UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN KEMAMPUAN

GERAK DASAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

MELALUI PENDEKATAN BERMAIN PADA SISWA KELAS V

SEMESTER 2 SDN GEMOLONG 2

KECAMATAN GEMOLONG KABUPATEN SRAGEN

Samekta

SDN Gemolong 2, Kec.Gemolong, Kab. Sragen.

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan anak dengan menggunakan pendekatan bermain dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 tahap yaitu siklus I dan siklus ke II. Siklus I dilaksanakan 2 x pertemuan. Sedangkan siklus ke II di laksanakan 1 x pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Gemolong 2. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah tes formatif, observasi, jurnal dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan motivasi dan kemampuan loncat jauh dari kegiatan pretes, siklus I dan siklus II. Skor rata–rata diperoleh pada kegiatan pretes sebesar 55. Setelah diadakan tindakan pada siklus I meningkat sebesar 62 termasuk dalam kategori cukup. Hasil siklus I ternyata belum memenuhi target pencapaian skor hasil belajar yaitu kurang dari 60. Oleh karena itu berusaha ditingkatkan pada siklus II hasilnya sebesar 71 artinya ada peningkatan sebesar 71 % dari siklus I. Hasil observasi jurnal dan wawancara menunjukkan bahwa loncat jauh dengan menggunakan pendekatan bermain dengan menggunakan gaya loncat jauh, siswa menjadi lebih menikmati dan aktivitas pembelajaran dengan sesungguhnya. Peneliti menyarankan agar dalam pembelajaran keterampilan berbicara hendaknya menggunakan pendekatan bermain dengan menggunakan gaya jongkok untuk mewujudkan kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan bagi siswa.

Kata Kunci: Lompat Jauh Gaya Jongkok dan Pendekatan Bermain


PENDAHULUAN

Pengertian dari lompat jauh yaitu melakukan suatu bentuk gerakan lompatan dengan tujuan untuk memperoleh hasil lompatan sejauh-jauhnya. Gerak dasar pada lompat jauh yaitu awalan, tumpuan, posisi saat melayang di udara dan sikap saat mendarat. Dalam lompat jauh ada 3 macam gaya yang digunakan yaitu gaya jongkok, gaya berjalan di udara dan gaya menggantung di udara.

Berdasarkan karakteristik siswa Se-kolah Dasar tersebut, maka pembelajaran lompat jauh gaya jongkok di Sekolah Dasar perlu disesuaikan dengan kondisi siswa. Perlu diketahui oleh seorang guru bahwa pada dasarnya siswa mempunyai karakter yang cepat bosan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pembelajaran lompat jauh gaya jongkok hendaknya bisa diajarkan secara bervariasi dalam bentuk aktivitas yang menyenangkan. Upaya meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap pelajaran atletik harus diterapkan melalui bentuk-bentuk pendekatan pembelajaran yang se-suai dengan tingkat perkembangan siswa. Hal ini dimaksudkan agar proses pembe-lajaran mudah diterima oleh siswa, dengan demikian seorang guru harus mampu menerapkan pendekatan pembelajaran yang baik dan tepat.

Pendekatan pembelajaran bermain merupakan salah satu pendekatan pembe-lajaran yang di dalamnya dapat mengem-bangkan bermacam-macam aspek perkem-bangan siswa pada tingkat SD. Aspek yang dapat dikembangkan mencakup aspek fisik, motorik, sosial, emosional, kepribadian, kognisi, keterampilan olahraga, dan seba-gainya. Pendekatan bermain merupakan salah satu pembelajaran yang efektif, mu-dah dan sederhana sehingga dapat diterapkan pada pembelajaran di sekolah khususnya di SD.

Berdasarkan latar belakang masa-lah, maka masalah yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Apakah pembelajaran Pendekatan Bermain dapat meningkatkan motivasi teknik gerak dasar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri tahun ajaran 2014/2015?” (2) (1) Apakah pembelajaran Pendekatan Bermain dapat meningkatkan kemampuan gerak dasar lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri tahun ajaran 2014/2015?”

PTK bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan gerak dasar lompat jauh gaya jongkok melalui penerap-an Pendekatan Bermain pada siswa kelas V Sekolah dasar tahun ajaran 2014/2015.

LANDASAN TEORI

Pengertian Motivasi

Adapun motivasi dapat diartikan sebagai tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 42). Motivasi dapat bersifat internal dan eksternal. Motivasi internal berarti motivasi tersebut datang dari diri siswa sendiri. Adapun motivasi yang datang dari luar diri siswa itulah yang disebut dengan motivasi eksternal.

Teknik Lompat Jauh Gaya Jongkok

Teknik lompat jauh merupakan faktor yang sangat penting dan harus di-kuasai seorang atlet pelompat. Teknik lompat jauh terdiri dari berbagai bagian yang dalam pelaksanaannya harus dirang-kaikan secara baik dan harmonis. Menurut Haag & Krempel. (1998:197) bahwa, ”Lompat jauh dapat dibagi ke dalam ancang-ancang, tumpuan, melayang dan mendarat”. Sedangkan Soegito (1992:55) menyatakan, “Faktor-faktor yang sangat menentukan untuk mencapai prestasi lompat jauh adalah awalan, tumpuan, lompatan, saat melayang dan pendaratan”.

Teknik gerak lompat jauh dengan gaya jongkok meliputi: (1) Tumpuan; (2) Melayang di udara; dan (3) Pendaratan. Ketiga teknik ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan sebuah proses dari yang belum bisa menjadi bisa dari yang belum tahu menjadi lebih tahu, sehingga adanya pengalaman dalam pro-ses belajar. Pribadi (2009: 6) menyatakan “Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang agar mendapat-kan kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan“. Intinya pada proses belajar dilakukan untuk me-ningkatkan kemampuan atau kompetensi pribadi. Sehingga akan terjadi perubahan dalam hal pola piker dan tindakan karena pengalaman yang dimilikinya.

Pembelajaran berasal dari kata learning. Pembelajaran dimaknai proses, cara, perbuatan mempelajari sesuatu. Guru tidak hanya menyampaikan materi dan siswa sebagai penerima materi, akan tetapi guru mengorganisir lingkungan belajar sehingga aktif untuk belajar. “Guru memberi fasilitas belajar siswa dan siswa mempelajarainya, dalam hal ini pembe-lajaran berpusat pada siswa, pembelajaran adalah proses konstruktif tidak hanya me-kanis seperti pada pengajaran “(Suprijono, 2008: 11-13). Ahli lain, Riyanto (2009: 131) menyatakan, “Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa untuk belajar”. Kegiatan pembelajaran akan melibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara yang efektif dan efisien.

Tujuan Pembelajaran Lompat Jauh di Sekolah Dasar

Adapun tujuan penjas menurut Depdiknas (2006: 2-3) yakni: 1). Mengem-bangkan dan meningkatkan keterampilan gerak. 2). Meletakan lanasan karakter mo-ral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung didalamnya (sportifitas, kejujuran, disiplin, tanggungjawab, kerja-sama, percaya diri dan demokratis). 3). Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

Bermain

Bermain sangat disukai oleh anak-anak karena sifat bermain sendiri menye-nangkan. Menurut Saputra (2001: 6) me-nyatakan “bermain adalah kegiatan yang menyenangkan”. Sedangkan Syarifuddin (2004: 17) mengartikan “bermain adalah bentuk kegiatan yang bermanfaat/produktif untuk menyenangkan diri”. Bermain adalah aktivitas yang menyenangkan serius dan sukarela, dimana anak berada dalam dunia yang tidak nyata atau sesungguhnya.

Anak yang bermain akan melaku-kan aktivitas bermain dengan sukarela dan melakukan aktivitas bermain tersebut de-ngan kesungguhan, demi untuk memper-oleh kesenangan dari aktivitas tersebut. Menurut Sukintana (2004: 7) “bermain de-ngan rasa senang, untuk memperoleh kesenanga, kadang memerlukan kerjasama dengan teman, menghormati lawan, me-ngetahui kemampuan teman, patuh pada peraturan dan mengetehui kemampuan di-rinya sendiri”. Manfaat bermain untuk perkembangan fisik.

Pengertian Pendekatan Bermain

Bermain adalah suatu aktivitas yang disukai oleh anak-anak yang dapat menimbulkan keceriaan dan kegembiraan. Bermain sebenarnya merupakan dorongan dari dalam anak, atau naluri. Ciri lain yang sangat mendasar yaitu kegiatan itu dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan, dalam waktu luang.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpilkan bahwa, pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang dirancang dalam bentuk permainan. Dalam pendekatan bermain menekankan pada penerapan teknik dalam suatu permainan yang sesungguhnya, sehingga pendekatan bermain tersebut diistilahkan dengan pendekatan taktis.

Kerangka Berfikir

Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan program pendidikan melalui gerak dan permainan olahraga yang didalamnya terkandung bahwa gerakan, permainan atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Dalam hal ini mendidik keterampilan fisik, motorik, keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah dan juga keterampilan emosional dan sosial.

Dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan harus diterapkan model pembelajaran yang baik dan tepat. Banyaknya model pembelajaran menuntut seorang guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan harus menguasai dan memahami model-model pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehat-an. Model pembelajaran pendekatan ber-main merupakan salah satu model pembe-lajaran yang dapat diterapkan dalam pem-belajaran olahraga dan kesehatan. Model pembelajaran pendekatan bermain meru-pakan pembelajaran yang menuntut se-orang guru untuk menemukan hal-hal yang baru dalam pembelajaran pendidikan jas-mani olahraga dan kesehatan. Kreatif menuntut seorang guru untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar yang beragam atau bervariasi, sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Efektif yaitu menghendaki tujuan pembelajaran dapat tercapai.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri Gemolong 2. Alasan memilih tempat penelitian di SD, karena motivasi dan kemampuan gerak dasar cabang atletik khususnya nomor lompat jauh gaya jongkok di SD tersebut masih rendah sehingga perlu ditingkatkan agar motivasi dan kemampuan gerak dasar lompat jauh gaya jongkok dapat meningkat dengan baik dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juni, 2015.

Sumber Data

Sumber data dalam Penelitian Tin-dakan Kelas ( PTK ) ini adalah sebagai berikut: (1) Siswa, untuk mendapatkan data tentang lompat jauh gaya jongkok dengan penerapan pembelajaran pada sis-wa kelas V SD; (2) Guru, sebagai kola-borator untuk melihat tingkat keberhasilan penerapan pembelajaran lompat jauh gaya jongkok di SD.

Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini terdiri dari tes dan observasi. 1). Tes diperguna-kan untuk mendapatkan data tentang ke-mampuan lompat jauh gaya jongkok yang dilakukan siswa. 2).Observasi diperguna-kan sebagai teknik untuk mengumpulkan data tentang aktivitas siswa dan guru selama kegiatan belajar mengajar.

Indikator Kinerja Penelitian

Prosentase indikator pencapaian keberhasilan penalitian adalah sebagai berikut: skor awalan, tumpuan, saat melayang, saat mendarat, semua mencapai skor 70%.

Prosedur Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatnya kemam-puan belajar lompat jauh gaya jongkok kelas V SD. Setiap tindakan upaya penca-paian tujuan tersebut dirancang dalam satu unit sebagai satu siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yakni: (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi dan interprestasi; (4) evaluasi (refleksi) untuk perencanaan siklus beri-kutnya. Penelitian ini direncanakan dalam 2 siklus.

Rancangan siklus I

Pada Rancangan siklus I tindakan dikaitkan dengan kemampuan yang telah dicapai pada tingkatan siklus perbaikan sebagai upaya perbaikan dari siklus terse-but dengan materi pembelajaran sesuai dengan silabus mata pelajaran pendidikan jasmani. Demikian juga termasuk perwu-judan tahap pelaksanaan, observasi dan interprestasi, serta analisis dan refleksi yang juga mengacu pada siklus sebelum-nya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHAS-AN

Deskripsi Per Siklus

Dibawah ini disajikan data yang diperoleh selama proses pembelajaran sebelum diadakan tindakan dan kegiatan perbaikan pembelajaran pada dua siklus yaitu siklus I dan siklus II mata pelajaran Penjasorkes.

1.Sebelum perbaikan a). Persiapan 1). Guru mengkondisikan suasana kelas dengan mengabsen 2). Guru mengulang pelajaran yang lalu dengan mengadakan tanya jawab dengan anak 3). Menyusun kegiatan yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. 4). Menyiapkan alat-alat pelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran.b). Pelaksanaan dan pengamatan jalannya pembelajaran 1). Apersepsi dan pre tes 2). Guru membuka pelajaran. 3). Guru membahas atau menje-laskan materi pelajaran dengan metode campuran (ceramah, kelompok, demon-strasi, tanya jawab, diskusi dan tugas). 4). Siswa memperhatikan penjelasan. 5). Sis-wa mengerjakan soal-soal yang ditugaskan oleh guru. Melihat sebagian siswa ada yang belum memahami/menangkap penjelasan guru dan kurang mampu mengerjakan soal baik secara pribadi maupun kelompok. c). Observasi pada siklus ini guru/peneliti melakukan pengamatan dengan mencatat semua perilaku yang muncul akibat perlakuan/tindakan yang diberikan kepada siswa. Perolehan Hasil Ulangan Penjasorkes Kelas V SD Negeri Gemolong 2 kondisi Awal sebagai berikut: (1) Kelompok siswa yang mendapat nilai 80 ke atas; (2) Kelompok siswa yang mendapat nilai 60 – 70; (3) Kelompok siswa yang mendapat nilai kurang dari 60.

Sehingga jika hasil tersebut diper-sentasikan sebagai berikut: bahwa peroleh-an nilai ulangan siswa masih rendah sebagian besar siswa hanya mendapat nilai 40 – 60 dan rata-rata kelas hanya 55 berarti materi pelajaran baru mampu terserap 54 % masih banyak siswa yang belum memahami materi pelajaran. Maka Penjasorkes dan perlu diadakan perbaikan pembelajaran agar siswa memahami materi pelajaran.

1. Siklus Pertama

Dari hasil pengamatan pada saat melakukan metode kerja kelompok dari kegiatan inti sampai kegiatan akhir menun-jukkan peningkatan hasil belajar meskipun rata-rata baru 55, namun jelas beberapa siswa berani dan mampu mengerjakan tugas ke depan dan berpendapat diban-dingkan dengan kondisi awal terjadi sedikit peningkatan terbukti dari jumlah 36 siswa yang berani bertanya dan menjawab perta-nyaan 15 anak dan 21 anak lainya kurang aktif. Setelah diadakan ulangan ternyata juga ada peningkatan. Berikut nilai siklus I: (1) Kelompok siswa yang mendapat nilai 80 ke atas; (2): Kelompok siswa yang mendapat nilai 60 – 70; (3): Kelompok siswa yang mendapat nilai kurang dari 60. Sehingga jika dipersentasikan sebagai berikut: (1) klasifikasi A 17%, klasifikasi B 38%, dan klasifikasi C 45%.

2. Siklus II

Adapun hasil ulangan tersebut sebagai berikut: (1): Kelompok siswa yang mendapat nilai 80 ke atas; (2): Kelompok siswa yang mendapat nilai 60 – 70; (3): Kelompok siswa yang mendapat nilai ku-rang dari 60. Sehingga jika dipersentasikan sebagai berikut: (klasifikasi A 33%, klasifikasi B 67%, sedangkan yang maik klasifikasi C 0%.

Pembahasan

Dari hasil yang diperoleh terlihat bahwa pada kondisi pra siklus sebagian besar siswa belum mampu menjawab pertanyaan guru dengan benar. Setelah melakukan refleksi diri guru menggunakan media dan memberi penguatan siswa dalam memahami materi ternyata hasilnya lebih baik (pada Siklus I). Suasana belajar terlihat hidup dan siswa sangat bergairah. Kalau ditinjau dari hasil tes formatif ternyata ada peningkatan rata-rata kelas dari 55 menjadi 62. Namun demikian masih ada juga beberapa siswa mendapat nilai belum memuaskan. Hasil refleksi guru mengambil kesimpulan ternyata perlu adanya perubahan teknis pelaksanaan. Akhirnya pada siklus I guru menggunakan media secara merata, yang melibatkan siswa secara langsung, dengan tujuan penggunaan media belajar siswa akan lebih aktif, karena tidak hanya memperhatikan, tetapi juga terlibat secara fisik, panca indera yang terlihat lebih banyak, sehingga penanaman konsep akan lebih kuat dalam ingatan siswa.

Deskripsi Temuan dan Refleksi

Berdasarkan hasil tabel yang telah diuraikan di depan terlihat nilai Perbaikan pembelajaran sebelum adanya perbaikan menunjukkan rata-rata nilai kelas 55 yang belum tuntas 22 anak, yang tuntas 14 anak. Kemudian setelah perbaikan siklus I rata-rata nilai kelas menjadi 62 yang belum tuntas 16 anak, yang tuntas 20 anak. Kemudian pada siklus II perolehan rata-rata nilai kelas 71 semua menunjukkan ketuntasan. Perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan sudah menunjukkan kemaju-an. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan hasil belajar dari sebelum ada tindakan ke siklus I ke siklus II, yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang menjadi fokus perbaikan pembelajar-an dan refleksi yang dilakukan adalah: a) Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan bermain siswa lebih aktif. b). Menggunakan pendekatan bermain kepada siswa akan lebih jelas dan senang.c). Dengan menggunakan gaya jongkok menjadi lebih mudah.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tin-dakan kelas yang telah dilaksanakan dua siklus dengan menerapkan pembelajaran Penjasorkes tentang kemampuan loncat jauh dengan gaya jongkok menggunakan pendekatan bermain pada siswa Kelas V Sekolah Dasar Gemolong 2 Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen dapat dike-tahui bahwa: 1). Motivasi dan kemampuan siswa dalam menangkap dan memahami materi pelajaran yang disampaikan guru dapat lebih meningkat. Setelah guru dalam menjelaskan materi pembelajaran loncat jauh gaya jongkok dengan menggunakan pendekatan bermain.2).Kemampuan siswa menyerap materi pelajaran yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perolehan nilai tes formatif baik secara individu maupun nilai rata- rata. 3). Pendekatan bermain merangsang perhatian anak terhadap pemahaman materi pembe-lajaran sehingga penguasaan siswa pada materi meningkat.4).Pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan bermain pada kondisi awal nilai rata- rata 55, pada siklus pertama naik rata-rata menjadi 62 dan pada siklus kedua nilai rata-rata menjadi 71.

Berdasarkan hasil penelitian tindak-an kelas dengan menggunakan siklus tersebut di atas ternyata hipotesis yang dirumuskan telah terbukti kebenaranya, artinya bahan pembelajaran Penjasorkes dengan pendekatan bermain dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan loncat jauh gaya jongkok pada siswa Kelas V Semester 2 SD Negeri Gemolong 2 Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen Tahun Pelajaran 2014/2015.

 

Saran-saran

Berdasarkan hasil penelitian tindak-an kelas ada beberapa saran untuk dipertimbangkan sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan belajar siswa yang meliputi bagi sekolah, bagi guru, bagi siswa dan bagi orang tua.

1). Kepada Sekolah.

Bagi sekolah selalu berupaya men-ciptakan iklim belajar yang kondusif dan di dalam menjelaskan materi pelajaran selalu menggunakan gaya jongkok sehingga siswa dapat lebih termotifasi dan bergairah dalam mengikuti kegiatan yang akan menunjang dalam permainan loncat jauh Penjasorkes secara lebih nyata sekaligus meningkatkan aktifitas belajar siswa dalam bermain.

2). Kepada guru

Bagi guru sebelum melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar hendak-nya mempersiapkan secara cermat dan tepat perangkat pendukung pembelajaran Penjaskesorkes dan fasilitas belajar khususya dalam permainan agar materi yang disampaikan tidak verbalisme. Karena media sangat mempengaruhi efektifitas dan efisiensi pembelajaran.

Guru selalu berupaya mengaktifkan siswa, melakukan inovasi dalam proses belajar mengajar dan memberikan motivasi sehingga siswa tertarik dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran, yang pada ahkirnya berpengaruh pada proses belajar dan prestasi belajar siswa.

3).  Kepada siswa

Bagi siswa akan lebih aktif dan bergairah dalam setiap mengikuti proses pembelajaran tidak ada rasa takut atau malu bertanya maupun menyampaikan pendapatnya sehingga akan memperoleh hasil atau prestasi yang optimal.

4). Kepada Orang Tua

Peran serta orang tua dan perhatian orang tua sangat menentukan keberhasilan pendidikan siswa, sebab waktu yang paling banyak adalah di rumah. Oleh karenanya pengawasan siswa di rumah lebih banyak dari pada di sekolah. Pendidikan akan berhasil apabila ada kerja sama antara orag tua dan guru, bimbingan orang tua di rumah sangat berarti dalam kemajuan belajar siswa, tanpa bantuan orang tua, pendidikan anak tidak optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Benny, A. Pribadi. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat.

Depdiknas. 2006. Kurikulum 2006 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama

Jarver, J. 2005. Belajar dan Berlatih Atletik. Bandung: Pioner Jaya.

Jonath U, Haag E. & Krempel R. 1998. Atletik I. Alih Bahasa Suparno. Jakarta: PT. Rosda Jaya Putra.

Mudjiono, Dimyati. 2002. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: PGTKI Press

Riyadi, T. 1985. Petunjuk Atletik. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Riyanto, Y. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Saputra, Y.M 2001. Dasar-Dasar Keterampilan Atletik Pendekatan Bermain untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Jakarata: Depdiknas. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar & Menengah. Bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Olahraga.

Syarifuddin, A. 1992. Atletik. Jakarta: Depdikbud. Dirjendikti. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Syarifuddin, A. 2004. Atletik. Jakarta: Depdikbud. Dirjendikti. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Soegito. 1992. Atletik I. Surakarta: UNS Press.

Suprijono, A. 2008. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Wardani, D. 2009. Bermain Sambil Belajar. Bandung: Edukasia.