UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

SISWA KELAS IX A MTs NEGERI 1 DEMAK

MELALUI PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN

HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS)

DENGAN PEMBERIAN LEMBAR KERJA

 

Lilik Nurhandayani

MTs Negeri 1 Demak Jawa Tengah

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peningkatan hasil belajar mata pelajaran matematika siswa kelas IX A MTs Negeri 1 Demak tahun pelajaran 2018 / 2019 dengan menggunakan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dengan Pemberian Lembar Kerja. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX A MTs Negeri 1 Demak, sedangkan objek penelitian adalah penerapan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dengan Pemberian Lembar Kerja, hasil belajar siswa pada materi kesebangunan bangun datar. Data diperoleh melalui observasi, penyebaran angket, kajian dokumen, lembar observasi pembelajaran, kuis dan tes ulangan harian. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dengan Pemberian Lembar Kerja dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siklus I sebesar 70,98% menjadi 84,97% pada siklus II dan peningkatan persentase ketuntasan belajar siklus I sebesar 72% menjadi 87,18% pada siklus II. Sebagai data pendukung, capaian hasil observasi penerapan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dengan Pemberian Lembar Kerja dari siklus I sebesar 70,77 menjadi 83,08 pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dengan Pemberian Lembar Kerja dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran matematika siswa kelas IX A MTs Negeri 1 Demak pada tahun pelajaran 2018 / 2019.

Kata Kunci: Hasil Belajar, HOTS dan pembelajaran

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Untuk memperoleh hasil pembelajaran yang berkualitas ada tiga unsur yang harus diperhatikan, yaitu: guru, siswa, dan kurikulum yang digunakan. Dalam hal ini, guru memiliki peran penting dalam pembelajaran, sebagaimana yang diungkapkan Wina Sanjaya dalam bukunya “Dalam implementasi standar proses pendidikan, guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan sangat bergantung pada guru sebagai ujung tombak.”(Wina Sanjaya, 2006) Sehingga untuk mencapai hal tersebut, guru harus mampu memilih dan menggunakan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Roestijah juga menegaskan dalam bukunya bahwa ”Guru harus mampu memilih dan menggunakan strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien, sehingga mengena pada tujuan yang diharapkan.” Dengan demikian, diharapkan siswa dapat lebih mengembangkan semua potensi yang dimilikinya sehingga mutu pendidikan dapat lebih meningkat.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara teoritik kualitas pembelajaran sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan Djamarah bahwa “Kualitas pembelajaran mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar”. Ini menandakan bahwasanya semakin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran, maka akan semakin tinggi pula hasil belajarnya. Hasil belajar siswa biasanya diperoleh dari hasil tes yang dilakukan guru setiap mata pelajaran, salah satunya yaitu mata pelajaran matematika. Padahal matematika merupakan pelajaran yang dapat melatih siswa untuk berfikir secara logis, sistematis, kritis, serta mampu memecahkan masalah. Selain itu, matematika penting bagi siswa yaitu sebagai alat bantu, sebagai ilmu, sebagai pembimbing pola pikir (ilmiah) maupun sebagai pembentuk sikap”. (Rusffendi, 1998)

Salah satu contoh madrasah yang nilai rata-rata matematika siswanya masih rendah yaitu MTs Negeri 1 Demak, pada tahun pelajaran 2018/2019 rata-rata nilai matematika siswa (pra siklus) di MTs Negeri 1 Demak adalah 61,92 dan nilai tersebut belum mencapai ketuntasan yang diharapkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang guru mata pelajaran Matematika di MTs Negeri 1 Demak, diperoleh keterangan bahwa Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dalam mata pelajaranmatematika di madrasah tersebut adalah 70. Beliau juga memperlihatkan dokumentasi yang menunjukkan bahwa siswa banyak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang memerlukan analisis yang tinggi khususnya pada pokok bahasan kesebangunan bangundatar khususnya dalam soal penyelesaian masalah. Pada dasarnya guru telah berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil belajar matematika di madrasah tersebut, adapun usaha yang telah dilakukan diantaranya mengadakan diskusi kelompok, mengulangi materi yang belum dimengerti, memberikan soal latihan tambahan, serta memberikan ulangan perbaikan. Namun semua usaha yang dilakukan guru tersebut tidak begitu berhasil. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berikut:

  1. Setiap kali diberikan tugas rumah, rata-rata siswa memperoleh nilai yang rendah, bahkan ada yang tidak mengerjakan PR.
  2. Rata-rata hasil ulangan harian siswa belum memenuhi KKM.
  3. Rata-rata siswa selalu salah dalam menyelesaikan pemecahan masalah yang yang membutuhkan analisis yang tinggi khususnya pada materi kebangunan bangun datar.
  4. Dalam penyelesaian soal pemacahan masalah, rata-rata siswa tidak mampu menentukan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dalam soal sehingga mereka tidak dapat merumuskan langkah-langkah penyelesaiannya, belum dapat mengembangkan pikirannya dalam penyelesaian masalah.

Berdasarkan dari beberapa gejala di atas, terlihat bahwa selama ini strategi dan metode yang digunakan pendidik di MTs Negeri 1 Demak, masih bersifat konvensional dan belum mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa sehingga hasil belajar matematika di madrasah tersebut masih belum optimal. Salah satu usaha untuk mengatasi permasalahan di atas adalah guru harus mampu memilih dan menggunakan strategi yang dapat mendorong siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikirnya sehingga menjadi suatu pemikiran tingkat tinggi khususnya dalam pembelajaran matematika yang sangat memerlukan analisis yang tinggi dalam penyelesaiannya. Sesuai dengan amanat Kurikulum 2013 menyatakan bahwa potensi siswa harus dapat dikembangkan secara optimal dan di dalam proses belajar matematika, siswa dituntut untuk mampu melakukan kegiatan penelusuran pola dan hubungan, mengembangkan kreatifitas dengan imajinasi, intuisi dan penemuannya, melakukan kegiatan pemecahan masalah, dan mengkomunikasikan pemikiran matematisnya kepada orang lain. (Pemendikbud, 2016) untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang menyenangkan, memperhatikan keinginan siswa, mengembnagkan pikin siswa, membangun pengetahuan dari apa yang diketahui siswa, menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan kegiatan yang menantang, memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan, menghargai setiap pencapaian peserta didik (Permendikbud, 2016). Adapun strategi pembelajaran yang diperlukan dalam Kurikulum 2013 adalah strategi yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa. Salah satu strategi pembelajaran yang memuat komponen keterampilan berpikir adalah strategi pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) atau yang disebut strategi berpikir tingkat tinggi. Adapun alasan mengapa HOTS perlu diterapkan dalam pembelajaran, sebagaimana yang diungkapkan oleh (Adi W. Gunawan, 2007) “Tiga alasan utama mengapa peserta didik harus mampu berpikir secara HOTS, pertama untuk mengerti informasi, kedua untuk proses berpikir yang berkualitas, ketiga untuk hasil akhir/produk yang berkualitas”. Dalam strategi HOTS, pembelajaran akan lebih efektif karena siswa dihadapkan pada suatu permasalahan dan akan dilatih untuk mampu memecahkan masalah tersebut. Sesuai dengan pendapat (Dimyati dan Mudjiono, 2002) yang mengatakan bahwa “Pembelajaran yang efektif dimana siswa terlibat langsung dalam situasi kognitif yaitu berkenaan dengan prilaku dalam aspek berpikir, aktifitas otak, dan keterampilan memecahkan masalah”. Strategi ini tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan pada siswa, akan tetapi memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan ide-idenya sendiri dengan kata lain siswa harus terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Dengan adanya strategi pembelajaran HOTS yang akan diterapkan dalam penelitian ini, nantinya akan melibatkan siswa secara langsung dalam pemecahan masalah yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Sehingga secara teoritis jika siswa telah memiliki keahlian HOTS, maka nilai matematika siswa pun akan lebih meningkat. Untuk mendapatkan hasil belajar siswa yang lebih baik tentu diperlukan penerapan strategi dan teknik yang tepat. Salah satu teknik yang dapat membantu untuk meningkatkan keterampilan berpikir dan daya ingat siswa dalam penerapan strategi pembelajaran HOTS ini adalah dengan pemberian lembar kerja siswa. Lembar kerja merupakan lembaran yang dikerjakan siswa yang berisi prosedur melakukan percobaan, mengidentifikasi bagian-bagian, membuat tabel, melakukan pengamatan, menggunakan mikroskop atau alat pengamatan lainnya dan menuliskan atau menggambar hasil pengamatannya, melakukan pengukuran dan mencatat data hasil pengukurannya, menganalisis data hasil pengukuran, dan menarik kesimpulan (Suyanto, Paidi, dan Wilujeng, 2011)

Berdasarkan penjelasan di atas, secara teoretis dapat dikatakan bahwa melalui penerapan strategi HOTS dengan pemberian lembar kerja dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa, hal ini dikarenakan strategi dan teknik tersebut lebih mengutamakan kemampuan berpikir otak (menyelaraskan kerja otak kiri dan otak kanan). Dengan demikian, penulis mencoba meningkatkan hasil belajar matematika siswa MTs Negeri 1 Demak kelas IX A khususnya pada materi kesebangunan bangun datar. Berdasarkan asumsi tersebut, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IX A MTs Negeri 1 Demak Melalui Penerapan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dengan Pemberian Lembar Kerja.

Rumusan Masalah

Apakah melalui penerapan strategi pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IX A MTs Negeri 1 Demak pada materi kesebangunan bangun datar?

Landasan Kepustakaan

Hasil Belajar

Menurut (Slameto, 2003) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan yaitu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan defenisi tersebut, secara sedarhana belajar dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan individu yang dapat ditunjukan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, dan sikap atau tingkahlaku yang diperoleh dari lingkungannya. Adapun implikasi dari suatu proses pembelajaran adalah hasil belajar itu sendiri. Sebagaimana yang dikatakan (Roestijah, 2002) bahwa “Hasil belajar yang merupakan pengukuran pengajaran yaitu keberhasilan siswa”. Dengan demikian, hasil belajar merupakan kompetensi dan kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar yang ditunjukan dengan indikator-indikator tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa berhasil atau tidaknya pembelajaran tersebut sangat bergantung pada proses pembelajaran, sehingga peoses pembelajaran haruslah diciptakan semenarik mungkin. Sebagaimana diungkapkan oleh Peter Kline bahwa “Belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan (fun and enjoy).”3 Untuk itu perlu diciptakan suasana dan sistem (kondisi) belajar yang kondusif, di samping faktor lain yang akan menentukan hasil belajar siswa. Sedangkan hasil belajar matematika dalam penelitian ini adalah kompetensi yang dimiliki atau dicapai siswa dalam bentuk angka atau skor dari hasil tes setelah dilakukannya tindakan pada materi kesebangunan bangun datar. Untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai sudah optimum ataupun belum, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu tujuan dari pembelajaran tersebut. Secara umum ada tiga tujuan pembelajaran, yaitu untuk mendapatkan pengetahuan, untuk menanamkan konsep dan pengetahuan, dan untuk membentuk sikap atau kepribadian.

Strategi Pembelajaran Higher Order ThinkingSkill (HOTS)

Kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill) selanjutnya disingkat HOTS, telah sejak lama diwacanakan dan diteliti oleh para ahli. Diantaranya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Bloom tahun 1956, Rensick tahun 1987, dan Marzano tahun 1988 dan 1992. Menurut Bloom dalam (Peter dan Fook, 2003), HOTS merupakan kemampuan abstrak yang berada pada ranah kognitif dari taksonomi sasaran pendidikan yakni mencakup analisis, sintesis, evaluasi dan kreasi. Sedangkan menurut Resnick, HOTS adalah suatu proses yang melibatkan mental, seperti: klasifikasi, induksi, deduksi, dan reasoning. Menurut (Adi W. Gunawan, 2007) sendiri dalam bukunya Genius Learning Strategy mendefenisikan Higher Order Thinkin Skill (HOTS) sebagai strategi berpikir tingkat tinggi, dimana siswa diharuskan untuk memanipulasi informasi dan ide-ide dalam cara tertentu yang dapat memberi mereka pengertian dan implikasi baru. Contohnya adalah saat siswa dihadapkan pada suatu masalah maka ia dituntut untuk mampu mengenali dan menganalisis masalah yang diberikan sampai pada penarikan kesimpulan atas penyelesaian yang dibuatnya. Dari beberapa teori tentang berpikir HOTS di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir HOTS yang dimaksud yaitu kemampuan non-prosedural yang antara lain mencakup beberapa hal yaitu kemampuan mencari dan mengeksplorasi pola untuk memahami struktur serta hubungan yang mendasarinya, menggunakan fakta-fakta yang tersedia secara efektif dan tepat untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, di dalam strategi HOTS peserta didik dilatih untuk mampu memiliki keahlian memecahkan masalah (Problem Solving). Pada dasarnya strategi ini bergantung kepada kemampuan guru dalam menyusun pertanyaan yang bermutu yang akan menuntun peserta didik berpikir pada tingkat yang lebih tinggi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pra Siklus

Observasi pra siklus dilakukan menggunakan hasil belajar (Penilaian Akhir Semseter) semester Genap tahun pelajaran 2017/2018, mata pelajaran matematika kelas IX A.

Tabel 4.1. DAFTAR NILAI PRA SIKLUS

NO URAIAN NILAI T/TT
1 RATA – RATA 61,92  
 2 Tuntas 10 25,64%
 3 Tidak Tuntas 29 74,36%
 4 Jumlah Siswa 39  

 

Hasil nilai pra siklus pada tabel 4.1. menunjukkan bahwa persentase ketuntasan hasil belajar hanya 25,64%, atau dengan kata lain 74,36% siswa tidak tuntas belajar, dengan nilai KKM adalah 70. Rata-rata hasil belajar pra siklus hanya 61,92.

Siklus I

Perencanaan Siklus I

Kegiatan belajar pada penelitian dilakukan dengan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja. Tahap perencanaan siklus I dilaksanakan dengan menyusun instrumen penelitian. Instrumen penelitian meliputi Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP) matematika untuk meteri kesebangunan bangun datar, membuat lembar kerja, soal tes kuis dan soal ulangan harian. Sebagai data pendukung penelitian dilengkapi dengan angket observasi pembelajaran guru, dan angket siswa tentang kepuasan penggunaan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja.

Pelaksanaan Siklus I

Kegiatan siklus I terdiri dari dua pertemuan. Pelaksanaan siklus I guru: menerapkan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja. Pada pertemuan pertama siswa diberikan pengarahan tentang Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja dengan tujuan agar dalam pelaksannan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Jumlah siswa yang hadir adalah 100% dengan total siswa sebanyak 39 siswa. Guru memberikan materi dengan metode tanya jawab tentang menemukan syarat dua bangun yang sebangun dan menggunakan syarat kesebangunan untuk membuktikan dua bangun yang sebangun, dengan menggunakan pertanyaan HOTS (pertanyaan tingkat tinggi). Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal yang belum difahami terhadap materi yang telah disampaikan. Interaksi antara guru dan siswa berlangsung. Observasi terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar juga dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran di kelas. Pertemuan kedua kegiatan pembelajaran dipusatkan pada diskusi siswa dalam kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja yang memuat pertanyaan HOTS. Pembagian anggota kelompok ini bersifat heterogen yang didasarkan pada kemampuan akademik. Jumlah siswa yang hadir adalah 100% sehingga setiap siswa dapat bekerja pada kelompoknya masing-masing. Guru membagikan Lembar Kerja diskusi kepada siswa mencakup materi menggunakan syarat dua bangun yang sebangun. Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja adalah 1). Klarifikasi Masalah, (siswa memahami masalah dan menganalisis masalah dengan bantuan guru dan Lembar Kerja), 2). Pengungkapan Pendapat, (siswa dibebaskan mengungkapkan pendapat bagaimana menyelesaikan masalah yang diberikan dengan menggunakan cara-cara penyelesaian masalah melalui Lembar kerja, 3). Pemilihan dan Implementasi, (siswa memilih cara yang mereka gunakan setelah itu melakukan perhitungan, mengembangkan kemungkinan-kemungkinan solusi, menetapkan solusi yang terbaik, dan menerapkan solusi yang telah dipilih) 4). Evaluasi, (siswa memeriksa kembali hasil yang diperoleh (looking back), mengamati dan mengevaluasi solusi serta menarik kesimpulan. Langkah terakhir adalah memeriksa jawabannya). Pada akhir pembelajaran guru bersama siswa menarik kesimpulan tentang masalah yang telah didiskusikan. Pertemuan ketiga guru memberikan tes pasca siklus I. Siswa yang hadir pada pertemuan ketiga ini adalah 39 siswa (100%).

Observasi dan Evaluasi Siklus I

Pada tahap observasi dan evaluasi siklus I dilakukan pengamatan terhadap proses belajar siswa dengan menggunakan instrumen-instrumen yang telah disusun. Fokus pengamatan ditekankan pada penerapan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja terhadap kualitas pembelajaran secara menyeluruh. Hasil belajar siswa diperoleh dari rata-rata nilai tes kuis dan tes ulangan harian diakhir siklus I. Soal-soal pada siklus I ini meliputi konsep “kesebangunan dan menggunakan konsep kesebangunan untuk membuktikan dua bangun yang sebangun”. Berikut adalah reakpitulasi nilai hasil belajar siklus I.

Tabel 4.2. REKAPITULASI HASIL BELAJAR SISWA SIKLUS I

NO NAMA Kuis 1 Kuis 2 UH Rerata T/TT
1 Rata-rata 70,64 58,97 83,33 70,98 T
 2 Tuntas   28 72%
 3 Tidak Tuntas   11 28%
 4 Jumlah Siswa   39  

 

Perolehan hasil belajar tertinggi pada siklus I adalah 78,33, sedang nilai terendah adalah 51,67. Nilai rata-rata hasil belajar siklus I adalah 70,98. Rata-rata nilai kelas menunjukkan hasil diatas batas ketuntasan nilai 70, namun ada 11 orang (28%) siswa yang belum mencapai batas ketuntasan. Siswa yang telah mencapai batas ketuntasan sebanyak 28 siswa (72%). Hasil belajar siklus I menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan hasil belajar pra siklus.

Hasil belajar siswa siklus I menunjukkan bahwa nilai yang didapatkan siswa sudah mengalami peningkatan, namun masih ada beberapa siswa yang dibawah batas ketuntasan. Pencapaian konsep masih dibawah target pembelajaran sebesar 75%. Nilai yang masih rendah disebabkan karena siswa belum terbiasa menggunakan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja dan siswa perlu beradaptasi dengan metode tersebut. Hasil tersebut menggambarkan perlu adanya suatu tahapan selanjutnya untuk memperbaiki hasil belajar agar target yang diharapkan dapat tercapai.

Penilaian hasil observasi pembelajaran pada siklus I menunjukan peningkatan apabila dibandingkan dengan obeservasi pembelajaran pra siklus. Nilai rata-rata observasi pembelajaran mencapai 70,77 yang meningkat 18,46 dari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan terhadap tampilan guru dan secara tidak langsung guru memberikan inovasi dengan menerapkan metode yang berbeda dari sebelumnya dengan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja ini siswa lebih memperhatikan dan senang terhadap guru yang mengajar.

Analisis dan Refleksi Tindakan I

Analisis data dan refleksi tindakan dilakukan setelah observasi dan evaluasi terhadap siklus I. Tahap refleksi akan memberi gambaran untuk menentukan tindak lanjut yang perlu dilakukan guru dan kolaborator dalam mencapai tujuan penelitian. Hasil analisis data yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan siklus I menunjukkan adanya beberapa kekurangan yang menyebabkan pencapaian penguasaan konsep maupun pencapaian target penelitian kurang maksimal. Berdasarkan hasil siklus I terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran antara lain:

  • Siswa belum terbiasa dengan penggunaan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) karena metode ini belum pernah diterapkan dalam pembelajaran. Siswa masih malu ketika berdiskusi dalam kelompok dan belum berani untuk sharing didepan kelas dengan kesadaran sendiri.
  • Siswa belum terbiasa menyelesaikan soal dalam bentuk pemecahan masalah atau pertanyaan tingkat tinggi (HOTS).
  • Siswa cenderung ramai pada saat siswa yang lain sharing atau berbagi jawaban didepan kelas.
  • Siswa juga kurang termotivasi untuk memberikan pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan.
  • Masih terdapat 11 siswa (28%) yang belum mencapai batas tuntas belajar karena masih adanya kecenderungan siswa menghapal konsep bukan memahaminya, apalagi tingkat analisis dan evaluasi.

Beberapa kekurangan pada siklus I dalam proses pembelajaran tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam merencanakan pembelajaran di siklus selanjutnya.

Siklus II

Perencanaan Siklus II

Perencanaan siklus II ini dipersiapkan instrumen yang hampir sama seperti dalam perencanaan siklus I. Perbedaan instrumen penelitian siklus I dan siklus II terletak pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar diskusi siswa dan ulangan harian siklus II. Kegiatan siklus II dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan. Materi yang diajarkan pada siklus ini sama dengan siklus sebelumnya yaitu kesebangunan bangun datar. Fokus kegiatan pembelajaran adalah peningkatan kualitas belajar siswa serta penerapan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja. Hasil siklus I menunjukkan bahwa capaian hasil belajar siswa belum maksimal karena nilai rata-rata siswa belum mencapai target penelitian yaitu masih 70,98%. Sedangkan target yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 75%. Perbaikan siklus I yang dilakukan guru adalah pemberian reward kepada siswa yang berani sharing didepan kelas dan yang aktif bertanya maupun memberikan tanggapan. Reward yang diberikan berupa nilai, pujian maupun hadiah sekedarnya. Pemberian reward kepada siswa yang aktif diharapkan mampu memotivasi siswa yang kurang aktif menjadi aktif dalam pembelajaran sehingga dapat termotivasi untuk belajar dengan sendirinya. Perbaikan juga dilakukan pada siswa yang ramai, guru memberikan peringatan kepada siswa berupa teguran, memberi pertanyaan siswa secara mendadak, bahkan memberikan sanksi kepada siswa yang tidak mengindahkan peringatan guru. Guru juga memberikan bimbingan secara intensif secara individu dan kelompok bagaimana menyelesaikan soal tingkat tinggi berbentuk pemecahan masalah.

Pelaksanaan Siklus II

Pelaksanaan tindakan pada siklus II merupakan kelanjutan dari pelaksanaan siklus I yang masih menggunakan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja. Siklus II dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan masing-masing 2 jam pelajaran. Tahap pelaksanaan siklus II hakekatnya sama dengan siklus I yaitu: pada pertemuan pertama guru mengawali pelajaran dengan memberi salam dan membagikan hasil tes siklus I yang sudah dinilai pada siswa sebagai bahan evaluasi pribadi tiap siswa. guru memberikan gambaran awal mengenai pembelajaran yang akan dilaksanakan kemudian guru mengulang materi secara sekilas. Guru memberikan lembar kerja siswa untuk didiskusikan didalam kelompoknya masing-masing. Guru meminta siswa untuk sharing atau berbagi jawaban di depan kelas. Siswa yang lain boleh memberikan masukan atau sanggahan terhadap jawaban temannya. Siswa yang membagi jawaban atau mempresentasikan hasil diskusi terlebih dahulu akan diberikan nilai plus. Nilai plus yang diberikan kepada siswa yang aktif diharapkan mampu memacu siswa yang lain untuk tetap fokus pada pelajaran. Nilai plus ini juga dianggap sebagai reward atau penghargaan sehingga siswa pada kegiatan ini berlomba-lomba aktif dalam pelajaran. Setelah siswa berbagi jawaban didepan kelas maka guru dan siswa bersama-sama menarik kesimpulan atas materi yang telah dipelajari. Pertemuan kedua, guru memberikan gambar kepada setiap siswa tentang kesebangunan. Guru memberi contoh cara menyelesaikan masalah berkaitan dengan penggunaan syarta kesebangunan bangun datar, kemudian gur memberi lembar kerja secara individu mencermati dan mencoba menjawab permasalahan yang ada di lembar kerja. Guru meminta siswa untuk mendiskusikan jawaban dengan pasangan yang telah ditentukan guru. Guru meminta siswa untuk berbagi jawaban didepan kelas. Guru menegaskan jawaban siswa di papan tulis, kemudian guru memberi kuis secara individu. Guru menutup pelajaran dengan menarik kesimpulan bersama siswa. Pertemuan berikutnya, guru memberikan tes ulangan harian pasca siklus II dan meminta siswa untuk mengerjakannya. Guru memberikan lembar soal ulangan harian untuk mengetahui penguasaan kesebangunan dua bangun datar. Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal secara individu. Selanjutnya siswa diminta untuk mengisi angket tetang penerapan penggunaan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja.

Observasi dan Evaluasi Siklus II

Observasi dan evaluasi pada siklus II ini sama seperti siklus I. Pada tahap ini dilakukan kegiatan pengamatan terhadap kualitas proses pembelajaran dan penguasaan konsep siswa seperti pada siklus I dengan menggunakan instrumen- instrumen yang telah disusun. Hasil observasi yang dilakukan pada siklus II ini antara lain: siswa semakin aktif dalam memberikan tanggapan selama diskusi dan siswa terlihat antusias untuk sharing didepan kelas. Proses pembelajaran pada siklus II ini juga terlihat semakin terarah karena siswa sudah mulai beradaptasi dengan metode yang digunakan dalam pembelajaran. Data pengamatan yang telah dicatat selama siklus II kemudian dievaluasi seperti diuraikan berikut ini:

Tabel 4.4. PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA SIKLUS I dan SIKLUS II

 

NO

 

URAIAN

SIKLUS I SIKLUS II
NILAI PERSENTASE NILAI PERSENTASE
1 Rata-rata 70,98 70,98% 84,97 84,97%
2 Tuntas 28 72% 34 87,18%
3 Tidak tuntas 11 28% 5 12,82%

 

Nilai hasil belajar siswa diperoleh dari hasil tes kuis dan ulangan harian berupa soal-soal yang dikerjakan siswa diakhir siklus II. Perolehan nilai tertinggi pada siklus II ini adalah 93,3 sedang nilai terendah adalah 65,3. Nilai rata-rata kelas pada siklus II adalah 84,97 naik dari 70,98 pada siklus I. Rata-rata nilai kelas menunjukkan hasil pencapaian target penelitian, hampir semua siswa telah mencapai batas tuntas belajar, yaitu diatas nilai 70 dengan kata lain 84,97% siswa telah mencapai batas tuntas yang ditetapkan madrasah. Hasil belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan hasil belajar siklus I. Persentase pencapaian untuk setiap konsep mengalami peningkatan dari capaian konsep siklus I sebesar 70,98% menjadi 84,97%.

Hasil analisa dari perolehan nilai hasil belajar siklus II menunjukkan bahwa nilai yang didapatkan siswa sudah mengalami peningkatan bila dibandingkan siklus I. Pencapaian hasil belajar siklus II sebesar 84,97% diatas target pembelajaran 75%. Tabel 4.3. menunjukkan hasil rekapitulasi observasi pembelajaran pra siklus, siklus I dan siklus II.

Penilaian hasil observasi pembelajaran pada siklus II menunjukan peningkatan apabila dibandingkan dengan obeservasi pembelajaran pra siklus. Nilai rata-rata observasi pembelajaran siklus II mencapai 83,08 yang meningkat 12,31 dari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan terhadap tampilan guru dan secara tidak langsung. Tampilan guru pada siklus II lebih baik dari pada penampilan guru pada siklus I.

Data Pendukung

Berdasar pengisian angket respon siswa pasca siklus II terhadap penggunaan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja, menunjukkan tingkat pencapaian untuk respon sangat senang dan senang sebesar 99,6%, dan sisanya respon tidak senang. Sedangkan nilai respon secara keseluruhan sebesar 89,9% (terlampir). Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel 4.5. berikut.

Tabel 4.5. REKAPITULASI RESPON SISWA TERHADAP STRATEGI PEMBELAJARAN HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS)

 

 

NO

 

 

URAIAN

RESPON
Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat Tidak Setuju
1 Banyak Siswa 251 167 3 0
2 Persentase 59,6% 39,7% 0,7% 0%

 

Analisis dan Refleksi Siklus II

Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian yang dilakukan selama siklus II berlangsung, dapat diidentifikasikan beberapa temuan:

  • Hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran mengunakan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja, menunjukkan nilai rata-rata yang lebih baik bila dibandingkan dengan nilai rata-rata siswa pada siklus I.
  • Delapan puluh tujuh koma delapan belas persen (87,18%) mencapai nilai batas tuntas yang ditetapkan madrasah.
  • Siswa sudah mulai terbiasa dengan pembelajaran dengan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja dimana berdasar pengamatan menunjukkan siswa lebih bersemangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran.
  • Dengan Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru menjadi lebih baik.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa Strategi Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan pemberian Lembar Kerja dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IX A MTs Negeri 1 Demak, tahun pelajaran 2018/2019.

Daftar Pustaka

Adi. W Gunawan. 2007. Genius learning Strategy. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Admin, B., (2009), Taksonomi Bloom, tersedia: http://gurupembaharuicom/peningkatanmutu atau pembelajaran/taksonomi-bloom-mengembangkan strategi-berfikir-berbasis-tik/, diaksestanggal 2 Desember 2011.

Ahmad Sabri. 2007. Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching. Jakarta: Quantum Teaching.

Arikunto, Suharsimi. 2007. Manajemen penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Buzan, Tony. 2006. Mind Map Untuk Meningkatkan Kreativitas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Daniel Muijs. 2008. Effective Teaching Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Deporter, Henarcki. 2004. Quantum Learning. Terjemahan Alwiyah Abdurahman. Bandung: Kaifa.

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Femi Olivia. 2008. Gembira Belajar Dengan Mind Mapping. Jakarta: PT Alex Media Komputindo.

Ismail dkk. 2000. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka.

Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Nana Sudjana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Oemar Hamalik. 2007. Kurikulum dan Pembelajarannya. Jakarta: Bumi Aksara.

——————–. 2007. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Peter dan Fook, 2003. Teaching and Learning via IT: Higher Order Thinking Skills in English Language English Literature, and Mathematics (http://www.moe.edu.sg/iteducation/edtech/papers/f3-1.pdf).

  1. Angkowo dan A. Kosasih. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran. Jakarta: Grasindo.

Roestijah. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Ruseffendi. 1998. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Transito.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruh. Jakarta: Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.. 2004. Dasar-Dasar Supervisi. Jakarta: Rineka Cipta

….. 2004. Quantum Teaching. Terjemahan Alwiyah Abdurahman. Bandung:Kaifa.

Suyanto, S., Paidi, dan I. Wilujeng. 2011. Lembar Kerja Siswa. Paparan Ilmiah. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.3 hlm.

Sutopo. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret University Press

Syah, M. 2005. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Syaiful Sagala. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Trianto, 2009 Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta KencanaPrenada Group.

USAID PRIORITAS, 2014. Praktik Pembelajaran yang baik Modul Pelatihan II,

Widjajanti, Endang. 2008. Kualitas Lembar Kerja Siswa. (Online), (staff.uny.ac.id/ system/files/pengabdian/endang…/kualitas-lks.pdf, diakses pada tanggal 24 Juli 2018).