UPAYA MENINGKATKAN KINERJA GURU DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK MELALUI SUPERVISI AKADEMIK TEKNIK INDIVIDUAL DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF BAGI GURU

SD NEGERI SIJERUK SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2017/2018

 

Ilham Agustini

SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu

 

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran tematik melalui supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif di SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu. Tindakan dilakukan melalui kegiatan supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif. Metode penelitian ini adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan dengan dua siklus. Masing-masing siklus dilakukan melalui empat tahapan yakni perencanaan,pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah 4 guru yaitu guru kelas 1, 2, 4 dan 5 SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dengan pemberian tindakan melalui kegiatan supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif kinerja guru dalam pembelajaran tematik menjadi meningkat. Data kualitatif hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diadakan tindakan yaitu 1) Pada tahap kondisi awal rata-rata kinerja guru dalam menyusun rencana pembelajaran tematik hanya mencapai nilai rata-rata 61, meningkat menjadi 74 pada siklus I, dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 82. 2) Pada tahap Kondisi awal rata-rata kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran tematik hanya mencapai nilai rata-rata 61. meningkat menjadi 73 pada siklus I, dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 83.

Kata Kunci: Kinerja Guru, Supervisi Akademik, teknik individual, pendekatan kolaboratif.

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Mulai tahun pelajaran 2013/2014 Pemerintah telah memberlakukan kurikulum baru yang disebut Kurikulum 2013 bagi sekolah yang ditunjuk menjadi sekolah sasaran. Keberhasilan implementasi kurikulum di SD dalam pembelajaran seperti yang diharapkan pemerintah dan masyarakat, sangat ditentukan oleh pemahaman para pemangku kepentingan, utamanya guru. Guru harus memiliki pemahaman, kesadaran, kemampuan, kreativitas, kesabaran dan keuletan. Beberapa faktor, misalnya: kondisi geografis, jumlah SD, jumlah guru yang sangat besar menyisakan masalah dalam memberikan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan pada pemahaman kurikulum secara utuh. Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014 mengamanatkan bahwa keberhasilan kurikulum secara utuh memerlukan proses panjang, mulai dari kajian dan kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, pengembangan desain kurikulum, penyiapan dan penugasan pendidik dan tenaga kependidikan.

Sesuai dengan tuntutan kurikulum, maka guru seyogyanya melaksanakan pembelajaran tematik terpadu, pendekatan saintifik, dan pendekatan ilmiah lainnya. Penerapan pendekatan pembelajaran tersebut membawa implikasi/ perubahan terhadap mindset guru, proses pembelajaran, buku guru, buku siswa, sistem penilaian, program remedial, pengayaan, serta orang tua dan pemangku kepentingan.

Dalam kenyataan di sekolah, guru di SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu dalam mengimplementasikan kurikulum masih banyak menghadapi kesulitan dan ketidakjelasan. Mereka memerlukan panduan yang dapat digunakan secara efektif dan efisien untuk mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif di sekolahnya masing-masing. Agar semua pemangku kepentingan pendidikan dasar memiliki persepsi yang sama dalam pelaksanaan pembelajaran, maka dibutuhkan adanya panduan pembelajaran. Pada tataran paling mendasar adalah bagaimana guru mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan melaksanakan pembelajaran dengan runtut dan baik sesuai kaidah yang benar mengacu pada standar proses, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2016.

Pembelajaran tematik di SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu belum sepenuhnya dikuasai guru yang menjadi sasaran pelaksanaan kurikulum 2013. Kondisi seperti itu berakibat rendahnya kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat di lihat hasil pendampingan yang sudah dilaksanakan sebelum penelitian dilakukan dari 4 guru pada komponen perencanaan pembelajaran hanya 1 (25%) guru kategori kinerja tinggi dengan nilai indikator rata–rata 61. Rendahnya perencanaan pembelajaran mengakibatkan rendahnya kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil pelaksanaan pembelajaran dari 4 guru hanya 1 (25%) guru kategori tinggi dengan nilai rata-rata 61

Dari kondisi yang memprihatinkan maka perlu adanya pendampingan dalam bentuk supervisi akademik teknik individual melalui pendekatan kolaboratif bagi guru yang merupakan sasaran kurikulum 2013, agar guru mengusai teknik melaksanakan pembelajaran sesuai kaidah yang benar, dan pendekatan saintifik dan pendekatan ilmiah lainya. Penelitian ini dibatasi hanya pada guru kelas 1, 2, 4 dan 5, kerena sasaran pelaksanaan kurikulum 2013 hasil revisi pada tahun pelajaran 2017/2018 adalah pada kelas 1, 2, 4 dan 5.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.      Bagaimana supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif dapat dapat meningkatkan kinerja guru dalam menyusun rencana pembelajaran tematik di SD negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu pada semester II tahun Pelajaran 2017/2018?

2.      Bagaimana supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif dapat dapat meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik di SD negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu pada semester II tahun Pelajaran 2017/2018?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1.     untuk meningkatkan kinerja guru dalam merencanakan pembelajaran tematik melalui supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif di SD negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu pada semester II tahun Pelajaran 2017/2018.

2.   untuk meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik melalui supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif di SD negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu pada semester II tahun Pelajaran 2017/2018.

LANDASAN TEORI

Supervisi Pendidikan terhadap Guru

Ada bermacam–macam konsep supervisi. Good Cartel dalam Sahertian (2000: 17) memberi pengertian bahwa supervisi adalah usaha dan petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyelesaikan pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan.

Menurut Boardman dalam Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi (1990: 68), supervisi adalah suatu kegiatan menstimulir, mengkoordinasi, dan membimbing secara kontiyu pertumbuhan guru–guru sekolah, baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti, dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran, sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih berpartisipasi dalam masyarakat modern.

Pendapat lain yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1997: 76) bahwa supervisi adalah segala bantuan dari para pemimpin sekolah, yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya di dalam mencapai tujuan–tujuan pendidikan. Supervisi berupa dorongan, bimbingan, dan kesempatan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan–pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat-alat pelajaran dan metode-metode mengajar yang lebih baik, cara-cara penilaian yang sistematis terhadap frase seluruh proses pengajaran, dan sebagainya.

Berdasarkan pendapat–pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

Pendekatan yang digunakan dalam menerapkan supervisi modern didasarkan pada prinsi-prinsip psikologis. Suatu pendekatan atau teknik pemberian supervisi, sangat bergantung kepada prototipe guru. Ada satu paradigma yang dikemukakan Glickman untuk memilah-milah guru dalam empat prototipe guru. Ia mengemukakan setiap guru memiliki dua kemampuan dasar, yaitu berpikir abstrak dan komitmen serta kepedulian.

Pendekatan dan perilaku serta teknik yang diterapkan dalam memberi supervisi kepada guru-guru berdasarkan prototipe guru seperti yang disebut di atas. Bila guru profesional maka pendekatan yang digunakan adalah non-direktif.

Perilaku supervisor (1) mendengarkan, (2) memberanikan, (3) menjelaskan, (4) menyajikan, (5) memecahkan masalah. Teknik yang diterapkan dialog dan mendengarkan aktif.

Bila gurunya tukang kritik atau terlalu sibuk, maka pendekatan yang diterapkan adalah kolaboratif. Perilaku supervisi (1) menyajikan, (2) menjelaskan, (3) mendengarkan, (4) memecahkan masalah, (50 negosiasi. Teknik yang digunakan percakapan pribadi, dialog menjelaskan.

Bila gurunya tidak bermutu, maka pendekatan yang digunakan adalah direktif. Perilaku supervisor (1) menjelaskan, (2) menyajikan, (3) mengarahkan, (4) memberi contoh, (5) menetapkan tolak ukur, dan (6) menguatkan.

Berdasarkan uraian singkat tentang paradigma kategori di atas, maka dapat diterapkan berbagai pendekatan teknik dan perilaku supervisi berdaskan data mengenai guru yang sebenarnya yang memerlukan pelayanan supervisi. Berikut ini akan disajikan beberapa pendekatan supervisor.

a.    Pendekatan Langsung (Direktif)        

Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan. Pendekatan direktif ini berdasarkan pemahaman terhadap psikologi behaviorisme. Prinsip behaviorisme ialah bahwa segala perbuatan berasal dari refleks, yaitu respons terhadap rangsangan/stimulus. Oleh karena guru ini mengalami kekurangan, maka perlu diberikan rangsangan agar ia bisa bereaksi. Supervisor dapat menggunakan penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment). Pendekatan seperti ini dapat dilakukan dengan perilaku supervisoradalah: menjelaskan, menyajikan, mengarahkan, memberi contoh, menetapkan tolak ukur, dan menguatkan.

b.    Pendekatan Tidak Langsung (Non-direktif)

Pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan, tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan guru-guru. Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin kepada guru untuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Pendekatan non-drektif ini berdasarkan pemahaman psikologis humanistik. Psikologi humanistik sangat menghargai orang yang akan dibantu. Oleh karena pribadi guru yang dibina begitu dihormati, maka ia lebih banyak mendengarkan permasalahan yang dihadapi guru-guru. Guru mengemukakan masalahnya supervisor mencoba mendengarkan, memahami, apa yang dialami guru-guru. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah: mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah

c.    Pendekatan Kolaboratif

Yang dimaksud dengan pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non–direktif menjadi pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama, bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Pendekatan ini didasarkan pada psikologi kognitif. Psikologi kognitif beranggapan bahwa belajar adalah hasil panduan antara kegiatan individu dengan lingkungan pada gilirannya nantui berpengaruh dalam pembentukan aktivitas individu. Dengan demikian pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Perilaku supervisor adalah sebagai berikut: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi. (Sahertian, 2000:44-52)

 

 

Kinerja Guru

Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan tidak dapat dilepaskan dari peranan para anggotanya, dan kelangsungan organisasi ditentukan oleh kinerja anggotanya. Kinerja adalah perilaku yang ditunjukkan oleh individu dalam mengerjakan suatu tugas yang dibebankan. Kinerja adalah ungkapan kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam menghasilkan sesuatu. Namun menurut Mulyasa (2010) mengatakan kinerja adalah penampilan hasil karya personel, baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Dengan demikian kinerja adalah perilaku individu sebagai ungkapan kemajuan dalam menghasilkan sesuatu yang diperoleh dengan mendayagunakan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki.

Masih menurut Mulyasa (2010), deskripsi kinerja menyangkut 3 (tiga) komponen penting yaitu tujuan, ukuran dan penilaian. Penentuan tujuan dari setiap unit organisasi merupakan strategi untuk meningkatkan kinerja. Tujuan ini akan memberikan arah dan mempengaruhi bagaimana seharusnya perilaku kerja yang diharapkan organisasi terhadap setiap personil. Walaupun demikian, penentuan setiap tujuan saja tidaklah cukup, sebab itu dibutuhkan ukuran apakah seorang personil telah mencapai kinerja yang diharapkan. Untuk itu ukuran kuantitatif dan kualitatif standar kinerja untuk setiap tugas dan jabatan personil memegang peranan penting.

Berdasarkan pendapat–pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Kinerja guru adalah perilaku individu sebagai ungkapan kemajuan dalam menghasilkan sesuatu yang diperoleh dengan mendayagunakan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki khususnya dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran tematik.

Pembelajaran Tematik

Berbagai definisi mengenai pembelajaran dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya yaitu Dimyati dan Mudjiono (2009: 7) yang mengemukakan bahwa pembelajaran adalah suatu persiapan yang dipersiapkan oleh guru guna menarik dan memberi informasi kepada siswa, sehingga dengan persiapan yang dirancang oleh guru dapat membantu siswa dalam menghadapi tujuan. Definisi pembelajaran menurut Oemar Hamalik (2005: 57) adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Dari definisi di atas, pembelajaran adalah sutu proses interaksi yang terjadi antara pendidik dan peserta didik dalam suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Pembelajaran harus didukung dengan baik oleh semua unsur dalam pembelajaran yang meliputi pendidik, peserta didik, dan juga lingkungan belajar.

Pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam individu. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 7) yang mengemukakan bahwa pembelajaran adalah suatu persiapan yang dipersiapkan oleh guru guna menarik dan memberi informasi kepada siswa, sehingga dengan persiapan yang dirancang oleh guru dapat membantu siswa dalam menghadapi tujuan.

 

Pengertian Pembelajaran Tematik.

Pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari beberapa mata pelajaran ke dalam sebuah tema. Tujuan dari adanya tema ini bukan hanya untuk menguasai konsep-konsep dalam suatu mata pelajaran akan tetapi juga keterkaitannya dengan konsep dari mata pelajaran lain. Sehingga setelah mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan berdasarkan tema tersebut anak akan menguasai kompetensi dari masing-masing mata pelajaran yang diintegrasikan. Pembelajaran tematik juga dapat diartikan sebagai pola pembelajaran mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, kemahiran, nilai dan sikap pembelajaran dengan menggunakan tema.

Dalam Kurikulum 2013, pengintegrasian beberapa mata pelajaran tersebut didasari oleh tiga hal, yaitu integrasi sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga siswa tidak belajar konsep dasar 14 secara parsial.

Pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema.Menurut Mulyasa (2010:170) pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang diterapkan pada tingkatan pendidikan dasar yang menyuguhkan proses belajar berdasarkan tema untuk kemudian dikombinasi dengan mata pelajaran

Pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu sebagai titik pusatnya. Jadi pembelajaran ini diawali dari suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok–pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik dalam dua bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar anak sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Berdasarkan pendapat–pendapat tersebut dapat disimpulkan Pembelajaran Tematik dalam penelitian ini adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanaya pemanduan ini, peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi peserta didik

Fungsi Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta dapat menambah semangat belajar karena materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata(Kontekstual) dan bermakna bagi pesrta didik.

Tujuan Pembelajaran Tematik.

a.     Mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu.

b.     Mempelajari pengetahuan dan pengembangan berbagai kompetensi muatan pelajaran dalam tema yang sama.

c.     Memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.

d.     Mengembangkan kompetensi berbahasa lebih baik dengan mengaitkan berbagai muatan pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik.

e.     Lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, seperti bercerita, bertanya,menulis sekaligus mempelajari pelajaran yang lain.

f.      Lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks yang jelas.

g.     Guru dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 pertemuan bahkan lebih dan atau pengayaan.

h.    Budi pekerti dan moral peserta didik dapat ditumbuh kembangkan dengan mengangkat sejumlah nilai budi pekerti sesuai dengan situasi

METODE PENELITIAN

Setting dan Subyek Penelitian

Tempat penelitian tindakan sekolah adalah Guru di SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu. Penelitian ini berupa penelitian tindakan sekolah yang dilakukan untuk Guru Kelas 1,2,4 dan 5 selama 4 bulan pada semester II tahun pelajaran 2017/2018 yaitu mulai bulan Januari sampai dengan April 2018.

Subyek penelitian ini adalah guru kelas 1, 2, 4 dan 5 yang sudah melaksabakan kurilkulum 2013 di SD negeri Sijeruk yang berjumlah 4 orang guru dengan rincian Laki-laki 0 orang, Perempuan 4. SD negeri Sijeruk adalah tempat peneliti melaksanakan tugas sehingga tidak menganggu kegiatan pembelajaran

Tehnik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif. Teknik ini digunakan dengan cara membandingkan hasil yang diperoleh dari kegiatan pra siklus, siklus I dan siklus II sehingga akan diperoleh gambaran peningkatan kinerja guru 4 dalam pembelajaran tematik. Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah dengan melihat adanya perubahan peningkatan kinerja guru, yaitu ditandai dengan apabila nilai kinerja guru dalam menyusun RPP tematik makin meningkat menjadi lebih baik serta pelaksanaan pembelajaran semakin meningkat. Sistim penilaian dalam menilai kinerja guru menggunakan instrumen yang telah disusun.

Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan sekolah dilakukan dengan dua siklus masing-masing siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Tiap siklus ditempuh dengan tahapan perencanaan,pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik penelitian dilakukan dengan melaksnakan evaluasi pada kondisi awal dengan menilai kinerja guru dalam menyusun RPP dan melaksankan pembelajaran tematik terpadu. Penilaian menggunakan instrumen, hasil observasi, dan wawancara serta catatan-catatan yang berhasil dihimpun oleh peneliti. Setelah nilai kondisi awal diketahui, kemudian dilanjutkan dengan diskusi pemecahan masalah. Cara yang diambil untuk pemecahan masalah kinerja guru alam pembelajaran tematik terpadu tersebut adalah dengan kegiatan supervisi akademik teknik individual dengan kolaboratif dan diakhiri dengan evaluasi hasilnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran tematik guru di SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu belum sepenuhnya dikuasai guru kelas 1, 2, 4 dan 5 yang menjadi sasaran pelaksanaan kurikulum 2013, salah satu penyebabnya tidak semua guru diikutkan Diklat kurikulum 2013 karena terbatasnya kuaota. Kondisi seperti itu berakibat rendahnya kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat di lihat hasil supervisi yang sudah dilaksanakan sebelum penelitian dilakukan dari 4 guru kelas pada komponen perencanaan pembelajaran hanya 1 (25%) guru kategori kinerja tinggi dengan nilai indikator rata– rata 61. jumlah subyek penelitian, pada komponen pelaksanaan pembelajaran dari 4 guru hanya 1 (25%) guru kategori nilai rata-rata 61

Deskripsi Hasil Siklus I

Tindakan peneliti diawali dengan pertemuan kepala sekolaj dan Guru dalam supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif  

 Dari hasil pengamatan peneliti pada saat guru mengikuti kegiatan di siklus pertama ini, guru nampak antusias dalam merespon materi penyusunan RPP tematik dan dapat membuat RPP. Pada pertemuan III dilaksanakan kunjungan ke kelas untuk mengamati pelaksankaan pembelajaran di kelas. Pengamatan ini peneliti lakukan secara langsung dengan menggunakan lembar observasi pada saat pelaksanaan tindakan. Semua Guru nampak aktif dalam mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Banyak hal-hal yang ditanyakan dari masing-masing peserta kaitannya dengan materi yang disampaikan pada saat proses kegiatan berlangsung. Hal ini sangat positif bagi kelanjutan pelaksanaan tindakan di siklus berikutnya. Dengan respon yang baik, peneliti optimis akan lebih mudah dalam memberikan pemahaman kepada guru dalam membuat perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu.. Sharing diantara peserta juga nampak sering dilakukan guru untuk menyamakan persepsi sesuai dengan alur yang telah peneliti sampaikan.

Berdasarkan hasil penilaian dari lembar instrumen penyusunan RPP dan pelaksanaan Pembelajaran yang telah dilaksankan oleh guru di SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu pada siklus I menunjukkan bahwa kinerja guru dalam pembelajaran pembelajaran tematik masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai kemampuan kinerja menyusun RPP mendapat nilai 74, pelaksanaan pembelajaran 73 dan rata-rata kinerja 73,5.

Deskripsi hasil Siklus II

Menyampaikan hasil siklus I kepada guru. Kekurangan hasil pada siklus I ini akan ditindaklanjuti peneliti dengan merencanakan supervisi akademik teknikm individual dengan pendekatan kolaboratif dengan pendampingan dan bimbingan yang merata. Peneliti membantu menyempurnakan dan memecahkan kesulitan Guru.

 Dari hasil pengamatan peneliti pada saat guru mengikuti kegiatan di siklus pertama ini, guru nampak antusias dalam merespon materi penyusunan RPP tematik terpadu dan dapat membuat RPP. Pada pertemuan III dilaksanakan kunjungan ke kelas untuk mengamati pelaksankaan pembelajaran di kelas. Pengamatan ini peneliti lakukan secara langsung dengan menggunakan lembar observasi pada saat pelaksanaan tindakan. Semua Guru nampak aktif dalam mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Banyak hal-hal yang ditanyakan dari masing-masing peserta kaitannya dengan materi yang disampaikan pada saat proses kegiatan berlangsung. Hal ini sangat positif bagi kelanjutan pelaksanaan tindakan di siklus berikutnya. Dengan respon yang baik, peneliti optimis akan lebih mudah dalam memberikan pemahaman kepada guru dalam membuat perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu.. Sharing diantara peserta juga nampak sering dilakukan guru untuk menyamakan persepsi sesuai dengan alur yang telah peneliti sampaikan.

Berdasarkan hasil penilaian dari lembar instrumen penyusunan RPP dan pelaksanaan Pembelajaran yang telah dilaksankan oleh guru di SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu pada siklus II menunjukkan bahwa kinerja guru dalam pembelajaran pembelajaran tematik terpadu masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai kemampuan kinerja menyusun RPP mendapat nilai 82, pelaksanaan pembelajaran 83 dan rata-rata kinerja 82,5.

Pembahasan

Untuk mengetahui gambaran secara utuh tentang hasil dari penelitian ini perlu dijabarkan dalam pembahasan hasil yang akan peneliti paparkan sebagai berikut ;

Untuk pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini, peneliti mengadakan kegiatan selama tiga kali. Kegiatan yang pertama yaitu pemberian materi tentang cara menyusun RPP tematik terpadu, peserta membuat RPP tematik terpadu dan ketiga melaksankan pembelajaran sesuai RPP yang telah dibuat. Untuk meningkatkan kinerja guru tersebut peneliti melakukan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam dua siklus, yaitu siklus pertama dan siklus kedua. Kegiatan yang dilakukan dalam siklus pertama ini adalah menyampaikan materi penyusunan RPP, yang diakhiri dengan tugas guru untuk membuat RPP, dan melaksankan pembelajaran di kelas. Pada siklus kedua, peneliti melaksankan seperti siklus I dengan bimbingan pada saat membuat lebih merata.

 Hasil yang diperoleh di akhir siklus pertama menunjukkan adanya peningkatan kemampuan dibandingkan hasil dari kondisi awal. Namun demikian peningkatan kemampuan yang dicapai dalam siklus pertama belum mencapai indikator yang diharapkan, karena rata-ratanya belum mencapai75. Untuk itu peneliti melakukan tindakan kedua dengan memberikan bimbingan yang lebih merata. Untuk lebih jelasnya peneliti melakukan pembinaan-pembinaan individu.

 Hasil dari nilai di akhir siklus yang kedua ini juga menunjukkan adanya peningkatan kinerja guru dibandingkan dengan kinerja yang diperoleh pada siklus yang pertama. Rata-rata nilainya sudah mencapai 80, sehingga dapat dikatakan indikatornya tercapai. Hasil nilai di siklus yang kedua ini sekaligus dapat dijadikan hasil akhir tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini.

Perbandingan hasil penelitian pra siklus, siklus I, dan siklus II setelah dilakukan pengamatan pada saat proses pelaksanaan supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif diperoleh data sebagai berikut:

 

Tabel 1. Perbandingan Kinerja Guru dalam Pembelajaran Tematik

No

Kinerja

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

1.

Menyusun RPP

61

74

82

2.

Pelaksanaan Pembelajaran

61

73

83

3.

Rata-Rata

61

73,5

82,5

 

Berdasarkan data di atas pada siklus I ada kenaikan nilai kinerja guru menyusun RPP tematik terpadu dari 61 menjadi 74. Pada siklus II ada kenaikan kinerja menyusun RPP Tematik terpadu dari 74 menjadi 82. Untuk pelaksanaan pembelajaran siklus I ada kenaikan nilai kinerja guru dari 61 menjadi 73. Pada siklus II ada kenaikan kinerja pelaksanaan pembelajaran Tematik terpadu dari 83 menjadi 83. Untuk rata-rata siklus I ada kenaikan nilai kinerja dari 61 menjadi 73,5. Pada siklus II ada kenaikan kinerja dari 73,5 menjadi 82,5. Hal ini dapat disimpulkan bahwa supervisi akademik teknk individual dengan pendekatan kolabiratif dapat meningkatkan kinerja guru dan dalam menyusun RPP dari nilai 61 menjadi 82, dan kinerja dalam pembelajaran dari 61 menjadi 83.

Hasil penelitian supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif terhadap guru SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu terbukti dapat meningkatkan kinerja guru yang selanjutnya berdampak peningkatan kinerja pada tugas pokok dan fungsinya salah satu yaitu pada bidang perencanaan secara kolektif menuju kepada tingkat profesionalisme dan sasarannya adalah peningkatan mutu pendidikan. Hal ini sesuai pendapat Sahertian (2000: 21) menyebutkan bahwa fungsi supervisi pendidikan dari para ahli yaitu: perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran, membina program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga selalu ada usaha, perbaikan, menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang memepengaruhi proses pembelajaran peserta didik, mengkoordinasi, menstimulasi, dan mendorong ke arah pertumbuhan profesi guru, dan memperbaiki situasi belajar mengajar dalam arti yang luas.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1.     Supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif dapat meningkatkan kinerja guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di SD negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu. Hal ini dibuktikan dengan presentase kinerja guru dari kondisi awal 61, setelah tindakan siklus I naik menjadi 74, dan pada tindakan siklus II menjadi 82.

2.     Supervisi akademik teknik individual dengan pendekatan kolaboratif dapat meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan Pembelajaran di SD Negeri Sijeruk Kecamatan Banjarmangu. Hal ini dibuktikan dengan presentase kinerja guru dari kondisi awal 61, setelah tindakan siklus I naik menjadi 73, dan pada tindakan siklus II menjadi 83.

Saran

Berdasarkan simpulan dari hasil penelitian maka peneliti memberikan saran hal-hal sebagai berikut. Untuk Pengawas Selalu memantau kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam bidang teknis pendidikan. Kepala Sekolah diberi arahan untuk melakukan Penelitian Tindakan Sekolah di wilayah kerjanya untuk dapat meningkatakan kinerja guru, dan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan. Untuk Guru RPP Tematik harus disusun lebih dahulu dengan kaidah yang baik dan benar sebelum melaksanakan pembelajaran. Penguasaan teknis menyusun RPP guru supaya dikembangkan sesuai model-model pembelajaran yang akan digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Bafadal, Ibrahim. 1992. Supervisi Pengajaran: Teori dan Aplikasinya dalam Membina Profesional Guru. Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Alat Penilaian Kemampuan Guru. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dharma, Agus. 2000. Manajeman Supervisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Dimyati, Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran.: Penerbit Rineka Cipta. Jakarta

Hamalik, Oemar. 2005. Administrasi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum. Bandung: CV. Mandar Maju.

Mulyasa.2003 Kinerja Guru dalam Dunia Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Mulyasa. 2010. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Undang-Undang RI Nomor 20. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 19. 2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Purwanto, Ngalim. 1997. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rodakarya.

Rohani,Ahmad. Abu Ahmadi 1990. Supervisi Pengajaran: Jakarta: Bumi Aksara.

Sahertian, Piet. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam rangka Pengembangan Sumberdaya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.