UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA MAPEL IPA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STAD BERVARIASI KELAS VIII B SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/2017

SMP NEGERI 4 AMPEL SATU ATAP BOYOLALI

 

Budi Sawarno

SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan, kerjasama, inisiatif, kreativitas, minat serta motivasi siswa selama proses pembelajaran siswa. Penelitian ini dilakukan di kelas VIII B SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali tahun pelajaran 2016/2017 dengan menerapkan model pembelajaran STAD. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2016 sampai dengan bulan Desember 2016. Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas VIII B SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Kabupaten Boyolali semester 1 tahun pelajaran 2016/2017. Indicator keberhasilan meliputi: hasil belajar siswa dapat meningkat yang ditandai dengan nilai tertinggi mencapai 85. Nilai terendah dapat meningkat minimal mencapai 75. Nilai rata-rata dapat meningkat minimal mencapai 80. Seluruh siswa telah dapat mencapai ketuntasan minimal (100%). Indikator kinerja untuk proses pembelajaran, kinerja proses pembelajaran diukur berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa, yang ditandai dengan meningkatknya keaktifan, kerja sama, inisiatif, kreatifitas, minat, dan semangat dengan nilai rata-rata lebih dari 3,0 (kategori baik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang ditinjau dari motivasi belajar siswa, setelah penerapan model pembelajaran STAD bervariasi terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, hal ini terlihat dari prasiklus sebesar 2,02 mengalami peningkatan menjadi 3,15 pada siklus I (peningkatan 1,14), pada siklus II meningkat menjadi 3,52 (peningkatan 0,37. Hasil belajar IPA bagi siswa kelas VIII B mengalami peningkatan nilai rata-rata dari kegiatan prasiklus sebesar 73,57 mengalami peningkatan menjadi 79,5 pada siklus I (peningkatan 5,93), pada siklus II menjadi 84,29 (peningkatan 4,79). Ketuntasan belajar mengalami peningkatan dari 9 siswa pada prasiklus menjadi 20 pada siklus I, kemudian mengalami peningkatan menjadi 28 pada siklus II.

Kata kunci: motivasi belajar siswa, hasil belajar, metode STAD

 

PENDAHULUAN

Kelas VIII B SMPN 4 Ampel Satu Atap terdiri dari 28 siswa, laki-laki sejumlah 16 siswa, siswa perempuan sejumlah 12. Khususnya pelaksanaan pembelajaran IPA, sebelum dilakukan penelitian pada tindakan awal (prasiklus) kondisi proses belajar mengajar belum baik, hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa yang diukur dengan indikator keaktifan, kerjasama, inisiatif, kreatifitas, minat, dan motivasi siswa selama proses pembelajaran.

Selain aktivitas belajar yang masih kurang, prestasi belajar siswapun masih kurang, hal ini tercermin dari nilai hasil ulangan harian Kompetensi dasar (KD.5.1) mengidentifikasi jenis-jenis gaya, penjumlahan gaya, dan pengaruhnya pada suatu benda yang dikenai gaya, materi ”Pengertian gaya” dan ”Jenis-jenis gaya” yang dilaksankan pada awal semester I Tahun pelajaran 2017/2018 pada mata pelajaran IPA kelas VIII A, menunjukkan hasil belajar IPA masih rendah, hasil tersebut terlihat dari ulangan harian Standar Kompetensi: 5. Memahami peranan Usaha, Gaya,dan Energi dalam kehidupan sehari hari, pada kompetensi Dasar: 5.1. Mengidentifikasi jenis jenis Gaya, penjumlahan Gaya dan pengaruhnya pada suatu benda yang dikenai Gaya, setelah dilakukan pembelajaran sebanyak 2 (dua) pertemuan, dengan materi: Pengertian gaya, Jenis-jenis gaya, Pengaruh gaya, Resultan gaya, Gaya gesek, massa dan berat.

Berdasarkan hasil pengamatan prasiklus terhadap aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA standar kompetensi tersebut di atas, khusunya di kelas VIII B, diketahui bahwa keaktifan rata-rata 1,82 (kurang), kerjasama rata-rata 1,89 (kurang), inisiatif rata-rata 2,18 (sedang), kreatifitas rata-rata 1,96 (kurang), minat rata-rata 2,25 (kurang), dan motivasi rata-rata 2,00 (sedang). Prestasi belajar IPA dari 28 siswa yang telah tuntas sebanyak 9 atau siswa 32,14%, dan 19 siswa atau 67,86% belum tuntas, dengan nilai tertinggi 81 dan nilai terendah 65, nilai rata-rata kelas baru mencapai 73,60 dari nilai KKM 78.

Demikian juga hasil belajar dari sejumlah 28 siswa dengan KKM 78, jumlah siswa tuntas 9 atau 32,14%, belum tuntas 19 atau 67,86%, nilai tertinggi 81, nilai terendah 65, rata-rata nilai 73,57. Rendahnya hasil belajar, dan rendahnya aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA tersebut disebabkan karena peneliti belum menerapkan model pembelajaran dan metode pemebelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.

Oleh sebab itu, sebagai langkah nyata untuk mengatasi permasalahan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa, perlu diterapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa terlibat langsung dan aktif dalam pembelajaran, dengan aktifnya siswa dalam mengikuti pembelajaran diharapkan siswa lebih memahami karena dengan terlibat langsung dalam proses pembelajaran, siswa memperoleh pengalaman secara langsung dari materi yang dipelajari.

Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan langsung dalam proses pembelajaran adalah metode Student Team Achievement Divisions (STAD) yaitu salah satu tipe pendekatan pembelajaran kooperatif dimana dalam pembelajaran dibentuk tim-tim heterogen yang saling membantu satu sama lain dalam belajar dengan menggunakan berbagai cara berdiskusi untuk memahami dan menuntaskan materi pembelajaran.

Melalui metode STAD dengan pembentukan kelompok yang bervariasi, diharapkan dapat mendorong keaktifan dalam belajar, kerjasama dengan teman kelompok untuk menuntaskan pembelajaran, timbulnya inisiatif untuk menyelesaikan kuesioner yang disampaikan oleh guru, timbulnya kreatifitas untuk memecahkan masalah, meningkatnya minat belajar siswa untuk menjawab pertanyaan guru, dan meningkatknya motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, yang pada giliranya akan meningkatkan hasil belajar baik dari segi ketuntasan belajar, nilai rata-rata kelas, nilai tertinggi maupun nilai terendah.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa pembelajaran IPA di kelas VIII B semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 yang dilaksankaan dengan metode ceramah dan tanya jawab yang dilanjutkan dengan penugasan kelompok terbukti tidak dapat mendorong siswa untuk belajar lebih aktif, dan hasil belajar cenderung rendah. Sehingga penerapan model pembelajaran STAD ini merupakan upaya untuk memperbaiki kondisi kelas, sehingga sangat tepat jika tindakan ini dilaksanakan dengan menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK), dengan judul “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Mapel Ipa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Stad Bervariasi Kelas Viii B Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali.

Rumusan Masalah

  1. Apakah melalui penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dapat meningkatkan aktivitas belajar IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017?
  2. Apakah melalui penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017?
  3. Apakah melalui penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dapat meningkatkan nilai tertinggi pada pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017?
  4. Apakah melalui penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dapat meningkatkan nilai terendah pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017?
  5. Apakah melalui penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dapat meningkatkan nilai rata-rata pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017?
  6. Apakah melalui penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dapat meningkatkan jumlah siswa yang tuntas dalam mengikuti pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017?
  7. Apakah melalui penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dapat menurunkan jumlah siswa yang belum tuntas dalam mengikuti pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017?

Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengatahui aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA melalui pembelajaran STAD bervariasi bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017.
  2. Untuk mengatahui hasil belajar IPA, melalui pembelajaran STAD bervariasi bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017.
  3. Untuk mengatahui proses dan hasil penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dalam meningkatkan nilai tertinggi pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017.
  4. Untuk mengatahui proses dan hasil penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dalam meningkatkan nilai terendah pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017.
  5. Untuk mengatahui proses dan hasil penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dalam meningkatkan nilai rata-rata pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017.
  6. Untuk mengatahui proses dan hasil penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dalam meningkatkan jumlah siswa yang tuntas dalam mengikuti pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017.
  7. Untuk mengatahui proses dan hasil penerapan model pembelajaran STAD bervariasi dalam menurunkan jumlah siswa yang belum tuntas dalam mengikuti pembelajaran IPA bagi siswa kelas VIII B, SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali semester I Tahun pelajaran 2016/2017.

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Hakekat Pembelajaran IPA

IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) merupakan Mata Pelajaran yang sangat penting. Bukti bahwa IPA merupan Mata Pelajaran yang penting banyak para pakar yang membuat definisi tentang IPA, definisi IPA tidak hanya dibuat oleh orang perorang tapi banyak juga kelompok atau group yang membuat definisi. Selain didefinisikan oleh beberapa kelompok bukti bahwa IPA merupakan Mata Pelajaran yang penting mulai tahun pelajaran 2008/2009 Mata Pelajaran IPA masuk salah satu Mata Pelajaran yang di Ebtanaskan pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Metode Pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD)

Menurut Hamzah B. Uno (2009: 16) metode pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Metode pembelajaran diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: strategi pengorganisasian, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan. Menurut Wina Sanjaya (2006: 147) metode pembelajaran adalah berbagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang disusun dalam kegiatan agar tujuan tecapai secara optimal seperti yang diharapkan. Ahmadi dkk (2011: 21) metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan guru dalam perencanaan pembelajaran. Penentuan metode yang digunakan guru dalam proses pembelajaran sangat menentukan berhasil tidaknya pembelajaran berlangsung.

Student Team Achievement Divisions atau disingkat dengan STAD merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif dimana dalam pembelajaran dibentuk tim-tim heterogen yang saling membantu satu sama lain dalam belajar dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran kooperatif dan prosedur kuis, tutorial satu sama lain atau melakukan diskusi.

Hakekat Aktivitas Belajar

Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas merupakan aktivitas mentransformasikan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan (Martinis Yamin, 2007: 75). Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar (Sardiman, 2006: 96). Saat pembelajaran belangsung siswa mampu memberikan umpan balik terhadap guru. Sardiman (2006: 100) menyatakan bahwa aktivitas belajar merupakan aktivitas yang bersifat fisik maupun mental.

Oemar Hamalik (2009: 179) menyatakan bahwa aktivitas belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran.Aktivitas belajar dapat terwujud apabila siswa terlibat belajar secara aktif. Martinis Yamin (2007: 82) mendefinisikan belajar aktif sebagai usaha manusia untuk membangun pengetahuan dalam dirinya. Pembelajaran akan menghasilkan suatu perubahan dan peningkatan kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan pada diri siswa. Siswa mampu menggali kemampuannya dengan rasa ingin tahunya sehingga interaksi yang terjadi akan menjadi pengalaman dan keinginan untuk mengetahui sesuatu yang baru.

Hakekat Prestasi Belajar Siswa

Hasil belajar (achievement) merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Hampir sebagian terbesar dari kegiatan atau perilaku yang diperlihatkan seseorang merupakan hasil belajar (Nana Syaodih Sukmadinata, 2007: 102). Menurut Sutartinah Tirtonagoro (2001: 43), “Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar mengajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.”

Kerangka Pemikiran

Pembelajaran IPA di kelas VIII B SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali yang dilaksanakan dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (Teacher Centered Learning) seperti ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan pengamatan awal tentang aktivitas belajar dan hasil belajar IPA di Kelas VIII B SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali hasilnya kurang maksimal. Siswa tidak aktif dalam mengikuti pembelajaran, siswa tidak menunjukkan kerjasama yang baik untuk menuntaskan pembelajaran, siswa kurang berinisiatif dalam memecahkan masalah terkait dengan materi pembelajaran, siswa kurang kreatifitas untuk memecahkan masalah, siswa kurang berminat untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, dan siswa tidak termotivasi untuk belajar.

Adanya permasalahan tersebut di atas, maka perlu adanya tindakan nyata, yaitu dengan menerapkan pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, salah satunya adalah melalui penerapan metode STAD, yaitu satu tipe pendekatan pembelajaran kooperatif dimana dalam pembelajaran dibentuk tim-tim heterogen yang saling membantu satu sama lain dalam belajar dengan menggunakan berbagai cara berdiskusi untuk memahami dan menuntaskan materi pembelajaran.

Melalui metode STAD, dapat mendorong keaktifan dalam belajar, kerjasama dengan teman kelompok untuk menuntaskan pembelajaran, timbulnya inisiatif untuk menyelesaikan kuesioner yang disampaikan oleh guru, timbulnya kreatifitas untuk memecahkan masalah, meningkatnya minat belajar siswa untuk menjawab pertanyaan guru, dan meningkatknya motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, yang pada giliranya akan meningkatkan hasil belajar baik dari segi ketuntasan belajar, nilai rata-rata kelas, nilai tertinggi maupun nilai terendah.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: Penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa SMP N 4 Ampel Satu Atap kelas VIII B semester 1 tahun pelajaran 2016/2017, yang ditandai dengan:

  1. Meningkatnya keaktifan dalam belajar, kerjasama, inisiatif, kreativitas, minat belajar dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan nilai rata-rata mencapai kategori baik (≥3,0).
  2. Meningkatknya jumlah siswa yang tuntas dalam mengikuti pembelajaran IPA hingga mencapai 100%.
  3. Menurunya jumlah siswa yang belum tuntas dalam mengikuti pembelajaran IPA hingga 0%.
  4. Meningkatnya nilai tertinggi hingga mencapai minimal 85.
  5. Meningkatknya nilai terendah hingga mencapai minimal 75.
  6. Meningkatnya nilai rata-rata kelas hingga mencapai minimal 80.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2016 sampai dengan bulan Desember 2016. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa Kelas VIII B SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah semester 1 tahun pelajaran 2016/2017. Kegiatan tindakan penelitian ini dilakukan di kelas VIII B, karena peneliti mengajar di kelas tersebut. Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas VIII B SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Kabupaten Boyolali semester 1 tahun pelajaran 2016/2017, yang berjumlah 28 siswa, terdiri dari laki-laki sejumlah 15 siswa, siswa perempuan sejumlah 13 seperti daftar terlampir (lampiran 2), dipilihnya kelas VIII B tersebut, dengan alasan pada ulangan harian Standar Kompetensi (SK. 5). Memahami peranan usaha gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari, kompetensi dasar (KD.5.1.) Mengidentifikasi jenis-jenis gaya, penjumlahan gaya, dan pengaruhnya pada suatu benda yang dikenai gaya, hasilnya masih rendah, selain itu dalam mengikuti pembelajaran siswa belum terlibat berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes dan non tes: Tes, yaitu tes tertulis berupa ulangan harian pada tindakan prasiklus, ulangan harian siklus I dan ulangan harian siklus II. Tes dilaksanakan pada akhir siklus setelah dilaksanakan pembelajaran STAD sebanyak 2 (dua) pertemuan. Non tes, yaitu penilaian melalui pengamatan tentang aktivitas siswa dan aktivitas peneliti dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode STAD, siklus I dan siklus II yang dilakukan oleh teman sejawat sebagai observer.

Validasi Data

Makna validitas dalam PTK berbeda dengan validitas pada penelitian formal misalnya penelitian kuantitatif. Pada jenis penelitian ini validitas lebih ditekankan pada keajekan alat ukur sebagai instrumen penelitian. Pada PTK validitas itu adalah keajekan proses penelitian seperti yang disyaratkan dalam penelitian kualitatif. Kriteria validitas untuk penelitian kualitatif adalah makna langsung yang batasi oleh sudut pandang peneliti itu sendiri terhadap proses penelitian.

Analisa Data

Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif komparatif untuk data kwantitatif yaitu dengan membandingkan hasil pengamatan tentang motivasi belajar dan hasil tes kondisi awal (prasiklus) dengan setelah tindakan siklus I dan setelah tindakan siklus II, dari hasil pembandingan tersebut dilakukan refleksi dengan menarik kesimpulan untuk memperoleh data ada tidaknya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa, yang selanjutnya menentukan tindakan pada siklus berikutnya. Berdasarkan anailsis kuantitatif, data hasil pengamatan tentang aktivitas belajar dan hasil belajar, selanjutnya dilakukan analisis deskriptif kwalitatif yaitu dengan menarasikan hasil perbandingan data tersebut.

Indikator Kinerja

Setelah tindakan siklus II berakhir diharapkan terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar belajar sebagai berikut. Hasil belajar siswa dapat meningkat yang ditandai dengan nilai tertinggi mencapai 85. Nilai terendah dapat meningkat minimal mencapai 75. Nilai rata-rata dapat meningkat minimal mencapai 80. Seluruh siswa telah dapat mencapai ketuntasan minimal (100%). Kinerja proses pembelajaran diukur berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa, yang ditandai dengan meningkatknya keaktifan, kerja sama, inisiatif, kreatifitas, minat, dan semangat dengan nilai rata-rata lebih dari 3,0 (kategori baik).

Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan proses yang berkesinambungan yang direncanakan dalam dua siklus. Dalam setiap siklusnya, meliputi empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan tahap refleksi.

HASIL TINDAKAN

Kondisi Prasiklus

Pada kegiatan prasiklus, aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA cenderung masih sangat rendah. Rendahnya aktivitas belajar siswa tersebut tercermin dari hasil pengamatan awal terhadap 28 siswa kelas VIII B SMP Negeri 4 Satau Atap Boyolali, dengan nilai rata-rata sebesar 2,02 (kategori sedang). Hasil penilaian pada tiap-tiap indikator adalah sebagai berikut: keaktivan siswa dalam belajar tergolong kurang (1,82), kerjasama tergolong kurang (1,89), inisiatif tergolong sedang (2,18), kreativitas siswa tergolog kurang (1,96), minat belajar siswa tergolong sedang (2,25), dan semangat siswa untuk belajar tergolong kurang (2,00).

Saat dilakukan ulangan harian, siswa yang tuntas baru mencapai 9 siswa (32,14%), siswa yang belum tuntas sebanyak 19 siswa (67,86%), nilai rata-rata sebesar 73,57, nilai tertinggi sebesar 81, dan nilai terendah sebesar 65. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa masih belum dapat mencapai kreteria ketuntasan belajar, dan secara keseluruhan hasil belajar masih tergolong kurang. Berdasrkan hasil pengamatan dan hasil belajar dapat diketahui bahwa pembelajaran IPA yang dilaksanakan dengan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan tidak mampu meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar IPA di kelas VIII B SMP Negeri 4 Satu Atap Boyolali.

Kondisi Siklus I

Setelah dilakukan tindakan perbaikan dengan menerapkan metode STAD, terjadi perubahan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, dimana siswa yang aktiv dalam mengikuti pembelajaran secara keseluruhan meningkat meningkat menjadi 3,15 (kategori tinggi). Hasil penilaian pada tiap-tiap indikator adalah sebagai berikut: siswa yang aktiv sebesar 3.21 (baik), kerjasama rata-rata 3,07 (baik), inisiatif rata-rata 3.11 (baik), kreatifitas rata-rata 3.21 (baik), minat rata-rata 3.14 (baik), dan semangat rata-rata 3.18 (baik).

Hasil belajar siswa berdasarkan ulangan harian setelah dilaksanakan pembelajaran dengan metode STAD sebanyak 2 (dua) pertemuan, terbukti jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar meningkat menjadi 20 siswa (71,43%), siswa yang belum tuntas sebanyak 8 siswa (28,57%), nilai rata-rata meningkat menjadi 79,5, nilai tertinggi sebesar 85, dan nilai terendah sebesar 75. Hal ini membuktikan bahwa melalui metode STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar IPA.

Kondisi Siklus II

Setelah dilakukan tindakan perbaikan dengan menerapkan metode STAD siklus II, motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran meningkat lagi dimana siswa yang aktiv dalam mengikuti pembelajaran secara keseluruhan meningkat meningakt menjadi 3,52 (kategori tinggi). Hasil penilaian pada tiap-tiap indikator adalah sebagai berikut: siswa yang aktiv sebesar 3.54 (baik), kerjasama rata-rata 3,50 (baik), inisiatif rata-rata 3.50 (baik), kreatifitas rata-rata 3.54 (baik), minat rata-rata 3.54 (baik), dan semangat rata-rata 3.54 (baik).

Hasil belajar siswa berdasarkan ulangan harian seetelah dilaksanakan pembelajaran dengan metode STAD sebanyak 2 (dua) pertemuan, terbukti jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 28 siswa (100%), siswa yang belum tuntas tidak ada (0%), nilai rata-rata meningkat menjadi 84,29, nilai tertinggi sebesar 90, dan nilai terendah sebesar 80. Hal ini membuktikan bahwa melalui metode STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar IPA.

PEMBAHASAN

Perbandingan Hasil pengamatan Motivasi belajar

Perbandingan aktivitas belajar siswa sebelum dilaksanakan tindakan dengan setelah dilaksanakan tindakan siklus I, menunjukkan nilai rata-rata aktivitas siswa dalam belajar setelah dilaksanakan tindakan prasiklus sebesar 2,02 (cukup), setelah dilaksanakan tindakan siklus I meningkat lagi menjadi 3,15 (tinggi). Peningkatan motivasi belajar siswa terjadi pada seluruh indikator.

Perbandingan aktivitas belajar siswa siklus I dengan siklus II menunjukkan nilai rata-rata aktivitas siswa dalam belajar setelah dilaksanakan tindakan siklus I sebesar 3,15 (tinggi), setelah dilaksanakan tindakan siklus II meningkat lagi menjadi 3,52 (tinggi). Peningkatan motivasi belajar siswa terjadi pada seluruh indikator.

Setelah dilakukan pembelajaran dengan menerapkan metode STAD sebanyak 2 (dua) kali yaitu siklus I dan siklus II, masing-masing siklus dilaksanakan 2 (dua) pertemuan, aktivitas belajar siswa dari prasiklus (sebelum dilakukan tindakan) meningkat. Peningkatan terjadi pada seluruh aspek penilaian. Setelah pembelajaran IPA diterapkan dengan metode gallery walk, sebanyak 2 (dua) siklus masing-masing siklus dilaksanakan 2 (dua) pertemuan, motivasi belajar siswa meningkat dari 2,02, meningkat menjadi 3,52 (terjadi peningkatan sebesar 1,51).

Perbandingan Hasil Belajar IPA

Perbandingan hasil belajar IPA dari pra siklus ke siklus I dapat diketahui bahwa setelah pembelajaran dilaksanakan dengan metode STAD jumlah siswa yang tuntas meningkat dari 9 menjadi 20 (terjadi peningkatan 11 siswa), jumlah siswa yang belum tuntas turun dari 19 menjadi 8 siswa atau berkurang sebanyak 11 siswa, nilai tertinggi meningkat dari 81 menjadi 85 (terjadi peningkatan 4), nilai terendah meningkat dari 65 menjadi 75 (terjadi peningkatan 10) nilai rata-rata meningkat dari 73,57 menjadi 79,5 (meningkat 5,93).

Setelah pembelajaran IPA dilaksanakan dengan metode STAD siklus II sebanyak 2 (dua) pertemuan, hasil belajar IPA meningkat. Perbandingan hasil belajar IPA dari siklus I ke siklus II dapat diketahui bahwa setelah pembelajaran dilaksanakan dengan metode STAD jumlah siswa yang tuntas meningkat dari 20 menjadi 28 (terjadi peningkatan 8 siswa), jumlah siswa yang belum tuntas turun dari 8 menjadi tidak ada atau berkurang sebanyak 8 siswa, nilai tertinggi meningkat dari 85 menjadi 90 (terjadi peningkatan 5), nilai terendah meningkat dari 75 menjadi 80 (terjadi peningkatan 5) nilai rata-rata meningkat dari 79,5 menjadi 84,29 (meningkat 4,79).

Perbandingan hasil belajar IPA dari prasiklus ke siklus II dapat diketahui bahwa setelah pembelajaran dilaksanakan dengan metode STAD dua siklus yaitu siklus I dan siklus II, jumlah siswa yang tuntas meningkat dari 9 nenjadi 28 (terjadi peningkatan sebanyak 19 siswa), jumlah siswa yang belum tuntas turun dari 19 siswa menjadi tuntas semua (terjadi penurunan 19 siswa), nilai tertinggi meningkat dari 81 menjadi 90 (terjadi peningkatan 9), nilai terendah meningkat dari 65 menjadi 80 (terjadi peningkatan 15) nilai rata-rata meningkat dari 73,57 menjadi 84,29 (meningkat 10,71).

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil peneltian dan pembahasan, proses pembelajaran, dan hasil belajar siswa kelas VIII B SMP Negeri 4 Satu Atap Ampel setelah pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan metode STAD, dapat dismpulkan sebagai berikut.

Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran yang ditinjau dari motivasi belajar siswa, setelah penerapan model pembelajaran STAD bervariasi terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, hal ini terlihat dari hasil pengamatan sebelum dilaksanakan tindakan (prasikus), siklis I, dan siklus II sebagai berikut. Keaktivan: Prasiklus 1.82 (kurang), setelah dilakukan tindakan siklus I meningkat menjadi 3.21 (baik), setelah dilakukan tindakan siklus II meningkat lagi menjadi 3,54. Kerjasama: Rata-ratanya dari Prasiklus 1.89 (kurang), meningkat menjadi 3.07 (baik pada siklus I dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 3.50(baik). Inisiatif: Rata-ratanya dari Prasiklus 2.18 (cukup), meningkat menjadi 3,11 (baik) pada siklus I dan meningkat lagi pada silus II menjadi 3.50(baik). Kreatif: Rata-ratanya dari Prasiklus 1.96 (kurang), meningkat menjadi 3.21 (baik), pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 3.54 (baik) pada Siklus II. Minat: Rata-ratanya dari Prasiklus 2,25 (cukup), meningkat menjadi 3.14(baik), pada siklus I dan meningkat lagi setelah dilakukan tindakan siklus II menjadi 3.54(baik). semangat: Rata-ratanya dari Prasiklus 2.00 (kurang), meningkat menjadi 3.18 (baik), pada siklus I dan meningkat lagi setelah dilakukan tindakan siklus II menjadi 3.54 (baik).

Hasil Belajar

Dengan menerapkan model pembelajaran STAD bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa kelas VIII B Semester 1 SMP Negeri 4 Ampel Satu Atap Boyolali tahun 2016/2017 standar kompetensi “Memahami peranan usaha gaya dan energy dalam kehidupan sehari- hari” yang ditunjukkan dengan meningkatkan jumlah siswa yang tuntas, berkurangnya siswa yang belum tuntas, meningkatkan nilai tertinggi, meningkatknya nilai terendah, dan meningkatnya nilai rata-rata sebagai berikut. Siswa Tuntas dari Prasiklus 9 siswa, meningkat menjadi 20 siswa pada siklus I dan meningkat menjadi 28 pada Siklus II. Siswa Belum Tuntas: dari Prasiklus 19 siswa, menurun menjadi 8 siswa pada siklus I dan menurun menjadi tidak ada (0) pada Siklus II. Nilai Tertinggi: dari Prasiklus 81, meningkat menjadi 85 pada siklus I dan meningkat lagi setelah dilakukan tindakan II menjadi 90. Nilai Terendah: dari Prasiklus 65, meningkat menjadi 75, pada siklus I dan meningkat lagi setelah dilakukan tindakan siklus II menjadi 80. Rata-rata Nilai: dari Prasiklus 73.57 meningkat menjadi 79.5, pada siklus I dan meningkat lagi setelah dilakukan tindakan siklus II menjadi 84,29.

Saran

Untuk Kepala Sekolah

Sebaiknya kepala sekolah selalu memberikan motivasi kepada guru agar dalam melaksanakan pembelajaran, guru menggunakan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered Learning), selain itu sebaiknya guru diberi motivasi agar berani mencoba menerapkan model-model pembelajaran selain STAD dalam proses pembelajaran, sehingga kemampuan guru dalam menerapkan berbagai model pembelajaran yang berpusat pada siswa semakin baik, dan siswa dapat termotivasi untuk mengikuti pembelajaran.

Untuk Guru

Sebaiknya metode STAD ini dicoba untuk diterapkan pada pelajaran lain, dan bila memungkinkan mencoba untuk menerapkan model pembelajaran yang berpusat pada siswa lainnya.

Untuk Siswa

Sebaiknya dalam mengikuti pembelajaran, setiap siswa selalu berpartisipasi aktiv dalam proses pembelajaran, dan berupaya untuk mengembangkan motivasi dalam dirinya dengan menunjukkan sikap aktiv dalam mengikuti pembelajaran, menunjukkan kerjasama, berinisiatif, kreativ, menunjukkan minat belajar yang tinggi, dan semangat belajar yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi dkk, 2011, Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Hamalik, Oemar. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Hamzah B Uno. 2009. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Martinis Yamin2007. Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung. Persada Press.

Nana Syaodih Sukmadinata, 2007, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Sardiman A.M. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press

Sutartinah Tirtonegoro, 2001, Anak Supernormal dan Program Pendidikannya. Jakarta: Gramedia.

Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.