PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DAUR AIR

DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL MELALUI

MODEL PEMBELAJARAN THINK-PAIR-SHARE (TPS)

(Penelitian Tindakan Kelas Pada Peserta Didik Kelas V

SD Negeri Tlogowungu Tahun Pelajaran 2016/2017)

 

Ning Suhandiyah

Guru Kelas V SD Negeri Tlogowungu

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep Daur Air dengan penggunaan media audio visual melalui model pembelajaran think pair share (TPS) pada peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu, Japah, Blora Tahun Pelajaran 2016/2017. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu, Japah, Blora yang berjumlah 21 peserta didik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, observasi, wawancara dan tes. Uji validitas data pada penelitian ini menggunakan triangulasi data dan triangulasi metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif dan analisis deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penggunaan media audio visual dan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan pemahaman konsep Daur Air peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu. Peningkatan pemahaman konsep tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai pemahaman konsep peserta didik pada setiap siklus, yaitu nilai rata-rata pemahaman konsep peserta didik sebelum tindakan hanya sebesar 64,73; pada Siklus I nilai rata-rata pemahaman konsep peserta didik menjadi 75,12 dan pada Siklus II meningkat menjadi 78,6. Sebelum dilaksanakan tindakan, peserta didik yang memperoleh nilai di atas KKM (≥71) hanya sebanyak 12 peserta didik atau 46,2%, pada Siklus I meningkat menjadi 19 peserta didik atau 73,1% dan pada Siklus II meningkat lagi menjadi 23 peserta didik atau 88,5%. Simpulan penelitian ini adalah penggunaan media audio visual melalui model pembelajaran Think Pair Share (TPS) meningkatkan pemahaman konsep Daur Air peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu, Japah, Blora Tahun Pelajaran 2016/2017.

Kata Kunci: Pemahaman, Daur Air, Media Audio Visual, Model Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS).

 

PENDAHULUAN

Pendidikan di Indonesia telah berulang kali mengalami perubahan seiring dengan kemajuan zaman. Perubahan yang terjadi diharapkan juga mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Meningkatnya kualitas pendidikan dapat dilihat dari banyaknya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas itu sendiri. Pada era globalisasi ini, SDM yang berkualitas akan menjadi tumpuan utama agar suatu bangsa dapat berkompetisi dan bijaksana dalam mengelola Sumber Daya Alam (SDA). Sehubungan dengan hal tersebut, pendidikan formal merupakan salah satu wahana dalam membangun SDM yang berkualitas. Salah satu mata pelajaran yang turut berperan penting dalam pendidikan wawasan, keterampilan dan sikap ilmiah sejak dini bagi anak adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya (Darmojo dan Kaligis, 1992: 3). IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis oleh manusia yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan manusia. Pembelajaran IPA berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh rahasia dan tak habis-habisnya. Pembelajaran IPA di SD hendaknya memupuk minat rasa ingin tahu peserta didik secara alamiah terhadap alam dan segala isinya. Peserta didik juga diharapkan dapat memahami konsep-konsep pada mata pelajaran IPA.

Hingga saat ini, pembelajaran di Indonesia masih di dominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi dan seringkali mengabaikan kemampuan awal peserta didik. Pada proses pembelajaran peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang abstrak (hanya membayangkan). Padahal peserta didik membutuhkan pemahaman konsep yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya karena pembelajaran tidak hanya berupa pemindahan pengetahuan, tetapi sesuatu yang harus dipahami oleh peserta didik yang nantinya akan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah diadakan pengamatan di SD Negeri Tlogowungu, Japah, Blora bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA masih bersifat konvensional, yaitu (1) guru menjelaskan secara mendetail dengan ceramah berulang-ulang; (2) peserta didik hanya mencatat dan menghafalkan konsep; (3) pembelajaran tidak disertai dengan penggunaan media yang menarik; (4) strategi/model pembelajaran yang digunakan belum inovatif (cenderung konvensional). Pembelajaran yang demikian menyebabkan peserta didik menjadi pasif dan mudah mengalami kejenuhan dalam belajar. Kejenuhan tersebut menyebabkan rendahnya pemahaman konsep yang dimiliki peserta didik.

Salah satu materi yang penting untuk dikuasai peserta didik dalam pembelajaran IPA khususnya di Kelas V Semester 2, yaitu Daur/Siklus Air. Materi ini menuntut peserta didik untuk dapat mengerti dan memahami proses Daur Air, berlanjut hingga sampai materi air sebagai SDA yang harus dilestarikan keberadaannya untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Kita ketahui saat ini sudah banyak pencemaran air yang diakibatkan adanya kegiatan manusia yang kurang memperhatikan lingkungan. Peserta didik sebagai generasi penerus bangsa diharapkan peduli lingkungan dan mampu melestarikannya. Apabila pemahaman konsep tentang Daur Air dan kegunaan air dapat dikuasai peserta didik dengan baik. Peserta didik diharapkan lebih memperhatikan kelestarian lingkungan.

Berdasarkan hasil tes pada kegiatan prasiklus yang dilakukan pada peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu, Japah, Blora menunjukkan bahwa nilai pemahaman konsep Daur Air hanya sebesar 66,6% peserta didik mencapai KKM ≥ 71 atau sebanyak 14 peserta didik dari jumlah keseluruhan 21 peserta didik. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Beberapa solusi alternatif agar pemahaman konsep IPA terutama materi Daur Air dapat dipahami peserta didik dengan baik antara lain dengan menggunakan media yang menarik bagi peserta didik dan juga pemilihan strategi/model pembelajaran yang tepat.

Media pembelajaran merupakan salah satu unsur yang memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar dapat membantu guru memperkaya wawasan peserta didik tanpa menuntut mereka untuk selalu menghafal. Berbagai bentuk dan jenis media pembelajaran yang digunakan oleh guru akan menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi peserta didik. Penggunaan media pembelajaran dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru dalam belajar, bahkan juga dapat membawa pengaruh psikologis terhadap peserta didik. Selain itu, penggunaan media pada kegiatan pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dalam menyampaikan pesan dan isi pelajaran.

Salah satu media yang menarik untuk digunakan dalam pembelajaran IPA materi Daur Air, yaitu Media Audio Visual (video). Video merupakan suatu medium yang sangat efektif untuk membantu proses pembelajaran. Video juga merupakan bahan ajar non cetak yang kaya informasi dan tuntas karena dapat sampai ke hadapan peserta didik secara langsung. Disamping itu, video menambah suatu dimensi baru terhadap pembelajaran, hal ini karena karakteristik teknologi video yang dapat menyajikan gambar bergerak pada peserta didik disamping suara yang menyertainya. Media ini dapat membantu mengajarkan konsep abstrak menjadi lebih konkret, sehingga akan mempermudah peserta didik dalam memahami suatu konsep salah satunya mengenai proses Daur Air (Daryanto, 2011: 88).

Video sangat sesuai digunakan dalam materi Daur Air karena Daur Air merupakan proses pergerakan air dari bumi ke atmosfer hingga ke bumi lagi melalui proses evaporasi (penguapan), kondensasi (pengembunan) dan presipitasi (curahan). Dalam proses pergerakan air tersebut akan sangat menarik bagi peserta didik apabila ditampilkan dalam bentuk video gambar bergerak disertai suara dalam suatu animasi.

Selain menggunakan media yang menarik dalam pemecahan masalah di atas, juga perlu memperhatikan pemilihan model pembelajaran yang tepat agar pembelajaran dapat lebih bermakna, sehingga peserta didik bisa menempatkan diri sebagai manusia yang memerlukan bekal untuk hidupnya. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi/model pembelajaran yang dapat membangkitkan minat peserta didik, mengaktifkan peserta didik dan mampu mengajak peserta didik untuk ikut aktif dalam pembelajaran.

Salah satu model pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran mengenai daur air ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share (TPS) atau berfikir berpasangan berbagi, yaitu jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi peserta didik. TPS digunakan untuk membandingkan tanya jawab kelompok keseluruhan. Langkah-langkah yang digunakan dalam strategi ini, yaitu: (1) berpikir (thinking), guru mengajukan suatu pertanyaan berkaitan dengan pelajaran, dan meminta peserta didik menggunaakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawabannya, (2) berpasangan (pairing), guru meminta peserta didik untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh, (3) berbagi (sharing), guru meminta masing-masing pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas, hingga setengah dari jumlah pasangan menyampaikan hasilnya.

Dengan demikian, pembelajaran akan lebih diwarnai Student Centered Learning daripada Teacher Centered Learning, sehingga dengan media audio visual melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dalam pembelajaran IPA tentang Daur Air peserta didik diharapkan tidak hanya sekadar menghafal dalam mempelajari konsep Daur Air, tetapi dapat memahami konsep di atas secara bermakna.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan judul “Peningkatan Pemahaman Konsep Daur Air dengan Media Audio Visual melalui Model Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) (Penelitian Tindakan Kelas pada Peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu Japah Blora Tahun Pelajaran 2016/2017)”.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Kelas V SD Negeri Tlogowungu, Japah, Blora. Waktu penelitian ini pada Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017.

Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berlangsung dalam dua siklus. Subjek penelitian ini, yaitu peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu, Japah, Blora dengan jumlah 21 peserta didik yang terdiri dari 10 perempuan dan 11 laki-laki.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, observasi, wawancara dan tes. Teknik validitasi data dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi data dan triangulasi metode. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis model interaktif dan analisis model deskriptif komparatif.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan peneliti pada pembelajaran IPA umumnya menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih konvensional, yaitu: 1) guru hanya menjelaskan berulang-ulang dengan ceramah, 2) peserta didik hanya disuruh membaca buku, dan menghafal konsep tanpa memahaminya, 3) pembelajaran tidak disertai dengan penggunaan media yang menarik dan strategi/model pembelajaran yang inovatif. Keadaan ini membuat peserta didik cenderung malas belajar dan pasif karena kurang tertarik dengan pembelajaran. Keadaan seperti ini membuat pemahaman konsep yang dimiliki peserta didik rendah.

Pemahaman konsep peserta didik pada materi Daur Air masih tergolong rendah, terbukti dari masih banyaknya jumlah peserta didik yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 71. Sebanyak 14 peserta didik atau 66,6% dan peserta didik yang mencapai KKM sebanyak 7 peserta didik atau 33%. Nilai rata-rata peserta didik pada prasiklus adalah 62,57.

Deskripsi Siklus I

Pembelajaran pada Siklus I, guru menampilkan video Daur Air dengan menggunakan layar LCD di depan kelas. Peserta didik menyimak materi tentang kegunaan air dan proses Daur Air yang disampaikan pengajar melalui media audio visual dengan metode ceramah bervariasi dan tanya jawab. Setelah selesai menyimak, pengajar menugasi peserta didik untuk mendeskripsikan proses daur air tersebut secara individu (think). Pengajar menugasi peserta didik untuk menuliskan pada lembaran kertas mengenai proses daur air yang telah mereka pikirkan tersebut.

Dalam pembelajaran tersebut, peserta didik dibentuk menjadi kelompok berpasangan (pair). Pembentukan kelompok berpasangan di sini dengan cara acak, yaitu dengan permainan angka. Selanjutnya peserta didik dalam kelompok berpasangan tersebut berusaha mendiskusikan dan menyamakan pendapat mengenai proses Daur Air (pair) dengan mengerjakan lembar kerja peserta didik untuk kelompok. Masing-masing kelompok berpasangan menyampaikan kepada keseluruhan kelas mengenai jawaban dari kelompok mereka, hingga setengah dari jumlah pasangan menyampaikan jawaban mereka (share). Selanjutnya pengajar memberikan umpan balik yang positif dan konfirmasi hasil diskusi didasarkan pada berbagai sumber.

Prinsip pembelajaran tersebut berlanjut pada materi berikutnya tentang kegiatan manusia yang mempengaruhi proses daur air dan cara penghematan air.

Deskripsi Siklus II

Pembelajaran pada Siklus II pada prinsipnya juga sama pada pembelajaran pada Siklus I. Yang membedakan adalah pasangan yang dibentuk tidak terdiri dari dua peserta didik, tetapi terdiri dari tiga peserta didik. Dengan demikian terbentuk tiga pasangan sesuai dengan pembagian pasangan oleh guru. Pada peretmuan pertama, pada materi berikutnya tentang kegunaan air dan proses Daur Air. Sedangkan pada pertemuan kedua pada materi berikutnya tentang kegiatan manusia yang mempengaruhi proses daur air dan cara penghematan air.

Pembahasan

Perbandingan tindakan antarsiklus dan pembahasan hasil penelitian tentang penggunaan media audio visual dan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan pemahaman konsep Daur Air pada peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu, Japah, Blora. Dari hasil pengamatan dan analisis yang dilakukan dapat dilihat adanya peningkatan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran, kegiatan guru dalam mengajar, penggunaan media audio visual dalam pembelajaran dan strategi pembelajaran yang digunakan serta peningkatan pemahaman konsep peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu.

Perbandingan nilai diskusi kelompok berpasangan (pair) antara Siklus I dan Siklus II dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 19. Nilai Perbandingan diskusi kelompok peserta didik Siklus I dan Siklus II.

Keterangan Siklus I Siklus II
Pertemuan ke-1 Pertemuan ke-2 Pertemuan ke-1 Pertemuan ke-2
Skor rata-rata 72,78 74,76 82,95 83.09
Jumlah peserta didik tidak tuntas 8 5 3 0

 

Perbandingan hasil nilai tes individu peserta didik antara siklus I dan siklus II dapat dijabarkan ke dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 20. Perbandingan nilai rata-rata tes individu peserta didik Siklus I dan Siklus II.

No Tindakan Nilai Rata-rata Tingkat Ketuntasan (%)
1 Siklus I 71 62
2 Siklus II 80,57 86

 

Perbandingan hasil perolehan nilai rata-rata pemahaman konsep peserta didik antara Prasiklus, Siklus I dan Siklus II dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 21. Data perbandingan nilai rata-rata pemahaman konsep Daur Air pada Prasiklus, Siklus I dan Siklus II.

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)=71 Nilai Rata-rata Pemahaman Konsep Daur Air Prosentase (%)
Prasiklus Siklus I Siklus II Prasiklus Siklus I Siklus II
62,57 76,71 81,27 67 71 86

 

Adapun data perbandingan pengamatan penggunaan media audio visual antara siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 23. Hasil pengamatan penggunaan Media Audio Visual.

Tindakan Siklus I Siklus II
Per-1 Per-2 Per-1 Per-2
Skor 2,5 2,75 3,0 3,5
Rata-rata 2,6 3,25

 

Sementara itu, hambatan-hambatan yang ditemui pada tiap siklus berbeda-beda. Adapun hambatan yang ditemukan pada Siklus I, antara lain: daya tarik media masih kurang, penggunaan efek suara yang kurang keras, pembentukan kelompok yang kurang tepat, masih kurangnya pengelolaan kelas, kurangnya variasi media audio visual, sehingga membuat peserta didik cepat bosan dan kurang maksimal dalam menyerap materi yang disampaikan. Selain itu peserta didik juga kurang aktif dalam pembelajaran. Hal tersebut menyebabkan peserta didik asal-asalan dalam menjawab soal evaluasi yang mengakibatkan nilai pemahaman konsep yang diperoleh peserta didik juga menjadi tidak maksimal.

Upaya untuk mengatasi hambatan pada Siklus I yang disempurnakan pada tindakan Siklus II, yakni perbaikan media pembelajaran dan model/strategi pembelajaran yang digunakan, antara lain dengan 1) penggunaan efek suara pada media audio visual yang lebih keras, 2) variasi dalam pembentukan kelompok, 3) menambah variasi media audio visual yang digunakan, tetapi tetap disesuaikan dengan materi, 4) peningkatan pengelolaan kelas dengan memaksimalkan penggunaan media dan model tersebut, 5) pemberian reward kepada peserta didik yang aktif.

Pembelajaran pada Siklus II sudah dikatakan berhasil karena sudah mencapai indikator kinerja yang ditentukan, sehingga tidak ada hambatan yang berarti. Dengan dilakukannya perbaikan-perbaikan tersebut ternyata dapat mengatasi kendala-kendala yang ditemui pada Siklus I dan dapat meningkatkan nilai pemahaman konsep peserta didik.

Selain media yang berperan penting dalam pembelajaran, pemilihan model/strategi pembelajaran yang tepat juga tidak kalah penting dalam mendukung keberhasilan dalam pembelajaran. Dalam hal ini, model kooperatif tipe TPS sangat mempengaruhi pola interaksi di kelas. Peserta didik yang kurang paham akan menjadi lebih paham setelah mereka berdiskusi dengan temannya. Mengingat banyaknya kelebihan yang dimiliki media audio visual dilengkapi dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS, maka kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran menjadi tidak begitu berarti.

Dengan demikian bisa diketahui bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep Daur Air peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu Japah Blora, yaitu menggunakan media audio visual melalui model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Penggunaan media audio visual ternyata dapat menjadikan pembelajaran IPA materi Daur Air menjadi menarik dan menyenangkan bagi peserta didik, ditambah lagi dengan kerja kelompok, sehingga nilai pemahaman konsep peserta didik meningkat.

PENUTUP

Kesimpulan

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) dan media audio visual meningkatkan pemahaman konsep Daur Air pada peserta didik Kelas V SD Negeri Tlogowungu Japah Blora Tahun Pelajaran 2016/2017.

Saran

Saran dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Peserta didik harus lebih aktif, kreatif, jujur, disiplin dan meningkatkan keberanian menyampaikan ide atau pendapat dalam proses pembelajaran untuk menambah pengetahuan, pemahaman, dan meningkatkan hasil belajar.
  2. Guru: a) hendaknya menggunakan media dan model/strategi pembelajaran yang sesuai, sehingga dapat memberikan kemudahan terhadap peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan tertentu, b) hendaknya berusaha meningkatkan kompetensi profesionalnya dalam merancang proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik dan c) mengupayakan tindak lanjut terhadap pembelajaran dengan menggunakan media audio visual dan model pembelajaran think pair share (TPS) dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan.
  3. Sekolah sebaiknya meningkatkan kualitas tenaga pendidiknya dengan mengadakan pelatihan bagi guru agar dapat menggunakan model pembelajaran yang inovatif dan media pembelajaran yang tepat, terutama media pembelajaran yang berbasis teknologi informasi. Kualitas tenaga pendidik yang lebih baik akan berpengaruh pada kualitas pembelajaran, karena pastinya akan terdapat inovasi dalam pembelajaran itu sendiri, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
  4. Peneliti yang hendak mengkaji permasalahan yang sama hendaknya lebih cermat dan lebih mengupayakan pengkajian teori-teori yang berkaitan dengan pembelajaran yang menggunakan media audio visual, dan juga model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS). Kajian teori yang lebih dalam digunakan untuk memperbaiki kekurangan dalam penerapannya sebagai salah satu solusi alternatif dalam meningkatkan pemahaman konsep peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Anitah, Sri. 2009. Teknologi Pembelajaran. Surakarta: UNS Press.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

_______, dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Arsyad, A. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Cahyo, AN. 2011. Berbagai Cara Latihan Otak & Daya Ingat dengan Menggunakan Ragam Media Audio Visual. Yogyakarta: DIVA Press.

Choiril Azmiyawati,dkk. (2008). IPA Salingtemas untuk Kelas V SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Depdiknas.

Darmodjo, H. 1992. Pendidikan IPA 1. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.

_______. 1992. Pendidikan IPA 2. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.

Daryanto. 2010. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.

Gunarti, R. 2010. Peningkatan Pemahaman Konsep Pecahan melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada Peserta Didik Kelas IV SD Negeri Jeron Nogosari Boyolali. Skripsi tidak dipublikasikan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Hamalik, Oemar. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.

Haryoko, S. (2009). Efektivitas Pemanfaatan Media Audio-Visual Sebagai Alternatif Optimalisasi Model Pembelajaran. Jurnal Edukasi@Elektro Vol. 5, No. 1.

Huda, Miftahul. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Indriana, Dina. 2011. Ragam Alat Bantu Media Pengajaaran. Yogyakarta: DIVA Press.

Isjoni. 2011. Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.

Lie, Anita. 2010. Cooperative Learning. Jakarta: Gramedia.

Makhrus, Syahrial dan Hadinata, Odo. 2008. Metode Pembelajaran IPA Panduan untuk Guru dan Orang Tua. Jakarta: Azka Press.

Prastowo, A. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: DIVA Press.

Sa’idah, NU. 2009. Peningkatan Pemahaman Konsep-konsep IPA melalui Pendekatan Contextual Teching and Learning (CTL) pada Peserta Didik Kelas V SD Negeri Sondakan. Skripsi tidak dipublikasikan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Sagala, Syaiful. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Santrock, J. W. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika.