PENGEMBANGAN POTENSI KAMPUNG WISATA BUDAYA

DI BALUWARTI KOTA SURAKARTA INDONESIA

Muslikh

Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo Indoenesia

ABSTRACT

Kota Surakarta merupakan kota penuh nuansa sejarah dan budaya, memiliki tradisi Jawa yang dibanggakan masyarakat. Sebuah tempat yang akan membuat terkagum-kagum dengan beragam warisan budaya Jawa kuno. Sajian wisata sejarah dan budaya yang mengagumkan, salah satu keunggulan yang menarik yaitu produk pariwisata kota Surakarta yang identik dengan hal keunikan budaya. Sebagai wujud kepedulian masyarakat Baluwarti sekitar benteng keraton Surakarta untuk menyediakan wahana keunikan corak dan budaya kota Surakarta, maka berupaya mandiri untuk menjadikan Kampung Baluwarti sebagai Kampung Wisata Budaya yang menampilkan berbagai budaya khas kota Solo. Oleh karena itu penelitian ini diadakan untuk mengetahui lebih mendalam tentang: (1) potensi wisata yang dimiliki Kampung Baluwarti dalam rangka pengembangan wisata budaya di kota Surakarta; (2) usaha-usaha yang dilakukan masyarakat dalam mengembangkan Kampung Baluwarti sebagai wisata budaya yang diminati wisatawan;. Hasil penelitian menunjukkan(1) terdapat berbagai bidang potensi wisata budaya yang dimiliki Kampung Baluwarti; (2) terdapat usaha-usaha yang dilakukan pengurus Panitia Pengelola Kampung Wisata Baluwarti dalam mengembangkan Kampung Baluwarti sebagai kampung wisata budaya.

Keywords: Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Pariwisata, Potensi Obyek Wisata, Kampung Wisata


PENDAHULUAN

Kota Surakarta dengan ciri khas kota sejarah dan budaya juga disebut sebagai tujuan wisata harus mengolah dan mengembangkan potensi budaya sehingga menjadi penyangga perkembangan industri pariwisata. Pengembangan suatu daerah untuk menjadi tujuan wisata, agar obyek wisata dapat menarik untuk dikunjungi wisatawan potensial dalam macam-macam pasar obyek wisata harus memenuhi 3 syarat yaitu:“something to see”, “something to do”, “some thing to buy” (Yoeti, 1996: 177-178)

Sampai saat ini masih sedikit investasi yang masuk untuk membuat bentuk-bentuk seni tematik yang terkait dengan kekhasan obyek-obyek wisata kota Surakarta. Ada 3 aktor penting yang menggerakkan sistem pariwisata, yakni masyarakat, swasta dan pemerintah. Semua komponen tersebut harus berjalan beriringan perlu koordinasi yang bagus dan tepat dalam mengembangkan pariwisata di suatu tempat (Pitanam dan Gayatri, 2005: 96-97)

Sebagai wujud kepedulian masyarakat sekitar benteng keraton Solo (masyarakat Baluwarti) untuk menyediakan wahana keunikan corak dan budaya kota Solo, maka masyarakat Baluwarti berinisiatif untuk menjadikan Kampung Baluwarti sebagai Kampung Wisata Budaya yang menampilkan berbagai budaya khas kota Solo antara lain: wayang kulit, ketoprak, santi suara, laras madya, musik bamboo, wayang beber dan mengadakan kegiatan Kirab Budaya Baluwarti

Dengan latarbelakang itu maka penelitian terhadap Pengembangan Potensi Kampung Wisata Budaya di Baluwarti Kota Surakarta penting dilakukan untuk dapat memperkenalkan budaya di kota Surakarta selain potensi wisata sejarah dan bangunan kuno keraton, yang kemudian diharapkan dapat menjadi salah satu usaha untuk mempertahankan dan menggiatkan lagi kebudayaan asli Jawa Tengah serta dapat menggalakkan sadar wisata bagi masyarakat Surakarta dan sekitarnya, khususnya generasi muda.

LANDASAN TEORI

Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Pariwisata. Pemerintah telah menerapkan sejumlah kebijaksanaan sebagai pemandu dalam setiap perencanaan pembangunan dan pengembangan kepariwisataan sebagai berikut:

Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan khususnya pada Pasal 2, Pasal 3 huruf (d), dan Pasal 30.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 67 Tahun 1996 Tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan,khususnya pada Pasal 2, 105, 106, dan 107.

Keputusan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Nomor KM.5/UM.209/MPPT-89 Tanggal 18 Januari 1989 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sapta Pesona; khususnya pada Pasal 3, 4, 5, dan 7.

Keputusan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunisasi Nomor KM.98/PW.102/ MPPT-87 Tanggal 25 Pebruari 1990 Tentang Pelaksanaan Ketentuan Usaha Obyek Wisata.

Potensi Obyek Wisata

Menurut Damardjati (1995: 108), “potensi obyek wisata adalah segala hal dan keadaan baik yang nyata dan dapat diraba maupun tidak diraba, yang dikerja-kan, diatur, dan disediakan sedemikian rupa sehingga dapat bermanfaat atau dimanfaatkan atau diwujudkan sebagai kemampuan, faktor daan unsur yang diperlakukan atau menentukan bagiusaha dan pengembangan kepariwisataan, baik itu berupa suasana, kejadian, benda maupun layanan atau jasa-jasa.

Daerah atau tempat dapat menjadi obyek wisata bila mempunyai potensi yang dapat menarik pengunjung, baik potensi alam mupun potensiyang dibuat oleh manusia. Sujali (1989: 11), mengungkapkan bahwa potensi obyek wisata terjadi karena proses, dapat disebabkan oleh proses alam maupun proses budidaya manusia. Potensi alam yang dimiliki obyek wisata merupakan kekuatan yang paling besar untuk menarik wisatawan, kemudian dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang ada pada obyek wisata

KAMPUNG WISATA

Pengertian Kampung Wisata

Kampung Wisata adalah salah satu ungkapan kehidupan manusia yang menyajikan tujuan wisata perkampungan.Dalam perwujudannya, kampung wisata hendaknya dapat memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada baik yang menyangkut fasilitas wisata, sirkulasi dan pengolahan ruang luar yang memiliki banyak keanekaragaman

UU No 9 Tahun 1990 Pasal 19 menyarankan bahwa pengusahaan obyek dan daya tarik wisata budaya merupakan usaha pemanfaatan seni budaya bangsa untuk dijadikan sasaran wisata. Merupakan peninjauan terhadap kelayakan fasilitas pelayanan dan penciptaan kepuasan kepada pengunjung.

Karakter Kampung Wisata

Kampung Wisata merupakan sebuah potensi pariwisata yang dapat menunjang perekonomian suatu daerah tertentu.Kampung Wisata dapat dikatakan sebagai suatu daerah yang berpotensi wisata jika mempunyai suatu keunikan di daerah tersebut berupa kehidupan keseharian masyarakat setempat, adat istiadat, kebudayaan setempat yang menjadi daya tarik bagi wisatawan

Kegiatan Kampung Wisata

Kampung Wisata mengalami perkembangan yang cukup pesat terutama dengan potensi wisata yang ada di daerah wisata yang unik.Hal ini memunculkan wisatawan untuk dating da menikmati fasilitas atau obyek wisata. Jenis-jenis kegiatan di Kampung Wisata, antara lain sebagai berikut: Kegiatan berkebun, Membatik, Jalan-jalan dengan bersepeda, Memancing, Bermain permainan tradisional, Menikmati kuliner tradisional setempat, Menginap di home stay, Belajar membuat kerajinan asli daerah setempat., Mandi di sungai/kali.

WISATA BUDAYA

Kebudayaan mempunyai peranan penting dalam perkembangan dunia kepariwisataan, karena sesungguhnya kebudayaan sebagai milik rakyat suatu negeri adalah merupakan manifestasi dan pengucapan karya dan kreasi yang spiritual dan artistik dari manusia-manusia yang membentuk rakyat negeri ini menjadi sasaranutama sebagai Daerah Tujuan Wisata. Hal ini sesuai dengan resolusi yang diambil oleh Kongres Pariwisata Antar – Amerika (Inter – American Travel Congress) pada sidang tahunannya yang kelima di Panama pada tahun 1954, menyatakan bahwa wisata budaya dan kebudayaan dalam dunia kepariwisataan adalah merupakan unsur yang utama dan memegang peranan sangat penting (Nyoman S. Pendit, 1986: 169 – 170). Seperti pendapat dari Nyoman S. Pendit bahwa ternyata dari hasil penyelidikan PATA pada tahun 1961 yang menyatakan bahwa kunjungan orang asing (Amerika) ke Asia Tenggara (termasuk Indonesia) adalah karena mereka tertarik akan rakyatnya, adat istiadat dan cara hidupnya (53%), kesenian, bangunan dan candi-candi kuno (24%) berbagaimacam kebudayaan (24%) (Oemar Hamalik, 1978: 18).

Pendapat Parsudi Suparlan dalam bukunya yang berjudul “Kebudayaan dan Lingkungannya”. Kebudayaan adalah cara berfikir, cara merasa, cara meyakini dan menganggap kebudayaan adalah pengetahuan yang dimiliki warga kelompok yang diakumulasi (dalam memori manusia, dalam buku dan obyek-obyek) untuk digunakan di masa depan. Antropologi mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan cara hidup manusia, yaitu warisan sosial yang diperoleh seseorang dari keompoknya. Atau kebudayaan dapat dianggap bagian lingkungan yang diciptakan manusia (Parsudi Suparlan, 1984)

Wisata budaya adalah perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan mengadakan kunjungan atau peninjauan tempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat, cara hidup, budaya dan seni mereka (Nyoman S. Pendit, 1986: 36). Dikatakan juga pariwisata budaya adalah untuk memuaskan kebutuhan.Dalam hal ini termasuk pula kunjungan ke pameran-pameran dan fair, perayaan-perayaan adat, tempat cagar alam, cagar purbakala (Salah Wahab, 1986: 6).

Metode Penelitian

Bentuk penelitian ini deskriptif kualitatif, dengan strategi studi kasus terpancang tunggal. Sumber data yang digunakan adalah: (1) Sumber benda yaitu bangunan fisik rumah Kampung Baluwarti; (2) Tempat yaitu Kampung Baluwarti; (3) Peristiwa yaitu kegiatan pelestarian masyarakat Kampung Baluwarti; (4) Informan yaitu Bapak Lurah dan RT Kelurahan Baluwarti. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) Observasi yaitu pengamatan kegiatan masyarakat di Kampung Baluwarti; (2) Wawancara dengan Bapak Lurah Baluwarti; (3) Analisis dokumen sejarah Baluwarti di perpustakaan Kasunanan Surakarta dan struktur organisasi pemerintahan di Kelurahan Baluwarti. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Selain bersifat purposif sampling, peneliti juga menggunakan teknik snowball sampling. Dalam penelitian ini, untuk mencari validitas data digunakan dua tehnik trianggulasi data dan trianggulasi metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif.

Pembahasan

Secara adminitratif, wilayah Kelurahan Baluwarti merupakan kawasan sebuah Kelurahan (Kelurahan Baluwarti). Luas wilayah ± 40,70 Ha, mencakup lima kampung, yakni Kampung Gambuhan, Hordenasan, Wirengan, Carangan, dan Tamtaman. Kelurahan Baluwarti tersebut terbagi dalam 12 Rukun Warga (RW) dan 38 RT, dengan jumlah penduduk sebanyak 7.478 jiwa (laporan Monografi Maret 2015).

Struktur lingkungan pemukiman di Kampung Baluwarti terbentuk oleh unsur-unsur kawasan pemukiman berdasarkan pengelompokan kegiatan dan fungsi pemukiman. Hal tersebut terkait karena peran penghuninya secara historis. Pengelompokan lingkungan pemukiman di Kampung Baluwarti lebih lanjut dibedakan menjadi dua kawasan, yang terjadi karena status penghuninya, yaitu:1) hunian Bangsawanan, 2) hunian Abdi Dalem.

Hunian Bangsawanan yaitu rumah-rumah pangeranan yang mempunyai garis keturunan dari raja. Hunian kaum bangsawanan berada pada lapis pertama mengelilingi Kraton. Hunian tersebut berupa rumah tinggal (ndalem), yang pekarangannya dilingkungi tembok keliling. Rumah-rumah tinggal bangsawan tersebut bersifat eksklusif, dengan pintu gerbang (regol) yang berorientasi ke jalan utama. Struktur masyarakat ini homogen, karena semua penghuni ndalem adalah lapisan masyarakat kelas tinggi (pangeranan). Hal demikian terungkap dengan nama-nama penghuni yang dijadikan sebutan bagi setiap dalem, dengan akhiran –an dibela-kang nama pangeran yang menghuni dalem, seperti Mloyokusuman, Ngabean, Suryohamijayan. Elemen-elemen pemben-tuk kawasan ini adalah lingkungan-lingkungan menunjuk pada pemahaman rumah milik pangeran yang memiliki pendopo berbentuk Joglo, berupa sebuah komplek dilingkungi tembok, dan relatif besar dibanding rumah abdi dalem. Sifat kompleksitas dalem, dari tata ruangnya dapat dilihat dari kelengkapan pembagian zona semi publik (kuncung, pendhapa,pakiwan), zona privat (pringgitan, dalem, gandhok).

Hunian Abdi Dalemyaitu tempat tinggal abdi dalem. Abdi dalem diangkat raja menjadi pegawai kerajaan sesuai keahliannya, seperti prajurit, kesenian, keagamaan, dan lain-lain. Kawasan abdi dalem merupakan lingkungan tempat tinggal orang-orang yang mendapat kepercayaan raja atau mempunyai kedudukan di Kraton. Kawasan ini mempunyai pola tata ruang yang tidak berbeda jauh dari kawasan Bangsawanan, yakni bentuk tertutup dan solid. Kawasan hunian ini, berada di sebelah timut, selatan serta barat dari Kraton.mempunyai identitas fisik yang berwujud dinding pagar tembok pada bagian depan luar, berbatasan langsung dengan jalan lingkar utama yang mengelilingi Kraton. Hunian abdi dale mini berada di lapis berikutnya, mengeliling Kraton, setelah kawasan rumah tinggal bangsawan. Dinding pagar lingkungan hunian tersebut terbuat dari tembok massif, dengan satu-satunya jalan dari luar (jalan utama) berupa regol. Dinding tersebut mempunyai bentuk seragam pada setiap hunian. Dengan adanya pagar tinggi ini, penampakan bangunan hunian dari luar tidak terlihat. Hanya terlihat sebatas penutup atas bangunan rumah, sehingga memberikan kesan tertutup pada hunian di kawasan ini

POTENSI KAMPUNG BALUWARTI

Kampung Baluwarti sebagai kawasan warisan kampung bersejarah mempunyai berbagai potensi obyek wisata budaya dan kearifan lokal yang sampai saat ini belum dikembangankan secara maksimal dan efisien, berikut adalah beberapa potensi wisata budaya Kampung Baluwarti:

Nama-nama Unik di Kampung Baluwarti:

Tamtaman dan Carangan, untuk sebutan daerah pemukiman abdi dalem prajurit Tamtama dan prajurit Carangan, yang bertugas mempertahankan keamanan raja dan Kraton.

Wirengan, perkampungan untuk abdi dalem Wireng, yang mempunyai tugas mengurusi tarian dan wayang orang, disamping tugas dalam upacara Gerebeg dengan membawa gunungan dari Kedhaton ke Masjid Agung

Gandarasan, untuk perumahan di sekitar Nyai Lurah Gandarasa

Sekulanggen, untuk peruma dahulu tempat ini dipakai untuk menyimpan padi yang diperuntukkan para abdi dalem han di sekitar Nyai Lurah Sekulanggi

Lumbung Silayur, dahulu tempat ini dipakai untuk menyimpan padi yang diperuntukkan para abdi dalem

Langensari, tempat tinggal yang diperuntukkan para abdi dalem tuna netra yang biasa memainkan musik langensari (keroncong

Purwodiningratan, untuk perumahan di sekitar Bupati Nayoko Purwodiningrat.

Mangkubumen, dihuni terakhir oleh seorang Bupati Nayoko KPH Mangkubumi putra PB X

Hordenasan, dahulu tempat untuk tinggal abdi dalem Hordenas (abdi dalem yang bertugas membantu kusir dalam menjalankan kereta titihan Raja semasa Belanda) sehingga tempat ini dikenal dengan nama Hordenasan

Jabang Bayen, dahulu tempat itu ada aliran sungai menuju ke Kraton dan ditempat itu telah ditemukan mayat bayi sebanyak tiga orangyang terhanyut di aliran sungai (Kalilarangan) oleh warga setempat bayi itu tidak dihanyutkan namun dikubur ditempat itu sehingga warga sekitar tempat itu dikenal dengan sebutan Jabangbayen

Kestalan, tempat untuk mengandangkan kuda tunggangan pangeranan Kraton Surakarta

Mangkuyudan, dahulu tempat tinggal (dalem) bupati arsitek bernama Mungkuyuda

Mloyokusuman, untuk perumahan di sekitar Pangeran Mloyokusuma

Gambuhan. , perkampungan untuk abdi dalem Gambuh, yang sebagian besar mempunyai keahlian sebagai niyaga atau seniman Kraton

Bangunan-bangunan Bersejarah di Kampung Baluwarti:

nDalem Sasana Mulya, pada awal bernama Dalem Ngabean dibangun oleh Sri Susuhunan PB IV untuk P. Hangabei putra PB IV yang kemudian menjadi raja bergelar PB VIII (1858 – 1861). Penghuni terakhir adalah P. Hangabei putra PB X (yang kemudian menjadi PB XI) bersama-sama dengan Kanjeng Ratu Bendoro putra PB VIII (mertua PB IX). Saat itu P. Hangabei putra PB X tersebut mempunyai putra bernama BRM Suryo Guritno yang lahir di nDalem Ngabean ) Sasonomulyo. P. Hangabei putra PB X menggantikan ayahnya (setelah PB X wafat) menjadi raja bergelar PB XI (1939 – 1945), dan mengalihfungsikan Dalem Ngabean menjadi Sasonomulyo (sasono panghargyan). BRM Suryo Guritno putra PB XI yang lahir di Paviliyun nDalem Ngabean kemudian menjadi raja bergelar PB XII (1945 – sekarang) menggantikan PB XI yang wafat pada tahun 1945 (sesaat sebelum menerima tahta putra mahkota ini diwisuda menjadi P. Adipati Anom).

nDalem Mloyokusuman, dibangun pertamakali oleh PB III untuk putranya RM Sahid (P. Sambernyowo) seorang Pangeran dan Senopati Kasunanan Surakarta yang kemudian menjadi penguasa Kadipaten Mangku Negaran bergelar KGPAA Mangku Nagoro I, tetapi yang bersangkutan sudah memiliki rumah sendiri (informasi penghuni dalem / kerabat Mloyokusuman). Terakhir dihuni oleh KPH Mloyokusumo putra PB IX dan Senopati Kasunanan Surakarta, kemudian diwariskan pada putranya RMP Sunaryo yang mempunyai asm sepuh KPH Mloyohamiluhur, seorang paranormal yang disegani di Surakarta.

nDalem Ngabean, dihuni oleh seorang Bupati Nayoko KTMT Wuryaningrat menantu PB X, sehingga dikenal dengan nama Dalem Wuryaningratan. Pada masa pemerintahan PB XI pemerintahan PB X dialih-fungsikan menjadi nDalem Ngabean, untuk ditempati oleh P. Ngabehi

nDalem Brotodiningratan, dihuni terakhir kali oleh seorang Bupati Nayoko bernama KRMT Brotodiningrat menantu PB X

nDalem Mangkubumen, dihuni terakhir kali oleh seorang Bupati Nayoko KPH Mangkubumi putra PB X.

nDalem Purwodiningratan, dibangun jaman pemerintahan Sri Susuhunan PB IV dihuni terakhir oleh seorang Bupati Nayoko bernama KRMTH Purwodiningrat VI yang diwaris dari ayahnya KRMTH Purwodiningrat V (menantu PB IX) yang juga Bupati Nayoko, sekarang dihuni oleh keturunannya.

nDalem Surya Hamijayan, dibangun jaman pemerintahan Sri Susuhunan PB IV dihuni terakhir oleh seorang Bupati Nayoko KPH Suryohamijoyo putra PB X, kini sudah berpindah tangan ke keluarga mantan Presiden Soeharto

Keragamanan Produk Budaya Kampung Baluwarti:

Keris, Tosan Aji, Wayang Beber, Pembuatan Rebab, Busana Jawa

Seni Budaya Lokal Kampung Baluwarti: Sanggar-sanggar TariKarawitan, Kethoprak,, Macapat, Keroncong Klasik, JogloPerkusi

Pertunjukan-pertunjukan Budaya Kampung Baluwarti: Suraloka, Sendratari Arjuna Wiwaha

Kuliner Khas Kampung Baluwarti:

Beras Kencur (dari Tamtaman), Ledre Ndog (dari Wirengan), Geplak Jahe (dari Gambuhan), Ampyang Jahe (dari Carangan)Sekul Langgi (dari Sekolanggen), Wedang Ndongo (dari Lumbung Wetan),Wajik Klethik (dari Tamtaman dan dari Wirengan), Penyon (dari Mloyokusuman), Jenang Suran (dari Tamtaman)

PERKEMBANGAN KAMPUNG WISATA BALUWARTI DARI TAHUN KE TAHUN

Kampung Baluwarti mengadakan event budaya Suraloka yaitu suatu event yang memamerkan berbagai potensi wisata Kampung Baluwarti. Event Suraloka ini dimaksudkan sebagai event budaya Kampung Baluwarti yang mengiringi event Kraton Kasunanan yaitu peringatan tahun baru Jawa.

Selama diadakan event Suraloka dari 2010 – 2015 terjadi perkembangan yang maju antara partisipasi masyarakat Kampung Baluwarti untuk memamerkan berbagai potensi wisata budaya Baluwarti dan bentuk apresiasi serta antusiame masyarakat Kota Solo untuk menyaksikan parade Kampung Wisata Budaya Baluwarti

PENUTUP

Dari hasil penelitian tentang Pengembangan Potensi Kampung Wisata Budaya Baluwarti dapat diamati tentang wujud nyata kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap peninggalan sejarah leluhur bangsa dan negara. Hal ini dapat diamati dengan semangat masyarakat, tokoh, perangkat Kelurahan Baluwarti untuk mempromosikan berbagai sejarah, peninggalan sejarah, produk budaya yang menjadi ciri khas dan andalan Kampung Baluwarti.

DAFTAR PUSTAKA

Amir. (2002). “Pengembangan Paket Pembelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Malang: IKIP.

Conyers, Diana. (1991). “An Introduction To Social Planning In The Third World”. By Jhon Wiley & Sons Ltd.1994.Terjemahan Drs.Susetiawan SU:”Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga: Suatu Pengantar”. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (xi, 335 hal).

Cohen and Uphoff. (1977). Rural Development Participation. New York: Cornel University.

Darmadjati, R.S. (1995). Istilah-istilah Dunia Pariwisata. Jakarta: Gramedia.

Fandeli, Chafid. (1995). Dasar-dasar Manajemen Kepariwisataan Alam. Yogyakarta: Liberty.

Gazalba, Sidi. (1981). Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu. Jakarta: Bhratara.

Kartini, Kartono. (1990). Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: Mandar Maju.

Koentjaraningrat. (2002). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Lincoln, Y.S dan Guba, EG. (1985). Naturalistic Inquiry. Beverly Hills: Sage Publication.

Miles, B.B., dan A.M. Huberman. (1992). Analisa Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.

Moleong, Lexy.(1991).Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

____________.(1994).Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

____________.(2000).Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

____________.(2002).Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

Musanef.(1996). Manajemen Usaha Pariwisata di Indonesia. Jakarta: PT Toko Gunung Agung.

Nazir, Mohamad. (1983). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nawawi, Hadari.( 1995). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: UGM Press.

Parsudi Suparlan. (1984). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Penerbit Bhumi Aksara.

Pendit, Nyoman S. (1986). Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Sederhana. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Pitana, I Gde, & Putu G, Gayatri. (2005). Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta Andi Offset.

Raharjo, Dawam.(1978). Esai-Esai Ekonomi Politik. LP3ES Departemen Kesehatan RI: Buku Pegangan Kader Pelayanan Masyakat.

Reardon, Kathleen K, Everett M. Rogers. (1987). International Versus Mass Communication: A False Dichotomy. London: The Free Press.

Santoso, Satropoetro. (1998). Partisipasi, Komunikasi dan Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional. Bandung: Alumni.

Sammeng, A.M. (2001). Cakrawala Pariwisata. Jakarta: Akademi Pariwisata Trisakti.

Soedjito, Sosrodiharjo.(1987). Aspek Budaya dalam Pembangunan Pedesaan. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Soelaiman, M. Munandar. (1998). Dinamika Masyarakat Transisi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sujali. (1989). Geografi Pariwisata dan Kepariwisataan. Yogyakarta: UGM Press.

Suwantoro, Gamal. (1997). Dasar-dasar Pariwisata. Yogyakarta: ANDI.

Surakhmad, Winarno. (1998). Metode Penelitian. Jakarta: Graha Indonesia.

Sutopo, HB. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan.

Parsudi Suparlan. (1984). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Penerbit Bhumi Aksara.

Pendit, Nyoman S. (1986). Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Sederhana. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.