UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA

MATERI FUNGSI ALAT TUBUH MANUSIA

MELALUI PUZZLES PICTURE GAME PADA SISWA KELAS IV SEMESTER 1 SD NEGERI 003 SUNGAI LUAR

KECAMATAN BATANG TUAKA

 

Yusfik

SDN 003 Sungai Luar

 

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran aktifitas belajar siswa pada pembelajaran IPA di Kelas IV SD Negeri 003 Sungai Luar dengan menggunakan permainan puzzle. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri 003 Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka dengan jumlah siswanya adalah 26 orang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tes formatif siklus I dan siklus II serta catatan pengamatan lapangan pada kondisi awal, siklus I dan siklus II serta hasil pengamatan kelas. Proses belajar mengajar untuk mata pelajaran IPA terfokus kepada guru dan kurang terfokus pada siswa. Melihat kondisi lapangan di kelas IV semester I pada SD Negeri 003 Sungai Luar, yakni melalui pengamatan langsung oleh penulis terlihat kurang terlibatnya siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Hal ini mengakibatkan hasil belajar yang rendah yaitu dengan nilai rata-rata hanya sebesar 57,69. Dari 26 siswa kelas IV hanya 7 orang (26,92%) mencapai KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 70,00. Kondisi lain terlihat aktifitas belajar siswa cenderung rendah dan monoton, ditandai dengan siswa lebih senang diceramahi, siswa sedikit sekali yang mau bertanya, sedikit siswa yang mampu menjawab pertanyaan, dan contoh-contoh materi pelajaran yang diberikan guru masih kurang terkait dengan lingkungan kehidupan siswa sehari-hari. Dengan demikian salah satu strategi yang cocok dalam proses pembelajaan IPA adalah dengan penerapan metode permainan puzzle untuk meningkatkan aktifitas belajar pada siswa sebab permainan gambar puzzle adalah salah satu cara yang dapat menarik karena cara ini dapat memotivasi siswa untuk menyukai pelajaran IPA. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dengan menerapkan metode permainan puzzle bahwa pada siklus I terdapat 11 siswa yang memiliki nilai dibawah 70 dengan nilai terendah 50 dan tertinggi 85, rata-rata 68,46. Hasil belajar siswa pada siklus II yaitu nilai siswa hasil tes pada akhir siklus II ternyata dari 26 jumlah siswa, hanya 1 orang siswa (3,85%) yang memperoleh nilai dibawah 70, skor terendah 65 dan tertinggi 100 dengan nilai rata-rata 79,75. Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh bahwa pada siklus II hasil belajar siswa meningkat dari siklus i. berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa melalui puzzles picture game dapat meningkatkan hasil belajar ipa materi fungsi alat tubuh manusia pada siswa kelas IV semester 1 SD Negeri 003 Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka.

Kata Kunci: hasil belajar, Puzzles Picture Game, dan IPA untuk SD

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran.

Guru merupakan salah satu faktor yang cukup bepengaruh langsung dalam peningkatan mutu tersebut. Guru merupakan jabatan yang dipilih berdasarkan prinsip-prinsip vokasional, dalam hal aspek psikologis menjadi faktor untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik (Oemar Hamalik, 2002:24). Peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah serta mutu pelajaran IPA di sekolah dasar perlu perubahan pola fikir positif yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan kurikulum. Dalam kegiatan pembelajaran, guru mata pelajaran IPA menggunakan berbagai strategi yang menghendaki keterlibatan dan peran aktif siswa dalam melakukan pengamatan, meramal, menerapkan konsep dan mengkomunikasikannya. Aktivitas dan keterlibatan siswa secara utuh sangat penting agar kegiatan pembelajaran mencapai tujuan. Adanya aktivitas belajar siswa secara optimal akan menentukan tingkat pemahaman dan hasil belajar siswa.

Pada masa lalu proses belajar mengajar untuk mata pelajaran IPA terfokus kepada guru dan kurang terfokus pada siswa. Akibatnya kegiatan belajar mengajar lebih ditekankan pada pengajaran dari pada pembelajaran. Kata pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan yang terjadi dalam kemampuan, sikap, atau perubahan tingkah laku siswa yang relatif permanen sebagai akibat dari pengalaman atau latihan. Perubahan kemampuan yang hanya sebentar dan kembali ke perilaku semula menunjukkan belum terjadi peristiwa pembelajaran, walaupun mungkin terjadi pengajaran. Tugas guru adalah membuat agar proses pembelajaran pada siswa berlangsung secara aktif, efektif, kreatif, menarik dan menyenangkan, dengan memperhatikan pendekatan sains, serta “Learning to do, Learning to know, Learning to be and Learning to live together “ (Depdiknas 2003: 43).

Melihat kondisi lapangan di kelas IV semester I pada SD Negeri 003 Sungai Luar, yakni melalui pengamatan langsung oleh penulis terlihat kurang terlibatnya siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Hal ini mengakibatkan hasil belajar yang rendah yaitu dengan nilai rata-rata hanya sebesar 57,69. Dari 26 siswa kelas IV hanya 7 orang (26,92%) mencapai KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 70,00. Kondisi lain terlihat aktifitas belajar siswa cenderung rendah dan monoton, ditandai dengan siswa lebih senang diceramahi, siswa sedikit sekali yang mau bertanya, sedikit siswa yang mampu menjawab pertanyaan, dan contoh-contoh materi pelajaran yang diberikan guru masih kurang terkait dengan lingkungan kehidupan siswa sehari-hari.

Kondisi pembelajaran IPA yang demikian akan menimbul dampak kurang menggembirakan terhadap hasil belajar siswa, dan lebih jauh lagi dapat menimbulkan kesan tidak baik terhadap pembelajaran IPA seperti pengetahuan IPA hanyalah bersifat teoritis semata. Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut diatas, mendorong penulis untuk melakukan penelitian guna mengkaji peningkatan hasil belajar siswa dengan permainan gambar puzzle dalam pembelajaran IPA pada materi “Fungsi Alat Tubuh Manusia Manusia” di kelas IV SD Negeri 003 Sungai Luar

Suatu inovasi pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna untuk membantu peserta didik mencapai kompetensi melalui pengalaman belajar kontekstual dengan unsur bermain di dalamnya. Sengaja tindakan ini dipilih karena siswa sekolah dasar masih menyukai pembelajaran apabila ada unsur bermain di dalamnya (learning by doing and playing). Tetapi bermain dalam konteks ini bukan berarti belajar sambil bermain-main atau belajar hanya sebuah main-main belaka, melainkan bermain dengan kebermaknaan.

Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan permasalahnnya sebagai berikut: “Apakah Melalui Permainan Puzzles Pictured Game Dapat Meningkatkan Hasil Belajar IPA Terhadap Materi Fungsi Alat Tubuh Manusia Pada Siswa Kelas IV Semester I SD Negeri 003 Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka”.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

1.     Untuk mendapatkan gambaran proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Alam yang terjadi di kelas IV SD Negeri 003 Sungai Luar.

2.     Untuk mengetahui metode pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran IPA di kelas IV SD Negeri 003 Sungai Luar.

3.     Untuk mendapatkan gambaran aktifitas belajar siswa pada pembelajaran IPA di Kelas IV SD Negeri 003 Sungai Luar dengan menggunakan permainan puzzle.

Tujuan Khusus

1.     Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA yang lebih kondusif dan efektif.

2.     Untuk meningkatkan motivasi dan minat siswa dalam belajar IPA.

3.     Mengembangkan model dan media pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

4.     Meningkatkan keberanian siswa dalam mengkomuniklasikan ide dan gagasan.

5.     Menanamkan konsep IPA dalam konteks yang tepat serta bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat

Dilaksanakannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan dua manfaat sekaligus, baik secara teoritis maupun praktis sebagai berikut:

Manfaat Teoritis

1.     Menambah pengembangan ilmu pengetahuan di bidang keguruan, terutama mengenai pengelolaan proses pembelajaran yang efektif.

2.     Menambah wacana pengetahuan di bidang penelitian tindakan kelas.

Manfaat Praktis

1.     Bagi Siswa

Meningkatkan aktifitas belajar siswa dan mempermudah mengingat serta memahami konsep-konsep IPA.

2.     Bagi Guru

Meningkatkan kemampuan guru dalam berkreasi dan berinovasi pada pembelajaran sehingga lebih efektif dan efisien dalam peranannya sebagai fasilitator dan mediator

3.     Bagi Sekolah

Meningkatkan profesionalisme guru IPA di Sekolah Dasar dengan menulis penelitian ilmiah yang memberikan solusi bagi permasalahan pembelajaran IPA.

4.     Peneliti

Sebagai kegiatan pengembangan profesi pendidik guna menambah pengalaman dalam melaksanakan tugas dimasa depan.

KAJIAN PUSTAKA

Paradigma Pembelajaran

Paradigma yang lama adalah guru memberikan pengetahuan memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru hanya perlu menuangkan apa yang diketahuinya ke dalam botol kosong yang siap menerimanya. Banyak guru yang mengganggap paradigma lama ini sebagai satu-satunya alternatif dalam proses pembelajaran. Mereka mengajar dengan metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal serta mengadu siswa satu sama lainnya. Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah. Kita tidak bisa lagi mempertahankan paradigma lama tersebut. Teori, penelitian, dan pelaksanaan pembelajaran membuktikan bahwa para guru sudah harus mengubah paradigma pembelajarannya. Guru perlu menyusun dan melaksanakan pembelajaran berdasarkan beberapa pokok pemikiran sebagai berikut:

a.     Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa.

b.     Siswa membangun pengetahuan secara aktif

c.     Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa

d.     Pendidikan adalah interaksi pribadi diantara siswa dan interaksi antara guru dengan siswa

Kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antar pribadi siswa. Belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan yang lain serta membangun pengertian dan pengetahuan bersama (Johnson, Johnson & Smith dalam Dimyati, 2002:46).

Prinsip dan Karakteristik Pembelajaran IPA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu guru dituntut untuk merancang proses pembelajaran yang melibatkan siswa di dalamnya. Berikut disajikan 4 (empat) prinsip pembelajaran IPA yang dikemukakan olah Trianto (2007:104) untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan di sekolah, yaitu:

a.     Memberikan pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan pengukuran berbagai fasis.

b.     Menanamkan pada peserta didik pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan ilmiah (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah.

c.     Latihan berfikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu sebagai penerapan matematika pada masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan peristiwa alam.

d.     Memperkenalkan dunia teknologi melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perencanaan dan pembuatan alat-alat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA dalam menjawab berbagai masalah.

Menurut Indrawati (2008:5) dalam pembelajaran IPA atau sains, peserta didik dituntut untuk menguasai/memiliki kemampuan minimal dalam empat hal, yaitu:

a.     Menguasai konsep-konsep IPA

b.     Terampil menggunakan ketrampilan berfikir dan motorik

c.     Memiliki sikap-sikap positif sebagaimana yang dimiliki oleh saintis

d.     Mampu menerapkan konsep IPA dan keterampilan berfikir dalam memecahkan masalah sehari-hari

Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah Dasar

IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat sekolah dasar diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan kepada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tingkat Sekolah Dasar, ruang lingkup bahan kajian IPA untuk meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

a.     Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan.

b.     Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaanya meliputi: cair, padat dan gas.

c.     Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana.

d.     Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya dan benda-benda langit lainya.

Hasil Belajar

Darmansyah (2006:13) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa yang ditentukan dalam bentuk angka. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa setelah menjalani proses pembelajaran.

Hasil belajar merupakan suatu prestasi yang dicapai seseorang dalam mengikuti proses pembelajaran, dengan kata lain hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi dalam diri individu yang belajar. Perubahan yang diperoleh dari hasil belajar adalah perubahan secara menyeluruh terhadap tingkah laku yang ada pada diri individu. Hasil belajar itu mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Sesuai menurut Bloom yang dikutip Djaafar (2001:83) menyatakan hasil belajar dibagi dalam tiga ranah atau kawasan yaitu (1) Ranah Kognitif, (2) Ranah Afektif dan (3) Ranah Psikomotor.

Menurut Gagne yang dikutip Djaafar (2001:82) hasil belajar merupakan kapabilitas atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar yang dapat dikategorikan dalam lima macam, yaitu: (1) informasi verbal, (2) keterampilan intelektual, (3) Strategi kognitif, (4) Sikap, dan (5). Keterampilan motorik. Hasil belajar dapat diperoleh dari interkasi siswa dengan guru atau interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya yang sengaja dirancang dan direncanakan guru dalam perbuatan mengajar. Sudjana (2004: 54) menyatakan hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri dan dari lingkungan

Selanjutnya Winataputra (2007:25) lebih menjelaskan, hasil belajar berupa perilaku atau tingkah laku. Seseorang belajar akan berubah atau bertambah perilaku, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan motorik atau penguasan nilai-nilai (sikap)

Permainan Gambar Puzzle

Sebelumnya kita telah mengetahui bahwa permainan dalam pembelajaran seperti permainan gambar puzzle adalah salah satu cara yang dapat menarik karena cara ini dapat memotivasi siswa untuk menyukai pelajaran IPA. Puzzle Picture menurut Wojowasito dan Poerwadaminta (2004:165) adalah teka-teki berupa gambar yang dapat merangsang anak untuk berfikir. Hanya saja sebelum kita mengajarkannya di depan kelas, guru harus mengetahui strategi yang tepat untuk mengajarkannya. Sebelum kita mengajar harus terlebih dahulu melakukan persiapan. Salah satunya adalah mengetahui keadaan siswa yang akan diajar dan mempersiapkan strategi yang tepat serta menarik untuk menghadapinya.

Ada beberapa yang diharapkan siswa setelah guru memasuki ruangan kelas dan guru nantinya diharapkan dapat memenuhi hal tersebut sehingga siswa tetap termotivasi untuk belajar. Menurut Ronald. W. Luce (dalam Suryanto, 2002:207) hal yang diinginkan siswa tersebut adalah: (1) Siswa ingin kebutuhan pribadinya terpenuhi dalam belajar. Mereka ingin bakat dan kemampuannya dihargai oleh guru dalam kelas. (2) Siswa ingin gurunya benar-benar menghargai mereka sebagai “manusia”, yang peduli mereka bukan hanya guru yang selalu ingin mengevaluasi. (3) Siswa ingin ditantang dengan pelajaran bukan menjatuhkan mereka. (4) Siswa ingin guru menjaga dan selalu mendukung mereka mengikuti perkembangnya secara individu. (5) Siswa menyukai guru yang bisa menyesuaikan diri dengan mereka, humoris dan bisa mengerti humor mereka. (6) Siswa menyukai cara menerangkan yang jelas dan lengkap serta memberikan contoh-contoh yang konkrit.

Lana Becker dan Kent N. Schneider (dalam Suryanto, 2002:208) menyarankan beberapa peraturan agar tetap fokus dan termotivasi dalam belajar yaitu: a) menjelaskan kepada siswa untuk mempelajari materi yang akan diajarkan, b) menyediakan media visual untuk mendukung materi pelajaran, c) menerangkan materi pelajaran secara logis dan dapat diterapkan, d) memberikan kegiatan di dalam kelas segera setelah materi tersebut diajarkan, e) membantu siswa untuk menghubungkan pelajaran yang lalu dengan pelajaran yang sedang diajarkan, f) menghargai siswa ketika proses belajar mengajar berlangsung. Apabila siswa merasa dihargai mereka akan memberikan usaha terbaiknya, dan g) memberikan standar belajar yang tinggi.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa memberikan materi pelajaran melalui permainan gambar puzzle bertujuan untuk menarik perhatian siswa dan menjaga motivasinya untuk belajar IPA dan dapat mengembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kerangka Berpikir

Ada banyak hal yang dapat mempengaruhi aktifitas dan hasil belajar IPA, misalnya kurikulum, media, alat peraga, strategi dan model pembelajaran. Dengan demikian salah satu strategi yang cocok dalam proses pembelajaan IPA adalah dengan penerapan metode permainan puzzle untuk meningkatkan aktifitas belajar pada siswa sebab permainan gambar puzzle adalah salah satu cara yang dapat menarik karena cara ini dapat memotivasi siswa untuk menyukai pelajaran IPA.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teoretis dan kerangka berfikir serta mempertimbangkan konsep yang ada, maka “Diduga Melalui Permainan Puzzles Pictured Game Dapat Meningkatkan Hasil Belajar IPA Terhadap Materi Fungsi Alat Tubuh Manusia Pada Siswa Kelas IV Semester I SD Negeri 003 Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka”.

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini bertempat di SDN 003 Sungai Luar yang terletak di Jalan Pendidikan Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka Kabupaten Indragiri Hilir, dengan alasan penulis bertugas di sekolah tersebut. Penelitian ini berlangsung selama ± 3 (tiga) bulan yang dimulai pada bulan Agustus s/d Oktober 2017 semester I tahun pelajaran 2017/2018 dengan alasan bertepatan dengan materi yang penulis ajarkan.

Subyek Penelitian

Sebagai subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 003 Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka dengan jumlah siswanya adalah 26 orang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan. Situasi kelas yang dijadikan subjek penelitian cukup memadai.

 

 

Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tes formatif siklus I dan siklus II serta catatan pengamatan lapangan pada kondisi awal, siklus I dan siklus II serta hasil pengamatan kelas.

Teknik Dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi. Instrument yang digunakan untuk melaksanakan penelitian adalah (1) dokumen observasi tindakan berupa catatan terhadap siswa dalam pembelajaran IPA selama pembelajaran berlangsung, dokumen tindakan analisis setiap akhir siklus. (2) sumber informasi lain adalah adalah kolaborator (guru) yang mengamati selama pelaksanaan tindakan. (3) lembaran test berupa soal yang digunakan untuk melihat penguasaan konsep –konsep materi pembelajaran tentang sistem pencernaan manusia yang sudah diajarkan.

Selama proses pembelajaran berlangsung aktivitas siswa terus diamati oleh observer dan peneliti. Hal-hal yang diamati adalah a) aktif menyusun gambar puzzle dalam kelompok, b) membaca buku sumber untuk menyelesaikan tugas dalam lembaran kerja, c) berinteraksi dengan teman sekelompok dalam menyelesaikan masalah, d) mencatat hasil diskusi dalam lembaran kerja, e) bertanya dalam diskusi kelas, f) menjawab pertanyaan teman dalam diskusi kelas, g) membuat kesimpulan hasil diskusi kelas.

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dan dideskripsikan sesuai permasalahan yang ada dalam bentuk laporan hasil penelitian. Rancangan pembelajaran interaktif dan pemberian tugas kerja kelompok dilakukan validasi oleh guru. Data hasil observasi keaktifan belajar siswa dianalisi dengan menggunakan analisis deskriptif sederhana dengan menghitung persentase peningkatan motivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

Prosedur Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yaitu tindakan reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Sudarsono (2002:24) memberikan batasan tentang penelitian tindakan kelas yaitu suatu bentuk penelitian yang bersifat refleksif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara profesional. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada kelas yang langsung peneliti terlibat di dalamnya atau kelas yang diajar, bertujuan bukan hanya sebagai solusi untuk mengatasi masalah, tetapi juga melibatkan pengajar sendiri secara aktif dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran

Penelitian dilakukan melalui empat langkah dalam setiap siklus penelitian, yaitu perencanaan (planing), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection) serta indikator kerja. Siklus kedua dilakukan mengacu pada siklus sebelumnya dengan menyempurnakan segala kekurangan yang ada pada siklus pertama tersebut.

Penelitian ini akan dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, dengan masing-masing siklus mempergunakan langkah-langkah yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi dan tahap refleksi

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pra Siklus

Sebelum dilakukan tindakan, proses belajar mengajar untuk mata pelajaran IPA masih terfokus kepada guru dan kurang terfokus pada siswa. Akibatnya kegiatan belajar mengajar lebih ditekankan pada pengajaran dari pada pembelajaran.

Kondisi tersebut menjadikan aktifitas belajar siswa kelas IV cenderung rendah dan monoton, ditandai dengan siswa lebih senang diceramahi, siswa sedikit sekali yang mau bertanya, sedikit siswa yang mampu menjawab pertanyaan, dan contoh-contoh materi pelajaran yang diberikan guru masih kurang terkait dengan lingkungan kehidupan siswa sehari-hari. Hal inilah yang menyebabkan nilai rata-rata hasil belajar IPA pada Fungsi Alat Tubuh Manusia menjadi rendah yaitu 57,69 dengan persentase siswa yang sudah mencapai KKM sebesar 26,92% atau sebanyak 7 siswa dan siswa yang belum mencapai KKM yaitu 73,08% atau sebanyak 19 siswa. Nilai terensah yang diperoleh siswa yaitu 40 dan nilai tertinggi yaitu 75.

Siklus I

Pelaksanaan siklus I terdiri dari 2 kali pertemuan, masing-masing pertemuan 2 x 40 menit. pembelajaran tindakan siklus I yang dilaksanakan pada tanggal 12 September 2017 untuk pertemuan pertama dan tanggal 22 September 2017 untuk pertemuan kedua. Pembelajaran pada siklus I melalui penerapan puzzles picture game.

Berdasarkan data hasil pengamatan, diskusi dengan observer yang berasal dari teman sejawat dan hasil tes akhir siklus I, bahwa belajar IPA dengan menggunakan permainan gambar puzzle terlihat lebih baik dalam proses belajar di kelas, aktivitas siswa mulia meningkat dalam kegiatannya, siswa yang pandai kelihatannya lebih dominan dalam aktivitas kelompok, gambar puzzle yang diberikan hanya satu untuk tiap-tiap kelompok (dengan jumlah anggota kelompok 5 siswa) sehingga waktu yang diberikan banyak tersisa dan hal ini mengakibatkan munculnya sikap negatif dari beberapa orang siswa, dan dari hasil pengamatan observer tergambar belum seluruh siswa aktif dalam proses pembelajaran dengan menggunakan permainan puzzle hal ini dibuktikan dengan hanya beberapa siswa ikut aktif dalam kegiatan kelompok.

Hasil belajar IPA pada Materi Rangka Manusia yang ditunjukkan melalui hasil tes akhir siklus I, terdapat 11 siswa yang memiliki nilai dibawah 70 dengan nilai terendah 50 dan tertinggi 85, rata-rata 68,46.

Siklus II

Siklus II dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan, masing-masing pertemuan 2 x 40 menit. Dalam laporan ini akan diuraikan pelaksanaan pembelajaran tindakan siklus II yang dilaksanakan pada tanggal 10 Oktober 2017 untuk pertemuan pertama dan tanggal 17 Oktober 2017 untuk pertemuan kedua. Pada dasarnya pelaksanaan proses pembelajaran pada sikus II sama halnya dengan siklus I. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan pada siklus II adalah melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan data hasil pengamatan, hasil tes akhir siklus II dan diskusi anggota peneliti, ternyata pembelajaran IPA pada materi ” Alat Indera Manusia” melalui penggunaan permainan gambar puzzle memberi manfaat yang cukup baik. Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh pada pembelajaran siklus II yaitu aktivitas siswa tampak baik dimana mereka lebih sibuk menyusun gambar secara berkelompok, kemudian berusaha dengan sungguh-sungguh menyelesaikan soal dalam lembaran kerja yang diberikan guru. Siswa yang pandai tidak lagi menonjol dalam kelompok, guru sudah berhasil memotivasi siswa yang berada pada level bawah untuk bisa lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya. (lihat foto aktifitas siswa terlampir). Suasana kelas sudah lebih terkontrol, karena pada siklus II kegiatan belajar siswa dibagi 4 kelompok. Masing-masing kelompok mengerjakan 1 gambar puzzle dan jumlah anggota tiap kelompok 5 orang. Sehingga waktu untuk mengerjakan tugas lebih lama. Berdasarkan hasil pengamatan observasi, siswa lebih menyukai pembelajaran menggunakan gambar puzzle. Hal ini dibuktikan dengan seluruh siswa terlibat aktif mengerjakan tugas yang diberikan guru dan semangat sekali untuk menemukan jawaban lembaran kerja dengan membaca buku sumber.

Hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan nilai siswa hasil tes pada akhir siklus II ternyata dari 26 jumlah siswa, hanya 1 orang siswa (3,85%) yang memperoleh nilai dibawah 70, skor terendah 65 dan tertinggi 100 dengan nilai rata-rata 79,75.

Dari analisis data diatas, sudah tergambar adanya peningkatan hasil belajar IPA pada materi Rangka dan Alat Indera hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa mulai dari kondisi awal, siklu I hingga ke siklus II. Berdasarkan hasil observasi di atas, maka peneliti beserta pengamat memutuskan unutk menghentikan penelitian ini pada siklus II karena sudah dianggap berhasil dan KKM yang ditetapkan yaitu 70,00 sudah tercapai.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari pencapian hasil belajar yang sudah dipaparkan pada bab sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan bahwa hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada kelas IV semester I SD Negeri 003 Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka Kabupaten Indragiri Hilir adalah pembelajaran melalui Permainan Puzzles Pictured Game dapat meningkatkan pemahaman konsep pada mata pelajaran IPA khusunya materi ” Fungsi Alat Tubuh Manusia”. Melalui media gambar puzzle dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dan kerjasama antar siswa serta hasil belajarnya. Guru mendapat kemudahan dalam berkreasi dan berinovasi pada pembelajaran, lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Aktivitas siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan seiring dengan semakin optimalnya pelaksanaan pembelajaran dengan permainan gambar puzzle. Aktivitas siswa berupa penyelesaian tugas-tugas pembelajaran secara kelompok sangat dipengaruhi oleh susunan anggota kelompok. Aktivitas siswa membaca buku dalam pembelajaran IPA mendorong meningkatnya kemampuan bertanya dan menanggapi pertanyaan teman dalam berdiskusi. Suasana pembelajaran lebih variatif, tidak monoton, dan menambah minat siswa untuk mencari tahu tentang konsep-konsep materi ” Fungsi Alat Tubuh Manusia” pada pembelajaran IPA.

Saran

Mengacu kepada hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan maka dapat diajukan saran-saran sebagai berikut:

a.     Pembelajaran IPA agar diupayakan lebih mengutamakan mendorong siswa secara aktif.

b.     Permainan gambar puzzle dapat dijadikan salah satu alternatif bagi guru untuk meningkatkan pemahaman konsep bagi siswa dalam mata pelajaran IPA.

c.     Sebaiknya guru menyiapkan beberapa alternatif gambar yang menarik untuk digunkan dalam proses pembelajaran.

d.     Bahan bacaan atau sumber belajar IPA perlu diupayakan guru agar lebih sesuai dengan kompetensi yang dituntut kurikulum.

e.     Agar aktivitas siswa dalam pembelajaran terpantau lebih baik, perlu dikembangkan instrumen yang benar-benar dapat mencakup seluruh aktivitas pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Darmansyah , 2006. Tekhnik Belajar Yang Menyenagkan. Jakarta. Rineka Cipta.

Dikmenum. 2003. Menjadi Guru Yang Terampil. Jakarta: Direktorat Menengah Umum Ditjen Pendidikan dasar dan Menengah. Depdiknas.

Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djaafar, 2001. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta Erlangga.

Hamalik, Umar. 2002. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Haryanto. 2004. Sains Jilid 4 Untuk Kelas IV Sekolah Dasar. Jakarta: Erlangga.

Indrawati, 2008. Karakteristik Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta. Erlangga.

Iskandar, Srini. 2002. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Depdikbud.

Nasution, S.2002. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Slameto.2005. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sudarsono, F.X. 1992. Action Research. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana 2004. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar. Jakarta. Rineka Cipta.

Suryanto, 2002. Pembelajaran Dengan Permainan Gambar Puzzle. Jakarta. Rineka Cipta.

Suryosubroto, B. 1996. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Trianto, 2007. Prisip-Prinsip Pembelajaran IPA Jakarta. Erlangga.

Usman , 2002 Tujuan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta. Erlangga.

Winataputra 2007. Beberapa Penyebab Rendahnya Hasil belajar. Bandung Sinar Baru.

Wojowasito, Poerwadaminta..2004. Belajar Sambil Bermain. Jakarta. Rineka Cipta.

Zamroni. 2003. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Depdiknas.