PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAJAR GURU

MELALUI TEKNIK SUPERVISI OBSERVASI KELAS

PADA GURU DI SDN 1 PLOSOREJO KECAMATAN KUNDURAN

TAHUN PELAJARAN 2014/2015

 

Sulistiyono

SD Negeri 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora

 

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilakukan karena peneliti melihat kenyataan yang ada di lapangan bahwa masih ada beberapa guru yang belum mampu mengajar seperti yang dituntut dalam Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dengan kata lain masih banyak guru yang punya kebiasaan mengajar dengan cara yang kovensional dan tidak memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dan prestasi belajar siswa. Demikian juga yang terjadi di SDN 1 Plosorejo. Proses pembelajaran di kelas hasilnya kurang optimal karena guru tidak menggunakan metode atau strategi pembelajaran yang bervariasi dan relevan dengan materi yang disampaikan. Tujuan penelitian tindakan sekolah ini adalah agar melalui teknik supervisi observasi kelas dapat meningkatkan kemampuan guru SDN 1 Plosorejo dalam pembelajaran di kelas. Penelitian tindakan sekolah ini di lakukan di SDN 1 Plosorejo dengan subyek sebarnyak 6 orang guru, sedangkan pelaksanaan penelitian tindakan ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Hasil Penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Melalui teknik supervisi observasi kelas sangat efektif diterapkan karena guru semakin aktif, kreatif dan tumbuhnya rasa tanggung jawab untuk memberikan proses belajar yang bermakna bagi siswa. Hal ini dapat dilihat dari prasiklus dari 6 orang guru masih mengajar secara konvensional. Setelah dilaksanakan supervisi observasi kelas , pada siklus I, 3 orang guru (50%) sudah mengajar menggunakan strategi dan metode belajar yang menarik. Pada siklus II, 6 orang guru(100%) sudah mampu melaksanakan pembelajaran yang yang bervariasi dan relevan dengan materi yang disampaikan

Kata Kunci: kemampuan mengajar guru, teknik supervisi observasi kelas

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Salah satu fungsi kepala sekolah adalah sebagai supervisor/ penyelia pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru sebagai upaya penjaminan mutu bahwa guru telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar yang ditentukan. Program supervisi di sekolah harus dimulai dengan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi/refleksi, dan yang tidak kalah pentingnya adalah tindak lanjut supervise. Pelaksanaan tindak lanjut supervise memberi ruang pada guru untuk mengetahui, meningkatkan , dan melakukan perbaikan proses pembelajaran.

Bolla, JL (1985) mengemukakan supervisi itu penting karena: (1) guru memiliki kemampuan yang terbatas untuk menganalisis tingkah lakunya maupun tingkah laku siswanya dalam proses belajar mengajar, dan (2) proses belajar mengajar adalah suatu proses yang kompleks dan unik sehingga guru sulit memisahkan, merefleksikan dan menyadari tingkah lakunya sementara ia sedang mengelola proses belajar mengajar. Pada sisi lain, Boardman (1967) mengemukakan bahwa tanggungjawab kepala sekolah sebagai supervisor (peyelia) guru-guru mencakup kegiatan dalam membimbing guru agar dapat memahami lebih jelas tentang masalah-masalah dan kebutuhan siswa dan kemudian membantu menyelesaikannya, membantu guru mengatasi kesulitan mengajarnya, memberi bimbingan dengan cara bijaksana kepada guru baru melalui proses orientasi, membantu guru dalam memperoleh kecakapan mengajar yang lebih baik dengan menggunakan sebagai metode mengajar, membantu guru memperkaya pengalaman belajar sehingga mampu menciptakan suasana pengajaran kondusif, membantu guru agar mereka lebih mengerti tentang makna media pengajaran yang dipergunakannya, menumbuhkan moral yang tinggi dalam pelaksanaan tugas sekolah pada seluruh staf, dan memberi layanan kepada guru agar ia dapat menggunakan seluruh kemampuannya dalam melaksanakan tugas. Maka dapat dikatakan, bahwa fungsi kepala sekolah sebagai supervisor adalah memberikan layanan kepada guru-guru dalam upaya meningkatkan kemampuan dan kualitas profesionalnya, yaitu menciptakan kondisi belajar mengajar yang lebih baik. Supervisi yang dilakukan kepala sekolah itu, antara lain untuk meningkatkan kemampuan guru-guru dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga diharapkan rnemenuhi misi pengajaran yang diembannya.

