Peningkatan Kemampuan Siswa Menggunakan Teknik Pasang Kata
PENINGKATAN KEMAMPUAN SISWA KELAS X IPA-5
MAN 1 KABUPATEN SRAGEN DALAM MENULIS PUISI
MENGGUNAKAN TEKNIK PASANG KATA
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Suwarto
MAN 1 Kabupaten Sragen
ABSTRACT
This study aims to identify the increase of students’ skills in poetry writing by employing Pasang kata technique. This is a classroom action research conducted in two cycles that includes (1) planning, (2) action, (3) observation, and (4) reflection. This research is conducted in grade VIIE of SMP N 4 Geyer semester 2 2018/2019. The data is collected by observation, interview, and testing student learning outcomes. The data is then analyzed qualitatively and quantitatively. The qualitative data is analyzed using categorical and functional analysis through an interactive model simultaneously and the quantitative data is analyzed using descriptive analysis. The analysis shows that students’ skills in writing poetry can be enhanced by using Pasang kata learning techniques. The learning is conducted through three stages, namely the initiative, resumption, and termination. Changes in student behavior are seen in the courage and ability of students in choosing a word that is unusual, strange, and unique to give effect to the high level of originality. The development of average scores per aspect of writing abilities is 44%, 73% on the first cycle and 78% on second cycle.
Key words: kemampuan siswa, menulis puisi, teknik pasang kata
PENDAHULUAN
Menulis puisi adalah salah satu kompetensi dasar yang harus diajarkan sebagaimana tercantum dalam Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Selain itu, menulis puisi berperan sebagai sarana membantu siswa mengomunikasikan gagasan dan perasaan secara tertulis. Menulis puisi juga berfungsi sebagai sarana meningkatkan keterampilan menulis sastra. Sebagai bentuk tulisan sastra tentunya puisi yang ditulis siswa diharapkan memenuhi nilai-nilai kesastraan, yakni memiliki nilai estetika dan nilai humanis.
Kenyataan rendahnya kemampuan siswa dalam menulis puisi terlihat dari hasil ulangan harian di kelas X IPA-5 MAN 1 Sragen tahun pelajaran 2018/2019. Rendahnya kemampuan tersebut terletak pada sulitnya siswa menuangkan ide/gagasannya dan mengemas tulisan agar bernilai sastra. Tidak heran, saat siswa diberi tugas menulis puisi dari 37 siswa, ada 43,2 persen pekerjaan siswa masih kosong. Artinya, siswa belum mampu berbuat apa-apa selama satu jam pelajaran. Ada 32,4 persen siswa baru menulis judul atau beberapa kalimat. Siswa yang telah selesai menulis puisi sebesar 24,3 persen. Namun, jumlah siswa yang telah selesai tersebut setelah dilihat ternyata tulisannya masih jauh dari harapan. Mereka hanya menuliskan kembali puisi yang pernah ditemuinya dalam buku (bukan karya sendiri).
Rendahnya kemampuan siswa dalam menulis puisi mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah perencaaan pembelajaran yang kurang, penggunaan metode atau teknik yang tidak tepat sehingga kurang membantu siswa untuk menguasai kompetensi yang diajarkan, atau rendahnya skemata siswa. Akibatnya, siswa sering bingung apa yang harus ditulis dan bagaimana menuliskannya. Pembelajaran pun menjadi kaku dan membosankan.
Penelitian ini berfokus pada peningkatan kemampuan siswa dalam menulis puisi dengan teknik pasang kata. Pasang kata merupakan teknik penulisan puisi dengan menciptakan “keganjilan” teks dalam upaya menampilkan kekhasan tulisan. Penggunaan teknik pasang kata dalam pembelajaran menulis puisi menjadi penting. Alasannya, selain teknik ini menuntun siswa dalam menulis puisi, teknik ini juga membantu agar puisi yang dihasilnya menjadi unik, orisinal, dan memiliki nilai-nilai sastra.
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut, permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut (1) Apakah kemampuan siswa dalam menulis puisi dapat ditingkatkan dengan teknik pasang kata? (2) Bagaimana teknik pasang kata diterapkan dalam pembelajaran menulis puisi ? (3) Bagaimana perubahan tingkah laku siswa dalam pembelajaran menulis puisi ?
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Mengetahui tingkat keefektifan penggunaan teknik pasang kata dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa. (2) Mendeskripsikan bagaimana teknik pasang kata diterapkan dalam pembelajaran menulis puisi. (3) Mendeskripsikan perubahan tingkah laku siswa dalam pembelajaran menulis puisi
Penelitian ini dapat memberikan kontribusi kepada beberapa pihak. (1) Siswa, siswa dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi dan meningkatkan motivasi belajar. (2) Guru, guru dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang lebih inovatif dan menuntun siswa dalam menulis puisi. (3) Sekolah, sekolah dapat menjadikan hasil penelitian sebagai bahan kajian dalam peningkatan mutu sekolah.
Hakikat Puisi
Puisi adalah karya seni yang puitis. Kata puisi sudah mengandung niai keindahan yang khusus untuk puisi. Akan tetapi, sifat atau ciri puisi yang dimaksud sukar untuk memberi definisi (Pradopo, 2002:13). Menurutnya, sesuatu (khususnya dalam sastra) disebut puisi bila hal itu dapat membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas dan secara umum bila hal itu dapat menimbulkan keharuan pembacanya.
Batasan puisi yang dikemukakan oleh Luxemburg (2014:27), bahwa puisi adalah teks-teks monolog yang isinya tidak mempunyai sebuah alur. Selain itu, teks puisi bercirikan penyajian tipografi tertentu. Bahkan, ciri puisi yang paling mencolok adalah penampilan tipografinya.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan pikiran, perasaan, dan jiwa penyair yang disusun secara berirama dan mengonsentrasikan pada kekuatan bahasa.
Puisi sebagai struktur yang kompleks tersusun secara utuh dan menyatu memiliki unsur-unsur yang membangun, yaitu:
- tema, tema puisi adalah inti pokok yang terkandung dalam puisi (Hendy, 2011:170). Meskipun puisi ada yang panjang, di dalamnya tetap memiliki inti pokok. Inti pokok adalah bagian yang diterangkan, sedangkan bagian yang menerangkan hanya sebagai penjelas.
- suasana, suasana adalah keadaan penyair ketika mencipta puisi (Hendy, 2011:175). Keadaan yang malatarbelakangi penciptaan puisi akan mempermudah pemahaman puisi tersebut. Sehubungan dengan itu, suasana dapat mempermudah pemahaman saat menggubah puisinya. Misalnya, suasana haru, khidmad, senang, sedih, gembira, kesal, dan lain-lain.
- Imajinasi, imajinasi merupakan daya pikir untuk membayangkan makna yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan. Imajinasi adalah gambaran yang disajikan dalam sebuah puisi, baik yang menyentuh indra penglihatan, pendengaran, pembau, perasa, dan sebagainya. (Hendy, 2011:176).
- Simbol, simbol adalah perlambangan maksud dengan benda atau kata lain yang tepat untuk lebih menghidupkan pernyataan (Hendy, 2011:117). Pernyair biasanya banyak menggunakan simbol dalam mengekspresikan gagasannya.
- irama merupakan alur suasana yang berpaduan seperti panjang-pendek, tinggi-rendah, dan keras-lemahnya pengucapan kata-kata (Hendy, 2011:178).
- Rima, rima merupakan pengulangan bunyi dalam puisi yang membentuk muasikalitas (Hendy, 2011:179). Pengulangan bunyi dapat menimbulkan keindahan dan menarik bila dibaca. Pengulangan bunyi juga sengaja diciptakan oleh pengarangnya selain untuk menimbulkan keindakan juga untuk mewakili kondisi batinnya..
- gaya bahasa, gaya bahasa merupakan ciri khas penyair dalam menciptakan karya sastra. Dengan bahasa penyair mampu mengungkapkan kemauan, pikiran, dan perasaan kepada orang lain secara menarik untuk memikat pendengar atau pembacanya (Hendy, 2011:180). Sastrawan memiliki bahasa yang khas dalam mengolah hasil ciptaannya.
Adapun potensi bahasa dalam bentuk fisik puisi mencakup hal-hal berikut ini:
- Diksi (pilihan kata)
Pada proses penciptaan puisi seorang penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata sebab kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu.
- Pengimajian
Pengimajian merupakan kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Untaian kata dalam puisi seolah-olah mengandung gema suara (imaji auditif), benda yang tampak (imaji visual), atau sesuatu yang kita rasakan, raba, atau sentuh (imaji taktil) (Waluyo, 2009:78).
- Kata konkrit
Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, kata-kata harus diperkonkrit. Maksudnya, kata-kata itu dapat menyarankan kepada arti yang menyeluruh. Seperti halnya pengimajian, kata yang diperkonkrit juga erat kaitannya dengan penggunaan kiasan dan lambang.
- Bahasa figuratif (majas)
Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang. (Waluyo, 2009:83)
- Versifikasi (rima, ritma, metrum)
Bunyi dalam puisi menghasilkan rima dan ritma. Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Kata rima sebagai mengganti istilah persajakan pada sistem lama karena diharapkan penempatan bunyi dan pengulangannya tidak hanya pada akhir setiap baris, namun juga untuk keseluruhan baris dan bait.
Pembelajaran Menulis Puisi
Menulis merupakan suatu proses. Pembelajaran menulis puisi pun dilakukan secara bertahap-tahap sampai hasil puisi ciptaannya memuaskan. Ada empat tahap dalam proses menulis puisi. Keempat tahap tersebut adalah:
- tahap persiapan dan usaha
- tahap inkubasi atau pengendapan
- tahap iluminasi
- tahap verifikasi.
Pada tahap persiapan dan usaha seseorang akan mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Makin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki seseorang mengenai masalah atau tema yang digarapnya, makin memudahkan dan melancarkan pelibatan dirinya dalam proses tersebut.
Tahap inkubiasi atau pengendapan merupakan tahap setelah semua informasi dan pengalaman yang dibutuhkan terkumpul. Kemudian, berusaha dengan pelibatan diri sepenuhnya untuk menimbulkan ide-ide sebanyak mungkin. Biasanya proses ini memerlukan waktu untuk mengendapkan semua gagasan tersebut, diinkubasi dalam alam prasadar.
Tahap iluminasi merupakan tahap mencoba mengekspresikan masalah tersebut dalam puisi. Tahap selanjutnya adalah tahap verifikasi yaitu penulis melakukan penilaian secara kritis terhadap karyanya sendiri. Verifikasi juga dapat dilakukan dengan cara membahas atau mendiskusikannya dengan orang lain untuk mendapatkan masukan bagi penyempurnaan karya tersebut maupun karya selanjutnya.
Konsep Pasang kata
Pasang kata merupakan “keganjilan” teks sastra dalam upaya menampilkan kekhasan karya sastra. Victor Shlovsky seperti dikutip oleh Hartoko (2004:23) menyatakan bahwa Defamiliarization is found almost everywhere form is found. Kutipan tersebut mempunyai arti bahwa Hal-hal yang sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari diubah fungsi ataupun pemahamannya menjadi asing dan ganjil atau aneh. Tujuannya agar pembaca lebih tertarik pada bentuk, dan lebih menyadari hal-hal sekitarnya.
Pembelajaran Menulis Puisi dengan Teknik Pasang kata
Pembelajaran menulis puisi dengan teknik pasang kata sebenarnya hampir sama dengan pembelajaran puisi yang lain. Perbedaannya terletak pada tahap pelanjutan, yakni dengan merangkaikan kata-kata yang aneh/memfamiliarisasikan kata-kata yang tidak biasa. Dengan teknik ini akan menghasilkan larik-larik puisi yang unik, kreatif, dan memiliki tingkat orisinalitas yang tinggi.
Adapun tahapan pembelajarannya secara rinci adalah sebagai berikut.
- Tahap prakarsa
Tahap prakarsa merupakan tahap pencarian ide untuk dituangkan dalam bentuk tulisan yang berupa puisi. Ide-ide dapat berupa pengalaman-pengalaman seseorang. Ide dapat pula dicari dari sesuatu yang langsung dilihat, misalnya tentang lingkungan sekitar. Makin banyak seseorang mempunyai ide, makin mudah untuk menulis puisi.
- Tahap Pelanjutan
Tahap ini merupakan tahap tindak lanjut dari tahap pencarian ide setelah seseorang mendapatkan ide-ide dari berbagai sumber dan cara, kemudian mengidentifikasi kata-kata yang berhubungan dengan ide/topik tersebut. Pada langkah inilah siswa diarahkan agar berani mengeksplorasi kata-kata, siswa harus berani merangkaikan kata-kata yang aneh dan unik, tetapi beralasan.
- Tahap Pengakhiran
Pada tahap ini siswa diajarkan bagaimana dengan mengedit puisi yang telah dibuat, misalnya dengan mengubah susunan kata, mengganti kata agar puisi yang dihasilkan lebih berbobot dan memiliki kedalaman makna.
Penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penulisan puisi dilakukan oleh Suyono (2008) yang berjudul “Meningkatkan Keterampilan Menulis Puisi dengan Teknik Inkuiri yang Berfokus pada Pengamatan Objek, Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Sampara Kabupaten Konawe. Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Sulistyono (2008) yang berjudul ” Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual”. Demikian halnya penelitian menulis puisi juga dilakukan oleh Aritonang (2018) yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Bebas dengan Media Gambar Peristiwa di Media Massa”. Memang, banyak penelitian tentang pembelajaran menulis puisi, tetapi pembelajaran menulis puisi dengan teknik pasang kata belum peneliti temukan.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kabupaten Sragen. Penelitian dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2018/2019. Adapun subjek penelitiannya adalah siswa-siswa kelas X IPA-5.
Teknik pengumpulan data meliputi panduan observasi, panduan wawancara, dan tes pengukuran hasil belajar siswa.
Untuk menguji kebenaran penelitian PTK, setiap data yang diperoleh dicek keabsahannya atau keorisinalitasannya. Pengecekkan keabsahan data pada penelitian ini adalah dengan cara triangulasi, member cek, pemeriksaan sejawat melalui diskusi
Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis kategorial dan fungsional melalui model analisis interaktif (interactive model), yakni dianalisis, direduksi, dan diverifikasi secara simultan. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan desain penelitian tindakan (action research) yang dirancang melalui beberapa siklus dengan prosedur: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) pengamatan (observation), (4) refleksi (reflecsion) dalam tiap-tiap siklus.
Indikator kinerja penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan siswa dalam menulis puisi yang ditunjukkan dengan hal-hal (1) siswa tidak merasa kesulitan dalam mengungkapkan gagasan; (2) siswa dapat memilih kata yang tepat dalam penulisan puisi; (3) puisi siswa telah memenuhi nilai sastra; (4) kreativitas siswa dalam menulis puisi semakin meningkat; (5) suasana pembelajaran menadi lebih menarik, menyenangkan, dan bermakna
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
Hasil penelitian ini dideskripsikan menjadi tigal hal, yaitu kondisi awal, tindakan siklus I, dan siklus II. Hasil refleksi awal kemampuan siswa dalam menulis puisi di kelas X IPA-5 MAN 1 Sragen sebelum dilakukan tindakan pada siklus I.
Berdasarkan refleksi awal terlihat bahwa kemampuan siswa dalam menulis puisi cukup memprihatinkan. Hal ini terlihat dari banyaknya siswa yang memperoleh nilai rendah. Dari 37 siswa siswa yang memperoleh nilai kurang dari 50 sebanyak 7 siswa (18,9%), nilai 50-60 sebanyak 15 siswa, nilai 60-70 sebanyak 7 siswa (18,9%), nilai 70-80 sebanyak 5 siswa (13,5%), nilai 80-90 sebanyak 3 siswa (8,1%), dan nilai 90-100 tidak ada. Jika dilihat dari ketuntasan (KKM: 65), berarti sekitar 59,4 siswa tidak tuntas.
Jika dilihat dari kemampuan penguasaan tiap komponen dalam menulis puisi terlihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Persentase Penguasaan Per Komponen dalam Menulis Puisi
| No. | Aspek yang Dinilai | Bobot/skor ideal | Rerata Skor | Persentase | |
| 1 | Pilihan Kata | 30 | 13 | 43% | |
| 2 | Isi | 30 | 14,1 | 47% | |
| 3 | Daya ungkap ide/tema | 20 | 8,9 | 45% | |
| 4 | Orisinalitas | 20 | 16,8 | 84% | |
| Total | 100 | 44 | 44% |
Dari tabel di atas terlihat bahwa kemampuan siswa dalam menulis puisi hanya mencapai 44,%, yang meliputi komponen pilihan kata sebesar 43%, komponen isi 47%, komponen daya ungkap 45%, dan komponen orisonalitas 84%. Persentase pencapaian tiap komponen dalam penulisan puisi relatif rendah. Hal ini tentu akan berdampak pada ketuntasan kompetensi dasar, terutama kompetensi dasar menulis puisi.
Hasil refleksi awal tersebut dijadikan sebagai dasar untuk melakukan tindakan, yaitu pembelajaran menulis puisi menulis dengan teknik pasang kata. Setelah dilakukan tindakan, dengan memperhatikan hasil observasi, wawancara, dan hasil pekerjaan siswa, peneliti melakukan diskusi dengan kolaborator. Berdasarkan hasil diskusi tersebut, diketahui siswa merasa tertuntun dengan model pembelajaran ini. Hal itu terlihat dari hasil pekerjaan mereka. Namun, setelah diamati hasil pekerjaannya, ada beberapa catatan. Pertama, siswa belum semua mampu memanfaatkan majas. Kalau pun ada, majas yang digunakan masih klasik dan sudah biasa digunakan orang. Kedua, pengimajian (citraan) dalam puisi belum begitu terasa. Akibatnya, puisi yang dihasilkan kurang memberikan efek yang kuat.
Ada peningkatan nilai kemampuan siswa dalam menulis puisi. Rentang nilai 90-100 pada refleksi awal tidak ditemukan, tetapi dalam siklus I ada 2 (5,4%) siswa yang memperoleh nilai itu. Rentang nilai 80-90 semula hanya 3 siswa kini menjadi 8 siswa (21,6%). Rentang nilai 70-80 juga mengalami kenaikan semula hanya 5 siswa kini menjadi 10 (27,0%). Rentang nilai 60-70 mengalami kenaikan yang signifikan semula 7 siswa kini hanya 14 siswa (37,8%). Rentang nilai 50-60 semula 15 siswa kini hanya 3 siswa. Bahkan, rentang nilai di bawah 50 semula ada 7 siswa kini tidak ditemukan lagi.
Penguasaan per komponen dalam kegiatan menulis puisi juga mengalami peningkatan. Komponen pilihan kata sebelum dilakukan tindakan sebesar 43% kini mejadi 77%. Komponen isi semula 47% menjadi 63%. Komponen daya ungkap ide/tema semula 45% menjadi 58%. Komponen orisinalitas dari 84% menjadi 88%.
Hasil refleksi dari hasil tindakan pada Siklus I kemudian didiskusikan dengan kolaborator. Selanjutnya, hasil tersebut dijadikan sebagai dasar untuk melakukan tindakan berikutnya, yakni siklus II. Tindakan yang dilakukan dalam siklus II yaitu membantu siswa mengidentifikasi kekurangan-kekurangan mulai dari cara memilih kata berdasarkan pasang kata, cara menerapkan majas, cara membuat pencitraan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan penulisan puisi yang menurut catatan kolaborator belum mendapatkan penekanan yang lebih dari peneliti. Pada siklus II ini, peneliti meberikan penguatan terhadap hasil karyanya. Kemudian, member dorongan dan arahan kepada siswa agar mampu meningkatkan kemampuannya dalam menulis puisi.
Untuk membantu siswa dalam meningkatkan kemampuannya, peneliti memberikan beberapa model pasang kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Berdasarkan model tersebut diharapkan siswa akan lebih paham. Dengan demikian beberapa kelemahan yang ada dapat diatasi.
Hasil tes kinerja siswa dalam menulis puisi setelah dilakukan tindakan pada siklus II didapatkan seperti pada tabel berikut.
Tabel 5. Persentase Kemampuan Siswa dalam Menulis Puisi pada Siklus II
| No | Nilai | Frekuensi | Persentase |
| 1 | 90-100 | 5 | 13,3% |
| 2 | 80-89 | 12 | 32,3% |
| 3 | 70-79 | 14 | 37,8% |
| 4 | 60-69 | 6 | 16,2% |
| 5 | 50-59 | 0 | 0% |
| Total | 37 |
Setelah dilakukan dalam siklus II, kemampuan siswa dalam menulis puisi mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut rentang nilai 90-100 pada siklus I ada 2 siswa kini menjadi 5 siswa atau sekitar 13,3%. Rentang nilai 80-90 semula 8 siswa kini menjadi 12 siswa (32,3%). Rentang nilai 70-80 semula 10 siswa kini menjadi 14 (37,8%). Rentang nilai 60-70 mengalami kenaikan yang semula 14 siswa kini hanya 6 siswa (16,2%). Bahkan, rentang nilai 50-60 semula 3 siswa kini tidak ditemukan lagi.
Hasil penguasaan per komponen dalam menulis puisi terlihat pada tabel berikut.
Tabel 6. Persentase Penguasaan Per Komponen Menulis Puisi dalam Siklus II
| No. | Aspek yang Dinilai | Bobot/skor ideal | Rerata Skor | Persentase | |
| 1 | Pilihan Kata | 30 | 23,8 | 79% | |
| 2 | Isi | 30 | 21,2 | 71% | |
| 3 | Daya ungkap ide/tema | 20 | 13,6 | 68% | |
| 4 | Orisinalitas | 20 | 18,9 | 98% | |
| Total | 100 | 78 | 78% |
Penguasaan per komponen dalam kegiatan munulis puisi juga mengalami peningkatan. Komponen pilihan kata pada siklus 1 sebesar 77% kini dalam siklus 2 menjadi 79%. Komponen isi dalam siklus 1 semula 63% dalam siklus 2 menjadi 71%. Komponen daya ungkap ide/tema dalam siklus 1 semula 58% menjadi 68%. Komponen orisinalitas semula 88% menjadi 98%.
Pembahasan hasil penelitian ini bertolak dari hasil perubahan refleksi awal, pemberian tindakan pada siklus I, dan II. Perubahan tersebut dapat diketahui dari kemampuan siswa dalam menulis puis dan penguasaan per komponennya. Setelah data diakumulasi, perubahan kondisi awal, siklus I, dan siklus II dapat digambarkan seperti pada tabel berikut ini.
Tabel 7. Perubahan kemampuan dalam Menulis Puisi dari Awal, Siklus II, dan Siklus II
| No. | Rentang Nilai | Awal | Siklus I | Siklus II |
| 1 | 90-100 | 0 | 2 | 5 |
| 2 | 80-90 | 3 | 8 | 12 |
| 3 | 70-80 | 5 | 10 | 14 |
| 4 | 60-70 | 7 | 14 | 6 |
| 5 | 50-60 | 15 | 3 | 0 |
| 6 | < 50 | 7 | 0 | 0 |
Tabel 8. Penguasaan Per Komponen dalam Penulisan Puisi dari Awal, Siklus I, dan II
| No. | Komponen | Awal | Siklus I | Siklus II |
| 1 | Pilihan Kata | 43% | 77% | 79% |
| 2 | Isi | 47% | 63% | 71% |
| 3 | Daya ungkap ide/tema | 45% | 58% | 68% |
| 4 | Orisinalitas | 84% | 88% | 98% |
| Total | 44% | 73% | 78% |
Dari tabel tersebut tampak bahwa terjadi peningkatan penguasaan tiap komponen dalam menulis puisi dari awal sebelum tindakan sebesar 44%, setelah tindakan siklus I menjadi 73%, dan setelah tindakan siklus II meningkat lagi menjadi 78%.
Dari gambar tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan yang cukup berarti dari awal, setelah siklus I, sampai dengan siklus II.
Hasil penelitian tindakan pembelajaran menulis puisi dengan teknik pasang kata terbukti memberikan peningkatan kemampuan siswa dalam menulis puisi. Pembelajaran dengan teknik ini berjalan lebih efektif dan bermakna. Pembelajaran tersebut jelas akan mempengaruhi kualitas belajar yang optimal, sehingga peserta didik memiliki daya serap terhadap belajarannya yang tinggi pula dan pada akhirnya hasil belajar menulis puisi menjadi lebih optimal.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan di atas, dapat disimpulkan (1) kemampuan siswa dalam menulis puisi dapat ditingkatkan dengan teknik pasang kata. Hal ini terlihat dari perubahan rata-rata skor kemampuan menulis per aspek, yaitu pada kondisi awal 44%, siklus I 73%, dan siklus II 78%; (2) teknik pasang kata diterapkan dalam pembelajaran menulis puisi dengan tiga tahapan, yaitu prakarsa, pelanjutan dan pengakhiran; (3) perubahan tingkah laku siswa dalam pembelajaran menulis puisi terlihat dari keberanian dan kemampuan siswa dalam memilih kata yang tidak lazim, aneh, dan unik sehingga memberikan efek pada tingkat orisinalitas yang tinggi.
Saran
Berdasarkan beberapa simpulan tersebut peneliti memberikan saran kepada beberapa pihak. (1) Guru bahasa Indonesia, teknik pasang kata dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran menulis puisi. (2) Siswa, untuk menghasilkan puisi yang berkualitas, siswa harus lebih berani menpasang katakan kata-kata meskipun terasa ganjil atau aneh.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Aritonang. 2018. ”Peningkatan Menulis Puisi Bebas dengan Media Gambar Peristiwa di Media Massa”. Jurnal Pendidikan. Jakarta: Yayasan Penabur.
Depdiknas. 2006. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta.
Hartoko,Dick. 2011. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia
Hendy, Zaidan. 2011.. Kesusastraan Indonesia 2: Warisan yang Perlu Diwariskan. Bandung: Angkasa.
Luxemberg, Jan Van. 1984: Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sulistyono. 2008. ”Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual”. Jurnal Pendidikan Widyatama Volume 5 No. 2 2008. Semarang: LPMP Jawa Tengah.
Suyono. 2008. ” Meningkatkan Keterampilan Menulis Puisi dengan Teknik Inkuiri yang Berfokus pada Pengamatan Objek, Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Sampara Kabupaten Konawe” Jurnal Penelitian Pendidikan Edisi Oktober 2008. Sulawesi: LPMP Sulawesi Utara.
Waluyo, Herman. 2009. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.