PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR KKPI

MELALUI PENERAPAN METODE THINK-PAIR-SHARE PADA SISWA KELAS XI

JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN 2 SMKN 2 BLORA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Ace Nungki Wibowo

Guru SMKN 2 Blora

ABSTRAK

Proses pembelajaran KKPI di sekolah selama ini umumnya masih didominasi oleh kegiatan siswa mengasyiki buku bacaan dari pada mengeksplorasi berbagai objek dan gejala yang ada. Cara belajar tersebut lebih mengarah kepada belajar dengan sistem satu arah (one way) dan kurang bervariasi. Hal ini akan mengakibatkan susasana belajar menjadi membosankan dan tidak dapat mengembangkan potensi siswa secara lengkap. Cara belajar yang berorientasi kepada buku akan membawa siswa sekedar menerima informasi, mengingat dan menghafal.

Demikian juga dengan yang terjadi di SMKN 2 Blora, prestasi belajar siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 pada mata pelajaran KKPI masih rendah. Hal ini disebabkan karena metode pengajaran yang digunakan masih teacher centered atau terpusat pada guru. Berdasarkan hasil observasi menunjukan bahwa nilai rata-rata siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 pada mata pelajaran KKPI sebesar 61,12. Sebagian besar siswa masih belum bisa mencapai KKM yang telah ditentukan yaitu 65.  Dari 32 siswa yang tuntas KKM hanya 11 anak dengan prosentase  34,38%, sedangkan 21 siswa belum tuntas KKM (65,63%).

Setelah diterapkan metodeThink-Pais-Share pada mata pelajaran KKPI prestasi belajar siswa XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 dapat meningkat. Pada siklus I nilai rata-rata siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2  sebesar 64,20, dengan prosentase ketuntasan 68,75% (22siswa) dan 10 siswa (31,25) masih belum tuntas KKM. Pada siklus II terjadi peningkatan prestasi belajar yang signifikan. Nilai rata-ratanya sebesar 70,15, dari 32 siswa hanya 2 siswa (6,25%) yang belum tuntas KKM sisanya 30 siswa (93,75%) sudah tuntas KKM.

Kata kunci: motivasi belajar, prestasi belajar, metode Think-Pair-Share, KKPI

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Proses pembelajaran KKPI di sekolah selama ini umumnya masih didominasi oleh kegiatan siswa mengasyiki buku bacaan dari pada mengeksplorasi berbagai objek dan gejala yang ada. Cara belajar tersebut lebih mengarah kepada belajar dengan sistem satu arah (one way) dan kurang bervariasi. Hal ini akan mengakibatkan susasana belajar menjadi membosankan dan tidak dapat mengembangkan potensi siswa secara lengkap. Cara belajar yang berorientasi kepada buku akan membawa siswa sekedar menerima informasi, mengingat dan menghafal.

Sistem pembelajaran di SMK yang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), membawa iklim belajar bukan hanya berkutat pada aspek produk belajar semata, tetapi lebih menekankan pada aspek proses belajar. Proses belajar yang baik, yaitu mampu mengembangkan: sikap ilmiah, proses ilmiah, dan produk ilmiah, maka dengan sendirinya diharapkan akan memicu hasil belajar siswa yang lebih tinggi.

Berdasarkan hasil pra-survei terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 pada mata pelajaran KKPI SMKN 2 Blora TahunPelajaran  2014/2015 dilihat dari kategori ketuntasan belajar yang telah ditetapkan pihak sekolah adalah 65. Prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa hasil belajar KKPI siswa XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 sebagian besar masih rendah, yaitu sebesar 61,12% tergolong kategori belum tuntas. Selain hasil belajar yang rendah, pengalaman selama ini menunjukkan, bahwa pada diri siswa SMK XI jurusan Administrasi Perkantoran 2, khususnya dalam mengikuti pelajaran KKPI di SMK Negeri 2 Blora banyak yang kurang termotivasi, karena semasa di SMP mereka lebih banyak belajar dengan cara menghafal. Pengalaman empiris yang sama juga dilaporkan oleh (Djohar, 1992), kurangnya minat siswa belajar lebih dipicu oleh sistem belajar di sekolah yang belum mampu membangkitkan minat belajar.

Kurangnya motivasi siswa dalam belajar dan rendahnya hasil belajar KKPI dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai variabel yang esential, seperti kesulitan siswa memahami konsep KKPI, cara verbal guru mengajar KKPI, penggunaan media belajar, berbagai sistem pembelajaran KKPI, dan sebagainya. Berbagai faktor tersebut apabila diaplikasikan di dalam proses belajar mengajar KKPI di sekolah, maka akan meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Adanya berbagai alternatif di atas, maka variabel sistem pembelajaran KKPI paling mendesak untuk dibenahi. Dalam hal ini pembelajaran KKPI yang dimaksud adalah pembelajaran kooperatif, khususnya tipe pendekatan struktural think-paire-share. Menurut Qadriyah (2003), pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran motivasional yang diyakini mampu meningkatkan motivasi siswa maupun hasil belajar siswa, karena pembelajaran ini berorientasi kepada siswa (student oriented), yang melibatkan siswa secara emosional dan sosial dalam belajar. Penggunaan metode pembelajaran kooperatif memungkinkan tercipta suasana interaksi siswa yang kooperatif. Antarsiswa akan memungkinkan menjadi sumber belajar bagi sesamanya, dan siswa akan merasa lebih mudah belajar sehingga guru dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan belajar

Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah dan lingkup penelitian ini, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

1. Apakah penerapan metode think-paire-share dapat meningkatkan motivasi dalam pembelajaran KKPI pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 pada mata pelajaran KKPI SMKN 2 Blora TahunPelajaran  2014/2015?

2. Apakah penerapan metode think-paire-share dapat meningkatkan prestasi dalam pembelajaran KKPI pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 pada mata pelajaran KKPI SMKN 2 Blora TahunPelajaran  2014/2015?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini antara lain untuk meningkatkan:

1. Meningkatkan motivasi belajar siswa KKPI melalui pembelajaran kooperatif (tipe pendekatan struktural think-paire-share).

2. Meningkatkan prestasi belajar KKPI melalui pembelajaran kooperatif (tipe pendekatan struktural think-paire-share).

Manfaat Penelitian

Manfaat hasil penelitian ini secara umum adalah untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran KKPI di SMK Negeri 2 Blora. Secara khusus dapat diuraikan manfaat hasil penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar KKPI dengan menggunakan pembelajaran kooperatif (tipe pendekatan struktural think-paire-share).

2. Bagi siswa, melalui pembelajaran kooperatif (tipe pendekatan struktural think-paire-share) dapat digunakan untuk melatih keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman di kelas dalam rangka menjadi sumber belajar sesamanya.

3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan acuan dalam menciptakan suasana sekolah yang berdampak kepada motivasional siswa berkaitan dengan aktivitasnya belajar di sekolah.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Pembelajaran kooperatif (tipe pendekatan struktural think-paire-share) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 pada mata pelajaran KKPI SMKN 2 Blora TahunPelajaran  2014/2015.

2. Pembelajaran kooperatif (tipe pendekatan struktural think-paire-share) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 pada mata pelajaran KKPI SMKN 2 Blora TahunPelajaran  2014/2015.

KAJIAN TEORI

Pengertian KKPI

KKPI merupakan singkatan dari Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. KKPI adalah salah satu mata pelajaran adaptif yang diberikan kepada semua bidang keahlian di Sekolah Menengah Kejuruan (Kurikulum SMK, 2004). Sedang pada SMU dan SMP dikenal dengan nama mata pelajaran TIK. Mata pelajaran ini sebagai dasar pengetahuan teknologi informasi, dengan demikian generasi masa depan dapat mengikuti derap perkembangan global. KKPI sebagai upaya agar setiap insan anak bangsa “melek teknologi dan melek informasi”. Agar generasi masa depan dapat mengikuti derap perkembangan global, kita harus mengupayakan agar setiap insan anak bangsa melek informasi. Oleh karena itu mereka perlu dibekali dengan kemahiran minimal, yaitu mengoperasikan komputer untuk ‘mengelola’ informasi. Hal itu bisa kita jabarkan sebagai berikut :

1. KKPI adalah kemampuan minimal yang harus dibekalkan kepada Insan Indonesia (siswa SLTA atau sederajat) agar mampu menggunakan komputer sebagai alat bantu untuk mengelola informasi adalah sebagai berikut :

a. Mengoperasikan Komputer

    • Menghubungkan seluruh komponen komputer dengan kabel penghubung sehingga dapat dihidupkan/dinyalakan dan dapat berfungsi.
    • Menghidupkan/menyalakan perangkat komputer.
    • Membuka dan menutup/mematikan program aplikasi pengolah kata, pengolah angka / bilangan, dan pembuat paparan.
    • Mengetik dengan 10 jari.

b. Mengelola Informasi

    • Mencari informasi.
    • Mengelompokkan, mengklasifikasikan, menyimpan.
    • Mengambil kembali informasi tersebut.
    • Mengemas menjadi informasi baru.
    • Menyusun menjadi bahan paparan.
    • Memaparkan atau mempresentasikan informasi.
    • Melakukan koneksi ke internet.
    • Bekerja menggunakan internet untuk mencari, mengumpulkan, dan merekam informasi.

2. KKPI akan terus dikembangkan, sejalan dengan perkembangan kompetensi tamatan SLTP atau sederajat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3. KKPI adalah paradigma masa depan, bukan paradigma sekarang atau masa lalu. KKPI adalah satu bentuk kepedulian pengembang IT Depdiknas untuk mempersiapkan anak bangsa agar “siap hidup di jamannya”.

Sejalan dengan perkembangan informasi dan teknologi, maka kemampuan minimal yang harus dibekalkan kepada siswa SMK agar tidak ketinggalan dalam dunia Teknologi Informasi dalam penggunaan komputer sebagai alat bantu untuk :

  • Mencari Informasi.
  • Mengelompokkan, Mengklasifikasikan, Menyimpan
  • Mengambil kembali informasi tersebut
  • Mengemas menjadi informasi baru
  • Menyusun menjadi bahan paparan
  • Memaparkan atau Mempresentasikan

Maka KKPI akan terus dikembangkan, sejalan dengan perkembangan kompetensi pada SMP, SMU/SMK atau sederajat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
Motivasi Belajar

Menurut Mc. Donald, yang dikutip Oemar Hamalik (2003:158) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks.

Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.

Dalam A.M. Sardiman (2005:75) motivasi belajar dapat juga diartikan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelak perasaan tidak suka itu.

Motivasi adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas. Masih dalam artikel Siti Sumarni (2005), motivasi secara harafiah yaitu sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Sedangkan secara psikologi, berarti usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya, atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. (KBBI, 2001:756).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian motivasi adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.

Pengertian belajar menurut Morgan, mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Wisnubrata, 1983:3). Sedangkan menurut Moh. Surya (1981:32), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.

Dari uraian yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Prestasi Belajar

Belajar merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu sangat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarga sendiri.

Winkel (1989:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya”.

Prestasi belajar dapat diukur dengan penilaian. Penilaian atau evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu (Nana Sudjana, 2009: 111).Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai melalui pengukuran dan penilaian terhadap penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa melalui proses belajar mengajar yang dinyatakan dalam simbul, angka, huruf atau kode.

Prestasi merupakan faktor penting untuk menentukan tingkat pengetahuan siswa. Prestasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai akhir penyajian materi mata pelajaran yang diberikan dengan memberikan latihan untuk dikerjakan di kelas dengan tujuan untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa dengan cara memberikan soal-soal pada siswa.

Metode Think-Pair-Share

TPS (Think-Pair-Share) atau (Berfikir-Berpasangan-Berbagi) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperaif, dari pada penghargaan individual (Ibrahim dkk :2000). Metode pengajaran tipe Think-Pair-Share ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan dari Universitas Maryland yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberi waktu kepada para siswa untuk berfikir dan merespons serta saling membantu yang lain. Guru lebih memilih metode Think-Pair-Share dari pada metode tanya jawab untuk kelompok secara keseluruhan (whole-group question and answer). TPS digunakan untuk mengajarkan isi akademik atau untuk mengecek pemahaman siswa terhadap isi tertentu. Guru menciptakan interaksi yang dapat mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju. Guru memberi informasi, hanya informasi yang mendasar saja, sebagai dasar pijakan bagi anak didik dalam mencari dan menemukan sendiri informasi lainnya.
Selain itu, titik pusat (fokus) dapat tercipta melalui upaya merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab, atau merumuskan konsep yang hendak ditemukan. Dalam upaya itu, guru menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe TPS. Strategi TPS dimaksudkan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional seperti resitasi, dimana guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa kelas dan siswa memberikan jawaban setelah mengangkat tangan dan ditunjuk. Strategi ini menantang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusi perlu dilakukan di dalam lingkungan seluruh kelompok.

Sesuai dengan namanya, berikut ini adalah langkah-langkah yang diterapkan dalam TPS (Think-Pair-Share) :
Tahap 1: Think (berfikir). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yan berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan tersebut secara mandiri untuk
beberapasaat.
Tahap 2: Pairing (berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika isu khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengijinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester I Tahun Pelajaran 2014/2015 pada bulan Agustus 2014 sampai bulan Oktober 2014. Pemilihan waktu ini menyesuaikan dengan jadwal materi pelajaran KKPI pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 SMKN 2 Blora.

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 32 siswa, terdiri dari 32 siswa perempuan. Objek penelitian tindakan kelas ini adalah peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa pada mata pelajara KKPI dengan penerapan metode Think-Pair-Share.

Sumber data penelitian ini meliputi hasil tes tertulis pada mata pelajaran KKPI pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa angka yaitu nilai hasil evaluasi pembelajaran KKPI, sedangkan data kualitatif berupa informasi tentang keefektifan pembelajaran di dalam kelas ketika guru melaksanakan pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar  pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah buku daftar nilai matematika siswa. Disamping itu diperoleh melalui tes praktik.

Validasi data nilai praktik penerapan metode TPS dalam pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep pada mata pelajaran KKPI , baik kondisi awal, siklus I, maupun siklus II diperoleh dengan teknik observasi. Supaya data tersebut valid, peneliti membandingkan hasil observasinya dengan hasil observasi teman sejawat. Validasi data hasil pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar  pada mata pelajaran KKPI, baik kondisi awal, siklus I, maupun siklus II diperoleh dengan teknik tes. Supaya data yang diperoleh valid perlu dilakukan validasi isi.

Analisis data kemampuan penerapan metode Think-Pair-Share untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar  pada mata pelajaran KKPI pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015 pada setiap siklus dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif komparatif dan dilanjutkan dengan reflektif. Analisis data dalam penelitian ini dihitung rata-ratanya dengan bobot yang sama yaitu data kemampuan kondisi awal sebelum pelaksanaan PTK, data kemampuan pada siklus I, kemampuan pada siklus II.

Indikator kinerja pada penelitian tindakan kelas ini adalah: 1) Nilai rata-rata hasil belajar KKPI pada kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015 mencapai nilai Kriteri Ketuntasan Minimal yang ditetapkan (KKM) yaitu 65).2) Minimal 75% siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015 tuntas belajar pada mata pelajaran KKPI.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Model penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 4 (empat) komponen yaitu 1) perencanaan; 2) pelaksanaan tindakan; 3) observasi; dan 4) refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Pra Siklus

Pada kondisi awal ini nilai rata-rata siswa hanya 61,12. Nilai ini masih jauh di bawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan dalam pembelajaran matematika yaitu 65. Hanya 11 siswa atau 34,38% dari total 32 siswa yang mencapai nilai KKM, masih ada 21 siswa atau 65,63% yang nilainya di bawah KKM. Ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar mata pelajarran KKPI  pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal siswa tersebut antara lain: motivasi, intelegensi, kebiasaan dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor guru sebagai fasilitator kegiatan belajar, strategi pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum dan lingkungan.

Deskripsi Hasil Siklus I

Hasil pengamatan pada siklus I siswa terlihat belum aktif dan beberapa siswa yang terlihat kurang fokus dalam pembelajaran. Setelah guru memberi motivasi, siswa mengikuti pelajaran dengan baik. Motivasi siswa dalam menerima penjelasan guru sudah cukup tinggi. Siswa saling bekerjasama dengan temannya, yang diam dan pasif terus berupaya untuk bisa. Demikian upaya guru dalam memotivasi para siswa. Ternyata upaya ini cukup berhasil, siswa berusaha untuk aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Hasil belajar pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 64,20. Jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 22 siwa atau 68,75%. Sementara itu 10 siswa atau 31,25% masih belum tuntas belajar.

Deskripsi Hasil Siklus II

Pada kegiatan pembelajaran siklus II, secara umum siswa dapat menerapkan metode pembelajaran Think-Pair-Share dengan baik. Siswa juga tampak semakin percaya diri, hal ini karena siswa telah melaksanakan diskusi dengan teman tim sebelumnya. Bila dibandingkan dengan penampilan kegiatan pembelajaran pada siklus I, interaksi siswa lebih baik.

Hasil belajar pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 68,50. Jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 30 siwa atau 93,75%. Sementara itu 2 siswa atau 6,25% masih belum tuntas belajar.

Pembahasan

Setelah dilakukan tidakan padapembelajaran siklus I dan siklus II, terjadi peningkatan pemahaman konsep pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar siswa ketika dilakukan tes di akhir setiap siklus. Pada kondisi awal, rata-rata nilai tes siswa adalah 61,12. Nilai ini masih jauh dibawah KKM yang ditentukan yaitu 65. Pada siklus I, setelah dlakukan tindakan dengan menerapkan metode Think-Pair-Share pada pembelajaran KKPI, nilai rata-rata tes siswa adalah 64,20. Walaupun sudah terjadi peningkatan, tetapi masih belum mencapai KKM yang ditentukan. Hal ini dikarenakan siswa masih belum terbiasa dengan metode Think-Pair-Share. Untuk itu perlu dilakukan lagi tindakan pada siklus II. Hasil belajar pada siklus II kembali meningkat dengan perolehan nilai rata-rata tes siswa 68,50. Dengan perolehan nilai rata-rata tes tersebut, indikator kinerja minimal nilai rata-rata tes mencapai nilai KKM sudah dapat terpenuhi.

Pada indikator kedua, yaitu minimal 75% siswa tuntas belajar juga terpenuhi. Pada kondisi awal, jumlah siswa yang tuntas belajar adaalah 11 siswa (34,38%). Pada siklus I meningkat menjadi 22 siswa (68,75%). Pada siklus II kembali meningkat menjadi 30 siswa (93,75%) siswa tuntas belajar.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Think-Pair-Share dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar mata pelajaran KKPI pada siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran 2 SMKN 2 Blora Tahun Pelajaran 2014/2015. Hal itu dapat dilihat dari hasil penelitian berupa peningkatan hasil belajar dan tingkat ketuntasan belajar siswa. Pada kondisi awal, hasil belajar siswa rata-ratanya 61,12 meningkat menjadi 68,50 pada kondisi akhir. Tingkat ketuntasan belajar siswa juga meningkat dari 34,38% pada kondisi awal menjadi 93,75% pada kondisi akhir.

Saran

1. Bagi Guru

a. Guru dalam melaksanakan pembelajaran hendaknya mendorong siswa untuk senantiasa bersemangat dan bermotivasi tinggi.

b. Dalam proses pembelajaran, guru harus mempersiapkan sarana dan strategi pembelajaran yang tepat.

2. Bagi siswa

a. Dengan pembelajaran yang menggunakan media/alat peraga atau metode pembelajaran tertentu, hendaknya siswa dapat memanfaatkannya dengan baik sehingga kemampuan siswa dapat meningkat.

b. Dalam menggunakan media /alat peraga atau metode pembelajaran tertentu hendaknya siswa lebih berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

3. Bagi Sekolah

Sekolah hendaknya mendorong guru untuk mengembangkan kreasinya dalam pembelajaran dengan menggunakan media / alat peraga atau strategi pembelajaran yang tepat dan inovatif, karena inti sekolah sebagai penjamin mutu pendidikan di tingkat yang paling dasar sangat mendesak dan perlu mendapat perhatian serius. Disaat hampir semua guru sudah menikmati tunjangan guru, sekolah mempunyai kewajiban untuk mengubah pola pikir guru yang masih sebagian mapan dengan model tradisionalnya.

DAFTAR PUSTAKA

Baedowi.   2007.  Kebijakan   dan   Pengembangan   Kurikulum.   Jakarta:   DPN   Staf

Hamalik, Oemar. 2003. Media Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Ibrahim, M. dkk., 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

John W. Santrock. 2008. Psikologi Pendidikan, alih bahasa Tri Wibowo B S. Jakarta : Kencana

KBBI, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Sardiman, A.M  2004.  Interaksi   dan   Motivasi   Belajar   Mengajar.   Jakarta:   Raja Grafindo

Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar. Bandung: Sinar Baru Aglesindo

Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual operasional. Malang: Bumi Aksara

Winkel, W. 1989. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia