MELALUI METODE BIMBINGAN KEMANDIRIAN

UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TENTANG PENGUKURAN

BAGI SISWA TUNA DAKSA KELAS VII D SLBNEGERI 1 PEMALANG

Flaviana Estu Hartati

Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Pemalang

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) meningkatkan hasil belajar IPA materi tentang pengukuran bagi siswa kelas VII D SLB Negeri 1 pemalang, 2) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA materi tentang pengukuran bagi siswa kelas VII D SLB Negeri 1 Pemalang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri atas 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa Kelas VII DSLB Negeri 1 Pemalang KecamatanPemalang pada tahun pelajaran 2013/2013 sebanyak 1 siswa. Lama kegiatan penelitian ini adalah 4 bulan, yaitu mulai bulan Juli-Oktober 2013. Analisis data menggunakan teknik analisis diskriptif komparatif dengan membandingkan kondisi awal dengan hasil-hasil yang dicapai pada setiap siklus, dan analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II. Kesimpulan yang dapat peneliti sajikan dari hasil penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah1).Melalui penerapan metode bimbingan kemandirian ternyata dapat meningkatkan hasil belajar IPAmateri tentang pengukuran bagi siswa kelas VII DSLB Negeri 1 Pemalang pada semester I tahun pelajaran 2013/2014. 2). Melalui menerapkan metode bimbingan kemandirian, maka siswa tunadaksa akan lebih mudah dalam melaksanakan kegiatan belajar secara mandiri. Karena siswa telah mendapat petunjuk belajar dengan baik dari guru.

Kata Kunci: Tuna daksa, Hasil Belajar, Metode bimbingan kemandirian.


PENDAHULUAN

Penelitian tondakan kelas ini dilatarbelakangi kondisi siswa dalam belajar sangatlah pasih sekali. Siswa memang tidak ramai dan gaduh dalam kegiatan belajar. Siswa diam dan tampaknya men-dengarkan guru dalam menjelaskan materi pelajaran, tetapi diamnya siswa tersebut ternyata tidak mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi siswa takut dengan guru apabila ramai, guru pasti akan marah-ma-rah. Kondisi pembelajaran seperti tersebut diatas berlangsung beberapa kali perte-muan, hingga pada waktu dilaksanakan ulangan didapatkan hasil yang sangat tidak memuaskan.Hasil ulangan siswa rendah sekali. Dari analisis hasil ulangan baru memperoleh nilai 50. Dari hasil tersebut guru akhirnya merasa bahwa pembelajaran IPA dikelas VII D yang selama ini telah berjalan ada yang salah dan perlu adanya perubahan.

Dari hasil renungan dan refleksi dari guru, akhirnya guru IPA di kelas VII D yang juga sebagai peneliti menemukan alternatif untuk memperbaiki proses pem-belajaran IPA di kelas VII D SLB Negeri 1 Pemalang. Alternatif tersebut adalah de-ngan menggunakan atau menerapkan metode bimbingan kemandirian pada pem-belajaran IPA materi tentang pengukuran. Dalam pembelajaran IPA tentang peng-ukuran ini nantinya guru akan memberikan bimbingan secara berencana dan sistematis. Guru akan membimbing kepada siswa tunadaksa ini dengan baik agar siswa tersebut mampu mengatur kegiatan belajarnya dengan baik.

Berdasarkan latar belakang masa-lah di atas maka dapat disampaikan permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini, yaitu: (1) Apakah melalui penerapan metode bimbingan kemandirian dapat meningkat-kan hasil belajar IPA materi tentang pengukuran bagi siswa kelas VII D SLB Negeri 1 Pemalang pada semester I tahun pelajaran 2013/2014?. (2) Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA materi tentang pengukuran bagi siswa kelas VII D SLB Negeri 1 Pemalang pada semester I tahun pelajaran 2013/2014?.

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi tentang pengukuran bagi siswa kelas VII D SLB Negeri 1 pemalang pada semester I tahun pelajaran 2013/2014; (2) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA materi tentang pengukuran bagi siswa kelas VII D SLB Negeri 1 Pemalang pada semester I tahun pelajaran 2013/2014?

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HI-POTESIS

Metode Bimbingan Kemandirian

Menurut Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani (1991: 2) bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh seseorang baik pria maupun wanita yang memiliki pribadi yang baik dan pendidikan yang memadai, kepada seorang individu dari setiap usia untuk menolongnya mengemudikan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah pandangannya sendiri, membuat pilihannya sendiri dan memikul bebannya sendiri. Sedangkan menurut Bimo Walgito (2004: 6) bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan dalam kehidupannya agar individu atau sekumpulan individu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.

Sedangkan kemandirian menurut Herman Holstein yang dikuti oleh Umar dalam bukunya Pengantar Pendidikan (2000: 50) adalah sikap mandiri yang inisiatifnya sendiri mendesak jauh ke be-lakang setiap pengendalian asing yang membangkitkan swakarsa tanpa perantara dan secara spontanitas, yakni ada kebe-basan bagi keputusan, penilaian, pendapat, pertanggung jawaban tanpa menggan-tungkan orang lain. Menurut Brawer yang dikutip oleh M Chabib Thoha (2002:65) mengartikan kemandirian adalah suatu perasaan otonom. Sikap kemandirian me-nunjukkan adanya konsistensi organisasi tingkah laku pada seseorang, sehingga tidak goyah, memiliki selfreliance atau kepercayaan diri sendiri. Seseorang yang mempunyai sikap mandiri harus dapat mengaktualisasikan secara optimal dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain.

Hakekat Belajar

Menurut Hintzman, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme yang disebabkan oleh adanya pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Sedang-kan Wittig, menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman (Muhibbin Syah, 2003:90). Pendapat lain yang senada disampaikan oleh W.H Burton, bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu, dan antara individu dengan lingkungannya sehingga menjadi lebih mampu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Pendapat ini sangat mene-kankan pada masalah adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini, seseorang yang mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, balk dalam aspek pengetahuan, ketram-pilan maupun sikapnya (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2001:4).Dalam uraian pengertian di atas secara umum dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah hasil yang dicapai siswa selama mengikuti pelajaran dalam periode tertentu pada lembaga tertentu melalui penilaian yang hasilnya diwujudkan dengan angka atau simbol lain. Hasil belajar tersebut merupakan kemam-puan yang diperoleh siswa setelah meng-ikuti kegiatan pembelajaran. (Teguh, 2000:6). Belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan setiapp manusia dalam rangka mencapai sesuatu yang ingin dicapai. Menurut Ngalim Purwanto (2006: 85) menyimpulkan tentang balajar yaitu: 1) belajar merupakan suatu perubahan ting-kah laku; 2) belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman; 3) untuk dapat disebut belajar maka perubahan itu harus relatif mantap. Belajar merupakan suatu kegiatan yang kompleks, dimana setelah belajar tidak hanya memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai, akan tetapi siswa harus mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mengembangkan pemikir-annya, karena belajar adalah proses kognitif (Martinis Yamin, 2006:106).

Tunadaksa

Secara etiologis, gambaran sese-orang yang diidentifikasi mengalami ketu-nadaksaan, yaitu seseorang yang meng-alami kesulitan mengoptimalkan fungsi anggota tubuh sebagai akibat dari luka, penyakit, pertumbuhan yang salah bentuk, dan akibatnya kemapuan untuk melakukan gerakan-gerakan tubuh tertentu mengalami penurunan. Secara definitif, pengertian ke-lainan fungsi anggota tubuh (tunadaksa) adalah ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya disebabkan oleh berkurangnya kemampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsi secara normal akibat luka, penyakit, atau partum-buhan yang tidak sempurna sehingga untuk kepentingan pembelajarannya perlu layanan secara khusus (Suroyo&Kneedler dalam Efendi, 2006).

Secara umum, karakteristik kelain-an anak yang dikategorikan sebagai pe-nyandang tunadaksa dapat dikelompokkan menjadi:

1) Tunadaksa Ortopedi (orthopedically handicapped). Anak tunadaksa orto-pedi merupakan anak tunadaksa yang mengalami kelainan, kecacatan, ketu-naan tertentu pada bagian tulang, otot tubuh, ataupun daerah persendian baik yang dibawa sejak lahir (congenital) maupun yang diperoleh kemudian (ka-rena penyakit atau kecelakaan) sehing-ga mengakibatkan terganggunya fungsi tubuh secara normal.

2) Tunadaksa Saraf (neurologically handi-capped). Anak tunadaksa saraf yaitu anak tunadaksa yang mengalami ke-lainan akibat gangguan pada susunan saraf di otak.

3) Tunadaksa Tipe Campuran. Pada ka-sus-kasus tertentu terdapat penderita yang kondisinya menunjukkan perpa-duan di antara jenis-jenis Tunadaksa Ortopedi dan Tunadaksa Saraf. Con-tohnya penderita cerebralpalsy yang diidentifikasikan dalam ciri spasticity tampak pula ciri athetosis dan ataxia, atau spasticity dengan tremor atau regidity.

Pembelajaran IPA

Ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan kata-kata Inggris yaitu natural science, artinya ilmu pengetahuan alam (IPA). Berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan alam, sedangkan science artinya ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini.Menurut Rom Harre (Hendro Darmodjo dan Jenny R. E. Kaligis, 1993: 4), Science is a collection of well attested theories which explain the patterns and regularities among carefully studied phenomena. Bila diterjemahkan secara bebas artinya sebagai berikut: IPA adalah kumpulan teori yang telah diuji kebenarannya yang menjelaskan tentang pola-pola keteraturan dari gejala alam yang diamati secara seksama.

Kerangka berpikir

Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dideskripsikan sebagai berikut, pada kondisi awal guru masih menggunakan pembelajaran yang konvensional, sehingga nilai hasil ulangan IPA sangat rendah. Atas dasar hasil tersebut, guru menerapkan metode Bimbingan Kemandirian yang pada siklus I dan II memberikan bimbingan kepada siswa tunadaksa untuk mengenal dirinya dan dapat belajar dengan mandiri. Atas dasar penerapan metode tersebut, hasil ulangan IPA menjadi meningkat.

METODE PENELITIAN

Setting dan Objek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2013/2014. Lama kegiatan penelitian ini adalah empat bulan, dimulai bulan Juli 2013 sampai denngan bulan Oktober tahun 2013. Pelak-sanaan kegiatan penelitian ini dilaksanakan disesuaikan dengan jadwal kegiatan pem-belajaran yang sedang berlangsung, termasuk materi yang diajarkan pada waktu itu.

Tempat penelitian ini dilakukan adalah di SLB Negeri 1 Pemalang dan penelitian ini difokuskan di kelas VII DSLB Negeri 1 Pemalang pada semester 1 tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian difokuskan untuk kelas VII DSLB Negeri 1 Pemalang pada semester 1 Tahun Pelajaran 2013/2014. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII DSLB Negeri 1 Pemalang kecamatan Pemalang kabupaten Pemalang. Kelas VII D di SLB Negeri 1 Pemalang ini terdiri dari 1 siswa Tunadaksa. Siswa tersebut memiliki cacat fisik, sedangkan untuk kemampuan berfikirnya tidaklah jauh berbeda dengan siswa pada umunya.

Sumber Data

Data primer penelitian ini adalah siswa kelas VII D yang berjumlah seorang anak dan nilai hasil ulangan pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya materi tentang pengukuran. Sedangkan untuk data tambahan antara lain seperti dokumen lembar kerja siswa, absensi belajar siswa, lembar pengamatan keaktif-an belajar siswa. Selain itu data penun-jang/tambahan diperoleh dari nara sumber lain (informan), yaitu dari guru lain, kepala sekolah ataupun pengamat yang memban-tu peneliti melakukan pengamatan.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pokok, adalah dengan menggunakan tes tertulis, lisan, perbuatan dan non tes. Dalam tes tertulis, siswa diberikan soal evaluasi bela-jar dengan jumlah soal sebanyak 10 butir soal. Hasilnya nanti akan dianalisis oleh peneliti untuk mengetahui tingkat keber-hasilan belajar siswa. Sedangkan untuk data-data tambahan diperoleh dengan melakukan wawancara dengan guru, siswa dan kepala sekolah. Wawancara tersebut tentang pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya pada materi tentang pengukuran.

Analisis Data

Analisa data kuantitatif mengguna-kan analisis diskriptif komparatif dan untuk data kualitatif menggunakan analisis diskruptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus. Analisa tersebut membandingkan data hasil belajar kondisi awal, hasil belajar setelah siklus 1 dan hasil belajar setelah siklus II, kemudian dilanjutkan denan refleksi. Dari hasil refleksi tersebut penulis baru dapat mengambil sebuah kesimpulan dari hasil penelitian

Prosedur Penelitian

Adapun langkah-langkah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

Perencanaan/Planing.

Peneliti merencanakan kegiatan kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi apersepsi yaitu membuka proses pem-belajaran dengan berdoa, mengabsen sis-wa, menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa, dan memberikan motivasi kepada siswa. Dilanjutkan merencanakan kegiatan inti yaitu proses pembelajaran dengan menggunakan metode bimbingan kemandirian.Diakhir kegiatan, dilanjutkan dengan merencanakan pelaksanaan tes formatif dan instrumennya.Semua kegiatan tersebut tertuang dalam Rencana Pelaksa-naan Pembelajaran (RPP).

Pelaksanaan/Acting

Pada setiap siklus, guru sudah menggunakan metode bimbingan keman-dirian dalam kegiatan pembelajaran.Materi pelajaran IPA yang di pelajari saat ini adalah tentang pengukuran.Kegiatan pem-belajaran dimulai dengan kegiatan awal pembelajaran, yaitu mengucapkan salam dan menyapa siswa, mengabsen siswa dan memberikan apersepsi dan motivasi. Selanjutnya adalah perancanaan kegiatan inti. Kegiatan inti pembelajaran dilaksanakan secara tahap demi tahap. Tahap pertama adalah, peneliti memfasiltasi siswa agar siswa tunadaksa tersebut secara aktif dapat mencari, menemukan solusi atas permasalahan kemandirian belajar yang dihadapi. Tahap kedua, guru memberikan penjelasan secukupnya mengenai materi pelajaran.

Observasing (pengamatan)

Pada tahap ini teman sejawat melakukan pengamatan proses pembela-jaran dan pengamatan hasil belajar siswa. Kegiatan siswa maupun kegiatan guru diamati selama proses kegiatan pembela-jaran. Hasil pengamatan proses pembela-jaran berupa lembar pengamatan dan lembar observasi, sedangkan hasil peng-amatan hasil belajar berupa daf’tar nilai ulangan siswa.

Reflekting atau refleksi

Hasil pengamatan selama proses pembelajaran yang berupa lembar peng-amatan yang dilakukan oleh teman sejawat, maupun hasil pengamatan terhadap hasil belajar yang berupa daftar nilai ulangan siswa direfleksi, dicari kebaikan­-kebaikan dan kekurangan-kekurangannya untuk dija-dikan dasar pelaksanaan siklus berikutnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHAS-AN

Deskripsi Kondisi Awal

Pengamatan pada pembelajaran awal menemukan banyak sekali kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki. Pada saat pembelajaran guru belum dapat membuat siswa merasa senang dan bersemangat mengikuti pembelajaran. Sis-wa memperhatikan penjelasan guru ha-nya diawal-awal kegiatan pembelajaran saja. Siswa masih suka mengamati hal-hal lain pada saat guru menerangkan materi pelajaran.Anak tidak konsentrasi, dan tidak memperhatikan buku materi pelajaran yang sedang dijelaskan oleh seorang guru. Selama ini, dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan pengisian Lembar Kerja Siswa, sehingga pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam selama ini cenderung pasif.

Dari hasil ulangan pada kondisi awal perolehan nilai pada pembelajaran awal didapatkan bahwa siswa baru mendapatkan nilai 50. Soal ulangan yang diberikan oleh guru berjumlah 10. Siswa baru dapat menyelesaikan 5 butir soal dengan baik dan benar, sedangkan 5 butir soal lainnya masih belum benar. Perolehan nilai tersebut mewakili nilai rata-rata kelas pada kondisi awal, yaitu 50.

Deskripsi Siklus I

Pembelajaran dimulai dengan membuka pelajaran, mengucapkan salam dan menyapa siswadan memberikan apersepsi dan motivasi. Pada kegiatan apersepsi, peneliti menjelaskan bahwa benda-benda yang ada disekitar kita itu memiliki ukuran. Agar kita dapat mengukur benda tersebut maka kita harus dapat mengetahui alat-alat ukur dan cara mengukur.Guru juga memberi motivasi kepada sisa agar setiap hari anak-anak harus selalu rajin belajar, agar menjadi anak pintar, berprestasi dan besok menjadi orang besar.“Kita tidak boleh merasa minder dan tidak percaya diri”.

Kegiatan belajar selanjutnya ada-lah inti pembelajaran. Tahap pertama adalah Eksplorasi. Peneliti menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran. Peneliti memberikan pertanyaan kepada siswa yang berkaitan dengan pengukuran, seperti berapakah tinggi badanmu? Berapa lama kamu dalam belajar. Siswa diminta oleh peneliti untuk untuk membaca pengertian dari pengukuran secara berulang-ulang. Siswa dilatih berfikir dan menjawab pertanyaan dengan baik.

Pada tahap kedua adalah Elabo-rasi. Pada tahap ini, peneliti menjelaskan materi pelajaran tentang besaran dan pengukuran. Peneliti memberikan penjelasan kepada siswa mengenai materi-materi yang penting bagi siswa. Melalui materi tersebut, guru membimbing siswa bagaimana agar siswa dapat memahami dengan mudah materi yang sedang dipelajari. Tahap ketiga adalah Konfirmasi. Pada tahap ini guru memberikan pemahaman lebih lanjut kepada siswa tentang materi pelajaran yang telah di pelajari.

Kegiatan akhir dalam pembelajaran siklus I ini, guru melakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pengusaan dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Evaluasi dilaksanakan oleh siswa secara individu.Jumlah soal yang diberikan adalah 10 butir soal.Teridiri dari 10 soal pilihan ganda dan 5 soal isian.Guru memeriksa dan memberikan penilaian atas pekerjaan siswa.Kegiatan belajar diakhiri dengan berdoa dan pemberian motivasi untuk belajar.

Berdasarkan hasil analisis, siswa telah mendapatkan nilai 70.Hasil pelaksana-an ulangan siklus 1 ini telah mendapatkan ketuntasan hasil belajar. Dari perolehan nilai tersebut maka pada siklus 1 ini nilai rata-rata secara klasikal telah mencapai 70. Perolehan nilai hasil belajar pada siklus 1 ini telah menunjukkan kenaikan yang sangat baik.

Nilai hasil ulangan siswa pada siklus 1 telah mengalami kenaikan yang baik. Pada kondisi awal siswa baru memperoleh nilai ulangan sebesar 50, kemudian pada perbaikan pembelajaran siklus I hasil ulangan siswa menjadi 70. Pada pelaksanaan pembelajaran siklus 1, nilai rata-rata kemampuan guru dalam proses pembelajaran mencapai 2,47 aspek yang ada sudah dilaksanakan guru dengan baik. Dalam kegiatan pembelajaran siswa juga sudah mengalami perubahan.

Deskripsi Siklus II

Langkah pertama dari pelaksana-an pembelajaran siklus II ini diawali dengan mengucapkansalam dan menyapa siswa, dengan menyapa siswa suasana kelas akan menjadi lebih akrab antara guru dan siswa. Kemudian selanjutnya adalah mengabsen siswa. Tidak lupa untuk meng-ingat materi yang terdahulu guru memberikan apersepsi. Guru menjelaskan kepada siswa bahwa pada, pembelajaran kemarin kita telah belajar tentang pengukuran. Pada zaman dahulu pengukuran negara satu dengan negara lainnya tidak sama, kemudian pada tahun 1875 diadakan pemilihan satuan standar oleh Lembaga Berat dan Ukuran Internasional. Tujuannya adalah agar seluruh dunia memiliki satuan ukuran yang sama.

Pembelajaran dilanjutkan dengan Kegiatan Inti Pembelajaran. Tahap pertama adalah Eksplorasi. Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diberikan pertanyaan apakah siswa dapat melakukan pengukuran dengan benar atau belum. Guru meminta kepada siswa untuk praktik mengukur panjang meja, kursi dan papan tulis dan menuliskan hasil pengukurannya. Siswa dilatih berfikir dan menjawab pertanyaan dengan baik. Tahap kedua adalah Elaborasi. Peneliti menjelaskan materi pelajaran tentang besaran dan pengukuran. Peneliti memberikan penjelasan kepada siswa mengenai materi-materi yang masih sulit untuk dimengerti oleh siswa. Melalui materi tersebut, guru membimbing siswa bagaimana agar siswa dapat memahami dengan mudah materi yang sedang dipelajari. Dalam belajar, siswa dibimbing untuk dapat memahami pelajaran, disamping siswa harus menghafal beberapa pengertian-pengertian dan satuan besaran ataupun pengukuran. Setelah guru memberikan penjelasan, siswa diberikan kesempatan untuk belajar mandiri. Siswa diminta oleh guru untuk membaca buku IPA pada materi tentang pengukuran. Pada saat kegiatan pembaca tersebut, siswa diminta memberikan tanda garis/menggunakan stabilo pada materi-materi yang dianggap penting bagi siswa. Guru memberikan penjelasan secukupnya mengenai materi pelajaran. Bersama dengan guru, siswa ditunjukkan alat-alat pengukuran seperti mistar, rol meter, jangka sorong dan beberapa alat ukur lainnya.

Tahap yang ketiga adalah Konfirmasi. Pada tahap korfirmasi guru memberikan pemahaman lebih lanjut kepada siswa tentang materi pelajaran yang telah di pelajari.Siswa bersama-sama dengan guru menyimpulkan materi pelajaran.Guru juga membimbing siswa apabila ada materi pelajaran yang tersa masih sulit dimengerti.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II diakhiri dengan ulangan. terlihat siswa telah mendapatkan nilai 90.Hasil pelaksana-an ulangan siklus II mendapatkan ketuntasan hasil belajar telah memuaskan. Perolehan nilai hasil belajar pada siklus II ini telah menunjukkan kenaikan yang sangat baik.

Dalam pelaksanaan siklus II selama proses pembelajaran dibutuhkan adanya pengamatan. Pengamatan ini meliputi: per-tama, pengamatan terhadap guru selama melaksanakan proses pembelajaran dan kedua, pengamatan terhadap siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Berdasar-kan tabel lembar pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata prosentase penilaian total dari hasil pengamatan terhadap guru pada siklus II mencapai rata-rata 96,67% dengan kategori baik.

Kegiatan guru pada siklus II juga menunjukkan bahwa guru lebih aktif, mampu memotivasi siswa dan mampu menjelaskan materi dengan baik, serta melaksanakan perannya yang utama seba-gai fasilitator dan pendamping siswa dalam melakukan diskusi dengan kelom-pok belajarnya. Berdasarkan hasil pada siklus II, maka tindakan dalam siklus dihentikan, karena hasil yang diharapkan sudah maksimal dan mencapai rata-rata lebih dari nilai 70, sesuai dengan indikator keberhasilan.

Hasil Penelitian

Dalam pembelajaran guru dituntut untuk dapat membuat sebaik mungkin membuat suasana belajar yang menyenang-kan. Metode bimbingan kemandirian adalah salah satu alternatif yang menarik dan dapat di gunakan untuk menunjang keber-hasilah belajar siswa tunadaksa di SLB Negeri 1 Pemalang. Selain itu, dengan metode kemandirian secara lengsung terhadap materi pelajaran maka akan lebih meningkatkan pemahaman siswa mengenai Materi tentang pengukuran pada pelajaran IPA yang di ajarkan oleh guru. Pada penelitian tindakan kelas ini terbukti bahwa dengan metode bimbingan kemandirian mampu meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII DSLB Negeri 1 Pemalang Kecamatan Pemalang Kabupaten Pemalang Materi tentang pengukuran.

PENUTUP

Simpulan

Berdasar hasil pengamatan dan pembahasan yang telah dipaparkan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa 1).Melalui penerapan metode bimbingan kemandirian ternyata dapat meningkatkan hasil belajar IPAmateri tentang pengukuran bagi siswa kelas VII DSLB Negeri 1 Pemalang pada semester I tahun pelajaran 2013/2014, 2). Melalui menerapkan meto-de bimbingan kemandirian, maka siswa tunadaksa akan lebih mudah dalam melaksanakan kegiatan belajar secara mandiri. Karena siswa telah mendapat petunjuk belajar dengan baik dari guru.

DAFTAR PUSTAKA

Abu, Ahmadi. 2004. Prinsip-Prinsip Belajar, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Bimo, Walgito. 2004. Bimbingan Belajar, Malang: UMM Perss.

M Chabib Thoha. 2002. Pengantar Pen-didikan Anak Berkebutuhan Khu-sus. Jakarta: Rineka Cipta

Mulyadi, HP. 2009.Materi Pelatihan Penyu-sunan PTK, Semarang: Depdiknas LPMP.

Purwanto, Ngalim. 2000. Psikologi Pendi-dikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rohman Natawijaya. 2002. Evaluasi dan Hasil Belajar Siswa, Bandung: CV. Pustakan Setia.

Sriwidati, dkk. 2010. Pengantar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Prenada Media Group

Sudjana, Nana. 2003, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. RemajaRosdikarya.

Teguh. 2000. Penilaian Hasil Belajar Siswa, Jakarta: Amzah.

Umar Tirtaraharja, Lasula. 2000. Pengantar Pendidikan, Jakarta:Rineka Cipta.

Yamin, Martinis. 2007. Kiat Membelajarkan Siswa, Jakarta: Gaung Persada Press.

Winataputra, 2008, Materi dan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar, Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Wina Sanjaya, 2008. Strategi Pembelajar-an, Bandung: Remaja Rosdadarya.