PENINGKATAN MOTIVASI DAN KEMAMPUAN BERTUTUR KATA KRAMA INGGIL MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN MODEL KOOPERATIF PADA SISWA KELAS IV

SEMESTER 1 SD NEGERI PENDEM 3

KECAMATAN SUMBERLAWANG KABUPATEN SRAGEN

TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Tarto

SDN Pendem 3 Kec. Sumberlawang Kab. Sragen.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan bertutur kata krama inggil menggunakan pendekatan kontekstual dengan model kooperatif Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus yang masing-masing siklus terdiri ata empat kegiatan yaitu: (1) Perencanaan; (2) Pelaksanaan; (3) Observasi; dan (4) Refleksi. Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian serta pembahasan pada bab IV dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam bertutur kata krama inggil dapat ditingkatkan dengan pendekatan kontekstual dengan model kooperatif. Peningkatan kemampuan bertutur kata krama inggil dapat dilihat sebagai berikut. 1). Ada peningkatan kemampuan bertutur kata krama inggil dari kegiatan pretes, siklus I dan siklus II. Skor rata–rata diperoleh pada kegiatan pretes sebesar 59,47. Setelah diadakan tindakan pada siklus I meningkat sebesar 68,68 termasuk dalam kategori cukup. Hasil siklus I ternyata belum memenuhi target pencapaian skor hasil belajar yaitu kurang dari 70. Oleh karena itu berusaha ditingkatkan pada siklus II hasilnya sebesar 76,05 artinya ada peningkatan sebesar 7.5% dari siklus I.

Kata Kunci: berbicara, krama inggil, pendekatan kontekstual dengan model kooperatif


PENDAHULUAN

Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dan mengembangkan intelektual. Bahasa memiliki peranan penting dalam memajukan bangsa. Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas bab II pasal 3 menyatakan tujuan pendidikan nasional berbunyi Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan tersebut tidak akan tercapai jika tidak didukung dengan faktor pendukung. Salah satu faktor tersebut adalah berkomunikasi. Seseorang akan bisa berkomunikasi jika orang tersebut bisa mendengarkan dan berbicara.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 432.5/5/2010, pembelajaran bahasa Jawa diarahkan pada penanaman budi pekerti dan penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, 2010: 1). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), ada empat penguasaan keterampilan berbahasa yang menjadi acuan standar kompetensi bahan kajian bahasa Jawa, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis (Depdiknas, 2010: 18).

Keterampilan berbicara bahasa Jawa harus dikuasai oleh masyarakat Jawa pada khususnya. Bahasa Jawa memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Bahasa Jawa merupakan bahasa utama yang digunakan dalam berkomunikasi di lingkungan keluarga dan masyarakat luas bagi sebagian besar masyarakat Jawa. Banyak hal yang bisa dipelajari dari belajar bahasa Jawa, mulai dari parama sastra hingga pada unggahungguh yang tertanam dalam kebudayaan Jawa. Hal yang terpenting dalam belajar bahasa Jawa adalah penerapannya dalam kehidupan seharihari terutama dalam penerapan tata krama dalam berkomunikasi dengan orang lain. Salah satu aplikasi tata krama tersebut bisa diterapkan melalui penggunaan ragam bahasa yang terdapat dalam bahasa Jawa, di antaranya adalah ragam krama lugu sesuai unggahungguh basa (Rahayu, 2011).

Pencapaian nilai dalam mata pelajaran bahasa Jawa siswa Kelas IV SDN Pendem 3 masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 70, disebabkan karena rendahnya keterampilan berbicara anak dengan menggunakan basa jawa krama inggil. Hal ini didukung dari data observasi dan evaluasi pembelajaran bahasa Jawa tahun 2012 yang menunjukkan hasil belajar bahasa Jawa masih di bawah (KKM). Data hasil belajar siswa diperoleh nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 80 dengan rerata kelas 68. Persentase siswa yang tuntas belajar sebesar 39% yaitu sebanyak 16 siswa dan persentase 25 siswa yang tidak tuntas belajar adalah 61%. Siswa belum optimal berbicara bahasa Jawa ragam krama inggil. Dengan melihat data hasil belajar dan pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran tersebut maka perlu adanya perbaikan agar siswa sekolah dasar tersebut terampil berbicara bahasa Jawa ragam krama inggil.

Berdasarkan hasil diskusi antara peneliti dengan guru Kelas IV, untuk memecahkan masalah tersebut, tim kolaborasi menetapkan tindakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam krama inggil siswa menggunakan model pendekatan kontekstual dengan model kooperatif yang bertujuan untuk mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran, membangkitkan semangat siswa, meningkatkan kreativitas guru, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam krama inggil siswa Kelas IV SDN Pendem 3 .

Masalah – masalah yang sering muncul dalam pembelajaran berbicara bahasa krama dipengaruhi oleh faktor guru dan siswa. Masalah tersebut antara lain: 1) dalam bertutur kata krama inggil anak nilainya rendah; 2) di dalam kelas guru menempatkan diri tidak sebagai teman, pembimbing, dan pemantau. Sehingga anak menjadi takut, malu dalam bertutur kata krama inggil; 3). anak cenderung suka menggunakan bahasa ibunya sendiri sesuai dengan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, disampaikan rumusan masalah sebagai berikut: (1). Adakah peningkatan kemampuan bertutur kata krama inggil menggunakan pendekatan kontekstual dengan model Kooperatif pada siswa Kelas IV SD Negeri Pendem 3 tahun pelajaran 2014/2015? (2). Adakah perubahan perilaku atau sikap setelah bertutur kata krama inggil menggunakan pendekatan kontekstual dengan model Kooperatif pada siswa Kelas IV SD Negeri Pendem 3 tahun pelajaran 2014/2015?

Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalaht (1) Untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan bertutur kata krama inggil menggunakan pendekatan kontekstual dengan model Kooperatif pada siswa Kelas IV SD Negeri Pendem 3 tahun pelajaran 2014/2015; (2) Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas materi bertutur kata krama inggil menggunakan pendekatan kontekstual dengan model Kooperatif pada siswa Kelas IV SD Negeri Pendem 3 tahun pelajaran 2014/2015.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Motivasi

Motivasi didefinisikan sebagai suatu kondisi yang menggerakkan arah suatu tujuan tertentu, sedangkan motivasi kerja merupakan kondisi yang berkontribusi membangkitkan, mengarahkan dan memelihara, perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja. (Sardiman, 2014: 73). Motivasi kerja adalah kondisi yang menggerakkan pegawai dalam untuk meningkatkan produktifitas kerja dalam rangka mencapai tujuan.

Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tumuan tertentu (Depdikbud, 1995:666) dengan demikian dalam motivasi terdapat sejumlah konsep seperti dorongan, kebutuhan, rangsangan, ganjaran, penguatan, ketetapan tujuan, harapan dan sebagainya.

Kemampuan Berbicara

Berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, didahului oleh keterampilan menyimak dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau mengujar dipelajari (Tarigan, 2008: 3). Berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Berbicara merupakan proses berbahasa lisan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, merefleksikan pengalaman, dan berbagi informasi.(Sunendar dan Iskandarwassid, 2008: 241).

Hendrikus (1991: 14) berpendapat berbicara adalah kegiatan mengucapkan kata atu kalimat kepada orang lain untuk mencapai tujuan tertentu, yang disampaikan secara runtut, sistematis, dan logis.

Bahasa Jawa Krama Inggil

Menurut Esti dan Hardyanto (2010: 47) tingkat tutur bahasa Jawa (unggah- ungguhing basa) pada dasarnya ada dua macam, yaitu ragam ngoko dan ragam krama. Ragam ngoko meliputi ngoko lugu dan ngoko alus. Ragam krama meliputi krama lugu dan krama alus.

Menurut Sasangka (2005: 21) krama alus atau karma inggil adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya terdiri atas leksikon krama dan dapat ditambah dengan leksikon krama inggil atau krama andhap. Meskipun begitu, yang menjadi leksikon inti dalam ragam ini hanyalah leksikon yang berbentuk krama.

Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran Kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang melatih siswa bekerja sama dalam kelompok belajar (Ibrahim, 2000:1). Pembelajaran Kooperatif adalah salah satu pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dengan mengelompokkan siswa menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang. Setiap kelompok harus heterogen (Ibrahim, 2000:10).

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil. Dalam pengelolaan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim (2000) antara lain: (1) siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”, (2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri, (3) siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, (4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya, (5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah atau penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, (6) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya, (7) siswa akan diminta untuk mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Kerangka Berpikir

