PENGEMBANGAN TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE DI KALANGAN GURU MATEMATIKA

MELALUI PELATIHAN BERBANTUAN MODUL

 

Yuliana Nuhamara

Ade Iriani

Bambang Ismanto

FKIP Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Kristen Satya Wacana

 

ABSTRACT

The aim of this study is to develop product of training module of Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) mathematic teachers. The subject of this research are 6 mathematic teachers in 3 public junior high, district West Sumba. The type of this research is Research and Development by using ADDIE model which includes five stages. Stage analysis includes analysis of training module needs. Design stage includes the creation of a framework and the compilation of the competency map of the training module. Development stage includes the writing of training module and validation module by expert. Implementation stage has done through training of TPACK for mathematic teacher. Evaluation stage includes evaluation of observation results and questionnaire responses of trainees. The data are collected through interview, observation and questionnaire and analize using qualitative method. Data validation using triangulation technique and source. The results showed that: 1) the training has been done only about curriculum; 2) the weakness is the training that has been done only for once in one school 3) the training module that has been developed according ADDIE has validity score 80.6% by experts, good category. Training using TPACK module makes teacher use technology for their lesson plan.

Keywords: TPACK, modules, ADDIE, R&D

ABSTRAK

Peneltian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah produk berupa modul pelatihan Technologigal Pedagogical Content Knowledge (TPACK) guru matematika. Subjek penelitian yaitu 6 guru matematika dari 3 SMP di Kabpuaten Sumba Barat. Jenis penelitian ini yaitu penelitian dan pengembangan. Penelitian in menggunakan model ADDIE yang terdiri dari 5 tahap. Tahap analisis mencakup analisis kebutuhan modul pelatihan. Tahap desain mencakup pembuatan kerangka kerja dan penyusunan peta kompetensi modul pelatihan. Tahap pengembangan meliputi penulisan modul pelatihan dan modul validasi oleh ahli pada bidangnya. Tahapan implementasi dilakukan melalui pelatihan TPACK untuk guru matematika. Tahap evaluasi meliputi evaluasi hasil observasi dan tanggapan kuesioner peserta pelatihan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan kuesioner. Analisis data menggunakan metode kualitatif. Validasi data menggunakan teknik triangulasi dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pelatihan telah dilakukan hanya tentang kurikulum; 2) kelemahan pelatihan yang telah dilakukan adalah pelatihan sekali saja untuk satu sekolah 3) modul pelatihan yang dikembangkan berdasarkan model ADDIE dengan validasi modul rata-rata oleh para ahli adalah 80,6%, kategori baik. Pelatihan menggunakan modul TPACK membuat guru menggunakan technologi dalam rencana pembelajaran

Kata Kunci: TPACK, Modul, ADDIE, R&D

 

PENDAHULUAN

Guru memiliki pengaruh yang sangat besar kepada siswa (Kennedy, 1999: 55; Blazar & Kraft, 2017: 11). Kennedy dalam tulisannya yang berjudul The Role of Preservice Teacher Education mengemukakan bahwa perilaku guru saat ini merupakan cerminan dari perilaku guru dimasa lalu yang mendidiknya. Hal ini berarti guru merupakan seorang role model bagi siswanya. Sejalan dengan Kennedy, hasil penelitian yang dilakukan oleh Blazar & Kraft menunjukkan bahwa efek guru cukup besar terhadap sikap dan perilaku siswa hampir sama dengan efek guru terhadap prestasi siswa. Tidak heran jika ada slogan yang mengatakan guru digugu dan ditiru, karena guru selalu menjadi contoh bagi siswa bahkan tidak ada yang tahu kapan pengaruh tersebut akan hilang.

Menyadari peran guru sangat penting sehingga pemerintah menetapkan guru sebagai tenaga profesional (Pasal 2 Ayat 1: 6). Sebagai tenaga yang profesional, guru harus mempunyai kualifikasi akademik, sertifikat pendidikan dan kompetensi yang sesuai dengan bidangnya. Ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional (10 ayat 1) (UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan guru dalam bertindak sesuai dengan norma, agama dan hukum yang berlaku, berkepribadian jujur, dewasa dan menjadi teladan bagi siswa. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi secara efektif dengan warga sekolah maupun kelompok profesi dan bertindak objektif serta tidak diskriminatif. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam memahami karakteristik peserta didik, memahami teori belajar dan prinsip pembelajaran, mengembangkan kurikulum, evaluasi hasil belajar. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam penguasaan materi, struktur, konsep, mengusai standar kompetensi dan kompetensi dasar, mengembangkan materi secara kreatif dan memanfaatkan teknologi informasi untuk mengembangkan diri (Permendiknas, 2007: 9-15).

Standar proses dalam kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik menyebutkan bahwa prinsip pembelajaran yang digunakan harus memanfaatkan teknologi informasi dan komuniskasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran (Permendikbud, 2016: 2). Pengetahuan guru dalam mengintegrasikan teknologi dalam mengajar dan menguasai konten dikenal dengan Technological Pedagogical Content Knowledge yang selanjutnya akan disebut TPACK. TPACK secara garis besar menggambarkan hubungan antara tiga pengetahun yang harus dikuasai oleh guru yaitu pengetahuan teknologi, mengajar dan konten (Suryawati dkk, 2014: 68).

Studi pendahuluan dilakukan di Kabupaten Sumba Barat dengan mewawancarai 3 orang guru matematika. Agar dapat mewakili populasi maka sampel diambil secara random sehingga terpilih sebagai berikut: 1 orang guru matematika di SMP 1 Waikabubak, 1 orang guru matematika di SMP 3 Waikabubak dan 1 orang guru matematika di SMP 5 Lamboya yang merupakan ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika se-Kabupaten Sumba Barat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga guru tersebut diperoleh informasi bahwa rata-rata guru Barat yang mengampu mata pelajaran matematika belum dapat memanfaatkan teknologi dalam mengajar. Hal ini menyebabkan guru matematika di Sumba Barat cenderung mengajar hanya menggunakan satu sumber belajar dan mengajar secara monoton dengan metode ceramah. Akibatnya motivasi belajar siswa menjadi rendah (Wawancara, 16 & 18/9/2017 di Sumba Barat).

Sumba tidak menjadi satu-satunya daerah yang kemampuan gurunya kurang dalam menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ariani tahun 2015 menemukan bahwa TPACK sangat diperlukan oleh guru matematika dalam mengembangkan strategi khusus dalam mengintegrasikan teknologi yang mendukung standar pembelajaran di dalam kelas. Selain itu dalam penelitian yang sama ditemukan bahwa Guru matematika SD Banjarmasin mempunyai pengetahuan yang bagus dalam TPACK namun tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan TPACK pada pembelajaran (Ariani, 2015: 85-86). Penelitian yang dilakukan oleh Wulandari dan Iriani (2018) tentang pengembangan modul Pedagogical Content Knowledge untuk guru matematika terbukti meningkatkan kompetensi pedagogi dan professional guru.

Persoalan mendasar yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian ini yaitu belum adanya pelatihan tentang Technology Pedagogical Content Knowledge untuk diikuti oleh guru. Pelatihan yang selama ini diadakan oleh dinas pendidikan setempat hanya tentang kurikulum. Selain itu, tidak semua guru pernah mengikuti pelatihan yang selenggarakan oleh dinas. Oleh sebab itu peneliti bermaksud untuk membuat pelatihan tentang TPACK berbantuan modul. Harapannya dengan membaca modul TPACK yang dikembangkan dapat menjadi bahan referensi untuk guru dalam menyusun perangkat pembelajaran dalam hal ini materi ajar dan cara mengajar dengan lebih baik dengan memanfaatkan teknologi. Prosedur pengembangan modul dalam penelitian ini menggunakan pengembangan ADDIE. Pengembangan modul menggunakan model ADDIE karna model ini semua kegiatan pembelajaran yang direncanakan berfokus untuk membimbing siswa atau pembelajar dalam membangun pengetahuannya (Branch, 2009: 3).

Penelitian tentang pengembangan sumber belajar juga dilakukan oleh Natalina dkk yang diterbitkan Juni 2018 dalam prosiding seminar nasional dengan judul “pengembangan sumber belajar mandiri pengetahuan materi IPA bagi guru SMP mengacu pada uji Kompetensi Guru (UKG)”. Dalam penelitian dan pengembangan tersebut peneliti mengembangkan sumber belajar mandiri berupa buku dengan menggunakan model ADDIE. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sumber belajar mandiri pengetahuan materi IPA layak digunakan sebagai sumber belajar mandiri oleh guru untuk meningkatkan kompetensi profesional guru dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sumber belajar mandiri berupa buku terbukti layak digunakan untuk meningkatkan kompetensi profesional guru.

Penelitian yang hampir sama dilakukan oleh Soko pada tahun 2017 dengan judul “Development of a Cultural-based Physics Learning Module for Teacher Education and Training Program to Enhance Teacher Pedagogical Content Knowledge”. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengembangkan modul pembelajaran menggunakan model ADDIE dengan pendekatan andragogi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 1) validasi modul yang dikembangkan berkategori sangat baik; 2) adanya peningkatan yang signifikan setelah menggunakan modul yang dikembangkan; 3) modul yang dikembangkan dengan pendekatan andragogi dapat memenuhi kebutuhan belajar guru sebagai pembelajar dewasa; 4) modul pembelajaran efektif mendukung guru memiliki pengetahuan dan refleksi yang lebih baik. Berdasarkan penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa modul dapat meningkatkan pengetahuan konten dan pedagogi guru fisika.

Penelitian yang dilakukan oleh Resbiantoro dkk tahun 2015 sedikit berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian dengan judul “pengembangan modul pedagogical content knowledge (PCK) Fisika pada materi hukum gravitasi Newton untuk SMA Kelas IX”. Penelitian ini mengembangkan modul pembelajaran pada mata pelajaran fisika pada materi hukum gravitasi Newton dengan model Thiagarajan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa modul yang dikembangkan layak digunakan oleh guru dan calon guru untuk menunjang proses pembelajaran ditinjau dari komponen isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikan. Modul tersebut juga dapat menjadi alternatif referensi untuk guru dan calon guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu terdapat beberapa persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Natalina dkk, perbedaannya yang pertama dari segi produk yang dihasilkan merupakan buku sedangkan produk dari penelitian ini adalah modul. Perbedaan kedua yaitu dari segi mata pelajaran. Natalina dkk fokus ke mata pelajaran IPA sedangkan penulis fokus pada mata pelajaran Matematika. Dilihat dari kesamaan dengan penelitan ini yaitu sama-sama mengembangkan produk dengan model ADDIE.

Penelitian yang dilakukan oleh Soko juga terdapat perbedaan dan persamaan dengan penulis. Perbedaannya yaitu dari segi mata pelajaran. Hampir sama dengan penelitian Soko, namun Soko hanya meningkatkan pengetahuan konten dan pedagogi namun belum menyinggung tentang teknologi. Persamaan dengan penelitian Soko yaitu mengembangkan modul dengan model ADDIE.

Penelitian yang dilakukan oleh Resbiantoro hampir sama dengan penulis. Perbedaan pertama terletak pada model pengembangan yang digunakan. Jika Resbiantoro menggunakan model Thiagarajan, penulis menggunakan model ADDIE. Perbedaan kedua jika Resbiantoro memfokuskan untuk mata pelajaran fisika, penulis fokus pada mata pelajaran matematika. Perbedaan ketiga yaitu jenjang pendidikan, penelitian terdahulu sasarannya untuk jenjang SMA Kelas XI sedangkan penulis pada jenjang SMP kelas VII. Persamaan dengan penelitian terdahulu yaitu sama-sama mengembangkan modul, namun peneliti menambahkan teknologi dalam modul yang dikembangkan saat ini.

TPACK merupakan dasar pengajaran yang efektif dengan teknologi, yang membutuhkan sebuah pemahaman tentang representasi konsep menggunakan teknologi, teknik pengajaran yang menggunakan teknologi secara konstruktif untuk mengajarkan materi, pengetahuan tentang apa yang membuat konsep menjadi sulit atau mudah dipelajari dan bagaimana teknologi dapat membantu memperbaiki sebagian masalah yang dihadapi siswa, dan pengetahuan tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membangun pengetahuan yang ada (Koehler dkk, 2013: 16). Pada prinsipnya TPACK merupakan penggabungan pengetahuan teknologi, pedagogi, materi yang diterapkan sesuai dengan konteks.

Komponen-komponennya yaitu Content Knowledge (pengetahuan konten/materi), Pedagogical Knowledge (pengetahuan mengajar), Technology Knowledge (pengetahuan teknologi), Pedagogical Content Knowledge (pengetahuan mengajar materi), Technological Content Knowledge (pengetahuan materi teknologi), Technological Pedagogical Knowledge (pengetahuan mengajar teknologi), Technological Pedagogical Content Knowledge.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (Research & Development/R&D) dengan pendekatan kualitatif. Produk yang dihasilkan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa modul pelatihan Technological Pedagogical Content Knowledge guru matematika. Prosedur penelitian dan pengembangan ini menggunaan prosedur pengembangan dengan model ADDIE. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2018 di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Subjek dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu subjek sebagai sumber data dan subjek sebagai pengguna dalam uji coba terbatas. Subjek sebagai sumber data yaitu kepala sekolah, guru dan kepala dinas. Sedangkan subjek sebagai pengguna dalam uji coba produk terbatas yaitu 6 guru matematika yang terdiri dari SMP Negeri 1 Waikabubak, SMP Negeri 2 Waikabubak dan SMP Negeri 3 Waikabubak.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi pelatihan yang selama ini dilakukan di Kabupaten Sumba Barat

Penelitian pendahuluan dilakukan pada bulan September 2017 untuk mengetahui pelaksanaan pelatihan yang pernah diikuti oleh guru-guru di Sumba Barat. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara kepada Kepala Dinas Kabupaten Sumba Barat (SAU), Ketua MGMP Matematika (P) dan salah seorang guru matematika (YDB).

Hasil wawancara dengan SAU pada September 2017 menerangkan bahwa setiap tahun dinas pendidikan mengadakan pelatihan untuk semua guru di Kabupaten Sumba Barat. Namun pelatihan yang diadakan oleh dinas pendidikan setiap tahun berupa pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), sedangkan pelatihan yang sifatnya even/musiman akan diadakan dinas jika sangat dibutuhkan. Pelatihan yang selama ini dilakukan untuk PTK biasanya diakan secara bergiliran masing-masing sekolah dan diikuti oleh semua guru, sedangkan pelatihan yang bersifat musiman hanya mengumpulkan guru-guru utusan dari masing-masing sekolah dan diharapkan dapat membagikan ilmu yang diperoleh setelah pulang dari tempat pelatihan. Pelatihan musiman yang pernah diadakan oleh dinas pendidikan yaitu pelatihan tentang KBK, KTSP dan pelatihan tentang penulisan karya ilmiah. Pada saat ini, dinas pendidikan sedang dalam tahap pelaksanaan pelatihan untuk guru-guru dalam menyusun RPP Kurikulum 2013, namun belum semua sekolah di Kabupaten Sumba Barat telah terjamah pelatihan ini karna sistemnya rolling dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain. Untuk pelaksanaan pelatihan tahunan seperti PTK dilakukan di masing-masing sekolah, sedangkan pelatihan musiman diadakan di aula biasanya hotel Karanu sehingga guru-guru perwakilan dari semua sekolah dapat berkumpul dan mengikuti pelatihan. Proses pelaksaan pelatihan seperti kegiatan belajar mengajar, ada pembicara (guru) dan ada peserta (peserta didik).

Hasil wawancara dengan ketua MGMP Matematika (P) pada September 2017 menemukan bahwa sejak MGMP Matematika sejak tahun 2012 guru matematika belum pernah mengikuti pelatihan untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya di bidang matematika. Pelatihan yang selama ini diadakan oleh dinas hanya secara umum yang berkaitan dengan kurikulum dan PTK. Itupun belum semua guru matematika yang tergabung dalam MGMP pernah mengikuti pelatihan karna ada beberapa guru matematika yang baru lulus. Proses pelaksanaan pelatihan yang selama ini diikuti sudah membantu guru, sebaiknya dilakukan secara berkala agar guru tidak lupa.

Hasil wawancara dengan YDB pada September 2017 menunjukkan bahwa pelatihan yang selama ini pernah diikuti dari dinas pendidikan yaitu pelatihan tentang kurikulum baik KBK maupun KTSP hingga yang terbaru kurikulum 2013. Pelatihan lain dibidang matematika belum pernah diselenggarakn oleh dinas sehingga belum pernah diikuti. Proses pelatihan yang selama ini dilakukan sudah bagus, hanya saja waktunya kurang. Karna tidak semua materi yang disampaikan dapat ditanggap oleh setiap peserta. Selain itu, peserta tidak mendapat pegangan bahan yang diberikan sehingga biasanya begitu pelatihan selesai banyak materi yang dilupakan.

Deskripsi Kelemahan Pelatihan yang Selama Ini Dilakukan

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Dina Pendidikan, Ketua MGMP Matematika dan salah satu guru matematika senior, maka dapat disimpulkan kelemahan pelatihan yang pernah dilaksanakan yaitu: a. Pelatihan yang selama ini dilaksanakan dinas pendidikan hanya terbatas pada PTK dan kurikulum, belum menyentuh ranah profesionalisme guru mata pelajaran khususnya mata pelajaran matematika. Hal ini mengakibatkan kemampuan salam konsep dan juga dalam mengajar tidak mengalami perkembangan. b. Materi pelatihan yang banyak tanpa memberikan kopian/master membuat buat guru kewalahan dalam mengikuti “pelajaran”. Hal ini menyebabkan guru mudah lupa apa yang telah dipelajari ketika mengikuti pelatihan. c. Pelatihan diadakan hanya 1 kali untuk 1 sekolah, sehingga guru yang berhalangan hadir tidak akan pernah bisa mengikuti pelatihan yang sama lagi, hal ini menyebabkan guru ketinggalan. Ada 3 kelemahan yang ditemukan. Berdasarkan kelemahan-kelemahan yang ditemukan menjadi salah satu bahan acuan dalam penelitian dan pengembangan agar mampu meminimalisir kelemahan yang pernah terjadi.

Pengembangan Modul Pelatihan Technological Pedagogocal Content Knowledge (TPACK)

Prosedur pengembangan modul yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini berdasarkan model ADDIE. Langkah-langkah pengembangan modul pelatihan TPACK dilakukan melalui lima tahapan sesuai dengan model pengembangan yang digunakan, yaitu: Tahap Analysis

Pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan akan modul pelatihan. Analisis kebutuhan dilakukan untuk mengetahui kebutuhan guru-guru matematika di Kabupaten Sumba Barat akan sumber belajar mandiri. Analisis kebutuhan dilakukan melalui wawancara terhadap 3 kepala sekolah dan 3 guru matematika dari masing-masing sekolah sampel yaitu SMP Negeri 1 Waikabubak, SMP Negeri 2 Waikabubak dan SMP 3 Waikabubak.

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa pelatihan-pelatihan yang pernah diikuti oleh guru-guru selama ini masih sangat kurang dalam mengembangkan kemampuan profesional guru dibidang matematika. Hal ini terjadi karena: a) belum pernah diadakan pelatihan pengembangan profesional guru matematika, b) kurangnya buku atau modul yang menjadi sumber belajar dan c) kurangnya penguasaan guru akan teknologi sehingga masih susah belajar mandiri melalui internet.

Kurangnya kemampuan guru dalam menguasai teknologi dan kurangnya sumber belajar diperburuk dengan tidak pernah diadakan pelatihan untuk mengembangkan kemampuan profesional guru matematika. Hal ini menyebabkan tidak dilaksanakannya Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh guru mata pelajaran matematika pada jenjang Sekolah Menengah Pertama yaitu pada kompetensi pedagogik poin ke 5 yaitu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran dan pada kompetensi profesional pada poin ke 5 yaitu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.

Oleh karena itu, peneliti mencoba untuk mengembangkan modul pelatihan TPACK dengan harapan dapat menjawab permasalahan dan memenuhi kebutuhan guru akan sumber belajar mandiri. Modul pelatihan TPACK dikembangkan sebagai sebuah produk penelitian yang memiliki keunggulan yaitu: a) materi dikemas sesingkat mungkin agar mudah dipahami, b) dapat dipelajari dimana saja dan kapan saja tanpa harus menunggu pelatih sehingga dapat digunakan sebagai bahan belajar mandiri, c) materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan guru matematika di Sumba Barat dan d) terdapat latihan sehingga membimbing pengguna untuk lebih memahami materi pada setiap kegiatan belajar.

Tahap Design

Tahap perancangan dilakukan setelah diketahui produk apa yang hendak dirancang untuk menjawab kebutuhan yang ditemukan pada tahap analisis. Tahap ini dibagi menjadi dua yaitu menyusun kerangka modul pelatihan TPACK dan menyusun peta kompetensi modul pelatihan TPACK.

Hasil Rancangan Modul Pelatihan TPACK

Tahap ini peneliti menyusun sistematika penulisan modul pelatihan TPACK. Modul pelatihan TPACK ini terbagi atas tiga bagian yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian penutup. Pada bagian awal modul berisi tersusun atas: halaman judul/cover, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, peta kedudukan modul, glosarium dan pendahuluan. Pada bagian isi terdiri atas tiga kegiatan belajar dengan masing-masing kegiatan belajar tersusun atas: kompetensi dasar, indikator pencapaian, tujuan belajar, urauan materi, rangkuman, tugas/latihan, tes formatif, umpan balik dan kunci jawaban tes formatif. Pada bagian penutup berisi Evaluasi, salam penutup, daftar pustaka dan lampiran contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Hasil Rancangan Peta Kompetensi Modul Pelatihan TPACK

Tahap ini peneliti menyusun peta kompetensi modul pelatihan TPACK. Hasil rancangan pada tahap ini kemudian diuraikan lagi dalam beberapa kegiatan pembelajar.

Tahap Development

Tahap pengembangan merupakan tahap dimana apa yang telah dirancangkan pada tahap-tahap sebelumnya dibuat yaitu mengembangkan modul pelatihan TPACK. Adapun langkah-langkah pengembangan modul pelatihan TPACK terdiri atas tiga bagian yaitu pertama penulisan modul TPACK, validasi modul dan terakhir revisi modul berdasarkan masukan dari validator. Modul pelatihan TPACK ditulis berdasarkan sistematika yang sebelumnya telah dirancang dengan mengunakan kajian pustaka yang mendukung. Setelah menghasilkan modul pelatihan TPACK yang utuh, selanjutnya dilakukan dengan kegiatan review atau validasi modul oleh ahli.

Penulisan Modul Pelatihan TPACK

Modul pelatihan TPACK ditulis dengan bantuan program miscrosoft word 2010. Desain cover modul mengunakan corel draw. Modul pelatihan TPACK ditulis sesuai dengan sistematika yang telah dirancang pada tahap desain yaitu terdiri dti 3 kegiatan belajar. Kegiatan belajar satu tentang Konsep Dasar TPACK, Kegitan belajar dua tentang Penerapan TPACK dan Kegitan belajar tiga tentang penyusunan RPP dengan memanfaatkan teknologi. Modul pelatihan ini pada setiap kegiatan belajarnya terdiri dari kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, uraian materi, latihan, rangkuman, tes formatif, umpan balik dan kunci jawaban tes formatif.

Validasi modul dilakukan oleh tiga orang validator yang ahli dibidangnya. Validasi modul dilakukan untuk menilai tingkat kelayakan modul pelatihan TPACK yang dilakukan oleh tiga orang ahli yaitu seorang ahli pengembangan, seorang ahli TPACK dan seorang guru SMP sebagai calon pengguna modul pelatihan TPACK. Validasi modul juga dilakukan untuk mendapatkan masukan dari para validator dalam hal ini dosen dan guru, selanjutnya masukan dan saran akan digunakan untuk merevisi modul pelatihan TPACK. Selain itu validasi juga dilakukan untuk mengetahui apakah modul yang telah dihasilkan layak untuk diimplementasikan pada tahap selanjutnya. 1) Hasil Validasi oleh Ahli Pengembangan. Validasi modul pelatihan TPACK oleh ahli pengembangan bertujuan untuk menilai kelayakan modul pelatihan TPACK yang dikembangkan sebagai suatu modul pelatihan yang dapat digunakan secara mandiri maupun menjadi bahan diskusi dalam forum ilmiah. ahli pengembangan sebesar 74% dan berada pada kategori baik dengan keterangan validasi yang menyatakan bahwa modul pelatihan layak digunakan dengan revisi sesuai saran. 2) Hasil Validasi oleh Ahli TPACK. Validasi materi modul pelatihan TPACK oleh ahli TPACK bertujuan untuk menilai kelayakan dan kelengkapan materi dalam modul pelatihan TPACK yang dapat dipelajari dan lengkap penilaian oleh ahli TPACK sebesar 68% dan berada pada kategori baik dengan keterangan validasi yang menyatakan bahwa materi modul pelatihan TPACK layak digunakan dengan revisi sesuai saran. 3) Hasil Validasi oleh Calon Pengguna. Validasi modul pelatihan TPACK oleh calon pengguna bertujuan untuk menilai kelayakan modul pelatihan TPACK untuk digunakan oleh seorang guru SMP yang menjadi sasaran modul pelatihan dibuat. persentase penilaian oleh calon pengguna modul sebesar 100% dan berada pada kategori baik. Keterangan validasi oleh calon pengguna menyatakan bahwa Modul Pelatihan TPACK ini layak untuk digunakan.

Revisi Produk Modul Pelatihan TPACK

Hasil uji validasi oleh para ahli telah dinyatakan secara umum bahwa modul pelatihan TPACK sudah valid, artinya memiliki keabsahan untuk diujicobakan atau digunakan melalui pelatihan dengan revisi sesuai saran. Revisi mengacu pada saran-saran dan rekomendasi dari para ahli untuk dilengkapi atau diperbaiki.

Tahap Implementation

Modul pelatihan TPACK ini diimplementasikan atau diujicobakan melalui pelatihan skala kecil setelah mendapatkan persetujuan dan direvisi sesuai saran validator yang melibatkan 6 orang guru dari 3 sekolah di Kabupaten Sumba Barat. Implementasi dilaksanakan dalam 1 hari yaitu pada hari Sabtu, 13 Oktober 2018 mulai dari pukul 09.00 – 15.00. Beberapa persiapan yang dilakukan sebelum pelatihan adalah: a) Meminta ijin kepada dinas pendidikan Kabupaten Waikabubak untuk melaksanakan pelatihan. b) Meminta ijin kepada kepala sekolah SMP Negeri 1, SMP Negeri 2 dan SMP Negeri 3 Waikabubak untuk melaksanakan pelatihan. c) Meminta kesediaan dan kesiapan pelatih dalam pelatihan TPACK d) Meminta kesediaan dan kesiapan 6 orang guru matematika dari 3 sekolah masing-masing mengutus 2 orang guru untuk mengikuti pelatihan TPACK. e) Memperbanyak Modul Pelatihan TPACK sebanyak 10 buah dan dilengkapi ATK pendukung pelatihan. f) Memperbanyak instrumen TPACK untuk mengetahui kemampuan peserta pelatihan. g) Memperbanyak angket tanggapan untuk mengetahui pendapat guru-guru peserta pelatihan tentang Modul Pelatihan TPACK. h) Mempersiapkan alat, bahan, ruang serta perlengkapan pendukung lainnya.

Implementasi modul pelatihan TPACK melalui pelatihan diawali dengan pembukaan yang dilanjutkan dengan mengisi intrumen TPACK oleh peserta pelatihan. Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan materi dimulai dari kegiatan pembelajaran 1 sampai pada kegiatan pembelajaran 3. Pelatihan diakhiri dengan pengisian angket tanggapan oleh peserta pelatihan dan mengisi data diri peserta pelatihan.

Tahap Evaluation

Tahapan Evaluasi merupakan tahap terakhir pada model ADDIE. Evaluasi dilakukan untuk melihat efektivitas modul pelatihan TPACK dengan meninjau kembali apakah modul pelatihan TPACK yang telah dikembangkan dapat menjawab kebutuhan dan mengatasi kesenjangan yang menjadi dasar pengembangan ini dilakukan. Evaluasi sebenarnya dilakukan peneliti pada setiap tahap pengembangan model ADDIE. Sehingga yang dilakukan pada tahap ini adalah untuk melihat hasil setelah modul pelatihan TPACK diimplementasikan dengan mengevaluasi hasil observasi oleh 2 orang observer. rata-rata skor pelaksanaan pelatihan TPACK yang dilaksanakan pada tahap implementasi adalah 4,1 dan 4,3 dengan persentase 82% dan 86% berkategori baik. Artinya bahwa dilihat dari kejelasan, keaktifan, keseriusan dan keterlibatan peserta dan pelatih dalam mengikuti pelatihan TPACK baik.

Hasil Angket Tanggapan Guru

Tanggapan guru terhadap modul pelatihan TPACK diketahui dengan cara mengisi instrumen tanggapan. Angket tanggapan guru peserta pelatihan menggunakan kriteria penilaian sebagai berikut yaitu: (1) Sangat Tidak Setuju; (2) Tidak Setuju; (3) Netral; (4) Setuju; (5) Sangat Setuju. Hasil angket tanggapan guru terhadap modul pelatihan TPACK. Informasi bahwa secara keseluruhan tanggapan guru peserta pelatihan terhadap modul pelatihan TPACK sangat bagus yaitu rata-rata skor 4,5 dengan rata-rata persentase 89,4% berkategori amat baik. Tetapi ada beberapa aspek yang kurang ditanggapi dengan baik yaitu pada aspek tampilan, dimana ada 2 orang peserta pelatihan yang memberikan tanggapan kurang setuju pada poin (1) dan 1 orang peserta pelatihan yang memberikan tanggapan kurang setuju pada poin (4). Pada instrumen tanggapan peserta terhadap modul pelatihan TPACK juga terdapat beberapa komentar yang diberikan oleh guru sebagai peserta pelatihan yaitu: a) Buku ini sangat bagus, ukuran dan bentuk buku memudahkan saya dapat belajar dimana saja. b) Buku ini sangat bagus dan membantu belajar mandiri karena dilengkapi contoh-contoh yang mudah dipahami. c) Buku ini sangat bagus. Secara keseluruhan mudah dipahami dan dipelajari mandiri. d) Menurut saya buku ini sangat bagus mulai dari ukuran buku, cover, sampai pada pemaparan materi dan contoh yang disajikan lengkap, sehingga dengan adanya buku ini sangat membantu kami.e) Menurut saya buku ini sudah baik, karena materi yang disajikan sudah lengkap dan mudah dipahami dan dimengerti pembaca serta penaggunaan bahasa yang memungkinkan dalam belajar mandiri.

 

SIMPULAN

Pelatihan yang dilakukan oleh Pemerintah Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat adalah pelatihan yang bersifat even/musiman berdasarkan suatu keadaan tertentu. Pelatihan dilakukan selama ini seperti Pelatihan Kurikulum KBK, Pelatihan Kurirkulum KTSP, Pelatihan Karya Tulis Ilmiah dan yang terbaru saat ini yaitu pelatihan tentang kurikulum 2013. Pelatihan tentang pengembangan pedagogik dan profesional guru matematika yang lebih spesifik dalam penguasaan teknologi informasi belum pernah dilakukan.

Beberapa kelemahan pelatihan yang selama ini dilakukan yaitu: a) Pelatihan yang selama ini dilaksanakan dinas pendidikan hanya terbatas pada perubahan kurikulum dan penulisan karya tulis ilmiah, namun belum menyentuh ranah profesionalisme guru mata pelajaran khususnya mata pelajaran matematika dalam menggunakan teknologi untuk mengajar; b) Materi pelatihan yang banyak tanpa memberikan kopian/master membuat buat guru kewalahan dalam mengikuti “pelajaran”. Hal ini menyebabkan guru mudah lupa apa yang telah dipelajari ketika mengikuti pelatihan; dan c) Pelatihan diadakan hanya 1 kali untuk 1 sekolah, sehingga guru yang berhalangan hadir tidak akan pernah bisa mengikuti pelatihan yang sama lagi, hal ini menyebabkan guru ketinggalan.

Pengembangan modul pelatihan TPACK dilakukan berdasarkan tahapan pengembangan model ADDIE yaitu: (a) tahap analisis; (b) tahap perancangan; (c) tahap pengembangan; (d) tahap pelaksanaan; dan (e) tahap evaluasi. Uji validasi modul pelatihan oleh ahli pengembangan 74% dengan kategori baik, ahli TPACK 68% dengan kategori cukup baik dan calon 100% berkategori sangat baik. Implementasi modul melalui pelatihan menunjukkan rata-rata guru cukup mampu menggunakan teknologi untuk mengajar jika dibimbing seperti membuat animasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Ilham. 2010. Pengembangan Bahan Ajar. Bahan Kuliah Online. Direktori. Bandung: UPI.

Blazar, David and Kraft, Matthew A. 2017. Teacher and Teaching Effects on Students’ Attitudes and Behaviors. Sage Journals. Diakses dari http://journals.sagepub.com/doi/abs/10.3102/0162373716670260. 18/6/2017.

Dahar, R.W & N. Siregar (2000). Pedagogi Materi Subyek: Meletakkan Dasar Keilmuan dari PBM. Disampaikan pada Seminar Staf Dosen FPMIPA dalam Rangka Mensosialisasikan Pedagogi Materi Subyek.

Daryanto & Tasrial. 2015. Pengmbangan karir Profesi guru. Yogyakarta: Gava Media.

Echols, J. M., Shadily, H. 2002. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Jakarta.

Enfield, M. (2007). Content and Pedagogy: Intersection in the NSTA a Standards for Science Teacher Education.[Online]. Tersedia: http://www.enfieldm@msu.edu

Gomes, Faustino Cardodo. 2003. Manajemen Sumber Daya, Edisi Kedua. Yogyakarta: CV. Andi Offest.

Handoko, T. Hani, 2008. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE.

Kamil, Mustofa. 2003. Model-Model Pelatihan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Kennedy, Mary. M. 1999. The role of preservice teacher education. Teaching as the Learning profession: Handbook of Teaching and Policy. San Francisco: Jossey Bass. Diakses darihttps://msu.edu/~mkennedy/publications/docs/Teacher%20Ed/RoleofTELDH/Kennedy99%20Role%20of%20TE.pdf. 1/6/2017.

Margiyono, Iis., Mampouw, Helti Lygia. 2011. Deskripsi Pedagogical Content Knowledge Guru pada Bahasan tentang Bilangan Rasional. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses melalui http://eprints.uny.ac.id/945/1/P%20-%2013.pdf.

Maryono., Sutawidjaja, Akbar., Subanji; Irawati, Santi. 2016. Actualization Pedagogical Content Knowledge (PCK) of Novice Teachers in Lerning Practice at Systems of Linear Equations of Two Variabels (SPLDV). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses melalui http://seminar.uny.ac.id/icriems/sites/seminar.uny.ac.id.icriems/files/prosiding/ME-60.pdf.

Musfah, Jejen. 2011. Peningkatan Kompetensi Guru: Melalui Pelatihan dan Sumber Belajar Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana.

Novauli, M. Feralys. 2015. Kompetensi Guru Dalam Peningkatan Prestasi Belajar Pada SMP Negeri dalam Kota Banda Aceh. Jurnal Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Syiah Kuala. Volume 3 No 1, Februari 2015.

Peraturan Mentri Pendidikan Nasional. 2007. Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 2006. Sistem Pelatihan Kerja Nasional. Republik Indonesia. Diakses pada http://www.kemenperin.go.id/kompetensi/PP_31_2006.pdf. 12/7/2017.

Richey, Rita C. Klein. 2007. Design and Development Research. London: Lawrence Erlbaum Associates. Inc.

Pribadi, Benny A. 2014. Desain dan Pengembangan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi: Implementasi Model ADDIE. Jakarta: Kencana.

Purwianingsih, Widi., Rustaman, Nuryani Y., Redjeki, Sri. 2010. Pengetahuan Konten Pedagogi (PCK) dan Urgensinya dalam Pendidikan Guru. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. http://journal.fpmipa.upi.edu/index.php/jpmipa/article/view/285/0. 10/10/2017

Shulman, Lee S.. 1986. Those Who Understand: Knowledge Growth in Teaching. Amerika Serikat: Standfort University. Diakses melalui http://journals.sagepub.com/doi/abs/10.3102/0013189X015002004?journalCode=edra

Subanji. 2015. Peningkatan Pedagogical Content Knowledge Guru Matematika dan Prakteknya dalam Pembelajaran melalui Model Pelatihan TEQIP. Malang: Universitas Negeri Malang. Diakses melalui http://journal.um.ac.id/index.php/jip/article/view/6489.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Manajemen. Bandung: Alfabeta.

_______. 2015. Metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/ R&D). Bandung: Alfabeta.

_______. 2016. Metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development). Bandung: Alfabeta.

Suryawati, Evi., N, Firdaus L., Hernandez, Yosua. 2014. Analisis Keterampilan Technological Pedagogical Content Knowledge (Tpck) Guru Biologi Sma Negeri Kota Pekanbaru. Jurnal Biogenesis. Vol. 11. Pekabaru. Dapat diakses melalui https://ejournal.unri.ac.id/index.php/JPSB/article/view/2478.s

Turnuklu, Elif B., Yesildere, Sibel. 2007. The Pedagogical Content Knowledge in Mathematics: Pre-service Primary Mathematics Teachers’ Perspectives in Turkey. Turkey: IUMPST: The Journal. Diakses melalui http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.539.646&rep=rep1&type=pdf

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Wijaya, Cece,.dkk. 1988. Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran. Bandung: Remadja Karya.

Winkel. 2009. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

Wulandari, Mega., Iriani, Ade. Sulasmono, Bambang Suteng. 2018. Pengembangan Modul Pelatihan Pedagogical Content Knowledge dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional dan Kompetensi Pedagogik Guru Matematika SMP. Salatiga: Kelola.