UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS IX C MELALUI METODE DISKUSI KELOMPOK DENGAN MENGGUNAKAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) PADA MATA PELAJARAN

 ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)

DI SMP NEGERI 4 AMPEL SATAP BOYOLALI JAWA TENGAH SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2016/2017

 

Niken Budianingsih

SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa kelas IX C melalui metode diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) di SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali semester genap tahun 2017 dengan subjek penelitian siswa kelas IX C yang berjumlah 22 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui metode diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS), dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran baik secara individu maupun kelompok dan hasil belajar IPS aspek pengetahuan bagi siswa kelas IX C SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali. Peningkatan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran tercermin dari hasil pengamatan prasiklus rata-rata siswa sebanyak 56,8%, setelah dilakukan tindakan dengan menerapkan metode diskusi kelompok meningkat menjadi 76,1%, pada siklus I. Setelah dilakukan tindakan siklus II, keaktifan siswa meningkat lagi menjadi 92%. Keaktifan siswa dalam belajar kelompok prasiklus rata-rata sebanyak 48,5% mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 77,27% dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 90,9%. Nilai rata-rata hasil belajar IPS aspek pengetahuan pada kegiatan prasiklus sebesar 70,09 dengan jumlah ketuntasan sebanyak 12 siswa (54,55%). Setelah dilakukan tindakan I, nilai rata-rata pada siklus I meningkat menjadi 76,59 dengan jumlah ketuntasan meningkat menjadi 14 siswa (63,64%) dengan demikian setelah dilakukan tindakan siklus I, terjadi kenaikan nilai rata-rata sebesar 6,5. Pada siklus II ditunjukkan dengan nilai rata-rata adalah 81,23 dan jumlah ketuntasan sebanyak 22 siswa (100,00%).

Kata kunci: diskusi kelompok, keaktifan siswa, hasil belajar IPS

 

PENDAHULUAN

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan mudah, cepat dan melimpah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Siswa membutuhkan pemikiran yang kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemampuan bekerja sama yang efektif untuk dapat memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah dan kompetitif. Cara berfikir seperti ini dapat di kembangkan melalui belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) karena Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya, sehingga memungkinkan siswa terampil berpikir rasional (Tim Penyusun, 2003:1). Menurut Hudojo (2008: 3), dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) siswa harus melakukannya secara kontinu, tidak terputus-putus. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang diperoleh di jenjang bawah menjadi landasan untuk belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dijenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Minat siswa dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) juga mempengaruhi hasil belajar yang akan dicapai oleh siswa itu sendiri.Apabila seseorang berminat dengan sesuatu hal, maka ia akan cenderung memberikan perhatian, rasa senang dan punya keingintahuan terhadap hal yang diminatinya. Jika seseorang semakin berminat dengan pekerjaannya, maka orang itu akan bekerja sebaik mungkin, jadi minat dan penguasaan suatu pokok bahasan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) akan mempengaruhi prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada pokok bahasan berikutnya. Sardiman (2006: 94) juga mengungkapkan bahwa minat merupakan alat motivasi pokok bagi seseorang untuk berusaha termasuk belajar. Jadi bila seseorang siswa merasa tertantang dan memiliki minat yang besar untuk mempelajari pelajaran, maka siswa akan terdorong agar berada pada kondisi yang memungkinkan dirinya untuk dapat menyalurkan minatnya dan berusaha menghilangkan atau mengabaikan faktor yang akan menghalanginya.

Dalam Kurikulum 2013 yang dirancang untuk menyongsong model pembelajaran Abad 21, ketika didalamnya akan terdapat pergeseran dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu dari berbagai sumber belajar yang melampaui batas pendidik dan satuan pendidikan. Kurikulum 2013 menempatkan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai penghela mata pelajaran lain dan karenanya harus berada di depan semua mata pelajaran lain, apabila peserta didik tidak menguasai mata pelajaran tertentu harus dipastikan bahwa yang tidak dikuasainya adalah substansi mata pelajaran tersebut.

Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan, dalam mempelajari IPS, siswa dituntut untuk berpartisipasi aktiv dalam proses pembelajaran, sehingga dalam melaksanakan pembelajaran IPS guru harus diharuskan menggunakan pendekatan dan metode yang berbasis pada keaktivan siswa yang ditunjang dengan media pembelajaran yang sesuai.

Berdasarkan pengalaman mengajar, pelaksanaan pembelajaran IPS dengan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan terbukti tidak mendorong siswa untuk dapat belajar secara aktiv dalam belajar secara individu maupun belajar secara kelompok, hasil pengamatan awal yang dilakukan terhadap siswa kelas IX C, SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2016/2017, saat pembelajaran dilaksanakan dengen menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan kelompok, aktivitas siswa secara individu tergolong sangat rendah, hal ini terlihat dari 22 siswa, siswa kurang aktif sebanyak 10 siswa atau 45,5%, siswa yang aktif sebanyak 12 siswa atau 54,5%, dan yang sangat aktif belum ada. Keaktivan siswa saat melaksanakan pembelajaran kelompok dari 22 siswa yang kurang aktif sebanyak 17 siswa atau 77,3%, siswa yang aktif sebanyak 5 siswa atau 22,7% sedangkan siswa yang sangat aktif belum ada. Berdasarkan ulangan harian, dari 22 siswa, siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 12 siswa atau 54,55%, siswa yang belum tuntas sebanyak 10 siswa atau 45,45%, nilai rata-rata kelas sebesar 70,09, nilai tertinggi sebesar 80, dan nilai terendah sebesar 58.

Berdasarkan hasil pengamatan tentang aktivitas siswa dan hasil belajar aspek pengetahuan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS yang dilakukan dengan metode ceramah, terbukti kurang mendorong siswa untuk belajar lebih aktif, dan hasil belajar aspek pengetahuan tidak maksimal, hal ini disebabkan, siswa tidak terlibat langsung dalam pembelajaran, siswa cenderung pasif, sehingga timbul kejenuhan dalam mengikuti pembelajaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran IPS dengan menerapkan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan kelompok, terbukti kurang efektif.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu adanya tindakan nyata berupa penerapan metode pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk aktif dalam mengikuti pembelajaran, yaitu metode diskusi kelompok dengan menggunakan lembar kerja siswa (LKS). Melalui metode pembelajaran diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS), penerimaan siswa terhadap pelajaran diharapkan akan lebih terkesan secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan mantap, juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan setiap materi yang dibahas saat pelajaran sedang berlangsung. metode pembelajaran diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) menunjang interaksi belajar mengajar di kelas sehingga memberi keuntungan bahwa dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) aktivitas siswa akan meningkat.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa penerapan metode pembelajaran diskusi kelompok dengan menggunakan LKS tersebut merupakan upaya untuk mengatasi permasalahan di kelas. Untuk itu sesuai dengan karakteristik permasalahan dan upaya yang akan dilakukan tersebut, maka tindakan perbaikan aktivitas dan hasil belajar tersebut dikemas dalam desain penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul: “Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Kelas IXC Melalui Metode Diskusi Kelompok Dengan Menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2016/2017”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah penerapan metode diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas IX C pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP Negeri 4 ampel Satap Boyolali Jawa tengah?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bagi siswa kelas IX C melalui metode diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) di SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali.

KAJIAN PUSTAKA

Pandangan Tentang Pembelajaran Menurut Kurikulum 2013

Dalam pandangan Kurikulum 2013, kegiatan pembelajaran adalah suatu proses pendidikan yang memberikan kesempatan bagi siswa agar dapat mengembangkan segala potensi yang mereka miliki menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dilihat dari aspek sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Kemampuan ini akan diperlukan oleh siswa tersebut untuk kehidupannya dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan kehidupan umat manusia. Karena itu suatu kegiatan pembelajaran seharusnya mempunyai arah yang menuju pemberdayaan semua potensi siswa agar dapat menjadi kompetensi yang diharapkan.

Metode Diskusi Kelompok dengan Menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS)

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, maka dalam dunia pendidikan dikenal istilah metodologi pengajaran. Jadi metodologi pengajaran adalah suatu ilmu dalam bidang pengajaran untuk terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif guna mencapai kegiatan yang telah ditentukan, salah satu metode belajar yang dapat mengembangkan keterampilan proses siswa seperti yang terdapat pada tujuan pendidikanadalah metode diskusi kelompok. Menurut Alipandie (2014:80) “Metode diskusi kelompok adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan pada kelompok siswa untuk mengadakan pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau memecahkan suatu masalah”.

Sedangkan menurut Burton dalam Nasution (2015:148) “diskusi kelompok adalah cara individu mengadakan relasi dan bekerjasama dengan individu lain untuk mencapai tujuan bersama-sama”. Relasi artinya setiap individu berpartisipasi secara aktif dan turut bekerjasama memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Melalui diskusi kelompok siswa akan berfikir bersama, berdiskusi bersama, melakukan penyelidikan bersama, dan berbuat ke arah tujuan bersama. Dengan kata lain, metode diskusi kelompok memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk melaksanakan prinsip kerjasama secara demokratis.

Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan cara kerja dalam proses pembelajaran atau merupakan bentuk operasional dari satuan pelajaran.Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran kerja yang mengandung petunjuk kerja dimana siswa dapat memperoleh tuntutan urutan kerja dan mengisikan hasil kerja didalamnya. Jadi, Lembar Kerja Siswa (LKS) itu adalah lembaran petunjuk bagi siswa untuk melakukan suatu kegiatan dalam proses belajar mengajar serta daftar tugas dan tempat mencatat hasil pengamatan. Manfaat Lembar Kerja Siswa (LKS) bagi guru adalah untuk memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran dapat membantu guru dalam memberikan petunjuk-petunjuk kepada siswa untuk melakukan kegiatan dan dapat menghemat tenaga dan waktu.

Dalam usaha persiapan belajar, seorang guru harus mengusahakan agar siswa menjadi pusat perhatian, sehingga aktivitas dalam proses pembelajaran lebih banyak dilakukan oleh siswa, pada akhirnya tercapai keinginan untuk menerapkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Menurut Majid (2006:176), Lembar Kerja Siswa (LKS) (Student Work Sheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar Kerja Siswa (LKS) biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembaran kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapai.

Aktivitas Belajar

Belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang terdiri dari berbagai kegiatan atau aktivitas jasmani dan rohani. Aktivitas siswa sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar, sehingga siswalah yang banyak aktif sebab siswa sebagai subjek didik adalah yang merencanakan dan dia sendiri yang melaksanakan belajar. Menurut Hartono (2011: 5), “aktivitas adalah suatu kesibukan dalam kelas secara terstruktur dan terbimbing oleh guru guna meningkatkan pemahaman murid terhadap pelajaran yang disajikan”. Setiap reaksi yang diberikan dalam proses belajar mengajar mengandung aktivitas, sehingga makin banyak aktivitas yang dilakukan maka dalam kita menguasai segala sesuatu semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh. Hasil belajar tidak akan dapat dikuasai hanya dengan mendengarkan atau membaca saja, tetapi masih diperlukan kegiatan lain seperti membuat rangkuman, mengadakan tanya jawab, diskusi, melakukan percobaan, memecahkan soal, mengambil keputusan, dan sebagainya.

Menurut Lufri (2006:133) mengatakan kreatifitas melahirkan aktivitas atau kreatifitas ditunjukkan oleh adanya aktivitas. Orang yang mempunyai kreatifitas tinggi biasanya menghasilkan berbagai aktivitas, pembelajaran berbasis aktivitas (active learning) akan menuntut kreatifitas berfikir lebih banyak dari pembelajaran biasa. Aktivitas yaitu keinginan untuk berbuat dan bekerja sendiri sehinggamemperolehpengetahuan, pemahamandan keterampilan, serta perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Menurut Hamalik (2013:3), cara belajar yang efisien artinya cara belajar yang tepat, praktis, ekonomis, terarah, sesuai dengan situasi dan tuntutan yang ada guna mencapai tujuan belajar.

Aktivitas belajar dapat terwujud apabila siswa terlibat belajar secara aktif. Yamin (2007: 82) mendefinisikan belajar aktif sebagai usaha manusia untuk membangun pengetahuan dalam dirinya. Pembelajaran akan menghasilkan suatu perubahan dan peningkatan kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan pada diri siswa. Siswa mampu menggali kemampuannya dengan rasa ingin tahunya sehingga interaksi yang terjadi akan menjadi pengalaman dan keinginan untuk mengetahui sesuatu yang baru.

Kerangka Berfikir

Aktivitas belajar siswa sangat mempengaruhi kualitas hasil belajar yang dilakukan. Oleh karena itu, guru harus berupaya menciptakan proses pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan melatih siswa belajar memahami secara mandiri maupun berkelompok, serta mampu menyelesaikan tugas-tugas. Salah satunya adalah melalui metode diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS). Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu sarana belajar siswa berupa lembaran yang berisi perintah dan uraian tugas secara terstruktur yang harus dibaca, dipahami, dan dikerjakan oleh siswa. Lembar Kerja Siswa (LKS) akan lebih efektif dan bermakna jika dikerjakan melalui diskusi kelompok. Diskusi kelompok adalah metode pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengerjakan tugas atau perintah secara bersama-sama sehingga akan tumbuh sikap kritis, toleran, dan kemampuan bekerjasama secara efektif, serta dapat menumbuhkan sikap patuh terhadap aturan atau tata tertib yang telah disepakati.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah penerapan metode diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IX C pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali Jawa Tengah.

 

 

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini dilaksanakan pada kelas IX C di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Ampel Satap Boyolali Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2016/2017. Waktu penelitian ini dilaksanakan selama 6 (Enam) bulan pada semester genap tahun 2017, dimulai pada bulan Januari 2017 sampai dengan bulan Juni 2017.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas IX C SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali Jawa Tengah yang mempunyai akademik bervariasi berjumlah 22 siswa seperti terlampir.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini direncanakan dalam 2 (dua) siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan. Namun sekiranya setelah dilaksanakan 2 siklus belum dapat mencapai indikator keberhasilan penelitian yang ditetapkan, maka penelitian dilanjutkan pada siklus 3. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 (empat) langkah, yaitu perencanaan, pelaksanaan, obervasi, dan refleksi.

Variabel dan Data

Pada penelitian ini terdapat 2 (dua) variabel, yaitu variabel bebas dan terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS), sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa dan hasil belajar aspek pengetahuan.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu teknik analisis dengan mendeskripsikan perbandingan hasil penilaian antar siklus.

Indikator Keberhasilan

Penelitian dinyatakan berhasil apabila: Sebagian besar siswa minimal 85% telah menunjukkan keaktivan dalam mengikuti pembelajaran dengan kategori aktif dan sangat aktif. Sebagian besar siswa minimal 86% telah menunjukkan keaktivan dalam kerja kelompok dengan kategori aktif dan sangat aktif. Sebagian besar siswa minimal 18 siswa atau 85% dari seluruh telah dapat mencapai ketuntasan belajar, dan nilai rata-rata kelas minimal melabihi nilai KKM yaitu 75 (≥ 75).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Prasiklus

Hasil pengamatan teman sejawat terhadap aktivitas masing-masing siswa dalam pembelajaran IPS, seperti terlampir. Ringkasan hasil penilaian aktivitas masing-masing siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS dapat diketahui bahwa sebelum dilakukan tindakan jumlah siswa yang sangat aktif belum ada (0), siswa yang aktif sebanyak 12 siswa atau 54,5%, siswa yang kurang aktif sebanyak 10 siswa atau 45,5%. Adapun ketercapaian masing-masing indikator, dan prosentase ketercapaian masing-masing indikator menunjukkan bahwa rata-rata ketercapaian indikator sebesar 12,5 atau 56,8%.

Aktivitas siswa dalam kerja kelompok dinilai oleh observer saat siswa melaksanakan melaksanakan pembelajaran kelompok, hasil pengamatan observer seperti terlampir. Ringkasan hasil penilaian kerja kelompok dapat diketahui bahwa sebelum dilakukan tindakan jumlah siswa yang sangat aktif dalam kerja kelompok belum ada (0), siswa yang aktif dalam kerja kelompok sebanyak 5 siswa atau 22.7%, siswa yang kurang aktif sebanyak 17 siswa atau 73,3%. Dengan aktivitas siswa dalam kerja kelompok tergolong kurang aktif. Adapun ketercapaian masing-masing indikator, dan prosentase ketercapaian masing-masing indikator menunjukkan bahwa rata-rata ketercapaian indikator sebesar 10,7 atau 48,5%.

Untuk mengetahui hasil belajar IPS, setelah dilakukan pembelajaran IPS sebanyak 2 (dua) pertemuan, pada hari Rabu tanggal 18 Januari 2017, diadakan ulangan harian dengan menggunakan soal seperti terlampir. Hasil ulangan harian seperti terlampir. Rekapitulasi hasil ulangan harian, dapat diketahui bahwa dari 22 siswa terdapat 12 siswa (54,55%) telah dapat mencapai ketuntasan belajar. sedangkan jumlah siswa yang belum tuntas sebanyak 10 siswa (45,45%), dengan nilai rata-rata kelas sebesar 70,09. Nilai tertinggi sebesar 80, nilai terendah sebesar 58.

Berdasarkan hasil pengamatan tentang aktivitas siswa dan hasil belajar aspek pengetahuan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS yang dilakukan dengan metode ceramah, terbukti kurang mendorong siswa untuk belajar lebih aktif, dan hasil belajar aspek pengetahuan tidak maksimal, hal ini disebabkan, siswa tidak terlibat langsung dalam pembelajaran, siswa cenderung pasif, sehingga timbul kejenuhan dalam mengikuti pembelajaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran IPS dengan menerapkan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan kelompok, terbukti kurang efektif, untuk itu perlu adanya tindakan perbaikan, yaitu dengan menerapkan metode diskusi kelompok dengan menggunakan lembar kerja siswa (LKS).

Siklus I

Hasil penilaian aktivitas individu siswa seperti terlampir. Ringkasan hasil penilaian aktivitas masing-masing siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS dapat diketahui bahwa sebelum dilakukan tindakan jumlah siswa yang sangat aktif sebanyak 8 siswa (36,4%), siswa yang aktif sebanyak 14 siswa atau 63,6%, siswa yang kurang aktif tidak ada. Adapun ketercapaian masing-masing indikator, dan prosentase ketercapaian masing-masing indikator menunjukkan bahwa rata-rata ketercapaian indikator sebesar 16,75 atau 76,1%.

Selain melakukan penilaian aktivitas individu siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS, oberver menilai aktivitas siswa dalam kerja kelompok saat siswa melaksanakan pembelajaran kelompok, hasil pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran kelompok seperti terlampir. Ringkasan hasil penilaian kerja kelompok dapat diketahui bahwa setelah dilaksanakan siklus I jumlah siswa yang sangat aktif dalam kerja kelompok sebanyak 6 siswa (27,3%), siswa yang aktif dalam kerja kelompok sebanyak 16 siswa atau 72,7%, siswa yang kurang aktif tidak ada. Dengan aktivitas siswa dalam kerja kelompok tergolong aktif. Adapun ketercapaian masing-masing indikator, dan prosentase ketercapaian masing-masing indikator menunjukkan bahwa rata-rata ketercapaian indikator sebesar 17 atau 77,27%.

Untuk mengetahui hasil belajar IPS, setelah dilakukan pembelajaran IPS sebanyak 2 (dua) pertemuan, maka pada hari Kamis tanggal 23 Februari 3027, diadakan ulangan harian dengan menggunakan soal seperti terlampir (. Hasil ulangan harian seperti terlampir. Aktivitas siswa saat mengikuti ulangan harian terlihat seperti dokumentasi terlampir. Rekapitulasi hasil ulangan harian dapat diketahui bahwa dari 22 siswa terdapat 14 siswa (63,64%) telah dapat mencapai ketuntasan belajar. sedangkan jumlah siswa yang belum tuntas sebanyak 8 siswa (36,36%), dengan nilai rata-rata kelas sebesar 76,59. Nilai tertinggi sebesar 84, nilai terendah sebesar 70.

Berdasarkan penilaian hasil belajar aspek pengetahuan dan pengamatan keaktifan belajar siswa, diketahui nilai rata-rata dan nilai individu hasil belajar siswa telah mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelum dilakukan tindakan (prasiklus), demikian pula dengan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Namun jika dibandingkan dengan indikator keberhasilan tindakan, hasil belajar dan keaktifan siswa tersebut belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan, artinya tindakan yang telah dilakukan belum maksimal. Untuk itu perlu dilakukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya (siklus II).

Siklus II

Hasil pengamatan teman sejawat terhadap aktivitas masing-masing siswa dalam pembelajaran IPS, seperti terlampir. Ringkasan hasil penilaian aktivitas masing-masing siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS dapat diketahui bahwa setelah dilakukan tindakan siklus II jumlah siswa yang sangat aktif sebanyak 19 siswa (86,4%), siswa yang aktif sebanyak 3 siswa atau 13,6%, siswa yang kurang aktif tidak ada. Adapun ketercapaian masing-masing indikator, dan prosentase ketercapaian masing-masing indikator menunjukkan bahwa rata-rata ketercapaian indikator sebesar 20,25 atau 92,0%.

Aktivitas siswa dalam kerja kelompok dinilai oleh observer saat siswa melaksanakan melaksanakan pembelajaran kelompok, hasil pengamatan observer seperti terlampir. Ringkasan hasil penilaian kerja kelompok dapat diketahui bahwa sesudah dilakukan tindakan siklus II jumlah siswa yang sangat aktif dalam kerja kelompok sebanyak 20 siswa (90,9%), siswa yang aktif dalam kerja kelompok sebanyak 2 siswa atau 9,1%, siswa yang kurang aktif tidak ada. Dengan aktivitas siswa dalam kerja kelompok tergolong sangat aktif. Adapun ketercapaian masing-masing indikator, dan prosentase ketercapaian masing-masing indikator menunjukkan bahwa rata-rata ketercapaian indikator sebesar 20 atau 90,9%.

Untuk mengetahui hasil belajar IPS setelah dilakukan tindakan siklus II, sebanyak 2 (dua) pertemuan, maka pada hari Kamis tanggal 23 Februari 3027, diadakan ulangan harian dengan menggunakan soal seperti terlampir. Hasil ulangan harian seperti terlampir. Aktivitas siswa saat mengikuti ulangan harian terlihat seperti dokumentasi terlampir. Rekapitulasi hasil ulangan harian dapat diketahui bahwa dari 22 siswa terdapat 22 siswa (100%) telah dapat mencapai ketuntasan belajar. sedangkan jumlah siswa yang belum tuntas sebanyak tidak ada, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 81,23. Nilai tertinggi sebesar 86, nilai terendah sebesar 78.

Berdasarkan penilaian keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar IPS siswa siklus II, diketahui bahwa keaktifan siswa dan hasil belajar aspek pengetahuan telah mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I, dan jika dibandingkan dengan indikator keberhasilan tindakan, sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan, yaitu seluruh siswa telah mencapai SKBM, dan rata-rata kelas telah mencapai ≥ 75, dan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran telah mencapai lebih dari ≥85%. Untuk tindakan tidak perlu dilanjutkan.

 

PEMBAHASAN

Perbandingan Hasil pengamatan Keaktifan siswa dalam belajar

Perbandingan aktivitas belajar siswa dapat diketahui bahwa setelah dilakukan kegiatan pada siklus I, aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 76,1% (peningkatan sebesar 19,3% dari 56,8% pada prasiklus). Perbandingan aktivitas belajar kelompok siswa dapat diketahui bahwa setelah dilakukan kegiatan pada siklus I, aktivitas kelompok siswa meningkat menjadi 77,3% (peningkatan sebesar 28,8% dari 48,5% pada prasiklus).

Perbandingan aktivitas belajar siswa dapat diketahui bahwa setelah dilakukan kegiatan pada siklus II, aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 92% (peningkatan sebesar 15,9% dari 76,1% pada siklus I). Perbandingan aktivitas kelompok siswa dapat diketahui bahwa setelah dilakukan kegiatan pada siklus II, aktivitas kelompok siswa meningkat menjadi 90,9% (peningkatan sebesar 13,6% dari 77,3% pada siklus I). Perbandingan aktivitas belajar siswa dapat diketahui bahwa setelah dilakukan kegiatan pada siklus II, aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 92% (peningkatan sebesar 35,2% dari 56,8% pada siklus I). Perbandingan aktivitas kelompok siswa dapat diketahui bahwa setelah dilakukan kegiatan pada siklus II, aktivitas kelompok siswa meningkat menjadi 90,9% (peningkatan sebesar 42,4% dari 48,5% pada prasiklus).

Perbandingan Hasil Belajar IPS

Perbandingan hasil belajar IPS dari pra siklus ke siklus I dapat diketahui bahwa melalui metode diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) pada siklus I dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata dari 70,09 menjadi 76,59, meningkatnya nilai tertinggi dari 80,00 menjadi 84, meningkatnya jumlah ketuntasan belajar dari 12 siswa menjadi 14 siswa dan menurunnya jumlah siswa yang belum tuntas dari 10 siswa menjadi 8 siswa.

Perbandingan hasil belajar IPS dari siklus I ke siklus II dapat diketahui bahwa dengan menggunakan metode diskusi kelompok siklus II dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata dari 76,59 menjadi 81,23, meningkatnya nilai tertinggi dari 84 menjadi 86, meningkatnya jumlah ketuntasan belajar dari 14 siswa menjadi 22 siswa dan menurunnya jumlah siswa yang belum tuntas dari 8 siswa menjadi tidak ada.

Perbandingan hasil belajar IPS dari prasiklus ke siklus II dapat diketahui bahwa dengan menggunakan metode diskusi kelompok peningkatan hasil belajar siswa dari kegiatan prasiklus ke siklus II dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata dari 70,09 menjadi 81,23, meningkatnya nilai tertinggi dari 80,00 menjadi 86,00, meningkatnya jumlah ketuntasan belajar dari 12 siswa menjadi 22 siswa dan menurunnya jumlah siswa yang belum tuntas dari 22 siswa menjadi tidak ada.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa melalui metode diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS), dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran baik secara individu maupun kelompok dan hasil belajar IPS aspek pengetahuan bagi siswa kelas IX C SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali. Peningkatan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran tercermin dari hasil pengamatan prasiklus rata-rata siswa sebanyak 56,8%, setelah dilakukan tindakan dengan menerapkan metode diskusi kelompok meningkat menjadi 76,1%, dengan demikian setelelah dilakukan tindakan perbaikan siklus I keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran meningkat sebesar 19,3%. Setelah dilakukan tindakan siklus II, keaktifan siswa meningkat lagi menjadi 92% (peningkatan sebanyak 15,9%). Dengan demikian setelah dilakukan tindakan siklus I dan siklus II, keaktifan siswa secara keseluruhan meningkat sebesar 35,2%. Keaktifan siswa dalam belajar kelompok prasiklus rata-rata sebanyak 48,5% mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 77,27% (peningkatan sebanyak 28,8%) dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 90,9% (peningkatan 13,6%).

Nilai rata-rata hasil belajar IPS aspek pengetahuan bagi siswa kelas IX di SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali pada kegiatan prasiklus sebesar 70,09 dengan jumlah ketuntasan sebanyak 12 siswa (54,55%). Setelah dilakukan tindakan I, nilai rata-rata pada siklus I meningkat menjadi 76,59 dengan jumlah ketuntasan meningkat menjadi 14 siswa (63,64%) dengan demikian setelah dilakukan tindakan siklus I, terjadi kenaikan nilai rata-rata sebesar 6,5. Pada siklus II ditunjukkan dengan nilai rata-rata adalah 81,23 dan jumlah ketuntasan sebanyak 22 siswa (100,00%).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan ”penerapan metode diskusi kelompok dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IX C pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMP Negeri 4 Ampel Satap Boyolali Jawa Tengah” terbukti benar.

Saran-Saran

Untuk Kepala Sekolah

Sebaiknya kepala sekolah merekomendasikan metode pembelajaran diskusi kelompok agar dapat diterapkan pada fokus pembelajaran selain IPS.

Untuk Guru lain

Sebaiknya dalam melaksanakan pembelajaran guru menggunakan memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran, selain itu sebaiknya guru berani mencoba untuk menerapkan model-model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning).

DAFTAR PUSTAKA

Alipandie, Imansjah. 2014. Didaktik Metodik Pendidikan Umum. Surabaya: Usaha Nasional.

Hamalik, Oemar. 2013. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT.Bumi Aksara

Hartono, Jogiyanto. 2011. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman. BPFE. Yogyakarta.

Lufri. 2007. Strategi Pembelajaran Biologi Teori, Praktek dan Penelitian. Padang: UNP Press.

Majid, Abdul. 2006. Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Nasution. 2015. Dikdaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara