KONDISI SOSIAL-EKONOMI

MASYARAKAT SALATIGA

PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG

TAHUN 1942-1945

Sukma Windyasari

Mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP

Universitas Kristen Satya Wacana

ABSTRACT

Japan occupation in Salatiga has an impact as slave worker romusha exploitation brings people into suffering and poverty. Many people died as a result of starvation due to the difficulty of the needs of food and shelter. However, Japan occupation of Salatiga also provides the benefit to the society. This research aim is to describe the socio-economic condition of the people Salatiga during the Japanese occupation 1942-1945.

PENDAHULUAN

Setelah ratusan tahun lamanya menguasai Indonesia, akhirnya kekuasaan Belanda diserahkan kepada Jepang. Jepang menduduki Indonesia selama 3,5 tahun. Meskipun relatif singkat, Pendudukan Jepang di Indonesia cukup membuat goresan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia (Hendri F. Isnaeni dan Apid, 2008:24). Masa pendudukan Jepang dari bulan Maret 1942 sampai bulan Agustus 1945 merupakan suatu pengalaman berat dan pahit bagi kebanyakan orang di Indonesia. Kedatangan Jepang dengan propaganda dan janji-janji manisnya yang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia merupakan kebohongan belaka. Karena sebenarnya kedatangan dan pendudukan Jepang di Indonesia hanyalah untuk menguras kekayaan alam Indonesia yaitu bahan-bahan mentah untuk industrinya, terutama industri perangnya. Apalagi saat itu bersamaan dengan Perang Pasifik sehingga Jepang sangat membutuhkan minyak bumi untuk angkatan perangnya. Lama kelamaan pada periode 1942-1945 dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai masa pendudukan Jepang.

Seperti yang dipahami, orang-orang Jepang tidak memiliki keinginan untuk mendorong gejolak sosial atau untuk merevolusionerkan kehidupan di Indonesia, walaupun mereka sering menyatakan harapan untuk menggantikan “mentalitas kolonial”-nya dengan pandangan pribumi yang lebih bersemangat dan penuh keyakinan. Jepang tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh untuk me-Nipponkan rakyat dan kebudayaan Indonesia, walaupun secara terbatas ada usaha Jepang untuk mengajarkan dasar-dasar bahasanya dan menanamkan sebagian nilai-nilai kebudayaannya. Indonesia yang didudukinya akan menjadi negara boneka yang percaya pada diri sendiri ( Colin Wild dan Peter Carey, 1986:83-85).

Dalam gerakannya di Indonesia, pada tanggal 14 Februari 1942 tentara Jepang menurunkan pasukan payung di Palembang. Dengan jatuhnya Palembang, terbukalah pulau Jawa bagi tentara Jepang. Jepang segera menyusun Pemerintahan Balatentara Jepang di Jawa dan Madura di bawah Angkatan Darat. Semenjak berdirinya pemerintah militer Jepang, maka semua pegawai harus menandatangani surat pernyataan setia kepada Pemerintahan Bala Tentara Dai Nippon dan diharuskan memakai ban lengan putih dengan bendera merah di tengah (bendera Jepang). Asisten Residen Solotigo Nuson masih diwajibkan kerja kurang lebih 1 bulan lamanya sampai akhirnya semua pemerintahan Hindia Belanda dihapuskan dan nama seluruh jawatan di rubah dengan istilah-istilah Jepang (Handjojo, 1973:18).

Jepang memberi kesempatan kepada orang Indonesia untuk menduduki posisi penting yang dahulu hanya dijabat oleh orang-orang kulit putih (Eropa). Pendudukan Jepang memberikan pengaruh terhadap kebudayaan, sosial, ekonomi, politik serta terhadap pendidikan. Jepang memperkenalkan kebijakan ekonomi yang sangat memeras masyarakat pribumi. Sasaran utama eksploitasi di Jawa adalah hasil-hasil pertanian dan tenaga kerja membuat penulis tertarik meneliti tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat Salatiga masa pendudukan Jepang 1942-1945.

TINJAUAN PUSTAKA

Rumahtangga ekonomi suatu Negara dapat dianalisa menjadi tiga macam rumah tangga, yakni (Prajudi Atmosudirdjo, 1983:19):

1) Rumahtangga ekonomi sosial, dimana titik beratnya diletakkan pada kegiatan-kegiatan masyarakat, pada orang-orang yang mengejar tingkat hidup yang setinggi-tingginya.

2) Rumahtangga ekonomi produksi, yang menekankan pada produksi, distribusi, dan konsumsi barang (fisik atau jasa).

3) Rumahtangga ekonomi moneter yang menitikberatkan pada uang dan peranan uang, peredaran uang, volume uang, arus uang beserta efek-efeknya.

Dalam periode 1800-1860 rakyat biasa pada umumnya masih bekerja rodi, masih disuruh bekerja tanpa dibayar atau dihargai secara layak. Baru sesudah tahun 1860 lambat laun rakyat pekerja biasa bekerja dengan mendapatkan upah yang sesuai dengan prestasinya, walaupun masih jauh di bawah standard internasional. Pada tahun 1870-1900, Indonesia memasuki zaman Liberalisme yang pada masa itu untuk pertama kalinya usaha dan modal swasta diberi peluang sepenuhnya untuk menanamkan modal di berbagai usaha kegiatan ekonomi di Indonesia. Meluasnya pengaruh ekonomi Barat dalam masyarakat Indonesia sejak zaman Liberal mempunyai akibat yang buruk bagi usaha kerajinan di Indonesia karena baik mutu maupun harga tidak dapat bersaing dengan barang-barang hasil industri Barat (Sartono Kartodirdjo, 1975:90).

Pada bulan Maret 1942 Jepang berhasil merebut Hindia Belanda sesuai dengan rencana. Setelah pemerintah Hindia Belanda memperhitungkan bahwa invasi Jepang tidak dapat ditahan lagi, maka mulailah dilaksanakan aksi bumi-hangus. Obyek-onyek vital dihancurkan, yang sebagian besar terdiri atas aparat produksi. Akibatnya pada saat pertama pendudukan Jepang hampir seluruh kehidupan ekonomi lumpuh. Kehidupan ekonomi berubah dari keadaan normal menjadi ekonomi perang (Sartono Kartodirdjo, 1975:141). Jepang mengambil alih semua bidang kegiatan dan pengawasan ekonomi. Seluruh potensi sumber daya alam dan bahan mentah digunakan untuk industri yang mendukung perang. Jepang menyita seluruh hasil perkebunan, pabrik, bank dan perusahaan penting. Akibat titik berat kebijakan difokuskan pada ekonomi dan industri perang, menyebabkan lahan pertanian banyak yang terbengkalai. Kondisi tersbut menyebabkan produksi pangan menurun dan kelaparan serta kemiskinan meningkat drastis (Hendri F. Isnaeni dan Apid, 2008:37).

Masyarakat, dalam bahasa Inggris disebut society yang berasal dari bahasa Latin socius, yang berarti kawan. Istilah masyarakat sendiri berasal dari akar kata syaraka yang berarti ikut serta atau berpartisipasi. Masyarakat ialah sekumpulan manusia yang saling bergaul, atau beriteraksi. Namun tidak semua kesatuan manusia yang bergaul atau berinteraksi merupakan masyarakat, karena suatu masyarakat harus mempunyai suatu ikatan lain yang khusus. Ikatan tersebut ialah pola tingkah laku yang khas mengenai semua faktor kahidupannya dalam batas kesatuan itu dan pola tersebut sudah menjadi adat istiadat yang khas (Koentjaraningrat, 2002:144).

 

Pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942-1945

Pendudukan Jepang di Salatiga tahun 1942-1945

Pengaruh pendudukan Jepang di Salatiga

Militer

Sosial

Ekonomi

Kebudayaaan

Politik

Mata Pencaharian

Aspek Pendidikan

Kegiatan Niaga

Perubahan Sosial

Aspek Kesehatan

Pemenuhan Kebutuhan Sandang dan Pangan

Tenaga Romusha

Adapun kerangka berpikir penelitian tergambar dalam diagram sebagai berikut:

Gambar 1. Kerangka Berpikir

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, verifikasi (kritik), interpretasi, dan historiografi. Dalam penelitian ini ada tiga sumber data yang dimanfaatkan yaitu buku, arsip, dokumen, dan informan (narasumber). Dalam hal ini, peneliti mencari sumber buku, dokumen dan arsip di perpustakaan UKSW, Perpusnas, dan Arsip Nasional Republik Indonesia serta wawancara dengan saksi-saksi sejarah masa pendudukan Jepang di Salatiga.

Kondisi Geografis dan Pemerintahan Kota Salatiga

Kota Salatiga merupakan kota pegunungan yang terletak di lereng Gunung Merbabu, dengan ketinggian rata-rata 600 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 23-24o C. Salatiga berada di kaki Gunung Merbabu dan gunung-gunung lainnya. Salatiga berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Semarang yang dibatasi oleh desa-desa yang juga termasuk wilayah Kabupaten Semarang. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pabelan dan Kecamatan Tuntang, sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Getasan dan Kecamatan Tengaran, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pabelan dan Kecamatan Tengaran, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kecamatan Getasan dan Kecamatan Tuntang (Pemerintah Daerah Kotamadia Daerah Tingkat II Salatiga, 1995:13-15).

Perkembangan sistem pemerintahan di Salatiga tidak terlepas dari tuntutan orang-orang Eropa yang tinggal di Salatiga. Mereka menuntut pemerintah Hindia Belanda supaya Salatiga diberi status gementee yang kemudian disetujui oeh kerajaan Belanda pada tanggal 25 Juni 1917. Gementee Salatiga dipimpin oleh seorang Burgermeester (walikota) yang ditunjuk oeh Gubernur Jenderal. Adapun yang menjadi daerah gementee Salatiga (Emmy Wuryani, 2006:58) ialah Salatiga atau Krajan, Sidorejo Lor, Kutowinangun, Kalicacing, Ledok, Gendongan, dan Mangunsari.

Sedangkan menurut mantan walikota Salatiga, RM Handjojo, daerah stadsgementee Solotigo terdiri dari 8 desa yang wilayahnya diambil dari wilayah Asistenan Solotigo, yaitu sebagian besar dari Desa Sidorejo Lor sekarang, sebagian besar dari Desa Solotigo Krajan sekarang, sebagian besar dari desa Kutowinangun sekarang, seluruh Desa Kalicacing sekarang, kurang lebih separo dari Desa Mangunsari sekarang, sebagian besar dari Desa Gendongan sekarang, sebagian kecil dari Desa Tegalrejo sekarang dan sebagian kecil dari Desa Ledok sekarang. Beberapa bagian dari desa tidak dimasukkan dalam stadsgementee kerana penduduknya sedikit, merupakan tanah sawah dan tegalan serta mencari batas yang lurus dan menggunakan jalur atau sungai sebagai batas.

Pendudukan Jepang di Salatiga

Menurut RM Handjojo, bala tentara Jepang menduduki kota Salatiga yang datang dari arah Solo dengan kekuatan kurang lebih setengah batalyon. Setelah pemerintahan Hindia Belanda menyerah tanpa syarat pada tanggal 9 Maret 1942, mulailah masa pendudukan Jepang di Salatiga yang ditandai dengan penurunan bendera Hindia Belanda yang dikibarkan di rumah Asisten Residen Nuson dengan disaksikan oleh seorang opsir Jepang (1975: 17).

Menurut Undang-Undang No. 27 tentang perubahan tata pemerintahan daerah, seluruh Pulau Jawa dan Madura, kecuali dua koci Surakarta dan Yogyakarta, dibagi atas:

1. Syuu (Karesidenan), yang terbagi atas Si dan Ken

2. Si (Kotapraja atau sama dengan “stadsgementee” dahulu), dipimpin Shityo (Walikota). Shityo pertama R. Patah

3. Ken (Kabupaten atau sama dengan “regentschap” dahulu), dipimpin Kenjo (Bupati). Daerah ken terbagi atas gun

4. Gun (Kawedanan atau sama dengan “district” dahulu),dipimpin Guntyo (Wedono), Guntyo pertama ialah Soemitro

5. Son (Kecamatan atau sama dengan “onderdistrict” dahulu), dipimpin oleh Shontyo. Contoh: Bringin-Son

6. Ku (Desa), dipimpin Kutyo atau Lurah/ Kepala Desa

Untuk Pulau Jawa sendiri terdapat 17 Syuu (karesidenan). Di Jawa Tengah terbagi atas 5 Syuu, yaitu Pekalongan, Banyumas, Pati, Kedu dan Semarang. Salatiga masuk dalam Semarang Syuu. Sedangkan wilayah Jepara-Rembang diganti namanya menjadi Pati Syuu. Salatiga sendiri masuk Karesidenan Semarang/ Semarang Syuu (DEPDIKBUD, 1979:13).

Kondisi Sosial-Ekonomi Salatiga Pada Masa pendudukan Jepang

1. Mata Pencaharian Penduduk

Dengan adanya peraturan yang dikeluarkan pemerintah Jepang mengenai pengumpulan bahan makanan terutama padi, serta letak kota Salatiga yang berada di lereng Gunung Merbabu maka dapat dipastikan mata pencaharian penduduk Salatiga adalah bertani. Selain menjadi petani, mata pencaharian lain ialah menjadi peternak, pegawai negeri, pedagang serta buruh.

Pemeliharaan ternak merupakan suatu usaha untuk menguatkan ekonomi masyarakat disamping pertanian. Ditinjau dari sudut makanan yang sebagian masyarakat mengkonsumsi daging ayam, sapi maupun kerbau mendorong masyarakat bekerja sebagai peternak. Selain dapat dijual, hewan ternak seperti kerbau dan sapi menjadi sarana perhubungan lalu lintas pada masa itu (Sinar Baroe 6 Djoeni 2604 hal 3 kol 1).

2. Pemenuhan Kebutuhan Sandang dan Pangan

Sulitnya pemenuhan kebutuhan pangan semakin terasa bertambah berat pada saat rakyat juga merasakan penggunaan sandang yang sngat memprihatinkan. Rakyat hanya memakai pakaian compang-camping, ada yang terbut dari karung goni yang berdampak pada penyakit gatal-gatal akibat kutu di dalam karung tersebut. Ada pula yang hanya menggunakan lembaran karet sebagai penutup.

3. Tenaga Romusha

Romusha secara harafiah berarti seorang pekerja yang melakukan pekerjaan sebagai buruh kasar (Aiko Kurasawa, 1993:123). Sebagian besar tenaga romusha ialah petani biasa, yang diperintahkan supaya bekerja pada proyek pembangunan dan pabrik. Awalnya, romusha dipekerjakan sebagai buruh tetap, namun lama kelamaan mereka mulai dianggap kurang lebih sebagai buruh kuli paksaan. Romusha dipekerjakan untuk mengumpulkan tanaman iles-iles, membuat pupuk, mencangkul dan sebagainya untuk kemudian diserahkan kepada Jepang. Rakyat yang menjadi romusha tidak hanya dipekerjakan di desa saja tetapi juga dikirim ke Kalimantan dan Burma. Awalnya romusha dijanjikan menerima upah dari Jepang, sehingga banyak rakyat yang bersedia untuk menjadi romusha. Namun pada kenyataannya romusha setiap hari hanya dibayar dengan jagung rebus sakbumbung (secangkir) atau beras untuk makan. Pada waktu pendudukan Jepang tahun 1942-1945, banyak romusha yang kehilangan nyawa akibat kelaparan. Mereka sulit sekali memperoleh tambahan makanan dengan uang mereka sendiri. Akibatnya banyak juga yang mengalami kekurangan gizi. Bagi masyarakat yang memiliki sawah, hasil padi sebagian disetor ke ABC (koperasi milik Jepang) dan sebagian lagi untuk makanan sehari-hari. Bagi mereka yang tidak memiliki sawah, untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, rakyat bekerja menjadi buruh kasar bagi orang-orang yang memiliki sawah (wawancara dengan Bp. Kaslan 9 Desember 2012).

4. Kegiatan Niaga

Menurut Meta Sekar Puji Astuti (2008:119), pengembangan jaringan toko Jepang di Jawa Tengah sangat pesat dan mencapai pelosok-pelosok kota kecil seperti Prembun di daerah Kebumen, Muntilan, Magelang, Karanganyar, Purworejo, Cepu, Salatiga, Wonosobo dan lainnya. Selain pengembangan toko-toko Jepang, orang-orang Jepang melakukan bisnis perkebunan, peternakan dan penanaman bunga di daerah tersebut.

Dalam hal perniagaan, semasa pendudukan Jepang di Salatiga, dibuka sebuah perusahaan milik orang Cina bernama Tjien Lam Kong Jap Shie di Djalan Solo. Perusahaan ini memproduksi potlot tinta, potlot hitam, kapur tulis ,dan kuas untuk cat (Sinar Baroe 7 Djoeni 2604 hal 4 kol 2).

5. Perubahan Sosial

Pada masa pendudukan Jepang, lahir satu kelompok baru yaitu golongan pemuda. Di kalangan masyarakat, kedudukan Peta dianggap kedudukan yang paling tinggi. Status mereka seringkali lebih tinggi dari seorang kepala daerah. Apabila seseorang menjadi anggota Peta, maka statusnya menjadi naik. Di Salatiga sendiri pernah diadakan acara khusus untuk menghormati prajurit Peta dan Heiho dengan mengadakan penghormatan, penyambutan atas kedatangan prajurit serta perjamuan sederhana (Sinar Baroe 5 Go-Gatsu 2604 hal 2 kol 2). Prajurit Peta dan Heiho mendapatkan perlakuan khusus baik dari masyarakat maupun dari pemerintah.

Kelompok lain yang juga mengalami perubahan status pada masa pendudukan Jepang ialah kelompok guru dan golongan ulama. Jepang meningkatkan status golongan ini sebagai guru-guru di desa untuk menjadi pemimpin. Para pemimpin agama juga diberi kesempatan untuk menjadi kepala daerah.

Golongan minoritas seperti Indo-Eropa, peranakan Cina, peranakan Arab dan lainnya mengalami kemerosotan dalam kedudukan. Apabila dalam sistem masyarakat kolonial zaman Belanda kedudukan mereka lebih tinggi dari kedudukan bangsa Indonesia yang menempati lapisan terendah, maka pada zaman Jepang orang-orang yang sebelumnya malu dengan statusnya sebagai golongan Indo, mulai bangga menyatakan dirinya sebagai peranakan yaitu berasal dari ayah atau ibu Indonesia (Sartono Kartodirdjo, 1975:137).

6. Sistem Pendidikan

Pada masa pendudukan Jepang diskriminasi mulai dihilangkan. Rakyat dari lapisan manapun berhak mengenyam pendidikan formal. Jenjang pendidikan pada masa Jepang disamakan dengan negara Jepang, yakni Sekolah Dasar 6 tahun, Sekolah Menengah 3 tahun dan Sekolah Menengah Tinggi 3 tahun. Jenjang pendidikan semacam ini masih digunakan di Indonesia sampai saat ini.

Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar di semua sekolah dan bahasa Jepang diberikan sebagai mata pelajaran wajib. Selain sekolah formal, Jepang juga membuka berbagai kursus. Dibuktikan dengan dibukanya kursus Bahasa Nippon (Jepang) dan Bahasa Indonesia di Salatiga yang diikuti 110 orang laki-laki dan perempuan. Adapun guru bahasa Jepang adalah Tuan S. Ito dan Tuan Widdisiswojo dibantu Tuan Soetomo mengajarkan Bahasa Indonesia dan Olahraga (Sinar Baroe 15 Agoestoes 2604, hal 2 kol 3).

Dalam surat kabar Sinar Baroe 21 Djoeli 2604 hal 4 kolom 5, selain kursus Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia, Jepang juga membuka kursus kesehatan yang dibuka di Gedoeng Nippon-Go Gakko Djetis. Kursus ini diikuti oleh para guru di Salatiga dan sekitarnya. Lama kursus ini 3 minggu dan masuk setiap pukul 6-7 sore dan dilatih oleh dokter dari Semarang dan Salatiga.

Di Salatiga, Jepang membuka Sekolah Guru Negeri untuk lelaki atau Sekolah Guru Lelaki yang bertempat di belakang rumah Sekolah Normal. Sekolah Guru Lelaki menerima murid sebanyak 70 anak berusia 14-17 tahun dan lamanya belajar selama 4 tahun. Setiap bulan murid dikenakan biaya sebesar f 5 (Sinar Baroe 19 Go Gatsu 2604 hal 4, kol 5).

Dalam aspek pendidikan, kurikulum dan sistem pengajaran disesuaikan untuk kepentingan perang. Oleh sebab itu Jepang selalu mewajibkan siswa mengikuti latihan dasar kemiliteran. Siswa dan guru juga diwajibkan menghafal lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo” serta melakukan penghormatan kepada Tenno (Kaisar) yang dipercaya sebagai keturunan Ometerasu Omikami (Dewa Matahari). Menurut P.t Shuchokan dalam Sinar Baroe tanggal 6 Djoeni 2604 hal 3 kol 1“ Salatiga adalah pusat Semarang Syuu dan layak untuk tempat belajar, disebabkan hawanya yang baik itu”.

7. Kesehatan

Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942-1945, kondisi kesehatan rakyat mulai memprihatinkan akibat pengerahan tenaga romusha di daerah-daerah. Romusha menderita berbagai penyakit dan kelelahan yang luar biasa, dan beberapa diantaranya meninggal dunia.

Menurut Bapak Kaslan, untuk menjaga kesehatan, rakyat seringkali membuat ramuan sendiri untuk mengobati penyakitnya. Mereka menggunakan daun-daunan yang mereka temukan meskipun pengetahuan mengenai obat-obatan sangat terbatas. Untuk mengobati masuk angin, misalnya mereka menggunakan daun dadap serep

SIMPULAN

Pemerintah Jepang memperluas jajahannya ke Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan industri dan perang. Pendudukan Jepang memberikan pengaruh terhadap kebudayaan, sosial, ekonomi, politik serta terhadap pendidikan. Jepang memperkenalkan kebijakan ekonomi yang sangat memeras masyarakat pribumi. Sasaran utama eksploitasi di Jawa adalah hasil-hasil pertanian dan tenaga kerja.

Pendudukan Jepang di Salatiga dirasakan sebagai eksploitasi tenaga romusha yang membawa masyarakat pada penderitaan dan kemiskinan. Banyak masyarakat yang meninggal karena kelaparan disebabkan sulitnya memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Meskipun begitu, pendudukan Jepang di Salatiga juga memberikan hal yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam hal pendidikan, semua warga pribumi boleh mengenyam pendidikan baik di sekolah formal maupun di berbagai pelatihan yang dibuka Jepang, seperti kursus Bahasa Jepang dan kursus kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1977.Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah. Jakarta:Balai Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1980.Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1943 Jawa Tengah. Jakarta:Balai Pustaka

Emmy Wuryani.2006.Distrik Salatiga 1900-1942. Thesis. Yogyakarta: Program Studi Sejarah Bidang Ilmu Humaniora,Universitas Gadjah Mada

Handjojo, RM.1973.Riwayat Kota Solotigo 1942-1945.Pemda Salatiga

Hendri F. Isnaeni dan Apid.2008.Romusha: Sejarah yang Terlupakan.Yogyakarta: Penerbit Ombak

Koentjaraningrat.2002.Pengantar Antropologi.Jakarta: P.D Aksara

Meta Sekar Puji Astuti.2008.Apakah Mereka Mata-Mata?Orang-Orang Jepang di Indonesia (1868-1942).Yogyakarta: Penerbit Ombak

Pemerintah Daerah Kotamadia Daerah Tingkat II Salatiga.1995. Hari Jadi Kota Salatiga 24 Juli 750 M.Salatiga: PEMDA Kota Salatiga

Prajudi Atmosudirdjo.1983.Sejarah Ekonomi Indonesia dari Segi Sosiologi Sampai Akhir Abad XIX.Jakarta: Pradnya Paramitha

Sagimun, MD.1985. Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Fasisme Jepang.Jakarta: Inti Idayu Press

Sartono Kartodirdjo,dkk.1975Sejarah Nasional Indonesia jilid IV:Abad Kesembilanbelas (1800-1900).Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

—————————–.1975.Sejarah Nasional Indonesia jilid VI: Jaman Jepang dan Jaman Republik Indonesia (1942-1970).Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Selo Soemardjan.2009.Perubahan Sosial di Yogyakarta.Jakarta: Komunitas Bambu

Wild, Colin dan Peter Carey.1986.Gelora Api Revolusi: Sebuah Antologi Sejarah.Jakarta: PT Gramedia

Sinar Baroe 5 Go-Gatsu 2604 hal 2 kol 2

Sinar Baroe 19 Go Gatsu 2604 hal 4, kol 5

Sinar Baroe 6 Djoeni 2604 hal 3 kol 1

Sinar Baroe 7 Djoeni 2604 hal 4 kol 2

Sinar Baroe 21 Djoeli 2604 hal 4 kol 5

Sinar Baroe 15 Agoestoes 2604 hal 2 kol 3

Wawancara dengan Bapak kaslan 9 Desember 2012