PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN

DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI BANGUN RUANG

BAGI SISWA KELAS VI SD KARANGANYAR 1

Susilo Widodo

SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan

ABSTRAK

Tujuan penelitian Untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika materi bangun ruang di SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2009/2010. Penelitian dilakukan pada semester I tahun pelajaran 2009/2010 selama 5 bulan. Penelitian ini dilakukan di kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora.Karena peneliti merupakan guru kelas VI di SD Karanganyar 1 kecamatan Todanan Kabupaten Blora. Prosedur penelitian langkah pertama menentukan metode yang digunakan dalam penelitian.Peneliti menggunakan metode penelitian tindakan.Langkah kedua menentukan tindakan yaitu 2 tindakan dalam 2 siklus tindakan dalam penelitian menggunakan pendekatan kooperatif tipe jigsaw. Langkah ketiga menentukan tahapan – tahapan dalam siklus ada 4 tahapan yaitu: 1. Membuat perencanaan tindakan (planning). 2. Melakukan tindakan sesuai dengan yang direncanakan (acting). 3. Melakukan pengamatan terhadap tindakan yang dilakukan (observing). 4. Melakukan analisis deskripsi komparatif dilanjutkan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran melalui pendekatan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar bagi siswa SD Karanganyar 1 Semester I materi bangun ruang tahun pelajaran 2009/2010. Hal ini dibuktikan keaktifan dan hasil belajar siswa meningkat dari kondisi awal rata-rata siswa 36,1 menjadi 53,3 pada kondisi akhir.

Kata Kunci: keaktifan belajar,hasil belajar matematika,model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Rendahnya keaktifan siswa dalam bertanya dan rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora pada semester I tahun pelajaran 2009/2010 hal ini terbukti ketika siswa disuruh bertanya tidak ada yang mengacungkan jarinya untuk bertanya, berarti siswa sudah jelas semua. Padahal dalam kenyataan ketika guru memberikan soal ulangan harian nilai siswa semua masih di bawah KKM.

Guru dalam menyampaikan materi bangun ruang ini menggunakan metode ceramah sehingga ketika guru menyampaikan materi ini siswa ada yang bicara dengan temannya sendiri ada siswa yang memegangi rambutnya, ada yang bermain ballpoint-nya sehingga perhatian siswa tidak fokus pada materi yang disampaikan gurunya.

Di akhir peneletian tindakan kelas ini diharapkan keaktifan siswa dalam bertanya meningkat sehingga hasil belajar matematika materi bangun ruang ini juga meningkat.

Peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan harapan keaktifan dan hasil belajar matematika kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora semester I tahun pelajaran 2009/2010 dapat meningkat.

Keaktifan bertanya siswa dan hasil belajar siswa materi bangun ruang rendah harapanya diakhir penelitian tindakan kelas ini keaktifan bertanya dan hasil belajar matematika kelas VI SD Karanganyar 1 semester I Kecamatan Todanan Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2009/2010 ini dapat meningkat.

Rumusan Masalah

Apakah melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika materi bangun ruang bagi siswa kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora pada semester I tahun pelajaran 2009/2010?

Tujuan Penelitian

Melalui pendekatan kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan keaktifan dalam bertanya dan hasil belajar matematika siswa kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2009/2010.

Manfaat Penelitian

Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah,yaitu: Bagi Siwa: (1) meningkatkan motivasi siswa untuk belajar; (2) meningkatkan keaktifan siswa; (3) meningkatkan hasil belajar siswa; (4) meningkatkan kepercayaan diri siswa.

Bagi Guru: (1) meningkatkan keprofesionalan guru; (2) meninglkatkan perbaikan pembelajaran; (2) mengembangkan kreatifitas guru; (3) meningkatkan pemahaman dan wawasan guru tentangperbaikanpembelajaran.

Bagi Sekolah: (1) meningkatkan mutu proses pembelajaran di sekolah; (2) Meningkatkan kepercayaanmasyarakatterhadapsekolah.

KAJIAN TEORI

Keaktifan Belajar Matematika

Arti kata keaktifan adalah kesibukan atau kegiatan. Sedangkan menurut (Mulyasa, 2008: 158) Dalam mengkategorikan keaktifan, dapat ditinjau dari dua hal yaitu keaktifan dapat digolongkan menjadi keaktifan jasmani dan keaktifan rohani. Keaktifan jasmani maupun rohani meliputi (1) keaktifan indera yaitu pendengaran, penglihatan, peraba dan lain-lain; (2) keaktifan akal; serta (3) keaktifan ingatan. Keaktifan juga termasuk dalam sumber pembelajaran yang merupakan kombinasi antara suatu teknik dengan sumber lain (Hasibuan dan Moedjiono, 2009: 12) pembelajaran aktif bertitik tolak dari anggapan bahwa siswa memiliki potensi, dan dapat diwujudkan apabila diberi banyak kesempatan untuk berpikir sendiri. Oleh karena itu cara memandang dan menyikapi tugas guru juga berorientasi bukan lagi sebagai seseorang yang serba tahu yang siap untuk memberi kebijaksanaan, melainkan sebagai kasalisator terjadinya proses belajar dan siswa secara terus menerus berusaha menyempurnakan diri sehingga mampu menjadi katalis yang semakin meningkat kemampuannya

(Aunurrahman 2009: 119) Keaktifan siswa dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar yang harus dipahami, disadari dan dikembangkan oleh setiap guru dalam proses pembelajaran. Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosi dan fisik.Siswa merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu. Daya keaktifan yang dimiliki anak secara kodrati itu akan dapat berkembang ke arah yang positif saat lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk perkembangan keaktifan itu Sedangkan menurut (Sudjana,2001:72), keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dilihat dalam (1) turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya; (2) terlibat dalam pemecahan masalah; (3) bertanya kepada siswa lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya; (4) berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah; (5) melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal; serta (6) menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperoleh.

Hasil Belajar Matematika

Pendefinisian matematika sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat, namun demikian dapat dikenal melalui karakteristiknya.Sedangkan karakteristik matematika dapat dipahami melalui hakekat matematika.

Menurut (Hudoyo 1979:96)mengemukakan bahwa hakikat matematika berkenan dengan ide-ide, struktur- struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur menurut urutan yang logis. Jadi matematika berkenaan dengan konsep-konsep yang abstrak. Sedang (Soedjadi 1985:13) dikutip dari selanjutnya mengemukakan bahwa apabila matematika dipandang sebagai struktur dari hubungan-hubungan maka simbol- simbol formal diperlukan untuk membantu memanipulasi aturan-aturan yang beroperasi di dalam struktur-struktur.

Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapatkan jawaban dari siswa dalam bentuk lisan, atau bentuk tulisan. Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang sesuai.

Materi Bangun Ruang

Bangun ruang merupakan bangun matematika (matematica) yang memiliki isi atau volume. Bangun ruang dalam matematika dibagi menjadi beberapa bangun ruang yakni sisi, rusuk dan titik sudut.

Sisi merupakan bidang pada bangun ruang yang membatasi antara bangun ruang dengan ruangan di sekitarnya, Rusuk merupakan pertemuan dua sisi yang berupa ruas garis pada bangun ruang sedangkan Titik sudut adalah titik dari hasil pertemuan rusuk yang berjumlah tiga atau lebih.

Pada umumnya bangun ruang yang telah kita kenal adalah balok, kubus, prisma, limas, kerucut, tabung dan bola. Pada setiap bangun ruang tersebut mempunyai rumusan dalam menghitung luas maupun isi/volumenya.

Pendekatan Kooperatif Tipe Jigsaw

(Ibrahim,2001:5)menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga macam tujuan pembelajaran, yaitu: hasil belajar akademik; penerimaan terhadap keragaman; dan pengembangan terhadap keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif dalam tujuan untuk mencapai hasil belajar akademik, dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Pembelajaran kooperatif juga memberikan efek terhadap penerimaan terhadap keberagaman ras, budaya, kelas sosial, gender, serta tingkat kemampuan. Selain itu yang juga sangat penting, pembelajaran kooperatif sangat jitu untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan untuk bekerjasama, di mana keterampilan ini sangat dibutuhkan di dalam masyarakat.

Model pembelajaran jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yangdikembangkan oleh Elliot A ronsons (1997:98) model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yangdiberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materitersebut kepada kelompoknya.Dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok ahlidan kelompok asal.Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari berapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragamandan latar belakang.

Guru harus trampil dan mengetahui latar belakang siswa agar terciptanya suasana yang baik bagi setiap angota kelompok. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskankepada anggota kelompok asal.Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yangditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lainuntuk mempelajari topik mereka tersebut.

Di sini, peran guru adalah mefasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materiyang diberikan.Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudiankembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apayang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli.Para kelompok ahli harus mampu untuk membagi pengetahuan yang di dapatkan saat melakukan diskusi di kelompok ahli, sehingga pengetahuan tersebut diterima oleh setiapanggota pada kelompok asal.

Hipotesis Tindakan

1 Apakah melalui pendakatan kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika bangun ruang bagi siswa kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora pada Semester I tahun pelajaran 2009/2010?

2 Apakah melalui pendakatan kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi bangun ruang bagi siswa kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora pada Semester I tahun pelajaran 2009/2010?

3 Apakah melalui pendakatan kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika materi bangun ruang bagi siswa kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora pada Semester I tahun pelajaran 2009/2010?

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora.Karena peneliti merupakan guru kelas VI di SD Karanganyar 1 kecamatan Todanan Kabupaten Blora.

Penelitian dilakukan pada semester I tahun pelajaran 2009/2010 selama 5 bulan dengan rincian sebagai berikut: a. Bulan Juli digunakan untuk menyusun proposal Penelitian Tindakan kelas (PTK). b. Bulan Agustus digunakan untuk menyusun instrument penelitian. c. Bulan September digunakan untuk penyusunan tindakan siklus I dan siklus II. d. Bulan Oktober digunakan untuk analisis data. e. Bulan Nopember digunakan untuk pembahasan/diskusi f. Bulan Desember digunakan untuk menyusun laporan dan hasil kegiatan.

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI laki-laki 7 siswa dan perempuan 2 siswa SD Karanganyar 1 kecamatan Todanan Kabupaten Blora. Bila di lihat dari jarak siswa kesekolah paling dekat 100 m dan yang paling jauh 1 km. Kemudian jika dilihat dari mata pencaharian orang tua siswa semuanya adalah petani.

Keaktifan siswa dalam belajar matematika materi bangun ruang rendah begitu juga hasil belajar siswa materi bangun ruang juga rendah maka peneliti menggunakan metode pendekatan kooperatif tipe jigsaw kelompok besar dan metode pendekatan kooperatif tipe jigsaw kelompok kecil.

Data keaktifan siswa dalam belajar matematika materi bangun ruang kondisi awal. Dikumpulkan menggunakan teknik dokumentasi. Alatnya berupa dokumen catatan tentang keaktifan siswa belajar matematika materi bangun ruang; (2) data hasil belajar matematika materi bangun ruang kondisi awal. Dikumpulkan menggunakan teknik dokumentasi. Alatnya berupa dokumen daftar nilai; (3) data keaktifan siswa dalam belajar matematika materi bangun ruang siklus I. Dikumpulkan dengan teknik observasi. Alatnya berupa lembar observasi; (4) data hasil belajar matematika materi bangun ruang siklus I. dikumpulkan dengan teknik tes. Alatnya berupa butir soal; (5) data keaktifan siswa dalam belajar matematika materi bangun ruang siklus II. Dikumpulkan dengan teknik observasi. Alatnya berupa lembar observasi; (6) data hasil belajar matematika materi bangun ruang siklus II. dikumpulkan dengan teknik tes. Alatnya berupa butir soal.

Validitas data keaktifan belajar matematika siswa baik keaktifan belajar matematika siswa siklus I maupun keaktifan belajar matematika siswa siklus II yang dikumpulkan menggunakan teknik observasi supaya datanya valid perlu melibatkan observer teman sejawat yang dikenal dengan kolaborasi.

Validasi data hasil belajar matematika siswa baik hasil belajar matematika siswa siklus I maupun hasil belajar matematika siswa siklus II yang diperoleh menggunakan teknis tes supaya datanya valid divalidasi isinya dengan cara menyusun kisi-kisi sebelum butir soal dibuat.

Terdapat 3 data keaktifan belajar matematika siswa yaitu data keaktifan belajar siswa kondisi awal, data keaktifan belajar matematika siswa siklus I dan data keaktifan belajar matematika siswa siklus II.Keaktifan belajar matematika kondisi awal dengan keaktifan belajar matematika siklus I mengalami peningkatan dari kondisi awal tidak ada siswa yang bertanya pada siklus I ada 2 anak yang bertanya.Keaktifan belajar siklus I dengan keaktifan belajar siklus II juga mengalami peningkatan dari siklus I ada 2 siswa yang bertanya pada siklus II ada 5 siswa yang bertanya. Keaktifan belajar kondisi awal dengan keaktifan belajar kondisi akhir / siklus II mengalami peningkatan, dari kondisi awal tidak ada siswa yang mau bertanya pada kondisi akhir / siklus II ada siswa yang bertanya sebanyak 5 siswa. Dari paparan kondisi diatas dinyatakan bahwa perlu diadakan nya siklus I dan siklus II.

Terdapat 3 data hasil belajar matematika siswa yaitu data hasil belajar matematika siswa kondisi awal, data hasil belajar matematika siswa siklus I dan data hasil belajar matematika siswa siklus II. Hasil belajar matematika kondisi awal dengan hasil belajar matematika siklus I diharapkan meningkat dari kondisi awal nilai rata-rata siswa 5,3 diharapkan pada siklus I rata-rata siswa meningkat menjadi 6,0. Hasil belajar matematika siklus I dengan hasil belajar matematika siklus II diharapkan meningkat dari 6,0 menjadi 6,2. Hasil belajar matematika kondisi awal dengan hasil belajar matematika kondisi akhir/siklus II diharapkan meningkat dari rata-rata siswa 5,3 menjadi 6,2. Dari uraian di atas maka perlu diadakan siklus I dan siklus II.

Langkah pertama menentukan metode yang digunakan dalam penelitian.Peneliti tidak menggunakan penelitian kondisional, peneliti tidak menggunakan penelitian kondisional tetapi peneliti menggunakan metode penelitian tindakan.Langkah kedua menentukan tindakan minimal 2 tindakan dalam 2 siklus tindakan dalam penelitian menggunakan pendekatan kooperatif tipe jigsaw. Langkah ketiga menentukan tahapan – tahapan dalam siklus ada 4 tahapan yaitu: 1. Membuat perencanaan tindakan (planning). 2. Melakukan tindakan sesuai dengan yang direncanakan (acting). 3. Melakukan pengamatan terhadap tindakan yang dilakukan (observing). 4. Melakukan analisis deskripsi komparatif dilanjutkan refleksi

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Diskripsi Data Keaktifan Siswa Dalam Belajar Matematika

Rendahnya keaktifan siswa dalam bertanya dan rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas VI SD Karanganyar 1 Kecamatan Todanan Kabupaten Blora pada semester I tahun pelajaran 2009/2010 hal ini terbukti ketika siswa disuruh bertanya tidak ada yang mengacungkan jarinya untuk bertanya, berarti siswa sudah jelas semua, padahal dalam kenyataan ketika guru memberikan soal ulangan harian nilai siswa semua masih dibawah KKM.

Pada kondisi guru melakukan pembelajaran dengan metode ceramah.Saat guru menyampaikan materi kelihatannya anak –anak diam memperhatikan, saat guru bertanya apakah sudah jelas anak-anak tidak ada yang menjawab, saat guru bertanya apakah ada yang ingin ditanyakan anak-anak tidak ada yang bertanya.

Diskripsi Data Siklus I

Data keaktifan belajar matematika siklus I

Pada siklus I keaktifan siswa sedikit mengalami peningkatan dari kondisi awal tidak ada yang bertanya pada siklus I ini ada 3 siswa yang bertanya.

Data hasil belajar matematika siklus I

Pada siklus I hasil belajar matematika siswa meningkat dari kondisi awal tidak ada siswa yang tuntas pada siklus ini semua siswa tuntas dengan rata – rata nilai 77,7.

Dari kondisi awal keaktifan siswa rendah ke siklus I keaktifan siswa dalam belajar matematika agak tinggi.

Berdasarkan kondisi awal nilai rata-rata ulangan harian adalah 36,1 sedangkan pada siklus I nilai rata-rata ulangan harian adalah 77,7 apabila dibandingkan nilai ulangan harian pada siklus I mengalami peningkatan.

Simpulan:

Melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw kelompok besar dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada SD Karanganyar 1 Semester I materi bangun ruang tahun pelajaran 2009/2010. Berdasarkan pada kondisi awal nilai rata – rata ulangan harian 36,1 menjadi 77,7 meningkat 53,3 % pada siklus I.

Diskripsi Data Siklus II

Hasil pengamatan keaktifan siswa belajar matematika siklus II

Pada siklus II keaktifan siswa mengalami peningkatan dari siklus I hanya ada 3 siswa yang bertanya pada siklus II ini sebagian besar siswa sudah berani bertanya.

Hasil pengamatan nilai ulangan matematika siswa siklus II

Pada siklus II ini nilai rata-rata siswa mengalami penurunan dari siklus I. pada siklus I nilai rata-rata siswa 77,7 sedangkan pada siklus II nilai rata-ratanya menjadi 53,3.

Kesimpulan:

Dari kondisi Siklus I siswa sudah berani untuk bertanya sedangkan pada siklus II sebagian besar siswa sudah berani bertanya baik kepada guru maupun pada teman sejawat jika mengalami kesulitan.

Berdasarkan kondisi Siklus I nilai rata-rata ulangan harian adalah 77,7 sedangkan pada siklus II nilai rata-rata ulangan harian adalah 53,3 apabila dibandingkan nilai ulangan harian pada siklus II mengalami penurunan.

Simpulan:

Melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw kelompok kecil tidak dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada SD Karanganyar 1 semester I materi bangun Ruang tahun pelajaran 2009/2010. Berdasarkan pada kondisi Siklus I nilai rata-rata ulangan harian 77,7 menjadi 53,3 menurun 31,4 % pada siklus II.

PENUTUP

Simpulan

(1) melalui pendekatan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan keaktifan siswa belajar matematika pada SD Karanganyar 1 Semester I materi bangun Ruanga tahun pelajaran 2009/2010. Dari kondisi awal keaktifan siswa belajar matematika rendah kekondisi akhir keaktifan siswa belajar matematika tinggi. Meningkat secara teoretik maupun secara empirik; (2) melalui pendekatan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada SD Karanganyar 1 Semester I materi bangun Ruang tahun pelajaran 2009/2010. Dari kondisi awal hasil belajar matematika rata-rata 36,1 ke kondisi akhir 53,3 meningkat 32,3 %; (3) melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw kelompok besar dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada SD Karanganyar 1 Semester I materi bangun ruang tahun pelajaran 2014 / 2015. Berdasarkan pada kondisi awal nilai rata-rata ulangan harian 36,1 menjadi 77,7 meningkat 46,5 % pada siklus I dan berdasarkan pada kondisi Siklus I nilai rata-rata ulangan harian 77,7 menurun menjadi 53,3 menurun 31,4% pada siklus II.

Saran

Siswa: perlu penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika materi bangun ruang SD Karanganyar 1 semester I tahun pelajaran 2009/2010. Teman sejawat: perlu penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika materi bangun ruang SD Karanganyar 1; Sekolah: perlu melengkapi alat peraga lain yang kemungkinan dibutuhkan dalam pembelajaran; perpustakaan: hasil penelitian harus diarsipkan untuk dijadikan literature supaya bisa dijawab teman sejawat.

DAFTAR PUSTAKA

Felder, Richard M. 1994. Cooperative Learning in Technical Corse, (online), (Pcll\d\My % Document\Coop % 20 Report.

Nur, Muhammad. 1996. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya.

Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya Usaha Nasional.

Wahyuni, Dwi. 2001. Studi Tentang Pembelajaran Kooperatif Terhadap Hasil Belajar Matematika. Malang: Program Sarjana Universitas Negeri Malang.

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto. 1995. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada