MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU

MEMBUAT PROGRAM REMIDIAL BAGI ANAK BERKESULITAN BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBINAAN GURU

DENGAN METODE CLCK SEMESTER I SDN KENDAYAAN

TAHUN PELAJARAN 2017/2018

 

Umi Maremsih

SDN Kendayaan, Kec. Ngawen, Kab. Blora

                                                                                                                

ABSTRAK

Pembuatan program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika juga menimbulkan permasalahan-permasalahan disekolah untuk itu pengawas dituntut untuk melakukan pembinaan yang efektif dan efisien. Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) merupakan sarana termudah untuk meneliti, menyempurnakan dan mengevaluasi pembinaan guru dalam menbuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika. Adapun tindakan yang dilakukan adalah memberikan pembinaan guru dengan model CLCK (contoh, latih, coba dan kembangkan) dalam membuat program remedial bagi anak-anak kesulitan belajar matematika. Penelitian ini dilakukan 2 siklus (2 kali pertemuan masing-masing siklus) dengan melibatkan 6 orang guru kelas. Pengawas memberikan contoh program remedial, melatih guru membuat program remedial, guru-guru mencoba dan mengembangkan membuat program remedial. Pengumpulan data diambil melalui dokumentasi hasil pembinaan guru selama penelitian berlangsung dengan tidak mengesampingkan observasi, evaluasi, analisis, dan interpretasi terhadap jalannya kegiatan tindakan sekolah. Dari hasil observasi, pengamatan dan hasil penelitian penerapan model CLCK menunjukkan adanya peningkatan kemampuan guru dalam membuat program remedial bagi anak-anak kesulitan belajar matematika. Keberhasilan dalam penelitian ini ditunjukan adanya peningkatan hasil penilaian pada program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar matematika yang dibuat oleh 6 orang guru kelas pada siklus I memperoleh nilai rata-rata 3,73 dan pada siklus II memperoleh nilai rata-rata 4,03 dengan kategori Baik. Dengan adanya peningkatan kemampuan guru dalam hasil penelitian ini maka hipotesis tindakan dapat diterima. Berawal dari hasil penelitian ini dapat disarankan kepada kepala sekolah dan pengawas dapat menggunakan model CLCK dalam membina guru membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika. Bagi peneliti lanjutan, penelitian ini dapat diteliti dengan kajian yang lebih luas sehingga hasilnya akan lebih sempurna.

Kata Kunci:   Kemampuan Guru Membuat Program Remedial, Pembinaan guru dengan model CLCK

 

BAB I: PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penuntasan wajib belajar pendidikan dasar merupakan prioritas dalam program pembangunan pendidikan nasional dan juga merupakan bagian dari pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Kita menyadari bahwa bangsa Indonesia sedang berhadapan dengan era globalisasi ekonomi terbuka dan persaingan bebas serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi yang sangat pesat. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan hak dan kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib untuk mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya melalui pendidikan sehingga dapat menjadi sumber daya manusia yang potensial. Agar setiap warga negara dapat mengenyam pendidikan yang di harapkan, maka Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membuat program remedial adalah melalui pembinaan guru. Menurut Hamzah (2017:169) mengemukakan bahwa pembinaan guru adalah serangkaian usaha bantuan kepada guru yang dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik sekolah, serta pembina lainnya bertujuan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar.

Berdasarkan pemikiran di atas perlu segera dilakukan penelitian mengenai upaya meningkatakan kemampuan guru membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika melalui pembinaan guru dengan metode CLCK (contoh, latih, coba, kembangkan) di SDN kendayaan SDN Kendayaan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat dipilih dan disusun rumusan masalah yang akan di jadikan fokus penetelitian sebagai berikut: Apakah pembinaan guru dengan metode CLCK dapat meningkatkan kemampuan guru membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika di SDN kendayaan SDN Kendayaan ?

Rencana Pemecahan Masalah

Pertemuan awal dengan guru-guru di SDN Kendayaan, berdiskusi tentang penyusunan program remedial bagi anak berkesulitan belajar, memberikan contoh program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika, melaksanakan latihan dan memberkan kesempatan pada guru untuk mencoba membuat program remedial dan mengembangkan program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian tersebut diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk meningkatkan kemampuan guru membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika di SDN kendayaan SDN Kendayaan melalui pembinaan guru dengan metode CLCK

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: a). Bagi guru sebagai informasi tambahan pengetahuan tentang membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika di SDN kendayaan SDN Kendayaan, b) Bagi peneliti sebagai suatu pengalaman yang berharga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembuatan program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika di SDN kendayaan c) Bagi Sekolah sebagai referensi yang dapat dipelajari untuk pengayaan program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika di SDN kendayaan.

 

 

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

Pengertian Pendidikan Inklusi

Melalui pendidikan inklusif, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan (berkelainan) yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Oleh karena itu, anak berkelainan perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan anak normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah (SD) terdekat. Sudah barang tentu SD terdekat tersebut perlu dipersiapkan segala sesuatunya. Pendidikan inklusi diharapkan dapat memecahkan salah satu persoalan dalam penanganan pendidikan bagi anak berkelainan selama ini. Tidak mungkin membangun SLB di tiap Kecamatan/Desa sebab memakan biaya yang sangat mahal dan waktu yang cukup lama. Inklusi sebenarnya ialah perubahan praktis yang bisa kita lakukan sehingga peserta didik dengan beragam latar belakang dan kemampuan bisa sukses. Perubahan ini tidak hanya menguntungkan anak yang sering kita sisihkan, seperti anak berkebutuhan khusus, tetapi semua anak dan orang tuanya, semua guru dan administrator sekolah, dan setiap anggota masyarakat yang bekerja dengan sekolah. Selama ini, istilah “inklusif” diartikan “mengikutsertakan anak berkelainan” di kelas “regular” bersama dengan anak-anak lainnya.

Pengertian Remedial

Karakteristik siswa dalam satu kelas sangat beragam, sehingga dalam belajar siswa banyak mengalami masalah. Masalah-masalah yang timbul dari kondisi sekolah menurut Majid (2008:235) antara lain: kurikulum kurang sesuai, guru kurang menguasai bahan pelajaran, metode mengajar kurang sesuai, alat-alat dan media pengajaran kurang sesuai. Akibat dari permasalahan tersebut ada beberapa anak yang prestasinya kurang dari harapan atau tidak mencapai KKM.

Bagi siswa yang tidak mencapai KKM ini di indikasikan mengalami kesulitan belajar, sehingga perlu diberikan remedial. Remedial adalah perlakuan khusus terhadap peserta didik yang mengalami kesulitan belajar (Mulyasa, 2009:113). Selanjutnya menurut Majid (2008:236 peserta didik yang mengalami kesulitan belajar) diberikan pengajaran perbaikan, yaitu bentuk pengajaran khusus yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang murid yang mengalami kesulitan belajar. Kekhususannya terletak pada murid yang dilayani, bahan pelajaran, metode atau media penyampaiannya. Karena kekhususannya itu maka dalam pemberian remedial diperlukan program yang terarah sesuai dengan keperluan peserta didik/siswa.

Pengertian Pembinaan Guru dengan Metode CLCK

Pembinaan guru dalam penelitian ini adalah pembinaan guru yang dilakukan oleh pengawas sekolah dengan metode CLCK (contoh, latih, coba, kembangkan) dalam meningkatkan kemampuan guru menyusun program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika di SDN kendayaan SDN Kendayaan. Menurut Depdiknas (2002:219) contoh berarti sesuatu yang disediakan untuk ditiru atau diikuti, dalam hal ini peneliti/ pengawas memberikan sebuah contoh program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar matematika untuk dipelajari dan dipahami oleh guru yang dibina. Selanjutnya Depdiknas (2002:643) meyebutkan latih dengan padanan kata melatih yang berarti mengajar seseorang agar dapat melakukan sesuatu, peneliti melatih guru untuk menyusun program remedial. Depdiknas (2002:217) coba berarti silahkan, dengan padanan kata mencoba yang berarti mengerjakan sesuatu untuk mengetahui keadaannya, dalam kegiatan ini peneliti memberikan kesempatan kepada guru untuk mencoba menyusun program remedial sehingga mengetahui komponen-komponen yang harus ada dalam program tersebut. Kembangkan dari kata dasar kembang mendapat imbuhan -kan. Menurut Depdiknas (2002:538) kembang memiliki padanan kata berkembang yang berarti menjadi bertambah sempurna. Selanjutnya imbuhan –kan bermakna melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh kata dasar (Mulyono, 2003:17). Kembangkan berarti melakukan kegiatan untuk menyempurnakan sesuatu dalam hal ini adalah program remedial. Berdasar-kan beberapa pengertian tersebut maka Pembinaan guru dengan metode CLCK dapat diartikan membina guru dengan contoh, melatih, memberikan kesempatan untuk mencoba dan mengembangkan program remedial.

Kerangka Pikir

Penuntasan wajib belajar pendidikan dasar bagi anak yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus diakomodasi melalui pendekatan “Pendidikan Inklusi” dengan berpedoman pada azaz pemerataan serta peningkatan kepedulian terhadap anak-anak yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Agar anak-anak berkebutuhan khusus yang mendapat pelayanan pendidikan inklusi dapat berkembang secara optimal, maka sekolah harus melaksanakan upaya-upaya yang masimal. Anak berkesulitan belajar matematika merupakan bagian dari anak-anak berkebutuhan khusus yang mendapat pelayanan pendidikan melalui pendekatan pendidikan inklusi. Karena keterbatasan kemampuannya, anak-anak tersebut belum mencapai KKM yang ditentukan sekolah, sehingga guru perlu melakukan tindakan-tindakan agar anak-anak yang mengalami kesulitan belajar matematika juga dapat menyelesaikan materi pelajarannya serta mencapai KKM. Salah satu tindakan guru adalah melakukan remedial teaching.

Keberhasilan dalam memberikan remedial teaching dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya adalah program remedial yang baik. Hal ini pengawas selaku pembina berkewajiban membina guru dalam membuat program remedial menggunakan berbagai metode. Salah satu metode yang digunakan adalah metode CLCK dalam membina guru membuat program remedial bagi anak-anak kesulitan belajar matematika di SDN kendayaan.

Hipotesis Tindakan

Pembinaan guru dengan metode CLCK dapat meningkatakan kemampuan guru dalam membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika di SDN kendayaan SDN Kendayaan.

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

Metode dan Pendekatan Penelitian

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research). Penelitan Tindakan Sekolah dikembangkan dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Zainal (2009:12) PTK pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946, PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Selanjutnya Zainal (2009:13) menyebutkan penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu satu action reaserch yang dilakukan di kelas. Sedangkan Penelitian Tindakan Sekolah menurut Depdiknas (2008:11) adalah penelitian tindakan sebagai salah satu jenis penelitian kualitatif di bidang pendidikan yang dilaksanakan disekolah untuk memperbaiki proses pembelajaran dan manajemen sekolah.

Subjek Penelitian

Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan pada di SDN Kendayaan Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora tahun 2017.

Waktu

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I dilaksanakan tanggal 16 September 2017 dan Siklus II dilaksanakan tanggal 30 September 2017.

Mata Pelajaran

Penelitian ini dilakukan pada waktu pelajaran Matematika kelas I-V semester I di SDN Kendayaan Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora tahun pelajaran 2017/2018.

Kelas dan Karakteristik Guru

Penelitian dilakukan di Kelas I-VI dimana jumlah guru terdiri dari 6 guru kelas.

Prosedur Penelitian

Setiap penelitian pada dasarnya memiliki cara yang berbeda-beda untuk mendapatkan data pada suatu subyek ataupun obyek yang akan ditelitinya. Agar mendapatkan data yang baik, valid dan reliabel diperlukan suatu pendekatan yang jelas. Berdasarkan pada pendekatan yang diambil, dapat digunakan untuk merencanakan penelitian yang akan dilaksanakan. Menurut Suharsimi, (1998:88) dalam menentukan pendekatan penelitian, perlu mempertimbangkan tujuan penelitian, waktu dan dana yang diperlukan, adanya subyek penelitian serta kemauan atau keinginan peneliti.

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan sekolah, dengan langkah-langkah: penetapan focus permasalahan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan yang disertai dengan observasi, interpretasi dan replikasi. Tindakan yang pernah dilakukan akan selalu dipelajari dan dievaluasi untuk menentukan tindakan selanjutnya. Tindakan lanjutan ini akan berguna untuk perbaikan skenario yang tentunya akan memberikan gambaran pasti terhadap pelaksanaan tindakan dalam penelitian. Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus 4 kali pertemuan. Menurut Depdiknas (2008:13 Penelitian tindakan sekolah berbentuk siklus metodologis yang berdaur (cyclical methodology cyclus) yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Hasil refleksi mencakup analisis, sintesis dan penilaian hasil tindakan yang dilakukan, bila masih terdapat permasalahan dilakukan tindakan kedua yang meliputi perencanaan ulang, tindakan dan pengamatan ulang sampai permasalahan teratasi. Siklus metodologis penelitian tindakan sekolah ini sama dengan siklus metodologis penelitian tindakan kelas yang di kemukakan oleh Zainal (2009:30) bahwa penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan merefleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di SDN Kendayaan Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora, yang pelaksnaannya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Perencanaan, yang meliputi penetapan materi pembinaan dan penetapan alokasi waktu pelaksanaannya (bulan Agustus s.d Nopember 2017)
  2. Tindakan, meliputi seluruh proses kegiatan pembinaan kepengawasan melalui model CLCK (Contoh, Latih, Coba dan Kembangkan), siklus satu dilaksanakan dua pertemuan yaitu pada tanggal 16 September 2017 dan 18 September 2017, siklus dua dilaksanakan dua pertemuan tanggal 30 September 2017 dan 2 Oktober 2017.
  3. Observasi, dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pembinaan kepengawasan dalam membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar matematika.
  4. Reflekksi, meliputi kegiatan analisis hasil pembinaan kepengawasan sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan secara kolaborasi dengan kepala sekolah dan koordinator pengawas yang membantu pelaksanaan observasi dan refleksi selama kegiatan penelitian berlangsung.

Pelaksanaan penelitian sekolah disajikan dalam dua siklus sebagai berikut:

1.     Perencanaan

Untuk melaksanakan penelitian ini peneliti mempersiapkan perlengkapan pembinaan seperti: Rencana Kepengawasan Akademik (RKA), Pedoman Penialaian Program Remedial, Contoh Program Remedial, Lembar Tugas, dan melapor kepada Kepala Sekolah bahwa akan melaksanakan penelitian, sosialisasi kepada guru kelas sebagai subyek pelaksanaan penelitian tindakan sekolah.

2.     Pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah Siklus I

Tabel. 4.4 Hasil Penilaian Remidial Guru Kelas I-VI Pada Siklus I

No

Nama Guru

Mengajar Kelas

Jumlah Nilai

Rata rata

1

Jaswanto, S.Pd.SD.

I

56

3,73

 

2

Dwi Ayyuk Ernawati

II

53

3,53

 

3

Moh. Riris Suryo H.P

III

57

3,80

 

4

Alik Joko Siswoyo, S.Pd.SD

IV

56

3,73

 

5

Supriharini, S.Pd.SD.

V

55

3,67

 

6

Sri Mindarwati, S.Pd.SD.

VI

59

3,93

 

Jumlah Nilai

336

22,40

Rata-rata

56,00

3,73

 

 

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah Siklus II

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), siklus ke II dimulai dengan: Pelaksanaan Tindakan pertemuan ketiga Siklus II

Pada tanggal 30 September 2017 dilaksanakan tindakan sekolah pertemuan ketiga selama 90 menit (2 x 45 menit). Seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya tiga puluh menit sebelum pembinaan dimulai peneliti sudah ada di sekolah. Setelah koordinasi dengan kepala sekolah, menyampaikan penilaian hasil kegiatan siklus I masih perlu peningkatan, maka pengawas akan melakukan pembinaan kembali dalam menyusun program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar. Kesepakatan pengawas dengan kepala sekolah agar tidak mengganggu pelajaran anak-anak maka kegiatan pembinaan dilakukan setelah anak-anak pulang sekolah. Pada awal pertemuan di kelas pengawas mengkondisikan guru untuk siap menerima materi pembinaan, setelah kondisi guru siap menerima pembinaan, maka pengawas mulai melakukan pembinaan dengan mengucapkan salam pembuka dan menyampaian tujuan pembinaan yaitu agar guru dapat menyempurnakan program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar matematika yang telah dibuat.

Tabel. 4.6 Hasil Penilaian Remidial Guru Kelas I-VI Pada Siklus II

No

Nama Guru

Mengajar Kelas

Jumlah Nilai

Rata rata

1

Jaswanto, S.Pd.SD.

I

60

4,00

 

2

Dwi Ayyuk Ernawati

II

60

4,00

 

3

Moh. Riris Suryo H.P

III

61

4,07

 

4

Alik Joko Siswoyo, S.Pd.SD

IV

60

4,00

 

5

Supriharini, S.Pd.SD.

V

61

4,07

 

6

Sri Mindarwati, S.Pd.SD.

VI

63

4,20

 

Jumlah Nilai

365

24,33

Rata-rata

60,83

4,06

 

PEMBAHASAN

Tabel 4.7: Perbandingan Hasil Penilaian Program Remedial Siklus I dan II

No

Indikator

Rata-Rata Skor

Siklus I

Siklus II

1

Merumuskan tujuan

4.33

4.50

2

Menentukan metode

3.00

3.50

3

Menentukan langkah-langkah

3.00

4.17

4

Menentukan cara memotivasi

3.00

4.00

5

Bahan berpedoman pada karakteristik siswa

3.33

4.33

6

Bahan sesuai kesulitan siswa

4.17

4.50

7

Bahan tersesusun sesuai teraf kemampuan berpikir siswa

3.67

3.67

8

Pengaturan ruang kelas

4.00

4.00

9

Menentukan alokasi waktu

4.00

4.17

10

Menentukan cara siswa aktif

4.00

4.00

11

Menentukan pengembangan alat

3.50

4.00

12

Menentukan media

4.00

4.00

13

Menentukan sumber

4.00

4.00

14

Menentukan bentuk/prosedur penilaian

4.00

4.00

15

Membuat alat penilaian

4.00

4.00

Jumlah

56.00

60.83

Rata-Rata

3.73

4.06

 

Tabel 4.8 Perbandingan Hasil Penilaian Program Remidial Guru Kelas I-VI  Pada Siklus I & II

No

Nama Guru

Kelas Mengajar

Siklus I

Siklus II

1

Jaswanto, S.Pd.SD.

I

3,73

4,00

 

2

Dwi Ayyuk Ernawati

II

3,53

4,00

 

3

Moh. Riris Suryo H.P

III

3,80

4,07

 

4

Alik Joko Siswoyo, S.Pd.SD

IV

3,73

4,00

 

5

Supriharini, S.Pd.SD.

V

3,67

4,07

 

6

Sri Mindarwati, S.Pd.SD.

VI

3,93

4,20

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dan Analisis hasil pembinaan dengan metode Contoh Latih Coba dan Kembangkan (CLCK) dalam penyusunan Program Remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar matematika dapat disimpulkan:

1.      Metode CLCK dapat meningkatkan kemampuan guru dalam penyusunan Program Remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar matematika.

2.      Berdasarkan penilaan penyusunan program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar matematika yang dibuat oleh 6 orang guru memperoleh nilai rata-rata 3.73 pada siklus I dan nilai rata-rata 4,03 pada siklus II.

Saran-saran

1.     Bagi para guru yang siswanya belum mencapai KKM agar membuat program remedial dan mencarikan cara termudah dalam memahami materi pembelajaran khususnya bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar matematika.

2.     Bagi Pengawas dan Kepala Sekolah melalui supervisi dapat memberikan bimbingan kepada guru-guru untuk membuat program remedial dengan pendekatan CLCK serta pendekatan yang lainnya.

3.     Bagi peneliti lanjutan, penelitian ini dapat diteliti dengan kajian yang lebih luas sehingga hasilnya akan lebih sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru Bandung: CV Yrama Widya.

Asrori, 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Wacana Prima.

Berit H. Johnsen dan Miriam D. Skjorten, 1935. Pendidikan Kebutuhan Khusus Sebuah Pengantar. Terjemahan oleh Susi Septaviana Rakhmawati, 2003. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Depdiknas, 2002.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka

Dirjen PMPTK, 2008a. Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research)Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK. Jakarta: Depdiknas, Ditjen PMPTK.

Dirjen PMPTK, 2008b. Petunjuk Teknis Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research)Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK. Jakarta: Depdiknas, Ditjen PMPTK.

Purwanto, E. dan Suhairi H.N. 1996. Bimbingan Konseling Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud.

Ekodjatmiko, 2007. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.

Fish John & Evans Jennifer, 1995, Managing Special Education (codes, charters, and competition) , Buckingham, Open University Press.

Foreman, Phil. 2000, Integration And Inclusive In Action 2nd Edition, Australia: Nelson Thomson Learning, Victoria.

Uno, Hamzah B. 2017. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajaryang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Harwell J. M., 1998, Complete Learning Disabilities handbook New Second Edition, California, USA: The Center for Applied Research in Education,.

Majid, Abdul, 2008. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Moch Sholeh Y.A. Ichrom, 2004. Menjadikan Lingkungan Inklusif ramah terhadap pembelajaran (LIRP). Jakarta: Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Mulyasa, E. 2009. Standar Kompetensi dan Sertifikasi guru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Mulyono, 2003. Morfologi Bahasa Indonesia, Modul IND A.06 Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjendikdasmen, Depdiknas