METODE PEMBELAJARAN TWO WAY TWO STAY

UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR PKn

MATERI SISTEM PEMERINTAHAN RI

BAGI SISWA KELAS VI SDN DOLOGAN TAHUN 2015/2016

Dasri

SDN Dologan Kecamatan Japah Kabupaten Blora

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan minat dan hasil belajar PKn tentang sistem pemerintahan Republik Indonesia melalui penerapan metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS) pada siswa kelas VI SDN Dologan tahun pelajaran 2015/2016. Subjek penelitian adalah siswa kelas VI SDN Dologan Kecamatan Japah Kabupaten Blora dengan jumlah siswa 29 anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan pelaksanaan tindakan sebanyak 2 siklus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes dan nontes. Pengumpulan data dengan teknik tes diambil dari hasil ulangan harian yang dilakukan pada skhir siklus. Adapun teknik nontes datanya diambil dari lembar observasi dan dokumen foto pembelajaran. Pelaksanaan tindakan pada setiap siklus dibagi dalam empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data hasil penelitian yang diperoleh pada pembelajaran pra siklus, minat belajar siswa rendah (44,25%). Pada siklus I, minat belajar siswa meningkat menjadi cukup (67,25%) dan pada siklus II meningkat menjadi tinggi (81,75%). Hasil belajar siswa juga meningkat pada setiap siklus. Pada pembelajaran pra siklus, ketuntasan belajar siswa adalah 41,38% (12 anak) dan rata-rata nilai ulangannya 62,07. Pada siklus I, ketuntasan belajar meningkat menjadi 72,41% (21 anak) dengan rata-rata nilai ulangan 72,41. Pada siklus II hasil belajar siswa kembali meningkat dengan ketuntasan belajar 86,21% (25 anak) dan rata-rata nilai ulangan 77,59. Dengan demikian dapat disimpulkan penerapan metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS) dapat meningkatkan minat dan hasil belajar PKn materi sistem pemerintahan Republik Indonesia pada siswa kelas VI SDN Dologan tahun pelajaran 2015/2016.

Kata Kunci :     metode Two Way Two Stay, minat belajar, hasil belajar

PENDAHULUAN

Latar Belakang

PKn merupakan mata pelajaran yang diajarkan mulai tingkat sekolah dasar. Namun, pada hakikatnya, nilai-nilai dalam PKn sudah diterapkan kepada siswa sebelum memasuki sekolah dasar, yaitu melalui pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dan pengaruh lingkungan sekitar. Jadi, seharusnya nilai-nilai PKn tersebut sudah membekas pada diri siswa mulai dari rumah dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan hidup yang baik. Guru harus dapat menerapkan pembelajaran yang efektif di sekolah agar inti dari pembelajaran PKn dapat dimengerti dan benar-benar diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya yang dapat dilakukan guru agar pembelajaran PKn menjadi efektif dan menyenangkan bagi siswa yaitu dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang bervariasi. Guru harus mampu membuat suasana belajar menjadi nyaman bagi siswa. Selain itu, sarana dan prasarana yang tersedia harus bisa dimanfaatkan secara optimal oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Guru juga harus menggunakan desain dan strategi pembelajaran serta media yang sesuai dengan materi pembelajaran dan karakteristik siswa.

Kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran PKn yang dilakukan guru seringkali masih monoton. Guru hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dalam menyampaikan materi pembelajaran tanpa ada variasi dengan metode lain. Selain itu, guru juga belum menggunakan media dalam proses pembelajarannya. Akibatnya, siswa menjadi cepat jenuh dan sukar untuk memahami materi pembelajaran.

Kejenuhan siswa menjadi semakin besar saat guru kurang tepat dalam menggunakan metode pembelajaran yang dilakukan. Mengingat materi dalam bahasan tersebut yang lebih banyak menuntut untuk dihapalkan, maka metode pembelajaran yang digunakan guru cenderung monoton. Hal ini berdampak pada munculnya kebosanan yang pada gilirannya menjadikan daya serap siswa kurang optimal.

Permasalahan lain yang sering ditemukan pada saat ini adalah kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran. Pada pembelajaran tersebut, dominasi guru masih sangat tinggi, pengorganisasian siswa cenderung searah dan klasikal dan guru jarang berkeliling mendekati siswa. Selain itu untuk mempelajari materi tersebut diperlukan cara dan metode belajar yang berbeda bila dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya.

Kondisi demikian juga terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran PKn di kelas VI SDN Dologan Kecamatan Japah Kabupaten Blora. Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan selama mengajar, siswa masih mengalami kesulitan untuk memahami materi PKn khususnya pada materi memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia karena pembelajaran yang dilakukan kurang bervariasi. Masalah tersebut berpengaruh pada hasil belajar siswa.

Berdasarkan hasil ulangan harian mata pelajaran PKn pada materi tersebut nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas VI SDN Dologan Kecamatan Japah Kabupaten Blora pada semester I tahun pelajaran 2014/2015 adalah sebesar 62,07. Nilai tersebut masih berada di bawah KKM yang ditetapkan untuk pembelajaran PKn dengan KKM 70. Ditinjau dari tingkat penguasaan penuh secara klasikal, tingkat ketuntasan belajar siswa di kelas tersebut baru mencapai 41,38% atau 12 siswa dati 29 siswa. Sisanya sebanyak 17 siswa atau 58,62% masih belum tuntas belajar.

Rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa tersebut salah satunya disebabkan karena minat terhadap pembelajaran yang kurang mendukung. Hasil pengamatan yang dilakukan secara kasar mengindikasikan bahwa siswa cenderung menganggap remeh mata pelajaran PKn. Cara pandang yang demikian pada gilirannya dapat menyebabkan siswa cenderung pasif dalam menerima pembelajaran sehingga pemahaman konsep juga rendah.

Berdasarkan permasalahan tersebut guru berupaya untuk melakukan perbaikan dalam pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran yang bersifat kreatif. Salah satu strategi pembelajaran yang kreatif dan tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran PKn tersebut adalah metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS). Strategi ini dilakukan dengan cara guru mendorong siswa untuk aktif dalam belajar dan diskusi kelompok sehingga akan menambah motivasi siswa dalam belajar dan akan diikuti pula oleh sikap siswa yang berupa tindakan-tindakan untuk lebih aktif, sehingga tercapai hasil belajar siswa meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Melalui penggunaan metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS) yang dilakukan tersebut, diharapkan siswa akan lebih termotivasi dalam belajar. Siswa akan bersikap lebih positif terhadap pembelajaran yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka dapat dirumuskan rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:

1. Apakah penerapan metode pembelajaran Two Way Two Stray (TWTS) dapat meningkatkan minat belajar PKn materi memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia bagi siswa kela VI SDN Dologan Kecamatan Japah Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

2. Apakah penerapan metode pembelajaran Two Way Two Stray (TWTS) dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia bagi siswa kela VI SDN Dologan Kecamatan Japah Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran PKn materi memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia bagi siswa kela VI SDN Dologan Kecamatan Japah Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016 melalui penggunaan metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS).

2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran PKn materi memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia bagi siswa kela VI SDN Dologan Kecamatan Japah Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016 melalui penggunaan metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS).

Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi siswa

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan minat dan hasil belajar dalam pembelajaran PKn materi memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia.

2. Manfaat bagi guru

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan wawasan tentang penggunaan metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS) dalam pembelajaran.

3. Manfaat bagi sekolah

Hasil penelitian ini bermanfaat bagi sekolah untuk dijadikan tambahan informasi bagi semua guru mengenai metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS).

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar

Konsep pembelajaran menurut Sardiman, sebagaimana dikutip oleh Kustandi dan Sutjipto (2011: 5), didefinisikan sebagai suatu usaha sadar dari guru atau pengajar untuk membantu siswa agar belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Selain pengertian di atas, Siddiq, Munawaroh, dan Sungkono (2008: 1.9) berpendapat bahwa pengertian pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang (guru atau yang lain) untuk membelajarkan siswa yang belajar. Briggs dalam Sugandi (2007: 10-1) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi si belajar sedemikian rupa sehingga si pebelajar itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi berikutnya dengan lingkungan.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah segala usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh seseorang (guru) untuk membantu orang lain (siswa) agar dapat belajar dengan mandiri sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Berdasarkan Permendiknas No. 14 Tahun 2007 (2007: 63), mata pelajaran PKn didefinisikan sebagai berikut “Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945”.

Selain definisi di atas, mata pelajaran PKn juga mempunyai tujuan dalam pelaksanaannya. Tujuan mata pelajaran PKn yang tercantum dalam Permendiknas No. 14 Tahun 2007 (2007: 63) adalah agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut:

1. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan;

2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, bertindak secara cerdas dalam kegiataan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi;

3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya; dan

4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Ruang lingkup materi pada mata pelajaran PKn menurut Permendiknas No. 14 Tahun 2007 (2007:63) meliputi beberapa aspek, yaitu: (1) persatuan dan kesatuan bangsa, (2) norma, hukum, dan peraturan, (3) hak asasi manusia, (4) kebutuhan warga negara, (5) konstitusi negara, (6) kekuasaan dan politik, (7) Pancasila, dan (8) globalisasi.

Minat Belajar

Sukardi (1987:25) mengemukakan bahwa minat belajar adalah suatu kerangka mental yang terdiri dari kombinasi gerak perpaduan dan campuran dari perasaan, prasangka, cemas dan kecenderungan-kecenderungan, lain yang biasa mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu. Menurut Belly (2006:4), minat adalah keinginan yang didorong oleh suatu keinginan setelah melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhan yang diinginkannya.

Selanjutnya menurut Bob dan Anik Anwar (1983:210), mengemukakan bahwa minat adalah keadaan emosi yang ditujukan kepada sesuatu. Dari kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan minat ialah suatu kondisi kejiwaan seseorang untuk dapat menerima atau melakukan sesuatu objek atau kegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

Sedangkan pengertian belajar dapat dikemukakan sebagai berikut: belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman kecuali perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses menjadi matangnya seseorang atau perubahan yang intensif atau bersifat temporer (Oemar Hamalik, 1983:34).

Pendapat lain seperti yang dikemukakan oleh Yusuf Djayadisastra (1989:8), ialah: belajar adalah pada hakekatnya “suatu perubahan, baik sikap maupun tingkah laku kearah yang baik, kuantitatif dan kualitatif yang fungsinya lebih tinggi dari semula. Disamping itu Ahmad Tono (1978:25), juga mengemukakan bahwa: belajar terdiri dari melakukan sesuatu yang baru, kemudian sesuatu yang baru tersebut dicamkan atau dipahami oleh individu kemudian ditampilkan kembali dalam kegiatan kemudian.

Minat belajar seseorang tidaklah selalu stabil, melainkan selalu berubah. Olehnya itu perlu diarahkan dan dikembangkan kepada sesuatu pilihan yang telah ditentukan melalui faktor-faktor yang mempengaruhi minat itu. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa adalah:

1. Faktor intern adalah sama yang ada pada diri seseorang baik jasmani maupun rohani, fisik maupun psikhis.

2. Faktor ekstern adalah semua faktor yang ada diluar individu: keluarga, masyarakat dan sekolah.

Campbell (dalam Sofyan,2004:9) berpendapat: Bahwa usaha yang dapat dilakukan untuk membina minat anak agar menjadi lebih produktif dan efektif antara lain sebagai berikut: (1) Memperkaya ide atau gagasan; (2) Memberikan hadiah yang merangsang; (3) Berkenalan dengan orang-orang yang kreatif; (4) Petualangan dalam arti berpetualangan ke alam sekeliling secara sehat; (5) Mengembangkan fantasi; (5) Melatih sikap positif.

Pendapat lain yang dikemukakan oleh W. Olson (dalam Samosir, 1992:112), bahwa untuk memupuk dan meningkatkan minat belajar anak dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Perubahan dalam lingkungan, kontak, bacaan, hobbi dan olahraga, pergi berlibur ke lokasi yang berbeda-beda. Mengikuti pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang yang harus dikenal, membaca artikel yang belum pernah dibaca dan membawa hobbi dan olahraga yang beraneka ragam, hal ini akan membuat lebih berminat.

2. Latihan dan praktek sederhana dengan cara memikirkan pemecahan-pemecahan masalah khusus agar menjadi lebih berminat dalam memecahkan masalah khusus agar menjadi lebih berminat dalam memecahkan persoalan-persoalan.

3. Membuat orang lain supaya lebih mengembangkan diri yang pada hakekatnya mengembangkan diri sendiri.

Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.

Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27) menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:

1. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.

2. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.

3. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.

4. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.

5. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program.

6. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan.

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Sugihartono, dkk (2007: 76-77), menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut:

1. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.

2. Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Pembelajaran Kooperatif Tipe Two-Way-Two-Stay (TWTS)

Slavin dalam Etin (2007: 4) mengatakan bahwa Cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model cooperative learning harus ada “struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif” sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota kelompok. Sejalan dengan hal tersebut, Anita Lie (2004: 18) mengungkapkan bahwa model pembelajaran kooperatif atau disebut juga dengan pembelajaran gotong-royong merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas terstruktur.

Berdasarkan berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif atau Cooperative Learning merupakan suatu model pembelajaran yang berfokus pada sebuah kelompok kecil siswa untuk saling bekerjasama dan saling membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif ini menuntut siswa untuk memiliki kekompakan atau saling kerjasama, memotivasi anggota lain, pengorganisasian dalam kelompok, inisiatif kerja dalam kelompok, dan keaktifan siswa. Melalui pembelajaran kooperatif siswa akan bekerja.

Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model TSTS. “Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads). Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu (Anita Lie, 2004: 61).

Dalam model pembelajaran kooperatif TSTS ini memiliki tujuan yang sama dengan pendekatan pembelajaran kooperatif yang telah di bahas sebelumnya. Siswa diajak untuk bergotong royong dalam menemukan suatu konsep. Penggunaan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stay (TWTS) akan mengarahkan siswa untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Selain itu, alasan menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stay ini karena terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas tiap anggota kelompok, siswa dapat bekerjasama dengan temannya, dapat mengatasi kondisi siswa yang ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar (Anita Lie, 2004: 61).

Adapun langkah-langkah model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu (dalam Lie, 2004:60-61) adalah sebagai berikut: 1) Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa; 2) Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke kelompok yang lain; 3) Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka; 4) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain; dan 5) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

Kerangka Berpikir

Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran bagi siswa, karena sasaran utama dalam pembelajaran sebenarnya terletak pada proses pembelajaran peserta didik. Mengingat pembelajaran adalah suatu usaha untuk menciptakan suatu kondisi yang kondusif bagi belajar siswa dan melatih bagi siswa untuk membangun pengetahuan secara aktif.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas VI semester I di SDN Dologan Kecamatan Japah Kabupaten Blora tahun pelajaran 2015/2016 dalam pembelajaran PKn kurang optimal. Hal ini disebabkan karena siswa menganggap pembelajaran PKn tidak sebagaimana mestinya. Pandangan siswa terhadap pembelajaran PKn yang kurang semestinya menjadikan siswa cenderung kurang serius dalam mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan.

Atas dasar kondisi tersebut maka diperlukan perbaikan yang dapat mendorong seluruh siswa untuk aktif dalam menyampaikan pendapat atau pikiran dan perasaan secara lisan. Untuk mengoptimalkan hasil belajar dalam pelajaran PKn, diperlukan metode yang lebih menekankan kerjasama siswa, keaktifan, dan kreativitas siswa serta ada kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan informasi.

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stay. Melalui model pembelajaran kooperatif ini, lebih menekankan siswa untuk memiliki keterampilan berdiskusi yaitu mengajak siswa untuk berpendapat, berinteraksi dengan teman-temannya, melatih kerjasama, dan berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah yang didiskusikan.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan teori dan kerangka berpikir di atas, hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

1. Penggunaan metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS) dapat meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran PKn materi memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia bagi siswa kelas VI semester I SDN Dologan Kecamatan Japah tahun pelajaran 2015/2016.

2. Penggunaan metode pembelajaran Two Way Two Stay (TWTS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn materi memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia bagi siswa kelas VI semester I SDN Dologan Kecamatan Japah tahun pelajaran 2015/2016.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Dologan Kecamatan Japah Kabupaten Blora. Alasan yang mendasari pemilihan tempat ini karena peneliti adalah guru di SDN Dologan. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016, tepatnya pada bulan Agustus sampai dengan bulan November 2015. Yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas VI SDN Dologan tahun peljaran 2015/2016 sejumlah 29 siswa yaitu 16 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data tentang minat dan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini ada dua teknik pengumpulan data yaitu teknik non tes dan teknik tes. Teknik nontes digunakan untuk mengumpulkan data minat belajar siswa dengan cara observasi menggunakan alat berupa lembar observasi. Adapaun teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa dengan cara ulangan harian pada akhir siklus menggunakan alat berupa butir soal. Data tentang minat dan hasil belajar siswa yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik deskriptif komparatif.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari empat tahapan. Tahap pertama perencanaan, tahap kedua adalah pelaksanaan, tahap ketiga melakukan observasi, dan tahap keempat melakukan refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pra Siklus

Data minat dan hasil belajar siswa pada pembelajaran pra siklus di ambil dari dokumen jurnal pembelajaran dan dokumen daftar nilai. Minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn pada pra siklus masih rendah (44,25%). Siswa terlihat malas-malasan dalam mengikuti pelajaran. Konsep-konsep yang harus dihafalkan oleh siswa membuat siswa malas untuk belajar. Dari minat belajar yang rendah berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah pula. Rata-rata nilai ulangan harian pada pra siklus adalah 62,07. Dengan KKM 70, dari 29 siswa kelas VI SDN Dologan yang tuntas belajar adalah 12 anak (41,38%). Sisanya, sejumlah 17 anak (58,62%) tidak tuntas belajar.

Siklus I

Siklus I dilaksanakan pada tanggal 7, 14 dan 21 September 2015. Pada siklus I, guru menerapkan metode pembelajaran Two Way Two Stay. Selama proses pembelajaran peneliti dan observer melakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi. Data yang diperoleh dari kegiatan observasi menunjukkan minat siswa terhadap mata pelajaran PKn sudah cukup dengan skor rata-rata indikator minat belajar 67,25%. Seiring peningkatan minat belajar, hasil ulangan harian pada akhir siklus I juga mengalami peningkatan. Jumlah siswa yang mendapat nilai 40 tinggal 1 anak, nilai 50 sebanyak 2 anak, nilai 60 sebanyak 5 anak, nilai 70 sebanyak 9 anak, nilai 80 sebanyak 6 anak, nilai 90 sebanyak 5 anak, dan sudah ada yang mendapat nilai 100 sebanyak 1 anak. Jika dihitung, rata-rata nilai ulangan harian pada siklus I adalah 72,41. Dari 29 siswa, pada siklus I terdapat 21 anak (72,41%) yang tuntas belajar dan sisanya 8 anak (27,59%) tidak tuntas belajar.

Siklus II

Siklus II dilaksanakan pada tanggal 12, 19 dan 26 Oktober 2015. Pada siklus II peneliti masih tetap menerapkan metode pembelajaran Two Way Two Stay. Data hasil observasi menunjukkan minat belajar siswa pada siklus II tinggi dengan skor rata-rata indikator minat belajar sebesar 81,75%. Hasil belajar pada siklus II menunjukkan sudah tidak terdapat siswa yang mendapat nilai 40. Siswa yang mendapat nilai 50 sebanyak 1 anak, nilai 60 sebanyak 3 anak, nilai 70 sebanyak 10 anak, nilai 80 sebanyak 7 anak, nilai 90 sebanyak 4 anak, dan nilai 100 sebanyak 4 anak. Jika dihitung, rata-rata nilai ulangan harian pada siklus II adalah 77,59. Pada siklus II terdapat 25 anak (86,21%) yang tuntas belajar dan sisanya 4 anak (13,79%) tidak tuntas belajar.

Pembahasan

Peningkatan minat belajar siswa terjadi pada setiap siklus. Pada pembelajaran pra siklus, minat belajar siswa rendah. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I dengan menerapkan metode pembelajaran Two Way Two Stay, minat belajar siswa meningkat menjadi cukup. Pada siklus II kembali terjadi peningkatan minat belajar siswa menjadi tinggi. Peningkatan ini terjadi karena siswa merasa ikut dilibatkan dalam menemukan konsep-konsep yang ada dalam materi pelajaran. Siswa tidak hanya diberi materi-materi yang harus dihafalkan. Mereka merasa lebih asyik karena dalam menemukan konsep dilakukan dalam keadaan rileks tanpa rasa takut untuk melakukan kesalahan.

Peningkatan minat belajar siswa ini sangat berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar yang dilakukan denganulangan harian pada akhir siklus. Pada kondisi awal, nilai rata-rata ulangan harian adalah 62,07 dengan tingkat ketuntasan 41,38%. Pada siklus II, hasil belajar siswa meningkat dengan rata-rata nilai ulangan harian 72,41 dan tingkat ketuntasan belajar 72,41%. Peningkatan hasil belajar juga terjadi pada siklus II dengan rata-rata nilai ulangan harian 77,59 dan tingkat ketuntasan belajar 86,21%.

Dengan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa metode pembelajaran Two Way Two Stay dapat meningkatkan minat dan hasil belajar PKn pada materi sistem pemerintahan Republik Indonesia bagi siswa kelas VI SDN Dologan Tahun Pelajaran 2015/2016.

PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan dari penelitian yang dilakukan yaitu:

1. Penerapan metode pembelajaran Two Way Two Stay dapat meningkatkan minat belajar PKn pada materi sistem pemerintahan Republik Indonesia bagi siswa kelas VI SDN Dologan Kecamatan Japah Tahun Pelajaran 2015/2016.

2. Penerapan metode pembelajaran Two Way Two Stay dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada materi sistem pemerintahan Republik Indonesia bagi siswa kelas VI SDN Dologan Kecamatan Japah Tahun Pelajaran 2015/2016.

Saran

1. Siswa diharapkan dapat meningkatkan sikap mereka terhadap pembelajaran sehingga hasil belajar yang mereka peroleh semakin optimal.

2. Guru disarankan untuk berani bereksperimen dengan mengaplikasikan berbagai metode pembelajaran yang bervariatif sehingga sikap siswa terhadap pembelajaran semakin positif.\

3. Sekolah diharapkan dapat mendorong para guru untuk menerapkan metode pembelajaran yang bervariatif guna memberikan pengalaman belajar yang baru dan menarik bagi siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Belly, Ellya dkk. 2006. Pengaruh Motivasi terhadap Minat Mahasiswa Akuntasi. Simposium Nasional Akuntasi 9 Padang.

Bob dan Anik Anwar. 1983. Pedoman Pelaksanaan Menuju Pra Seleksi Murni. Bandung: Ganesa Exact.

Dimyanti dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka

Djayadisastra, Yusuf. 1989. Psikologi Perkembangan. Bandung: BPGT.

Etin Solihatin., Raharjo. 2005. Cooperative Learning: Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Hamalik, Oemar. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito.

Kustandi dan Sutjipto. 2011. Media Pembelajaran Manual dan Digital. Bogor: Ghalia Indonesia

Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning (Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo

Samosir, Marten. 1992. Seni Berpikir Kreatif. Jakarta: Erlangga.

Siddiq, M. Djauhar, dkk. 2008. Pengembangan Bahan Pembelajaran SD. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Sofyan, Nurbaeti. 2004. Skripsi: Hubungan antara Minat dan Perhatian dengan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA pada SDN Labuang Baji I Makassar. Makassar: Universitas Veteran Republik Indonesia

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Sugandi, Achmad. 2007. Teori Pembelajaran. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

Sukardi. 1987. Bimbingan dan Penyuluhan. Surabaya: Usaha Nasional.

Tono, Achmad. 1978. Metode Pengajaran. Jakarta: Sinar Baru.