Peningkatan Motivasi Belajar Dengan Menggunakan Alat Peraga BOSIHMA
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA BOSIHMA
PADA MATERI CINTA PADA SESAMA UNTUK SISWA KELAS IV
SD KATOLIK SANTA MARIA I KOTA MADIUN SEMESTER GENAP
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Yustina Suharsri
SDN 03 Madiun Lor
SDK Santa Maria I
ABSTRACT
The usage of right props is very helpful for a teacher when he or she explain the material in order to make the students easy to receive the material. By teacher creativity in making the props of teaching can make the material become fun and educative, because the students have already motivated by watching the props that is prepared by teacher. Furthermore, the case can increase students successful. So, the understanding of best teaches property is necessary to be done. One of the best props is BOSIHMA (boneka mengasihi sesama) .the purpose of BOSIHMA is refers to the explanation before that is to increase the students motivation in the fourth grade students in SDK Santa Maria I Kota Madiun. The research of the studying motivation in catholic religion education with BOSIHMA in the material “cinta sesama” for the fourth grade students in SDK Santa Maria I Kota Madiun in second semester 2019/2020 is done in the two steps teaching. Each step consists of four stages, those are: planning, acting, observing, and reflecting. The indicator that is set if the students reach the minimal score 80 (active) ,enjoy the education and minimum 85% from the number of students in the fourth grade the competence reach or goes beyond the standard score that is 75, it has been already said successfull act. The acpect that becomes the parameter for the students study motivation are the motivation for success in the study,encouragement and studying needs, the proggres that is interesting in the studying prossess,independence when does the duty. By analysing is gotten a result that is the increasing of students study score from the step I to the step II. Students give positif respon to the education process. The research shows that BOSIHMA education props reach the result of studying with sussess prosentase from 68% in the step I become 91% in step II. In conclusion BOSIHMA education props can increase study motivation in the fourth grade SDK Santa Maria I kota Madiun 2019/2020 with the material Cinta kepada sesama.in addition hopefully it can be more creative in the development of this method to increase the student competence and the activity of chatolic religion education.
Key word: motivasi belajar, alat peraga BOSIHMA, pendidikan agama Katolik
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pendidikan agama Katolik bertujuan untuk peningkatan potensi spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
Tugas guru dalam mendidik dan membimbing siswanya diperlukan kemampuan yang baik untuk menanamkan setiap materi pembelajaran, sehingga siswa dapat menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu seorang guru harus menggunakan berbagai cara, metode, media, alat peraga yang bervariasi, sesuai dengan materi dan tujuan yang hendak dicapai.
Penulis mengadakan wawancara dengan beberapa peserta didik kelas IV dalam pembelajaran Agama Katolik. Dari hasil wawancara tersebut pemahaman peserta didik terhadap cinta terhadap sesama cukup rendah. Dari wawancara peserta didik kelas IV, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa peserta didik belum memiliki pemahaman yang benar tentang cinta terhadap sesama.
Penulis melakukan analisis dan refleksi awal melalui ulangan harian bahwa hasil pemahaman peserta didik tentang cinta kepada sesama yang yang ditulis dalam Kitab Suci (Injil Lukas 10: 25-37) tentang orang Samaria yang murah hati. Dalam memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya sangat rendah, masih dibawah batas minimal nilai yang harus dicapai, jika menggunakan metode ceramah secara konvensional tanpa adanya alat peraga yang tepat.
Berdasarkan hasil koreksi ulangan harian, nilai peserta didik kelas IV yang beragama Katolik diketahui tingkat keberhasilan dari hasil observasi hanya 68%, yang berarti kurang dari prosentase indikator keberhasilan. Dari data tersebut, peserta didik yang tergolong aktif ada 4 orang atau 36%, tergolong cukup 1 orang atau 9%, dan yang tergolong kurang ada 6 orang atau 55%. Selain itu diperoleh peserta didik yang menunjukkan keinginan untuk berhasil dalam belajar 82%, dorongan dan kebutuhan belajar 68%, kegiatan yang menarik dalam belajar 61%, dan kemandirian mengerjakan tugas 59%.
Disamping nilai kognitif tersebut kurang menggembirakan ternyata nilai sikap juga tergolong kurang memuaskan yaitu nilai terendah C yang berjumlah 8 peserta didik, nilai B berjumlah 3 peserta didik. Sedangkan nilai aspek ketrampilan juga kurang memuaskan yaitu nilai terendah 73, diconversi 2,67, predikat B; nilai tertinggi 77 dikonversi 3,00 predikat B dan rata- rata klasikal 68, dikonversi 3,00 predikat B, sedangkan ketentuan nilai minimal aspek ketrapilan > 76.
Faktor yang menjadi kendala rendahnya beberhasilan peserta didik dalam pembelajaran materi cinta terhadap sesama (Injil Lukas 10: 25-37) orang Samaria yang murah hati, dikategorikan dalam 2 hal yakni faktor dari luar peserta didik yakni dari guru sepertinya kurangnya kemampuan dalam menggunakan alat peraga yang tepat; 2) faktor dalam diri peserta didik sepertinya kurangnya pemahaman peserta didik tentang materi Cinta Terhadap Sesama (Lukas 10: 25-37).
Pembelajaran merupakan aktivitas peserta didik yang dirancang pada peserta guna menanamkan / menyampaikan materi ajar. Pembelajaran itu sendiri pada dasarnya upaya pendidik membantu dan menfasilitasi peserta didik dalam melakukan aktifitas belajar baik di kelas maupun diluar kelas. Untuk itu pendidik perlu memahami tujuan pembelajaran yakni mewujutkan efisien dan efektifitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik.(Isjoni, 2007:11).
Dalam proses belajar mengajar guru dituntut mampu memilih dan menggunakan metode mengajar dan memilih media yang sesuai dengan kondisi materi, peserta didik dan waktu yang tersedia. Alat peraga BOSIHMA merupakan alat pembelajaran yang tepat sesuai kondisi manusia sebagai makhluk sosial yakni makhluk yang membutuhkan sesama. Manusia sebagai makhluk sosial memiliki ketergantungan dengan orang lain, adanya rasa senasip, melalui penggunaan alat peraga ini peserta didik dibimbing untuk saling berbagi pengetahuan pengalaman tugas dan tanggung jawab.
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan, serta dapat merangsang pikiran perasaan perhatian, dan kemampuan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja bertujuan, dan terkendali. Rusman(2013: 160).
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dengan menggunakan alat peraga BOSIHMA pada materi Cinta Kepada Sesama ini adalah:
- Untuk meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Agama Katolik pada materi Cinta Kepada Sesama, kelas IV Semester Genap Tahun Pelajaran 2018/2019 di SDK Santa Maria I kota Madiun.”
- Untuk mengetahui efektivitas penggunaan alat peraga BOSIHMA dalam upaya meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Agama Katolik pada materi Cinta Kepada Sesama, kelas IV Semester Genap Tahun Pelajaran 2018/2019 di SDK Santa Maria I kota Madiun.
Kajian Teori
Motivasi Belajar
Motivasi Belajar adalah Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2001:28).
Alat Peraga
Alat peraga merupakan salah satu dari media pendidikan yaitu alat untuk membantu proses belajar mengajar agar proses komunikasi dapat berhasil dengan baik dan efektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Amir Hamzah (1981:11) bahwa “Media pendidikan adalah alat-alat yang dapat dilihat dan didengar untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif”. Sedangkan yang dimaksud alat peraga menurut Nasution (1985:100) “alat peraga adalah alat pembantu dalam mengajar agar efektif”.
BOSIHMA
Bosihma merupakan alat peraga yang berwujud boneka yang isi ceritanya tentang mengasihi sesama.
BO diambil dari kata depan Boneka yang menggambarkan sosok manusia yang memilik bentuk tubuh dan menggambarkan karakter yang berbeda beda. SIH yang diambil dari kata kasih berarti contoh-contoh bentuk perbuatan yang mengasihi. MA diambil dari suku kata akhir dari kata Sesama, adalah semua orang yang dikasihi tanpa memandang suku agama dan antar golongan. Dengan harapan dari karakter yang dimiliki boneka yang baik, anak bisa mencontoh untuk melakukan perbuatan yang baik dan menanamkan karakter mengasihi / mencintai sesama dimanapun berada.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan sebuah alat peraga yang dinamakan ‘BOSIHMA’ (Boneka Mengasihi Sesama). Alat peraga ini dibuat untuk membantu menyampaikan materi tentang Mengasihi sesama bagi siswa kelas IV Semester Genap.
Dengan alat peraga BOSIHMA ini, diharapkan siswa dapat termotivasi dalam mengikuti pembelajaran karena ada aktivitas yang menarik, yaitu siswa dengan mudah bisa menceritakan sosok boneka yang memiliki karakter yang yang harus diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu siswa tidak jenuh sebagai pendengar saja atau hanya disibukkan dengan tugas tertulis saja. Dengan alat peraga BOSIHMA dapat membantu siswa memahami materi dan memahami karakter manusia yang hendak hendak ditanamkan dapat tercapai.
Pendidikan Agama Katolik
Pendidikan berasal dari dua kata latin ‘educates’ dengan isti-lah educare atau educere. Yang berarti “merawat” dan” melengkapi” dan juga “membimbing keluar”. Berdasarkan pengertian ini dapat di artikan bahwa pendidikan adalah sebagai upaya sadar dan sengaja untuk memperlengkapi seorang atau sekelompok orang untuk membimbingnya keluar dari suatu tahapan (keadaan) hidup kesuatu tahapan lainnya yang lebih baik.
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan maupun masyarakat.
Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Menurut E.G. Homrighousen, Pendidikan Agama Katolik (PAK) adalah usaha sadar gereja dalam mendidik anak didiknya dalam rangka pewarisan iman Katolik dengan segala kebenarannya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Alkitab dan melatih mereka untuk hidup harmonis sesuai dengan iman Katolik, supaya mereka dapat menjadi anggota gereja yang dewasa yang menyadari dan meyakini imannya dan menyatakannya dalam praktek kehidupan sehari-hari terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.
Dari penjelasan atau pendapat para tokoh tentang pengertian Pendidikan Agama Katolik, maka penulis menyimpulkan bahwa Pendidikan Agama Katolik adalah proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan Alkitab, berpusatkan Kristus dan bergantung pada kuasa Roh Kudus.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Katolik bukanlah “standar moral” Katolik yang ditetapkan untuk mengikat peserta didik, melainkan pendampingan dan bimbingan bagi peserta didik dalam melakukan perjumpaan dengan Tuhan Allah untuk mengekspresikan hasil perjumpaan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta didik belajar memahami, mengenal dan bergaul dengan Tuhan Allah secara akrab karena seungguhnya Tuhan Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka. Dia adalah Sahabat dalam Kehidupan Anak-anak.
Pendidikan Agama Katolik harus hadir dinamis, inovatif, kreatif serta semangat dalam memberikan harapan-harapan baru dalam kehidupan, berdasarkan dinamika Roh dan Firman Allah. Pendidikan Agama Katolik juga dapat membantu dalam peningkatan kualitas manusia, khususnya dalam bidang ketaqwaan dan iman terhadap Tuhan yang Maha Esa. Untuk itu, Pendidikan Agama Katolik dituntut untuk mengembangkan pendekatan menyeluruh, dalam memperlengkapi manusia sebagai pribadi-pribadi dalam mengembangkan keutuhannya.
Pendidikan Agama Katolik harus dipahami sebagai “pendidikan” artinya bahwa Pendidikan Agama Katolik merupakan usaha sadar untuk membimbing dan memperlengkapi individu dan kelompok menuju kearah kedewasaan, khususnya dalam cara berpikir, sikap, iman dan perilaku. Jadi Pendidikan Agama Katolik harus selalu mengupayakan pelayanan yang terbaik.
Pendidikan Agama Katolik harus dilaksanakan sampai peserta didik memiliki pengetahuan dan pemahaman kebenaran tentang Anak Allah yang benar dan sehat. Melalui perencanaan dan proses pembelajaran yang sistematis hal ini akan terwujud. Selain itu mengalami kedewasaan penuh yang dibuktikan dalam perubahan tingkah laku setiap hari, bersikap dewasa, kuat, dalam menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya, sesuai dengan kasih karunia yang dianugrahkan oleh Tuhan Yesus.
Proses pengenalan akan Allah ini akan membawa peserta didik menuju kepada pertumbuhan kerohanian yang dinamis. Hasilnya adalah peserta didik menjadi pribadi yang kuat dan memiliki keteguhan iman sehingga tidak mudah di ombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran. Setiap peserta didik diharapkan memiliki kekuatan sikap dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi dunia dengan berbagai pencobaan dan tantangannya.
Fokus Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar berpusat pada kehidupan manusia (life centered). Artinya, pembahasan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar didasarkan pada kehidupan manusia, dan iman Katolik berfungsi sebagai cahaya yang menerangi tiap sudut kehidupan manusia. Pembahasan materi sebagai wahana untuk mencapai kompetensi, dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu manusia sebagai ciptaan Allah, selanjutnya keluarga, teman, lingkungan di sekitar peserta didik, setelah itu barulah dunia secara keseluruhan dengan berbagai dinamikanya.
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Santa Maria I Madiun tepatnya kelas IV alasan pemilihan lokasi karena merupakan sekolah tempat peneliti mengajar, selain di sekolah induk sehingga peneliti cukup mengetahui karakteristis peserta didik yang ada di SDK Santa Maria I Madiun.
Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan secara bertahap sejak analisa awal sehingga penyelesaian penulisan laporan dimulai bulan Februari sampai dengan bulan Mei tahun 2019.
Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek peneliti ini adalah peserta didik kelas IV SDK Santa Maria I Madiun tahun pelajaran 2018/2019, dengan jumlah siswa 11 peserta didik, dengan obyek penelitian pemahaman Cinta Kepada Sesama dan hasil belajar peserta didik.
Prosedur Penelitian
Menurut Suharmini Arikuto (2010: 16) dalam pelaksanaan PTK ini mekanisme kerjanya diwujudkan dalam bentuk siklus yang tercakup empat kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode pengambilan data yang digunakan adalah sebagai berikut. (1) metode dokumentasi, Arikunto (202: 231) mengemukakan bahwa metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau fariabael yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya. (2) Metode Observasi, Arikunto (202: 230) mengemukakan bahwa observasi atau disebut pula pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Observasi merupakan teknik pengumpulan data melalui pengamatan yang disertai dengan pencatatan terhadap kejadian atau perilaku obyek sasaran. (3) Wawancara, Moleong (206: 135) mengatakan wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (Face to face) maupun menggunakan telepun (Sugiyono, 206: 157). Dalam wawancara, peneliti mengumpulkan bukti tingkat pemahaman materi Cinta Kepada Sasama. (4) Metode Tes. Metode ini digunakan untuk mengetahui dan mengumpulkan data mengenai sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Tes yang digunakan adalah tes tertulis yaitu tes yang dilakukan secara tertulis baik pertanyaan maupun jawabanya. Dalam penelitian ini penulis menilai proses belajar mengajar pada kelas IV SDK Santa Maria I Madiun. Dengan menggunakan tes formatif, wawancara.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Deskripsi Hasil Siklus I
Berdasarkan hasil observasi terhadap peserta didik yaitu pada tabel diperoleh tingkat keberhasilan hasil observasi hanya 68%, yang berarti kurang dari prosentase indikator keberhasilan. Dari data tersebut, peserta didik yang tergolong aktif ada 4 orang atau 36%, tergolong cukup 1 orang atau 9%, dan yang tergolong kurang ada 6 orang atau 55%. Selain itu diperoleh peserta didik yang menunjukkan keinginan untuk berhasil dalam belajar 82%, dorongan dan kebutuhan belajar 68%, kegiatan yang menarik dalam belajar 61%, dan kemandirian mengerjakan tugas 59%.
Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I
| No | Uraian | Hasil Siklus I |
| 1 | Nilai rata rata tes formatif | 72 |
| 2 | Jumlah siswa yang tuntas belajar | 5 |
| 3 | Presentase ketuntasan belajar | 68% |
Deskripsi hasil Siklus II
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: (1) Memotivasi siswa, (2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan dan merumuskan konsep tentang memahami dan menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang saling membutuhkan sesama,(3)Pengelolaan waktu.
Pelaksanaan kegiatan belajar dalam siklus I ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus II antara lain: (1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung, (2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya, (3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan / menemukan konsep, (4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, (5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak soal soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar.
Rekapitulasi Hasil Tes Formatis Siswa pada Siklus II
| NO | Uraian | Hasil Siklus II |
| 1 | Nilai rata-rata tes Formatif | 85 |
| 2 | Jumlah siswa yang sudah tuntas | 10 |
| 3 | Presentase ketuntasan belajar | 91% |
Pembahasan
Melalui penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan media pembelajaran BOSIHMA memiliki dampak positif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantabnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru. Ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, ke siklus II, yaitu masing-masing 68,00%, ke 91,00%, pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.
Hal ini dapat diketahi pada siklus II penerapan melalui alat peraga BOSIHMA diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 85 dan ketuntasan 91,00.% ada 10 siswa dari 11 siswa sudah tuntas belajar.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena yang memperoleh nilai > 65 hanya sebesar 68,00%. Dan pada siklus II diperoleh rata- rata prestasi belajar siswa 85 dan ketuntasan siswa 91,00% dan dari 11 siswa yang telah tuntas sebanyak 10 dan 1 siswa dinyatakan belum mencapai ketuntasan belajar.
Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai. sebesar 91,00% (termasuk kategori tuntas). Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II ini mengalami peningkatan lebih baik, dari pada siklus I, Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II ini, berdasarkan analisa data diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan penggunaan alat peraga BOSIHMA siklus ke II meningkat.
Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata rata siswa pada siklus II yang meningkat. Proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dengan menerapkan alat peraga BOSIHMA yang paling dominan adalah bekerja dengan sesama siswa, mendengar/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktifitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktifitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah penerapan melalui penggunaan alat peraga BOSIHMA dengan baik. Hal ini terlihat dari aktifitas guru yang muncul diantaranya aktifitas membimbingdan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran, menjelaskan, memberiumpan balik/ evaluasi/ tanya jawab dimana prosentase untuk sktivitas diatas cukup besar.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil kegiatan pembelajar yang di yang telah dilakukan selama dua siklus dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:(1) Pembelajaran dengan penerapan melalui penggunaan alat peraga BOSIHMA memiliki dampak positif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditandai dengan meningkatnya ketuntasan belajar dalam setiap siklus I (68,00%,) Siklus II (91,00%) (2) Penerapan penggunaan alat peraga BOSIHMA mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan penggunaan alat peraga BOSIHMA sehingga mereka termotivasi untuk belajar.(3) Penerapan penggunaan alat peraga BOSIHMA untuk meningkatkan motivasi belajar pada materi Cinta Pada Sesama pada pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. (4) Hal ini dapat diketahui pada siklus I diterangkan dengan tidak menggunakan alat peraga diperoleh prestasi siswa adalah 72, dan ketuntasan 68% atau 5 siswa dari 11 siswa sudah tuntas belajar, Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai > 65 hanya sebesar 68,00%. Dan pada siklus II diperoleh rata rata prestasi belajar siswa adalah 85 dan ketuntasan belajar mencapai 91%, atau 10 siswa dari11 siswa sudah tuntas belajar.
Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 91% termasuk kategori tuntas.Hasil pada siklus II mengalami peningkatan lebih baik. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II ini. Berdasarkan analisis data, diperoleh aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan penggunaan alat peraga BOSIHMA pada siklus ke II mengalami peningkatan.Hal ini berdampak positif terhadapprestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa.
Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dariuraian sebelumnya agar prose belajar mengajar pada MateriCinta Kepada Sesama Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti lebih efektif, dan lebih memberi hasil yang obtimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut: ((1) Untuk menerapkan penggunaan alat peraga BOSIHMA memerlukan persiapan yang cukup matang sehingga guru harus mampu menetukan dan memlih topik yang benar bisa diterapkan dengan menggunakan alat peraga BOSIMA sehingga proses belajar dapat memperoleh hasil yang optimal. (2) Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaklah lebih sering melatih siswa dengan berbagai alat peraga yang berbeda, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswaa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru memperoleh konsep dan ketrampilan sehingga siswaberhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. (3) Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut karena hasil penelitian ini hanya dilakukan kelas IV semester Genap di SDK Santa Maria I kota Madiun pada Tahun Ajaran 2018/2019. (4) Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik. (5) Dirasa oleh para siswa pembelajaran Pendidikan Agama Katolik itu sulit, maka guru selalu mengembangkan diri dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran dikelas.
DAFTAR PUSTAKA
Usman, Uzer, Menjadi Guru Profesional, Jakarta: Remaja Rosdakarya
Rusman, Metode-Metode Pembelajaran: Pengembangan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Bahri, Djamarah, Syaiful, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2012
Darsono, M. Belajar dan Pembelajaran, Semarang: IKIP Semarang Press, 2000.
Soemanto, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Arikunto, Suharsini, dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
Arikunto, Suharsini, Penilaian Program Pendidikan. Proyek Pengembangan LPTK Depdikbud.Dirjen Dikti.
Sugiyono: Memahami Penelitian Kwantitatif, Bandung Alpabeto 2006
Nasution, Didaktik Asas-asas Mengajar, Jakarta: PT. Bumi Aksara, Cet. Ke-2, 2000
Sumatiningsih Dien, Mengajar dengan Kretif dan Menarik, Yogyakarta: ANDI, 2005