Permasalahan yang dihadapi adalah keterampilan berbicara khususnya bertutur kata krama inggil kurang, sehingga mengakibatkan rendahnya kemampuan siswa. Dalam pembelajaran berbicara bahasa krama, guru berperan untuk menuntun siswa. Guru menempatkan diri sebagai seorang teman, mungkin metode seperti itu sebagai langkah awal untuk memupuk minat siswa dalam bertutur kata. Setelah minat terbangun diharapkan kemampuan bertutur kata krama inggil dapat ditingkatkan. Pembelajaran berbicara bahasa krama dengan menggunakan pendekatan kontekstual dengan model kooperatif bisa menciptakan suasana nyata dan meningkatkan peran serta siswa dalam interaksi belajar mengajar. Siswa perlu mengerti makna belajar apresiasi, manfaat dan bagaimana cara mencapainya.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir yang ada, hipotesis penelitian ini adalah proses pembelajaran berbicara bahasa krama dengan menggunakan pendekatan kontekstual dengan model kooperatif dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan dalam bertutur kata krama inggil siswa Kelas IV SD Negeri Pendem 3 Kabupaten Sragen.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kelas IV SD Negeri Pendem 3 Tahun Pelajaran 2014/2015 jumlah siswa Kelas IV sebanyak 38 siswa. Penelitian ini dilaksa-nakan selama empat bulan mulai bulan Januari hingga April 2015.

Prosedur Tindakan

Penelitian ini dilaksanakan seba-nyak dua siklus. Prosedur tindakan pada setiap siklus baik siklus kesatu maupun siklus kedua dilakukan dalam empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tiap siklus dan tiap tahap dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian tindakan kelas.

Instrumen Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan instrumen bentuk tes dan non tes pada siklus I dan siklus II. Instrumen tes digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan bertutur kata krama inggil. Instrumen tes pada siklus I dan siklus II relatif sama bobot tingkat kesukarannya. Bentuk instrumen yang berupa tes yaitu tes tertulis. Siswa disuruh menjawab soal – soal yang berupa tes keterampilan berbicara. Instrumen penelitian yang digunakan antara lain: (1) Metode Observasi yang dilengkapi dengan pedoman observasi; (2) Metode Wawancara yang dilengkapi dengan pedoman wawancara.

Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik kuanti-tatif sederhana berupa perobahan prosentase yang kemudian hasil analisisnya kemudian dideskripsikan dalam deskripsi kualitatif.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Sebelum pembelajaran bertutur kata krama inggil dengan pendekatan kontekstual dengan model kooperatif dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan kegiatan tes awal untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bertutur kata krama inggil dan observasi dilakukan untuk mengetahui perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran bertutur kata krama inggil. Tes awal dilaksanakan sebelum diadakan tindakan siklus I. Bentuk tes pada kegiatan tes awal berupa tes keterampilan berbicara. Adapun hasil tes awal dapat dilihat berikut ini: sangat baik (85-100) hasilnya 0, baik (70-84) hasilnya juga kosong, cukup (55-69) ada 30 siswa (78,95%), dan kurang (0-54) ada 8 siswa (21,05%)

Hasil Penelitian Siklus I

Pada siklus I dalam pembelajaran bertutur kata krama inggil menggunakan pendekatan kontekstual dengan model kooperatif. Siklus I dilakukan sebanyak dua kali pertemuan. Penilaian dilakukan pada pertemuan kedua. Sedangkan hasil siklus I dalam penelitian ini sebagai berikut. Hasil Tes Siklus I: sangat baik (85-100) masih 0; baik (70-84) ada 23 siswa (60,53%); cukup (55-69) ada 15 siswa (39,47%); dan kurang (0-54) sudah tidak ada. Artinya mulai ada peningkatan yang signifikan.

Hasil Jurnal

Jurnal yang dibuat siswa menunjukkan bahwa mereka merasa senang bertutur kata krama inggil dengan pendekatan kontekstual dengan model kooperatif. Hal ini terbukti ssebanyak delapan siswa menjawab semua dengan alasan mereka merasa lebih paham menarik dan menyenangkan. Sedangkan yang tidak senang sebanyak dua siswa. Mereka memberikan alasan bahwa masih sulit dalam memahami tutur krama inggil.

Hasil Penelitian Siklus II

Siklus II merupakan pembelajaran bertutur kata krama inggil tahap kedua. Pada siklus II ini telah dilakukan perbaikan–perbaikan pembelajaran bertutur kata krama inggil dari siklus I untuk memecahkan masalahmasalah yang terjadi pada siklus II. Dalam pembelajaran bertutur kata krama inggil pada siklus II ini dilaksanakan di luar kelas pada tempat yang nyaman dan tidak jauh dari sekolah. Dilaksanakan satu kali pertemuan dalam pembelajaran bertutur kata krama inggil.

Hasil Tes Siklus II adalah hasil tes bertutur kata krama inggil dengan pendekatan kontekstual dengan model kooperatif setelah dilakukan perbaikan–perbaikan rencana pembelajaran dilihat data sebagai berikut: sangat baik (85-100) ada 7 siswa (18,42); baik (70-84) ada 27 siswa (71,05%); cukup (55-69) ada 4 siswa (10,53%); dan kurang (0-54) sudah tidak ada. Artinya mulai ada peningkatan yang signifikan

Pembahasan Persiklus dan Antarsiklus

Pendekatan kontekstual dengan model kooperatif Tahap Pretes Siklus I, dan Siklus II. Dari hasil tes Keterampilan berbicara bahasa krama pada kegiatan siklus I sebanyak 15 dari 38 siswa Kelas IV SD Negeri Pendem 3 masih mendapatkan nilai di bawah 70. Hal ini terjadi karena ada beberapa siswa yang belum lancar dalam membaca sehingga sulit untuk memahami isi teks percakapan dan bertutur kata krama inggil. Dalam kegiatan pembelajaran yang disajikan bacaannya terlalu panjang sehingga guru membuat dua kali pertemuan, setiap pertemuan 35 menit. Dalam pembelajaran bertutur kata krama inggil berlangsung di dalam kelas. Hal ini membuat anak merasa jenuh dan tidakbebas mengutarakan isi hatinya. Pada tahap siklus II kegiatan pembelajaran berlangsung di luar kelas. Berada pada lingkungan di dekat sekolah yang rindang dan jauh dari keramaian. Hal ini bisa menciptakan kreatifitas siswa untuk bertutur kata krama inggil. Siswa dengan bebas mengutarakan isi hatinya. Sehingga kemampuan siswa dalam bertutur kata krama inggil mengalami peningkatan terbukti dalam mengerjakan test tes keterampilan berbicara hampir semua siswa mampu menjawab dengan tepat dan benar.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian serta pembahasan pada bab IV dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam bertutur kata krama inggil dapat ditingkatkan dengan pendekatan kontekstual dengan model kooperatif. Peningkatan kemampuan bertutur kata krama inggil dapat dilihat sebagai berikut. 1). Ada peningkatan kemampuan bertutur kata krama inggil dari kegiatan pretes, siklus I dan siklus II. Skor rata–rata diperoleh pada kegiatan pretes sebesar 59,47. Setelah diadakan tindakan pada siklus I meningkat sebesar 68,68 termasuk dalam kategori cukup. Hasil siklus I ternyata belum memenuhi target pencapaian skor hasil belajar yaitu kurang dari 70. Oleh karena itu berusaha ditingkatkan pada siklus II hasilnya sebesar 76,05 artinya ada peningkatan sebesar 7.5% dari siklus I. 2). Perilaku siswa selama pembelajaran bertutur kata krama inggil dari kegiatan tahap pretes, siklus I dan siklus II mengalami perubahan. Pada kegiatan pretes tingkah laku siswa selama proses belajar mengajar berlangsung, sebagian besar soswa tidak memperhatikan materi yang disampaikan guru. Ada siswa yang mengobrol dengan teman sebangku atau bahkan ada siswa yang mengantuk. Siswa yang sebelumnya memperhatikan materi yang disampaikan guru menjadi

terganggu sehingga suasana kelas kurang kondusif dan proses belajar mengajar menjadi terganggu. Setelah menggunakan pendekatan kontekstual dengan model Kooperatif pada siklus I terjadi perubahan.

Saran-saran

1.   Pendekatan kontekstual dengan model kooperatif dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran berbicara bahasa krama karena dengan pendekatan kontekstual dengan model Kooperatif dapat mempermudah siswa dalam bertutur kata krama inggil.

2. Perlu adanya penelitian lanjutan yang berkaitan dengan pembelajaran bertutur kata krama inggil dengan teknik – teknik yang lain agar kemampuan siswa dalam bertutur kata krama inggil lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2010. Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Jakarta😀epartemen Pendidikan Nasional.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Stategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Dwi, Rahayu, Heri, Setiawan. 2011. Arum Kuncaraning Basa Jawi Kelas IV SD.Penerbit: Tiga Serangkai Solo.

Ibrahim. 2000. Model-model dan Strategi Pembelajaran Kontektual. Penerbit Irama Widya.

Mulyana. 2008. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka Budaya.Yogyakarta: Tiara Wacana.

Rahayu, Muhammad dan Hartono, Lili. 2011. Kajian Bahasa,Sastra, dan Budaya Jawa. Surakarta: Pelangi Press.

Santosa, Puji dkk. 2007. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sardiman. 2014. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sasangka, Sry Satriya Tjatur Wisnu. 2005. Kamus Jawa Indonesia Krama– Ngoko. Jakarta: Yayasan Paramalingua.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Putaka Pelajar.

 

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa Bandung.