EFEKTIFITAS LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL

DENGAN METODE DISKUSI TERHADAP PENYESUAIAN DIRI SISWA SMP NEGERI 6 SEMARANG

 

Inmas Sanidya Gupita 1)

Tri Suyati 2)

Farikha Wahyu Lestari 3)

1)Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling, FIP-Universitas PGRI Semarang

2) 3)Dosen Universitas PGRI Semarang

 

ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi sebagai berikut: ada beberapa siswa ingin pindah kelas lain dengan dengan alasan tidak nyaman, sering melamun di dalam kelas,siswa sering tidak dapat menyelesaikan tugas sekolah, tidak dapat memusatkan perhatian di kelas, merasa ada teman yang menjengkelkan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dalam bentuk desain penelitian One-gruop Pretest-Posttest Design. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negei 6 Semarang yang berjumlah 246 siswa yang terdiri dari 8 kelas. Sampel diambil secara undi yaitu dengan jumlah 216 siswa dari kelas VII B sampai VII H untuk mencari dua kelas yaitu sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunakan cluster random sampling. Data penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi dan skala Likert. Validitas instrumen menggunakan rumus Product Moment. Reliabilitas instrumen skala Likert menggunakan rumus Alpha. Hasil perhitungan menggunakan analisis uji tdiperoleh hasil thitung sebesar 7,30 dan ttabel diperoleh dari db = n-2 sebesar 2,009 pada taraf signifikan 5%. Berarti thitung (7,30) > ttabel (2,009), maka hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “Efektivitas Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi terhadap Penyesuaian Diri Siswa SMP Negeri 6 Semarang” diterima. Sedangkan hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi tidak Efektiv terhadap Penyesuaian Diri Siswa SMP Negeri 6 Semarang” ditolak pada taraf signifikansi 5%. Saran yang dapat peneliti sampaikan hendaknya guru pembimbing di sekolah memberikan layanan lanjutan berkenaan dengan penyesuaian diri.

Kata kunci :Bimbingan Klasikal, Metode Diskusi, Penyesuaian Diri

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan seseorang karena dengan pendidikan seseorang akan mendapatkan berbagai pengetahuan, pengalaman, keterampilan, serta kepribadian yang matang sehingga akan mampu bersikap dan bertingkah laku sesuai harapan masyarakat. Proses pendidikan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hal ini karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama yang merupakan faktor penting dalam pengembangan manusia dan masyarakat seutuhnya. Siswa memandang sekolah sebagai lembaga yang dapat mewujudkan cita-cita. Sementara orang tua berharap kepada sekolah untuk dapat mendidik anak agar menjadi orang yang berilmu, trampil dan berakhlak mulia.

Makna keberhasilan pendidikan seseorang terletak pada sejauh mana yang telah dipelajari dapat membantu dalam menyesuaiakan diri dengan keutuhan dan tuntutan lingkungan kehidupan. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari sekolah dan di luar sekolah, seseorang memiliki sejumlah kecakapan, minat, sikap, cita-cita, pandangan hidup, dapat menjadi seorang pribadi, dan memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan moral.

Proses penyesuaian diri dengan lingkungan sosial, tidak semua siswadapat melakukannya dengan baik tergantung kondisi fisik, psikologis, dan kepribadian siswa itu sendiri. Proses penyesuaian diri nantinya akan menimbulkan masalah pada individu itu sendiri. Jika individu dapat berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya tanpa menimbulkan gangguan dengan lingkungannya hal ini disebut “well adjusted” atau penyesuaian yang baik, begitu pula sebaliknya jika individu gagal dalam proses penyesuaian diri disebut “maladjusted” atau salah suai (Yusuf & Nurihsan, 2006: 210).

Hasil penelitian Rahmayanti (2013) mengugkapkan bahwadi sekolah, siswa dihadapkan pada masalah penyesuaian diri, terutama padasiswa yang baru memasuki SMP, siswa dituntut untuk dapat beradaptasi denganlingkungan barunya. Dalam proses penyesuaian diri sering siswa dihadapkanpada persoalan penerimaan dan penolakan dalam pergaulannya. Tingkah lakuyang ditunjukkan selalu ingin tampil beda dan mampu berbuat apa saja tanpa ragu.

Berdasarkan hasil DCM yang telah dilakukan oleh guru BK di SMP Negeri 6 Semarang menunjukan hasil bahwa dalam penyesuaian diri di lingkungan sekolah masih rendah dengan hasil pernyataan “saya ingin pindah kelas lain” dengan persentase 40%, “saya sering melamun di dalam kelas” dengan persentase 50%, “saya sering tidak dapat menyelesaikan tugas sekolah” dengan persentase 45%, “saya sering tidak dapat memusatkan perhatian di sekolah” dengan persentase 55%, dan “saya mempunyai teman yang sangat menjengkelkan” dengan persentase 55%.

Hal ini juga dipertegas dengan hasil wawancara dengan guru bimbingan konseling yang menangani siswa di SMP Negeri 6 Semarang pada tanggal 31 Agustus 2018, ada beberapa siswa yang memilih sesuai selera mereka ketika diberikan permainan kelompok.

Berdasarkan observasi peneliti pada tanggal 31 Agustus 2018 di kela VII terdapat siswa yang gaduh dan berbicara di dalam kelas saat jam pelajaran berlangsung, ada siswa yang melamun, beberapa siswa dihukum karena tidak mengerjakan tugas, dan beberapa siswa ijin meninggalkan pelajaran untuk ke toilet namun pergi ke kantin. Dari hasil observasi tersebut tingkat penyesuaian diri yang dimiliki rendah.

Peneliti melakukan wawancara pada tanggal 5 November 2018 dengan tiga siswa yang menyatakan bahwa di dalam kelas ada beberapa siswa yang tidak disenangi karena suka membuat kegaduhan di dalam kelas dan mengganggu konsentrasi belajar, tidak senang dengan siswa yang senang meminta kunci jawaban dan tugas, tidak senang dengan siswa yang senang mengadu domba, dan siswa sering ijin meninggalkan pelajaran untuk ke toilet namun pergi ke kantin, sehingga peneliti menyimpulkan bahwa siswa yang demikian tersebut dapat di katakan memiliki penyesuaian diri yang rendah kepada teman sebaya.

Rendahnya penyesuaian diri siswa yang dialami dapat berdampak pada komunikasi yang kurang baik, rendahnya minat belajar pada siswa, kurangnya kekompakan dalam kerja kelompok, kurang optimal dan fokus dalam proses pembelajaran.

Penyesuaian diri sangat penting untuk dimiliki oleh setiap siswa agar dapat menyesuaikan diri dengan baik,mampu bergaul dengan teman satu kelas,mampu memusatkan perhatian di kelas, serta merasa nyaman dengan suasana kelas. Sehubungan dengan hal ini bahwa siswa dikatakan dapat menyesuaikan diri dengan baik apabila kemajuan terjadi melalui fase perkembangan aspek perkembangan kesadaran tanggung jawab sosial. Dengan demikian siswa yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri mampu mencapai kondisi yang normal dan seimbang dalam lingkungan sosialnya.

Layanan bimbingan klasikal adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi, seperti layanan informasi pendidikan dan jabatan yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik. Layanan bimbingan klasikal bertujuan membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan, dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. Pemahaman yang diperoleh melalui layanan bimbingan klasikal digunakan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan kegiatan dan prestasi belajar, mengembangkan cita-cita, menyelenggarakan kehidupan sehari-hari dalam mengambil keputusan (Prayitno, 2001: 83).

Menurut Djamarah (2010: 87) menjelaskan metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa-siswa diharapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Diskusi merupakan suatu usaha bersama untuk memecahkan suatu masalah, yang didasarkan pada sejumlah data, bahan-bahan, dan pengalaman-pengalaman, dimana masalah ditinjau selengkap dan sedalam mungkin. Diskusi tidak diorganisir sebelumnya dan tidak disajikan secara langsung kepada siswa, pembelajaran ditemukan dan diorganisir oleh siswa sendiri karena tujuan utama diskusi bukan hanya sekedar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar. Secara umum ada dua jenis diskusi yang biasa dilakukan, yaitu diskusi kelompok besar (kelas) dan diskusi kelompok kecil. Pada diskusi kelompok permasalahan yang disajikan oleh guru dipecahkan oleh kelas secara keseluruhan. Pengatur jalannya diskusi adalah guru. Lain halnya pada diskusi kelompok kecil. Pada diskusi ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3-7 orang. Proses pelaksanaan diskusi dimulai dari guru menyajikan masalah dengan beberapa sub masalah. Setiap kelompok memecahkan sub masalah yang disampaikan guru. Proses diskusi diakhiri dengan laporan setiap kelompok.

Dari latar belakang tersebut, maka peneliti mengkaji judul: “Efektivitas Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi terhadap Penyesuaian Diri Siswa SMP Negeri 6 Semarang”.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diidentifikasikan bahwa masalah yang muncul adalah ada beberapa siswa ingin pindah kelas lain dengan dengan alasan tidak nyaman, sering melamun di dalam kelas, siswa sering tidak dapat menyelesaikan tugas sekolah, tidak dapat memusatkan perhatian di kelas, merasa ada teman yang menjengkelkan.

Pembatasan Masalah

Dari identifikasi masalah yang dijabarkan oleh peneliti maka ruang lingkup masalah yang dibahasakan dibatasi sehingga pembatasan masalah dalam penelitian ini tidak meluas. Penelitian ini hanya akan meneliti tentang “Efektivitas Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi terhadap Penyesuaian Diri Siswa SMP Negeri 6 Semarang”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah yang telah ada, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut: “Apakah Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi Efektif terhadap Penyesuaian Diri Siswa SMP Negeri 6 Semarang?”

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuiefektivitas layanan bimbingan klasikal melalui metode diskusi terhadap penyesuaian diri siswa SMP Negeri 6 Semarang.

Manfaat Penelitian

Manfaat teoretis yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dapat bermanfaat dalam mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan dalam bimbingan dan konseling, khususnya dalam pelayanan di sekolah. Maka layanan bimbingan klasikal melalui metode diskusi diberikan kepada siswa agar dapat meningkatkan penyesuaian diri yang tepat.

Manfaat praktis yang diperoleh dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagi peserta didik; melalui layanan bimbingan klasikal melalui metode diskusi dapat memberikan pemahaman mengenai penyesuaian diri yang tepat.
  2. Bagi guru bimbingan dan konseling; agar layanan bimbingan klasikal melalui metode diskusi dapat ditingkatkan untuk mencegah munculnya permasalahan penyesuaian.
  3. Bagi kepala sekolah; membantu kepala sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di sekolah, terutama dalam bidang pelayanan bimbingan dan konseling untuk peningkatkan penyesuaian diri yang dilakukan oleh siswa.

KAJIAN TEORI

Pengertian Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri berasal dari kata adijustment, yang dilakukan manusia sepanjang hayat. Karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan eksistensinya, sejak lahir berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan fisik, psikis dan sosial. Penyesuaian diri termasuk reaksi seseorang karena adanya tuntutan yang diberikan kepada dirinya. Penyesuaian diri adalah kemampuan siswa untuk berinteraksi karena tuntutan dalam memenuhi dorongan atau kebutuhan dan mencapai ketentraman batin dalam hubungannya dengan sekitar (Sundari, 2005: 39).

Menurut Ali (2006: 175) menambahkan penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penyesuaian yaitu kemampuan untuk merencanakan, mengorganisasikan respon dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik kesulitan dan frustasi tidak terganggu. Penyesuaian diri juga dapat diartikan sebagai adaptasi; dapat mempertahankan diri atau bisa “survive” dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.

Menurut Sunarto & Hartono (2008: 222), penyesuaian diri dapat diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip serta penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya secara positif memiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi. Dapat diartikan pula bahwa penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya.

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah penguasaan emosional secara matang terhadap segala sesuatu yang terjadi dari diri manusia sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar, sehingga akan tercipta suatu hubungan yang dinamis, selaras dan seimbang dengan proses kehidupan manusia. Melalui penyesuaian diri diharapkan siswa akan mendapatkan kehidupan yang layak tanpa memperoleh tekanan dari lingkungan.

Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi

Layanan bimbingan klasikal merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling. layananbimbingan klasikal adalah suatu layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada peserta didik sehingga mereka paham terhadap informasi karir (dunia usaha) dan dapat mengambil keputusan secara benar. Hal ini selaras dengan pendapat Ketut Sukardi (2008: 61), layanan bimbingan klasikal adalah layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orang tua) dalam menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan sehari-hari sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat.

Menurut Prayitno (2004: 33), layanan bimbingan klasikal adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memahami dan menerima berbagai informasi (seperti informasi pendidikan, kesehatan, dan informasi jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik.

Berdasarkan pengertiaan di atas dapat disimpulkan bahwa layanan informasi adalah suatu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik dapat memahami berbagai informasi yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan.

Menurut Sukardi (2010: 220) metode diskusi merupakan suatu pertemuan dua orang atau lebih yang ditunjukan untuk saling tukar pengalaman dan pendapat, dan biasanya menghasilkan suatu keputusan bersama. Selanjutnya menurut Tohirin ( 2015: 275) mengungkapkan bahwa metode diskusi merupakan suatu cara di mana siswa memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. sedangkan menurut Romlah (2001: 89) metode diskusi adalah usaha bersama untuk memecahkan masalah, yang didasarkan pada sejumlah data, bahan-bahan, dan pengalaman-pengalaman, dimana masalah ditinjau selengkap dan sedalam mungkin.

Berdasarkan pendapat mengenai diskusi yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan bahwa metode diskusi yaitu suatu usaha bersama yang dilakukan dua orang atau lebih untuk memecahkan masalah dan biasanya bertujuan untuk menghasilkan suatu keputusan bersama.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan klasikal melalui metode diskusi adalah suatu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik dapat memahami berbagai informasi yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan dalam suasana kelompok yang bertujuan untuk mencegah timbulnya masalah dengan jalan memberikan informasi dan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan serta suatu usaha bersama yang dilakukan dua orang atau lebih untuk memecahkan masalah dan bertujuan untuk menghasilkan suatu keputusan bersama.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode Penelitian

Menurut Sugiono (2016:14), metode penelitian dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Desain Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti memilih desain penelitianOne-gruop Pretest-Posttest Design. Sugiyono (2015:74) menjelaskan desain One-gruop Pretest-Posttest Designdilakukan dengan memberikan pretest sebelum diberikan perlakuan dan memberikan posttest setelah diberi perlakuan, dengan demikian hasil perlakuaan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data penelitian menunjukan bahwa dari hasil pretest rata-rata penyesuaian diri pada kelompok eksperimen 60,5. Sedangkan hasil posttest rata-rata penyesuaian diri siswa pada kelompok eksperimen sebesar 74,3. Dari hasil tersebut saatpretest dan posttest terlihat ada perbedaan sebesar 13, 8 setelah diberi layanan informasi.

Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan uji-t diperoleh hasil thitung sebesar 7,30 dan ttabel diperoleh dari db = n-2 sebesar 2,009 pada taraf signifikan 5%. Berarti thitung (7,30) > ttabel (2,009), maka hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “Efektivitas Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi terhadap Penyesuaian Diri Siswa SMP Negeri 6 Semarang” diterima. Sedangkan hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi tidak Efektiv terhadap Penyesuaian Diri Siswa SMP Negeri 6 Semarang” ditolak pada taraf signifikansi 5%.

Pembahasan

Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan uji-t diperoleh hasil thitung sebesar 7,30 dan ttabel diperoleh dari db = n-2 sebesar 2,009 pada taraf signifikan 5%. Berarti thitung (7,30)> ttabel (2,009), maka hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “layanan bimbingan klasikal melalui metode diskusi efektif terhadap penyesuaian diri siswa SMP Negeri 6 Semarang” diterima. Sedangkan hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “layanan bimbingan klasikal melalui metode diskusi tidak efektif terhadap penyesuaian diri siswa SMP Negeri 6 Semarang” ditolak pada taraf signifikansi 5%.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian metode Pre-Experimental Designs (non designs). Data penelitian menunjukan bahwa dari hasil pretest rata-rata penyesuaian diri pada kelompok eksperimen 60,5. Sedangkan hasil posttest rata-rata penyesuaian diri siswa pada kelompok eksperimen sebesar 74,3. Dari hasil tersebut saatpretest dan posttest terlihat ada perbedaan sebesar 13, 8 setelah diberi layanan informasi.

