PREFERENSI GAYA BELAJAR MAHASISWA

BESERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

Sumardjono Padmomartono

Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP

Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gaya belajar 102 mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP – Univer­sitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Digunakan adaptasi Learning Styles Questionnaire/LSQ (Peter Honey dan Alan Mumford, 2010) yang berisi 80 butir pernyataan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan: 1) Terdapat 81,4% (83 orang) berpreferensi kuat sampai dengan sangat kuat gaya belajar reflector; reflector adalah pengamat dan mampu melakukan refleksi dengan baik, bersikap toleran, cakap memandang dari berbagai wawasan, menunda penilaian tergesa-gesa serta berhati-hati/waspada; reflector memilih menghimpun data menyeluruh; mendengarkan dan mengamati sebelum mengambil keputusan. 2) Ter­dapat 78,4% (80 mahasiswa) berpreferensi kuat sampai dengan amat kuat gaya belajar pragmatist; pragmatist gemar bereksperimen, gesit mengadopsi dan mencobakan gagasan baru, bersikap amat praktis. 3) Terdapat 56,9% (58 mahasiswa) berpreferensi kuat sampai dengan amat kuat gaya belajar theorist; theorist ingin memahami latar belakang teori, penalaran dan konsep, mengintegrasikan hasil pengamatan dengan teori, rasional, obyektif dan analitik; theorist mementingkan berpikir logik dan cende­rung terserap dalam menganalisis dan mensintesis informasi berdasarkan prinsip dan konsep. 4) Terdapat 56,9% (58 mahasiswa) berpreferensi kuat sampai dengan amat kuat gaya belajar activist; activist cakap bersosialisasi, berpikir dan bersikap terbuka pada tantangan, terserap pada kegiatan dan menyukai hal-hal yang baru sebagai pengalaman belajar. Berdasarkan temuan, dosen perlu memahami perlunya mengidentifikasi preferensi gaya belajar tiap mahasiswa serta menerapkan strategi pembelajaran yang lebih efektif yang selaras dengan keaneka-ragaman gaya belajar mahasiswa.

Kata kunci: Gaya Belajar versi Honey dan Mumford, Mahasiswa Progdi BK

PENDAHULUAN

Belajar merupakan proses sepanjang hayat yang dinamis. Dalam proses belajar, individu mengembangkan sikap dan perilaku yang menentukan preferensi dan cara pandang. Cara yang dipilih individu dalam proses belajar disebut gaya belajar. Dengan kata lain, gaya belajar yaitu preferensi individu dalam menguasai, menggunakan dan memikirkan tentang ilmu pengetahuan atau cara individu menangani tugas pembel­ajaran. Agar kualitas belajar dan pembelajaran meningkat, maka preferensi mahasiswa dalam belajar perlu dicermati benar oleh dosen. Kecenderungan mahasiswa mendaya-gunakan berbagai cara dalam menguasai dan mereproduksi pengetahuan disebut pula sebagai gaya belajar. Adakah perbedaan individual dalam menetapkan preferensi strategi belajar beserta kedalaman pemrosesan informasi yang dilakukan mahasiswa? Anggapan dasar dalam penelitian ini yaitu: 1) mahasiswa secara intrinsik berbeda dan punya preferensi yang berbeda dalam menetapkan gaya belajarnya; 2) Pembelajaran merupakan intervensi yang disengaja dan bertujuan untuk mempromosikan proses belajar dan menciptakan situasi agar belajar berlangsung pada mahasiswa.

Parul dan Vikas Choudhary (2015) menemukan dari 100 mahasiswa kepera­watan, sebagian besar mahasiswa (37%) berpreferensi gaya belajar reflector, 30% bergaya belajar theorist, 22% bergaya belajar pragmatist dan hanya 11% bergaya belajar activist. Ditemukan dosen keperawatan memahami kebutuhan untuk meng­ases secara akurat gaya belajar tiap mahasiswa dan memadukan strategi pembelajaran yang sejalan dengan variasi gaya belajar mahasiswa.

Memahami gaya belajar merupakan komponen kunci dalam managemen strategi pembelajaran. Mahasiswa yang gaya belajarnya cocok dengan gaya pembelajaran dosen cenderung lebih mampu menguasai informasi pembelajaran, lebih cakap menerapkan­nya secara efektif dalam pengerjaan tugas dosen, serta memiliki sikap lebih positif pada mata kuliah yang ditempuh. Bagi dosen yang memahami benar hakekat gaya belajar, termasuk gaya belajarnya sendiri, maka dosen amat terbantu dalam mengadopsi strategi pembelajaran yang sesuai bagi mayoritas mahasiswa. Dengan demikian dosen telah membantu mahasiswa mengembangkan rasa percaya diri dalam belajar sekaligus meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Pengalaman belajar yang memuaskan ini akan menjadikannya sebagai pebelajar sepanjang hayat.

TINJAUAN TEORETIS GAYA BELAJAR

Gaya belajar diartikan sebagai pola berpikir, cara mengamati, memecahkan masalah dan mengingat informasi sewaktu mahasiswa menghadapi tugas pembelajaran. Gaya belajar relatif menetap dan meresap ke dalam berbagai situasi belajar. Honey dan Mumford (2006) mengartikan gaya belajar sebagai deskripsi sikap dan perilaku yang menentukan preferensi individu dalam belajar. Biasanya individu memiliki satu atau dua preferensi gaya belajar. Diasumsikan ada hubungan antara gaya belajar mahasiswa, strategi pembelajaran dan hasil belajar, disamping terdapat berbagai strategi pembel­ajaran yang ditentukan oleh tipe informasi dan kecakapan yang diupayakan dosen agar dikuasai oleh mahasiswa. Strategi pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam kelas pembelajaran, agar mahasiswa mende­monstrasikan kompetensi tertentu serta menuntut makin banyak mahasiswa melakukan presentasi lisan di depan kelas sehingga kapasitas berpikir mahasiswa meningkat mutunya.

Tiap mahasiswa memiliki gaya belajar yang khas sehingga pada maha­siswa sekelas dapat ditemukan berbagai variasi gaya belajar. Makin akurat mahasiswa memahami kecenderungan gaya belajarnya, maka akan makin optimal mahasiswa mendaya-gunakan gaya belajarnya yang khas untuk menguasai bahan pembelajaran. Mahasiswa mencurahkan cara, proses dan hasil belajar yang berbeda-beda sehingga ditemukan banyak perbedaan individual dalam kelas pembelajaran. Berbagai variasi perorangan di kalangan mahasiswa disebabkan oleh adanya fakta bahwa mahasiswa cenderung menerapkan gaya belajar dan motivasi belajar yang berbeda-beda.

Keaneka-ragaman mahasiswa diwarnai oleh latar belakang etnis, budaya dan asal sekolah dengan berbagai pengalaman belajar yang dihayatinya sehingga mahasiswa tampil di dalam kelas pembelajaran dengan berbagai jenis gaya belajar. Merebaknya berbagai media pembelajaran yang efektif untuk mengemas informasi menyebabkan hadirnya multimedia sebagai pendamping buku teks. Kemajuan teknologi pembelajaran menghendaki dosen menimbang kembali pola perkuliahan tradisi­onal. Damrongpanit dan Reungtragul (2013) menyatakan dosen mestinya mende­sain bahan dan strategi pembelajaran yang bervariasi selaras dengan keaneka-ragaman gaya belajar mahasiswa.

Honey dan Mumford (2006) membedakan pebelajar ke dalam empat golongan, yaitu activist, reflector, theorist dan pragmatist. Cano dan Hughes (dalam Sarabdeen, 2013) menyatakan sumbangan Honey dan Mumford dalam menganalisis gaya belajar individu amat produktif untuk membentuk kepedulian dosen tentang perbedaan individu dalam situasi pembelajaran.

METODE PENELITIAN

Alat pengumpul data untuk gaya belajar menggunakan Learning Styles Questionnaire/LSQ yang diadaptasi dari Peter Honey dan Alan Mumford (2010) yang berisi 80 butir pernyataan. LSQ adalah instrumen untuk membantu individu meng­identifikasi kekuatan, kelemahan dan kebutuhan pengem­­bangan belajarnya. Diperoleh koefisien validitas butir mulai dari 0,302 sampai dengan 0,830. Selanjutnya reliabilitas Alpha Cronbach gaya belajar activist sebesar 0,837; gaya belajar reflector = 0,907; gaya belajar theorist = 0,906 dan gaya belajar pragmatist = 0,908. Disimpulkan reliabilitas tiap jenis gaya belajar adalah reliabel pada kategori dapat diterima.

ANALISIS DESKRIPTIF PREFERENSI GAYA BELAJAR MAHASISWA BK

Tiap skor gaya belajar mahasiswa kemudian ditetapkan pengkategoriannya sesuai norma yang berlaku bagi Learning Styles Questionnaire/LSQ Honey dan Mumford (2006). Norma yang diterapkan pada perolehan skor LSQ ini didasarkan pada standardisasi norma pada 1302 individu (Honey dan Mumford, 2010).

1) Terdapat 81,4% (83 mahasiswa) berkategori preferensi kuat sampai dengan sangat kuat gaya belajar reflector. Reflector adalah pendengar yang baik, bersikap toleran, cakap memandang dari berbagai wawasan, mampu menunda penilaian yang tergesa serta berhati-hati/waspada. Mahasiswa reflector lebih memilih menghimpun data menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan; penuh pertimbangan, lebih memilih mendengarkan dan mengamati sebelum memutuskan sesuatu. Kelemahan reflector yaitu cenderung memilih tempat duduk di deretan belakang, sangat low profile dan menarik jarak dengan rekan mahasiswa dan dosen. Karenanya, dalam pembelajaran, dosen perlu memberi gambaran komprehensif tentang bahan pembelajaran melalui media interaktif secara audio-visual serta penyajian kasus-kasus secara deskriptif menyeluruh pada mahasiswa reflector.

2) Terdapat 78,4% (80 mahasiswa) berkategori preferensi kuat sampai dengan amat kuat gaya belajar pragmatist. Mahasiswa bergaya belajar pragmatist gemar bereksperi­men, gesit mengadopsi dan mencobakan gagasan baru, bersikap praktis. Kelemahan pragmatist yaitu tidak sabar dengan teori dan amat tidak dapat bertoleransi dengan diskusi yang terbuka dengan jawaban majemuk. Karenanya, dalam pembelajaran, dosen perlu mendemonstrasikan bahan pembelajaran melalui contoh kehidupan keseharian dalam situasi nyata. Dosen perlu mendorong mahasiswa secara kreatif menghasilkan gagasan-gagasan baru dan mencobakannya ke dalam praktik karena ikhtiar kreatif merupakan keung­gulan kompetitif dalam era yang digerakkan oleh pengetahuan/informasi.

3) Terdapat 56,9% (58 mahasiswa) berkategori preferensi kuat sampai dengan amat kuat gaya belajar theorist. Theorist cakap mengintegrasikan hasil pengamatan dengan teori yang berlaku, bersikap rasional, obyektif dan analitik. Mahasiswa theorist mementingkan berpikir logik dan cende­rung terserap dalam proses menganalisis dan mensintesis informasi dengan berdasarkan pada prinsip dan konsep yang berlaku. Kelemahan theorist yaitu condong menuntut diri sempurna/perfectionist, mengambil jarak dengan konsep dan tidak sabar dengan pemikiran subyektif dan intuitif. Karenanya, pembelajaran dosen perlu menekankan pendekatan logik langkah-demi-langkah, pemecahan masalah dilakukan bertahap dan sistematik sehingga mening­kat­kan kecakapan mahasiswa menyerap informasi. Dosen dapat menggunakan pendekatan coaching pada mahasiswa theorist.

4) Terdapat 56,9% (58 mahasiswa) berkategori preferensi kuat sampai dengan amat kuat gaya belajar activist. Activist cakap bersosialisasi, berpikir dan bersikap terbuka terhadap tantangan, terserap pada kegiatan dan lebih menyukai hal-hal yang baru sebagai pengalaman belajar. Activist yaitu mudah bosan pada pengimplementasian bahan belajar yang rinci dan berkelanjutan serta berupaya mencari terobosan. Karenanya, dosen perlu memakai multimedia interaktif yang menggabungkan teks, grafik, audio, video dan animasi guna membelajarkan konsep-konsep dalam kuliah.

Honey dan Mumford (2006) menyatakan kecenderungan individu berpre­ferensi pada kombinasi dua gaya belajar dengan urutan kombinasi yang tertinggi sampai dengan terendah sebagai berikut: pertama, kombinasi Reflector ~ Theorist; kedua, kombinasi Theorist ~ Pragmatist; ketiga, kombinasi Reflector ~ Pragmatist; keempat, kombinasi Activist ~ Pragmatist.

Kombinasi preferensi gaya belajar mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP – Universitas Kristen Satya Wacana dengan urutan yang tertinggi sampai dengan terendah sebagai berikut: pertama, kombinasi Reflector ~ Theorist terjadi pada 37 mahasiswa (36,3%); kedua, kombinasi Reflector ~ Pragmatist dilakukan oleh 31 mahasiswa (30,4%); ketiga kombinasi Activist ~ Pragmatist pada 21 mahasiswa (20,6%) dan keempat, kombinasi Theorist ~ Pragmatist dilakukan oleh 13 mahasiswa (12,7%).

PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP–Universitas Kristen Satya Wacana (81,4%) berkecen­de­rungan kuat sampai dengan amat kuat gaya belajar reflector, yaitu pengamat dan mampu melakukan re­fleksi dengan baik, bersikap toleran, berwawasan luas, mampu menunda penilaian ter­gesa dan berhati-hati; reflector menghimpun data menyeluruh sebelum menyimpulkan; mengamati sebelum mengambil keputusan. Strategi pembelajaran yang sesuai bagi reflector yaitu menyediakan berbagai aktivitas yang meleluasakannya mengamati dan memikirkan bahan belajar. Mahasiswa amat suka mengikuti kuliah interaktif dan mengamati demonstrasi di dalam kelas. Mahasiswa juga menikmati tugas individual atau kelompok yang memberi peluang mentelaah data penelitian, gemar berdiskusi kelompok dan menyimak studi kasus. Kelemahan reflector yaitu amat bosan dengan kuliah yang berstruktur atau dilibatkan ke kegiatan yang menuntut tindakan tanpa perencanaan, terutama jika diminta memimpin kegiatan itu.

Sebagian cukup besar mahasiswa lainnya (78,4%) berkecen­de­rungan kuat sampai dengan amat kuat gaya belajar pragmatist; pragmatist gemar bereksperimen, gesit mengadopsi dan mencobakan gagasan baru dan bersikap amat praktis. Mahasiswa pragmatist menyukai demonstrasi praktis, simulasi, coaching, belajar berpengalaman; kegiatan pembelajaran praktis yang menyediakan peluang mencobakan bahan yang telah dipelajari. Mahasiswa pragmatist menggemari aktivitas belajar individual atau kelompok yang perlu perencanaan bertindak atau terserap ke kegiatan belajar proyek. Sebaliknya mahasiswa pragmatist amat menderita jika menghadiri kuliah teoretis dan mendiskusikan bahan belajar yang mengeksplorasi konsep-konsep. Selain itu prag­matist tidak menyukai kegiatan belajar tak-berstruktur tanpa rumusan tujuan yang jelas.

Hasil penelitian ini senada dengan temuan Parul dan Vikas Choudhary (2015) yang menyatakan, sebagian besar mahasiswa keperawatan (37%) berpreferensi gaya belajar reflector, 30% bergaya belajar theorist, 22% bergaya belajar pragmatist dan hanya 11% bergaya belajar activist. Di lain pihak temuan penelitian ini yaitu secara berurutan dari yang tertinggi berpreferensi amat kuat gaya belajar reflector, theorist, pragmatist dan yang terendah activist. Pada sebagian besar mahasiswa keperawatan di India dan mahasiswa bimbingan dan konseling di Indonesia cenderung berpreferensi gaya belajar reflector, yaitu mengamati, mendengarkan dan berpikir sebelum bertindak serta belajar melalui me-review. Rendahnya prosentase mahasiswa yang bergaya belajar activist menunjukkan bahwa mahasiswa lebih memilih merencanakan secara mantap dahulu dan menimbang manfaat beserta resiko sebelum berpartisipasi dalam kegiatan belajar, artinya, mahasiswa menghindari langsung bertindak aktif dan mengambil keputusan secara intuitif dalam belajar.

Kebanyakan mahasiswa memperoleh manfaat terbesar dari gaya pembelajaran dosen yang sejalan dengan kebutuhan belajar mahasiswa yang bergaya belajar reflector. Akan tetapi mahasiswa perlu menyesuaikan diri dengan strategi pembelajaran dosen yang menguntungkan mahasiswa bergaya belajar activist, pragmatist dan theorist. Idealnya dosen berupaya mengekspos keempat jenis gaya belajar karena tiap gaya belajar memiliki keunggulan dan kelemahan. Dosen juga perlu mengindahkan kebu­tuhan mahasiswa yang gaya belajarnya minoritas. Kecenderungan sikap patuh dan pasif pada mahasiswa nampaknya berhubungan dengan perilaku mahasiswa yang bergaya belajar reflector. Mahasiswa perlu menyadari preferensi gaya belajarnya yang dominan serta makin bersedia mengeksplorasi ketiga gaya belajar lainnya agar makin seimbang dalam memadukan pada ketiga gaya belajar lainnya sekaligus menjadi pebelajar yang lebih aktif dalam proses belajar.

Preferensi gaya belajar mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP – Universitas Kristen Satya Wacana dapat dikombinasikan sebagai berikut:

1) Kombinasi Reflector ~ Theorist pada 36,3% mahasiswa, terjadi gabungan reflector yang mengobservasi dan memproses informasi sebelum ambil kesimpulan atau meng­ajukan pendapat; perlu berpikir menyeluruh sesuai kecepatan belajarnya dengan theorist yang gemar berpikir secara metodis, rasional dan analitis; ingin serba sempurna/perfectionists mampu menjaga obyektivitas berpikir tetapi butuh tujuan belajar yang jelas dan belajar sebaik-baiknya jika struktur bahan belajar amat rapi.

2) Kombinasi Reflector ~ Pragmatist pada 30,4% mahasiswa, terjadi gabungan reflector dengan pragmatist yang suka mempelajari bahan yang praktis yang memberi peluang mencobakan hal-hal baru. Mahasiswa pragmatist butuh mengenali manfaat nyata dan bergembira melalui mempelajari sesuatu namun tidak menyukai teori-teori.

3) Kombinasi Activist ~ Pragmatist pada 20,6% mahasiswa, terjadi gabungan activist yang secara antusias suka pengalaman baru dan berpikiran terbuka; memikirkan gagasan-gagasan baru dan suka memimpin orang lain dengan pilihan pragmatist.

4) Kombinasi Theorist ~ Pragmatist pada 12,7% mahasiswa.

Gaya belajar versi Honey dan Mumford (2006) sebagai instrumen pengungkap gaya belajar individu menjadi titik tolak untuk meningkatkan kinerja mahasiswa secara individu dan kelompok. Dalam managemen, hasil identifikasi gaya belajar trainee bermanfaat untuk meningkat­kan keefektifan program training yang sudah diselaraskan dengan gaya belajar karyawan sehingga mengurangi biaya training sekaligus menghemat waktu dalam mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan peserta program melalui penyediaan peluang belajar yang sesuai secara perorangan maupun kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, C. Asri 2012. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Damrongpanit, Suntonrapot and Reungtragul, Auyporn. 2013. Matching of learning styles and teaching styles: Advantage and disadvantage on ninth-grade students’ academic achievements. Educational Research and Reviews. Vol. 8(20). 23 October, 2013. Academic Journals. Http://www.academicjournals.org. E-mail: [email protected]. Diunduh 1 Maret 2014.

Honey, P. & Mumford, A. 2006. Learning Style Helper Guide. Peterhoney Publication Limited.

_____. 2010. Learning Styles Questionnaire. Www.hrdevelopment.co.nz. Diunduh 1 Maret 2014.

Parul, Phanden dan Choudhary, Vikas. 2015. To Assess Preferred Learning Styles among Nursing Students at Selected Colleges of Nursing, Haryana. Research & Reviews: Journal of Nursing Science and Practice. 2015; 5(2): 28–30p. Diunduh 1 Mei 2016.

Sarabdeen, Jawahitha. 2013. Learning Styles and Training Methods. Communications of the IBIMA. Article ID 311167. Http://www.ibima­publishing.com/journals/ CIBIMA/cibima.html. Diunduh 1 Maret 2014.