MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

OPERASI VEKTOR DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASSED LEARNING DI KELAS X MIPA 1 SMAN 1 CAWAS KABUPATEN KLATEN DI SEMESTER GENAP

TAHUN PELAJARAN 2018/2019

 

Sutaya

SMAN 1 Cawas Kabupaten Klaten

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkani apakah model pembelajaran Problem bassed learning dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Cawas Kabupaten Klaten pada pelajaran Matematika materi operasi vektor di semester genap tahun pelajaran 2018/2019. Hipotesis penelitian ini adalah model pembelajaran Problem bassed learning dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Cawas Kabupaten Klaten pada pelajaran Matematika materi operasi vektor di semester genap tahun pelajaran 2018/2019. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menegah Atas (SMA) Negeri 1 Cawas tahun ajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Reseach (CAR). Subjek penelitian adalah siswa kelas X MIPA 1 yang berjumlah 35 siswa. Sedangkan objek penelitian ini adalah meningkatkan prestasi belajar matematika operasi vektor dengan menerapkan model pembelajaran problem bassed learning. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik non test meliputi wawancara, observasi, dokumentasi, dan teknik tes. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kuantitatif meliputi rata-rata hasil tes dan daya serap siswa. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh; (1) terdapat peningkatan prestasi belajar matematika siswa materi operasi vektor. Nilai rata-rata prestasi belajar matematika yang semula diambil dari pre-test sebesar 64,29 meningkat pada post-test siklus I menjadi 70,57 setelah adanya tindakan pada siklus I, dan meningkat lagi pada post-test siklus II menjadi 78,29. Sedangkan daya serap yang semula 49% meningkat menjadi 66% setelah adanya tindakan pada siklus I, dan pada siklus II meningkat menjadi 91%; (2) terdapat peningkatan aktifitas siswa pada setiap siklusnya, siswa yang tadinya kurang aktif dalam pembelajaran menjadi lebih aktif dalam kegiatan belajar setelah adanya tindakan menggunakan model pembelajaran problem bassed learning.

Kata kunci: Aktifitas, Prestasi Belajar Matematika, Model Problem Bassed Learning

 

Latar Belakang masalah

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam menghasilkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas untuk menghadapi persaingan dengan negara-negara maju di era globalisasi saat ini. Untuk itu kebijakan sistem pendidikan nasional perlu diprioritaskan pada aspek potensi SDM. Hal ini mengingat perlunya pemenuhan tenaga terampil dan handal dalam menghadapi globalisasi dan pasar bebas, di mana bangsa ini harus siap berkompetensi dengan bangsa asing.

Keberhasilan lembaga pendidikan di lihat dari lulusan yang dihasilkan. Prestasi belajar merupakan indikator penting untuk menentukan kelulusan, oleh karena itu lembaga pendidikan berlomba lomba untuk membantu anak didik mencapai hasil belajarnya semaksimal mungkin. Keberhasilan belajar siswa erat kaitanya dengan proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran hendaknya mampu menjadikan siswa aktif, kreatif, menyenangkan, mampu belajar dengan efektif, mampu memotivasi siswa untuk berprestasi. Seperti yang dijelaskan pada peraturan pemerintah no 19 tahun 2005 Bab IV tentang standar proses yaitu “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”. Kaitannya dengan Matematika prestasi belajar dapat diukur dari beberapa aspek, salah satunya adalah pada kompetensi dasar operasi vektor.

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang, dan diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang pesat baik meteri maupun kegunaannya. Mata pelajaran matematika berfungsi melambangkan kemampuan komunikasi dengan menggambarkan bilangan-bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat memberi kejelasan dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam belajar banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu: (1) Faktor-faktor stimuli belajar; Yang dimaksud dengan stimuli belajar adalah segala sesuatu diluar individu yang mendorong individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar, stimuli dalam hal ini mencakup materi, penegasan, serta lingkungan eksternal. (2) Faktor-faktor metode belajar; yang dimaksud dengan metode mengajar yang dipakai oleh guru sangat mempengaruhi metode belajar yang dipakai siswa, faktor metode belajar mencakup kegiatan berlatih, overlearing dan drill, resitasi selama belajar, pengenalan tentang Prestasi belajar, belajar dengan keseluruhan den dengan bagian-bagian, penggunaan modalitas indra, penggunaan dalam belajar, bimbingan dalam belajar, kondisi-kondisi insentif. (3) Faktor-faktor individual yaitu; berpengaruh terhadap roses pembelajaran karena keberPrestasian pembelajaran juga tergantung dari individu itu sendiri, faktor-faktor individual mencakup kematangan, faktor usia kronologis, faktor perbedaan jenis kelamin, pengalaman sebelumnya, kapasitas mental, kondisi kesehatan jasmani, kondosi kesehatan rohani, cara belajar (Soemanto, 2012: 113-121).

Ketika faktor internal terpenuhi akan tetapi faktor dari luar belum terpenuhi maka prestasi belajar yang dicapai siswa tidak akan maksimal. Seorang guru yang berperan penting dalam membantu pencapaian prestasi belajar yang yang maksimal, hendaknya seorang pengajar mengusahakan untuk memberikan pembelajaran yang mampu meningkatkan aktifitas siswa, meningkatkan kemampuan pemahaman siswa dan lain sebagainya. Oleh karena itu faktor guru dan metode mengajar guru berpengaruh penting dalam kebercapaian prestasi belajar siswa.

Permendiknas No. 41 tahun 2007 menyebutkan bahwa pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari kreativitas pengajar. Pembelajaran yang dilakukanoleh pengajar yang mampu memfasilitasi dan motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreativitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pendekatan-pendekatan pembelajaran, metode-metode pembelajaran dan metode-metode pembelajaran yang dapat diterapkan pada peserta didik secara optimal sehingga seluruh potensi peserta didik dapat digali sehingga dapat berguna bagi dirinya, masyarakat dan bangsa.

Dalam perkembangan sekarang ini pendidikan semakin menurun, dengan adanya standar kelulusan yang mengharuskan siswa benar benar mampu meningkatkan kualitas pendidikan. kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru dengan siswa tidak lepas dari apa yang dinamakan dengan komunikasi. Pada perubahan zaman sekarang proses belajar mengajar diharuskan mampu menarik siswa dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.

Banyak ditemukan pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang bervariatif dan cenderung menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran dikelas, dimana siswa justru menganggap pembelajaran ini membosankan dan tidak menarik daya pikir siswa. Dalam hal ini guru dituntut menciptakan proses pembelajaran yang menarik sehingga memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajar. Misalnya saja dalam pelajaran Matematika, siswa merasa bosan pada saat pembelajaran sedang berlangsung dikarenakan metode mengajar guru kurang bervariatif. Salah satu cara mengatasi agar siswa tidak jenuh dan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik yaitu dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran Problem bassed learning.

Fenomena yang sering terjadi pada guru tersebut di atas juga masih di jumpai di SMA Negeri 1 Cawas. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada siswa kelas X MIPA 1, pada mata pelajaran matematika sub bab Vektor yaitu materi yang terintegrasi dengan mata pelajaran Fisika di SMA, di dapatkan beberapa siswa yang kesulitan memahami materi tersebut karena dirasa sulit terutama dalam pemahaman bahasa matematika. Selain itu diketahui bahwa guru kurang bervariatif dalam menerapkan model-model pembelajrannya bahkan cenderung menggunakan model pembelajaran konvensional (ceramah, mencatat, demontrasi, dan lain-lain). Dengan model pembelajaran tersebut diketahui siswa cenderung bosan terhadap materi yang disampaikan guru, selain itu siswa kurang termotivasi untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Ditinjau dari aspek prestasi belajar matematika siswa masih dalam kategori rendah tercatat hanya 49% peserta didik yang tuntas KKM dan sisanya 51% belum mencapai angka KKM.

Melihat kurangnya variasi model pembelajaran matematika di SMA Negeri 1 Cawas maka diperlukan suatu model pembelajaran yang lebih bervariatif agar siswa aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran sehingga tidak hanya guru saja yang aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu variasi model pembelajaran agar siswa lebih aktif dan dapat mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor salah satunya dengan menggunakan model Problem bassed learning. Dengan model pembelajaran ini diharapkan akan mengatasi kejenuhan siswa sehingga siswa dapat aktif dalam pembelajran. Model pembelajaran Problem bassed learning adalah metode yang memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang pengajar terhadap peserta didik lainnya sehingga meningkatkan prestasi belajar siswa.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah model pembelajaran Problem bassed learning dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Cawas Kabupaten Klaten pada pelajaran Matematika materi operasi vektor di semester genap tahun pelajaran 2018/2019?

KAJIAN TEORITIS

Pengertian Prestasi Belajar

Slameto, (2010: 2) mengemukakan “belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku. Pendapat lain yang diutarakan Soemanto, (2012: 104) “belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia, belajar bukan sekedar pengalaman”.

Menurut Hamalik (2006: 12) “prestasi adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa, dan berbuat”. Pendapat lain yang diutarakan Siswoyo, (2011: 66) “Prestasi belajar merupakan mutu penguasaan pengetahuan/ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran. Lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”. Lebih lanjut B. Uno, (2011: 210) berpendapat “Prestasi belajar adalah tercapainya tujuan belajar”. Sedangkan Arifin (2012: 12), mengemukakan “Prestasi belajar pada umumnya berkenaan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak peserta didik. Sebagai indikator keberhasilan dalam bidang studi tertentu, tetapi juga sebagai indikator kualitas institute pendidikan.

Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan bahwa Prestasi belajar merupakan hasil akademik yang dicapai oleh seorang pelajar/siswa yang mencakup aspek kognitif, efektif dan psikomotorik dalam pelajaran yang ditunjukkan dengan nilai yang diberikan oleh guru setelah melakukan kegiatan belajar. Karena indikator prestasi belajar sangatlah luas, maka dalam penelitian ini hanya dibatasi pada aspek akademik siswa yang akan dilihat hasilnya dari nilai yang diberikan oleh guru. Nilai tersebut akan diambil dari hasil tes setelah pertemuan.

Pengertian Model pembelajaran

Trianto, 2007: 6). Berpendapat bahwa model pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.

Model pembelajaran Problem Bassed Learning

Duch (1995: 201), Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.

Trianto, 2007: 68), Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Sedangkan menurut Glazer (2001: 89), mengemukakan Problem Based Learning merupakan suatu strategi pengajaran dimana siswa secara aktif dihadapkan pada masalah kompleks dalam situasi yang nyata.

Berdasarkan beberapa uraian mengenai pengertian Problem Based Learning dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real world) untuk memulai pembelajaran dan merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.

Kelebihan dan Kelemahan Model Problem Bassed Learning

Kelebihan

Sebagai suatu model pembelajaran, Problem Based Learning memiliki beberapa kelebihan, menurut Sanjaya, (2007: 45), diantaranya: a) Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa; b) Meningkatakan motivasi dan aktivitas pembelajaran siswa; c) Membantu siswa dalam mentransfer pengetahuan siswa untuk memahami masalah dunia nyata; d) Membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu, PBM dapat mendorong siswa untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya; e) Mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru; f) Memberikan kesemnpatan bagi siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata; g) Mengembangkan minat siswa untuk secaraterus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir; h) Memudahkan siswa dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari guna memecahkan masalah dunia.

Kelemahan

Disamping kebihan di atas, Problem based learning juga memiliki kelemahan, menurut Sanjaya, (2007: 45) diantaranya: a) Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya; b) Untuk sebagian siswa beranggapan bahwa tanpa pemahaman mengenai materi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

Dapat disimpulkan bahwa dari beberapa kelebihan dan kelemahan model pembelajaran problem based learning ini di peroleh beberapa nilai pokok yang harus dikembangkan oleh guru dalam menghidupkan suasana pembelajaran, disini guru tidak hanya berperan sebagai subjek utama dalam pembelajaran tapi disisi lain guru harus melibatkan siswa agar kemampuan berfikir kritis siswa dapat berkembang walaupun masih saja dapat di nilai tidak semua materi pelajaran dapat di sajikan dalam bentuk permasalahn untuk memperoleh penyelesaian tapi setidaknya dengan bekerja sama dapat menumbuh kembangkan minat dan bakat peserta didik secara tidak langsung.

 

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka piker yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis tindakan pada penelitian tindakan kelas ini adalah: Hipotesis Alternatif (Ha) : Model pembelajaran Problem bassed learning dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Cawas Kabupaten Klaten pada pelajaran Matematika materi operasi vektor di semester genap tahun pelajaran 2018/2019. Hipotesis Nihil (H0) : Model pembelajaran Problem bassed learning tidak dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Cawas Kabupaten Klaten pada pelajaran Matematika materi operasi vektor di semester genap tahun pelajaran 2018/2019.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan dimulai Januari s.d Februari 2018 semester genap tahun pelajaran 2018/2019. Jenis perlakuan tindakan kelas dengan menggunakan 2 siklus dan tiap siklus dilaksanakan tiga pertemuan. Subjek penelitian ini dilakukan di kelas X MIPA 1 SMAN 1 Cawas yang beralamat di Jln. Tembus Tugu, Cawas, Klaten Provinsi Jawa Tengah. Kelas ini termasuk sebagai kelas bermasalah tidak hanya pada pelajaran matematika juga pada pelajaran lain. Kondisi kelas sering kurang kondusif pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Sebagian besar siswa cenderung pasif dan kurang aktif. Akibatnya hasil belajar siswa relatif rendah dibanding dengan kelas lainnya. Adapun objek dari penelitian adalah keaktifan belajar siswa; dan prestasi belajar siswa. Penulis membatasi penelitian pada kedua obyek di atas agar penelitian lebih fokus dan tidak melebar. Teknik pengumpul data peneliti menggunakan metode: tes tes digunakan untuk memperoleh data nilai hasil tes formatif siklus I dan tes formatif siklus II. Tes ini digunakan untuk memperoleh data prestasi belajar siswa yang diberikan secara individu; pengamatan (observasi) untuk mengumpulkan data siswa berkaitan dengan aktivitas dalam proses belajar mengajar; dan dokumentasi dari teknik ini diperoleh data tentang aktivitas belajar pada daftar nilai hasil belajar, daftar hadir, dan foto-foto kegiatan pembelajaran.

Validasi data tentang kreativitas belajar anak diperoleh melalui observasi yang melibatkan observer (teman sejawat). Jadi sumber data tidak hanya satu sumber saja. Untuk data pengamatan dapat diperoleh dari guru peneliti, guru sejawat bahkan siswa dapat dilibatkan sebagai pengamat dimana hasil pengamatan siswa berupa catatan pengamatan yang berisi kesan dan pesan terkait dengan kelebihan dan kekurangan metode dan suasana kelas yang dirasakan oleh siswa. Validasi data hasil belajar diperoleh dari tes tertulis agar valid isinya (content validity), maka perlu dibuat kisi-kisi soal sebelum soal disusun. Hal ini penting dilakukan dengan alasan diantaranya: kisi-kisi dibuat dengan maksud supaya materi yang dibuat sesuai dengan kurikulum yang berlaku; dan misi-kisi perlu dibuat agar butir soal yang dibuat tidak mengelompok pada satu bahasan. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research) yang dilakukan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tahap: perencaana, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Hasil Siklus I

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh oleh teman guru sejawat (obsrver) tentang keaktifan siswa pada siklus I dibuat rekap penilaian seperti tabel berikut.

 

Tabel 1. Hasil Observasi Aktifitas Belajar Siswa

No Uraian Aspek Pengamatan Skor/pertemuan
I II III
1 Peserta didik bertanya 2 2 2
2 Peserta didik mengobrol sendiri di luar materi 2 2 2
3 Peserta didik dapat menjawab pertanyaan guru 3 3 3
4 Peserta didik bercanda 2 2 3
5 Peserta didik menyahut asal-asalan 2 3 3
6 Peserta didik antusias belajar 2 2 3
7 Peserta didik percaya diri 3 3 3
8 Peserta didik malu 3 4 4
9 Peserta didik bermain-main sendiri 3 4 5
10 Peserta didik tidur-tiduran 5 4 4
11 Peserta didik menyimak guru 4 4 4
12 Peserta didik terlibat aktif 4 5 4
13 Peserta didik menghargai hasil kerja teman 5 5 5
14 Peserta didik terlambat masuk kelas 5 5 5
Total 45 48 50
Rata-Rata/pertemuan 3,21 3,43 3,57
Rata-rata Total 3,40
Persentase 68%

Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dijelaskan bahwa aktivitas belajar siswa pada saat diberikan tindakan menggunakan model pembelajaran problem bassed leraning mengalami peningkatan setiap pertemuannya. Pertemuan pertama siswa memperoleh rata-rata skor 3,21 kemudian meningkat pada pertemuan kedua menjadi 3,43 dan mengalami peningkatan lagi pada pertemuan ketiga menjadi 3,57 sehingga didapatkan rata-rata total dari 3 pertemuan tersebut adalah 3,40. Jika dilihat darai persentase didapatkan 68% siswa aktif pada pada siklus I. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer dan peneliti hasil belajar diperoleh data sebagai berikut.

Tabel 4.2. Perbandingan Nilai Matematika Siklus I

Pre-test Nilai test siklus 1
Rata-rata Daya Serap Rata-rata Daya serap
64,29 49% 70,57 66%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat peningkatan prestasi belajar matematika siswa materi operasi vektor pada data pre-test setelah adanya tindakan post-test pada siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran problem bassed learning dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa materi operasi vektor. Pre-test menunjukkan rata-rata kelas sebesar 64,29 meningkat setelah adanya tindakan menjadi 70,57 Selain itu jika dilihat dari daya serap siswa yang semula sebesar 49% meningkat menjadi 66%.

Deskripsi Hasil Siklus I

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh oleh teman guru sejawat (obsrver) tentang keaktifan siswa pada siklus II dibuat rekap penilaian seperti tabel berikut.

Tabel 2. Hasil Observasi Aktifitas Belajar Siswa Siklus II

No Uraian Aspek Pengamatan Skor/pertemuan
I II III
1 Peserta didik bertanya 3 3 4
2 Peserta didik mengobrol sendiri di luar materi 2 3 4
3 Peserta didik dapat menjawab pertanyaan guru 3 4 4
4 Peserta didik bercanda 4 4 5
5 Peserta didik menyahut asal-asalan 4 5 4
6 Peserta didik antusias belajar 4 4 4
7 Peserta didik percaya diri 4 3 4
8 Peserta didik malu 4 5 4
9 Peserta didik bermain-main sendiri 3 4 5
10 Peserta didik tidur-tiduran 5 5 5
11 Peserta didik menyimak guru 4 5 5
12 Peserta didik terlibat aktif 4 5 5
13 Peserta didik menghargai hasil kerja teman 5 5 5
14 Peserta didik terlambat masuk kelas 5 5 5
Total 54 60 63
Rata-Rata/pertemuan 3,86 4,29 4,50
Rata-rata Total 4,21
Persentase 84%

Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dijelaskan bahwa aktivitas belajar siswa pada saat diberikan tindakan menggunakan model pembelajaran problem bassed leraning mengalami peningkatan setiap pertemuannya. Pertemuan pertama siswa memperoleh rata-rata skor 3,86 kemudian meningkat pada pertemuan kedua menjadi 4,29 dan mengalami peningkatan lagi pada pertemuan ketiga menjadi 4,50 sehingga didapatkan rata-rata total dari 3 pertemuan tersebut adalah 4,21. Jika dilihat darai persentase didapatkan 84% siswa aktif pada pada siklus II. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer dan peneliti hasil belajar diperoleh data sebagai berikut.

Tabel 3. Perbandingan Nilai Matematika Siklus II

Post-test Siklus I Post-test Siklus II
Rata-rata Daya Serap Rata-rata Daya serap
70,57 66% 78,29 91%

 

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat peningkatan prestasi belajar matematika siswa materi operasi vektor pada data pre-test setelah adanya tindakan post-test pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran problem bassed learning dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa materi operasi vektor. Post-test siklus I menunjukkan rata-rata kelas sebesar 70,57 meningkat setelah adanya tindakan pada siklus II menjadi 78,29 Selain itu jika dilihat dari daya serap siswa yang semula sebesar 66% meningkat menjadi 91%. Berdasarkan hasil observasi aktifitas belajar pada siklus I dan siklus II didapatkan peningkatan rata-rata dan persentase aktifitas belajar seperti tabel berikut.

Tabel 4. Perbandingan Aktifitas Belajar Siswa Siklus I dan II

Data Siklus I Siklus II
Rata-rata 3,40 4,21
Persentase 68% 84%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata aktifitas belajar siswa pada siklus I sebesar 3,40 mengalami peningkatan pada siklus II menjadi sebesar 4,21. Sedangkan persentase aktifitas siswa pada siklus I sebesar 68% meningkat menjadi 84% setelah adanya tindakan pada siklus II dan dapat dikatakan berhasil. Sedangkan perbandingan prestasi belajar siswa dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 5. Perbandingan Prestasi Belajar pada Siklus I dan II

Data Pre-test Post-test Siklus I Post-test Siklus II
Rata-rata 64,29 70,57 78,29
Daya Serap 49% 66% 91%

 

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa rata-rata nilai prestasi belajar matematika materi operasi vektor pada pre-test sebesar 64,29 setelah adanya tindakan pada siklus I mengalami peningkatan pada post-test menjadi sebesar 70,57 dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi sebesar 78,29. Sedangkan daya serap yang semula 49% meningkat menjadi 66% setelah adanya tindakan pada siklus I, dan pada siklus II meningkat menjadi 91% setelah adanya tindakan siklus II.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran problem bassed learning pada siswa kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Cawas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Terdapat peningkatan aktifitas siswa pada setiap siklusnya, siswa yang tadinya kurang aktif dalam pembelajaran menjadi lebih aktif dalam kegiatan belajar setelah adanya tindakan menggunakan model pembelajaran problem bassed learning; 2) Terdapat peningkatan prestasi belajar matematika siswa materi operasi vektor. Nilai rata-rata prestasi belajar matematika yang semula diambil dari pre-test sebesar 64,29 meningkat pada post-test siklus I menjadi 70,57 setelah adanya tindakan pada siklus I, dan pada post-test siklus II meningkat menjadi 78,29. Sedangkan daya serap yang semula 49% meningkat menjadi 66% setelah adanya tindakan pada siklus I, dan pada siklus II meningkat menjadi 91%. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem bassed learning dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa kelas X MIPA 1 SMA Negeri 1 Cawas.

Saran

Setelah melakukan penelitian ini, ada beberapa saran yang akan penulis sampaikan diantaranya: Bagi Guru yaitu guru hendaknya mempelajari pedoman pelaksanaan pembelajaran dengan model-model, metode-metode, dan media-media pembelajaran yang lebih bervariatif, kemudian mengimplementasikannya di dalam pembelajaran. Terbukti bahwa model pembelajaran problem bassed learning dapat membantu siswa mengembangkan potensi dan kemampuannya serta membangun siswa secara aktif. Siswa akan termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan pada akhirnya prestasi belajarpun meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara

  1. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta.
  2. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arifin, Zaenal. 2012. Evaluasi pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Amir, Taufiq. 2007. Inovasi Pendidikan melalui Problem Bassed Learning. Jakarta: PT. Raja Grafindo persada

Djali dan Mulyono. 2007. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo Persada

Duch, J.B. 1995. Problem Bassed Learning in Physic. Tersedia: http: //www.uddel.edu/pbl/cte/jan95phy.html diaksses pada 2 februari 2019 at 09.00pm

Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Purwanto, M. Ngalim. 2005. Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: CV. Remaja Rosda Karya

  1. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV. Remaja Rosda Karya

Permendiknas No 41 tahun 2007. Tentang Standar Proses untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Tersedia: https: //www. slideshare.net/sdompo/permendiknas41/2007.html diakses pada 2 Februari 2019 at 09.20.pm

Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Depdikbud

Pratama, Aditya Surya. 2016. Penerapan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sosiologi kelas x-3 di SMA Negeri 1 Mojolaban tahun ajaran 2015/2016. Tersedia: http: www.eprit.uny.ac.id/jurnal/skripsi/31/2016.html diakses pada 4 Februari at 07.00 pm

Soemanto, Wasty. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rinneka Cipta

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rinneka Cipta

Sugihartono. et al. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

Sugiyono. 2012. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses. Jakarta: Kencana Prenada Media

Siswoyo, Rasdi Eko. 2011. Jurnal penelitian Tindakan Kelas. Semarang: UNESS Press

Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV. Remaja Rosda Karya

Syaribuddin. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Dengan Media Audio Visual Pada Materi Ikatan Kimia Terhadap Penguasaan Konsep Dan Berpikir Kritis Peserta Didik Sma Negeri 1 Panga. Skripsi tidak diterbitkan: FKIP UNY

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovativ Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Pustaka Pelajar

Uno, B. Hamzah. 2011. Psikologi Belajar: Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: PT. Rinneka Cipta