MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PEKERJAAN DASAR

TEKNIK MESIN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN

PROBLEM BASED LEARNING BAGI SISWA KELAS X

TEKNIK MEKANIK INDUSTRI 2 PADA SEMESTER 1

SMK NEGERI 5 SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2018/2019

 

Sumarno

SMK Negeri 5 Sukoharjo

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan meningkatkan kualitas proses pembelajaran, hasil belajar, dan aktivitas belajar siswa sebagai dampak penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, tiap siklus terdiri 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Setting penelitian siswa kelas X TMI 2 SMK Negeri 5 Sukoharjo semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 (bulan Juli – Desember 2018). Subjek Penelitian siswa kelas X TMI 2 berjumlah 32 siswa. Target peningkatan yang hendak dicapai adalah hasil belajar seluruh siswa ≥ 80 yang merupakan kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin dan aktivitas belajar rata-rata dalam kelas 32,6. Hasil penelitian diperoleh peningkatan hasil belajar siswa yang mencapai nilai ≥ KKM 59% (19 siswa) pada siklus pertama menjadi 100% (32 siswa) pada siklus kedua. Rata-rata hasil belajar meningkat dari 76,25 pada siklus pertama menjadi 81,72 pada siklus kedua. Peningkatan hasil belajar ditopang meningkatnya kriteria aktivitas belajar. Peningkatan kriteria aktivitas belajar cukup aktif pada siklus pertama menjadi aktif pada siklus kedua. Rata-rata aktivitas belajar meningkat 25,72 pada siklus pertama menjadi 32,78 pada siklus kedua. Artinya taget indikator kinerja hasil belajar dan aktivitas belajar telah dipenuhi.

Kata Kunci: Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, dan Problem Based Learning.

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Perencanaan pembelajaran dilakukan diantaranya adalah pemilihan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik KD yang akan dipelajari. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran di kelas berlangsung: interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa aktif, kreatif dan mandiri sesuai dengan bakat, minat serta perkembangan fisik anak sesuai mata pelajaran yang mereka sampaikan. Namun untuk mewujudkan kondisi yang diharapkan tidak mudah. Sebaliknya penerapan model pembelajaran yang tidak tepat, berdampak pada aktivitas dan hasil belajar siswa.

Hal ini terjadi pada pembelajaran di kelas X TMI 2 SMK Negeri 5 Sukoharjo mata pelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 materi pokok Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L). Penyebabnya adalah pembelajaran terpusat pada guru, metode ceramah mendominasi kegiatan belajar, model pembelajaran yang kurang bervariasi. Pembelajaran di kelas dengan menerapkan metode caramah yang dikombinasi dengan diskusi, tugas dan tanya jawab, yang selama ini dilakukan hasilnya belum menunjukkan peningkatan aktivitas dan hasil belajar secara optimal.

Aktivitas belajar siswa rendah dan kelas X TMI 2 masuk dalam kriteria aktivitas belajar kurang aktif, terbukti berdasarkan hasil observasi sebelum dilakukan penelitian dari 32 siswa menunjukkan bahwa siswa aktif 2 siswa (6%), cukup aktif 6 siswa (19%), kurang aktif 21 Siswa (66%) dan pasif 3 siswa (9%).

Hasil belajar juga rendah dan kelas X TMI 2 masuk dalam katagori hasil belajar cukup, tercermin dari hasil pre tes sebelum penelitian dilakukan, dijumpai banyak siswa yang nilainya di bawah kriteria ketuntusan minimum (KKM) yang telah ditetapkan. Batas kriteria ketuntasan minimal Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) materi pokok Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) adalah 80. Hasil pre tes dari 32 siswa menunjukkan bahwa secara individual, terdapat 23 siswa (71,9%) yang nilai ketuntasan belajarnya di bawah standar KKM. Sedangkan jumlah siswa yang mencapai ³ KKM hanya 9 siswa (28,1%). Nilai rata-rata kelas yang diperoleh 66,72.

Fakta rendahnya aktivitas dan hasil belajar sangat tidak diharapkan dalam proses belajar mengajar dan harus dicarikan alternatif pemecahannya. Untuk mengatasi adanya kesenjangan kondisi realitas di lapangan dengan kondisi yang diharapkan, pendidik dituntut memiliki ketrampilan dan kreativitas dalam pemilihan, memvariasi model pembelajaran serta mengkombinasi beberapa metode pembelajaran dalam sekali tatap muka. Muara dari penerapan model pembelajaran yang tepat sesuai karakteristik kompetensi dasar dan materi pokok, untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Melihat permasalahan di kelas dan dampak yang timbul, maka penyelesaian problema di atas merupakan kebutuhan mendesak dan harus dicarikan solusinya. Oleh karena itu melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK), peneliti mencoba menggunakan “ Model Pembelajaran Problem Based Learning “ yaitu sebuah model pembelajaran di kelas, dimana peserta didik dihadapkan permasalahan nyata (riil) yang membingungkan atau tidak jelas akan membangkitkan rasa ingin tahu siswa sehingga membuat mereka tertarik untuk menyelidiki.

Peneliti dalam hal ini guru Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM), meminta siswa untuk aktif mengeksplorasi hubungan sebab-akibat dan mencarikan solusi permasalahan nyata dilingkungannya sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya dalam bentuk usaha kelompok, dengan harapan aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat. Peran guru dalam penerapan model pembelajaran Problem Based Learning adalah membimbing dan fasilitator sehingga peserta didik dapat belajar untuk berfikir dan menyelesaikan permasalahannya sendiri.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian tindakan kelas sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah kriteria aktivitas belajar siswa dalam pmbelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) melalui Model Pebelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 pada materi pokok Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) ?
  2. Berapa persen peningkatan hasil belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 pada materi pokok Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L)?
  3. Bagaimanakah upaya merubah perilaku siswa dalam pembelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 pada materi pokok Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) melalui Model Pebelajaran Problem Based Learning (PBL)?

Penelitian Tindakan Kelas melalui Model Pebelajaran Problem Based Learning (PBL) bertujuan:

  1. Untuk mengetahui bagaimana meningkatkan aktivitas belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) pada materi pokok Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) bagi siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019
  2. Untuk mengetahui bagaimana meningkatkan hasil belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) pada materi pokok Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) bagi siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019.
  3. Untuk mengetahui adakah perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) pada materi pokok Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) bagi siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019.

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

Kajian Teori

Problem Based Learning

Problem Based Learning merupakan satu model pembelajaran yang ditandai oleh siswa yang bekerja berpasangan atau dalam kelompok-kelompok kecil untuk menginvestigasi masalah kehidupan nyata yang membingungkan (Sugiyanto 2008: 137). Lima kriteria masalah yang baik dalam Problem Base Learning sebagai berikut:

  1. Masalah harus autentik artinya masalah harus dikaitkan dengan pengalaman riil (kehidupan nyata siswa).
  2. Masalah tidak jelas/tidak sederhana sehingga menciptakan misteri atau teka-teki, yang memungkinkan terjadinya solusi alternatif, kesempatan berdiskusi dan dialog antara siswa.
  3. Masalah bermakna bagi siswa dan sesuai tingkat perkembangan intelektualnya.
  4. Masalah cakupannya luas, memberi kesempatan kepada guru untuk memenuhi tujuan pembelajaran yang akan dicapai
  5. Masalah mendapatkan manfaat dari usaha kelompok

Dalam penelitian ini, Problem Based Learning diartikan satu model pembelajaran bercirikan adanya permasalahan nyata ditandai oleh siswa bekerja berpasangan atau dalam kelompok-kelompok kecil untuk menginvestigasi, belajar berfikir kritis, dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.

Model Pembelajaran

Model adalah pola berupa contoh, acuan atau ragam dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Pembelajaran adalah proses interaksi antarpeserta didik, antara peserta didiik dan pendidik, dan antara peserta didik dengan sumber belajar lainnya pada suatu lingkungan belajar yang berlangsung secara edukatif agar peserta didik dapat membangun sikap, pengetahuan dan ketrampilannnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Direktorat PSMK Bimtek K-13 analisis penerapan model Pembelajaran).

Model pembelajaran dalam penelitian ini, diartikan suatu pola perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran di kelas.

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Berdasarkan penjelasan teori di atas penelitian ini, model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) diartikan sebuah model (pendekatan) pembelajaran yang berusaha menerapkan masalah yang terjadi dalam dunia nyata (riil) sebagai bahan permasalahan bagi peserta didik dalam berlatih cara berfikir kritis dan mendapatkan keterampilan dalam pemecahan masalah, serta untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus konsep yang penting dari materi yang pelajari secara berkelompok.

Langkah – langkah pokok dalam pembelajaran Problem Based Learning yang diterapkan dalam pemebelajaran di kelas yaitu: menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa melalui bahan tayang berupa video permasalahan aktual untuk diidentifikasi, mengorganisasi siswa untuk menetapkan masalah, membentuk kelompok untuk mengembangkan solusi, mempresentasikan hasil sebagai tindakan strategis, dan mengevaluasi proses untuk mengetes penyebab.

Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM)

PDTM kependekan dari Pekerjaan Dasar Teknik Mesin. Sesuai dengan Peraturan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 07/D.D5/KK/2018 tentang Struktur Kurikulum sekolah Menengah Kejuruan (SMK) / Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), bahwa PDTM merupakan mata pelajaran dari kompetensi keahlian Teknik Mekanik industri (TMI) dan termasuk muatan peminatan kejuruan C2. Dasar Program Keahlian.

Belajar

Belajar adalah perubahan perilaku berupa kecakapan baru yang diperoleh melaui usaha dengan sengaja. Belajar adalah perubahan murid dari usahanya sendiri dalam bidang material, formil, serta fungsionil pada umumnya dan pada bidang-bidang intelek khususnya (Abu Ahmadi, 1998: 36). Menurut Sumadi Suryabrata (1993:249) tidak memberikan batasan secara langsung tentang belajar, melainkan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang disebut belajar.

Dalam penelitian ini, belajar diartikan usaha yang dilakukan secara sadar dengan mengaktif faktor intern dan faktor ekstern, menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri individu yang mengalami belajar berupa pengetahuan, kemampuan, atau kecakapan yang sifatnya relatif lama.

Hasil Belajar

Menurut Bloom dikutip oleh Degeng (1989: 43), mengklasifikasikan hasil belajar menjadi ranah, yaitu “ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. Ranah kognitif, menitikberatkan pada pengembangan keterampilan intelektual. Ranah psikomotor menekankan pada kegiatan atau keterampilan motorik. Sedangkan ranah afektif menekankan pada pengembangan perasaan, sikap, nilai, dan emosi”. Ketiga ranah hasil belajar tersebut dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengetahuan prasyarat atau kemampuan awal yang telah dimiliki dari masing-masing siswa, dengan keterampilan yang sedang dipelajari (baru). Hasil belajar juga sangat erat kaitannya dengan metode (strategi) yang digunakan dalam pembelajaran. Semakin tepat pemilihan metode atau strategi pembelajaran) pada suatu kelas, hasil belajar semakin baik.

Dalam penelitian ini, hasil belajar diartikan kapabilitas (kemampuan) berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baru dan diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran.

Hasil Belajar PDTM

Hasil belajar PDTM adalah kemampuan baru, berupa pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif) yang dialami siswa setelah melakukan belajar PDTM. Kemampuan baru itu terkait materi Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) yang merupakan bagian dari mata pelajaran PDTM. Hasil belajar yang dimaksud sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok serta indikator yang harus dicapai siswa seperti terdapat dalam Silabus PDTM Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMK Negeri 5 Sukoharjo.

Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar merupakan aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam proses belajar kedua aktivitas itu harus saling berkaitan. Seorang anak berfikir tanpa berbuat sesuatu, berarti anak itu tidak berfikir. Aktivitas belajar dapat memberikan nilai tambah (added value) bagi peserta didik, berupa: kesadaran (awareness) untuk belajar, mencari pengalaman dan langsung mengalami sendiri, sesuai minat dan kemampuannya, menumbuh kembangkan sikap disiplin dan suasana belajar yang demokratis, pembelajaran dilaksanakan secara konkret, menumbuh kembangkan pemahaman dan berfikir kritis.

Menurut Nanang Hanafiah, (2010:23) belajar sangat dibutuhkan adanya aktivitas, dikarenakan tanpa adanya aktivitas proses belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik. Pada proses aktivitas pembelajaran harus melibatkan seluruh aspek peserta didik, baik jasmani maupun rohani sehingga perubahan perilakunya dapat berubah dengan cepat, tepat, mudah dan benar, baik berkaitan dengan aspek kognitif, afektif maupun psikomotor

Menurut Paul B. Diedrich yang dikutip dalam Nanang hanafiah dan Cucu suhana (2010:24) menyatakan, aktivitas belajar dibagi ke dalam delapan kelompok, yaitu sebagai berikut:

  1. Kegiatan-kegiatan visual (visual activities), yaitu membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.
  2. Kegiatan-kegiatan lisan (oral activities), yaitu mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara diskusi dan interupsi
  3. Kegiatan-kegiatan mendengarkan (listening activities), yaitu mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, atau mendengarkan radio.
  4. Kegiatan-kegiatan menulis (writing activities), yaitu menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan copy, membuat outline atau rangkuman, dan mengerjakan tes serta mengisi angket.
  5. Kegiatan-kegiatan menggambar (drawing activities), yaitu menggambar, membuat grafik, diagram, peta dan pola.
  6. Kegiatan-kegiatan motorik (motor activities), yaitu melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, serta menari dan berkebun.
  7. Kegiatan-kegiatan mental (mental activities), yaitu merenungkan mengingat, memecahkan masalah, menganalisa faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan.
  8. Kegiatan-kegiatan emosional (emotional activities), yaitu minat, membedakan, berani, tenang, merasa bosan dan gugup.

Dalam penelitian ini, aktivitas belajar terfokus pada kegiatan belajar yang melibatkan aktivitas visual (visual activities) berupa mata meliputi: membaca bahan ajar dan melihat bahan tayang, lisan (oral activities) berupa mulut meliputi: mengajukan pertanyaan, mengemukakan pendapat, berdiskusi dalam kelompok, mendengarkan (listening activities) berupa telinga meliputi: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan diskusi kelompok, menulis (writing activities) berupa tangan meliputi: menulis laporan hasil diskusi, menulis rangkuman dan mengerjakan soal tes.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:

  1. Melalui model pembelajaran Problem Based Learning diduga dapat meningkatkan aktivitas belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/20
  2. Melalui model pembelajaran Problem Based Learning diduga dapat meningkatkan hasil belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/20
  3. Melalui model pembelajaran Problem Based Learning diduga dapat merubah perilaku siswa dalam pembelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/20

 

 

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian berlangsung selama 6 (enam) bulan yaitu bulan Juli sampai Desember 2018 pada semester 1 tahun pelajaran 2018/2019. Pengambilan data dilakukan pada waktu tersebut karena materi pokok Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) diajarkan pada semeter tersebut. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 5 Sukoharjo. Alasan penelitian dilaksanakan di sekolah tersebut karena peneliti merupakan guru produktif di SMK Negeri 5 Sukoharjo dan memiliki jam mengajar PDTM pada semester 1 tahun pelajaran 2018/2019.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa dan guru SMK Negeri 5 Sukoharjo. Siswa yang dijadikan subjek penelitian ini adalah siswa kelas X TMI 2. Dengan kata lain siswa X TMI 2 ditetapkan sebagai setting kelas. Karakteristik lain yang menarik peneliti, kelas X TMI 2 dijadikan subjek penelitian adalah terdapat sejumlah anak yang aktivitas dan hasil belajar rendah. Sementara Peneliti guru produktif PDTM yang dijadikan subjek dalam penelitian ini. Alasannya adalah di samping peneliti merupakan guru produktif SMK Negeri 5 Sukoharjo, peneliti termasuk guru keahlian ganda yang bersertifikasi produktif TMI. Disamping itu peneliti sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk naik pangkat diwajibkan menyusun karya ilmiah diantaranya penelitian tindakan kelas.

Sumber Data

Penelitian merupakan proses pengumpulan data yang diperoleh melalui sumber data. Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2002: 107). Adapun sumber data penelitian tindakan kelas ini berasal dari:

  1. Informan kunci atau nara sumber yaitu siswa dan guru
  2. Lembar observasi berlangsungnya aktivitas pembelajaran
  3. Dokumen atau arsip berupa: KI & KD, RPP, hasil ulangan harian siswa dan buku penilaian.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Dalam penelitian tindakan kelas ini teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah teknik pengumpulan data berbentuk tes dan nontes.

Data berbentuk tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Adapun tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes prestasi atau achievement test yaitu test yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu. Pemberian tes dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh yang diperoleh siswa, setelah siswa mempelajari hal-hal sesuai dengan yang akan diteskan yaitu tes ulangan harian.

Data berbentuk nontes

Dalam penelitian tindakan kelas ini, juga menggunakan teknik pengumpulan data nontes, yaitu pengamatan (observe). Teknik pengumpulan data berbentuk pengamatan (observe) pada penelitian tindakan kelas ini, difokuskan pada 4 aktivitas yaitu mata, mulut, telinga dan tangan.

Data pengamatan diambil dan dikumpulkan dari satu siklus ke siklus berikutnya. Dengan menganalisis data yang diperoleh melalui observasi dapat diketahui ada tidaknya peningkatan aktivitas belajar siswa setelah dilaksanakan penelitian tindakan kelas. Mengingat teknik yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini berbentuk tes dan observasi (pengamatan), maka alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah butir soal tes ulangan dan lembar observasi. Butir soal ulangan harian untuk menentukan hasil belajar siswa. Sedangkan lembar observasi untuk mencatat aktivitas siswa selama proses tindakan kelas berlangsung.

Validasi Data

Data yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas perlu diperiksa validitasnya. Validasi diperlukan agar diperoleh data yang valid. Data dikatakan valid, bila data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dijadikan sebagai dasar yang kuat untuk menarik sebuah kesimpulan. Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur. Adapun validitas yang digunakan perlu disesuaikan dengan data yang dikumpulkan. Data kuantitatif (berbentuk angka) divalidasi instrumennya, sedangkan data kualitatif (observasi,) divalidasi melalui trianggulasi, baik trianggulasi sumber data maupun trianggulasi metode pengumpulan data.

Mengingat penelitian ini merupakan penelitian tindakan, maka teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data adalah triangulasi dan review informen kunci. Triangulasi yang digunakan adalah triangulasi metode yakni cross chek antara hasil tes yang dikerjakan siswa dan hasil pengamatan yang dilakukan guru.

Review informan kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interpretasi temuan kepada informan kunci sehingga diperoleh kesepakatan antara peneliti dengan informan tentang data atau interpretasi temuan tersebut. Cara ini dilakukan untuk pengembangan validitas data kualitatif. Peneliti setelah mengumpulkan data berusaha menyusun sajian data kedalam bentuk laporan, terlebih dahulu dilakukan kajian dokumen atau konfirmasi kepada informan yang dipandang sebagai informan kunci.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan antara lain: teknik diskriptif komparatif (statistik diskriptif komparatif ) dan teknik analisis kritis. Teknik statistik diskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif, yakni membandingkan hasil tes antarsiklus maupun dengan indikator kinerja. Peneliti membandingkan hasil tes sebelum penelitian tindakan, dengan hasil pada akhir setiap siklus. Adapun yang dibandingkan penelitian tindakan ini adalah nilai ulangan harian dan jumlah siswa yang mencapai KKM sebelum tindakan, siklus I, dan siklus II. Teknik analisis kritis digunakan untuk data kualitatif. Teknik ini digunakan untuk mengungkap kelemahan dan kelebihan kinerja siswa dan guru dalam proses pembelajaran berdasarkan hasil observasi dan refleksi setiap siklus.

 

 

Indikator Kinerja

Indikator kinerja merupakan tolok ukur keberhasilan suatu penelitian yang telah dilakukan. Indikator kinerja dalam penelitian tindakan kelas ini ditandai adanya:

  1. Peningkatan aktivitas belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) dengan aktivitas belajar rata-rata dalam kelas ≥ 32,6.
  2. Peningkatan hasil belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) dengan seluruh siswa telah memperoleh nilai ≥ 80 (nilai batas KKM) atau tidak ada lagi siswa yang nilainya kurang KKM.
  3. Perubahan perilaku belajar dalam pembelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) tidak dijumpai siswa yang pasif.

Prosedur Penelitian

Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2018/2019 mulai bulan Juli 2018. Kegiatan tersebut diawali dengan penyusunan proposal dan mengajukan ijin kepada kepala sekolah, menyusun instrumen dan pengumpulan data awal. Observasi sebagai penjajakan awal untuk memperoleh informasi atau gambaran awal terhadap permasalahan dan tindakan yang akan dilakukan peneliti, dilanjutkan dengan pembahasan hasil observasi, analisis ulangan pre tes serta perencanaan dan penetapan tindakan yang akan dilaksanakan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus. Siklus I dilaksanakan Minggu ke-1 bulan Agustus sampai dengan Minggu ke-2 bulan September 2018, sikus II dilaksankan Minggu ke – 3 bulan September sampai dengan Minggu ke-4 Oktober 2018. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Hasil penelitian siklus I dan siklus II menunjukkan adanya peningkatan kriteria aktivitas belajar, hasil belajar dan perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran PDTM pada materi pokok Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) setelah dilaksanakannya model pembelajaran Problem Based Learning jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari prasiklus. Hasil penelitian prasiklus, siklus I, dan Siklus II yang dilakukan terangkum pada tabel berikut:

 

Nilai

Prasiklus Siklus I Siklus II
Jumlah

 

%

 

Jumlah

 

%

 

Jumlah

 

%

 

< 80 (KKM) 23 71,9 13 41 0 0
> 80 (KKM) 9 28,1 19 59 32 100
Rata-rata hasil belajar 66,72 76,25 81,72
Katagori hasil belajar Cukup Baik Baik
Rata-rata skor aktivitas belajar 22,53 25,72 32,78
Kriteria aktivitas belajar Kurang aktif Cukup aktif Aktif

 

 

 

 

Pembahasan Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II

Prasiklus

Pada keadaan awal (prasiklus) terkait hasil belajar, ditemukan dari 32 siswa kelas X TMI 2 nilai rata-rata hasil belajar siswa 66,72. Siswa belum tuntas sebanyak 23 siswa (71,9%) dan siswa tuntas hanya 9 siswa (28,1%). Pada prasiklus berkaitan dengan aktivitas belajar, temukan dari 32 siswa kelas X TMI 2 dijumpai 3 siswa (9%) aktivitas belajar siswa pasif, 21 siswa (66%) aktivitas kurang aktif, 6 siswa (19%) aktivitas cukup aktif dan 2 siswa (6%) aktivitas aktif.

Pembahasan Prasiklus ini, mencerminkan bahwa siswa X TMI 2 mengalami kesulitan belajar, aktivitas belajar rendah dan perilaku belajar siswa dalam kelompok masuk kriteria pasif dan kurang aktif. Hal ini mencerminkan adanya permasalahan yang perlu dilakukan penelitian tindakan kelas untuk mendapatkan solusinya.

Siklus I

Pada siklus I ditemukan adanya peningkatan hasil belajar siswa, terbukti dari 32 siswa kelas X TMI 2 nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 76,25 artinya mengalami kenaikan sebesar 9,53, jika dibandingkan dengan hasil belajar prasiklus yaitu 66,72. Jumlah siswa yang mendapat nilai < 80 (KKM) sebanyak 13 siswa sedangkan yang mendapat nilai ³ 80 (KKM) sebanyak 19 siswa. Artinya 41% siswa dinyatakan belum tuntas, sedangkan 59% siswa telah dinyatakan tuntas. Belajar kelompok memberikan dampak hasil belajar. Peningkatan rata-rata nilai dari 8 kelompok 9,53 dibandingkan prasiklus. Kategori hasil belajar prasiklus cukup setelah dilakukan tindakan siklus I meningkat menjadi baik.

Pada siklus I terkait aktivitas belajar, menunjukkan peningkatan aktivitas belajar siswa, terbukti dari 32 siswa kelas X TMI 2 tidak ditemukan siswa (0%) aktivitas belajar siswa pasif, 11 siswa (34%) aktivitas belajar siswa kurang aktif, dan 17 siswa (53%) aktivitas cukup aktif dan 4 siswa (13%) aktivitas belajar siswa aktif. Kriteria aktivitas belajar pada prasiklus masuk pada kriteria kurang aktif dengan rerata skor aktivitas belajar 22,53. Sedangkan kriteria aktivitas belajar pada siklus I meningkat menjadi kriteria cukup aktif, dengan rerata skor aktivitas belajar meningkat menjadi 25,72. Belajar kelompok memberikan dampak terhadap aktivitas belajar dalam kelompok. Peningkatan rata-rata skor dari 8 kelompok sebesar 3,19. Peningkatan aktivitas belajar kelompok ternyata diiringi dengan peningkatan hasil belajar kelompok.

Pembahasan siklus I mencerminkan bahwa proses pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning meningkatkan aktivitas belajar, hasil belajar, dan perubahan perilaku belajar kelompok siswa X TMI 2. Namun peningkatannya belum signifikan, karena masih ditemukan siswa belum tuntas. Peningkatan belum signifikan, karena masih banyak siswa yang belum tuntas dan belum mencapai target krietria aktivitas belajar. Siklus I perilaku siswa dalam kelompok belum menunjukkan kinerja kelompok kompak, siswa belum memahami sintak-sintak pembelajaran Problem Based Learning, akibatnya pemanfaatan waktu belum efisien dan aktivitas kelompok didominasi siswa pandai. Oleh karena itu peniliti untuk melanjukan tindakan siklus II dengan memperhatikan kelemahan pada siklus I.

 

Siklus II

Pada siklus II berkaitan hasil belajar, menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa terbukti dari 32 siswa kelas X TMI 2 nilai rata-rata hasil belajar siswa sebesar 81,72 mengalami peningkatan rata-rata nilai hasil belajar siswa sebesar 5,47 bila dibandingkan dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 76,25. Tidak ditemukan siswa yang mendapat nilai < 80. Seluruh siswa telah mendapat nilai ³ 80, artinya sebanyak 23 siswa telah tuntas. Belajar kelompok memberikan dampak terhadap hasil belajar. Peningkatan rata-rata nilai dari 8 kelompok sebesar 5,47 dibandingkan dengan siklus II. Kategori hasil belajar siklus I bertahan tetap baik hingga siklus II.

Pada siklus II terkait aktivitas belajar, menunjukkan peningkatan aktivitas belajar siswa terbukti bahwa dari 32 siswa kelas X TMI tidak ditemukan siswa aktivitas belajarnya pasif maupun kurang aktif. Hasil penelitian menunjukkan 14 siswa (44%) aktivitas cukup aktif dan 18 siswa (56%) aktivitas belajarnya Aktif. Kriteria aktivitas belajar mengalami perubahan peningkatan yaitu cukup aktif pada siklus I berubah menjadi aktif pada siklus II. Peningkatan rerata skor aktivitas belajar yaitu 25,72 pada siklus I menjadi 32,78 pada siklus II. Peningkatan rerata skor aktivitas belajar sebesar 7,06. Peningkatan aktivitas belajar kelompok ternyata diiringi dengan peningkatan hasil belajar kelompok. Perilaku belajar siswa dalam kelompok menunjukkan kinerja kelompok kompak, siswa telah memahami sintak-sintak pembelajaran Problem Based Learning, pemanfaatan waktu efisien dan aktivitas kelompok merata.

Pembahasan siklus II mencerminkan bahwa proses pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning meningkatkan aktivitas belajar, hasil belajar, dan perubahan perilaku belajar kelompok siswa X TMI 2. Peningkatan hasil belajar signifikan, tidak ditemukan siswa belum tuntas, mencapai target krietria aktivitas belajar rata-rata dalam kelas ≥ 32,6. Masing-masing anggota kelompok melakukan aktivitas cenderung ke arah positif. Perilaku siswa dalam kelompok menunjukkan kinerja kelompok kompak, memahami sintak-sintak pembelajaran Problem Based Learning, pemanfaatan waktu efisien, aktivitas kelompok mulai merata, siswa pandai memotivasi anggota kelompoknya.

Berdasarkan beberapa temuan masalah pada prasiklus ditindaklanjuti pada siklus I, temuan pada siklus I ditindak lanjuti pada siklus II, diperoleh hasil penelitian bahwa aktivitas belajar, hasil belajar dan perubahan perilaku siswa mengalami peningkatan dan indikator kinerja telah dipenuhi. Oleh karena itu peniliti bermaksud mengakhiri penelitian tindakan pada siklus II ini.

Bertolak dari data hasil penelitian tersebut, maka penelitian tindakan kelas ini ditemukan bahwa melalui model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar, hasil belajar dan perubahan perilaku siswa mata pelajaran PDTM pada materi pokok Keselamatan kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L). Oleh sebab itu hipotesis tindakan yang dirumuskan:

  1. Melalui model pembelajaran Problem Based Learning diduga dapat meningkatkan aktivitas belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019,
  2. Melalui model pembelajaran Problem Based Learning diduga dapat meningkatkan hasil belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019,
  3. Melalui model pembelajaran Problem Based Learning diduga dapat merubah perilaku belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 dapat dibuktikan kebenarannya.

SIMPULAN

Berdasarkan keseluruhan siklus yang telah dilakukan, secara singkat simpulan dari hasil penelitian yaitu:

  1. Terdapat peningkatan kriteria aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) melalui Model Pebelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X TMI 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 pada materi pokok Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L). Pada setiap siklus yang telah dilakukan membawa dampak positif kearah peningkatan kreteria aktivitas belajar Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria aktivitas belajar pada pembelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X.TMI 2 semester I tahun pelajaran 2018/2019 pada materi pokok Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas X.TMI 2 semester I tahun pelajaran 2018/2019 pada materi pokok Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) mengalami peningkatan yaitu cukup aktif (50% siswa) pada siklus pertama menjadi aktif (56% siswa) pada siklus kedua.
  2. Peningkatan hasil belajar Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo pada materi pokok Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L). Pada setiap siklus yang telah dilakukan membawa dampak positif kearah peningkatan hasil belajar siswa. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa perolehan hasil belajar yang mencapai nilai ≥ KKM siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo kelas TMI 2 semester I tahun pelajaran 2018/2019 pada materi pokok Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) selalu mengalami peningkatan dari satu siklus ke siklus berikutnya yaitu 66% pada siklus I dan 100% pada siklus II.
  3. Terdapat perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran Pekerjaan Dasar Teknik Mesin (PDTM) siswa SMK Negeri 5 Sukoharjo pada materi pokok Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L). Peningkatan perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran tersebut terjadi setelah peneliti melakukan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan perbaikan tindakan di setiap siklus. Penerapan pembelajaran model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) efektif bila dalam pelaksanaannya di upayakan (1) tujuan pembelajaran diperjelas (2) problem yang disajikan merupakan permasalahan yang hangat dibicarakan publik dan terkini (3) video permasalahan yang disajikan menarik perhatian dan memperlihatkan keadaan yang sebenarnya terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1998. Ilmu Pendidikan: Teoritis dan Praktis. Jakarta: Bintang Terang.

Arends, Richard, I. 1995. Classroom Instruction and Management. Boston: McGraw-Hill.

Arikunto, Suharsimi. 2004. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2004. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rhineka Cipta.

Degeng, I. Nyoman S. 1989. Ilmu Pengajaran: Taksonomi Variabel. Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud

Ekawarna. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta Selatan: Referensi (GP Press Group.

Hamdani. 2010. Strategi Belajar Mengajar. 2010. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Hamruni. 2011. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani.Lie, Anita. 2007. Cooperative Learning, Mempratekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang kelas. Jakarta: Grasindo.

Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in the Science Classroom. New York: McGraw-Hill.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan jawaban). Jakarta: Grasindo.

Shoimin, Aris. 2014. Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-ruzz Media

Slameto. 1998. Didaktik Metodik. Jakarta: Pustaka Jaya.

Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning: Theory, Reserch and Parctice. Second Edition. Boston: Allyn and Bacon Publishers.

Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sugiyanto. 2008. Model-model Pemblajaran. Surakarta: MODUL plpg Rayon 13 Universitas Sebelas Maret.

Sumadi Suryabrata. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tola, Burhanudin dan Furqon. 2002. “Pengembangan Model Penilaian Sekolah Efektif.”. Jurnal Pendidikan Nomor 44 Juli 2002. Jakarta: Depdiknas RI