan saling membantu (Depdiknas, 2005: 125)

Pada pembelajaran kooperatif dikenal ada 4 tipe, yaitu: 1) tipe STAD, 2) tipe Jigsaw, 3) Investigasi Kelompok dan 4) tipe Struktural.

 

 

2) Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) menurut Johnson (2002: 67) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni konstruktivisme (Constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment).

Kerangka Berpikir

Pada kondisi awal, perangkat pembelajaran banyak yang belum lengkap dan kualitasnya belum baik. Untuk mengatasi permasalahan ini maka dibutuhkan tindakan sekolah agar terjadi keseragaman pada semua guru mata pelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo. Langkah yang diambil adalah dengan mengadakan workshop yang mendatangkan ahli yagn kompeten di bidangnya. Langkah berikutnya yaitu dengan mengadakan kerja kelompok dengan metode Focus Group Discussion. Pada Siklus I diharapkan terjadi peningkatan, tetapi apabila belum diperoleh keberhasilan sesuai indikator yang ditetapkan maka diadakan perbaikan siklus berikutnya.

Hipotesis

Hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Melalui kegiatan workshop dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019.
  2. Melalui bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discusion dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019.
  3. Melalui kegiatan workshop dan bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discusion dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Tahun 2019.

Hasil Penelitian

Deskripsi Siklus I

Kelengkapan Perangkat Pembelajaran

Adapun hasil yang dicapai pada Semester II Siklus I setelah diadakan workshop dan Fokus Group Discusion adalah sebagai berikut:

Kelengkapan Perangkat Pembelajaran Semester II Siklus I

No Perangkat Pembelajaran Siklus I
Jumlah Persentase
1 Silabus 64 85%
2 RPP 64 85%
3 Modul Pembelajaran 58 77%
  Jumlah 186 248%
  Rata-rata 62 83%

 

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 75 guru, pada semester II Siklus II ini semua guru sebanyak 64 orang guru atau 85% guru telah membuat perangkat pembelajaran berupa silabus dan RPP. Sedangkan untuk modul baru 58 orang guru atau 77% yang sudah membuat modul.

Kualitas Perangkat Pembelajaran

Berdasarkan hasil penilaian kualitas perangkat pembelajaran diperoleh hasil sebagai berikut:

Kualitas Perangkat Pembelajaran Semester II Siklus I

Kriteria Nilai Siklus I
Jumlah Prosentase
A 81 – 100 34 45%
B 61 – 80 29 39%
C 41 – 60 12 16%
D 21 – 40 0 0%
E 1 – 20 0 0%
  Jumlah 75 100%

Keterangan

A:             81 – 100  :    Sangat baik (melaksanakan penuh)

B:             61 – 80    :    Baik (melaksanakan sebagian besar)

C:             41 – 60    :    Cukup (melaksanakan setengah)

D:             21 – 40    :    Kurang (meninggalkan sebagian besar)

E:             1 – 20     :    Buruk (meninggalkan penuh)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 75 guru, pada semester II Siklus I ini, sebanyak 34 orang guru atau 45% guru mendapatkan nilai A (Sangat Baik), 29 orang guru atau 39% mendapatkan nilai B (Baik) dan 12 orang guru atau 16% mendapatkan nilai C (Cukup). Dengan demikian guru telah telah mendapatkan nilai A (Sangat Baik) dan nilai B (Baik) baru 63 orang guru atau 84%.

Deskripsi Siklus II

Kelengkapan Perangkat Pembelajaran

Adapun hasil yang dicapai pada Semester II Siklus II setelah diadakannya workshop dan Fokus Group Discusion adalah sebagai berikut:

Kelengkapan Perangkat Pembelajaran Semester II Siklus II

No Perangkat Pembelajaran Siklus II
Jumlah Persentase
1 Silabus 75 100%
2 RPP 75 100%
3 Modul Pembelajaran 75 100%
  Jumlah 225 300%
  Rata-rata 75 100%

 

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 75 guru, pada semester II ini semua guru sebanyak 75 orang guru atau 100% guru telah membuat perangkat pembelajaran berupa silabus, RPP dan modul.

 

Kualitas Perangkat Pembelajaran

Berdasarkan hasil penilaian kualitas perangkat pembelajaran diperoleh hasil sebagai berikut:

Kualitas Perangkat Pembelajaran Semester II Siklus II

Kriteria Nilai Siklus II
Jumlah Prosentase
A 81 – 100 46 61%
B 61 – 80 27 36%
C 41 – 60 2 3%
D 21 – 40 0 0%
E 1 – 20 0 0%
  Jumlah 75 100%

Keterangan

A:             81 – 100  :    Sangat baik (melaksanakan penuh)

B:             61 – 80    :    Baik (melaksanakan sebagian besar)

C:             41 – 60    :    Cukup (melaksanakan setengah)

D:             21 – 40    :    Kurang (meninggalkan sebagian besar)

E:             1 – 20     :    Buruk (meninggalkan penuh)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 75 guru, pada semester II Siklus II ini, sebanyak 46 orang guru atau 61% guru mendapatkan nilai A (Sangat Baik), 27 orang guru atau 36% mendapatkan nilai B (Baik) dan 2 orang guru atau 3% mendapatkan nilai C (Cukup).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada Bab IV di atas, ada beberapa temuan dalam penelitian tindakan sekolah ini yang bermuara pada kesimpulan berikut:

  1. Pelaksanaan tindakan sekolah dengan kegiatan workshop dan bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discussion dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Semester I Tahun 2019. Bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discussion dilaksanakan secara bersama-sama untuk memecahkan masalah penyusunan perangkat administrasi pembelajaran.
  2. 2. Hasil penelitian tindakan sekolah ini adalah:

Pada indikator penyusunan administrasi akademik, pada pra siklus diperoleh hasil guru yang telah menyusun administrasi akademik sebanyak 30 orang guru atau 40% meningkat menjadi 60 orang atau 80% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 75 orang atau 100% pada siklus II.

Saran

  1. Sekolah hendaknya memfasilitasi terhadap peningkatan sumberdaya manusia dengan mengadakan bimbingan kelompok dengan metode Focus Group Discussion pada masalah pembelajaran yang lain, seperti penguasaan Kurikulum 2013.
  2. Agar kualitas pembelajaran di sekolah dapat meningkat maka kepala sekolah dapat melakukan supervisi kelas berkelanjutan secara rutin dan periodik, juga hendaknya memberikan kesempatan bagi para guru untuk workshop, diklat dan bimbingan kerja kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2005, Cooperative Learning. Jakarta: Dirjen PDM

Dimyati, Mudjiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta

Djamarah, S. B. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Hamdani. 2012. Strategi Belajar dan Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia

Irwanto2006. Focused Group Discussion (FGD): Sebuah Pengantar Praktis. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Johnson. 2002. Diffences in Supervisor Non-Supervisor Perception of Quality Culture and Organizational Climate, Public Personnel Management, Vol 29

Koentjoro Ningrat. 2005. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.

Krueger R. & Casey. Mfocus Group. 3rd Edition. London: Sage.

Made Wena. 2013. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Prenadamedia Group.

Max Darsono. 2013. Belajar dan Pembelajaran, Semarang: IKIP Semarang Press

Muhibbin Syah. 2013. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa

Mulyani Sumantri. 1999. Peningkatan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT.Bumi Aksara,2006

Nasution. 2000. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.

Roestiyah. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Rosda Karya.

Trianto, 2010. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Surabaya:Prestasi Pustaka.

Wina Sanjaya. 2015. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia Group.