DISKUSI KELOMPOK (GROUP DISCUSSION)

DAN PENILAIAN DADAKAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MEMAHAMI DAN MENGEMBANGKAN POTENSI PESERTA DIDIK DI SD NEGERI 4 POJOK UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN SEMESTER 1

TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Sri Wijayanti

SD Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kompetensi dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik di SD Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 setelah dilakukan upaya tindakan berupa Diskusi Kelompok (Group Discussion) dan Penilaian Dadakan. Subjek penelitian ini adalah seluruh guru kelas SD Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan. Penelitian ini dilakukan pada semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 selama 4 bulan yaitu pada bulan Agustus sampai dengan November 2016. Analisis data menggunakan analisis deskriptif komparatif. Langkah-langkah penelitian tindakan sekolah, dilakukan dari siklus dengan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Keberhasilan tindakan ditentukan apabila semua guru telah memiliki kategori baik atau sangat baik dengan skor rata-rata lebih dari 85 dan prosentase lebih dari 85%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan terjadi pada semua nilai rata-rata guru dan semua komponen indikator penilaian. Peningkatan nilai rata-rata guru dari prasiklus sebesar 5.67 meningkatkan menjadi 8.50 (peningkatan sebesar 2.83). Nilai rata-rata guru dari siklus I sebesar 8.50 pada siklus II menjadi 10.33 (peningkatan sebesar 1.83). Nilai rata-rata guru dari siklus II sebesar 10.33 pada siklus III menjadi 12.83 (peningkatan sebesar 2.50). Nilai rata-rata guru dari prasiklus sebesar 5.67 pada siklus III menjadi 12.83 (peningkatan sebesar 7.17). Peningkatan ketercapaian indikator dari kegiatan prasiklus sebesar 40.48% meningkat menjadi 60.71% (peningkatan sebesar 20.24%). Ketercapaian indikator pada siklus I sebesar 60.71% meningkat pada siklus II menjadi 73.81% (peningkatan sebesar 13.10). ketercapaian indikator pada siklus II sebesar 73.81% meningkat pada siklus III menjadi 91.67% (peningkatan sebesar 17.86%). Peningkatan ketercapaian indikator dari prasiklus hingga siklus III sebesar 51.19% (prasiklus sebesar 40.48% meningkat menjadi 91.67% pada siklus III).

Kata kunci: kompetensi guru, diskusi kelompok dan penilaian dadakan

PENDAHULUAN

Pada dasarnya setiap peserta didik mempunyai potensi, baik fisik, intelektual, kepribadian, minat, moral, maupun religi. Potensi fisik tidak hanya mengacu pada kondisi kesehatan fisik dan keberfungsian anggota tubuh tetapi juga berhubungan dengan proporsi pertumbuhan dan perkembangan fisik, perkembangan dan keterampilan psikomotorik. Potensi kepribadian mengacu pada kemampuan mengelola emosi, mengembangkan dan menjaga motivasi belajar, memimpin, beradaptasi, berinteraksi, berkomunikasi, responsibilitas, orientasi nilai, moral dan religi, sikap, dan kebiasaan. Sementara potensi intelektual sudah pasti berhubungan dengan kecerdasan yaitu prestasi akademik, kecerdasan umum, kemampuan khusus (bakat), dan kreativitas.

Memahami dan mengembangkan potensi peserta didik bagi seorang guru merupakan salah satu komponen dari kompetensi pedagogik (kompetensi 5) yang harus dimiliki oleh seorang guru. Guru yang memiliki kompetensi memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, akan mampu untuk menganalisis potensi pembelajaran setiap peserta didik dan mengidentifikasi pengembangan potensi peserta didik melalui program pembelajaran yang mendukung siswa mengaktualisasikan potensi akademik, kepribadian, dan kreativitasnya sampai ada bukti jelas bahwa peserta didik mengaktualisasikan potensi mereka.

Pemahaman tentang berbagai potensi peserta didik mutlak harus dimiliki oleh setiap pendidik. Hal itu sejalan dengan tujuh prinsip penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), yaitu (1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya, (2) Beragam dan terpadu, (3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan, (5) Menyeluruh dan berkesinambungan, (6) Belajar sepanjang hayat, dan (7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

Sebenarnya banyak sekali potensi yang dimiliki peserta didik. Tugas guru adalah bagaimana agar potensi-potensi tersebut dapat berkembang dengan maksimal, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Pengembangan potensi siswa melalui kegiatan intrakurikuler dapat terwujud melalui proses belajar yang melibatkan peserta didik secara aktif (active learning). Dengan demikian, siswa terus mengasah kecerdasan logika saat merumuskan ide-ide atau pendapat.

Selain dalam kegiatan intrakurikuler, pengembangan potensi siswa dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan potensi siswa melalui ekstrakurikuler dapat dilakukan oleh guru melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik, dan kegiatan lainnya.

Namun pada kenyataannya khususnya di SD Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan, berdasarkan hasil pengamatan selama satu semester yaitu pada semester II tahun Pelajaran 2015/2016, diketahui bahwa guru kurang memperhatikan pengembangan potensi peserta didik, sebagian besar guru lebih terfokus pada proses belajar mengajar sehingga guru kurang detail dalam menganalisis tingkat kemajuan siswa, dalam pelaksanaan pembelajaran guru kurang mampu menciptakan iklim pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik untuk belajar sesuai dengan pola belajar masing-masing siswa, guru kurang memperhatikan daya kreatif siswa, guru kurang memperhatikan siswa yang mengalami kesulitan belajar, dan guru tidak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar dengan cara belajar siswa masing-masing, sehingga seakan-akan siswa harus belajar sesuai dengan petunjuk guru.

Tanpa disadari oleh guru bahwa potensi peserta didik sebenarnya sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam belajar, namun hal tersebut kurang diperhatikan oleh guru. Tanpa disadari pula bahwa kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik merupakan salah satu komponen yang menggambarkan kinerja guru.

Berdasarkan permasalahan di atas, untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, sebagai kepala sekolah mempunyai kewajiban untuk mendorong guru untuk berkembang dan memiliki kompetensi yang memadai, salah satu upaya yang dapat dilakukan agar kompetensi guru tersebut dapat berkembang adalah dengan melakukan tindakan nyata berupa kegiatan diskusi kelompok (Group Discusion) dan penilaian dadakan. Diskusi kelompok dimaksudkan agar guru dapat saling bertukar pengalaman, dan saling mengisi kekurangan satu sama lainnya, sedangkan penilaian dadakan dimaksudkan agar guru selalu siap untuk menjalankan tugas pokoknya tanpa dibuat-buat, sehingga penilaian tersebut lebih objektif dan apa adanya.

Agar tindakan ini lebih efektif, maka sekaligus sebagai kegiatan pengembangan profesionalisme, maka tindakan ini dilakukan dalam bentuk penelitian tindakan sekolah dengan judul penelitian: Diskusi Kelompok (Group Discussion) dan Penilaian Dadakan Sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Guru dalam Memahami dan Mengembangkan Potensi Peserta Didik di SD Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017.

Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang permasalahan, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah: Apakah dengan tindakan berupa Diskusi Kelompok (Group Discussion) dan Penilaian Dadakan dapat meningkatkan kompetensi Guru dalam Memahami dan Mengembangkan Potensi Peserta Didik di SD Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peningkatan kompetensi dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik di SD Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 setelah dilakukan upaya tindakan berupa Diskusi Kelompok (Group Discussion) dan Penilaian Dadakan.

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Diskusi Kelompok (Group Discusion)

Menurut Suwarna (2006: 79) diskusi kelompok adalah suatu proses percakapan yang teratur, yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka, dengan tujuan berbagi informasi/pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah. Menurut Sagala (2009: 213) diskusi adalah pertukaran pikiran atau pendapat melalui suatu proses percakapan antara dua atau lebih individu tentang suatu masalah untuk mencari alternatif pemecahannya. Diskusi adalah pertukaran pendapat tentang sesuatu masalah untuk dipecahkan bersama. Diskusi merupakan cara untuk mengembangkan keterampilan anggota-anggotanya dalam mengatasi kesulitan-kesulitan dengan jalan bertukar pikiran (Sahertian, 2000: 96).

Penilaian Dadakan

Menurut Rivai (2004: 309) kinerja guru adalah perilaku nyata yang ditampilkan oleh guru sebagai prestasi kerja berdasarkan standar yang ditetapkan dan sesuai dengan perannya di sekolah. Peran guru yang dimaksud adlaah berkaitan dengan peran guru dalam proses pembelajaran. Guru merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada umumnya, karena guru memegang peranan dalam proses pembelajaran, dimana proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Guru merupakan perencana, pelaksana sekaligus sebagai evaluator pembelajaran di kelas ( Ondi Saondi, 2005:3).

Kompetensi Pedagogik

Menurut Asmani (2009: 59) kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik (siswa), perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kerangka Pemikiran

Kompetensi memahami dan mengembangkan potensi peserta didik merupakan salah satu komponen kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh seorang guru. Pada kenyataannya kompetensi ini kurang mendapat perhatian guru, sehingga timbul berbagai permasalahan yaitu: guru kurang detail dalam menganalisis tingkat kemajuan siswa, guru kurang mampu menciptakan iklim pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik untuk belajar sesuai dengan pola belajar masing-masing siswa, Guru kurang memperhatikan daya kreatif siswa, guru kurang memperhatikan siswa yang mengalami kesulitan belajar, dan guru tidak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar dengan cara belajar siswa masing-masing. Permasalahan tersebut di atas, jika tidak dilakukan tindakan, maka sangat dimungkinkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru tidak berjalan dengan efektif, dan tujuan pembelajaran tidak akan tercapai dengan baik. Untuk itu guna meningkatkan kompetensi memahami dan mengembangkan potensi peserta didik maka tindakan yang dapat dilakukan adalah melakukan pembinaan guru dalam bentuk diskusi kelompok (group discusion) dan penilaian dadakan.

Melalui diskusi kelompok, guru dapat menemukan cara untuk mengatasi permasalahan terkait dengan kompetensi tersebut, dan guru saling mengevaluasi kekurangan guru satu sama lainnya. Melalui penilaian dadakan, maka guru akan memperoleh gambaran nyata tentang kompetensi yang dimiliki dan kekurangan yang harus diperbaiki.

Hipotesis Tindakan

Melalui diskusi kelompok (Group Discussion) dan penilaian dadakan dapat meningkatkan kompetensi Guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik di SD Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 hingga mencapai indikator kinerja yang ditetapkan.

METODE PENELITIAN TINDAKAN

Desain Penelitian

Penelitian tindakan ini didesain sesuai dengan model Menurut John Elliot (dalam Muslihudin, 2010: 72). Model ini memiliki empat komponen penelitian tindakan (perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi) dalam suatu system spiral yang saling terkait.


Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah seluruh guru kelas SD Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan. Arikunto (2009: 15) Objek penelitian adalah variabel atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian, sedangkan subjek penelitian merupakan tempat dimana variabelmelekat. Objek penelitian tindakan sekolah ini adalah peningkatan kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik.

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada semester I Tahun ajaran 2016/2017 selama 4 bulan yaitu pada bulan Agustus sampai dengan November 2016. Tempat penelitian di Sekolah Dasar Negeri 4 Pojok UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan.

Data dan Sumber Data

Sesuai dengan karakteristik penelitian kuantitatif, dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai instrumen utama pengumpul data. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yaitu data hasil penilaian yang dilakukan pada saat observasi terhadap kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik berdasarkan indikator yang telah ditetapkan pada lembar observasi. Sumber data diperoleh dari hasil penilaian observasi langsung terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dalam memahami dan mengembangkan pontesi peserta didik. Karena data diperoleh langsung dari subyek penelitian maka disebut juga sebagai data primer.

Teknik Pengambilan Data

Untuk memperoleh data penelitian, teknik pengumpulan data dengan menggunakan lembar penilaian atau lembar observasi untuk mengambil data tentang kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan pengamatan dan pendokumentasian. Teknik ini dipilih karena sesuai dengan data yang akan diperoleh, yaitu berupa penilaian unjuk kerja guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik. Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai instrumen utama pengumpulan data.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu suatu teknik analisis dengan cara membandingkan nilai kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik yang dilakukan oleh guru pada prasiklus dengan siklus 1, siklus 1 dengan siklus 2, siklus 2 dengan siklus 3, dan mengadakan refleksi terhadap masing-masing siklus.

Prosedur Penelitian

Langkah-langkah penelitian tindakan sekolah, dilakukan dari siklus ke siklus lain. Setiap siklus dilakukan dengan langkah: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Indikator Keberhasilan

Keberhasilan tindakan ditentukan apabila semua guru telah memiliki kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik dengan kategori baik atau sangat baik dengan skor rata-rata lebih dari 85 (>85), dan seluruh komponen /indikator penilaian telah dilakukan dengan baik berdasarkan prosentase ketercapaian indikator telah mencapai lebih dari 85%.

HASIL PENELITIAN

Prasiklus

Berdasarkan nilai yang tercatat pada lembar obervasi, selanjutnya dilakukan rekapitulasi data, menghitung skor rata-rata, membuat kategorisasi nilai, dan menghitung prosentase ketercapaian indikator. Hasil penilaian kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik prasiklus, dapat diketahui bahwa dari enam guru yang dijadikan subjek penelitian, kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik tergolong cukup yang dibuktikan dengan skor rata-rata sebesar 5.67.

Selain menilai kompetensi guru, peneliti juga mengukur tingkat ketercapaian indikator, yang dihitung dengan prosentasi, pengukuran tingkat ketercapaian indikator ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran, indikator-indikator yang memang perlu mendapat penekanan dalam pembinaan, dengan mengukur prosentasi ketercapaian indikator maka peneliti akan mengetahui seberapa jauh guru memahami hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik. Prosentasi ketercapaian indikator kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik sebesar 40.48%. Skor tersebut menunjukkan bahwa dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik guru belum maksimal, sehingga perlu dilakukan tindakan nyata. Berdasarkan kenyataan tersebut, peneliti menyusun tindakan berupa diskusi kelompok yang nantinya ditindak lanjuti dengan penilaian dadakan.

Siklus I

Setelah peneliti bersama guru kolaborator memutuskan nilai, maka peneliti merekap hasil penilaian, menghitung skor rata-rata, menghitung prosentasi ketercapaian indikator dan membuat kategorisasi. Adapun rekapitulasi hasil penilaian siklus I, dapat diketahui bahwa dari enam guru yang dijadikan subjek penelitian, kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik tergolong baik yang dibuktikan dengan skor rata-rata sebesar 8.50. Ketercapaian komponen penilaian yang terdiri dari 7 komponen, hasilnya dapat diketahui bahwa rata-rata ketercapaian indikator kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik sebesar 60.71%. Skor tersebut menunjukkan bahwa kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik belum maksimal.

Berdasarkan hasil pengamatan, menunjukan bahwa nilai rata-rata kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik sebesar 8,50 (kategori baik) dengan prosentase ketercapaian sebesar 60,71%. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun kompetensi guru secara keseluruhan telah menunjukkan baik, namun belum semua guru dapat menguasai indikator penilaian denan maksimal (baru 60,71%), dengan demikian maka perlu dilakukan tindakan lanjutan siklus II, melalui diskusi kelompok dan penilaian dadakan lanjutan.

Siklus II

Setelah peneliti bersama guru kolaborator memutuskan nilai, maka peneliti merekap hasil penilaian, menghitung skor rata-rata, menghitung prosentasi ketercapaian indikator dan membuat kategorisasi. Adapun rekapitulasi hasil penilaian siklus I, dapat diketahui bahwa dari enam guru yang dijadikan subjek penelitian, kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik tergolong baik yang dibuktikan dengan skor rata-rata sebesar 10.33. Ketercapaian komponen penilaian yang terdiri dari 7 komponen, hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata ketercapaian indikator kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik sebesar 73.81%. Skor tersebut menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik belum maksimal.

Berdasarkan hasil pengamatan, menunjukan bahwa telah terjadi peningkatan terhadap kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, hingga mencapai kategori baik, namun belum mencapai indikator yang ditetapkan khususnya, ketercapaian indikator masih di bawah 85% (<85%). Oleh sebab itu perlu dilaksanakan tindakan berikutnya dengan melaksanakan diskusi kelompok dan penilaian dadakan yang terfokus pada kelemahan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik pada siklus berikutnya (siklus III).

Siklus III

Setelah peneliti bersama guru kolaborator memutuskan nilai, maka peneliti merekap hasil penilaian, menghitung skor rata-rata, menghitung prosentasi ketercapaian indikator dan membuat kategorisasi. Adapun rekapitulasi hasil penilaian siklus I, dapat diketahui bahwa kompetensi guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik setelah dilakukan diskusi kelompok ke tiga kalinya, tergolong sangat baik, dengan skor rata-rata sebesar 12.83. Ketercapaian komponen setelah dilakukan tindakan siklus III dapat diketahui bahwa rata-rata ketercapaian indikator kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik sebesar 91.67%. Skor tersebut menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik termasuk kategori sangat baik. Berdasarkan nilai masing-masing guru, dan nilai tiap-tiap komponen, maka dapat diketahui bahwa kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik seluruhnya sudah tergolong sangat baik dan telah mencapai indikator yang telah ditetapkan (>85%).

Berdasarkan hasil pengamatan, menunjukan bahwa telah terjadi peningkatan terhadap kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, hingga mencapai kategori sangat baik, dan telah mencapai indikator yang ditetapkan (>85%). Oleh sebab itu tindakan tidak perlu dilanjutkan.

PEMBAHASAN

Prasiklus dengan siklus I

Peningkatan kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik dapat dilihat dari peningkatan skor rata-rata hasil penilaian, perbandingan skor rata-rata kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik secara keseluruhan skor rata-rata mengalami peningkatan yaitu dari prasiklus sebesar 5.67 meningkat menjadi 8.50 (peningkatan terjadi sebesar 2.83).

Ditinjau dari penguasaan komponen/aspek penilaian kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik terjadi peningkatan pada seluruh aspek, perbandingan penguasaan aspek pada prasiklus dengan siklus I sebesar 20.24%. Nampak jelas bahwa melalui diskusi kelompok dan penilaian dadakan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memhami dan mengembangkan potensi peserta didik.

Siklus I dengan siklus II

Peningkatan kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik dari siklus I ke siklus II berdasarkan skor rata-rata menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, kesemuanya mengalami peningkatan sebesar 1.83, artinya melalui diskusi kelompok dan penilaian dadakan, mampu meningkatkan kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik.

Perbandingan Prosentasi ketercapaian indikator kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, seluruhnya mengalami peningkatan sebesar 13.10%, artinya melalui diskusi kelompok dan penilaian dadakan mampu meningkatkan penguasaan komponen memahami dan mengembangkan potensi peserta didik.

Siklus II dengan siklus III

Peningkatan kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik dari siklus II ke siklus III mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari perbandingan skor rata-rata, menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, kesemuanya mengalami peningkatan sebesar 2.50, artinya melalui diskusi kelompok dan penilaian dadakan mampu meningkatkan kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik.

Ditinjau dari prosentasi penguasaan komponen/aspek kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, terjadi peningkatan pada seluruh aspek, perbandingan prosentase penguasaan aspek kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik siklus II dengan siklus III mengalami peningkatan sebesar 17.86%. artinya melalui diskusi kelompok dan penilaian dadakan, mampu meningkatkan prosentasi penguasaan aspek memahami dan mengembangkan potensi peserta didik.

Prasiklus dengan siklus III

Peningkatan skor rata-rata kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik dari prasiklus ke siklus III berdasarkan skor rata-rata meningkat sebesar 7.17. Artinya melalui diskusi kelompok dan penilaian dadakan, mampu meningkatkan skor rata-rata kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik. Ditinjau dari penguasaan komponen/aspek penilaian kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, terjadi peningkatan pada seluruh aspek, perbandingan prasiklus dengan siklus III meningkat sebesar 51.19%. Artinya melalui diskusi kelompok dan penilaian dadakan, mampu meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan potensi peserta didik.

PENUTUP

Kesimpulan

Penerapan diskusi kelompok dan penilaian dadakan mampu meningkatkan kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik dari siklus ke siklus. Peningkatan terjadi pada semua nilai rata-rata guru dan semua komponen indikator penilaian. Peningkatan nilai rata-rata guru dari kegiatan prasiklus sebesar 5.67 meningkatkan menjadi 8.50 (peningkatan sebesar 2.83). Nilai rata-rata guru dari kegiatan siklus I sebesar 8.50 terjadi peningkatan pada siklus II menjadi 10.33 (peningkatan sebesar 1.83). Nilai rata-rata guru dari kegiatan siklus II sebesar 10.33 terjadi peningkatan pada siklus III menjadi 12.83 (peningkatan sebesar 2.50). Nilai rata-rata guru dari kegiatan prasiklus sebesar 5.67 terjadi peningkatan secara total pada siklus III menjadi 12.83 (peningkatan sebesar 7.17). Peningkatan ketercapaian indikator kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik dari kegiatan prasiklus sebesar 40.48% meningkat menjadi 60.71% (peningkatan sebesar 20.24%). Ketercapaian indikator pada kegiatan siklus I sebesar 60.71% mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 73.81% (peningkatan sebesar 13.10). ketercapaian indikator pada kegiatan siklus II sebesar 73.81% mengalami peningkatan pada siklus III menjadi 91.67% (peningkatan sebesar 17.86%). Peningkatan ketercapaian indikator dari kegiatan prasiklus hingga siklus III sebesar 51.19% ( prasiklus sebesar 40.48% meningkat menjadi 91.67% pada siklus III).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa melalui diskusi kelompok dan penilaian dadakan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik, baik secara perorangan maupun keseluruhan. Peningkatan kemampuan guru dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik disebabkan oleh meningkatkan pengetahuan guru yang diperoleh melalui teman sejawat dan masukan-masukan yang diberikan oleh peneliti.

Saran-saran

Penelitian ini menyarankan kepada UPTD Pendidikan Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan untuk meningkatkan kompetensi guru khususnya dalam memahami dan mengembangkan potensi peserta didik sebaiknya mengintensifkan penugasan pengawas ke SD Binaan untuk melakukan supervisi klinis dengan menggunakan teknik pembinaan yang bersifat diskutif dan setelah dilakukan supervisi hendaknya dinilai dan hasil penilaian oleh pengawas terhadap kompetensi guru sebaiknya disampaikan secara terbuka. Saran untuk kepala sekolah lain, sebaiknya dalam melakukan pembinaan guru, kepala sekolah mengintensifkan kegiatan forum-forum diskusi guru yang tidak terbatas pada KKG internal. Saran untuk guru, sebaiknya secara sadar guru lebih banyak melakukan komunikasi dengan guru lain untuk bertukar pengalaman baik dalam suasana formal maupun non formal, sehingga pengalaman dan pengetahuan guru dapat meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. PT. Rineka Cipta

Asmani, Jamal Ma’mur. 2009. 7 Kompetensi Guru Menyenangkan dan Profesional.Yogyakarta: Power Books.

Muslihuddin. 2010. Kiat Sukses Melakukan Penelitian Tindakan Kelas & Sekolah. Bandung: Rizqi Press

Rivai, Veithzal dan Ella Jauvani Sagala. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusisa untuk Perusahaan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Sagala, Syaiful. 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta.

Sahertian, Piet A. 2006. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Saondi, Ondi dan Aris Suherman. 2010. Etika Profesi Keguruan. Bandung: PT Refika Aditama