PENINGKATAN MINAT DAN KEMAMPUAN

MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

MELALUI PEMBINAAN AKADEMIK

BAGI GURU SDN JETAK 01 KECAMATAN GETASAN

SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2017/2018

 

Karyani

SDN Jetak 01 Kecamatan Getasan

 

                                                                    ABSTRAK                   

Penelitian ini bertujuan meningkatkan minat dan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SDN Jetak 01 melalui pembinaan akademik. Strategi yang digunakan adalah penelitian tindakan sekolah yang dilakukan dalam 2 siklus yang pada setiap siklusnya meliputi kegiatan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, pemantauan dan evaluasi, serta analisis dan refleksi. Setiap siklus memerlukan 1 kali pertemuan. Setiap pertemuan menggunakan waktu 2 x 35 menit. Yang menjadi subyek penelitian adalah guru kelas SD Negeri Jetak 01. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan minat dan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Hal ini terlihat dari 6 orang guru yang dijadikan subyek penelitian tindakan sekolah, setelah dilakukan pembinaan akademik pada siklus I, 5 orang guru ( 83 % ) kondisi minatnya sedang , sedangkan 1 orang guru ( 17 % ) minatnya rendah. Sedangkan total skor terendah yang diperoleh guru adalah 9 atau 56 %, total skor tertinggi sama diperoleh 3 orang guru yaitu 12 atau 75 %. Rata-rata skor yang diperoleh keenam guru adalah 11 atau ( 68,5 % ). Dari 6 orang guru yang dijadikan subyek penelitian tindakan sekolah, setelah dilakukan pembinaan akademik pada siklus I, 3 orang guru (50 % ) kondisi kurang mampu dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, sedangkan 3 orang guru ( 50 % ) kondisi mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran meskipun posisi skornya pada rentang bawah. Skor terendah 20 atau 63 %, sedangkan skor tertinggi 24 atau 75 %. Rata-rata skor yang diperoleh guru adalah 22 atau ( 69% ).  Dan dari 6 orang guru yang dijadikan subyek penelitian tindakan sekolah ini, setelah dilakukan pembinaan akademik pada siklus II, 3 orang guru (50 % ) kondisi minatnya sedang , sedangkan 3 orang guru ( 50 % ) minatnya tinggi .Sedangkan total skor terendah yang diperoleh guru adalah 11 atau 68 %, total skor tertinggi yaitu 15 atau 93 %. Rata-rata skor yang diperoleh keenam guru adalah 13 atau ( 81 % ). Dari 6 orang guru yang dijadikan subyek penelitian tindakan sekolah, setelah dilakukan pembinaan akademik pada siklus II, semua guru ( 100 % ) kondisi mampu , hanya saja posisi nilainya 3 orang guru pada rentang bawah mampu , 3 orang guru pada rentang atas mampu. Sedangkan total skor terendah yang diperoleh guru adalah 24 atau 75 %, total skor tertinggi yaitu 27 atau 84 %. Rata-rata skor yang diperoleh keenam guru adalah 25,5 atau ( 79,6 % ). Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan minat guru menyususn rencana pelaksanaan pembelajaran yang pada kondisi awal rata-rata skor 9,2 atau aspek minat rendah, di akhir siklus I rata-rata skor 11 atau aspek minat sedang rentang bawah sedangkan di akhir siklus II rata-rata skor menjadi 13 atau aspek minat sedang pada rentang tinggi. Dan melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan kemampuan guru menyususn rencana pelaksanaan pembelajaran yang pada kondisi awal rata-rata skor 20,8 atau aspek kurang mampu, di akhir siklus I rata-rata skor 22 atau aspek mampu rentang bawah sedangkan di akhir siklus II rata-rata skor menjadi 25,5 atau aspek mampu pada rentang tinggi.

Kata Kunci : Minat dan Kemampuan Menyusun RPP, Pembinaan Akademik

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Guru sebagai tenaga pendidik berkewajiban menyukseskan pembangunan yang pada prinsipnya merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan menuju ke arah yang lebih baik, yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional seperti yang termaktub di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Untuk mencapai tujuan nasional tersebut, utamanya mencerdaskan kehidupan bangsa, merupakan tugas dan kewajiban semua tenaga kependidikan yang tidak ringan dan perlu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Tugas dan kewajiban tersebut terkait dengan upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Dengan tugas dan tanggungjawab tersebut guru memegang peranan penting dan strategis. Oleh karena itu usaha peningkatan kualitas professional guru selalu diupayakan oleh pemerintah melalui berbagai cara. Namun demikian diakui pula bahwa peningkatan kualitas pendidikan di sekolah tidak hanya tergantung dari guru saja, tetapi juga faktor lain, dalam hal ini termasuk sistem pembinaan professional guru.

Dalam lembaga pendidikan formal proses reproduksi sistem nilai dan budaya ini dilakukan terutama dengan mediasi proses belajar mengajar sejumlah mata pelajaran di kelas. Sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan, agar yang dilakukan guru dan siswa dapat terarah, dan untuk mencapai Kompetensi Dasar maka guru bekewajiban menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran secara lengkap dan sistematis. Namun yang terjadi di lapangan masih banyak guru yang belum menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan baik, seperti yang terjadi di SDN Jetak 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang.

Selain kurangnya minat dan kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, mungkin juga disebabkan minimnya bimbingan dan pembinaan. Kepala Sekolah memegang peranan penting dan strategis dalam usaha peningkatan kualitas profesional guru dan tercapainya tujuan pembelajaran.

Pendidik merupakan tenaga profesional harus mau dan mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan baik dan sistematis, yang memuat tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar sehingga kompetensi dasar dapat tercapai.

Guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah, merupakan tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, pelayanan, bimbingan teknis dan pelatihan untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan yang dipimpinnya (UU RI Nomor 20 tahun 2003 Bab XI pasal 39 ).

Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan strategis dalam kegiatan pendidikan, karena menentukan pelaksanaan dan hasil dari pendidikan. Beberapa ahli menyatakan bahwa betapapun bagusnya kurikulum, pelaksanaannya tergantung pada apa yang dilakukan guru. Implementasi kurikulum sepenuhnya tergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, sikap dan ketekunan guru. Karena itu secara operasional guru harus mampu menjabarkan isi kurikulum kedalam program-programnya secara lebih operasional dalam bentuk program tahun, program semester, rencana mingguan, bahkan harian dengan mengadakan persiapan mengajar sebelum melakukan proses belajar. Hal tersebut juga harus didukung oleh kompetensi manajemen kepala sekolah yaitu kemampuan seorang kepala sekolah untuk mengelola, membimbing, membina dan mengarahkan para guru agar dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik.

Konsep manajemen aktivitas kepala sekolah harus mampu melaksanakan berbagai kegiatan sekolah secara terencana dan terorganisasi dengan baik. Tidak hanya sebagai penyalur informasi, tetapi harus diikuti dengan berbagai pembinaan akademik baik secara klasikal maupun individul agar para guru dapat meningkatkan minat, kreativitas, kecakapan dan ketekunan.

Rumusan Masalah

Berdasar latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah penelitian tindakan sekolah yaitu :

  1. Apakah melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, bagi guru SDN Jetak 01 Kecamatan Getasan pada semester II tahun pelajaran 2017/2018?
  2. Apakah melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, bagi guru SDN Jetak 01 Kecamatan Getasan pada semester II tahun pelajaran 2017/2018?
  3. Apakah melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan minat dan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, bagi guru SDN Jetak 01 Kecamatan Getasan pada semester II tahun pelajaran 2017/2018?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian tindakan sekolah yang terdapat dalam rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan :

Tujuan Umum

  1. Untuk meningkatkan minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SD di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang
  2. Untuk meningkatkan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SD di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang
  3. Untuk meningkatkan minat dan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SD di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang

 

 

 

Tujuan Khusus

  1. Melalui pembinan akademik dapat meningkatkan minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SDN Jetak 01 Kecamatan Getasan Kabupaten semarang semester II tahun pelajaran 2017/2018.
  2. Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SDN Jetak 01 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang semester II tahun pelajaran 2017/2018.
  3. Melalui pembinan akademik dapat meningkatkan minat dan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SDN Jetak 01 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang semester II tahun pelajaran 2017/2018.

Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian tindakan sekolah ini diharapkan bermanfaat :

Bagi Guru

  1. Dapat meningkatkan minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
  2. Dapat meningkatkan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
  3. Dapat meningkatkan minat dan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.

Bagi Peneliti

  1. Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan minat peneliti untuk melakukan pembinaan terhadap guru.
  2. Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan kemampuan peneliti untuk melakukan pembinaan terhadap guru.
  3. Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan minat dan kemampuan peneliti untuk melakukan pembinaan terhadap guru.

Bagi Teman Sejawat

Meningkatkan kualitas sistem pembinaan profesional, penataran, pelatihan secara bertahap dan berkelanjutan melalui kegiatan kelompok kerja guru (KKG) maupun kelompok kerja kepala sekolah.

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

Hakekat Minat

Minat atau interest merupakan sesuatu kekuatan motivasi yang menyebabkan seseorang memusatkan perhatian terhadap seseorang, sesuatu benda ataupun kegiatan tertentu. Minat mempuyai hubungan yang sangat erat dengan sikap, kedua-duanya merupakan tenaga pendorong bagi perbuatan seseorang. Sikap dan minat lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan, keduanya bersifat pribadi dan dikembangkan sejak masa kanak-kanak. Dalam pendidikan di sekolah,sikap dan minat sangat memegang peranan penting dalam belajar, karena banyak mendasari motif bagi guru maupun siswa terhadap pelajaran atau jurusan serta sekolah yang mereka ikuti. ( Moh. Surya, 1997)

Bahwa minat mempengaruhi proses dan hasil belajar, tak usah dipertanyakan. Kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu tidak dapat diharapkan bahwa dia akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut ; sebaliknya, kalu seseorng melakukan sesuatu dengan penuh minat, maka akan diharapkan bahwa hasilnya akan lebih baik. Karena itu persoalan yang biasa timbul ialah bagaimana mengusahakan agar hal yang disajikan sebagai pengalaman belajar itu menarik minat para pelajar, atau bagaimana caranya menentukan agar para pelajar itu belajar mengenai hal-hal yang menarik minat mereka. Dalam hubungan yang terakhir ini misalnya, dapat diketengahkan perlunya pilihan jurusan, atau mata pelajaran pada lembaga-lembaga pendidikan formal. Sebaliknya jurusan atau mata pelajaran yang dipilih benar-benar sesuai dengan minat belajar, karena dengan demikian dapat diharapkan hasil belajar yang lebih baik. ( Noehi Nasution, 1997)

Hakekat Kemampuan

Menurut Gagne dalam Noehi Nasution (1997) kemampuan adalah kondisi fisiologis dan kondisi psikologis yang sangat berpengaruh terhadap tercapainya tujuan-tujuan yang telah direncanakan. Kondisi fisiologis guru dan siswa sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya, akan berlainan aktivitasnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya lebih rendah dibawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi, mereka lekas lelah, mudah mengantuk dan sukar menerima pelajaran. Demikian juga seorang guru yang keadaan jasmaninya sehat, mampu melaksanakan rangkaian proses, pelaksanaan pembelajaran dengan baik dari pada seorang guru yang kesehatannya terganggu.

Disamping keadaan fisiologis umum itu, hal yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indera , terutama penglihatan dan pendengaran. Sebagian besar yang dilakukan guru dan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung dengan membaca, melihat, melakukan, mengamati, mendengarkan dan sebagainya. Semua keadaan dan fungsi psikologis tentu berpengaruh terhadap proses belajar yang bersifat psikologis itu. Pembinaan Akademik

Hakekat Pembinaan Akademik

Pembinaan Akademik adalah upaya kepala sekolah untuk memberikan informasi, petunjuk serta bimbingan kepada guru agar terhindar dari penyimpangan, kesulitan, atau kegagalan dalam melaksanakan tugas. Fungsi ini berlaku sepanjang proses perencanaan, pelaksanaan program sampai pada pelaksanaan evaluasi. Pelaksanaan fungsi ini dapat berupa kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

(1) Memberikan penjelasan atau petunjuk tentang tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh guru,

(2) Memberikan penjelasan atau petunjuk secara garis besar tentang cara-cara melaksanakan tugas atau kegiatan yang harus dilaksanakan oleh setiap guru,

(3) Memberikan gambaran yang jelas tentang cara-cara kerja yang dapat menghindarkan guru dari penyimpangan-penyimpangan, kesulitan, dan kegagalan,

(4) Membangkitkan dan membina rasa tanggungjawab moral pada diri setiap guru atas keberhasilan pekerjaan, tugas, dan kegiatan yang harus dilaksanakannya,

(5) Memberikan perhatian, peringatan serta bimbingan pada saat-saat tertentu terutama ketika guru yang bersangkutan sedang menjalani kesulitan atau masalah dalam pelaksanaan tugasnya.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Waktu Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini dilakukan selama empat bulan yaitu pada bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2017. Pada bulan pertama peneliti melakukan persiapan menyusun proposal dan menyusun instrumen penelitian. Bulan kedua digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dengan cara melakukan pembinaan akademik siklus I yaitu pembinaan secara klasikal. Sedangkan pembinaan akademik secara individual (siklus II ) dilaksanakan pada bulan ketiga. Analisa data hasil tindakan siklus I dan tindakan siklus II dilakukan oleh peneliti pada bulan keempat. Dan pada bulan ke empat pula peneliti melakukan pembahasan atau diskusi hasil tindakan pembinaan serta digunakan untuk menyusun laporan hasil penelitian.

Penelitian tindakan sekolah ini dilakukan pada semester dua dikandung maksud untuk melihat sejauh mana para guru mempersiapkan dirinya menghadapi kurikulum 2013 untuk bisa memulai pekerjaannya , karena mungkin banyak terjadi pergantian kelas berbeda dengan tugas tahun sebelumnya. Demikian juga bagi peneliti dapat digunakan acuan untuk menentukan program-program sekolah yang ada kaitannya dengan kegiatan pembelajaran sejak tahap persiapan sampai tahap akhir.

Tempat penelitian

Lokasi tempat penulis melaksanakan penelitian adalah Sekolah Dasar Negeri Jetak 01 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang beralamat di Dusun Setugur Desa Jetak Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian karena peneliti merupakan guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah di SDN Jetak 01 sejak 23 Desember 2013.

Subyek Tindakan

Subyek tindakan dalam penelitian ini adalah guru pada SDN Jetak 01 yang berjumlah 6 orang guru kelas. Latar belakang pendidikan dari subyek penelitian ini adalah 6 orang berpendidikan Strata 1. Menurut tingkat kepangkatan dari subyek penelitian ini 3 guru golongan IV dan 2 orang guru golongan III dan 1 guru wiyata bakti.

Indikator Kinerja

Penelitian tindakan sekolah ini merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat sistematik reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan – tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana pembinaan tersebut dilakukan.

Adapun kondisi akhir atau target yang diharapkan setelah dilakukan penelitian ini adalah :

1) meningkatnya minat menyusun rencana pelaksanan pembelajaran, ditandai dengan selalu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar.

2) meningkatnya kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, ditandai dengan mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, kondisi lingkungan peserta didik, serta ketersedianya sumber dan media pembelajaran.

Data dan Cara Pengumpulan Data

Data

Sumber data dari penelitian tindakan sekolah ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer diperoleh dari subyek penelitian yaitu guru kelas SDN Jetak 01 yang berjumlah 6 orang. Sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari data hasil pengamatan teman sejawat dalam satu sekolah maupun dalam satu gugus sekolah.

Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian tindakan sekolah ini menggunakan beberapa teknik diantaranya :

  1. a) Teknik dokumentasi yang digunakan untuk mengumpulkan data kondisi awal tentang minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan juga digunakan untuk mengumpulkan data kondisi awal kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
  2. b) Teknik observasi atau pengamatan yang digunakan untuk mengumpulkan data minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan siklus II.
  3. c) Teknik test tertulis dan test perbuatan yang digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan pada siklus II.

Alat Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini terdiri dari

  1. Dokumentasi yang digunakan untuk mengumpulkan data personal guru tentang minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada kondisi awal.
  2. Dokumentasi yang digunakan untuk mengumpulkan data personal guru tentang kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada kondisi awal.
  3. Lembar pengamatan yang digunakan untuk mengetahui minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus I
  4. Butir soal test yang digunakan untuk mengetahui kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus I
  5. Lembar pengamatan yang digunakan untuk mengetahui minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus II.
  6. Butir soal test yang digunakan untuk mengetahui kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus II.

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Dari data tersebut diambil kesimpulan sebagai berikut : Dari 6 guru yang dijadikan obyek penelitian, 4 guru dalam kondisi kurang mampu, sedangkan 2 guru dalam kondisi mampu pada rentang bawah atau 66 % guru kurang mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, sedangkan 34 % guru mampu, sehingga sangat perlu dilakukan pembinaan akademik agar kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran meningkat

Deskripsi Siklus I

Dari 6 orang guru yang telah mendapatkan tindakan pada siklus I, 2 orang guru ( 33 % ) terjadi peningkatan skor yang diperoleh yaitu sama masing-masing 2 skor atau sama masing-masing 7 %, 3 orang guru ( 50 % ) meningkat sama masing-masing 1 skor atau 4 %, sedangkan seorang guru ( 17 % ) tidak terjadi peningkatan skor atau tetap nilainya seperti pada kondisi awal. Apabila kita lihat pada rentang aspek kemampuan, 4 orang guru yang pada posisi awal kurang mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, hanya seorang guru yang meningkat posisi menjadi mampu, berarti pada akhir siklus I, 3 orang guru ( 50 % ) masih tetap berada pada kondisi kurang mampu tetapi pada rentang nilai atas, sedangkan 3 orang guru ( 50 % ) pada kondisi mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran hanya pada rentang nilai bawah.

Selain dari penjelasan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1). Kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada kondisi awal nilai terendahnya adalah 18, setelah dilakukan pembinaan akademik pada siklus I terjadi peningkatan, nilai terendahnya menjadi 20. 2). Kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada kondisi awal nilai tertingginya adalah 23, setelah dilakukan pembinaan akademik pada siklus I terjadi peningkatan, nilai tertingginya menjadi 24.3). Kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada kondisi awal rata-ratanya adalah 21, setelah dilakukan pembinaan akademik pada siklus I terjadi peningkatan, nilai rata-ratanya menjadi 22.

Deskripsi Siklus II

Dari 6 orang guru yang telah mendapatkan tindakan pada siklus II, 3 orang ( 50 % ) guru terjadi peningkatan skor yang diperoleh 3 atau ( 10 % ), sedangkan 3 orang ( 50 % ) guru yang lain meningkat 4 skor atau 12 %. Apabila kita lihat pada rentang aspek kemampuan, seorang guru posisi mampu rentang bawah, 2 orang guru pada rentang sedang dan 3 orang guru berada pada rentang atas mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran,

Hasil Tindakan

Hasil penelitian tindakan sekolah yang dilakukan melalui pembinaan akademik memiliki dampak positif dalam meningkatkan minat dan kemampuan guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Dengan dilakukan revisi setiap siklus didapat prestasi yang lebih baik dari siklus sebelumnya. Adapun peningkatan / perbandingan hasil pembinaan terhadap guru dari siklus I dan siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut :

Perbandingan minat menyusun rencana pelaksanaan pembesslajaran.

No Keterangan Siklus Awal Siklus I Siklus II
1 Rata-rata skor 9,2 11 13
2 Rata-rata aspek Rendah Sedang Sedang rentang tinggi

 

Dari tabel 14 tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa : Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan minat guru menyususn rencana pelaksanaan pembelajaran yang pada kondisi awal rata-rata skor 9,2 atau aspek minat rendah, di akhir siklus I rata-rata skor 11 atau aspek minat sedang rentang bawah sedangkan di akhir siklus II rata-rata skor menjadi 13 atau aspek minat sedang pada rentang tinggi.

Perbandingan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.

No Keterangan Siklus Awal Siklus I Siklus II
1 Rata-rata skor 20,8 22 25,5
2 Rata-rata aspek Kurang mampu Mampu rentang bawah Mampu rentang tinggi

 

Dari tabel 15 tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa : Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan kemampuan guru menyususn rencana pelaksanaan pembelajaran yang pada kondisi awal rata-rata skor 20,8 atau aspek kurang mampu, di akhir siklus I rata-rata skor 22 atau aspek mampu rentang bawah sedangkan di akhir siklus II rata-rata skor menjadi 25,5 atau aspek mampu pada rentang tinggi.

Dari penjelasan tabel 14 dan tabel 15 dapat diambil kesimpulan bahwa, melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan minat dan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.

PENUTUP

Simpulan

  1. Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SDN Jetak 01.
  2. Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SDN Jetak 01.
  3. Melalui pembinaan akademik dapat meningkatkan minat dan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran bagi guru SDN Jetak 01.

Tindak Lanjut

Berdasarkan hasil penelitian tindakan sekolah dan temuan di lapangan mengenai pembinaan akademik pada penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran terhadap guru yang dilakukan pada siklus I maupun siklus II, tindak lanjut dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Peneliti selaku kepala sekolah harus meningkatkan minat untuk melakukan pembinaan akademik terhadap guru.
  2. Peneliti selaku kepala sekolah harus meningkatkan kemampuan untuk melakukan pembinaan akademik terhadap guru.
  3. Peneliti selaku kepala sekolah harus meningkatkan sistem dan kualitas dalam pelaksanaan pembinaan akademik terhadap guru.
  4. Peneliti selaku kepala sekolah harus meningkatkan kerjasama, koordinasi dengan teman sejawat dalam upaya peningkatan pembinaan akademik terhadap guru.
  5. Pembinaan akademik terhadap guru harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Saran-saran

Bagi Guru

  1. Agar meningkatkan minat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
  2. Agar meningkatkan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
  3. Agar meningkatkan minat dan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
  4. Agar selalu mengikuti semua pembinaan akademik, demi peningkatan berbagai kompetensi guru.

Bagi Kepala Sekolah

Agar meningkatkan kualitas sistem pembinaan profesional, penataran, pelatihan secara bertahap dan berkelanjutan melalui kegiatan kelompok kerja guru (KKG) maupun kelompok kerja kepala sekolah (KKKS)

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Pedoman Pengelolaan Sekolah di Sekolah Dasar.Jakarta : Balai Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996. Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta : Balai Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Semarang : Media Wiyata.

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Pedoman Tematik Kelas Rendah. Semarang : Departemen Pendidikan Nasional.

Moh. Surya, 1997. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : Universitas Terbuka.

Noehi Nasution, 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Universitas Terbuka.

Rohman Nata Widjaja, 1997. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : Universitas Terbuka.