PENERAPAN MODEL MIND MAPPING

UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

PADA MATERI ASPEK WRITING DI

DI KELAS VIII-4 SMP NEGERI 2 PORSEA SM. GANJIL T.P. 2019/2020

 

Pantun Siallagan

SMP Negeri 2 Porsea

 

ABSTRAK

Masalah pokok dalam penelitian ini apakah Apakah implementasi metode mind mapping dalam pembelajaran aspek materi writing dapat meningkatkan hasil belajar terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris? Apakah implementasi metode mind mapping dalam pembelajaran aspek materi writing dapat meningkatkan minat dan hasil belajar materi writing siswa? Bagaimana respon siswa terhadap implementasi metode mind mapping dalam pembelajaran aspek materi writing Tujuan penelitian ini adalah Meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris, khususnya pada pembelajaran aspek materi writing, meningkatkan minat dan hasil belajar materi writing siswa dan mengetahui bagaimana respon siswa terhadap implementasi metode mind mapping dalam pembelajaran aspek materi writing. Subjek penelitian ini adalah siswa dari kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Porsea Kabupaten Toba Samosir Tahun pembelajaran 2019/2020 yang berjumlah 32 orang terdiri dari 22 perempuan dan 10 orang laki-laki penelitian kelas ini diambil berdasarkan hasil observasi terhadap kelas yang akan diteliti. Pada siklus I aktivitas siswa mencapai 49,8% dari indikator aktivitas yang dapat dilaksanakan siswa. Namun pada siklus II mengalami kenaikan sebesar 20,3% menjadi 70,1% dimana siswa sudah dapat melaksanakan indikator aktivitas yang telah ditetapkan. Adanya peningkatan aktivitas belajar siswa per siklusnya. Jika pada siklus I masih ada 3 orang siswa yang tidak aktif, sementara siswa yang kurang aktif dan cukup aktif berimbang yaitu 14 orang, dan hanya 2 siswa yang aktif. Kemudian pada siklus II, siswa yang tidak aktif sudah tidak ada lagi, hanya ada 2 siswa yang kurang aktif, sementara siswa yang cukup aktif ada 23 orang (69,7%), dan 8 orang yang aktif. Setelah dilakukan tes pada setiap siklusnya, diperoleh data bahwa ada peningkatan terhadap nilai rata-rata dan persentase ketuntasan hasil belajar siswa. Pada siklus I, siswa yang tuntas belajar hanya mencapai 18 (54,5%) dengan nilai rata-rata 66,36. Sedangkan pada siklus II, siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 28 (84,8%) dengan nilai rata-rata 76,82. Berdasarkan hasil yang di peroleh maka penerapan model mind mapping dapat meninggkatkan hasil belajar siswa pada sememester ganjil materi writing di kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Porsea Kab. Toba Samosir pada Tahun Pembelajaran 2019/2020.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Mind Mapping

 

PENDAHULUAN

Pada pembelajaran kompetensi atau aspek materi writing, yang tujuan akhirnya adalah siswa dapat menghasilkan tulisan atau teks baik fungsional maupun monolog berdasarkan genre atau jenis teks, diharapkan siswa dapat memahami ciri-ciri dari suatu teks, dan dapat mengekspresikannya dengan kosa kata dan tata bahasa yang benar.

Secara umum sebagai guru mata pelajaran bahasa ingris, di SMP Negeri 2 Porsea banyak siswa seperti halnya pada kelas VIII-4 yang merasa kesulitan dalam mengikuti pelajaran Bahasa Inggris khususnya pada aspek materi writing . Sebagai contoh, pada waktu diberi tugas menulis teks monolog berbentuk descriptive yang sudah ditentukan tema atau judulnya, kebanyakan siswa tidak segera melaksanakan, bahkan malah ditinggal ngobrol dengan teman di dekatnya. Nampak tidak serius dan malas mengerjakannya. Waktu diperingatkan dan ditanya kenapa tidak segera dikerjakan, jawaban mereka: “Sebentar …”, “Nanti dulu, bu,”, “Sulit, bu,”, “Buat PR aja, bu” …dan seterusnya yang intinya ingin menghindari tugas itu. Padahal langkah-langkah menulis descriptive sudah peneliti berikan, seperti pola kalimat simple present tense, contoh-contoh cara membuat kalimatnya, menentukan kosa kata yang akan digunakan, yang berkaitan dengan tema yang sedang dipelajari serta generic structurenya juga sudah diberikan. Contoh descriptive text pun sudah diberikan dalam pembelajaran aspek reading.

Ada kemungkinan kesulitan itu dikarenakan bahwa selama ini, kebanyakan siswa menganggap mata pelajaran bahasa Inggris sebagai momok atau mata pelajaran yang sulit dan tidak menarik. Karena sulit dan tidak menarik, siswa cenderung tidak suka, malas dan ingin menghindarinya. Akibatnya, siswa malas mengikuti pelajaran itu atau kurang serius dan malas mengerjakan tugas yang dibebankan oleh gurunya. Kamus, sebagai sarana pendukung yang penting dalam belajar bahasa asing, juga jarang yang memilikinya. Ada yang memiliki, tapi malas membawanya karena berat. Itu semua terjadi karena kurangnya motivasi dan kurang minatnya terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris. Ada siswa yang sudah mulai menulis, kemudian macet di tengah jalan, hal ini dikarenakan kesulitan memunculkan ide, padahal tema atau judul sudah ditentukan. Akibatnya tugas materi writing banyak yang tidak dikumpulkan. Sudah dibuat PRpun, masih banyak yang tidak mengumpulkan. Sampai suatu saat, peneliti pernah memaksa, bahwa semua siswa harus mengumpulkan tugas materi writing . Apa yang terjadi? Semua siswa benar-benar mengumpulkan tugas itu. Tapi setelah diperiksa, ternyata banyak pekerjaan siswa yang sama persis. Itu berarti banyak siswa yang tidak mengerjakan, melainkan hanya menyontek pekerjaan temannya.

Nampaknya masalah yang dihadapi kebanyakan siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Porsea pada pembelajaran aspek materi writing ini cukup kompleks. Mulai dari kurangnya minat, kurangnya sarana, kurangnya motivasi sehingga kurang serius dalam mengikuti mata pelajaran Bahasa Inggris sehingga berdampak pada lemahnya penguasaan kosa kata dan tata bahasa yang sangat diperlukan dalam pembelajaran aspek materi writing ini. Kalau melihat macetnya penulisan, itu berarti karena kurangnya pengorganisasian pokok pikiran.

KAJIAN TIORI

Bahasa

Bahasa bukan hanya suatu objek abstrak yang dipelajari, tapi sesuatu yang digunakan orang setiap hari. Dalam mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi, perlu disadari adanya makna-makna bahasa yang perlu dikuasai. Menurut Halliday (1973), ada dua macam makna yang terangkum dalam semua bahasa. Makna ideasional dan makna interpersonal. Makna ideasional adalah merupakan wujud dari pengalaman seseorang, baik pengalaman nyata maupun imajiner. Yang oleh Halliday disebut “in the sense of content”. Makna interpersonal adalah makna sebagai bentuk dari tingkah laku (sebagai pembicara atau penulis) yang kita tujukan kepada orang lain (sebagai pendengar atau pembaca). (Panduan Pengembangan Silabus mapel Bahasa Inggris SMP, 2006: 5 )

Metode Mind Mapping

“Menurut arti katanya, mind mapping dapat diartikan sebagai “pemetaan pikiran”. Untuk memetakan pikiran, kita perlu melibatkan imajinasi, asosiasi, pengulangan dan visualisasi. Kemudian kita buat catatan-catatan yang divisualisasikan dalam bentuk password. Metode Mind Mapping adalah metode meringkas yang menggunakan segala macam metode untuk memudahkan mengingat, tapi hanya password-password saja yang diletakkan pada mind mapping. Mind mapping dapat memunculkan ide, dapat mengembangkan ide dan menarik, karena dapat diberi gambar-gambar yang menarik sesuai dengan ide yang muncul serta dapat diberi warna yang menarik pula. Beberapa hal penting dalam membuat mind mapping atau peta pikiran menurut Neuroscience Super Learning adalah sebagai berikut:

  • Kertas: horizontal
  • Judul: di tengah, sub judul: dimulai dari atas, ke kanan searah jarum jam.
  • Linking atau penghubungnya, menggunakan: anak panah, spiral yang diregangkan, lingkaran-lingkaran yang disambung-sambung, dari besar ke kecil, atau gambar sudut lancip tapi garisnya lengkung (luwes, tidak kaku).
  • Tulisan: tegak.
  • Penyebaran materi: seperti ranting pohon (makin jauh makin kecil
  • Pewarnaan: dominankan warna cerah kecuali merah (emosi) dan bedakan warna judul dengan bagian-bagiannya.
  • Memuat berbagai metode.
  • Dapat memunculkan ide.
  • Dalam penelitian ini, peneliti mencoba menggunakan metode mind mapping dalam pembelajaran Bahasa Inggris pada kompetensi materi writing. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, karena dalam 1 semester hanya ada 2 macam teks monolog. Materi yang akan diteliti adalah: Menulis (materi writing ).
  • Pada pertemuan pertama penelitian dilakukan tes minat terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris dengan cara mengisi angket, yang harus diisi dengan jujur dan tanpa diberi identitas. Setelah selesai, dikumpulkan dan selanjutnya dibagikan kertas kosong untuk menulis deskripsi atau karangan dengan judul “My hobby” atau “My Hobbies”, sebagai pretes, dengan diberi penjelasan seperlunya.
  • Pada pertemuan berikutnya diperkenalkan metode “mind mapping”, kegunaan metode ini dan tata cara pembuatannya. Lalu menerapkan metode tersebut untuk mempelajari kembali atau mereview descriptive text yang pernah dipelajari dalam pembelajaran Selanjutnya mempelajari pola kalimat yang terdapat dalam teks deskriptif, yaitu pola kalimat simple present tense, dan berlatih membuat kalimat simple present tense yang dikaitkan dengan tema yang sedang dipelajari yaitu Hobby.
  • Untuk mempermudah dan memperlancar tugas siswa, dibentuk kelompok belajar, yang terdiri dari 4 siswa. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang ketua kelompok, yang ditentukan oleh guru berdasarkan nilai pretes. Ranking 1 sampai 9 dijadikan ketua kelompok, dan anggotanya, ketuanya dipersilahkan memilih sendiri. Tujuan dibentuknya kelompok dengan penyebaran siswa pandai ini, adalah agar supaya semua kelompok dapat melaksanakan tugas seperti yang diharapkan.

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini, prosedur penelitianya menggunakan prosedur penelitian model Kemmis dan Mc Taggart (1982: 11). Setiap tahap atau siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

Perencanaan

Penelitian ini direncanakan dilaksanakan dalam 2 siklus, dengan tujuan masing-masing siklus: meningkatkan minat belajar siswa, meningkatkan minat dan hasil belajar materi writing siswa serta mengetahui respon siswa setelah diimplementasikannya metode mind mapping sebagai penelitian tindakan kelas di kelas ini.

Tindakan

Pada siklus pertama, dilaksanakan pembelajaran materi writing dengan materi descriptive text yang dilksanakan dalam 8 kali pertemuan. Setiap minggunya kelas VIII-4 bertatapmuka sebanyak 2 kali, yaitu setiap hari Rabu dan Sabtu. Setiap pertemuan 2 jam a 40 menit. Sebelum penelitian dimulai terlebih dahulu diberitahukan bahwa di kelas ini akan diadakan penelitian tindakan kelas oleh peneliti, yang melibatkan seluruh siswa kelas VIII-4. Tindakan yang akan dilakukan meliputi pengisian angket, pretes, postes, tugas kelompok, tugas individu dan refleksi dengan siswa maupun .

Untuk siklus kedua, dilaksanakan pembelajaran materi writing dengan materi procedure text. Pembelajaran ini dila ksanakan dalam 7 kali pertemuan. Langkah-langkah pembelajarannya seperti langkah-langkah pada siklus pertama dengan perubahan yang sifatnya menyempurnakan siklus pertama, berdasarkan hasil refleksi dengan siswa pada siklus pertama. Di akhir penelitian, setelah ulangan harian yang berfungsi sebagai postes siklus kedua, kemudian refleksi, lalu mengisi angket lagi seperti pada permulaan penelitian. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada perubahan atau tidak setelah diadakannya tindakan. Kalau ada, perubahannya kearah mana.

Observasi

Observasi atau pengamatan penelitian, yaitu siswa yang diteliti dan peneliti sendiri. Siswa bersama guru (peneliti) melaksanakan pembelajaran dengan langkah-langkah sesuai RPP yang dibuat dengan mengacu pada implementasi metode mind mapping. Hasil pengamatan siswa dicatat oleh peneliti pada waktu refleksi dengan cara tanya jawab secara lisan.

Refleksi

Refleksi dengan siswa dilakukan di kelas. Caranya, dengan tanya jawab langsung dengan siswa, seputar implementasi metode mind mapping yang baru dilksanakan. Untuk memperlancar refleksi, peneliti menyiapkan sejumlah pertanyaan yang akan dilontarkan kepada siswa pada waktu refleksi. Respon atau jawaban siswa, peneliti catat sebagai hasil refleksi dengan siswa, yang akan digunakan untuk merencanakan atau memperbaiki tindakan pada sklus kedua.

Tehnik Pengumpulan Data

Data penelitian dikumpulkan melalui:

  1. Pengamatan pembelajaran sebelum penelitian, yang terasa begitu berat dalam mengajarkan materi writing di kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Porsea Kec.Porsea Kab.Toba Samosir Tahun Pembelajaran 2019/2020.
  2. Pengisian angket oleh siswa sebelum dan sesudah penelitian dilakukan.
  3. Pengisian lembar pengamatan proses pembelajaran selama penelitian oleh kolaborator dan peneliti sendiri.
  4. Melalui tes (pretes dan postes) materi penelitian sebelum dan sesudah tindakan dilakukan.
  5. Tanya jawab langsung dengan siswa pada waktu refleksi sesudah proses pembelajaran dengan tindakan dilaksanakan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kemampuan Awal Siswa

Sebelum perencanaan tindakan siklus I dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pre-tes yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa serta untuk mengetahui gambaran kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam pembelajaran materi writing di kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Porsea Dari tes awal yang dilakukan diperoleh tingkat ketuntasan yang dapat dilihat pada Tabel 1:

Tabel 1. Hasil perolehan nilai pada saat Tes Awal

Urauan Nilai Keterangan
Belum Tuntas Tuntas
Jumlah 2310 18 15
Rata-rata 67.4    
% Tuntas     46%
% Belum Tuntas   54%  

 

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa 67.4 dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 6 orang (24%) dan belum tuntas sebanyak 19 orang (76%).

Siklus I

Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang materi pembelajaran materi writing , soal tes, dan media pembelajaran yang relevan dengan tujuan pembelajaran. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi aktivitas guru dan siswa dalam kelas.

 

 

Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan dalam siklus I dilakukan selama 2 kali pertemuan. Ada pun kegiatan pelaksanaan yang dilakukan antara lain, menjelaskan kepada siswa tentang materi pembelajaran materi writing serta menjelaskan teknis pembelajaran yang akan dilakukan dengan menggunakan yakni menggunakan metode pengajaran mind mapping.

Pengamatan/Observasi

Selama proses pembelajaran, peneliti mengamati seluruh aktivitas sisw dari kegaiatan yang terjadi dengan menggunakan lembar pengamatan/observasi yang telah dipersiapkan.

Sesuai data di atas, maka aktivitas siswa lebih didominasi oleh aktivitas memperhatikan materi pelajaran materi writing (87,9%), sementara aktivitas yang paling rendah adalah menjawab pertanyaan (12,1%).

Hasil Perolehan Nilai Tes pada Siklus I

Nilai Frekuensi Persentase Keterangan
< 69 15 45,5% Tidak Tuntas
> 70 18 54,5% Tuntas

 

Dari tabel 5 di atas dapat diketahui bahwa hasil perolehan nilai tes pada Siklus I terdapat 15 siswa (45,5%) yang belum tuntas belajar, sedangkan yang tuntas belajar hanya 18 orang (54,5%).

Refleksi

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada siklus I, dapat dilihat bahwa penerapan metode pengajaran mind mapping belum secara optimal dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penyebab utama adalah kinerja guru belum maksimal. Berdasarkan data observasi guru memperoleh persentase 51,6% dan termasuk dalam kategori rendah karena hanya melukan 51,6% dari seluruh indikator yang harus dilaksanakan dengan baik. Dalam siklus ini guru belum sepenuhnya melaksanakan langkah-langkah pembelajaran secara maksimal.

Hal tersebut di atas berdampak pada masih banyaknya siswa yang tergolong tidak aktif atau kurang aktif yaitu sebanyak 17 siswa (51,5%), sementara hanya 16 siswa (48,5%) yang termasuk dalam kategori cukup aktif dan aktif. Kemudian pada indikator aktivitas, aktivitas mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan menempati posisi paling sedikit, tercatat ada 7 siswa (21,2%) yang mengajukan pertanyaan, dan hanya ada 4 siswa (12,1%) yang berani menjawab pertanyaan. Hasil tes pada siklus I juga belum memenuhi target ketuntasan (KKM). Rata-rata tes hanya mencapai nilai 66,36 dari target KKM nilai 70,00. Sementara persentase ketuntasan belajar hanya mencapai 54,5% dari target KKM 80%.

Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, peneliti bersama mitra kolaborasi (pengamat) melalukan analisis sebagai berikut: peneliti tampak buru-buru memberikan materi pelajaran kepada siswa sehingga banyak materi yang kurang bahasa Inggris hami siswa, peneliti juga kurang memberikan perhatian pada siswa/kelompok yang mengalami kesulitan belajar. Siswa belum terbiasa dengan metode pengajaran mind mapping dan kegiatan belajar dalam kelas.

Berasarkan observasi analisis di atas, tindakan refleksi yang dapat dilakukan adalah:

  • Guru atau peneliti menyiapkan garis besar materi yang akan disampaikan kepada siswa sehingga penyampaian materi dapat dilakukan sesuai waktu yang dialokasikan.
  • Guru atau peneliti akan mempertegas aturan berdiskusi, guru akan berkeliling kelas membimbing dan memberi bantuan kepada siswa/ kelompok yang mengalami kesulitan.
  • Menghimbau kepada siswa mempersiapkan dengan baik kelompok yang akan membacakan hasil diskusi, penjawab soal, dan menyiapkan pertanyaan untuk kelompok lain.

Siklus II

Perencanaan

Berdasarkan hasil analisis dan refleksi siklus I yang telah dilakukan, peneliti bersama mitra kolaborasi mendiskusikan perencanaan tindakan yang akan dilakukan pada siklus II.

Pelaksanaan

Pada siklus II ada beberapa kegiatan yang ditingkatkan intensitasnya, seperti: membangkitkan motivasi siswa, menjelaskan materi pelajaran dengan lebih jelas, mengkondisikan siswa untuk bersiap dalam belajar kelompok, mengkondisikan siswa untuk berani menjawab dan mengajukan pertanyaan, serta memberi apresiasi (penghargaan) berupa pujian atau nilai kepada siswa yang aktif.

Pengamatan/Observasi

Peneliti masih bekerjasama dengan mitra kolaborasi dalam tahap ini. Hasil pengamatan pada siklus II Bahasa Inggris parkan pada tabel berikut ini.

Data Indikator Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus II

No Indikator Jumlah Siswa Persentase
1 Memperhatikan materi pelajaran 32 97,0%
2 Mengerjakan LKS 31 93,9%
3 Membacakan hasil diskusi 26 78,8%
4 Bekerjasama dalam kelompok diskusi 14 42,4%
5 Mengajukan pertanyaan 13 39,4%
6 Menjawab pertanyaan 14 42,4%
7 Mencatat hasil diskusi 32 97,0%
Rata-rata 23 70,1%

 

Sesuai data di atas, maka aktivitas siswa telah meningkat menjadi rata-rata 70,1%. Persentase aktivitas bekerjasama dalam kelompok, mengajukan dan menjawab pertanyaan mengalami kenaikan.

Sementara persentase siswa yang aktif dalam kegiatan belajar mengajar pada siklus II dirangkum dalam tabel berikut:

Tabel 7. Rekapitulasi Aktivitas Siswa Siklus II

Skor Frekuensi Persentase Kategori Keterangan
1 – 25 0 0,0% sangat rendah tidak aktif
26 – 50 2 6,1% rendah kurang aktif
51 – 75 23 69,7% sedang cukup aktif
76 – 100 8 24,2% tinggi aktif

 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hanya terdapat 2 siswa (6,1%) yang termasuk tidak aktif dan kurang aktif, sementara 31 siswa (93,9%) yang termasuk dalam kategori cukup aktif dan aktif.

Hasil Perolehan Nilai Tes pada Siklus II

Nilai Frekuensi Persentase Keterangan
< 69 5 15,2% Tidak Tuntas
> 70 28 84,4% Tuntas

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil perolehan nilai tes pada Siklus II terdapat 5 siswa (15,2%) yang tidak tuntas belajar, sedangkan yang tuntas belajar telah mencapai 28 orang (84,8%).

Refleksi

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan selama siklus II dapat dilihat bahwa penggunaan metode pengajaran mind mapping dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Inggris untuk materi statistik dan peluang. Hal ini tampak dari berkurangnya siswa yang tergolong tidak atau kurang aktif pada siklus I sebanyak 17 siswa (51,5%) menjadi hanya 2 siswa (6,1%) pada siklus II.

Hasil indikator aktivitas siswa juga mengalami kenaikan dari 49,8% pada siklus I menjadi 70,1% pada siklus II. Aktivitas kerjasama dalam kelompok, mengajukan pertanyaan, dan menjawab pertanyaan meningkat cukup signifikan.

Ketuntasan belajar siswa juga meningkat, nilai rata-rata 66,36 dengan persentase tuntas belajar 54,5% pada siklus I, meningkat menjadi 84,8% dengan nilai rata-rata 76,82 pada siklus II.

Setelah dilakukan analisis dan refleksi siklus II diperoleh kesimpulan bahwa penerapan metode pengajaran mind mapping dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran materi writing kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Porsea Kab. Toba Samosir Tahun Pembelajaran 2019/2020.

Temuan Penelitian

Berdasarkan pengalaman dalam proses pelaksanaan penelitian ini, peneliti menemukan beberapa hal yang khusus (unik), antara lain: untuk meningkatkan aktivitas agar siswa aktif ikut terlibat dalam pembelajaran yakni mengerjakan penugasan dengan tepat waktu, mampu berdiskusi, berani bertanya, dan berani menjawab pertanyaan dibutuhkan kesabaran guru. Guru harus bertindak secara adil dan demokratis. Guru harus bertindak sebagai fasilitator agar tercipta kondisi yang mampu menciptakan suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan.

Pembahasan Hasil Penelitian

Aktivitas Belajar Siswa

Pembelajaran dengan menerapkan metode pengajaran mind mapping dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pelajaran Bahasa Inggris pada materi pelajaran materi writing . Berdasarkan hasil refleksi siklus I dan siklus II yang telah dilakukan oleh peneliti, maka terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa yang telihat selama penelitian. Ada pun peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut ini.

Tabel 9. Perbandingan Hasil Pada Siklus I dan II

No. Indikator Jumlah Siswa Persentase
Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II
1 Memperhatikan materi pelajaran 29 32 87,9% 97,0%
2 Menjawab pertanyaan 28 31 84,8% 93,9%
3 Mengerjakan LKS/tugas 10 26 30,3% 78,8%
4 Bekerjasama dalam kelompok diskusi mengerjakan tugas 9 14 27,3% 42,4%
5 Mengajukan pertanyaan 7 13 21,2% 39,4%
6 Menjawab pertanyaan 4 14 12,1% 42,4%
7 Mencatat hasil diskusi 28 32 84,8% 97,0%
Rata-rata 16 23 49,8% 70,1%

 

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa indikator aktivitas mengalami kenaikan, dimana pada siklus I hanya 49,8% dari indikator aktivitas dapat dilaksanakan siswa. Namun pada siklus II mengalami kenaikan sebesar 20,3% menjadi 70,1% dimana siswa sudah dapat melaksanakan indikator aktivitas yang telah ditetapkan. Indikator aktivitas tertinggi dapat dilihat semakin mantapnya siswa dalam memperhatikan materi pelajaran dan mencatat hasil diskusi yang masing-masing 97%.

 

 

 

 

 

Data Perbandingan Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus I dan II

Skor Frekuensi Persentase Kategori Keterangan
Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II
1 – 25 3 0 9,1% 0,0% sangat rendah tidak aktif
26 – 50 14 2 42,4% 6,1% rendah kurang aktif
51 – 75 14 23 42,4% 69,7% sedang cukup aktif
76 – 100 2 8 6,1% 24,2% tinggi aktif

 

Berdasarkan data di atas maka ada peningkatan aktivitas belajar siswa per siklusnya. Jika pada siklus I masih ada 3 (9,1%) siswa yang tidak aktif, sementara siswa yang kurang aktif dan cukup aktif berimbang yaitu 14 orang (42,4%), dan hanya 2 siswa yang aktif (6,1%). Kemudian pada siklus II ada peningkatan aktivitas. Pada siklus II, siswa yang tidak aktif sudah tidak ada lagi, hanya ada 2 siswa yang kurang aktif (6,1%), sementara siswa yang cukup aktif ada 23 orang (69,7%), dan 8 orang yang aktif (24,2%).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut, Pada siklus I aktivitas siswa mencapai 49,8% dari indikator aktivitas yang dapat dilaksanakan siswa. Namun pada siklus II mengalami kenaikan sebesar 20,3% menjadi 70,1% dimana siswa sudah dapat melaksanakan indikator aktivitas yang telah ditetapkan. Pada siklus II, siswa yang tidak aktif sudah tidak ada lagi, hanya ada 2 siswa yang kurang aktif, sementara siswa yang cukup aktif ada 23 orang (69,7%), dan 8 orang yang aktif. Hasil belajar meningkat menjadi 28 (84,8%) dengan nilai rata-rata 76,82. Dengan penerapan metode pengajaran mind mapping dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Porsea mata pelajaran Bahasa Inggris materi pelajaran Materi writing di SMP Negeri 2 Porsea Kab.Toba Samosir T.P. 2019/2020.

SARAN  

Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, maka peneliti memberikan saran berikut:

  1. Kepada guru agar senantiasa berupaya dapat menerapkan model pembelajaran seperti menggunakan metode pengajaran mind mapping dalam proses belajar mengajar, supaya proses pembelajaran lebih berkualitas.
  2. Kepada kepala sekolah berupaya memberi kesempatan kepada guru untuk mengikuti pelatihan agar pengetahuan dan keterampilan guru dalam menerapkan berbagai model dan metode dan strategi pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat terus berkembang.
  3. Kepada siswa diharapkan dapat membangun pola interaksi dan kerjasama yang baik kepada siswa-siswa lain dalam kelompok diskusi melalui metode pengajaran mind mapping atau metode lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahmat Saripudin, Tuesday, 28 October 2008 14:51, Peningkatan Mutu Pembelajaran.

Media Kita. Nurulfikri.sch.id/index.php http://rastodio.com/pendidikan /pengertian-mengajar.html  (diakses tanggal 2 September 2010)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

Kurikulum          Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta.Depdiknas.

Dadang Dahlan, In-house Training sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Guru Tsanawiyah, file.upi.edu/al.php

Dhony Firmansyah,S.Si.2008.Karya Tulis disampaikan dalam Pelatihan “Sukses Membuat Proposal Penelitian yang Bermutu” K umiko Education Centre.