UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR

PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD MATERI PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL PADA KELAS VIIA SMP NEGERI 1 SURUH KABUPATEN SEMARANG SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2019/2020

 

Murtinah

SMP Negeri 1 Suruh Kabupaten Semarang

 

ABSTRAK

Permasalahan yang muncul dalam pembelajaran Matematika di kelas VII A SMP Negeri 01 Suruh Kabupaten Semarang menunjukkan bahwa guru belum mampu menerapkan berbagai model pembelajaran yang inovatif dalam proses pembelajaran Matematika sehingga siswa belum berpartisipasi secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, hasil belajar siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika melalui model STAD. Model pembelajaran STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yang menekankan kerja sama kelompok. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dua siklus, tiap siklus terdiri dari 1 pertemuan. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas VII A SMPN 01 Suruh. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes yang diperoleh dari hasil observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan. Dari 31 peserta didik yang mengikuti evaluasi hasil belajar hanya 8 peserta didik atau 25,8% yang dapat mencapai ketuntasan belajar. Pada perbaikan pembelajaran siklus I terjadi peningkatan ketuntasan belajar menjadi 14 peserta didik atau 43,8% dan kemudian pada perbaikan pembelajaran siklus II menjadi 28 peserta didik atau 87,5% mencapai ketuntasan belajar. Pada perbaikan pembelajaran siklus II telah tercapai ketuntasan belajar klasikal karena peserta didik yang mencapai tuntas belajar telah mencapai 85% dan peneliti telah menganggap perbaikan pembelajaran pada siklus II telah mencapai keberhasilan sehingga perbaikan pembelajaran tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.

Kata kunci: STAD, motivasi dan prestasi belajar

 

PENDAHULUAN

Materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel merupakan materi yang sangat penting untuk dikuasai peserta didik sebagai bekal untuk mempelajari materi-materi selanjutnya maupun sebagai bekal untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan di lapangan banyak peserta didik yang mengalami kesulitan untuk memahami konsep materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel. Hal ini disebabkan karena peserta didik memiliki kecenderungan hanya sekedar mengerjakan latihan soal berdasarkan pola contoh penyelesaian yang diperoleh tanpa memahami bagaimana proses memperoleh penyelesaian suatu Persamaan atau Pertidaksamaan Linear Satu variabel tersebut sehingga mereka akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan Persamaan atau Pertidaksamaan linear tersebut di saat mereka dituntut untuk menyelesaikan sendiri tanpa melihat contoh penyelesaian. Perubahan cara mengajar tidak banyak dilakukan oleh para guru, karena secara empiris mereka selalu menggunakan cara yang sama dari waktu ke waktu (Gatot Muhsetyo, dkk, 2004 : 3.32).

Karena materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel sangat penting, maka perlu diupayakan pemilihan model pembelajaran yang tepat agar materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel tersebut dapat dipahami peserta didik. Memahami teori tentang bagaimana orang belajar serta kemampuan menerapkannya dalam pembelajaran Matematika merupakan persyaratan penting untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif. Menurut Bell (1978 : 97), tiap teori dapat dipandang sebagai suatu metoda untuk mengorganisasikan serta mempelajari berbagai variabel yang berkaitan dengan belajar dan perkembangan intelektual, dan dengan demikian guru dapat memilih serta menerapkan elemen-elemen teori tertentu dalam pelaksanaan pengajaran di kelas.

Menurut Brownell (dalam Reys, Suydam, Lindquist & Smith, 1998), Matematika dapat dipandang sebagai suatu system yang terdiri atas ide, prinsip, dan proses sehingga keterkaitan antar aspek-aspek tersebut harus dibangun dengan penekanan bukan pada memori atau hapalan melainkan pada aspek penalaran atau intelegensi anak. Selanjutnya Reys, dkk, (1988) menambahkan bahwa Matematika itu haruslah make sense. Jika Matematika disajikan kepada anak dengan cara yang demikian, maka konsep yang dipelajari menjadi punya arti, dipahami sebagai suatu disiplin yang terurut, terstruktur, dan memiliki keterkaitan satu dengan lainnya, serta diperoleh melalui proses pemecahan masalah yang bervariasi.

Pengajaran yang efektif antara lain ditandai dengan keberhasilan peserta didik dalam belajar. Untuk berhasilnya pengajaran Matematika, pertimbangan-pertimbangan tentang bagaimana peserta didik belajar merupakan langkah awal yang harus diperhatikan. Proses belajar merupakan hal yang dialami peserta didik sebagai respon terhadap segala skenario pembelajaran yang disiapkan oleh pendidik. Oleh karena itu, skenario pembelajaran yang dapat mempengaruhi proses belajar peserta didik sangat ditentukan oleh seorang guru.

Pada saat proses pembelajaran berlangsung yang harus diperhatikan oleh seorang guru adalah bagaimana kemajuan belajar yang dialami oleh peserta didik dan kesulitan apa yang dihadapi oleh peserta didik. Dalam proses pembelajaran, guru memberikan materi berdasar materi atau topik tertentu. Guru harus mengamati dengan jeli apakah ada kemajuan penguasaan antara unit yang satu dengan yang lainnya (Asmawi Zaenul, dkk, 2005: 2.23). Kejelian seorang guru dalam mengamati kemajuan penguasaan materi antara unit akan sangat menentukan keberhasilan seorang guru dalam pembelajaran.

Pada akhir kegiatan pembelajaran guru hendaklah memperhatikan kemampuan penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah disampaikan atau seberapa jauh hasil yang dicapai oleh peserta didik berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan pada perencanaan pembelajaran. Untuk mengetahui adanya kemajuan belajar yang dimiliki peserta didik dalam pembelajaran perlu diadakan penilaian. Penilaian yang dilakukan berupa penilaian sikap, keterampilan maupun pengetahuan dari peserta didik. Penilaian ini diberikan sesudah satu kegiatan atau unit pembelajaran diselesaikan.

Walaupun dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran peneliti telah melakukan seperti apa yang telah peneliti uraikan, namun pada kenyataannya peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 1 Suruh Kabupatan Semarang masih mengalami kesulitan dalam memahami materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel. Indikator dari adalah rendahnya rata-rata nilai tes peserta didik. Rata-rata ulangan harian pra siklus dari peserta didik hanya 34,84 jauh dari KKM nilai Matematika kelasVII sebesar 75. Dari 31 peserta didik yang mengikuti ulangan harian tersebut hanya 8 peserta didik (34,84 %) yang dapat mencapai ketuntasan belajar. Nilai yang diperoleh peserta didik setelah dilaksanakan ulangan harian menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan tidak tercapai artinya pembelajaran yang telah dilaksanakan tidak berhasil.

Melihat keadaan ini maka perlu diteliti stategi pembelajaran seperti apa yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik terhadap materi Persamaan dan pertidaksamaan Linear Satu Variabel. Pada penelitian ini peneliti akan menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik, sehingga mereka menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Peningkatan motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran inilah yang diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik terhadap materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel, yang akan berdampak pada peningkatan jumlah peserta didik tuntas belajar sehingga akan berakibat pada tercapainya ketuntasan belajar klasikal.

Pada penelitian ini, akan digunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, karena model pembelajaran ini menggunakan teknik belajar berkelompok dimana peserta didik akan dikelompokkan dalam tim yang terdiri dari 4 orang peserta didik, dengan karakter dan latar belakang yang beragam ditinjau dari potensi akademik, daerah asal, atau jenis kelamin yang berbeda. Diharapkan dengan penggunaan model pembelajaran STAD pada penelitian ini akan mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik terhadap materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel.

Oleh karena itu, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar Peserta Didik Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel pada Kelas VIIA SMP Negeri 1 Suruh Kabupaten Semarang Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020”

Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah peneliti ungkap maka yang menjadi fokus perumusan masalah adalah : “ Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatitif tipe STAD akan mampu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 1 Suruh Kabupaten Semarang pada materi persamaan dan pertidaksamaan satu variabel”.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian perbaikan pembelajaran yang peneliti laksanakan adalah :

  1. Men Deskripsikan dampak penggunaan media pembelajaran mampu meningkatkan motivasi peserta didik untuk mempelajari materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel.
  2. Men Deskripsikan dampak penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik dalam mempelajari materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel.
  3. Memenuhi syarat kenaikan pangkat dari golongan IVa ke golongan IVb.

Manfaat Penelitian

Bagi peserta didik

  • Peserta didik lebih termotivasi dalam belajar Matematika.
  • Peserta didik merasa lebih percaya diri.
  • Peserta didik memiliki rasa tanggung jawab.

Bagi guru

Memberikan alternatif pemecahan masalah pada guru saat menghadapi peserta didik yang kurang termotivasi dalam belajar Matematika.

Bagi sekolah

Memberikan masukan tentang model pembelajaran yang dapat dijadikan pijakan untuk mengembangkan pembelajaran Matematika.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Belajar

Menurut Winkel (1995 : 53) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Menurut Thorndike (1997 : 3) belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respon (yang juga bisa berbentuk pikiran, perasaan, atau gerakan). Perubahan tingkah laku itu boleh berwujud sesuatu yang kongkrit (dapat diamati), atau yang non kongkrit (tidak bisa diamati). Menurut Fosnot (1997 : 6) belajar bukanlah hasil perkembangan, melainkan merupakan perkembangan itu sendiri, suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang. Menurut Ausubel, Novak, dan Hanesian (1997 : 53), ada dua jenis belajar (1) belajar bermakna (meaningful learning) dan (2) belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai oleh seseorang yang sedang belajar. Belajar menghafal perlu jika seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang telah dia ketahui. Sedangkan menurut Slameto (2003 : 2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dari definisi diatas secara umum dapat dikatakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang lebih baik melalui latihan atau pengalaman. Perubahan tingkah laku tidak hanya terkait dengan perubahan ilmu pengetahuan tapi juga berbentuk keterampilan, sikap pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri.

Motivasi Belajar

Motivasi berasal dari kata bahasa latin “movere” yang berarti “menggerakkan”. Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Motif juga dapat diartikan sebagai suatu kondidi intern (kesiapsiagaan). Menurut Mc Donald (dalam Sardiman, 2001 : 71), motivasi adalah perubahan energy dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Sedangkan Wlodkowski (1997 : 41) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang member arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.

Motivasi adalah keadaan yang timbul dalam diri manusia yang muncul terangsang oleh tujuan yang menyangkut soal kebutuhan. Motivasi ada dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa paksaan/dorongan orang lain. Motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar. Untuk merangsang, meningkatkan dan memelihara motivasi siswa dalam belajar ada empat kategori kondisi motivasional yang harus diperhatikan yaitu (1) perhatian (Attention), (2) relevansi (Relevance), (3) kepercayaan diri (Confidence), dan (4) kepuasaan (Satisfaction).

Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dilakukan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.

Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar iru sendiri.

Menurut Poerwanto (1986 : 28) prestasi belajar yaitu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport. Menurut Winkel (1996 : 17) prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Sedangkan menurut S. Nasution (1996 : 17) prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berpikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yaitu : kognitif, afektif dan psikomotor. Sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target ketiga kriteria tersebut. Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak, dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan seseorang dalam mempelajari materi yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi.

Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain : faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor dari luar siswa (ekstern). Faktor intern bersifat biologis yaitu kecerdasan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi, sedangkan faktor ekstern antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat, dan lain sebagainya.

Teori-teori Belajar yang Mendukung Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Menurut Muhammad Nur pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok kecil yang saling membantu dalam belajar (1998 : 16). Tiap-tiap kelompok terdiri dari anak yang berbeda-beda kemampuan berpikirnya. Dalam kelompok mereka dapat berlatih dan mengembangkan keterampilan-keterampilan yang spesifik yang diperlukan dalam pembelajaran.

Menurut Muslimin Ibrahim (2001: 16), ada tiga tujuan pembelajaran kooperatif yang akan dicapai yaitu : 1) hasil belajar akademik; 2) penerimaan terhadap keberagaman; 3) pengembangan keterampilan sosial

Hasil belajar akademik yang dimaksudkan meliputi pemahaman konsep-konsep sulit serta peningkatan kinerja dalam tugas-tugas akademik. Heterogenitas kelas yang menyebabkan adanya kelompok atas dan kelompok bawah dimanfaatkan sehingga mereka saling menguntungkan dalam belajar.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Student Team Achieve Divisions (STAD) merupakan model belajar kooperatif yang paling sederhana. Salah satu cirri dari STAD adalah siswa dalam kelompoknya menggunakan bantuan Lembar Kerja Siswa atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian di dalam kelompoknya siswa saling membantu satu sama lainnya untuk memahami bahan pelajaran tersebut.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Suruh Tahun Pelajaran 2019/2020. Jumlah peserta didik kelas VII A sebanyak 32 peserta didik yang terdiri dari 14 orang peserta didik laki-laki dan 18 orang peserta didik perempuan, dengan kemampuan yang heterogen. Waktu penelitian dilaksanakan selama 3 bulan mulai bulan Januari 2020 dan berakhir sampai dengan bulan Maret 2020.

Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan :

Lembar Observasi Guru

Observasi guru dilaksanakan dengan mengamati kegiatan pada proses belajar mengajar. Aspek guru yang diamati adalah kesesuaian kegiatan dengan rencana perbaikan pembelajaran, perilaku proses belajar mengajar, perangkat proses belajar mengajar, perilaku guru

Kuis

Pengukuran hasil belajar untuk mengetahui peningkatan prestasi peserta didik dilakukan dengan menggunakan kuis. Kuis ini dilaksanakan pada setiap akhir siklus. Model tes yang digunakan adalah essay, karena model ini mempunyai daya kreatifitas yang tinggi. Dengan soal model essay dapat diketahui kemampuan dan tingkat pemahaman peserta didik dalam mengerjakan soal-soal kuis. Hasil pekerjaan peserta didik dianalisis untuk dapat mengetahui pemahaman peserta didik.

Analisis Data

Pada tahapan ini dilakukan analisis data yang telah dicapai peserta didik melalui evaluasi dalam bentuk kuis. Hasil analisis pada siklus I digunakan untuk kegiatan siklus berikutnya. Untuk mengetahui peningkatan prestasi peserta didik dilihat dari ketuntasan belajarnya digunakan rumus persentase. Menurut Arikunto (1993:349) keuntungan menggunakan persentase sebagai alat untuk menyajikan informasi adalah bahwa pembaca akan dengan mudah mengetahui seberapa besar sumbangan tiap-tiap aspek di dalam keseluruhan konteks permasalahan yang sedang dibicarakan. Suatu kelas dapat disebut tuntas belajar secara klasikal apabila di kelas tersebut telah terdapat  85% peserta didik yang telah mendapatkan nilai  KKM (75).

Indikator Kinerja

Indikator kinerja dalam PTK ini diharapkan pada akhir siklus II terjadi peningkatan motivasi belajar peserta didik dan  85 % peserta didik kelas VII A SMP Negeri 1 Suruh mendapat nilai pada materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel  75.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kegiatan perbaikan pembelajaran ini dilakukan peneliti dibantu oleh teman sejawat yang bertindak sebagai pengamat atau observer. Pola yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Materi yang dijadikan obyek perbaikan pembelajaran adalah Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel, sedangkan subyek penelitiannya adalah peserta didik kelas VII A SMP Negeri 1 Suruh Kabupaten Semarang tahun pelajaran 2019/2020. Proses dilaksanakan pada semester 2 pada bulan Januari dan Februari, siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan dan siklus II dilaksanakan dua kali pertemuan.

 Deskripsi Kondisi Awal

Motivasi belajar siswa sebelum dilakukan tindakan kelas sangatlah rendah. Pembelajaran konvensional yang dilaksanakan tidak dapat membuat peserta didik termotivasi untuk mempelajari materi Persamaan dan pertidaksamaan Linear Satu Variabel karena merupakan materi pembelajaran yang membuat peserta didik harus berhadapan dengan hal-hal yang abstrak. Prestasi belajar siswa sebelum dilakukan tindakan menunjukkan prestasi belajar yang rendah yaitu rata-rata ulangan harian sebesar 54,48. Hanya ada 8 peserta didik (25,8%) yang dapat mencapai KKM sedangkan 23 peserta didik (74,2%) belum memenuhi KKM. Nilai terendah yang diperoleh peserta didik adalah 20 sedangkan nilai tertingginya adalah 100.

 Deskripsi Per Siklus

Siklus I

Data Tentang Perencanaan

Peneliti telah melakukan diskusi dengan teman sejawat untuk menentukan buku-buku penunjang yang akan digunakan sebagai bahan pembelajaran. Peneliti juga menyiapkan alat peraga berupa alat peraga timbangan. Peneliti menyiapkan rencana perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada minggu ke-4 bulan Januari 2020 dan minggu pertama bulan Februari 2020. Peneliti juga menyiapkan lembar observasi agar teman sejawat sebagai pengamat mempunyai fokus pengamatan sehingga tidak keluar dari tujuan pembelajaran.

Data Tentang Pelaksanaan

Sesuai dengan rencana yang telah disusun maka pada tanggal 20 Januari 2020 dilaksanakan pertemuan pertama dilanjutkan pertemuan kedua pada tanggal 3 Februari 2020. Langkah-langkah pembelajaran terlaksana sesuai dengan rencana perbaikan pembelajaran siklus I. Pembelajaran berlangsung sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang telah direncanakan. Pembelajaran berjalan cukup lancar, tanya jawab, kerja kelompok sudah mulai lancar. Pada pertemuan kedua mulai dapat dilaksanakan kegiatan presentasi hasil kerja kelompok secara sederhana. Kegiatan pada pertemuan kedua diakhiri dengan pelaksanaan evaluasi berupa kuis yang dikerjakan oleh masing-masing anggota kelompok secara individual. Analisis hasil evaluasi belajar peserta didik terlampir dalam laporan ini.

Dari 31 peserta didik yang mengikuti evaluasi hanya 8 peserta didik (25,8%) yang dapat mencapai KKM.

Nilai  65 merupakan grafik tertinggi yang berarti masih banyak peserta didik yang belum memahami materi pembelajaran.

Peserta didik yang mencapai KKM meningkat dari 8 peserta didik (25,8%) menjadi 14 peserta didik (43,8%).

Berdasarkan data-data yang diperoleh pada perbaikansiklus I, terlihat adanya peningkatan pemahaman peserta didik terhadap materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel dibandingkan dengan sebelum diadakan perbaikan pembelajaran.

Peningkatan tersebut juga dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Sebelum perbaikan pembelajaran siklus I dari 31 peserta didik yang mengerjakan kuis hanya ada 8 peserta didik (25,8%) yang memperoleh nilai memenuhi KKM. Sedangkan 23 peserta didik (74,2%) tidak dapat mencapai KKM atau belum tuntas belajar.
  2. Pada perbaikan pembelajaran siklus I, dari 32 peserta didik yang mengerjakan kuis 14 peserta didik (43,8%) mencapai ketuntasan belajar, sedang 18 peserta didik (56,2%)) belum tuntas belajar.
  3. Prestasi belajar peserta didik mengalami peningkatan dari 25,8% menjadi 43,8% atau meningkat sebesar 18%.
  4. Rata-rata nilai peserta didik sebelum perbaikan 54,48 meningkat menjadi 69,63 pada perbaikan pembelajaran siklus I. Terjadi peningkatan rata-rata nilai sebesar 15,15. Ini berarti prestasi peserta didik mengalami peningkatan walaupun dari analisis nilai didapatkan data bahwa pemahaman peserta didik terhadap materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel masih rendah.

Data pengamatan

Dari observasi teman sejawat diperoleh data sebagai berikut :

  1. Kerja kelompok peserta didik masih kurang efektif. Masih banyak siswa pasif selama bekerja dalam kelompoknya.
  2. Penggunaan media pembelajaran belum maksimal, masih cukup banyak siswa yang tidak memperhatikan.

Format observasi yang digunakan teman sejawat untuk mengamati kinerja peneliti adalah lembar observasi sistematis. Dalam format lembar observasi dicantumkan aspek-aspek yang menjadi fokus pengamatan, dimana aspek-aspek yang diobservasi tersebut ditetapkan berdasarkan hasil kesepakatan antara peneliti dengan teman sejawat.

Refleksi

Setelah proses pembelajaran siklus I berakhir dan data nilai kuis dianalisis, peneliti mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung.

Hasil dari refleksi yang peneliti lakukan dapat peneliti uraikan sebagai berikut :

  1. Kemampuan pemahaman peserta didik mengalami peningkatan.
  2. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkatkan motivasi peserta didik walaupun masih banyak peserta didik yang belum terlibat secara aktif dalam proses kerja kelompok.
  3. Peserta didik mulai termotivasi untuk berdiskusi dengan teman satu tim, bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas kelompok.
  4. Mulai terbentuk rasa peduli terhadap teman satu tim saling membantu untuk lebih memahami materi pembelajaran.
  5. Mulai muncul keberanian peserta didik untuk berbicara di depan teman satu kelas melalui presentasi sederhana hasil kerja kelompok.

Siklus II

Data Tentang Perencanaan

Peneliti telah melakukan diskusi dengan teman sejawat untuk meningkatkan penggunaan media pembelajaran agar perbaikan pembelajaran siklus II lebih meningkat. Peneliti juga menyiapkan rencana perbaikan pembelajaran siklus II yang lebih menekankan pada pembahasan lebih lanjut materi Persamaan Linear Satu Variabel yang dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 2020. Langkah-langkah pembelajaran terlampir pada laporan ini. Untuk pengamatan dari teman sejawat, peneliti menyiapkan lembar observasi agar teman sejawat sebagai pengamat mempunyai fokus pengamatan.

Data Tentang Pelaksanaan

Sesuai dengan perencanaan yang telah disusun bersama teman sejawat maka pada tanggal 17 Februari 2020 pertemuan pertama perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan dilanjutkan dengan pertemuan kedua pada tanggal 24 Februari 2020. Langkah-langkah pembelajaran terlaksana sesuai dengan rencana. Diskusi kelompok, kerja kelompok serta presentasi dari kelompok berjalan dengan lancar. Proses perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan dibandingkan proses perbaikan pembelajaran siklus I. kegiatan pembelajaran diakhiri dengan pelaksanaan evaluasi berupa kuis untuk peserta didik. Peserta didik mengerjakan kuis secara individual. Soal kuis dan analisis hasil evaluasi terlampir dalam laporan ini.

Peningkatan yang terjadi pada proses perbaikan siklus II dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Pada perbaikan pembelajaran siklus I dari 32 peserta didik yang mengerjakan kuis terdapat 14 peserta didik atau 43,8% yang mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 18 peserta didik atau 56,2% peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar.
  • Pada perbaikan pembelajaran siklus II, dari 34 peserta didik yang mengerjakan kuis terdapat 28 peserta didik atau 87,5% telah mencapai ketuntasan belajar dan hanya 4 peserta didik atau 12,5% belum tuntas belajar. Ketuntasan belajar kelas terjadi karena peserta didik tuntas dalam kelas mencapai 85%.
  • Rata-rata nilai pada perbaikan pembelajaran siklus I sebesar 69,63 sedang nilai rata-rata pada perbaikan pembelajaran siklus II sebesar 79,53 , terjadi peningkatan rata-rata nilai sebesar 9,9. Hal ini menunjukkan prestasi peserta didik mengalami peningkatan cukup signifikan.

Terlihat adanya peningkatan yang cukup signifikan tentang perolehan nilai pada perbaikan pembelajaran siklus II.  Rentang nilai dengan frekuensi tertinggi adalah 87-93. Ini berarti peningkatan prestasi peserta didik cukup signifikan yang menjadi indikator keberhasilan perbaikan pembelajaran siklus II dan tidak perlu diadakan perbaikan pembelajaran siklus berikutnya.

Data Pengamatan

Dari observasi teman sejawat diperoleh data sebagai berikut :

  • Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menarik perhatian peserta didik.
  • Penggunaan alat peraga timbangan pada pembelajaran materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
  • Kerjasama peserta didik meningkatkan aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
  • Hasil belajar peserta didik meningkat setelah pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

Format lembar observasi yang digunakan teman sejawat untuk mengamati kerja peneliti pada perbaikan pembelajaran siklus II adalah lembar observasi sistematis. Aspek-aspek yang menjadi fokus pengamatan ditetapkan berdasarkan hasil diskusi dan kesepakatan antara peneliti dengan teman sejawat.

Refleksi

Setelah proses perbaikan pembelajaran siklus II berakhir dan data nilai telah dianalisis, peneliti mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil dari refleksi yang peneliti lakukan dapat peneliti uraikan sebagai berikut :

  • Pemahaman peserta didik kelas VII A SMP Negeri 1 Suruh terhadap materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel meningkat.
  • Penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
  • Penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. Terlihat siswa lebih antusias dalam kelompoknya.
  • Keberanian peserta didik meningkat terlihat dari semakin menariknya presentasi hasil kerja kelompok yang dilakukan oleh peserta didik.
  • Prestasi belajar peserta didik meningkat cukup signifikan terlihat dari nilai kuis yang semakin tinggi rata-ratanya.

Pembahasan Per Siklus

Siklus I

Sebelum pelaksanaan perbaikan pembelajaran terhadap peserta didik kelas VII A SMP Negeri 1 Suruh, hasil belajar peserta didik terhadap materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel sangat rendah dari 31 peserta didik yang mengerjakan kuis hanya 8 peserta didik atau 25,8% mencapai ketuntasan belajar.

Perbaikan pembelajaran siklus I dengan upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik dilaksanakan melalui penggunaan model belajar kooperatif tipe STAD. Peningkatan hasil belajar tersebut terjadi karena motivasi belajar peserta didik meningkat setelah proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Pada perbaikan pembelajaran siklus I terjadi peningkatan hasil belajar dibandingkan dengan sebelum dilaksanakan perbaikan pembelajaran. Rata-rata kelas mengalami peningkatan dari 54,48 menjadi 69,63 pada perbaikan pembelajaran siklus I. Jumlah peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar mengalami peningkatan dari 25,8% menjadi 43,8% pada perbaikan pembelajaran siklus I. Dari hasil observasi juga diketahui bahwa aktifitas guru dan peserta didik mengalami perubahan yang menuju pada perbaikan.

Siklus II

Pada perbaikan pembelajaran siklus I, hasil belajar yang diperoleh peserta didik masih rendah. Dari 32 peserta didik, baru 14 peserta didik atau 43,8% mencapai ketuntasan belajar. Hal ini disebabkan karena penggunaan model pembelajaran baru masih kurang mendapat perhatian dari peserta didik. Dengan upaya meningkatkan keefektifan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada perbaikan pembelajaran siklus II diperoleh peningkatan hasil belajar peserta didik yang cukup signifikan

Pada perbaikan pembelajaran siklus II hasil yang diperoleh peserta didik dari pelaksanaan evaluasi terlihat mengalami kenaikan cukup signifikan. Rata-rata kelas dari 69,63 pada perbaikan pembelajaran siklus I menjadi 79,53 pada perbaikan pembelajaran siklus II. Ketuntasan belajar dari 14 peserta didik atau 43,8% pada perbaikan pembelajaran siklus I menjadi 28 peserta didik atau 87,5% pada perbaikan pembelajaran siklus II yang berarti telah tercapai ketuntasan belajar kelas. Dari hasil yang telah tercapai peneliti merasa telah berhasil sehingga tidak perlu dilanjutkan ke perbaikan pembelajaran siklus berikutnya.

PENUTUP

Simpulan

Dari hasil yang diperoleh setelah pelaksanaan perbaikan pembelajaran dari siklus I maupun siklus II, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik pada proses pembelajaran yang diikuti dengan peningkatan prestasi belajar peserta didik. Sebelum perbaikan pembelajaran prestasi belajar peserta didik sangat rendah. Dari 31 peserta didik yang mengikuti evaluasi hasil belajar hanya 8 peserta didik atau 25,8% yang dapat mencapai ketuntasan belajar. Pada perbaikan pembelajaran siklus I terjadi peningkatan ketuntasan belajar menjadi 14 peserta didik atau 43,8% dan kemudian pada perbaikan pembelajaran siklus II menjadi 28 peserta didik atau 87,5% mencapai ketuntasan belajar. Pada perbaikan pembelajaran siklus II telah tercapai ketuntasan belajar klasikal karena peserta didik yang mencapai tuntas belajar telah mencapai 85% dan peneliti telah menganggap perbaikan pembelajaran pada siklus II telah mencapai keberhasilan sehingga perbaikan pembelajaran tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pembelajaran Matematika dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik yang akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.

Rekomendasi

Dari kesimpulan diatas maka dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD secara optimal disertai dengan pengelolaan kelas yang baik dapat meningkatkan prestasi belajar peserrta didik. Selain itu dalam pembelajaran hendaknya guru telah mempersiapkan kerangka materi yang akan disampaikan sehingga dapat menggunakan waktu secara efisien dan dapat mencapai hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Irawan, Prasetya, dkk (1997). Teori Belajar, Motivasi, dan Keterampilan   Mengajar, Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ismail, dkk (2007). Pembaharuan dalam Pembelajaran Matematika, Jakarta : Universitas Terbuka.

Ridwan 202, Ketercapaian Prestasi Belajar, wordpress.com/2008/05/03.

Suparno, Paul (1997). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Boston : Pustaka Filsafat.

Suhartono, Suparlan (2007). Filsafat Pendidikan, Jogjakarta : Ar-Ruzz Media

Slameto (2003). Belajar dan Fakto-faktor yang Mempengaruhinya, Yogyakarta : Aksara

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, (2007). Pendidikan Disiplin Ilmu, Bandung : PT Imperial Bhakti Utama.

Wahyudin, Dinn, dkk (2004). Pengantar Pendidikan, Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K, dkk (2003). Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Winkel, W.S (1996). Psikologi Pengajaran, Jakarta : PT Grasindo.