Namun demikian dalam kenyataannya di lapangan, masih banyak guru-guru SDN 1 Plosorejo di Kecamatan Kunduran mengalami kendala dan persoalan yang berkaitan dengan penerapan/penggunaan teknik supervisi. Secara umum persoalan tersebut meliputi: pelaksanaan supervisi yang masih menggunakan jalur satu arah yaitu dari kepala sekolah sebagai atasan terhadap guru sebagai bawahan, adanya keluhan dari guru tentang perilaku kepala sekolah, sulitnya memadukan keinginan antara kepala sekolah dan guru tentang teknik supervisi yang harus digunakan, pelaksanaan supervisi dilakukan pada alokasi waktu yang amat terbatas, dan supervisi kerap kali dilakukan atas inisiatif dan keinginan kepala sekolah semata.

Dalam rangka melaksanakan tupoksi Kepala Sekolah untuk memberikan pembinaan kepada kepala guru di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya, peneliti tertarik untuk mengadakan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) atau School Action Research (SAR) yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Mengajar Guru Melalui Teknik Supervisi Observasi Kelas Pada Guru Di SDN 1 Plosorejo Tahun Pelajaran 2014/2015 ”.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka rumusan masalah yang berkaitan dengan judul adalah: “Apakah melalui Teknik Supervisi Observasi Kelas dapat Meningkatkan Kemampuan Mengajar Guru Di SDN 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2014/2015?”

Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian adalah untuk:

a.     Untuk meningkatkan pelaksanaan kegiatan supervisi observasi kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah.

b.     Untuk meningkatkan kemampuan mengajar guru dalam proses pembelajaran setelah disupervisi kepala sekolah melalui teknik supervisi observasi kelas.

 

Manfaat Penelitian

1.       Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya.

2.       Bagi kepala sekolah, diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan kegiatan supervisi observasi kelas.

3.       Bagi pengawas sekolah, sebagai umpan balik dalam upaya meningkatkan kompetensi dalam pembinaan guru khususnya peningkatan kemampuan mengajar guru.

4.       Bagi pejabat terkait, sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk pengambilan kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan kegiatan supervisi observasi kelas dan meningkatkan kemampuan mengajar guru, serta memperbaiki instrumen supervisi observasi kelas yang selama ini sering dipergunakan oleh kepala sekolah untuk mensupervisi para guru di kelas.

5.       Bagi peneliti lain, dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian berikutnya yang berhubungan dengan supervisi observasi kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah.

KAJIAN PUSTAKA

Teknik Supervisi Observasi Kelas

Ada sejumlah teknik supervisi yang dikemukakan oleh para ahli sesuai dengan sudut pandang dan latar belakang keilmuan mereka. Teknik-teknik supervisi nantinya diharapkan mampu memiliki dampak positif terhadap terbentuknya sikap dan kemampuan/kinerja guru. Supervisi sebagai kegiatan pembinaan guru dapat dilakukan melalui teknik secara individual itu mencakup supervisor mengamati kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung (classroom observation), eksperimentasi kelas (class experiment), guru mengunjungi guru lain saat pembelajaran berlangsung (class intervisitation), supervisor melakukan percakapan pribadi dengan guru (individual conference), seleksi materi mata pelajaran (selected of materials for teaching), dan evaluasi diri (self evaluation).

Mengenai teknik supervisi dapat digolongkan dua kelompok yaitu:

1.   Teknik-teknik yang bersifat kelompok, yaitu teknik yang digunakan oleh supervisor terhadap guru dalam suatu kelompok (Sahertian Piet dan Frans Mataheru, 1981). Teknik ini penerapannya antara lain melalui:

a.   Pertemuan orientasi dan penyesuaian bagi guru-guru baru

b.   Pertemuan dalam rapat guru baik secara rutin maupun insidental

c.   Tukar menukar pengalaman (sharing) antar guru dalam sebuah pertemuan yang sudah dipersiapkan

2.   Teknik-teknik yang bersifat individual, yang penerapannya antara lain melalui:

a.   Kunjungan kelas (Class Visitation), yaitu supervisi yang dilakukan dengan cara supervisor datang ke kelas dimana guru sedang mengajar. Kunjungan kelas terdiri dari 3 macam yaitu kunjungan supervisor tanpa pemberitahuan kepada guru sebelumnya, kunjungan kelas dengan memberitahukan kepada guru sebelumnya, dan kunjungan atas dasar permintaan guru kepada supervisor.

b.   Observasi Kelas (Class Observation), yaitu supervisor meneliti suasana kelas selama pelajaran berlangsung, agar memperoleh data yang obyektif agar dapat digunakan untuk menganalisis kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan tugas mengajarnya, baik dalam hal kegiatan guru dan siswa, penggunaan alat dan bahan pelajaran, sikap dan penampilan guru dalam penggunaan metode, dan lingkungan sosial dan fisik sekolah, maupun penunjang lainnya (Sahertian Piet A dan Frans Mataheru, 1981 dalam Rifai, 1982).

c.   Percakapan pribadi (Individual Conference), yaitu supervisor atau kepala sekolah bekerjasama dengan guru-guru untuk memecahkan masalah profesional guru yang dihadapi dalam PBM (Oteng Sutisna, 1985). Dengan percakapan pribadi antara guru dengan supervisor diharapkan dapat terjalin hubungan insani yang baik. Hubungan ini apabila tumbuh dapat menjadi prasyarat yang paling efektif untuk mensukseskan supervisi pengajaran di sekolah.

Observasi kelas merupakan salah satu teknik dalam supervisi. Dengan teknik ini seorang observer (dalam hal ini tenaga pengawas/kepala sekolah) meninjau, mengamati, memperhatikan dan mencatat data dan fakta baik kuantitatif maupun kualitatif yang berkaitan secara langsung maupun tidak dengan PBM di kelas.

Melakukan pengamatan atau observasi memiliki makna tidak sekedar melihat atau mengamati aktivitas guru, melainkan lebih dari itu, yaitu dengan cara melibatkan semua indera, logika, strategi, dan instrumen yang telah divalidasi (Neagley and Evans, 1985). Hal-hal yang perlu dicatat oleh supervisor adalah: a) suasana kelas, b) cara memulai dan menutup pelajaran, c) kecocokan metode yang dipakai dengan materi pelajaran, d) penggunaan media pendidikan, e) cara mengaktifkan siswa, f) tugas berstruktur yang diberikan untuk menumbuhkan hasil pengirim, g) perkembangan para siswa dari segi afeksi, h) pemahan siswa dari segi kognisi, i) dan kemampuan siswa dalam segi psikomotor. Oleh karena itu waktu yang diperlukan oleh supervisor untuk mengobservasi dalam suatu pertemuan dibutuhkan satu sampai dengan tiga jam berturut-turut (Made Pidarta, 1999).

Hal terpenting lainnya mengapa teknik supervisi observasi kelas dipilih untuk mensupervisi guru adalah: a) yang diamati keseluruhan proses belajar mengajar dalam satu pertemuan, dan bukan sampel-sampel PBM yang diinginkan, b) untuk mengetahui aktivitas belajar mengajar secara keseluruhan, bukan untuk mengetahui aktivitas-aktivitas khusus, c) supervisor tidak boleh berpartisipasi dalam PBM, d) dilakukan pada waktu pelajaran berlangsung.

Adapun tahapan dari pelaksanaan supervisi observasi kelas adalah:

1.   Tahap Perencanaan observasi

Agar observasi kelas mencapai hasil yang optimal, supervisor harus mampu merencanakan observasi kelas, mampu merumuskan prosedur-prosedur yang harus dilakukan, mampu menyusun format observasi mampu berunding dan bekerjasama dengan guru, dapat merekam informasi tentang unjuk kerja guru dengan menggunakan format instrumen observasi, mampu mengumpulkan hasil observasi kelas untuk keperluan melakukan langkah-langkah tindak lanjut (Depdikbud, 1986). Jenis atau ragam observasi juga sebaiknya direncanakan sejak awal apakah sistem dadakan, terjadwal, atau permintaan, karena hal ini berpengaruh terhadap instrumen yang dipakai.

2.   Tahap Pelaksanaan observasi

Langkah penting yang pertama ditempuh oleh supervisor adalah penciptaan pra kondisi observasi. Langkah ini ditujukan dengan penciptaan suasana kerja yang akrab antara supervisor dengan guru, pengenalan latar belakang guru, pengenalan latar belakang murid, atau hal-hal serupa lainnya. Langkah ini ditempuh guna menciptakan situasi yang kondusif bagi pelaksanaan observasi yang efektif dan efisien sehingga data-fakta yang terkumpul mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Dalam melaksanakan observasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan (Nurtain, 1989), yaitu: 1) kelengkapan catatan, 2) fokus, 3) mencatat komentar, 4) Pola perilaku mengajar tertentu, dan 5) membuat guru tidak merasa gelisah.

3.   Tahap Tindak Lanjut

Langkah penting pada tahap ini adalah mengolah semua data dan fakta yang telah terkumpul melalui instrumen, sehingga siap disajikan untuk dianalisis dan atau didokumentasikan. Kegiatan pengolahan data-fakta sampai siap disajikan, dianalisis, dan akhirnya menjadi bahan penting pengambilan kebijakan dan atau didokumentasikan, merupakan langkah penting dan menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan observasi.

Kemampuan Mengajar Guru

Secara profesional guru dalam proses pembelajaran memiliki tugas utama, yaitu: 1) menyusun program pengajaran, 2) melaksanakan program pengajaran, 3) melakukan evaluasi, 4) melakukan analisis hasil evaluasi, dan 5) melakukan program perbaikan dan pengayaan. Disamping itu untuk menunjang keberhasilan profesionalnya, guru juga dituntut cakap dalam aktivitas sosial dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Sehubungan dengan tugas mengajar guru, Armstrong, Deton dan Savage (1978), mengemukakan 5 katagori ketrampilan mengajar yang perlu dikuasainya, yaitu: 1) ketrampilan menspesifikasi tujuan performansi, 2) ketrampilan mendiagnosis murid, 3) ketrampilan menggunakan strategi pengajaran, 4) ketrampilan berinteraksi dengan murid, dan 5) ketrampilan menilai aktivitas pengajaran.

Selanjutnya Ditjen Dikti (1988) merumuskan salah satu aspek untuk mengobservasi kemampuan guru adalah kemampuan mengajar. Kemampuan mengajar yang dimaksud adalah, meliputi: menyiapkan ruang, alat bantu belajar dan sumber belajar, melaksanakan tugas harian kelas, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengelola interaksi kelas, serta bersikap terbuka dan luwes.

 

 

Peningkatan Kemampuan Mengajar Guru Dengan Teknik Supervisi Observasi Kelas

Untuk melaksanakan tugas, guru dituntut memiliki kemampuan tertentu yang salah satunya adalah kemampuan guru dalam mengajar. Kurangnya kemampuan yang dimiliki guru dalam mengajar, akan mempengaruhi kinerjanya dalam melaksanakan tugas itu.

Kemampuan pertama yang harus dimiliki guru adalah kemampuan merencanakan pengajaran. Mengajar merupakan pelaksanaan rencana pengajaran yang telah dibuat sebelumnya. Semakin mampu merencanakan pengajaran, seorang guru akan semakin mudah mengajar di kelas (Zuhairini dkk, 1983; Sudyana, 1984).

Kemampuan mengajar sebagai kemampuan kedua yang harus dimiliki oleh guru, berkenaan dengan bagaimana guru menciptakan suatu sistem pengajaran sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya. Kemampuan mengajar menunjuk pada kemampuan guru menggunakan alat penilaian yang telah disusun, materi, metode, media dan sumber pengajaran yang telah dipilih, dan langkah-langkah KBM yang telah disusunnya dalam PBM sebenarnya.

Adapun hubungan supervisi observasi kelas dengan kemampuan mengajar guru, dapat diterangkan sebagai berikut:

a.   Dalam setiap supervisi observasi kepada guru, dilakukan performansi guru, karena tujuan utama supervisi adalah memberikan layanan atau membantu guru memperbaiki performennya melalui perbaikan pengajaran. Dengan demikian melalui supervisi tersebut, akan diketahui secara obyektif tentang kemampuan mengajar guru.

b.   Dalam setiap supervisi observasi kepada guru terutama apabila ternyata performansi guru belum memadai standar performansi, dilakukan perbaikan performansi. Perbaikan performansi tersebut akan meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan tugas-tugas sesuai dengan standar performansi yang diharapkan

c.   Dalam perbaikan performansi guru, selain dilakukan pembinaan kemampuan, juga dilakukan pembinaan motivasi untuk menghilangkan rasa keputus-asaan guru, kemauan anggota organisasi dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan merupakan hal yang esensi. Kepala Sekolah sebagai pemimpin tertinggi pada tataran organisasi di sekolahnya berperan besar dalam memotivasi guru untuk mencapai misi organisasi pendidikan (Wiles, 1967).

Hipotesis Tindakan

Melalui Teknik Supervisi Observasi Kelas dapat Meningkatkan Kemampuan Mengajar Guru Di SDN 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2014/2015.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting dan Subjek Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora selama 3 bulan yaitu mulai bulan Agustus sampai dengan Oktober 2014. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mengajar guru di SDN 1 Plosorejo. Subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah semua guru di SD Negeri 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora tahun 2014/2015 yang berjumlah 6 orang yang terdiri dari 1 guru laki-laki dan 5 guru perempuan.

Perencanaan Tindakan

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian tindakan yang terdiri dari dua siklus. Langkah-langkah setiap siklus adalah perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi dan refleksi.Teknik Pengumpulan Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi untuk mengumpulkan data kondisi awal, teknik observasi untuk data aktivitas guru dalam mengajar di kelas. Penelitian ini difokuskan pada penyempurnaan kegiatan supervisi observasi kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap guru dalam meningkatkan kemampuan mengajarnya. Selain itu juga untuk melihat kemampuan guru dalam proses pembelajaran di kelas pada saat disupervisi oleh kepala sekolah. Jadi penelitian tindakan ini berupaya untuk meningkatkan keterampilan mengajar guru serta memperbaiki atau meningkatkan kemampuan dan ketrampilan kepala sekolah dalam mensupervisi guru.

Validasi Data dan Analisis Data

Validasi data dilakukan agar memperoleh data yang valid. Data aktivitas yang diperoleh melalui observasi divalidasi dengan mellibatkan observer (teman sejawat atau pegawas) yang dikenal dengan berkolaborasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif dilanjutkan dengan refleksi.

Prosedur Tindakan

Penelitian tindakan sekolah ini dilakukan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari empat tahapan. Tahap pertama membuat perencanaan tindakan, tahap kedua melakukan tindakan sesuai yang direncanakan, tahap ketiga melakukan pengamatan terhadap tindakan yang dilakukan, tahap keempat melakukan analisis deskriptif komparatif dan refleksi terhadap hasil pengamatan tindakan.

HASIL TINDAKAN

Setelah diadakan tindakan sekolah baik tindakan pada siklus I maupun pada siklus II diperoleh data hasil pengamatan yaitu adanya peningkatan kemampuan guru mengajar dalam pembelajaran Di SDN 1 Plosorejo. Hasil Penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.

Pada kondisi awal (pra siklus), hampir semua guru masih mengajar dengan cara yang konvensional. Sehingga pada saat pembelajaran berlangsung siswa kurang antusias, dan hal itu sangat berdampak dengan prestasi belajar siswa. Maka dari itu dalam pra siklus ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan mengajar guru Di SDN 1 Plosorejo masih rendah.

Pada siklus I setelah dilaksanakan supervisi observasi kelas terdapat peningkatan kemampuan guru dalam mengajar di kelas. Hal ini dikarenakan guru mendapatkan bimbingan untuk menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dan relevan dengan materi pembelajarannya. Dari 6 orang guru, 3 orang guru (50%) sudah mampu menyusun dan melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar yang tepat dan relevan. Sedangkan 3 orang guru (50%) masih belum menggunakan strategi belajar yang menarik dalam pembelajaran. Oleh karena itu peneliti memandang perlu dilakukannya perbaikan pada siklus II. Pada siklus II ini, terjadi peningkatan yang sigifikan terhadap kemampuan mengajar guru di SDN 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran. Dari 6 orang guru yang semula pada siklus I hanya 3 orang guru (50%) yang mampu menyusun dan melaksanakan pembelajaran dengan baik, pada siklus II ini 6 orang guru (100%) semua sudah mampu mengajardenagn meggunakan strategi belaajar yang baik dan relevan.

PENUTUP

Simpulan

Dari hasil penelitian tindakan sekolah ini dapat diambil kesimpulan bahwa:

1.     Teknik supervisi observasi kelas dapat meningkatkan kemampuan mengajar guru Di SDN 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2014/2015

2.     Teknik supervisi observasi kelas dapat meningkat keaktifan dan tanggung jawab peserta/guru dalam menyusun dan melaksanakan pembelajaran di kelas.

3.     Terjalinnya kerjasama yang baik antara guru dengan Kepala Sekolah.

Saran

1.     Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, disarankan kepada kepala sekolah dan pengawas di sekolah binaannya untuk meningkatkan kemampuan mengajar guru melalui teknik supervisi observasi kelas.

2.     Guru-guru di sekolah hendaknya tetap memiliki kesungguhan dalam menerima pembinaan Kepala Sekolah melalui teknik supervisi observasi kelas agar tercipta kompetensi dan keampuan guru.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 1989, Penilaian Program Pendidikan, Jakarta, Proyek Pengembangan LPTK, Dirjen Depdikbud

Amstrong, D.G., J.J. Denton, dan JR. TV. Savage. 1978. Instructional Skills Handbook, Englewood Cliffs, NJ.: Prentice-Hall, Inc.

Boila, JL, 1380, Supervisi Klinik, Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, P3TK.

Depdiknas, 2007, Petunjuk Teknis Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research, Direktorat Tenaga Kependidikan, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Hanwung, A.J., 1981, Supervisi Pendidikan, Jakarta, Depdikbud.

Imron, A. 1999, Pembinaan Guru di Indonesia, Jakarta, Dunia Pustaka Jaya.

Natawijaya, R. (1977), Konsep Dasar Penelitian Tindakan, Jakarta, Depdikbud, Dirjen Pendidikan Tinggi, Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Menengah Umum.

Nawawi, H. 1981, Administrasi Pendidikan, Jakarta, Gunung Agung.

Pidarta M. 1992, Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara.

Sahertian, P.A. 2000, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta, Reineka Cipta.