UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

MENDENGARKAN CERITA MELALUI METODE DISKUSI

DENGAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF JIGSAW

DAN MEDIA AUDIO SISWA KELAS V SDN 4 MURYOLOBO KECAMATAN NALUMSARI KABUPATEN JEPARA

TAHUN PELAJARAN 2017/2018

 

Suparto

Guru SDN 4 Muryolobo Nalumsari Jepara

 

ABSTRAK

Ketidakaktifan siswa tersebut dimungkinkan karena pemanfaatan metode belum variatif, dalam pembelajaran di kelas terkesan didominasi oleh guru, proses pembelajaran yang dilakukan lebih mementingkan pada menghafal konsep bukan pada pemahaman. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif. Nilai hasil belajar yang diperoleh belum memuaskan, sebab masih banyak siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Dari 24 siswa yang tuntas hanya 6 (25%) siswa, dengan rata-rata klasikal 60. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia perlu adanya perbaikan, sehingga penelitian dilanjutkan pada proses Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Guna mendapatkan hasil penelitian yang diharapkan dan kegiatan penelitian ini terarah dengan baik, maka pelaksanaan Penelitian dalam penelitian ini dilaksanakan menurut suatu rangkaian langkah-langkah (a spiral of steps) yaitu langkah penelitian yang dikemukakan oleh Kurt Lewin (Me Riff, 1992: 21-22). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) membawa dampak positif dalam pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan metode diskusi melalui model pembelajaran koopratif jigsaw dan media audio dapat penulis simpulkan: (a). Dengan menggunakan pembelajaran kooperatif jigsaw kemampuan dan hasil belajar siswa meningkat, (b) Dengan menggunakan media audio pembelajaran yang dilakukan guru menjadi lebih efektif dan membuat siswa lebih aktif dan tertarik serta merasa mempunyai tanggung jawab, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik, (c) Dengan pembelajaran kooperatif jigsaw hasil belajar siswa yang terus meningkat dari masing-masing tahapan pembelajaran dengan rata-rata klasikal pada pembelajaran awal pra siklus 58,33 naik menjadi 67,08 dan meningkat lagi menjadi 76,67 pada Penelitian siklus 2.

Kata Kunci:    Hasil Belajar, Metode Diskusi, Model Pembelajaran Cooperatif Jigsaw Dan Media Audio

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Proses pembelajaran merupakan interaksi yang dilakukan oleh peserta didik dengan guru dalam situasi pendidikan untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan (Mulayani, 2001:5). Seorang guru Sekolah Dasar sewajarnya memahami bahwa komponen anak merupakan komponen terpenting dalam proses pembelajaran, karenanya proses pembelajaran harus dicipatakan atas dasar pemahaman siapa dan bagaimana anak tumbuh dan berkembang. Dengan kata lain proses pembelajaran secara praktis dikembangkan guru di Sekolah Dasar dituntut untuk berorientasi pada perkembangan anak secara tepat.

Salah satu aspek kebahasaan yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman terhadap cerita rakyat melalui proses mendengarkan. Melalui mendengarkan siswa akan mampu memberikan tanggapan secara kritis dengan pemahaman dan kepekaan terhadap gagasan, pendapat dan perasaan orang lain dalam berbagai bentuk wacana lisan dan informasi yang dilihat. Sedangkan melalui cerita rakyat diharapkan siswa Sekolah Dasar mampu mengasah kepekaan mereka terhadap karya sastra, baik terhadap nilai – nilai intrinsik yang terdapat didalamnya maupun nilai – nilai ekstrinsik yang dapat mereka ambil melalu sebuah cerita kemudian meningkatkan kemampuan mereka dalam bercerita berdasarkan sebuah cerita yang telah mereka dengar secara lisan. Dimana suatu cerita dibangun oleh unsur-unsur cerita, yang oleh Titiek W.S., dkk, disebut sebagai elemen-elemen cerita atau unsur-unsur cerita yaitu tema dan amanat, tokoh, latar, alur atau plot, sudut pandang, dan gaya.

Bila hal ini dikaitkan dengan peningkatan hasil pembelajaran Bahasa Indonesia maka guru harus memiliki strategi pembelajaran efektif agar siswa dapat belajar secara aktif dan meningkatkan kemampuan kebahasaanya secara optimal. Namun apa yang diharapkan guru jauh dari harapan sebab guru sulit melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas. Ketidakaktifan siswa tersebut dimungkinkan karena pemanfaatan metode belum variatif, dalam pembelajaran di kelas terkesan didominasi oleh guru, proses pembelajaran yang dilakukan lebih mementingkan pada menghafal konsep bukan pada pemahaman. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.

Nilai hasil belajar yang diperoleh belum memuaskan, sebab masih banyak siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Dari 24 siswa yang tuntas hanya 6 (25%) siswa, dengan rata-rata klasikal 60. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia perlu adanya perbaikan, sehingga dilanjutkan pada proses Penelitian

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti melakukan refleksi dan hasilnya menunjukkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi mendengarkan cerita rakyat di kelas V SDN 4 Muryolobo masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil ulangan dengan materi mendengarkan cerita rakyat dimana siswa yang mendapat nilai diatas KKM (>70) hanya 6 siswa (25%) sedangkan yang memperoleh nilai kurang dari KKM (<70) 18 siswa (75%). Selain itu keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran dengan materi mendengarkan cerita rakyat ini masih kurang. Siswa kurang tertantang dan kurang antusias terhadap materi mendengarkan cerita rakyat, siswa kurang berkonsentrasi, siswa tidak berani bertanya, sebagian ada yang bermain sendiri,

Melalui PTK ini bertujuan untuk: (1) Mengaktifkan siswa dalam pembelajaran mendengarkan cerita rakyat melalui metode diskusi dengan model pembelajaran cooperatif jigsaw dan penggunaan media audio pada siswa kelas V SDN 4 Muryolobo, (2) Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran mendengarkan cerita rakyat melalui metode diskusi dengan model pembelajaran cooperatif jigsaw dan penggunaan media audio pada siswa kelas V SDN 4 Muryolobo.

 

KAJIAN PUSTAKA

Hasil Belajar Siswa

Dalam proses pengajaran unsur proses belajar memegang peranan yang vital. Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik – baiknya tentang proses belajar mengajar agar guru dapat memberikan bimbingan dan penyediaan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi peserta didik.

Menurut Abin Syamsuddin (dalam Taufiq. dkk, 2010:5.4) belajar adalah proses mengalami sesuatu untuk menghasilkan perubahan tingkah laku dan pribadi.

Belajar pada dasarnya adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan (Hamalik, 2001:28)

Menurut Hilgard (dalam Sanjaya, 2005:89) belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.

Menurut Gagne (dalam Winataputra. dkk, 2007:2.3) belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman

Sedangkan Morgan et.al (dalam Anni. dkk, 2006:2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman.                      

 Hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan oleh guru (Depdiknas, 2005: 895).

Menurut Anni dkk. (2006:5) prestasi atau hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupa-kan tingkat penguasaan terhadap suatu hal setelah mengalami proses dan aktivitas belajar dan dinyatakan dengan nilai yang meliputi keterampilan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Guna mendapatkan hasil penelitian yang diharapkan dan kegiatan penelitian ini terarah dengan baik, maka pelaksanaan Penelitian dalam penelitian ini dilaksanakan menurut suatu rangkaian langkah-langkah (a spiral of steps) yaitu langkah penelitian yang dikemukakan oleh Kurt Lewin (Me Riff, 1992: 21-22) sebagai berikut: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi.

Setelah melaksanakan seluruh proses pembelajaran, guru memerlukan refleksi untuk kinerjanya, sehingga dapat menentukan tindakan seterusnya terhadap penelitian yang sedang dilakukan. Hasil refleksi pada pembelajaran awal menemukan hal-hal berikut ini: (1) Nilai hasil belajar siswa masih di bawah KKM. Dimana rata-rata klasikal pada tahap pembelajaran ini hanya 58,33 dengan persentase ketuntasan hanya 25%. Dari 24 siswa hanya 6 siswa yang mampu maraih nilai di atas KKM (>70), (2) Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran masih didominasi siswa yang pandai, (3) Penelitian dilanjutkan pada pertbaikan pembelajaran I melalui proses Penelitian.

Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif.

Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiata pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.

Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum KTSP yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor KKM, KKM mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V SDN 4 Muryolobo adalah ≥ KKM (70), dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 75% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Per Siklus

Berdasarkan masalah yang diajukan dalam kegiatan penelitian ini beserta tujuan dan manfaatnya, maka bentuk penelitian yang dilakukan peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun strategi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal. Karena peneliti dalam melakukan penelitian hanya menggunakan satu sekolah saja, yakni SDN 4 Muryolobo Kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara.

Setelah melaksanakan seluruh proses pembelajaran, guru memerlukan refleksi untuk kinerjanya, sehingga dapat menentukan tindakan seterusnya terhadap penelitian yang sedang dilakukan. Hasil refleksi pada pembelajaran awal pra siklus peneliti sampaikan pada tabel dan diagram di bawah ini.

Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Bahasa Indonesia Pembelajaran Awal

Pra Siklus

No

Rentang Nilai

Banyak Siswa

1

0- 49

2

50-59

13

3

60-69

5

4

70-79

3

5

80-89

3

6

89-99

7

100

Jumlah

24

Persentase Hasil Tes Formatif Pembelajaran Awal Pra Siklus

Nilai

0-40

50

60

70

80

90

100

Jml siswa

Tuntas

Belum Tuntas

Jml

Nilai

rata rata

Taraf Seraf

Byk siswa

%

Byk siswa

%

Byk siswa

13

5

3

3

24

6

25%

18

75%

1400

58,33

58,33%

 

Setelah melakukan seluruh proses pembelajaran awal pra siklus, guru melakukan refleksi untuk menilai kinerja, sehingga dapat menentukan tindakan berikutnya terhadap penelitian yang sedang dilakukan. Hasil refleksi guru menemukan hal-hal sebagai berikut: (a) Nilai hasil belajar belum memuaskan, sebab masih banyak siswa yang mendapat nilai di bawah standart ketuntasan, (b) Dari 24 siswa yang tuntas hanya 6 (25%) siswa, dengan rata-rata klasikal 58,33. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Awal pra siklus perlu adanya perbaikan, sehingga penelitian ini dilanjutkan pada proses Penelitian siklus 1.

Siklus 1

Pada pelaksanaan Penelitian siklus 1 ini aktifitas siswa dalam pembelajaran lebih meningkat dari pada saat pelaksanaan pembelajaran awal. Hal ini sangat berpengaruh pada capaian prestasi belajar siswa.

Setelah melaksanakan seluruh proses pembelajaran, guru memerlukan refleksi untuk kinerjanya, sehingga dapat menentukan tindakan seterusnya terhadap penelitian yang sedang dilakukan. Hasil refleksi pada Penelitian siklus 1 menemukan hal-hal berikut: (1) Nilai hasil belajar siswa telah mengalami perubahan lebih baik bila dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya dimana capaian rata-rata klasikal 67,08 dengan tingkat ketuntasan 45,8%, yaitu dari 24 siswa yang memperoleh nilai di atas KKM 70 sebanyak 11 siswa, (2) Keaktifan siswa sudah terlihat lebih meningkat karena siswa merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskan materi kepada teman kelompoknya dan merasa senang dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, (3) Penelitian dilanjutkan pada Penelitian siklus 2. Hal ini terpaksa dilakukan peneliti mengingat persentase hasil belajar siswa masih dibawah kriteria ketuntasan yang diharapkan.

Untuk mengetahui capaian prestasi belajar siswa pada Penelitian siklus 1, berikut peneliti sajikan dalam tabel dan diagram prestasi belajar siswa pada Penelitian siklus 1 berikut.

Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Bahasa Indonesia Penelitian Siklus 1

No

Rentang Nilai

Banyak Siswa

1

0- 49

2

50-59

3

60-69

13

4

70-79

5

5

80-89

6

6

89-99

7

100

Jumlah

24

Persentase Hasil Tes Penelitian Siklus 1

Nilai

0-40

50

60

70

80

90

100

Jml siswa

Tuntas

Belum Tuntas

Jml

Nilai

rata rata

Taraf Seraf

Byk siswa

%

Byk siswa

%

Byk siswa

13

5

6

24

11

45,8%

13

54,2%

1610

67,08

67,08%

 

Setelah melakukan seluruh proses Penelitian siklus 1, Guru melakukan refleksi untuk menilai kinerja, sehingga dapat menentukan tindakan berikutnya terhadap penelitian yang sedang dilakukan. Hasil refleksi guru menemukan hal-hal sebagai berikut: (a) Prestasi hasil belajar pada Penelitian siklus 1 sudah ada peningkatan, dimana capaian rata-rata klasikal mencapai 67,08. Namun hal tersebut masih belum memuaskan, sebab masih banyak siswa yang mendapat nilai di bawah standart ketuntasan, (b)          Dari 24 siswa yang tuntas hanya 11 (45,8%) siswa, dengan rata-rata klasikal 67,08. Hal ini menunjukkan bahwa Penelitian siklus 1 perlu adanya perbaikan, sehingga penelitian ini dilanjutkan pada proses Penelitian siklus 2

Siklus 2

Setelah melaksanakan seluruh proses pembelajaran, guru memerlukan refleksi untuk kinerjanya, sehingga dapat menentukan tindakan seterusnya terhadap penelitian yang sedang dilakukan. Hasil refleksi pada Penelitian siklus 2 menemukan hal-hal berikut. (1) Prestasi hasil belajar siswa telah mengalami perubahan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya. Dimana rata-rata klasikal pada tahap Penelitian 2 mencapai 76,67. Sedangkan banyaknya siswa yang mampu meraih nilai sesuai dengan kriteria ketuntasan berjumlah 21 dari 24 siswa, dengan persentase ketuntasan 887,5%. Sehingga kegiatan Penelitian yang dilakukan sudah mencapai ketuntasan yang diharapkan, (2)                      Keaktifan siswa terlihat lebih meningkat karena siswa merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskan materi kepada teman kelompoknya dan merasa senang dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, (3) Meskipun mesih terdapat hal-hal yang dirasakan kurang memuaskan karena masih terdapat siswa yang belum mencapai KKM, tetapi siklus Penelitian tidak dilanjutkan lagi. Peneliti menganggap bahwa siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar mempunyai tingkat kecerdasan akademis rendah. Hal ini dapat dilihat dari Buku Laporan Hasil Belajar (Rapor) pada kelas-kelas sebelumnya. Peneliti berharap siswa tersebut masih mempunyai kemampuan bidang-bidang lain yang bisa dikembangkan.

Capaian prestasi belajar siswa pada Penelitian siklus 2 peneliti sampaikan melalui tabel analisis hasil belajar, tabel rekapitulasi hasil belajar, tabel persentasi hasil belajar dan diagram capaian prestasi hasil belajar di bawah ini.

 

 

 

 

 

Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Bahasa Indonesia Penelitian Siklus 2

No

Rentang Nilai

Banyak Siswa

1

0- 49

2

50-59

3

60-69

3

4

70-79

10

5

80-89

4

6

89-99

6

7

100

1

Jumlah

24

 

Persentase Hasil Tes Penelitian Siklus 2

Nilai

0-40

50

60

70

80

90

100

Jml siswa

Tuntas

Belum Tuntas

Jml

Nilai

rata rata

Taraf Seraf

Byk siswa

%

Byk siswa

%

Byk siswa

3

10

4

6

1

24

24

87,5%

3

12,5%

1840

76,67

76,67%

 

Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian

   Proses Penelitian dalam penelitian yang dilaksanakan selama tiga tahapan pembelajaran telah menghasilkan perubahan yang lebih baik terhadap aktifitas dan hasil belajar siswa bila dibandingkan sebelum diadakannya Penelitian.

Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw siswa menjadi lebih tertarik dan mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan soal yang menjadi tanggung jawabnya dan menjelaskan kepada kelompoknya. Disamping itu, hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari sebelumnya. Dari data hasil tes formatif menunjukkan bahwa dari keseluruhan siswa yang ada di kelas V SDN 4 Muryolobo mengalami peningkatan nilai dan kenaikan persentase ketuntasan, yang peneliti sampaikan pada tabel berikut:

Peningkatan Prestasi Belajar siswa Per Siklus

No.

Tahap Pembelajaran

Rata-Rata kelas

Ketuntasan

1.

Pembelajaran awal pra siklus

58,33

25%

2.

Penelitian siklus 1

67,08

50%

3.

Penelitian siklus 2

76,67

87,5%

 

Capaian prestasi belajar siswa di atas peneliti dapatkan dari hasil tiga tahapan pembelajaran sebagai berikut.

 

 

1.    Pembahasan Pembelajaran Awal Pra Siklus

Dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung, ternyata hasil belajar siswa sudah lebih baik dari pembelajaran awal PTK. Tetapi ternyata masih jauh dari harapan penulis. Melihat kenyataan yang demikian peneliti dengan teman sejawat kemudian menyusun konsep dan melakukan pengamatan untuk Penelitian. Menurut Piaget (1990) bahwa memaknai ‘belajar’ sebagai proses dalam mengontruksi pengetahuan melalui proses internal seseorang dan interaksi dengan orang lain. Hasil belajar juga dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan berfikir, konsep diri dan percaya diri dalam proses belajar. Adapun hasil pengamatan oleh observer pada guru menunjukan bahwa kompetensi yang dimiliki guru dalam mengelola pembelajaran terdapat banyak kekurangan diantaranya adalah dalam menjelaskan materi guru kurang memberikan contoh-contoh konkrit, guru kurang trampil dalam mengajar, sehingga terkesan lamban. Masih dalam teori Piaget tentang perkembangan kognitif, agar lebih efektif guru harus memperhatikan dirinya sendiri dan muridnya. Hal ini dibentuk dengan tujuan mengontraksi prinsip-prinsip belajar secara alamiah yang hasilnya berupa prosedur-prosedur yang dapat diterapkan pada situasi kelas untuk mendapatkan hasil yang produktif. Hal ini sangat penting untuk diketahui oleh guru, agar didalam menyampaikan materi pelajaran harus menimbang beberapa hal termasuk faktor perkembangan intelektual siswa dan pemahaman penalaran. Melihat hal yang demikian penulis kemudian merefleksi diri dan meminta teman supervisor 2 untuk kembali melakukan pengamatan untuk Penelitian. Hasil dari pengamatan diperoleh bahwa siswa banyak yang belum aktif dan tidak bisa mengerjakan tes formatif pada akhir pelajaran. Ternyata siswa belum dapat mencapai hasil belajar yang diharapkan. Hal ini menjadi bahan perimbangan penulis, ternyata keadaan siswa dan latar belakang siswa dengan guru mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi permasalahan ini, penulis menggunakan metode dan pendekatan kontruktivistik untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

2.    Pembahasan Penelitian Siklus 1

Pada Penelitian siklus1 terjadi perubahan dalam pembelajaran. Hasil dari pengamatan untuk siswa terdapat perubahan yang menggembirakan. Siswa sudah aktif didalam kelompok belajar dan sudah merespon pertanyaan dari guru tanpa rasa takut dan ragu-ragu. Siswa sudah dapat menjawab soal-soal tes yang diberikan guru dengan dibuktikan dari hasil tes terdapat kenaikan nilai yang signifikan. Adapun permasalahan dari guru dalam proses pembelajaran telah diusahakan semaksimal mungkin untuk menggunakan ketrampilan mengajar dalam pengelolaan kelasnya. Peneliti mengoptimalkan kegiatan siswa dalam mengerjakan LKS bersama kelompoknya. Siswa dibentuk perkelompok dengan sistem pembelajaran yang kooperatif yang melibatkan siswa menjadi tutor sebaya dibawah bimbingan guru. Siswa akan terlatih untuk bekerjasama dan bersaing secara sehat dalam suasana belajar yang dikemas seperti dalam permainan. Sehingga siswa tidak merasa tertekan dan takut menghadapi soal-soal Bahasa Indonesia, khususnya dalam materi cerita rakyat.

3. Pembahasan Penelitian Siklus 2

Upaya peneliti pada tahap Penelitian siklus 2 dititik beratkan pada keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran guna capaian nilai yang sesuai dengan standar ketuntasan yang diinginkan. Seperti data yang terdapat pada siklus 1, bahwa keberhasilan pembelajaran masih dipengaruhi oleh kegiatan kelompok,sehingga belum dapat diketahui kemampuan siswa secara individu. Oleh sebab itu, dalam Penelitian siklus 2 ini peneliti menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar siswa dalam pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi pokok cerita rakyat.

Tes formatif pada Penelitian siklus 2 telah dikerjakan siswa dengan tertib. Siswa telah menguasai materi dengan baik. Sehingga hasil tes meningkat lebih baik dibandingkan dengan nilai pada pemberlajaran awal pra siklus dan Penelitian siklus 1, sebab dalam Penelitian siklus 2 ini nilai rata-rata yang dicapai siswa adalah 76,67 dengan tingkat ketuntasan klasikal mencapai 87,5%. Hal ini menunjukan bahwa Penelitian yang dilakukan guru telah berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Karena dari tes yang diberikan pada siswa dapat mengukur tingkat kemampuan siswa. Penelitian yang peneliti lakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melaui pendekatan kooperatif tipe jigsaw telah mengubah pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centerd) menjadi berpusat pada siswa (student centerd). Guru tidak lagi mendominasi proses pembelajaran, melainkan melibatkan siswa untuk aktif mencoba, menentukan, mencari dan menemukan serta menyimpulkan apa yang didapat dari proses belajar. Walaupun demikian guru harus tetap melaksanakan fungsinya dan perannya dalam proses belajar mengajar yaitu memfasilitasi, memotivasi dan membimbing siswa dalam proses pembelajaran. Dari penjelasan diatas pembelajaran yang dicapai dapat optimal sehingga ada pengaruh nyata antara penelitian tindakan kelas dengan peningkatan hasil belajar siswa.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) membawa dampak positif dalam pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan metode diskusi melalui model pembelajaran koopratif jigsaw dan media audio dapat penulis simpulkan: (a)       Dengan menggunakan pembelajaran kooperatif jigsaw kemampuan dan hasil belajar siswa meningkat, (b). Dengan menggunakan media audio pembelajaran yang dilakukan guru menjadi lebih efektif dan membuat siswa lebih aktif dan tertarik serta merasa mempunyai tanggung jawab, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik, (c) Dengan pembelajaran kooperatif jigsaw hasil belajar siswa yang terus meningkat dari masing-masing tahapan pembelajaran dengan rata-rata klasikal pada pembelajaran awal pra siklus 58,33 naik menjadi 67,08 dan meningkat lagi menjadi 76,67 pada Penelitian siklus 2.

Saran

Berdasarkan simpulan di atas, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut: (a) Hendaknya guru menggunakan metode pembelajaran yang tepat agar pembelajaran Bahasa Indonesia lebih mudah, menyenangkan dan bermakna, (b) Hendaknya guru berusaha menggunakan alat peraga dan memilih media yang tepat dalam pembelajaran, (c) Hendaknya guru menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Andayani, dkk. (2011). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta: Universitas Terbuka

Arsjad, G Maida dan Mukti US. (1991). Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Jurnal Pendidikan Widya Tama, Volume 2 No 4. Desember (2005). Semarang: LPMP Jawa Tengah

Asma, Nur. (2006). Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: Depdiknas.

BSNP. (2006). Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.

Hamalik, Oemar. (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Majid, Abdul. (2008). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Satori, Djam’an. (2009). Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Taufiq, Agus. (2010). Pendidikan Anak di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wardhani, I.G.A.K. dkk. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka

Winataputra, Udin S. dkk. (2007). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Winataputra, Udin S. dkk. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Munadi, Yudhi. (2008). Media Pembelajaran, Sebuah Pendekatan Baru. Ciputat: Gaung Persada Press

Denny Setiawan. 2007. Komputer dan Media Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Edgar Dale. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta. Dekti. Depdiknas.

Poerwadarminta, W.J.S. (1995). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Santosa, Puji, dkk. (2010). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Setyosari, Punaji & Sihkabuden. (2005). Media Pembelajaran. Malang: Elang Mas

Sumantri, Mulyani. (2001). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Maulana

Zuchdi, darmiyati dan Budiasih. (2001). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: PAS

Zuhairini, dkk. (1993). Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional