Peningkatan Aktifitas dan Hasil Belajar Melalui Penerapan Model Jigdotan
PENINGKATAN AKTIFITAS DAN HASIL BELAJAR
GEOMETRI MATERI BANGUN RUANG MELALUI PENERAPAN
MODEL JIGDOTAN SISWA KELAS XII IPS 4 SEMESTER 1
SMA N 1 KAYEN KABUPATEN PATI TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Rumaji
SMA N 1 Kayen Pati
ABSTRAK
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah: Untuk mengetahui aktivitas siswa setelah diterapkannya permainan di SMA N 1 Kayen dan untuk mengetahui Model Jigdotan dapat meningkatkan hasil belajar SMA N 1 Kayen. Sumber data yang peneliti peroleh adalah data yang berasal dari subyek penelitian ini sebagai sumber data primer, yaitu: (1) Data awal dari subyek penelitian yang berupa hasil pre tes sebagai data kondisi awal; (2) Data hasil tes pada siklus I; (3) Data hasil tes pada siklus II. Simpulan pada penelitian ini meliputi: Melalui melalui penerapan Model Jigdotan dapat meningkatkan keaktifan belajar dalam pembelajaran Siswa Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen dibuktikan dengan pada kondisi awal keaktifan siswa rendah sebesar 83,3% dan sedang sebesar 13,9%, tinggi 2,8%, siklus I keaktifan siswa rendah 55,5%, sedang 2,8%, tinggi 16,7%, siklus II keaktifan siswa sedang 55,5%, dan keaktifan siswa tinggi 44,5%. Melalui penerapan Model Jigdotan dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran Geometri Materi Bangun Ruang Siswa Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen. Hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan dari kondisi awal ketuntasan sebanyak 1 siswa (3,8%), siklus I ketuntasan 16 siswa (45,5%) dan siklus II ketuntasan 36 siswa (100%). Dari kondisi awal ke perlakuan tindakan siklus I ada kenaikan sebesar 41,7% dan dari siklus I ke siklus II ada kenaikan sebesar 100%.
Kata kunci: Model Jigdotan
ABSTRACT
This Classroom Action Research Objective is: To find out the activities of students after the application of the game in SMA N 1 Kayen and to find out the Jigdotan Model can improve learning outcomes of SMA N 1 Kayen. The data source that the researcher obtained was data originating from the subjects of this study as primary data sources, namely: (1) Preliminary data from the research subjects in the form of pre-test results as initial condition data; (2) Test results data in cycle I; (3) Test results data in cycle II. Conclusions in this study include: Through the application of the Jigdotan Model can improve the learning activeness in learning Class XII IPS students 4 semester 1 SMA N 1 Kayen proved by the initial condition of student activity is low at 83.3% and moderate at 13.9%, high 2.8%, the first cycle of student activity was low 55.5%, moderate 2.8%, high 16.7%, cycle II active student activity 55.5%, and high student activity 44.5%. Through the application of the Jigdotan Model, it can improve learning outcomes in learning the geometry of the building material for student rooms in class XII IPS 4 semester 1 of SMA N 1 Kayen. Student learning outcomes showed an increase from the initial condition of completeness as much as 1 student (3.8%), cycle I completeness 16 students (45.5%) and cycle II completeness 36 students (100%). From the initial conditions to the treatment of the actions of the first cycle there was an increase of 41.7% and from cycle I to cycle II there was an increase of 100%.
Keywords: Jigdotan Model
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Selama ini dalam proses pembelajaran guru masih menggunakan metode konvensional, seperti ceramah dan penugasan, sehingga siswa pasif karena merasa jenuh dan membosankan. Dan ternyata hasil belajar siswa pun rendah. Melihat hasil belajar Geometri materi Bangun Ruang yang rendah maka guru harus berusaha meningkatkan hasil belajar dengan mencari cara-cara yang tepat. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar, peneliti memilih pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
Pembelajaran Geometri dengan menggunakan berbagai pendekatan/metode, teknik dan Media pembelajaran variatif dan inovatif dapat diterapkan dalam setiap materi pembelajaran sehingga menarik siswa untuk mencintai Mata Pelajaran Matematika Bangun Ruang yang akhirnya suasana KBM menjadi lebih terarah, efisien, efektif dan menyenangkan dengan harapan prestasi peserta didik meningkat dibandingkan sebelum diterapkannya Media pembelajaran ini.
Dalam kerangka itulah Penelitian Tindakan Kelas ini dengan mengambil judul “PENINGKATAN AKTIFITAS DAN HASIL BELAJAR GEOMETRI MATERI BANGUN RUANG MELALUI PENERAPAN MODEL JIGDOTAN SISWA KELAS XII IPS 4 SEMESTER 1 SMA N 1 KAYEN KABUPATEN PATI TAHUN PELAJARAN 2018/2019â€.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: 1) Bagaimana aktivitas siswa pada pembelajaran Geometri Materi Bangun Ruang setelah diterapkannya Model Jigdotan di Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen? 2) Bagaimana penerapan Model Jigdotan dapat meningkatkan hasil belajar Geometri Materi Bagun Ruang di Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui aktivitas siswa pada pembelajaran Geometri Materi Bangun Ruang setelah diterapkannya Model Jigdotan di Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen. 2) Untuk mengetahui penerapan Model Jigdotan dapat meningkatkan hasil belajar Geometri Materi Bagun Ruang di Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen.
Manfaat Penelitian
Melalui pembelajaran Model Jigdotan dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar geometri bagi siswa.
KAJIAN TEORI
Hasil Belajar
Di dalam istilah hasil belajar, terdapat dua unsur di dalamnya, yaitu unsur hasil dan unsur belajar. Hasil merupakan suatu hasil yang telah dicapai pebelajar dalam kegiatan belajarnya (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya), sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1995: 787). Dari pengertian ini, maka hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lajimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Belajar itu sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, atau memaknai sesuatu yang diperoleh. Akan tetapi apabila kita bicara tentang hasil belajar, maka hal itu merupakan hasil yang telah dicapai oleh si pembelajar. Istilah hasil belajar mempunyai hubungan yang erat kaitannya dengan prestasi belajar. Sesungguhnya sangat sulit untuk membedakan pengertian prestasi belajar dengan hasil belajar. Ada yang berpendapat bahwa pengertian hasil belajar dianggap sama dengan pengertian prestasi belajar. Akan tetapi lebih dahulu sebaiknya kita simak pendapat yang mengatakan bahwa hasil belajar berbeda secara prinsipil dengan prestasi belajar. Hasil belajar menunjukkan kualitas jangka waktu yang lebih panjang, misalnya satu cawu, satu semester dan sebagainya. Sedangkan prestasi belajar menunjukkan kualitas yang lebih pendek, misalnya satu pokok bahasan, satu kali ulangan harian dan sebagainya.
Nana Sudjana (1999: 100) mengemukakan pengertian hasil adalah sebagai berikut: Keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes mengenai sejumlah pelajaran tertentu.
Pendapat lain dikemukakan oleh Sri Dimyati (2006: 94), yang memberikan penjelasan tentang hasil belajar sebagai berikut, “Hasil yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam waktu tertentuâ€, sedangkan M. Darsono (2000: 43) mengatakan bahwa “hasil adalah kemampuan seseorang atau kelompok yang secara langsung dapat diukurâ€.
Menurut Nana Sudjana (1999: 127), berdasarkan tujuannya, hasil belajar dibagi menjadi tiga macam, yaitu: 1) Hasil belajar yang berupa kemampuan keterampilan atau kecapakan di dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat. 2) Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang dikerjakan. 3) Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.
Aktifitas Belajar
Dierich dalam Nasution (1995) mengelompokkan aktifitas siswa kedalam kategori: Visual Activities, oral activities, listening activities, writing activities, drawing activities, motor activities, mental activities, dan emotional activities. Keaktifan belajar meliputi aktif menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, memperhatikan gambar, diskusi, kerjasama kelompok, interaksi, mengeluarkan pendapat, mengingat, memahami, memecahakan soal dan menganalisis. Aktifitas belajar Matematika materi geometri ini terfokus pada diskusi, kerjasama kelompok dan keaktifan.
Jadi dalam proses belajar mengajar harus menumbuhkan suasana yang kondusif sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan menumbuhkan gagasan. Belajar mengajar sebagai proses aktif dari pembelajar dan yang memberikan pembelajaran dalam membangun kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, yang meninggalkan proses pasif dengan pembelajaran hanya satu arah saja.
Model Jigdotan
Model Jigdotan sebenarnya gabungan dari Model Jigsaw dengan Alat Peraga dari Sedotan. Model Jigsaw ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawa-kawan dari Univertas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawan melalui model Jigsaw. Langkahnya:
a. Kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri 4 atau 5 siswa dengan karakteristik yang heterogen.
b. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan setiap teks bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut.
c. Para anggota dari beberapa tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa semacam itu disebut kelompok pakar’ (expert group).
d. Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali kekelompok semula (home teams) untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar.
e. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam “home teamsâ€, para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.
Hipotesa Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir, maka hipotesis tindakan: Melalui pembelajaran kooperatif Model Jigdotan dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar geometri pada siswa.
METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 secara rinci peneliti melaporkan, bahwa dari awal persiapan penyusunan proposal pada bulan Agustus 2018, selanjutnya pada bulan yang sama peneliti melakukan penyusunan instrumen. Pengumpulan data dengan melakukan tindakan Siklus I dan II dilaksanakan pada bulan September 2018. Pada bulan yang sama peneliti melaksanakan analisis data dan selanjutnya pada bulan Oktober 2018 peneliti menyusun laporan.
Penelitian Tindakan Kelas ini kami lakukan pada siswa Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen. Alasannya adalah tempat ini merupakan tempat kerja peneliti dimana terdapat timbul permasalahan. Subyek penelitian adalah siswa kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen berjumlah 36 orang dengan perincian siswa laki-laki 16 orang dan perempuan 20 orang semester 1 siswa XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen.
Sumber Data
Sumber data yang peneliti peroleh adalah data yang berasal dari subyek penelitian ini sebagai sumber data primer, yaitu: Data kondisi awal dari subyek penelitian yang berupa nilai tes ulangan pada standart kompetensi akuntansi perusahaan jasa materi posting dari jurnal ke buku besar, Data nilai tes pada siklus I, dan Data nilai tes pada siklus II
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data berbentuk teknik yaitu: Teknik tes dan non tes. Teknik tes ini dilakukan secara tertulis, dan dalam penelitian ini ada tiga kali tes tertulis, yaitu:
1. Tes tertulis kondisi awal, dengan soal esai sebanyak 5 soal
2. Tes tertulis Siklus I, terdiri dari 5 soal esai
3. Tes tertulis Siklus II, terdiri dari 1 soal esai
Teknik non tes ini diambil dari hasil pengamatan teman sejawat mengenai minat, sikap, perhatian sebagai kriteria motivasi pada saat kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian ini ada 2 hasil non tes, yaitu:
1. Data minat, sikap, perhatian siswa pada Siklus I
2. Data minat, sikap, perhatian siswa pada Siklus II
Validasi Data dan Analisa Data
Validasi data meliputi: Validasi kuantitatif, Validasi kualitatif dan Trianggulasi peneliti. Data kuantitatif akan dianalisis dengan menggunakan diskriptif komperatif, yaitu dengan membandingkan:
1. Nilai tes kondisi awal dengan nilai tes pada Siklus I
2. Nilai tes Siklus I dengan nilai tes pada Siklus II
3. Nilai tes pada kondisi awal dengan nilai tes pada kondisi akhir
Data kuantitatif akan dianalisis dengan menggunakan diskriptif kualitatif, yaitu dengan membandingkan: Hasil pengamatan motivasi Siklus I dengan Siklus II dan hasil pengamatan motivasi awal dengan akhir
Prosedur Penelitian
Siklus I ini dilaksanakan dua kali pertemuan atau 4 jam pelajaran dengan kegiatan sebagai berikut: Planning (Perencanaan tindakan), Acting (Pelaksanaan tindakan), Observing (Pengamatan tindakan) dan Reflecting (Refleksi). Siklus II ini jugadilaksanakan dalam dua kali pertemuan atau 4 jam pelajaran, dengan kegiatan sebagai berikut: Planning (Perencanaan tindakan), Acting (Pelaksanaan tindakan), Observing (Pengamatan tindakan) dan Reflecting (Refleksi).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian dalam kondisi awal belum dilakukan suatu tindakan. Dalam kegiatan pembelajaran kondisi awal ini, guru masih menggunakan metode pembelajaran yang konvensional. Pembelajaran hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan, juga dilakukan secara klasikal. Pembelajaran monoton, masih searah dari guru, semua kegiatan terpusat pada guru, banyak siswa yang kurang memperhatikan sehingga kegiatan pembelajaran nampak kurang aktif. Sehingga siswa kurang memahami materi yang dibahas karena kurang memperhatikan akibatnya hasil belajar siswa rendah.
Siswa dengan keaktifan rendah sebanyak 30 siswa 83,3% dan siswa dengan keaktifan sedang sebanyak 5 siswa 13,9%, dan keaktifan tinggi 1 siswa 2,8%. Hal ini menunjukkan terdapat kurang dari sepertiga siswa di kelas yang belajar tidak fokus. Hal ini berdampak pada hasil belajarnya.
Siswa yang mendapatkan hasil belajar diatas KKM 75 hanya 1 siswa (2,8%), siswa yang belum mencapai KKM 75 sebanyak 35 siswa (97,2%) dari 36 orang.
Deskripsi Siklus I
Siswa dengan keaktifan rendah masih 20 siswa 55,5%, keaktifan sedang sebanyak 10 siswa 2,8%, dan siswa dengan keaktifan tinggi sebanyak 6 siswa 16,7%. Hal ini menunjukkan telah terjadi peningkatan keaktifan lebih dari duapertiga siswa.
Nilai KKM 75 hasil belajar siswa terlihat meningkat dibanding dengan kondisi awal yaitu hanya 1 siswa (2,8%) diatas KKM telah mengalami peningkatan menjadi 16 siswa (44,4%).
Deskripsi Siklus II
Sudah tidak ada siswa dengan keaktifan rendah, keaktifan sedang sebanyak 20 siswa 55,5% dan siswa dengan keaktifan tinggi sebanyak 16 siswa 44,5%. Terjadi peningkatan keaktifan pada keaktifan rendah ke keaktifan sedang meningkat 20 siswa, keaktifan sedang ke keaktifan tinggi meningkat 16 siswa.
Nnilai KKM 75 hasil belajar siswa terlihat meningkat dibanding dengan kondisi pada siklus I yaitu terdapat 36 siswa (100%) hasil belajar diatas KKM 75. Jadi pada pelaksanaan tindakan siklus II pembelajaran seluruh siswa melalui penerapan Model Jigdotan dapat meningkatkan hasil belajar Geometri siswa Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen dengan dibuktikan yaitu seluruh siswa memperoleh hasil belajar diatas KKM (100%) dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini.
Deskripsi Antar Siklus
Melalui penerapan Model Jigdotan dapat meningkatkan keaktifan belajar dalam pembelajaran dibuktikan dengan pada kondisi awal keaktifan siswa rendah sebesar 83,3% dan sedang sebesar 13,9%, tinggi 2,8%, siklus I keaktifan siswa rendah 55,5%, sedang 2,8%, tinggi 16,7%, siklus II keaktifan siswa sedang 55,5%, dan keaktifan siswa tinggi 44,5%.
Melalui penerapan Model Jigdotan dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran Geometri Materi Bangun Ruang Siswa Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen. Hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan dari kondisi awal ketuntasan sebanyak 1 siswa (3,8%), siklus I ketuntasan 16 siswa (45,5%) dan siklus II ketuntasan 36 siswa (100%). Dari kondisi awal ke perlakuan tindakan siklus I ada kenaikan sebesar 41,7% dan dari siklus I ke siklus II ada kenaikan sebesar 100%.
KESIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berikut ini disampaikan simpulan pada penelitian ini meliputi:
1. Melalui melalui penerapan Model Jigdotan dapat meningkatkan keaktifan belajar dalam pembelajaran Siswa Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen dibuktikan dengan pada kondisi awal keaktifan siswa rendah sebesar 83,3% dan sedang sebesar 13,9%, tinggi 2,8%, siklus I keaktifan siswa rendah 55,5%, sedang 2,8%, tinggi 16,7%, siklus II keaktifan siswa sedang 55,5%, dan keaktifan siswa tinggi 44,5%.
2. Melalui penerapan Model Jigdotan dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran Geometri Materi Bangun Ruang Siswa Kelas XII IPS 4 semester 1 SMA N 1 Kayen. Hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan dari kondisi awal ketuntasan sebanyak 1 siswa (3,8%), siklus I ketuntasan 16 siswa (45,5%) dan siklus II ketuntasan 36 siswa (100%). Dari kondisi awal ke perlakuan tindakan siklus I ada kenaikan sebesar 41,7% dan dari siklus I ke siklus II ada kenaikan sebesar 100%.
Saran
Saran yang dapat disampaikan bagi Guru: (1) Guru diharapkan dapat menerapkan Media pembelajaran inovasi seperti Model Jigdotan karena dapat meningkatkan keaktifan pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa; (2) Guru seharusnya lebih inovatif memilih dan menggunakan Media yang sesuai dengan materi yang diajarkan dan mealakukan analisis pelajaran yang disampaikan serta berperan sebagai pendamping siswa. Bagi siswa: (1) Siswa seharusnya belajar tidak hanya dengan menerima materi, menghafal, tetapi juga mempelajari sebagai proses yang harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari; (2) Siswa diharapkan dapat belajar dengan aktif dalam mencari informasi untuk meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan berfikir kritis dalam menyelesaikan permasalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah. 2002. Strategi Belajara Mengajar. Jakarta: rineka Cipta.
Drs. H. Sugiyanto, Msi.,M.Si 2006. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Pustaka.
Hamalik. 1999. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.
M. Darsono. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: UNNES.
Muhammad Ali. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon.
Nana Sudjana. 1999. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Poerwadarminto. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Bina Ilmu.
Suharsimi Arikunto. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukamto. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI. Universitas Terbuka.