Penyesuaian diri sangat penting untuk dimiliki oleh setiap siswa agar dapat menyesuaikan diri dengan baik,mampu bergaul dengan teman satu kelas,mampu memusatkan perhatian di kelas, serta merasa nyaman dengan suasana kelas. Sehubungan dengan hal ini bahwa siswa dikatakan dapat menyesuaikan diri dengan baik apabila kemajuan terjadi melalui fase perkembangan aspek perkembangan kesadaran tanggung jawab sosial. Dengan demikian siswa yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri mampu mencapai kondisi yang normal dan seimbang dalam lingkungan sosialnya. Aspek dalam penyesuain diri ini meliputi: a) memiliki pertimbangan rasional yaitu dalam situasi ini tindakan yang dilakukan merupakan keputusan yang diambil berdasarkan perencanaan yang cermat. Keputusan diambil setelah mempertimbangkan dari berbagai segi untung dan rugi, b) menghargai pengalaman yaitu memulai pengalaman agar mampu belajar untuk menjadi lebih baik dalam melakukan penyesuaian diri, c) bersikap realistik yaitu mampu berfikir tentang apa keuntungan dan kerugian yang akan diperoleh dan lingkungan apa yang telah dilakukan dan tidak bersifat objektif dalam melakukan proses penyesuaian diri, d) sikap sosial yaitu siswa harus menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain, terhadap partisipasi sosial dan terhadap perannya dalam kelompok sosial, bila ingin dinilai sebagai orang yang dapat menyesuikan diri dengan baik secara social, e) tanggung jawab yaitu proses kemampuan untuk memenuhi nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakatnya. Setiap kelompok masyarakat memiliki sistem nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakatnya.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan layanan informasi dengan metode diskusi terhadap penyesuaian diri dengan alasan bahwa layanan informasi untuk dapat lebih mudah dalam membantu pemahamannya agar tidak terjadi kebingungan atau kefatalan yang dialami seperti masalah menentukan penyesuaian diri terkait masa depannya. Oleh karena itu dengan menggunakan metode diskusi, siswa dalam mengikuti layanan informasi yang bersifat klasikal, selain dapat mngikuti dan memahami materi yang berkaitan dengan penyesuaian diri, siswa dapat mengikutinya dengan sebuah metode layanan yang menarik. Tujuannya selain siswa dapat pemahaman baru, dapat meneipa apa yang disampaikan oleh guru atau konselor, siswa juga lebih semangat dalam mengikuti layanan informasi, dan bahkan tidak merasa jenuh atau membosankan. Menurut Sukardi (2010: 220) metode diskusi merupakan suatu pertemuan dua orang atau lebih yang ditunjukan untuk saling tukar pengalaman dan pendapat, dan biasanya menghasilkan suatu keputusan bersama.

Layanan informasi dengan metode diskusi dilakukan sebanyak lima kali dengan tema mampu memahami potensi yang ada pada diri sendiri dengan mengenali minat, bakat, sikap, keterampilan dan cita-citanya, memahami nilai-nilai yang ada dan berkembang dimasyarakat dan dunia kerja, merencanakan dan menentukan karir masa depannya, menemukan hambatan–hambatan dari diri sendiri dan lingkungan, memahami identitas karir yang berhubungan dengan identitas dirinya, jenis pendidikan dalam meraih cita–citanya.

Materi yang diberikan dalam treatment sesuai dengan indikator penelitian yaitu tentang penyesuaian diri. Materi pertama adalah memiliki pertimbangan rasional, materi keterbukaan diberikan agar siswa dapat memiliki pertimbangan yang baik, karena jika seseorang tidak dapat memiliki pertimbangan yang baik maka tidak akan dapat melakukan penyesuaian diri yang baik pula. Kemampuan dalam penyesuaian diri berdasarkan aspek pertimbangan rasional dilakukan. Aspek keterbukaan diri siswa terlihat dari keberanian pada saat memainkan peran mereka sesuai dengan peran masing-masing. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh dilakukan oleh Tio (2013), pada siswa kelas VIIE di SMP Negeri Muhammadiyah I Gisting, peneliti memberikan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama dalam upaya meningkatkan kemampuan penyesuaian diri siswa yang rendah, dan siswa mampu mengambil keputusan yang cermat dalam menghadapi masalah (memiliki pertimbangan rasional), terbukti berdasarkan hasil rata-rata skor skala.

Materi kedua adalah menghargai pengalaman. Dari kegiatan ini kemampuan penyesuaian diri berdasarkan aspek menghargai pengalaman berkembang dengan adanya saling tolong menolong dan peduli terhadap kondisi orang lain.

Materi ketiga adalah , bersikap realistik, materi ini diberikan agar siswa mampu bersikap realistik atau sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam penyesuaian diri di lingkungan sekitar. Dari kegiatan ini kemampuan penyesuaian diri berdasarkan aspek bersikap realistik berkembang dengan adanya saling mendukung pada anggota kelompok sehingga sosiodrama dapat terselesaikan dengan baik.

Materi keempat adalah sikap sosial, tujuan diberikan materi sikap sosial yaitu agar siswa dapat menumbuhkan sikap sosial yaitu dengan menghargai yang lebih tua dan mentaati tata tertib atau peraturan yang ada. Dari kegiatan ini kemampuan penyesuaian diri berdasarkan aspek sikap positif berkembang terlihat pada saat anggota kelompok mampu menyampaikan pesan dan menuliskan hal-hal yang positif kepada anggota kelompok lainnya. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh penelitian yang dilakukan oleh Mahmudi (2014), mengenai hubungan efikasi diri dan dukungan sosial dengan penyesuaian diri siswa, pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Larangan Kabupaten Pamekasan. Hasil analisis data ini menunjukkan efikasi diri dan dukungan sosial secara dengan penyesuaian diri siswa, sebesar 56,9%. Hasil analisis korelasi efikasi diri akademik dengan penyesuaian diri siswa. Data ini menunjukkan ada korelasi positif antara efikasi diri akademik dengan penyesuaian diri siswa, dengan sumbangan efektif sebesar 24,22%. Hasil analisis korelasi dukungan sosial dengan penyesuaian diri siswa. Data ini menunjukkan ada korelasi positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri siswa, dengan sumbangan efektif sebesar 32,68%. Dalam penelitian ini siswa menunjukan kemajuan pada aspek menghargai pengalaman, bersikap realistik, dan mampu meningkatkan jiwa sosial yang baik.

Materi kelima adalah bertanggung jawab, materi ini bertujuan agar siswa dapat menumbuhkan sikap bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan. Dari kegiatan ini kemampuan penyesuaian diri berdasarkan aspek bertanggung jawab terlihat dalam kelompok semua anggota berperan sesuai dengan peran masing-masing mengindikasikan bahwa siswa mulai menumbuhkan aspek tanggung jawab. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ibnu Ramadan (2015), mengenai hubungan penyesuaian diri di lingkungan sekolah dengan sikap tanggungjawab pada siswa kelas X MAN 1 Kota Magelang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara penyesuaian diri di sekolah dengan tanggungjawab pada siswa kelas X MAN 1 Kota Magelang, semakin tinggi penyesuaian diri di sekolah, maka semakin tinggi kepercayaan dirinya, dan sebaliknya semakin rendah penyesuaian diri di sekolah maka semakin rendah tanggungjawabnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan klasikal melalui metode diskusi efektif terhadap penyesuaian diri siswa SMP Negeri 6 Semarang.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan uji-t diperoleh hasil thitung sebesar 7,30 dan ttabel diperoleh dari db = n-2 sebesar 2,009 pada taraf signifikan 5%. Berarti thitung (7,30) > ttabel (2,009), maka hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “Efektivitas Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi terhadap Penyesuaian Diri Siswa SMP Negeri 6 Semarang” diterima. Sedangkan hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Layanan Bimbingan Klasikal melalui Metode Diskusi tidak Efektiv terhadap Penyesuaian Diri Siswa SMP Negeri 6 Semarang” ditolak pada taraf signifikansi 5%.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad & Asrori, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Gibson, Mitchell. 2011. Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Ghufron, M.Nur & S. Risnawita, Rini. 2011. Teori-teori Psikologi. Jogjakarta: AR-Ruzz Media.

Hafidz, Addahri. 2013. Teknik Bermain Peran pada Layanan Bimbingan Kelompok untuk meningkatkan Self-Estem. Padang: Volume 2, Nomor 1.

Hurlock, Elizabeth B. 2005. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Nurihsan.2012. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Refika Aditama.

Prayitno. 2004. Layanan Bimbingan Kelompok Konseling Kelompok. Padang: Universitas Negeri Padang.

Romlah, Tatiek. 2011. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang: Universitas Negeri Malang.

Soegeng, A.Y. 2006. Dasar-dasar Penelitian. Semarang: IKIP PGRI Semarang Press.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Sunarto & Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.

Sundari, Siti. 2005. Kesehatan Mental dalam Kehidupan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Winkel, W.S & Sri Hastuti.2005. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.