PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI HUBUNGAN ANTAR SATUAN

MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) BAGI SISWA KELAS IV SD NEGERI COMBONGAN 02

KECAMATAN SUKOHARJO SEMESTER I

TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Kasianto

SD Negeri Combongan 02 Kabupaten Sukoharjo

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika materi hubungan antar satuan bagi siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo semester I tahun pelajaran 2015/2016 melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan di kelas IV SD Negeri Combongan 02 UPTD Pendidikan Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV Semester I di SD Negeri Combongan 02 UPTD Pendidikan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo tahun pelajaran 2015/2016 yang terdiri dari 21 orang siswa. Prosedur penelitian dalam Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari dua siklus dimana pada setiap siklus terdapat empat, yaitu: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan;3) observasi; dan 4) refleksi hasil tindakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016. Peningkatan motivasi siswa tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata motivasi siswa yakni sebesar 48 atau kategori Sedang pada Kondisi Awal meningkat menjadi 67 atau kategori Tinggi, kemudian meningkat kembali menjadi 80 atau kategori Sangat tinggi. Sedangkan peningkatan prestasi belajar siswa dilihat dari tingkat ketuntasan siswa secara klasikal dikelas yang mendapat nilai diatas atau sama dengan KKM (>70) pada Kondisi Awal 11 siswa atau 52,38% meningkat pada siklus I menjadi 16 siswa atau 76,19%, kemudian meningkat kembali menjadi 21 siswa atau 100% pada akhir Siklus II. Rata-rata prestasi belajar siswa dari Kondisi Awal sebesar 66,90 meningkat pada Siklus II menjadi 74,29, kemudian meningkat menjadi 81,67 pada akhir Siklus II.

Kata Kunci: Prestasi belajar,motivasi belajar, Problem Based Learning (PBL)

PENDAHULUAN

LatarBelakangMasalah

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mengajak siswa untuk berpikir logis dan sistematis dalam memecahkan berbagai permasalahan dlam kehidupan sehari-hari. Matematikamerupakan ilmu yang mendasari dari berbagai ilmu pengetahuan lain. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya fikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi perkembangan matematika dibidang teori bilangan, aljabar, dan matematika aritmatika. Untuk menguasai teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Paradikma siswa yang menganggap matematika sebagai ilmu yang sulit dipahami merupakan hal yang jamak terjadi dalam proses pembelajaran dimanapun. Siswa yang mempunyai paradikma tersebut akan menjadi kurang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran bahkan marasa tukut untuk mengikuti pembelajaran. Hal tersebut akan menjadikan prestasi belajar siswa menjadi kurang optimal.

Hal senada juga terjadi dalam proses pembelajaran matematika matari hubungan antar satuan pada siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Semester I tahun pelajaran 2015/2016. Dalam proses pembelajaran tersebut guru kurang cermat dalam menggunakan metode pembelajaran. Guru masih menerapkan metode pembelajaran konvensional ceramah.

Rendahnya prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan tersebut dapat diketahui dari rendahnya tingkat ketuntasan belajar siswa secara klasikal dan rendahnya nilai rata-rata kelas yang dicapai. Dari 21 siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Semester I tahun pelajaran 2015/2016 yang mendapatkan nilai >KKM 70 hanya 11 siswa atau 52,38% sedangkan siswanya massih mendapatkan nilai dibawah KKm. Nilai rata-rata kelas yang dicapai siswa sebesar 66,90.

Salah satu strategi pembelajaran yang dapat ditepakkan dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan adalah pembelajaran berbasis masalah atau Problem based learning (PBL). Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dihadapkan dengan permasalahan yang membangkitkan rasa keingintahuanya untuk melakukan penyelidikan sehingga dapat menemukan sendiri jawabannya, dengan mengkomunikasikan hal itu dengan orang lain. Hal tersebut akan manjadikan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran akan meningkat sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran dan pada akhirnya prestasi belajar siswa akan menjadi lebih optimal.

RumusanMasalah

1. Apakah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan motivasi belajar matematika materi hubungan antar satuan bagi siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo semester I tahun pelajaran 2015/2016?

2. Apakah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan prestasi belajar matematika materi hubungan antar satuan bagi siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo semester I tahun pelajaran 2015/2016?

TujuanPenelitian

1. Meningkatkan motivasi belajar matematika materi hubungan antar satuan bagi siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo semester I tahun pelajaran 2015/2016 melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

2. Meningkatkan prestasi belajar matematika materi hubungan antar satuan bagi siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo semester I tahun pelajaran 2015/2016 melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

LANDASAN TEORI , KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

Pengertian Problem Based Learning (PBL)

Menurut Arends dalam Trianto (2007: 68), pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan perpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.

Pembelajaran berbasis masalah bukan dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa, melainkan membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir, pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektual (Ibrahim dalam Trianto, 2007: 70). Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2007: 10).

Barbara J. Duch dalam tesis M. Wijayanto (2009: 18) menyatakan bahwa: Problem based learning (PBL) is an instructional model that challenges students to “learn to learn,” working cooperatively in groups to seek solutions to real world problems. These problems are used to engage students’ curiosity and initiate learning the subject matter. PBL prepare studens to think critically and analytically, and to find and use appropriate learning resources.

Problem based learning (PBL), at is most fundamental level, is an instructional model characterized by use of “real world” problem as a context for students to learn critical thinking and problem solving skills, and acquire knowledge of the essential conceps of the course. Using PBL, students acquire life long learning skills which include the ability to find and use appropriate learning resoueces.

(Problem based learning (PBL) adalah satu model yang mengembangkan para siswa “belajar untuk belajar,” bekerja dengan cara kerja sama di dalam kelompok-kelompok untuk mencari pemecahan masalah dalam dunia nyata. Permasalahan ini digunakan untuk menghubungkan pokok materi pelajaran terhadap rasa keingintahuan siswa. PBL mempersiapkan para siswa untuk berpikir kritis dan secara analitis, dan untuk menemukan serta menggunakan sumber belajar yang sesuai. Problem based learning (PBL), pada dasarnya, adalah suatu model yang ditandai dengan penggunaan masalah “dunia nyata” sebagai suatu konteks bagi para siswa untuk belajar berpikir kritis dan terampil memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan tentang konsep yang penting dari apa yang dipelajari. Dengan PBL, para siswa, memperoleh keterampilan tentang belajar sepanjang hidup, termasuk kemampuan untuk menemukan dan menggunakan sumber belajar yang sesuai.)

Motivasi belajar

Motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku atau aktifitas tertentu lebih baik dari keadaan sebelumnya (Hamzah, 2009: 9). Atau dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang untuk mengadakan perubahan tingkah laku.Sedangkan motivasi belajar menurut Sardiman (2004: 75) adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Menurut Sardiman (2004: 77), memberikan motivasi kepada seorang siswa, berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi memiliki kemauan lebih keras. Kegagalan yang dialaminya akan membangkitkan semangat berusaha lebih giat untuk memperoleh sukses di masa yang akan datang sedangkan siswa yang memiliki motivasi belajar rendah jika mengalami kegagalan akan mengakibatkan kemampuannya cenderung menurun, sehingga kegagalan yang satu akan diikuti oleh kegagalan berikutnya.

Dari pendapat para ahli tersebut dapat disiimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan yang kuat yang timbul dari internal maupun eksternal untuk melakukan perubahan menuju yang lebih baik. Dalam hal motivasi belajar dapat diartikan bahwa dorongan yang timbul tersebut menjadikan siswa lebih bersemangat dalam melakukan aktifitas pembelajaran dengan lebih baik sehingga dapat meraih prestasi yang tinggi.

Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar terdiri dari kata “prestasi” dan “belajar”.Prestasi menurut pendapat Poerwadarminta (1986) adalah “hasil maksimal dari suatu pekerjaan atau kecakapan” (h.768).

Pengertian prestasi belajar menurut Arifin (1990: 3) “Prestasi belajar berupa kemampuan, keterampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan sesuatu hal”.

Pada intinya prestasi belajar adalah hasil maksimal dari suatu pekerjaan atau kegiatan (kegiatan belajar) untuk menambah atau mengumpulkan sejumlah pengetahuan atau kecakapan.Prestasi belajar berarti pula hasil yang dicapai individu melalui usaha yang dialami secara langsung dan merupakan aktivitas yang bertujuan memperoleh ilmu pengetahuan, ketrampilan maupun kecakapan dalam situasi tertentu.Prestasi belajar juga berarti hasil yang dicapai oleh seseorang setalah melaksanakan serangkaian kegiatan belajar.

Hakekat pembelajaran Matematika di SD

Nasoetion (Sri Subarinah, 2006: 1) mengemukakan bahwa istilah “Matematika” berasal dari kata Yunani mathein atau manthenin yang artinya “mempelajari”. Mungkin juga kata itu erat hubungannya dengan kata sansekerta medha atau widya yang artinya ialah “kepandaian”, ”ketahuan” atau “intelegensi”. Dengan menguasai matematika, orang akan belajar mengatur jalan pemikirannya dan sekaligus belajar menambah kepandaiannya.

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada di dalamnya (Sri Subarinah, 2006: 1). Prihandoko (2006: 6) mengemukakan bahwa matematika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa matematika adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat abstrak, yang membutuhkan kecermatan dalam mempelajarinya sebagai sarana berpikir logis yang sistematis, logis, dan kritis dengan menggunakan bahasa matematika. Dengan matematika ilmu pengetahuanlainnya dapat berkembang secara cepat karena matematika dapat memasuki wilayah cabang ilmu lainnya dan seluruh segi kehidupan manusia

Kerangka Pemikiran

Proses pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran konvensional dengan menerapakan ceamah monoton dalam pembelajaran matematika menjadikan siswa kurang antusias dan kesulitan dalam memahami materi pembelajaran dengan baik. Berdasarkan hasil identifikasi awal kondisi pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan di kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo semester I tahun pelajaran 2015/2016 dapat diketahui bahwa motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sangat rendah sehingga mengakibatkan prestasi belajar siswa juga masih sangat rendah dan belum mencapai KKM yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hasil observasi dan identifikasi pada kondisi awal tersebut, guru berupaya melakukan perbaikan dalam pembelajaran. Upaya perbaikan yang dilakukan guru adalah dengan menggunakan Problem Based Learning (PBL).Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dihadapkan dengan permasalahan yang membangkitkan rasa keingintahuanya untuk melakukan penyelidikan sehingga dapat menemukan sendiri jawabannya, dengan mengkomunikasikan hal itu dengan orang lain. Hal tersebut akan manjadikan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran akan meningkat sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran dan pada akhirnya prestasi belajar siswa akanmenjadil lebih optimal.

Hipotesis Tindakan

1. Pengunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

2. Pengunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, yaitu pada siswa kelas IV semester I tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini dilakukan pada semester I tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu mulai bulan Oktober 2015sampai dengan bulan Desember 2015.

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV semester I SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo tahun pelajaran 2015/2016 dengan jumlah siswa sebanyak 21 orang siswa yang terdiri 15 perempuan dan 6 laki-laki.

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari guru, siswa, dan dokumen. Dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan tiga teknik yaitu dokumen, tes dan observasi. Dalam pemeriksaan validitas data menggunakan teknik triangulasi dan review informan kunci.

Data yang telah dikumpulkan selama pelaksanaan penelitian kemudian dianalisis dengan menggunakan dua teknik yakni analisis data kuantitatif dan kualitatif. Kedua teknik analisis tersebut dipadukan untuk menguji kebenaran data yang telah dikumpulkan dan dijadikan pedoman apakah sudah sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Apabila data yang telah dianalisis telah sesuai dengan indikator keberhasilan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika materi hubungan antar satuan pada siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Semester I Tahun pelajaran 2015/2016.

Indikator keberhasilan yang ditetapkan dalam penelitian ini diukur berdasarkan indikator-indikator sebagai berikut: 1) Pembelajaran dianggap berhasil meningkatkan motivasi siswa apabila rata-rata capaian motivasi belajar siswa menunjukkan kriteria Sangat Tinggi(>80%). 2) Siswa dianggap mencapai ketuntasan belajar apabila sudah memperoleh nilai >75.00. 3) Pembelajaran dianggap berhasil apabila siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal dengan nilai rata-rata kelas >75.00. 4) Pembelajaran dianggap berhasil apabila tingkat penguasaan penuh secara klasikal > 80%, atau jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar adalah sebesar > 80% dari jumlah siswa.

Prosedur penelitian ini dilakukan dalam sistem siklus yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana yang dikatakan Suharsimi Arikunto bahwa setiap siklus perbaikan pembelajaran terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Keempat komponen dalam setiap siklus penelitia tersebut merupakan suatu rangkaian tindakan yang harus dilakukan secara berurutan karena saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penerapan metode konvensioanl dalam proses pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan menjadikan paradikma bahwa pembeajaran matematika merupakan pembelajaran yang sulit untuk dipahami semakin kuat. Ha tersebut menjadikan siswa kurang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga prestasi belajar siswa menjadi kurang optimal.

Berdasarkan hasil analisis penyebab rendahnya prestasi belajar siswa VI SD Negeri Combongan 02 Kecamatan sukoharjo semester I tahun pelajaran 2015/2016 dalam proses pembelajarn kondisi awal adalah rendahnya motivasi belajar siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata motivasi belajar siswa pada kondisi awal hanyalah 48. Dengan rendahnya motivasi siswa dalam mengkuti proses pembelajarn, maka tidak heran jika siswa mengalamu kesulitan dalam memahami materi pembelajaran dengan baik. Terbukti setelah dilakukan ulangan harian prestasi yang diraih siswa masih sangat rendah dan belum sesuai dengan ketuntasan belajar.

Hasil tes yang diperoleh dari 21 orang siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo semester I tahun pelajaran 2015/2016 menunjukkan bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 50.00 dan nilai tertinggi diperoleh sebesar 80.00. Nilai rata-rata hasil belajar diperoleh sebesar 66,90. Ditinjau dari ketuntasan belajar secara klasikal dari 21 siswa yang mendapat nilai >KKM 70 hanya 11 siswa atau 52,38% dan sisanya sebanyak 10 siswa 47,62% mendapat nilai dibawah KKM.

Pencapaian prestasi siswa pada kondisi awal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan medel pembelajaran konvensional menjadikan siswa kesulitan memahami materi pembelajaran karena siswa merasa jenuh dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Problem based learning (PBL).

Perbaikan pembelajaran yang dilakukan guru pada tindakan Siklus I dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning (PBL) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar siswa secara signivikan. Peningkatan motivasi belajar siswa tersebut dapat diketahui berdasarkan pencapaian peningkatan nilai motivasi siswa dalam setiap aspek penilaian.

Berdasarkan hasil analisis data maka dapat diketahui bahwa dari 21 siswa terdapat 0 siswa 0% yang mendapat kategori motivasi Rendah, 6 Siswa atau 29% yang mendapat kategori Sedang dan 9 siswa atau 43% yang mendapat kategori motivasi Tinggi dan 6 siswa atau 29% yang mendapat kategori motivasi sangat Tinggi. Serta Rata-Rata nilai motivasi yang diperoleh siswa secara klasikal adalah 67 atau mendapat kategori Tinggi.

Peningkatan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelejaran menjadikan siswa lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran. Hal tersebut memberikan dampak meningkatnya prestasi belajar siswa pada Siklus I. Terbukti berdasarkan post-tes yang dilakukan diketahui bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah sebesar 60.00 dan nilai tertinggi sebesar 90.00. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah sebesar 74,29. Ditinjau dari penguasaan penuh secara klasikal, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 70.00 adalah sebanyak 16 orang siswa atau 76,19%. Adapun siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 70.00 adalah 5 orang siswa atau 23,81%.

Peningkatan motivasi belajar dan prestasi beljar siswa pada Siklus I ternyata belum mencapai puncaknya dan belum sepenuhnya sesuai dengan inikator keberhasilan yang telah ditetpakan dalam penelitian ini. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaiakan pembelajaran Siklus II.

Perbaikan yang dilakukan guru pada tindakan Siklus II dilakukan dengan memperhatikan kekurangan yang menyebabkan tidak tercapainya indikator keberhasilan pada Siklus I. Hasil yang didapatkan pada Siklus II menunjukan keberhasilan yang lebih optimal. Peningkatan motivasi siswa dapat dilihat dari 21 siswa terdapat 0 siswa 0% yang mendapat kategori motivasi Rendah, 2 Siswa atau 10% yang mendapat kategori Sedang dan 4 siswa atau 19% yang mendapat kategori motivasi Tinggi dan 15 siswa atau 71% yang mendapat kategori motivasi sangat Tinggi. Serta Rata-Rata nilai motivasi yang diperoleh siswa secara klasikal adalah 80 atau mendapat kategori Sangat Tinggi.

Sedangkan ditinjau dari peningkatan prestasi belajar siswa maka dapat diketahui bahwa berdasarkan hasil tes evaluasi yang dilaksanakan pada akhir Siklus II, dapat diketahui bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 70.00, sedangkan nilai tertinggi adalah 100.00. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah sebesar 81,67. Dilihat dari penguasaan penuh secara klasikal, jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 70.00 adalah sebanyak 21 orang siswa atau 100%. Adapun jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 70.00 adalah sebanyak 0 orang siswa atau 0,00%.

Berdasarkan hasil refleksi yang telah dikemukakan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) telah berdasil meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa sehingga perbaikan pembelajaran dicukupkan pada Siklus II.

Hasil observasi yang diperoleh selama pelaksanaan tindakan ternyata membuktikan hipotesis tindakan bahwa “Pengunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016” terbukti kebenarannya.

Peningkatan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran diiringi dengan peningkatan prestasi belajar siswa. Peningkatan prestasi belajar siswa dari kondisi awal hingga akhir tindakan pembelajaran Siklus II. Berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh tersebut, maka hipotesis tindakan yang menyebutkan bahwa “Pengunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016” terbukti kebenarannya.

P E N U T U P

Simpulan

1. Motivasi belajar siswa

Pengunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuandapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

Peningkatan motivasi siswa tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata motivasi siswa yakni sebesar 48 atau kategori Sedang pada Kondisi Awal meningkat menjadi 67 atau kategori Tinggi, kemudian menigkat kembali menjadi 80 atau kategori Sangat tinggi.

2. Prestasi belajar siswa

Pengunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran matematika materi hubungan antar satuan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Combongan 02 Kecamatan Sukoharjo Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016.

Peningkatan prestasi belaajar siswa dilihat dari tingkat ketuntasan siswa secara klasikal dikelas yang mendapat nilai diatas atau sama dengan KKM (>70) pada Kondisi Awal 11 siswa atau 52,38% meningkat pada siklus I menjadi 16 siswa atau 76,19%, kemudian meningkat kembali menjadi 21 siswa atau 100% pada akhir Siklus II. Rata-rata prestasi belajar siswa dari Kondisi Awal sebesar 66,90 meningkat pada Siklus II menjadi 74,29, kemudian meningkat menjadi 81,67 pada akhir Siklus II.

Saran

1. Bagi Siswa

a. Siswa disarankanuntuk lebih aktif dalam proses pembelajaransehinggaprestasi belajar yang diperolehsemakin optimal.

b. Siswa disarankan untukbelajar memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran matematika dengan melakukan diskusi dalam kelompok.

2. Bagi Guru

a. Guru disarankan untuk lebih optimal dalam melakukan pengelolaan kelas sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan kondusif.

b. Guru disarankan lebih terampil dalam memilih dan menerepkan berbagai model pembelajaran khususnya Problem Based Learning (PBL) dalam melakukan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

3. Bagi Sekolah

Sekolah disarankan untuk mendorong dan memfasilitasi para guru untuk meningkatkan kamampuannya melakukan inovasi dalam menerapakn berbagai model pembelajaran pada proses pembelajaran sehingga dapat mencapai tujuan sekolah dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal, 2009, Evaluasi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Arifin, Zainal. 1990. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Penelitian Tindakan untuk Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas. Yogyakarta: Aditya Media.

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2007. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Hamalik, Oemar. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Hamalik, Oemar. 2012. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Uno,Hamzah B.. 2009. Teori Motivasi dan Pengukurannya, Analisis di Bidang Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Miftahul Huda. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Miftahul Huda. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muhibbin Syah, M.Ed. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Press.

Purwanto. Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Purwanto. 2005. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algasindo.

Purwadarminta W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN. Balai Pustaka, 1986.

Permendiknas No. 22 tahun 2006.

Prihandoko, Antonius Cahya. (2006). Memahami Konsep Matematika Secara Benar Dan Menyajikannya Dengan Menarik. Jakarta: Depdiknas.

Ricard I. Arends, 2008. Learning To Teach “Belajar Untuk Mengajar”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, edisi 7.

Sardiman AS. (2004) Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Slameto. 2005. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sri Subarinah. (2006). Inovasi Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Depdiknas.Saefuddin, Asis dan Berdiati, Ika. 2014. Pembelajaran Efektif. Bandung: Rosda Karya.

Suyanto, dan Asep Jihad. 2013. Menjadi Guru Profesional. Esensi: Jakarta.

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

T. Wakiman. (2001). Alat Peraga Pendidikan Matematika I. Yogyakarta: FIP UNY.

Wijayanto M. 2009. Pengaruh Penerapan Model Problem Based Learning dan Cooperative Learning Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa. Surakarta: UNS Program PascaSarjana.

Winkel, WS. 2001. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia